Saya pikir lawan seimbang untuk Shikamaru itu antara Neji dan Sasuke. Trait mereka sama-sama thinking person, sih, menurut saya pribadi. Uhm, yang ini belum saya periksa lagi. Ditulis sebelum tidur.


prompt: you have your own world but you don't forget your surroundings.


Festival, mau itu skala kecil atau besar, tetap saja merepotkan bagi Shikamaru. Kau kehilangan kesempatan untuk bermalas-malasan, menyimpan tenaga menurutmu, tapi menurut orang lain kau hanya menghabiskan hidup demi hal tak berguna. Bisa diterjemahkan pada arti yang lebih spesifik, Shikamaru harus bersiap-siap pantatnya ditendang oleh sepatu Ino yang mengilap atau Choji susah payah membujuknya dengan paket lengkap Yakiniku-Q. Dua-duanya belum bisa berkompromi dengan sifat alami Shikamaru.

Apalagi yang namanya SMA, entah itu festival olahraga, budaya, semua orang menyambutnya dengan sukacita, sampai-sampai Shikamaru berpikiran mungkin dia sejenis alien, opsi lain mungkin tumbuh dari pohon karena hanya dia sendiri yang menghela napas panjang, bosan makin membebaninya ketika mendapati ornamen-ornamen meriah dipasang di setiap sudut sekolah. Sebenarnya Shikamaru pun ke sekolah hanya sekadar formalitas membahagiakan Yoshino dan Shikaku. Jika dia mau dipecat dari kartu keluarga, ia bisa saja mangkir dan tertidur di puncak bukit, menghabiskan harinya bermain shogi sendirian atau menonton langit. Tidak ada yang mengomel atau memaksanya melakukan hal yang ia tidak suka tapi sekali lagi ia lahir ke bumi sebagai manusia dan Shikamaru tidak bisa komplain, siapa juga yang mau mengisi formulir keluhan? Itu bukan Shikamaru.

"Shikamaru! Karena kamu tidak mau membantu kami, kau sekarang jaga stand Shogi. Semua pemainnya akan melawanmu, dan jika kau kalah," datanglah Ratu Segalanya, alias Ino, melipat tangan di dada. Mengancam Shikamaru mengandalkan jurus senyum sejuta pesona, tapi tameng milik Shikamaru jauh-jauh mementalkan kekuatan sinar seorang Yamanaka. "Maka pemenangnya akan dihadiahi seratus ribu yen."

"Wow." Nominal yang menggiurkan. "Serius? Uangnya darimana?"

"Kas kelas dan dua puluh ribu yen dari uang jajanmu."

"Astaga Ino—!" Shikamaru tertahan ingin kabur, kerah seragamnya tertangkap oleh Ino dan yeah, ini salah satu tanda bencana sebentar lagi datang. Erangan malas lolos dari mulut si bocah bertindik.

"Tidak, tidak, Shikamaru kau harus tahu—!" bisikan Ino berlumur oleh bisa yang mematikan Shikamaru secara imajiner. Ini antara hidup dan mati. "Kami sangat menanti pemasukan dari standmu loh~!"

Ugh.


Shikamaru menguap, menggaruk pantat. Peserta lawannya tumbang dalam sepuluh menit permainan, dinding pertahanan yang Shikamaru bangun belum ada yang bisa meruntuhkan. Si bocah keluarga Nara itu semakin tidak karuan duduk di bangku, mencoba memperpanjang sabar melihat wajah lawannya sangat bersungguh-sungguh, siapa lagi kalau bukan Sasuke Uchiha. Sebenarnya Shikamaru malas sekali duel otak dengan si bocah Uchiha, jelas karena penggemarnya mengatakan Shikamaru curang, padahal kecemerlangan otak Shikamaru tidak bisa diperdebatkan apalagi sampai diragukan. Satu orang pernah dan berhasil menyudutkannya, Itachi, kakak Sasuke yang tahun kemarin pernah mengunjungi stand mereka. Alhasil timbul sedikit motivasi di benak Shikamaru demi menyelamatkan kupingnya dari teriakan para perempuan yang oh, sudahlah aku tak mau berurusan lagi demi Tuhan dan menutup acara dengan satu langkah maut. Skak-mat. Sesungguhnya Shikamaru tidak suka menangkap ekspresi kekalahan tercetak di benak Sasuke, namun mau bagaimana lagi? Shikamaru bangkit dari kursi, memilih bungkam. Sebab ia bisa mengira-ngira rasanya seseorang yang belum pernah mengecap kegagalan. Sebelum ke luar dari kelas, Shikamaru mengusap-usap kedua bahunya, tiba-tiba ia merinding. Kepalanya butuh istirahat.


"Loh. Hinata."

Ruang kelas mereka dipisah menjadi tiga bagian. Bagian depan stand permainan, bagian kedua kafe dadakan, makanan dan dapur ditempatkan di kelas lain. Bagian paling belakang dilindungi oleh tirai hitam, ruang yang disediakan menyimpan segala properti dan Shikamaru berdiri, ada Hinata, sendirian, duduk memindahkan keindahan Okinawa ke atas layar putih ukuran tiga meter kali sepuluh meter. Sekarang Shikamaru paham dari mana lingkaran mata Hinata berasal dan empat hari belakangan perempuan ini diam-diam menguap di balik buku pelajaran.

"Jangan bilang kamu sendirian mengerjakan ini semua?" Shikamaru tidak habis pikir. Ia berkacak pinggang dengan satu lengannya, tahu betul sikap submisif Hinata terkadang disalahgunakan oleh oknum-oknum yang ingin menang sendiri. Hei, yang namanya festival itu bukannya ajang pamer anak perempuan dengan dempul kosmetik dan kostum mereka yang bertumpuk-tumpuk? Ia kali ini disuguhi sosok Hinata yang baru, Hinata yang menggulung rambutnya hingga cepol tercipta, berkeringat dan lengannya celamotan oleh cat minyak. Ah, Shikamaru ingat, tema kafe mereka untuk dua hari ke depan adalah kafe siap saji di pantai, terimakasih banyak ide duo pirang, kekompakkan Naruto dan Ino juara satu memenangkan hati anak-anak di kelas. Dan nyatanya? Hinata yang menjadi tumbal sukarela.

"Sudah tugasku kok." Hinata menengok sebentar ke arah Shikamaru, sekadar bersikap sopan, secepat itu ia menebalkan garis-garis dengan tinta hitam di kanvas. Ia harus menyelesaikan semuanya atau Hiashi akan marah karena akhir-akhir ini ia pulang telat. Pantai saat siang hari, di tangan Hinata, terkesan realistik. Lebih menonjolkan aura sejuk, karena perempuan itu menggunakan warna tenang dan terang secara seimbang. "Shikamaru-kun, aku masih punya isotonik. Standmu sudah selesai ya?" Hinata menawarkan botol yang masih menguapkan udara beku. Shikamaru terhenyak, dia dalam posisi siap mendengar keluhan menyebalkan. Tapi yang ia dapat malah tawaran penyejuk suntuknya merodi otak.

"Ino yang memaksa." Tangan Shikamaru menggosok-gosok belakang leher, ikut berjongkok di samping si Hyuuga. Gadis ini punya kulit putih yang pucat. "Yah, setidaknya barusan aku tidak begitu mengantuk." Ujar Shikamaru sembari mendengus, mengelap biru di kening Hinata dengan punggung tangannya, sebuah kejutan yang bahkan Hinata memintanya saja tidak.

"Eh, jangan repot-repot Shikamaru-kun." Rona merah itu menjalari wajah Hinata, perempuan itu kikuk menahan laju Shikamaru, membantunya memberi aksen finishing detail di kanvas. "Tanganku terlanjur kotor." Muak yang sempat memuncak segera berubah menjadi simpatik. Betul, Shikamaru pikir, Hinata menganggap semua ini sebagai ajang pembuktian diri. Suatu langkah bodoh dan gegabah jika menghakimi orang pemalu seperti dia dengan penilaian dari satu sudut pandang.

"Menyebalkan tahu, melihatmu menyelesaikan semuanya sendirian." Kata-katanya pedas, tapi Hinata tahu, Shikamaru adalah seorang yang baik. Sangat baik. Dengan caranya sendiri.

"Eh, siapa yang menjadi lawanmu?" Tidak berapa lama setelah Hinata mengarahkan Shikamaru mengisi ruang kosong di kanvas, Hinata agaknya penasaran siapa yang bisa membuat Shikamaru duduk lebih lama di kursi panas. Pasalnya, Shikamaru lumayan terkenal karena keahliannya berhemat waktu untuk urusan dunia Shogi.

"Si bocah Uchiha lumayan juga." Sejauh ini, lawan yang kuat adalah ayahnya sendiri, Shikaku, bentengnya kokoh dan tak ada celah untuk dibobol. Asuma-sensei yang sering menemaninya sebatas teman minum kopi, salah satu yang bisa ditumbangkan Shikamaru sambil menguap. Langkah permainan Sasuke cukup bagus, namun laki-laki itu masih bocah dalam urusan mengontrol emosi. Beda lagi dengan Neji yang serba hati-hati, Shikamaru agaknya susah mengira-ngira mau di bawa kemana panglima perang di atas papan Shogi. "Sepupumu pun."

"Ah, Kak Neji sering latihan Shogi denganku." Akhir pekan di rumah keluarga Hyuuga pada dasarnya sama seperti masyarakat pada umumnya. Ayah yang beristirahat di teras bersama secangkir teh, adik perempuan yang lebih memilih mengenakan seragam kendo lebih lama dan Hinata yang biasanya mengisi buku soal, menyiapkan meja makan, dan Neji akan mengajak Hinata latihan bersama kendo secara privat (Hinata dan Hanabi adalah orang yang berbeda, begitu pula cara penanganannya)

"Kupikir shogi di luar daftar pekerjaanmu."

"Kapan-kapan aku ingin mencoba bermain denganmu." Hinata buru-buru menambahkan. "Shikamaru-kun." Shikamaru mengiyakan dalam diam.

"Aku punya beberapa kepal onigiri. Mau?" Ada lap basah tak jauh dari mereka, dan Hinata membersihkan tangan, meraih sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah kotak makanan dibuka, harum onigiri bersilangan dengan bau cat yang menusuk kepala. Shikamaru mengusap hidung dengan punggung lengan, matanya berbinar melihat tampilan meyakinkan onigiri Hinata. Bersih, putih dan sangat menggoda air liurnya. Shikamaru mengangkat kedua tangannya, menjelaskan bahwa ia lebih memilih disuapi Hinata ketimbang ikut mengelap tangannya yang kotor. Hinata menggeleng, menghalau perasaannya yang tak perlu terlibat, mengangsurkan onigiri dan membiarkan gigi Shikamaru yang ambil alih.

"Hmm, enak." ia terbiasa belajar dari Shikaku yang jujur saat berkomentar, memberi pendapat dan tidak takut resiko berdebat dengan Yoshino (Shikamaru tahu Ayahnya punya stok sabar yang tiada berbatas). Shikamaru menganggapnya apa yang Shikaku lakukan itu keren, maka dari sana makanan Hinata, menurutnya lebih dari patut dijual dan pamer pada etalase restoran Shibuya. "Buat sendiri?"

Sesuai dugaan, kepala Hinata mengangguk kalem. Namun, ada yang di luar prediksi ketika Hinata mengasongkan kotaknya lebih dekat ke arah Shikamaru. "Kalau begitu, untukmu." Bibir Hinata makin melengkung ke atas, lesung pipitnya berakhir muncul. "Aku sudah kenyang."

"Semuanya?" hei, yang benar saja, di dunia ini tidak ada yang gratis. Botol-botol oksigen saja dihargai mahal, bukankah bentuk kapitalis juga komersialisasi terhadap air minum? Shikamaru mulanya ragu tapi begitu Hinata bersungguh-sungguh, ia menerimanya dengan senyum yang nyaris luput dari pandangan.

"Terimakasih loh." Shikamaru tidak tahan lagi. Meski tangannya sebelas dua belas dengan palet van Gogh karena berkali-kali terkena cat, ia meraih onigiri Hinata lalu mengunyahnya pelan-pelan. Shikamaru menghitung jarak rumahnya dan rumah Hinata ternyata tak sampai dua puluh menit, mengantarnya pulang barangkali bukan hal yang membuat kakinya sakit. Matanya berpindah dari isi kotak pada sepasang mata Hinata yang jernih dan bulat. "Ini benar-benar enak. Aku serius."