HEARTLESS

Cast:

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

And OCs

.

.

ChanBaek (GS)

Romance, Hurt/Comfort


Happy Reading!


.

Seminggu setelah Baekhee dirawat, akhirnya dokter mengizinkannya pulang karena kondisinya sudah terlihat membaik dan tentu saja Baekhyun sangat senang bukan main. Namun, Saudara kembar yang sudah dua hari berada di rumah itu sedang terlibat perdebatan kecil.

"Tidak! Hanya itu syarat dariku. Tak apa jika kau tidak mau." Baekhyun mengangkat bahunya.

"Hey, kau menyuruhku memakai pakaian ini untuk ke Club? Yang benar saja Byun Baekhyun." Baekhee memutar bola matanya melihat pakaian yang menjadi salah satu syarat dari Baekhyun jika ia ingin kembali menjadi DJ di Club malam itu.

"Kau pikir aku akan membiarkanmu memakai pakaian seperti waktu itu? Tidak! Byun Baekhee."

"Lihatlah pakaian ini, aku akan kepanasan. Pakaian ini terlalu tertutup." Baekhee merengut.

"Ya sudah, jangan datang ke Club itu lagi." Balas Baekhyun tersenyum penuh kemenangan.

Baekhee mendengus.

"Oh, alright! I'll wear it." Baekhee mengerti bahwa adiknya tersebut sangat mengkhawatirkannya, karenanya ia mengalah.
"Aku lupa, kau belum mengganti perbanmu. Kemarilah aku akan menggantinya." Lanjutnya setelah mengambil kotak berlambang tanda plus berwarna merah.

Baekhyun pun duduk di samping Baekhee.

"Bagaimana bisa kau seceroboh itu terpeleset dan membiarkan pecahan kaca melukaimu" Baekhee sedikit meringis melihat luka dengan jahitan yang sudah mulai mengering itu.
"Akh ini akan meninggalkan bekas." Gumamnya sambil meniup pelan luka tersebut.

Baekhyun hanya tersenyum kikuk, ia cukup merasa bersalah karena sudah berbohong.

"You should be more careful next time, Lovely B." Ucap Baekhee tersenyum puas melihat perban yang sudah menempel sempurna menutupi luka Baekhyun.

"Arasseo Eonni."

"Hey, aku harus pergi ke suatu tempat." Ucap Baekhee.

Baekhyun mengernyit.

"Okay, aku tak akan lama."

"Tunggu," Baekhyun memberi jeda."Pakai ini, kau tidak boleh kedinginan" Lanjutnya memakaikan jaket kepada kakaknya.

Baekhee tersenyum.
"Aku pergi! Saranghanda nae dongsaeng." Baekhee berlalu setelah sebelumnya mencium puncak kepala Baekhyun membuat adiknya tersebut sedikit terkekeh.

Astaga, Byun Baekhee bersikap manis.. Pikirnya.

.

Baekhee berjalan di pekarangan komplek menuju halte bus, gadis yang memakai jaket dan celana jeans dengan sobekan tak beraturan di bagian paha dan lutut itu tak menghiraukan tatapan yang kurang menyenangkan dari beberapa tetangga yang berpapasan dengannya meskipun ada beberapa yang tidak seperti itu. Ia memilih acuh dan terus berjalan sambil memainkan lollipop yang sedari tadi bertahan di mulutnya, kedua tangannya ia masukkan ke saku jaket.

Dan di sinilah Baekhee, berdiri di depan sebuah bangunan yang terlihat jelas adalah sebuah salon. Kemudian ia memasuki salon tersebut.

"Tolong ubah warna rambutku—" Baekhee memberi jeda."Menjadi hitam." Lanjutnya berbicara kepada salah satu karyawan salon tersebut.

Well, sebenarnya Baekhee tidak baik-baik saja ketika mendapat tatapan sinis dari beberapa tetangga di komplek rumahnya, sejujurnya ia merasa tak nyaman. Terlebih tak ada yang menanyakan kondisinya sepulang dari Rumah Sakit selain Minseok dan Jimin.

Oh andai saja ia adalah Baekhyun yang disukai dan disayangi setiap orang.

Mungkin jika ia terlihat seperti Baekhyun orang-orang tidak akan terlalu memandangnya dengan tak suka, jadi ia memutuskan untuk mengubah warna rambut dan menyamakannya dengan Baekhyun. Meskipun ia tau pada kenyataannya itu tak akan mengubah apapun. Ia bukan Baekhyun, dan Baekhyun tentu bukan dirinya.

Bukankah Baekhee sangat konyol dan kekanakkan?
Yeah, mungkin. Namun, ketahuilah ia hanya merasa tidak seberuntung Baekhyun. Ia merasa.. asing.

Tidak. Baekhee tidak pernah sekalipun iri pada Baekhyun, malah ia sangat bangga adiknya tersebut disukai dan disayangi oleh setiap orang.

.

.


-Heartless-


Park Chanyeol melangkahkan kakinya keluar dari bandara, ia baru saja kembali setelah melakukan perjalanan bisnis menengok beberapa cabang perusahaan milik Park's Group yang berada di Singapore selama lima hari.
Terlihat Jongdae yang sudah menunggunya serta membukakan pintu mobil untuknya dan tanpa menunggu lama ia pun memasuki mobil tersebut.

"Apa anda ingin mampir ke suatu tempat dulu?" Tanya Jongdae.

"Tidak, Aku lelah." Sahut Chanyeol dengan nada datar.

"Baik, tuan muda."

Tentu saja Chanyeol lelah, oh yeah.. kita ceritakan sedikit apa yang telah ia lakukan selama berada di pesawat.

Waktu yang seharusnya ia gunakan untuk beristirahat selama di pesawat saat kepulangannya menuju Korea justru ia habiskan untuk bercinta dengan salah satu Pramugari.
Well, ia bisa melakukannya, mengingat kabin Suite Class yang ia tumpangi memiliki ruang dengan tingkat privasi yang sangat tinggi. Dan tentu kalian tau apa yang terjadi selanjutnya setelah ia menekan tombol 'DO NOT DISTURB' di kabinnya tersebut bukan?

Memang benar, Chanyeol bukan orang yang akan sembarangan bercinta dengan setiap wanita. Namun, ini berbeda. Pramugari yang melayaninya di Suite Class tersebut adalah wanita yang selalu Chanyeol incar sedari dulu untuk ia setubuhi. Yeah, saat di SHS dulu. Kebetulan yang menyenangkan bukan?

Dan Chanyeol masih sangat penasaran bagaimana rasanya menyetubuhi wanita yang menurutnya masih sok polos dan sok suci tersebut, mengingat sejak dulu wanita itu akan bertingkah jual mahal jika Chanyeol mengajaknya bercinta. Namun, tentu saja kali ini Chanyeol tidak membiarkan hal itu terjadi kembali. Ia akan membuat wanita itu menyesal ketika menyadari betapa tak ada satu wanita pun yang akan mampu lepas dari jerat pesona seorang Park Chanyeol.

Apakah Chanyeol merayu wanita tersebut dengan kata-kata manis? Tidak. Itu bukan gayanya sama sekali. Ia hanya mengajak wanita itu mengobrol dan, Yeah.. sedikit mengelus lembut tangan wanita itu sambil menatapnya dalam-dalam, dan puncaknya adalah ketika Chanyeol mengembangkan senyuman menawan berkekuatan ribuan volt miliknya tersebut pada wanita itu. Hell, pantas saja!

Ingatkan Park Chanyeol untuk berterimakasih kepada setan baik hati yang sudah pasti membantunya membisikkan sederetan kata-kata menggoda pada wanita tersebut.

Mungkin Chanyeol sedikit keterlaluan mengatai wanita tersebut sok suci, karena pada dasarnya wanita itu memang masih suci. Namun, itu tak akan berarti apa-apa jika seorang Park Chanyeol sudah merusak kesucian tersebut. Dan percayalah, ia tak peduli sama sekali ketika rasa penasarannya telah terjawab.

.

.

Chanyeol sedikit menyipitkan mata ketika melihat Porsche biru mengilat terparkir dengan elitnya diantara deretan mobil yang tak kalah mewah miliknya di garasi Mansion.

Dan seorang lelaki berkulit putih bak salju dengan cengiran bodohnya menurut Chanyeol, menyambutnya ketika ia memasuki Mansionnya tersebut.

Chanyeol menaikkan sebelah alisnya.
"Kau masih hidup?"

"Hey, apa ini caramu menyambut kepulangan sepupumu yang tampan ini? Come here! Give me a big hug." Sahut lelaki tersebut dengan merentangkan kedua tangannya dan hanya mendapati kernyitan di dahi Chanyeol dengan ekspresi jijik yang kentara.

"Berhenti bertingkah menjijikan seperti itu Oh Sehun."

Lelaki bernama Oh Sehun itu terkekeh.

Chanyeol melepas Coat coklat yang melekat di tubuhnya lalu melemparnya asal, ia menghampiri Mini Table Bar yang di atasnya terdapat beberapa Shot Glass dan mengambil dua diantaranya, lantas menuang cairan berwarna kuning kecoklatan dari salah satu botol yang berjajar rapi diantara botol-botol dengan berbagai macam label itu. Ia duduk di sofa setelah memberikan satu gelas yang berisi cairan beralkohol tersebut kepada Sehun.

"Kapan kau kembali?" Tanya Chanyeol setelah meneguk minuman dari Shot Glass nya.

"Kemarin." Sahut Sehun dengan nada tak bersemangat.

"Hoo, menyedihkan. Kau tidak menemukan cinta sejatimu disana?"
Tanya Chanyeol tersenyum remeh, ia merasa heran dengan sepupunyan yang satu itu. Sehun masih saja percaya tentang cerita roman picisan dengan embel-embel cinta sejati dan sebagainya. Terlebih saat sepupunya itu mengunjungi negara dengan kota yang katanya penuh dengan sejuta cinta, Yeah Paris. Konyol, Pikirnya.

"Cinta sejatiku tidak berada disana." Sehun menyahut dengan sangat dramatis.

Chanyeol memutar bola matanya.
"Lupakan soal cinta sejati yang konyol dan menjijikan itu, ikut denganku nanti malam. Akan kutunjukan sesuatu yang indah dan menyenangkan daripada itu." Ucapnya sinis.

.

.

Sehun memandang penuh jengah kepada Chanyeol ketika lelaki bertelinga lebar itu mengajaknya ke sebuah Club. Ia seharusnya tau yang Chanyeol maksud sesuatu yang indah dan menyenangkan itu adalah paha mulus dan buah dada ranum dari wanita-wanita yang tengah meliuk-liukkan tubuh mereka di lantai dansa. Ia tampak tidak berminat berada disini, terbukti sedari tadi ia hanya tertarik melihat aksi para bartender yang meracik minuman tanpa mengalihkan pandangannya kemanapun.

"Oh Sehun?" Itu Jongin.

"Oh syukurlah kau datang Jongin, aku sudah jengah melihat temanmu itu sedari tadi." Ucap Sehun dengan nada bosan yang kentara.

Tentu saja, karena yang Chanyeol lakukan ketika pertama kali menginjakkan kakinya di Club tersebut hanya memandang lekat gadis yang berdiri di panggung DJ yang balas menatapnya tak suka.

"Biarkan saja, mungkin dia merasa bersalah." Dan pernyataan Jongin itu sukses membuat Chanyeol yang awalnya tak berminat mendengar ocehannya dengan Sehun itu mengalihkan pandangannya, dahinya mengkerut.

Seketika Chanyeol teringat kejadian di pesta seminggu yang lalu, dan itu mebuatnya mengerti mengapa gadis itu berpenampilan tertutup seperti itu, mungkin kaos lengan panjang yang ia pakai untuk menutupi lukanya.

Tunggu, Apakah yang Jongin maksud merasa bersalah itu adalah karena Chanyeol sudah membuat gadis itu terluka? Merasa bersalah? Hell, bahkan Chanyeol tidak tau sama sekali makna dari kata-kata tersebut.

Chanyeol memang tidak berbohong ketika ia berkata bahwa gadis liar semacam itu tak pernah sama sekali masuk dalam daftar wanita yang harus ia setubuhi di atas ranjang, namun melihat gadis DJ yang tengah asik dengan piringan hitamnya serta menggerak-gerakkan tubuhnya yang menurut Chanyeol akan terlihat bagus jika dilakukan dalam keadaan telanjang itu seolah membuat sesuatu dalam dirinya tergugah dan Chanyeol penasaran bagaimana rasanya bercinta dengannya, dengan gadis yang sedari tadi ia pandang dengan tatapan berhasrat dan penuh nafsu.

Apakah dia marah? Batin Chanyeol bertanya-tanya. Tatapan tajam yang kembali ia dapatkan dari gadis tersebut semakin menguatkan dugaannya bahwa gadis itu benar-benar marah karena ia sudah membuat lengannya berdarah waktu itu.

Jangan salah paham dulu, Chanyeol tidak peduli sama sekali jika gadis itu marah. Karena yang berada dalam otaknya saat ini adalah bagaimana caranya agar ia bisa bercinta dengan gadis tersebut. Persetan dengan nuraninya yang sedari tadi mencari-cari dimana keberadaan senyuman itu.

Oh sepertinya Park Chanyeol sudah sangat mabuk. Dan pasti gelas-gelas berisi cairan beralkohol sialan itu yang membuatnya tak normal lantas membiarkan nuraninya ikut campur begitu saja. Yeah, ia sangat yakin.
Ia bahkan tak sadar gadis yang sedari dipandanginya telah menghentikan aktifitasnya dan turun dari panggung DJ lantas berjalan ke arahnya..

"Minho.."

Lebih tepatnya menghampiri Bartender.

"Oh, Baekhee. Kau sudah mau pulang?" Tanya Minho.

Baekhee mengangguk santai dan meneguk minuman yang disodorkan oleh Minho, ia sedikit merogoh saku celananya dan mengeluarkan bungkus rokok lantas mengambil satu batang. Ia membakar ujung rokok dengan pemantik api dan mulai menghisapnya.
Ia memakai kembali Jaketnya dengan rokok yang masih bertahan diapit oleh bibirnya dan mengangkat sebelah tangan kepada Minho, lantas berlalu dari Club tersebut mengacuhkan empat pasang mata yang memperhatikan gerak-geriknya. Chanyeol dan Jongin. Karena Sehun sudah pergi dari Club tersebut.

Oh harga diri Park Chanyeol sedikit terinjak, disaat semua wanita menatapnya penuh damba gadis itu malah berpura-pura tidak melihat keberadaannya sama sekali. Ia marah.

Ketika melewati lorong Club, Baekhee dibuat terkejut saat sebuah tangan mencengkram kuat lengannya dari belakang dan menariknya paksa membuat Baekhee berhadapan dengan pemilik tangan tersebut.

Park Chanyeol? Pikirnya.

Baekhee menghempas kasar tangan yang masih mencengkram lengannya tersebut, lantas berseru dengan nada marah.

"Apa yang kau laku—"

Ucapannya terhenti ketika Chanyeol menempelkan jari telunjuk di bibirnya.

Lelaki itu sedikit merendahkan tubuhnya, jari telunjuk yang sebelumnya menempel di bibir Baekhee kini ia biarkan menggantung sejajar dengan mata gadis itu. Ia menatap Baekhee dengan mata sayu. Kelihatan sekali bahwa lelaki itu sudah sangat mabuk. Bola matanya bergerak menatap kedua lensa mata Baekhee secara bergantian, dahinya mengkerut. Ia merasa ada yang salah dengan iris itu. Pandangannya perlahan mengabur, tubuhnya sedikit terhuyung ke depan dan...

Baekhee mengerjap berkali-kali, tubuhnya mematung. waktu seolah berjalan dengan sangat lambat sementara jantungnya berdetak dengan kecepatan yang tak normal ketika kepala Chanyeol terkulai di bahunya, itu sangat dekat. Dan Baekhee bersumpah ia bahkan bisa mencium aroma shampoo yang menguar dari rambut lelaki tersebut. Rokok yang sedari tadi berada di tangannya jatuh begitu saja.

"Wow—" Itu Jongin, ia berseru dengan ekspresi yang sedikit terkejut.

Baekhee yang mendengar seruan itu lantas tersadar, dengan gerakan cepat ia mendorong tubuh Chanyeol hingga hampir saja lelaki itu terhuyung ke lantai jika Jongin tidak dengan cepat menahan tubuhnya, kemudian ia melingkarkan lengan Chanyeol di bahunya.

"Akh sebenarnya kau minum berapa gelas Park Chanyeol," Jongin berucap sambil membantu Chanyeol untuk berjalan, temannya itu sudah benar-benar mabuk dan tak sadarkan diri. Ketika akan melangkahkan kakinya, Jongin memberi sedikit jeda untuk sekedar melihat kearah gadis yang tampak mematung dengan pipinya yang memerah.

Jongin menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Baekhee membuat gadis itu terkejut dan Jongin bersumpah ekspresi terkejutnya itu sangatlah lucu, ia sedikit terkekeh sebelum akhirnya keluar dari Club tersebut dengan sedikit menyeret tubuh Chanyeol.

.

.


-Heartless-


Kring..Kring..

Bunyi dari sepeda yang dikayuh oleh seorang gadis dengan senyuman khasnya. Byun Baekhyun, sesekali ia tertawa kegirangan ketika kecepatan sepedanya bertambah saat melewati turunan jalan. Botol susu yang ia letakkan di keranjang pada bagian depan sepeda itu saling beradu ketika bannya menginjak permukaan jalan yang sedikit tidak rata sehingga menghasilkan bunyi dentingan bagai melodi pengiring lagu ketika gadis itu bersenandung membuat nyanyian natural pembangun tidur indah di kesunyian jam lima pagi.

Baekhyun berhenti di sebuah rumah, ia tersenyum melihat anak kecil ditemani seekor anjing yang berdiri di depan rumah tersebut.

"Good morning Jesper." Baekhyun mencium pipi bocah itu dengan gemas.
"Good morning Mongmong" Kemudian ia mengusak bulu anjing tepat di kepalanya.

"Good morning Noona" Sahut bocah tersebut dengan mata yang hampir terpejam, sesekali ia menguap karena masih mengantuk.

Baekhyun tertawa pelan.

"Hey, sudah Noona bilang kan jangan memaksa ibumu untuk membangunkanmu sepagi ini." Ucap Baekhyun mengelus lembut kepala si bocah.

Bocah bernama Jesper tersebut merengut sambil melipat kedua tangannya di dada.

Melihat tanda-tanda merajuk dari bocah itu, Baekhyun pun mengalah.

"Arasseo, ini susumu. Ingat! Kau harus meminumnya, jika tidak.. Noona takkan mengantarkannya lagi untukmu." Ucap Baekhyun memperingati dan langsung mendapat anggukan lucu dari bocah itu.

Baekhyun adalah gadis polos sederhana yang bahkan jauh dari kata istimewa, namun entah apa yang membuat orang-orang di sekitarnya menyukai dan menyayangi gadis itu. Bahkan bocah berumur enam tahun seperti Jesper pun rela bangun jam lima pagi hanya untuk menunggu Noona yang menurutnya sangatlah cantik dan baik hati itu. Tak jarang Jesper pun mengamuk kepada ibunya jika tidak membangunkannya, ia seolah tak ingin melewatkan senyuman hangat dari Noona pengantar susu dan surat kabar tersebut.
Meskipun Baekhyun selalu membujuk bocah itu agar tidak mengorbankan sisa jam tidurnya, karena mengingat wajah lucu mengantuk Jesper ketika menunggunya di depan rumah selalu membuat Baekhyun tak tega. Namun, tentu saja bujukannya itu tak akan mempan dan Baekhyun akan berakhir dengan mengalah ketika bocah itu memasang ekspresi merajuk seperti tadi.

Sepertinya Jesper sangat menyukai Noona pemilik senyuman sehangat mentari pagi itu.

Setelah meletakkan koran ke dalam kotak surat yang berada di depan rumah Jesper, Baekhyun pun kembali mengayuh sepedanya. Komplek tempatnya tinggal lumayan luas sehingga tidak cukup hanya sekali untuknya bisa mengantar semua susu dan surat kabar ke hampir semua rumah yang berada di lingkungannya tersebut, ia harus dua kali kembali ke toko untuk mengantar susu-susu tersebut ke rumah yang belum mendapatkan bagian.

Ini sudah berlangsung selama hampir 1 jam, dan Baekhyun tampak sudah menyelesaikan pekerjaannya itu. Ketika sepeda yang di kayuhnya itu melewati tikungan, ia dibuat terkejut dan hampir saja menabrak seseorang lelaki. Dengan cepat ia mengerem sepedanya itu.

"Akh syukurlah." Ucap lelaki itu tampak lega melihat Baekhyun.

Baekhyun sedikit memiringkan kepala melihat lelaki berkulit putih yang mengenakan pakaian olahraga tersebut. Pasalnya, lelaki itu terlihat sedang kebingungan.

"Umm, Apakah aku boleh bertanya?" Tanya lelaki itu.

Baekhyun mengangguk.

"Dimana aku ini?" Dengan ekspresi bingung lelaki tersebut menunjuk dirinya sendiri dan melontarkan sebuah pertanyaan yang menurut Baekhyun sedikit konyol.

Melihat ekspresi yang tak kalah bingung dari gadis yang ia tanya, lelaki itu menyela dengan cepat.

"Ahh, aku bukan orang sini, sepertinya aku tersesat karena berlari terlalu jauh dari daerah Apartmentku. Sejujurnya aku baru tiga hari menginjakkan kakiku lagi di Korea, aku tak tau jalan. So.. Where am I?"

Mendengar penuturan panjang dari lelaki putih itu, Baekhyun tak bisa menahan senyumannya.
"Dimana Apartmentmu?" Tanyanya.

"Cheongdam"

"Nama Apartmentmu?"

Baru saja lelaki itu akan membuka mulutnya untuk menjawab namun ia urungkan lantas menggeleng.
"Aku lupa, sudah kubilang aku baru tiga hari di korea."

Baekhyun memandang iba lelaki putih tampan yang tersesat di pagi hari itu.
"Apa kau sudah menghubungi orang yang kau kenal?"

"Aku terlalu bersemangat berolahraga. Jadi aku melupakannya. Ahh apa aku boleh meminjam ponselmu?"

"Maaf, ponselku kutinggalkan di rumah." Sahut Baekhyun sedikit menyesal.
"Oh, tapi ada telepon umum di sekitar sini. Mau aku antar?"

Lelaki putih itu mamandang Baekhyun dengan tatapan berbinar, seolah gadis itu adalah malaikat penolong di pagi hari.

Dan mereka pun berjalan menuju tempat dimana telepon umum itu berada, sesekali mereka mengobrol tampak akrab.

"Oh ya, aku Oh Sehun."

"Aku—"

"B Noona?"

Sebuah suara lain menginterupsi.

"Oh Jimin-a, kau habis berolahraga?" Baekhyun tersenyum melihat Jimin.

Jimin mengangguk dan balas tersenyum.
"Noona mau kemana?" Jimin penasaran ini bukan jalan menuju rumah Baekhyun. Ia sedikit menaikkan sebelah alisnya melihat orang yang berjalan bersama Baekhyun, ia tidak mengenal orang tersebut

"Aku mau mengantar teman sebentar. Jimin-a, mau membantuku mengantarkan sepeda ini ke rumah? Dan bisa kau beritahu Eonniku bahwa aku akan sedikit terlambat untuk pulang, bisakah?"

"Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu Noona" Jimin pamit membawa sepeda Baekhyun dan sedikit mengangguk kepadanya dan lelaki yang baru pertama kali ia temui di komplek tersebut.

"Hmm.. hati-hati."

"B..?" Tanya lelaki bernama Oh Sehun itu ketika Jimin sudah berlalu.

"Hmm?"

"Itu namamu?"

Baekhyun mengangguk dan tersenyum.

Melihat hal tersebut membuat Sehun tak bisa untuk tidak ikut tersenyum. Mengapa dia suka sekali tersenyum? Batinnya bertanya-tanya. Gadis itu baik dan menyenangkan, Sehun bahkan sedikit terkejut mendengar penuturannya saat ia menyebut Sehun adalah temannya, ini bahkan belum satu jam dari pertemuan mereka. Namun ia sudah menganggap Sehun teman, Gadis langka macam apa dia ini? Dan mengapa Sehun sedikit tidak asing dengan wajah gadis tersebut?

"Dan namamu Oh Sehun?" Tanya Baekhyun.

"Kau bisa memanggilku Sehun."

"Baiklah.. Sehun" Kembali Baekhyun berucap dengan senyumannya yang masih mengembang. Ia merasa tidak canggung sama sekali dengan Sehun, mengingat ia tidak pandai bersosialisasi dengan orang asing. Lelaki itu orang yang menyenangkan meskipun ia baru mengenalnya, dan satu hal yang Baekhyun tau tentang Sehun, ia adalah orang yang selama hidupnya ia habiskan dengan mengunjungi negara-negara yang dipercayainya mempunyai sejuta cerita cinta. Dan Baekhyun sedikit tertawa ketika Sehun menyebut dirinya sendiri adalah 'Penjelajah Cinta'.

Oh pantas saja lelaki itu bisa tersesat disini, mengingat ia jarang berada di negerinya sendiri. Yeah, Penjelajah Cinta.

Cukup lama mereka mengobrol sambil berjalan, tak lama kemudian mereka berhenti ketika mendapati box telepon umum yang ternyata terletak tak jauh dari taman komplek. Dan Sehun menyuruh Baekhyun untuk menunggunya dan mendapati anggukan dari gadis tersebut.

.

.


-Heartless-


Tidak ada habisnya Chanyeol mengumpat kesal ketika ia harus menyetir sepagi ini hanya untuk menjemput sepupunya yang dengan bodohnya bisa tersesat karena berolahraga.
Sumpah serapah terus saja keluar dari mulutnya, tentu saja ia sangat geram mengingat tidurnya terganggu oleh ocehan Sehun ketika meneleponnya tadi. Jika saja lelaki putih pucat itu tidak mengiming-iminginya dengan seorang model seksi yang saat ini Chanyeol incar, mana sudi ia bangkit dari ranjangnya yang nyaman mengingat semalam ia mabuk berat dan kepalanya sedikit pusing pagi ini.

Chanyeol menghentikan mobilnya tepat di sebuah halaman komplek yang belum pernah ia datangi sebelumnya, ia turun dari mobil tersebut dan berjalan mencari letak taman komplek yang sebelumnya Sehun beritahukan. Samar-samar ia mendengar pekikkan heboh gadis-gadis remaja berseragam sekolah ketika melihatnya berjalan menuju taman. Sekolah dulu yang benar, Jika kalian sudah menjadi wanita dewasa dan payudara kalian sudah siap kuremas serta bokong kalian sudah pas untuk kutampar di atas ranjang, datanglah padaku. Pikirnya kurang ajar.

Dari kejauhan beberapa meter Chanyeol melihat Sehun yang terduduk di kursi taman, ia terlihat sedang asyik mengobrol dan sesekali tertawa bersama seorang gadis.

Chanyeol sedikit terkejut kali ini. Ada banyak pertanyaan yang muncul di otaknya saat ini seperti, Darimana sehun mengenal gadis itu? Sejak kapan mereka dekat? Apa semalam mereka sempat berkenalan? Apa yang mereka obrolkan sehingga keduanya tertawa? Dan mengapa gadis itu tertawa kepada Sehun? Sementara tadi malam ia dengan kurang ajarnya mengacuhkan keberadaan seorang Park Chanyeol.

Okay, lupakan semua pertanyaan konyol itu. Kalian tau? Park Chanyeol hanya sedikit penasaran, ia tidak peduli sama sekali.

Dengan langkah santai, Chanyeol menghampiri kedua orang itu. Iris bening dari gadis itu yang pertama menangkap keberadaannya dan ekspresi terkejutnya itu terlihat bodoh di mata Chanyeol.

"Oh kau sudah datang rupanya" Itu Sehun.
"B.. ini sepupuku Park Chanyeol" Lanjutnya kepada Baekhyun.

B..? Batin Chanyeol.

Gadis itu tersenyum meskipun ia masih sedikit terkejut mengetahui Sehun adalah sepupu dari lelaki yang saat ini hanya memandangnya datar.
"Hello.." Ucapnya dengan nada yang terdengar ramah sambil mengulurkan tangan berniat menjabat tangan.

Dan Chanyeol hanya menaikkan sebelah alisnya tanpa berniat membalas jabatan tangan gadis itu.

"Ahh, aku belum sempat mencuci tangan." Baekhyun menggosok kedua telapak tangannya, masih dengan tersenyum namun sedikit meringis karena malu, lelaki itu tidak menyambut uluran tangannya sama sekali.

Melihat hal tersebut membuat Sehun merasa tak enak hati. Park Chanyeol memang sangat angkuh, ia tau itu. Namun, gadis sebaik Baekhyun tidak sepantasnya ia perlakukan seperti itu. Sehun menghela nafas pelan.

"Karena kau sudah menolongku, aku akan mentraktirmu sarapan. Bagaimana?" Tanya Sehun kepada Baekhyun.

"Tidak!" Park Chanyeol yang menyahut.

"Kenapa tidak? Dia temanku." Balas sehun.

"Aku menjemputmu bukan untuk mengajak gadis ini sarapan dan apapun itu."

"Seingatku, kau rela menjemputku karena aku menawarkan seorang model cantik untuk kau setubuhi nanti malam. Apa aku salah?"

Holy crap! Batin Chanyeol. Ia kalah telak.

"Hey," Baekhyun menengahi.
"Sehun, kita bisa sarapan bersama lain kali" Ia tersenyum dan merasa tak enak membuat kedua saudara sepupu itu adu mulut hanya karena dirinya.

"Tidak, B. Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih karena kau sudah menolongku." Sehun menarik tangan kanan Baekhyun dengan sangat kuat.

"Akhhh.." Baekhyun mengerang. Ia memegang lengan kanannya.

"Astaga, B!" Seru Sehun terkejut melihat noda merah dari lengan Cardigan yang Baekhyun pakai.

"I'm okay," Baekhyun mencoba membuka Cardigannya. Dan benar saja, Sehun terlalu kuat menarik tangannya tadi, sehingga jahitan luka yang seharusnya sudah mengering itu kini kembali mengeluarkan darah.

"Aku minta maaf, aku tidak tau, a-aku sungguh minta maaf, B." Ucap Sehun menyesal.
"Dimana kunci mobilmu?" Tanyanya kepada Chanyeol.

Sehun langsung melesat dengan cepat ketika Chanyeol menyerahkan kunci mobilnya, ia meninggalkan tempat tersebut menuju mobil sepupunya itu, berharap menemukan kotak berlambang tanda plus di sana, meskipun itu mustahil.

Setelah Sehun hilang dari pandangannya, Chanyeol duduk di samping Baekhyun. Ia merobek bagian bawah kemeja yang ia pakai dan meraih lengan Baekhyun.

"Hey, aku tak ap—"

"Shut up!" Ujar Chanyeol dengan nada dingin sambil melilitkan sobekan kemejanya ke lengan Baekhyun mencoba menghentikan darah yang keluar cukup banyak.

Baekhyun bungkam, sumpah demi apapun ia terpaku tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini. Pipinya pasti sudah sangat memerah. Astaga.. Pikirnya.

"Sepertinya kau salah paham dengan apa yang aku lakukan barusan." Dahi Chanyeol mengkerut melihat pipi Baekhyun yang memerah.
Ayolah, Chanyeol itu pemain wanita, ia sudah sangat hafal berbagai ekspresi wanita yang seringkali ia jadikan mainan, dan ekspresi dari gadis ini jelas menandakan bahwa ia sedang gugup.
"Kau lihat orang-orang disana?" Chanyeol menunjuk beberapa orang yang tampak memperhatikan aktifitas mereka.
"Aku tidak ingin berakhir dengan dituduh sebagai pelaku sebuah kejahatan." Lanjutnya santai mengangkat bahu.

Baekhyun tersenyum, lagi-lagi tersenyum.
"Aku tau, terimakasih. Park Chanyeol."

Chanyeol tersenyum remeh, meskipun sedikit heran bagaimana bisa namanya di panggil dengan sangat lembut oleh gadis itu. Dan yang lebih membuatnya merasa heran, mengapa sifat gadis ini selalu berubah-ubah? Bukankah tadi malam ia marah? Chanyeol masih ingat tatapan tajamnya, Ia seolah bertemu dengan gadis berbeda. Apakah gadis ini berkepribadian ganda?

Oh kemana perginya hasrat menggebu-gebunya semalam ketika ingin menyetubuhi gadis ini, Bahkan gadis tersebut melepas Cardigannya saat ini, Dan Mengapa Chanyeol malah lebih tertarik melihat luka di lengan gadis tersebut daripada leher dan bahu mulusnya?

Sepertinya Baekhyun harus berhenti mengintimidasi Chanyeol dengan senyumannya itu, berhentilah Byun Baekhyun. Kau bahkan tidak tau di mobil Chanyeol terdapat pistol yang siap meledakkan isi kepalamu kapan saja.

"Chanyeol-a, tidak ada kotak P3K di mobilmu." Sehun datang dengan terengah-engah.

Chanyeol memutar bola matanya.
"Kau pikir aku akan memelihara kotak sialan itu?"

"Sehun, aku sudah tidak apa-apa." Baekhyun menunjuk luka yang sudah tertutup sempurna oleh sebuah kain.

"Oh, kain apa itu? Darimana kau mendapatkannya?"

"Kita pulang sekarang" Chanyeol menyela dan berjalan meninggalkan tempat tersebut.

"Pulanglah, aku baik-baik saja."

"Maafkan aku, B. Aku sungguh tidak tau." Ucap Sehun memeluk Baekhyun membuat gadis itu terkejut sebelum akhirnya tersenyum membalas pelukan Sehun.

"Berhentilah meminta maaf, kau tidak salah."

"Baiklah, aku pulang sekarang. Sampai jumpa lagi Chingu" Sehun melambaikan tangannya kepada Baekhyun.

.

"Kau tampak akrab dengan gadis itu," Ujar Chanyeol kepada Sehun ketika mereka berdua meninggalkan komplek.

"Dia temanku, dia gadis yang sangat baik."

Chanyeol mendecih.

Kau bahkan memeluknya brengsek! Batin Chanyeol.

"Aku bersungguh-sungguh, dia menolongku menemukan telepon umum. Jika aku tidak bertemu dengannya, aku—"

"Ahh, jadi gadis itu yang membuatmu mengganggu tidurku? Lihat saja, jika aku bertemu dengannya lagi, aku akan menembak kepalanya."

"Kau tidak akan melakukannya."

Chanyeol mengernyit.

"Kau tidak akan melakukakannya, Park Chanyeol. Kau bahkan merobek kemeja mahalmu untuk menolong gadis itu."

Yeah, Sehun melihat semuanya sebenarnya.

"Akh, jika saja orang-orang sialan itu tidak ada tadi." Gumam Chanyeol.

Chanyeol sedikit menyesal merobek kemejanya sendiri, Tidak. Ia bahkan sangat menyesal! Membuat gadis itu besar kepala, dan membuat Sehun berpikiran macam-macam sungguh ia sangat menyesal melakukan itu, dan Chanyeol mengumpat kesal dalam hatinya.

.

.


-Heartless-


Ada yang salah dengan Byun Baekhee pagi ini, sedari tadi gadis itu tersenyum sendiri sambil terus memegang bibir dan bahunya. Tidak! Jangan Byun Baekhee. Batinnya.

"Aku pulang." Suara riang Baekhyun menyadarkan lamunannya.

"Hey, Lovely B." Baekhee berseru tak kalah riang.

"Whoa, sepertinya kau sedang bahagia, Byun Baekhee." Goda Baekhyun. Gadis itu tak henti-hentinya tersenyum sambil memegang kain di lengan kanannya yang tertutupi Cardigan.

"Jika aku tidak salah, kau pun terlihat bahagia. Byun Baekhyun." Balas Baekhee tak mau kalah.

Dan saudara kembar yang kini sulit dibedakan karena warna rambut keduanya sama itu tertawa.

"Mau menceritakannya padaku?" Tanya Baekhyun, sejujurnya ia adalah yang selalu bertanya terlebih dahulu. Dalam hal apapun.

"Kau akan menertawakanku."

Baekhyun mengernyit.

"Baiklah, tapi kau tidak boleh menertawakanku. Dan kau juga harus menceritakan apa yang membuatmu sebahagia itu pagi ini" Lanjut Baekhee.

"Aku janji."

"Umm, aku termakan omonganmu, B."

"Apa maksudmu?" Tanya Baekhyun sedikit bingung.

"Park Chanyeol—" Baekhee memberi jeda."Park Chanyeol yang aku ceritakan waktu itu, sepertinya aku menyukainya." Baekhee tersenyum, pipinya merona karena malu.

Baekhyun mengerjap mendengar penuturan kakaknya, Park Chanyeol mana yang sebenarnya Baekhee maksud?

Aish dia hanya Bocah kaya yang manja yang hobinya menghambur-hamburkan uang dan bermain wanita, kau tau? Tadi dia datang ke Club, aku bersumpah dia sangat menyebalkan dengan sifat angkuhnya itu.

Seingatku, kau rela menjemputku karena aku menawarkan seorang model cantik untuk kau setubuhi nanti malam, apa aku salah?

"B.." Suara Baekhee membuyarkan lamunan Baekhyun.

"Oh? W-whoa, benarkah?" Tanya Baekhyun dengan nada senormal mungkin dan mencoba tersenyum. Ia sendiri bingung kenapa ia seperti ini.

Baekhee mengangguk bersemangat, kemudian tersenyum. Senyum yang jarang sekali ia perlihatkan.

Apa mungkin.. Batin Baekhyun.

.

.

.

TBC

.

.

AN:
Udah panjang kan? Jangan minta dipanjangin lagi, ntar Chanyeol kalah panjang(?) Okay, lupakan.
Gajelas banget ya ini Chapter hih -_-