Maafkan jika kalian akan bosan lihat nama saya. Tapi saya benar-benar butuh latihan. Jarimu kaku dan layar laptopmu bersih; suatu keadaan yang sangat tidak menyenangkan.


prompt: it's turn to rain and both of us forget our umbrella.


"Merepotkan."

Shikamaru mendengus, menempelkan sisi kiri tubuhnya pada tembok tiang sekolah. Berdiri sendirian di gerbang sekolah, Shikamaru mencoba bertahan lebih sabar ketika hujan turun menyorot, angin datang sayup-sayup, ujung celana seragamnya sudah separuh lembap. Ya Tuhan, Shikamaru sudah tidak sabar menjatuhkan tubuh ke dalam kasurnya. Mungkin ia akan makan sesuatu yang enak dan berkuah hangat, setelah itu tidur sepanjang malam, kedengarannya sebuah rencana yang bagus.

Lima belas menit berlalu dan ternyata sumbu sabar Shikamaru telah habis terbakar oleh pikiran sia-sia, toh langit sepertinya belum ada keinginan menyeka airmata. Hidungnya terasa gatal meski telah digosok-gosok oleh telunjuk. Sepertinya ia mulai terjangkiti flu dan ada kesenangan yang menyelinap, karena jika ia sakit, Shikamaru tidak perlu ke sekolah dan ia bisa pura-pura pusing sementara Ayahnya akan berbaik hati duduk di kamar, menemani Shikamaru membunuh bosan dengan cara lawan tunggal main Shogi. Rencana yang lebih bagus lagi. Sedetik kemudian Shikamaru menutup mata, terlupa fakta bahwa Yoshino akan memarahi, menjewernya, mengatakan bahwa ia sangat pemalas karena mencuci seragam saja tak mau tapi berani-beraninya mengotori kemeja putih dan pulang telat. Hal itu berarti makan malam telat, omelan akan berlanjut seperti kereta api yang penuh oleh listrik, dan Ayahnya terkikik, memilih duduk di meja kerja, menyuruh Shikamaru belajar, makan yang baik dan bantu Yoshino di dapur.

Rencana yang buruk, Shikamaru segera menegakkan badan begitu ada urgensi menyetrum seluruh syarafnya. Ada Hinata dari belakang berjalan, menyapa Shikamaru pelan. Pasti Hinata baru selesai turun ke lantai bawah karena piket. Perempuan ini kelewat baik.

"Kau bawa payung, Hinata?" Shikamaru tidak keberatan sepayung berdua. Ini Hinata dan dia tak perlu takut ada gosip macam-macam beredar. Lagipula hubungannya dengan Neji baik, dan Hinata juga adalah gadis yang baik. Selama ia bisa menyelamatkan kemeja putihnya dari serangan air hujan, atau amukan Yoshino, Shikamaru merasa pertanyaan ini langkah penting untuk menemukan solusi terbaik.

Hinata saat itu tengah mengetik di ponselnya. Lalu menengok ke arah Shikamaru dengan air wajah sedih.

"Sayang sekali tidak, Shikamaru-kun." Hinata panik sendiri. "Maaf!"

"Tenanglah. Aku hanya bertanya." Oh, yasudah. Shikamaru kembali bersandar, mengamankan kedua tangan di belah saku celana masing-masing. Pantas saja ia sedari tadi kelihatan panik. Semua orang tahu Hinata punya marga Hyuuga, tapi karena Shikamaru tidak sengaja pernah melihat isi pesan di ponsel Hinata, ia paham punya orangtua yang protektif, menurut pikiran mereka masing-masing. Sejenak, Shikamaru merasa bersyukur ujiannya hanya sebatas level Yoshino. Bisa jadi jika ia putra dari seorang Hiashi, Shikamaru akan membuang rasa malasnya ke tong sampah, melarikan diri dan memulai hidup baru dengan nama baru. Ugh, hujannya makin deras. Satu jam lagi pukul enam dan Ibu pasti emosi.

Shikamaru mengusap wajah dengan kedua tangannya, memutuskan melangkahkan kaki kanan dan sekejap, sepatunya basah kuyup. Padahal perbedaan berdiri di bawah atap dengan tanah hanya dua senti. Oke, toh sepatu dan seragamnya bisa kering oleh mesin cuci sementara jika ia terlambat mengetuk pintu rumah, Nyonya tidak akan mengizinkan kau masuk ke kamar. Shikamaru melepas ikatan rambutnya, supaya nanti ketika keramas, ikat rambutnya bukan salah satu penyebab ia kesakitan dan rambut rontok.

"Shi-shikamaru-kun!" Hinata samar-samar, berkedip karena hujan membasahi bulumatanya yang panjang atau baru melihat sisi Shikamaru dengan rambut terurai. "Kau tidak akan menunggu hujan reda?" nadanya lebih kuat dari biasanya, bersusulan dengan guntur yang bergulung-gulung di langit.

"Ugh, aku pulang telat maupun kehujanan pun, Ibuku akan tetap mengomel." Ikat rambutnya berpindah fungsi menjadi gelang. Shikamaru sudah memutuskan yang mana yang lebih menyebalkan; menunggu hujan reda atau kerepotan mencuci baju, ujung-ujungnya nanti seragam kotornya sudah dilipat bersih oleh Yoshino. Hari ini Shikaku libur dan itu kabar baik bagi Shikamaru yang menginginkan lawan shogi seimbang. "Aku duluan." Shikamaru tidak berlari menerobos hujan, dia meninggalkan Hinata dengan langkah yang panjang-panjang, menikmati dingin yang mulai merayapi tubuhnya dan air secara gratis membasuh wajahnya.

Hinata menekan bibirnya ragu. Neji masih ada urusan di kantor Ayah sementara Hanabi sudah menuju perjalanan pulang di kereta. Sekolah semakin sepi, dan Hinata tidak suka dengan kenyataan ia melupakan payung lipatnya di atas meja. Hari itu Hinata melihat Shikamaru tanpa ada beban menikmati derai-derai hujan dengan nyaman, tanpa ada keluhan. Rambut hitam lelaki itu lurus mencapai bahu, menciptakan kesan berbeda, namun tetap sama-sama Shikamaru yang menjalani hidup dengan sepenuhnya.

"A-aku ikut!"

Shikamaru menengok ke belakang, cukup kaget dengan pilihan si perempuan yang ia pikir akan duduk manis menunggu Neji datang? Hinata mengejarnya, sepatunya menciptakan riak di jalan, menjaga tasnya dalam pelukan agar air tidak merembes dan membuat buku pelajarannya rusak. Ia mirip dengan bocah SD yang akhirnya diizinkan bermain di tengah hujan. Dingin memang menyelimutinya, tapi ada hangat menyeruak dan membuat Shikamaru menarik napas.

"Hei…"

"Tidak apa-apa, bukannya kalau kehujanan pun nanti juga bajumu akan dicuci, 'kan?" ujar Hinata menyela Shikamaru melindungi wajah dengan papan dada sebagai atap dadakan, dengan rambut yang menempel, membingkai wajahnya yang berbentuk hati. Ada kelegaan merembes dalam dada Hinata, ia tidak menyesal dengan keputusan yang ia ambil. Shikamaru bisa mencium harum vanilla dan chamomile menguap di antara mereka dan memutuskan itu adalah wangi yang menyenangkan. Kulit Hinata makin pucat, tapi pipi dan bibirnya merah muda. Kontras. Shikamaru pun sama sekali tidak keberatan jika hujan harus terus turun lebih lama.