HEARTLESS
Cast:
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
And OCs
.
.
ChanBaek (GS)
Romance, Hurt/Comfort
Happy Reading!
.
.
Tidak ada yang lebih menyebalkan bagi Park Chanyeol selain terjebak diantara puluhan mobil yang berbaris rapi di tengah jalan tanpa berniat bergerak sedikitpun. Kota Seoul memang sibuk saat pagi hari seperti ini dan kemacetan pun tak bisa terelakan lagi jika sebuah kecelakan terjadi dan merajai jalanan, membuat semua pengendara mobil yang terjebak kemacetan tersebut menggerutu termasuk dirinya. Orang tolol sial mana yang mengalami kecelakaan sepagi ini.. Pikirnya.
"Jongdae, berapa menit lagi rapatnya dimulai?" Tanya Chanyeol yang duduk di kursi belakang kepada sekretaris sekaligus kaki tangannya, Kim Jongdae.
"20 menit lagi tuan muda."
Chanyeol melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Ia mengerang kesal, ini sudah berlangsung selama 1 jam dan ia masih terjebak di sini.
Well..meskipun Park Chanyeol adalah seorang bajingan yang hobinya menghabiskan malam dengan menelanjangi wanita-wanita sosialita kaya atau paling tidak model-model terkenal lalu menyetubuhi mereka tanpa ampun lantas membuang mereka begitu saja, Namun ia tak bisa melalaikan kewajibannya sebagai seorang wakil Presdir yang setiap harinya memimpin sebuah rapat atau setidaknya menandatangani berkas-berkas bernilai milyaran won, karena Ayahnya memang memberikan kepercayaan penuh terhadapnya untuk mengurus semua hal yang berkaitan dengan perusahaan dan menunggu waktu yang tepat sebelum mengangkat Chanyeol sebagai Presdir mengantikan posisinya.
Bosan menunggu, akhirnya ia memutuskan untuk mengalihkan pandangannya keluar menembus kaca jendela mobilnya. Matanya menelisik pada seorang gadis yang membelakanginya di seberang jalan berdiri menghadap sebuah bangunan yang terlihat jelas adalah sebuah toko bunga, gadis itu berambut panjang, memakai dress putih sederhana di bawah lutut yang dipadukan dengan cardigan abu dan flat shoes yang melekat di kakinya, Oh gadis itu membawa sepeda.
Chanyeol tersenyum remeh. Gelandangan.. Pikirnya.
Hey.. Park Chanyeol itu orang yang hidupnya terlampau sempurna dengan dikelilingi wanita-wanita berkelas tinggi yang setidaknya menghabiskan berjuta-juta won untuk membuat penampilan mereka tampak menarik dan layak untuk ia jadikan mainan di atas ranjang, Jadi wajar saja kan jika gadis sederhana dan sangat tidak menarik itu tampak rendah di matanya?
Park Chanyeol sangatlah pemilih.
Beberapa menit kemudian lalu lintas kembali lancar membuat Chanyeol mengalihkan pandangannya kembali ke depan ketika mobil yang ditumpanginya mulai bergerak, dan pada saat yang sama gadis itu berbalik.
.
.
-Heartless-
Ini adalah kali ketiga Baekhyun mendatangi toko bunga itu, namun selalu berakhir dengan ia yang hanya berdiri gugup tanpa berniat untuk memasuki toko tersebut, ketahuilah Byun Baekhyun adalah gadis pencinta bunga. Gadis itu akan sangat senang jika bekerja di toko bunga itu, namun nyalinya akan menciut untuk sekedar bertanya apakah di toko tersebut membutuhkan pekerja tambahan? Ia tidak pandai bersosialisasi dengan orang yang belum ia kenal.
Baekhyun berbalik dan memutuskan untuk menundanya lagi, lantas pergi dari tempat tersebut, mengayuh sepeda yang ia bawa dengan tersenyum lebar.
It's okay B, next time maybe.. Pikirnya.
.
Ketika memasuki pekarangan komplek, Baekhyun melihat siluet yang ia kenal baik sedang menyiram beberapa tanaman di halaman rumah.
"Selamat pagi Minseok Eonni.." Sapa Baekhyun ramah.
Orang itu berbalik, lantas tersenyum.
"Hey B.. Selamat pagi, baru pulang mengantar susu?"
"Ahh.. sebenarnya aku mampir dulu ke suatu tempat." Baekhyun tersenyum.
"Oh Annyeong Jiminnie.."
Pemuda manis yang baru saja keluar dari rumah itu membungkuk sopan..
"Annyeonghaseyo Noona.."
"Berangkat kuliah?" Tanya Baekhyun.
"Ne.." Jimin tersenyum."Noona, aku pergi dulu." Lanjut Jimin kepada Minseok.
"Hmm hati-hati.."
Kembali Jimin membungkuk sopan pada Baekhyun, lantas berlalu pergi.
"Kau berjalan kaki dari ujung jalan sana sampai sini?" Minseok mengernyit.
"Rantainya putus lagi.." Baekhyun sedikit meringis menunjuk kondisi sepedanya.
"Kalau begitu aku permisi dulu, Baekhee Eonni pasti sudah bangun." Lanjutnya.
Minseok mengangguk tersenyum.
Baekhyun berjalan menuju rumahnya, sapaan ramah dari beberapa tetangga yang berpapasan dengannya ia balas dengan sopan tanpa lupa membungkukkan badannya. Senyum yang mampu menghangatkan hati siapapun itu tak henti-hentinya mengembang di wajah cantiknya.
Dan pada saat memasuki rumah, Baekhyun sedikit terkejut melihat Baekhee terduduk lemas dengan wajah yang sangat pucat.
"Eonni.. Hey you alright?" Baekhyun menepuk pelan pipi Baekhee dan kembali dibuat terkejut karena suhu tubuhnya sangat panas.
"I'm okay, B.." Suaranya parau.
"T-tidak bisa seperti ini, kita ke rumah sakit sekarang.." Baekhyun panik.
"Aku tidak apa-apa.."
"Kau yakin?"
Baekhee mengangguk.
"Kau harus sarapan dulu dan minum obatmu. Aku akan mengompresmu setelahnya, kau tunggu sebentar."
Baekhee tersenyum miris, ia tidak bisa terus-terusan menyusahkan Baekhyun dengan kondisinya yang seperti ini. Sebisa mungkin ia akan menolak jika Baekhyun berniat membawanya ke rumah sakit, ia tau Baekhyun tak akan sanggup membiayai pengobatannya yang akan menghabiskan banyak uang. Mereka bukanlah orang kaya, mereka hanya tinggal di rumah kecil sederhana hasil jerih payah keduanya selama ini, dan mereka hanyalah anak kembar yang tumbuh besar bersama di sebuah panti asuhan tanpa pernah tau siapa orangtua mereka.
Namun bolehkah Baekhee meminta kepada Tuhan agar tak memisahkannya dengan Baekhyun? Baekhyun yang tanpa mengenal lelah merawatnya ketika sakit, Baekhyun yang selalu menunggunya dengan cemas ketika ia belum pulang, Baekhyun yang selalu bersikap dewasa. Baekhyun yang sangat ia sayangi.
Bolehkah?
.
.
-Heartless-
BRAK!
Suara pintu yang dibuka secara paksa oleh seorang gadis yang tampak marah, matanya menatap berang kepada seseorang yang hanya memandangnya datar.
"Sialan kau Park Chanyeol.. kembalikan perusahaan Ayahku!"
Ahh Hangang Corporation.. Batin Chanyeol.
Ia bangkit dari kursinya dan menghampiri gadis tersebut.
"Kau pikir kau siapa?"
Berani sekali gadis itu mendatangi Park Corporation dan memaksa masuk ke ruang kerja Wakil Presdir dan mengganggu kesibukannya. Cari mati! Pikir Chanyeol
"Aku tau kau dalang dari semuanya, kau yang membuat perusahaan Ayahku bangkrut!"
"Lantas?"
Gadis itu sedikit ragu untuk kembali berucap.."K-ku..Kumohon jangan lakukan ini, kembalikan perusahaan Ayahku seperti semula." Matanya berkaca-kaca.
"Apakah seperti ini caramu memohon?"
Gadis tersebut mengernyit bingung membuat Chanyeol memandangnya jengah.
"Berlututlah." Ujarnya santai.
"Setidaknya dengan berlutut membuat permohonanmu itu sedikit masuk akal." Lanjut Chanyeol dingin membuat gadis itu menatapnya benci.
"Kau tidak mau? Seharusnya kau berpikir dua kali sebelum bermain-main denganku.. kau berani melayangkan sebuah tamparan kepadaku bahkan kau sendiri yang merangkak untuk ku setubuhi, meskipun desahanmu tidak ada bedanya dengan pelacur yang—"
"You're a fucking dumbass!" Ucapan Chanyeol terhenti ketika gadis tersebut berteriak memaki dengan lantangnya.
Emosi Chanyeol meletup seketika, matanya menatap nyalang dan sebuah tamparan keras ia layangkan kepada gadis itu, membuatnya terhuyung ke lantai dan darah segar mengalir dari sudut bibirnya.
"Kau tidak akan menghinaku seperti itu jalang!" Chanyeol geram lantas berjongkok dan menekan keras dagu gadis itu, air mata mengalir di pipinya namun Chanyeol tak peduli.
"You dirty little slut, How dare you!" Ia mengerjap.
"Kuperingatkan, aku bahkan bisa membunuh semua anggota keluargamu termasuk kau!" Lanjutnya dengan kejam. matanya menyiratkan amarah membuat gadis itu beringsut ketakutan. Kemudian beberapa pengawal bertubuh besar menyeretnya keluar dari ruangan itu.
Itulah akibatnya jika berani bersikap kurang ajar terhadap Park Chanyeol yang sangat menjunjung tinggi harga dirinya tersebut, ia tidak pernah bermain-main dengan ucapannya. Membuat perusahaan sekecil Hangang Corporation bangkrut dalam waktu sekejap itu tidak ada apa-apanya, bahkan bisa saja Chanyeol membuat gadis itu mengambang kaku di Sungai Han atau mati bersimbah darah dengan luka tusuk di sekujur tubuh.
Jika kalian berani membuatnya marah, Percayalah, terjun dari puncak Namsan Tower atau menyayat sendiri pergelangan tangan kalian itu lebih baik daripada menunggu seorang Park Chanyeol yang melakukannya dengan cara yang lebih kejam.
.
.
.
"Jongdae Hyung.." Panggil seorang pemuda kepada lelaki berwajah kotak ketika memasuki sebuah Cafe. Lantas duduk di depannya."Kau terlihat kacau.." Pemuda itu menyipitkan matanya.
"Bunuh aku sekarang juga Jimin-a.." Ucap lelaki itu dramatis.
"Kenapa? Tuan muda Park Chanyeolmu itu membuat masalah lagi?"
"Kali ini tidak, dia menyuruhku untuk mencarikan seorang penyanyi untuk pestanya.."
"Lantas?"
"Tentu saja yang bisa tutup mulut.." Ia memberi jeda."Kau tau? Pesta untuk anak-anak orang kaya yang rutin dia lakukan setiap bulan.. dan—" Jongdae menoleh kiri-kanan dan sedikit berbisik."Ekstasi dan sebagainya adalah menu utama yang wajib ada di pesta tersebut, jadi dimana aku bisa menemukan seorang penyanyi perempuan yang dengan baik hatinya tidak akan membocorkan hal itu kepada siapapun termasuk polisi? Park Chanyeol bahkan berani membayar mahal, Akh dia akan membunuhku jika aku tidak segera mendapatkan penyanyi itu."
"Setauku seorang Park Chanyeol tidak akan takut dengan hukum sekalipun.."
Jongdae mendengus.
Tentu saja Park Chanyeol tak takut sama sekali dengan hukum, namun bagaimana dengan teman-temannya yang lain? Ayolah, mereka tidak seberpengaruh seperti Chanyeol. Jika mereka hanya mampu menyuap beberapa polisi saja, berbeda dengan Chanyeol yang bahkan mampu membeli mulut semua orang yang berkaitan dengan Institusi penegak hukum dan membuat mereka layaknya bidak yang dapat sesukanya ia kendalikan.
.
.
Jimin berjalan di koridor rumah sakit setelah Minseok meneleponnya untuk menyusulnya.
"Noona.." panggilnya ketika melihat sosok Minseok berdiri di depan kamar pasien.
"Bagaimana keadaan Baekhee Noona?" Tanyanya.
Belum sempat Minseok menjawab, Baekhyun keluar dari kamar tersebut dengan mata yang sedikit sembab. Kelihatan sekali ia habis menangis.
"Bagaimana?" Tanya Minseok.
"Eonniku belum sadar.." Suara Baekhyun terdengar bergetar.
Flashback..
Tidak terhitung sudah berapa kali Baekhyun menebus obat yang sama jika mendatangi Apotik ini.
"Apa Eonnimu sakit lagi?" Tanya penjaga Apotik seperti sudah sangat hafal.
Baekhyun mengangguk tersenyum membuat penjaga Apotik tersebut ikut tersenyum, ia tau Baekhyun sering sekali menebus obat untuk kakaknya, dan senyum yang gadis itu pancarkan tak pernah lepas dari raut kecemasan.
"Eonnimu akan baik-baik saja" Ucapnya sambil memberikan kantung plastik berisi obat.
"Kamsahamnida.." Baekhyun membungkuk sopan, setelah membayar obat itu ia pun berlalu dari Apotik tersebut.
Eonni tertidur dari pagi, seharusnya dia sudah bangun kan.. Pikirnya.
Dengan langkah cepat Baekhyun pun melesat pulang menuju rumahnya dan sedikit mengernyit ketika memasuki kamar, Baekhee tidak ada.
"Eonni.."
Hening.
"Eon—Eonni!" Ia terperangah melihat Baekhee yang sudah terkapar pingsan di kamar mandi lantas menghampiri dan menepuk-nepuk pipi Baekhee pelan.
"Eonni.. sadarlah.. Eonni..."
Terdengar suara ketukan pintu.
Ketika Baekhyun membuka pintu ia tak bisa lagi menahan tangisnya..
"B! Kau kenapa?" Itu Minseok.
"Baekhee Eonni.. Eonniku.."
Flashback off..
Inilah yang selalu Baekhyun lakukan ketika Baekhee terbaring tanpa sadar di ranjang rumah sakit, menjaganya, mengelus lembut rambut coklatnya. Ia memandang lekat kakaknya yang sedari tadi tak bergerak sedikitpun lantas menggenggam jemarinya erat.
"Jika bisa, aku ingin menggantikanmu. Biar aku saja yang sakit.." Ucapnya pelan, tubuhnya sedikit bergetar.
"Kau ingatkan? Kau sudah berjanji tidak akan meninggalkanku sendirian.. kau harus menepati janjimu itu Byun Baekhee-ssi jika tidak, Tuhan akan marah padamu.. You promised me.." Air mata mengalir deras di pipinya.
Sirosis hati karena Hepatitis yang ia derita sudah sangat parah. Itu akan sangat sulit ditangani.
Kata-kata dokter beberapa bulan lalu selalu terngiang di benak Baekhyun.
Sejak saat itu ia selalu berusaha mencegah Baekhee untuk tidak terlalu melakukan pekerjaan berat, untuk tidak melakukan apapun yang mengancam kesehatannya, bahkan sebenarnya Baekhyun menentang keras Baekhee untuk menjadi DJ Club itu. Namun, ia akan selalu bungkam jika Baekhee sudah berkata 'Biarkan aku melakukan apapun selama aku masih hidup'.
Well.. Baekhyun mulai mengerti, Baekhee mencoba membuat siapapun tidak mengasihaninya, ia menjadi urakan, liar dan hidup semaunya hanya untuk membuatnya tampak terlihat kuat tanpa mempedulikan kesehatannya yang semakin lama semakin memburuk.
Baekhyun keluar dari kamar itu setelah ia teringat bahwa Minseok sedari tadi menunggunya di luar.
"Bagaimana?" Tanya Minseok.
"Eonniku belum sadar.."
Minseok memeluknya.
"Sstt.. tak apa, Baekhee akan baik-baik saja.."
"Terimakasih Eonni.."Baekhyun sedikit tersenyum ia bersyukur mengenal Kim Minseok, ia sudah seperti keluarganya sendiri. Minseok dan Jimin, kedua kakak beradik itu adalah orang yang sangat dekat dengan Baekhyun dan Baekhee di komplek tempat mereka tinggal.
"Jimin datang juga? Terimakasih ya.." Ucapnya tersenyum.
Jimin mengangguk membalas tersenyum.
"B,, err maafkan aku, aku hanya mampu membayar biaya administrasinya saja." Ucap Minseok menyesal.
Ucapan Minseok tersebut membuat Baekhyun tersadar, darimana ia bisa mendapatkan uang untuk biaya rumah sakit Baekhee. Lantas panik pun melanda.
"Eonni.. terimakasih banyak, terimakasih aku akan menggantinya secepatnya."
"Tak perlu, Baekhee sudah ku anggap Adikku sendiri. Apa kau mempunyai— hm.. maksudku, apa kau mau aku carikan pinjaman..?"
Baekhyun hanya bungkam, ia bingung lantas mengigit bibir bawah tanda gelisah, bola matanya bergerak tak tentu arah.
Melihat itu membuat Minseok dan Jimin memandangnya iba. Mereka tau Baekhyun dalam keadaan yang sangat sulit. Namun mereka pun tak bisa membantu lebih.
Kemudian Jimin teringat sesuatu.
Tidak ada pilihan lain, hanya ini yang bisa membantu B Noona..
"Apa Noona bisa bernyanyi?" Tanyanya kepada Baekhyun.
.
.
.
TBC
.
.
AN:
Waaa.. gimana chapter 2 nya gimanaaahh? Sorry for typos.. hihii
Aku baca-baca review kemudian terperangah(?) ada Author kece goodgalriri yang dengan baik hatinya memberikan review yang bikin aku tambah semangat, aku jadi malu ff ku yang absurd ini di review Author ff sekece Love Unconditionally . Kamsahamnida, hehe..
Makasih juga buat yang lainnya yang udah review di Chapter pertama.
ChanBaek moment? Sabaaarrr.. :V
Review juseyowww...
