HEARTLESS
Cast:
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
And OCs
.
.
ChanBaek (GS)
Romance, Hurt/Comfort
Happy Reading!
.
Baekhyun kembali mengerjap, ia menelisik ekspresi yang terpatri di wajah kakaknya saat ini. Apakah Baekhee bersungguh-sungguh atau hanya...
"Kenapa secepat itu?" Tanya Baekhyun refleks lantas menyela dengan cepat."Tidak, maksudku umm.. Bukankah kau tidak menyukainya bahkan baru seminggu yang lalu kau bercerita betapa menyebalkannya lelaki itu bukan? Apa yang terjadi?"
Okay, sepertinya Byun Baekhyun sedikit hilang kendali kali ini. Ia bahkan belum yakin lelaki yang Baekhee maksud adalah Park Chanyeol yang belum satu jam ini merobek kemeja mahalnya untuk menutupi luka di lengan gadis itu. Well, meskipun Baekhyun tau lelaki tersebut melakukannya karena terpaksa, terbukti ketika sorot dari lensa beku yang jauh dari kata tulus itu tergambar jelas di kedua bola mata lelaki tersebut, seolah apa yang di lakukannya adalah sesuatu yang tidak penting sama sekali. Namun, tentu saja hal itu sangat berpengaruh besar terhadap Baekhyun.
Baekhee terdiam seolah memikirkan sesuatu.
"Kau benar juga," Ia memberi jeda dan kembali berpikir, tak lama setelahnya ekspresi gadis itu berubah drastis.
"Tidak! Tidak! Aku pasti sudah gila sekarang. Oh tidak mungkin aku menyukainya. Dengarkan aku, B.. aku memang sering melihat Park Chanyeol bahkan sebelum aku menjadi DJ di club tersebut. Namun baru tadi malam aku melihatnya sedekat itu, dan.. dan sepertinya aku sedikit terkecoh oleh ketampanannya. Bloody hell! Aku bahkan menyebutnya tampan sekarang, Sial! Byun Baekhee kau sudah benar-benar gila! Aku harus jauh-jauh dari keparat sialan itu." Seru Baekhee penuh sesal dan meremas-remas rambutnya dengan sangat dramatis.
"Tadi malam? Kau bertemu dengannya?"
"Oh yeah, perlu kau ingat dia dan Club atau sesuatu yang berhubungan dengan wanita dan sex itu tidak terpisahkan. Dia benar-benar brengsek kau tau. See? Aku bahkan kembali membencinya sekarang, jadi tidak mungkin aku menyukai lelaki keparat itu kan, B? Benar kan?"
"Eiyy tadi kau bilang menyukainya." Goda Baekhyun.
"Dengar, aku rasa ini akan berlaku untuk semua wanita jika ditatap sebegitu lekatnya dalam jarak beberapa senti saja oleh Park Chanyeol. Bukan hanya itu, kepalanya bahkan terkulai di bahuku, B! Dan aku sangat yakin, aku hanya sedikit terkecoh."
Baekhyun lebih terkejut sekarang mendengar hal tersebut.
Apa mereka sedekat itu? Batinnya bertanya-tanya.
"Ohh? Aku masih mengingat senyum meronamu saat kau bilang menyukainya. Kau bahkan sangat bersemangat tadi." Baekhyun kembali menggoda kakaknya, tentu saja untuk menutupi keterkejutannya saat ini. Ia mencoba menyembunyikannya dengan sangat baik.
Baekhee memutar bola matanya, adiknya itu senang sekali menggodanya.
"Ayolah Byun Baekhyun, anggap saja itu bukan aku. Dan anggap saja hari ini aku tidak waras." Ujarnya.
"Apa dia benar-benar tampan?" Baekhyun bertanya lirih, entah mengapa ia merasa lelaki yang sedari tadi Baekhee bicarakan adalah orang yang sama dengan yang tadi ia temui di taman komplek.
"Well, meskipun aku benci mengakui ini namun Park Chanyeol memanglah tampan. Dan sialnya aku malah terkecoh, aku harus berhati-hati dan menjauh dari keparat itu."
Ada sedikit kelegaan saat Baekhyun mendengar kalimat yang terakhir Baekhee ucapkan. Meskipun ia belum tau Park Chanyeol mana yang kakaknya itu bicarakan.
Namun, kelegaannya tersebut tak bertahan lama, dengan cepat ia menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
Tidak. Kalaupun Baekhee menyukai Park Chanyeol yang sama dan lelaki tersebut membuat Baekhee bahagia, bukankah seharusnya ia turut bahagia? Mengapa ia seolah tak terima dan menjadi egois? Ia tak boleh seperti ini, Tuhan akan marah jika ia menghalangi kebahagiaan seseorang terlebih orang itu adalah kakaknya sendiri.
Maafkan aku Tuhan.. Pikirnya.
Namun, di atas itu semua ada satu pertanyaan yang mengganggu benak Baekhyun.
Jika benar lelaki yang Baekhee bicarakan adalah Park Chanyeol yang sama dan mereka berdua sudah saling bertemu dan bahkan bertatap, Apakah lelaki itu tau bahwa Baekhee itu mempunyai saudara kembar?
Dan sepertinya Baekhyun tau jawabannya.
Gadis itu tersadar dari lamunannya, ia mengalihkan pandangannya kearah Baekhee, namun kakaknya itu terlihat sedikit melamun.
"Kau tak apa?" Tanya Baekhyun.
"Oh? Hm, aku tak apa"
Baekhee sedikit tersenyum, saat ini ia sedang berpikir keras. Perasaannya benar-benar tak menentu, di satu sisi ia sangat yakin bahwa ia hanya sedikit terkecoh oleh Park Chanyeol dan tidak mungkin menyukai lelaki itu. Namun, ketika mengingat kejadian semalam ia seakan gila bahkan sampai mengatakan bahwa ia menyukai lelaki tersebut. Oh tidak bisa! Sepertinya ia harus memastikannya sendiri, Baekhee harus tau sebenarnya apa yang ia rasakan saat ini.
"Hey, sekarang giliranmu." Ucap Baekhee menuntut.
"Apa?"
"Apa yang membuatmu terlihat bahagia pagi ini?"
Okay, Baekhyun tak tau harus menjawab apa sekarang. Tidak mungkin ia menjawab bahwa pagi ini ia bertemu dengan seseorang yang bernama Park Chanyeol dan lelaki itu kembali membuatnya gugup seperti saat di pesta waktu itu bukan?
"Umm, tidak.. Tadi aku bertemu Jackson dan dia mengingatkanku pada anak-anak di panti. Aku merindukan mereka, aku merindukan ibu panti," Ia memberi jeda."Dan aku merindukan dia." Jawab Baekhyun asal. Namun, tak ia pungkiri ia benar-benar merindukan semua itu. Dan itu membuat senyumannya merekah.
"Kau merindukannya?" Baekhee tau siapa yang Baekhyun maksud 'Dia' itu
"Tentu," Baekhyun memberi jeda, ia meraih jemari Baekhee dan mensejajarkan dengan jemarinya.
"Kau masih ingat? Waktu itu kita menginjak 17 tahun dan dia memberi cincin ini sebagai hadiah." Lanjutnya tersenyum sambil menunjuk cincin yang tersemat di jari manis mereka masing-masing.
"Oh ya, aku sangat ingat. Waktu itu kita berdua begitu menginginkan Purity Ring ini bukan? Dan dia memberikannya dengan segala peringatan yang dia katakan waktu itu." Baekhee menyahut sambil terkekeh.
"Ingat! Jangan bermain-main dengan cincin ini." Baekhyun berbicara dengan nada seperti sedang menirukan gaya seseorang sambil menunjuk-nunjuk ke depan.
"Kalian sudah berjanji kepada Tuhan untuk tidak melepas kesucian kalian sebelum menikah. Jika itu dilanggar, Kalian berdosa besar dan Tuhan akan marah." Baekhee menimpali sambil melipat tangan di dada dengan nada bicara yang sama seperti Baekhyun, menirukan gaya seseorang.
Dan keduanya pun tertawa bersama setelahnya, mereka begitu merindukan sosok tersebut.
.
.
-Heartless-
Siang itu Park Chanyeol sedang menikmati makan siang bersama rekan bisnisnya setelah sebelumnya ia menandatangani kontrak kerjasama dengan perwakilan dari salah satu perusahaan terbesar di China tersebut.
"Aku dengar kau dulu pernah tinggal di Korea Kris-ssi." Ucap Chanyeol di sela-sela makan siang mereka.
"Ya." Jawab orang bernama Kris tersebut seadanya.
Chanyeol sedikit menaikkan sebelah alisnya saat mendengar jawaban yang kurang nyaman terdengar di telinganya, lantas tersenyum remeh sebelum menyesap Red Wine nya.
"Di panti asuhan bukan begitu?"
Kalimat yang seharusnya menjadi pertanyaan tersebut terdengar seperti pernyataan di telinga Kris. Tidak, lebih tepatnya menghina secara tak langsung.
Kris memejamkan matanya sejank, tak lama setelahnya ponselnya berdering. Ia tersenyum melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
Kris mengangkat sebelah tangannya kearah Chanyeol bermaksud meminta izin untuk menjawab panggilan masuk tersebut dan dibalas dengan sedikit anggukan oleh Chanyeol.
"Hei, Darling." Kris tersenyum penuh kemenangan setelah melihat ekspresi Chanyeol yang sedikit berubah setelah ia memanggil seseorang yang meneleponnya tersebut.
"Umm, aku sedang makan siang." Lanjutnya berbicara dengan seseorang di seberang sana.
"Hm, I miss you too."
Awalnya Chanyeol memang sedikit terkejut, ia tau betul siapa yang menelepon Kris. Namun, dengan cepat ia mengubah ekspresinya sedatar mungkin.
"Ahh, istriku.." Kris mengangkat ponselnya sedikit, memberitahu siapa yang menelepon meskipun ia yakin bahwa Chanyeol sudah mengetahui hal tersebut, ia memang sengaja melakukan itu.
Ada apa sebenarnya dengan kedua orang ini?
Well, jika ini bukan perintah langsung dari Ayahnya mana sudi Chanyeol menandatangani kontrak kerjasama dan menghabiskan waktu makan siangnya dengan seseorang yang menurutnya tidak penting sama sekali. Perusahaan mereka memang sering terlibat kerjasama, namun baru kali ini Chanyeol dipertemukan dengan orang yang katanya selalu dielu-elukan di perusahaan terbesar di negeri tirai bambu tersebut. Mendengar hal tersebut membuat Chanyeol mendecih.
Wu yifan atau Kris. Mungkin bukan itu alasan mengapa ia begitu sinis kepada orang tersebut, mengingat reputasinya di dunia bisnis jauh berada di atas Kris. Meskipun Chanyeol sering mendengar Kris adalah orang yang cerdas dan selalu menjadi anak emas di perusahaan terbesar di China tersebut. Namun menurut informasi yang ia dapatkan, Kris hanyalah seorang anak yatim piatu yang diangkat menjadi menantu pengusaha kaya asal China yang jika ia tak becus menjadi menantu yang baik, maka ia hanya akan berakhir menjadi gelandangan di sana.
Sepertinya Chanyeol sedikit berlebihan, Kris memang selalu menjadi anak emas bukan hanya di perusahaan saja, namun juga di keluarga Xi setelah ia menikahi putri semata wayang mereka. Xi Luhan.
Oh yeah, Xi Luhan. Nama itu adalah alasan mengapa Chanyeol sedikit sinis terhadap Kris, Luhan adalah mantan kekasih Chanyeol yang sialnya bahkan belum pernah sekalipun ia setubuhi.
Hubungan Chanyeol dan Luhan tak berjalan lama, setelah Luhan memergoki Chanyeol sedang bercinta dengan wanita lain di Apartmentnya saat itu, dan Chanyeol tida peduli. Ia memang tidak pernah bersungguh-sungguh menjalin kasih dengan para wanita. Jika ia terlalu penasaran dengan tubuh seseorang, maka Chanyeol akan menjadikannya kekasih demi melancarkan aksinya menyetubuhi wanita tersebut.
Sama halnya dengan Luhan, namun Chanyeol tak pernah berhasil menyentuhnya. Tidak. Karena Ayah dan Ibunya akan menamparnya keras jika mengetahui ia bersikap kurang ajar terhadap putri dari Tuan Xi yang merupakan teman dekat Ayah dan Ibunya. Dan sialnya Chanyeol baru mengetahui hal tersebut ketika ia baru akan melancarkan aksinya menelanjangi wanita itu secara paksa.
Sedangkan Kris?
Ia sangat tau betul siapa itu Park Chanyeol, reputasinya benar-benar tak bisa dianggap remeh. Ia adalah pembunuh berdarah dingin menurut Kris, karenanya ia sedikit berhati-hati berhadapan untuk pertama kalinya dengan calon CEO dari perusahaan raksasa Korea Selatan seperti Park Corporation yang ia ketahui berada di bawah naungan Park's Group yang tentu saja Park Chanyeol sendiri sebagai pewarisnya. Dan benar saja, sifat sombong dan angkuhnya yang selama ini hanya Kris dengar dari beberapa pihak itu kini terbukti, dan itu membuat Kris muak. Terlebih saat Chanyeol menghinanya dengan membawa-bawa panti asuhan tempat ia tinggal dulu. Jika saja park Chanyeol bukan orang yang sangat berpengaruh, tentu ia tak akan tinggal diam di hina seperti itu.
Kris mengerti mengapa Chanyeol bersikap sinis dan menghinanya secara tidak langsung seperti tadi, karena ia mengetahui betul masa lalu Chanyeol dengan istrinya, Luhan.
Lelaki itu hanya sedikit sentimen Kris rasa.
.
Kris mendengus ketika melangkahkan kakinya keluar dari restoran tempat dimana ia dan Park Chanyeol makan siang bersama. Lelaki angkuh itu masih saja bersikap sinis padanya sampai mereka menyelesaikan makan siang tersebut. Brengsek, Pikir Kris.
Ponselnya berdering.
"Kau sudah menemukannya?" Tanyanya pada orang di seberang sana. Ia memberi jeda untuk mendengar jawaban dari orang tersebut. Lantas tersenyum penuh arti,"Baiklah." Lanjutnya.
.
.
-Heartless-
Baekhee merasa kurang baik hari ini, Itu mungkin efek dari rokok yang semalam ia hisap, untung saja Baekhyun tidak tau. Jika gadis manis itu tau, ia akan marah besar. Sepertinya Baekhee memang sudah harus menghentikan kebiasaannya merokok. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam Club, samar-samar ia mendengar ada sedikit keributan.
"K-kumohon Park Chanyeol, a-aku tidak sengaja." Ucap seorang lelaki tergagap dengan wajah yang sudah babak belur.
Park Chanyeol hanya duduk santai meneguk Absinthe di gelasnya, dengan kaki yang ia injakan di punggung lelaki yang terlihat berlutut dengan luka lebam di seluruh wajahnya.
"Ada apa?" Tanya Baekhee pada salah satu bartender.
"Lelaki itu tidak sengaja menumpahkan minumannya di sepatu Park Chanyeol," Sahut bartender tersebut sedikit berbisik kepada Baekhee.
Baekhee mengernyit.
"Kau melewatkan saat lelaki itu menjilat sepatu Park Chanyeol tadi," Seru Bartender yang lain menimpali.
"Mwo? Menjilat sepatunya?" Baekhee terperangah.
"Ayolah Baekhee, Dia itu Park Chanyeol." Itu Minho.
"Lantas mengapa ia babak belur seperti itu?" Baekhee kembali bertanya.
Minho mendecak.
"Kau tidak melihat itu?" Ia menunjuk kepalan tangan Park Chanyeol yang di penuhi darah yang sudah mengering. Sepertinya Chanyeol menghajar lelaki itu dengan tangannya sendiri.
"Keparat itu," Gumam Baekhee pelan.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Minho heran melihat wajah Baekhee yang sudah memucat.
Baekhee mengangguk, kembali ia memperhatikan Park Chanyeol dengan segala kekuasaannya saat ini.
Ketahuilah, suasana hati Park Chanyeol sedang tidak bagus. Mengingat pertemuannya dengan Kris hari ini sedikit membuatnya kacau, lelaki itu seolah sengaja ingin membuat mood seorang Park Chanyeol buruk setidaknya hari ini.
Dan seorang gelandangan menurut Chanyeol dengan segala ketololannya berani menumpahkan minuman murahan di sepatunya.
Chanyeol sedikit membungkukan badannya menghadap lelaki yang berlutut dan saat ini beringsut ketakutan melihat kilatan membunuh meskipun mata Park Chanyeol sedikit sayu karena mabuk.
Chanyeol tertawa keras.
Inilah yang ia suka, ia selalu menikmati ekspresi ketakutan dari setiap orang yang melihatnya dengan wajah babak belur nyaris tak berbentuk lagi.
"Chingu-a.. bahkan jika kau menjual seluruh organ tubuhmu, itu tidak akan cukup untuk mengganti sepatuku ini" Ujar Chanyeol layaknya orang mabuk.
Baru saja ia akan menyiram lelaki tersebut dengan sisa minuman dari gelasnya, sebuah suara menginterupsi.
"Hentikan itu Park Chanyeol!" Baekhee berucap refleks, sejujurnya ia sudah tak tega melihat lelaki yang sudah babak belur itu.
Keparat itu benar-benar keterlaluan, Pikir Baekhee.
Semua mata memandang kearah gadis tersebut, termasuk Park Chanyeol. Lelaki itu sedikit menyipitkan mata karena pandangannya sedikit memburam karena efek Absinthe yang ia minum. Ia bangkit dari kursinya menghampiri Baekhee dengan langkah gontai. Ia merendahkan tubuhnya sekedar untuk memandang gadis di hadapannya itu. Ketika pandangannya sedikit jelas ia menyeringai, lagi-lagi gadis ini.
Deg
Ada apa denganmu Byun Baekhee? Oh tidak! Tidak!, Pikir Baekhee sambil menggeleng-gelengkan kepalanya membuat Chanyeol mengernyit heran melihat hal tersebut.
Namun lelaki itu tak ambil pusing.
"Ahh, mau bersikap sok pahlawan? Kau mau meggantikannya?" Tanya Chanyeol dengan suara beratnya."Baiklah, kalau begitu," Chanyeol memberi jeda, ia menarik pinggang Baekhee dan merapatkan tubuhnya,"Bercintalah denganku." Lanjutnya tak tau malu, lelaki itu benar-benar sudah mabuk dan diluar kendali.
Baekhee memberontak keras ketika Chanyeol nyaris saja menciumnya, Baekhee melepaskan tangan Chanyeol dari pinggangnya. Dengan sisa tenaga yang Baekhee punya sebuah tamparan keras ia layangkan pada wajah lelaki tersebut.
Semua orang terperangah menganga tak percaya.
Baekhee menatap Chanyeol berang sambil terengah-engah, sungguh badannya sangat lemas. Tubuhnya hampir saja terhuyung, sepertinya penyakitnya akan kambuh. Wajah dan bibir yang sudah memucat dan keringat yang mengalir deras di pelipisnya. Dan dengan langkah cepat Ia pergi dari Club tersebut, ia harus pulang.
Dengan langkah limbung Baekhee berjalan menuju halte bus.
Ia terus melafalkan nama Baekhyun di dalam hatinya, nama itu seolah menjadi kekuatan tersendiri baginya.
.
Semua orang yang berada di Club itu sedikit beringsut. Tentu saja, mungkin sebentar lagi Park Chanyeol akan mengamuk ketika menyadari ia baru saja ditampar oleh seorang gadis.
Namun lelaki itu hanya mematung seolah bertanya-tanya apa yang baru saja terjadi? Atau mungkin ia sedang memikirkan hukuman apa yang pantas gadis itu dapatkan karena sudah berani mempermalukannya seperti itu.
Byun Baekhee, itu namamu kan? Kau benar-benar menguji kesabaranku. Pikirnya.
.
.
-Heartless-
Baekhyun mengayuh sepedanya pelan, ia baru saja pulang dari pasar. Gadis manis itu tidak bisa menolak rengekan kakaknya untuk di buatkan makanan kesukaannya, tentu saja Baekhyun tidak bisa menolak terlebih Baekhee saat ini sedang sakit.
Baekhyun memang sangat terkejut ketika semalam Baekhee pulang lebih awal dari biasanya dengan wajah yang sangat pucat, untung saja ia segera memberikan obat dan sekarang kondisi kakaknya sudah membaik. Namun, Baekhee akan sangat manja jika sedang sakit seperti itu. Dan Baekhyun seolah sudah terbiasa dengan sifat kakaknya tersebut.
Ini memang sudah siang, karena ia sedikit telat mengantarkan susu dan surat kabar pagi tadi. Baekhyun harus berjaga sepanjang malam untuk terus mengecek kondisi kakaknya.
Jarak dari pasar dan komplek tempatnya tinggal memang sedikit jauh, Dan Baekhyun harus rela berjalan kaki ketika di tengah jalan trotoar rantai sepedanya putus, gadis itu sedikit merengut. Dan ketika akan melangkahkan kakinya, sebuah tangan memeluknya dari belakang. Baekhyun sangat terkejut tentu saja, siapa yang berani-beraninya memeluknya di tengah jalan seperti ini. Dengan cepat ia melepaskan tangan yang melingkari tubuh mungilnya lantas berbalik.
Orang itu tersenyum lebar sambil merentangkan kedua tangannya.
Baekhyun sedikit memiringkan kepalanya, ia menelisik orang tersebut. Dan perlahan ekspresinya mulai berubah, ia terkejut. Namun dengan cepat ia merubah ekspresinya tersebut, tangannya ia lipat di dada dengan sedikit merengut membuat orang yang sedari tadi merentangkan kedua tangannya terkikik gemas.
Baekhyun yang sudah tak bisa lagi menahan dirinya itu menghampiri orang tersebut dan langsung menghambur ke pelukannya.
"Kris Oppa!" Serunya manja membenamkan kepalanya di dada orang yang ia panggil Kris Oppa tersebut.
"Gadis nakal! Kau bahkan tak sadar sedari tadi aku mengikutimu." Ujar Kris terkekeh.
Baekhyun mendongak dengan lengan yang masih melingkar di tubuh Kris.
"It's been 5 years!" Ia memberi jeda, matanya berkaca-kaca."Oppa tidak pernah menemui kami selama itu. Tidak, kau bahkan tidak menghubungi kami sekalipun. Jahat sekali!" Serunya.
Kris tersenyum, ia mengelus pelan pipi Baekhyun.
"Mau minum kopi dengan Oppa?" Tanyanya dan langsung dibalas anggukan oleh Baekhyun.
Kebetulan sekali mereka berdiri di depan sebuah Cafe, tanpa pikir panjang Kris pun mengajak Baekhyun masuk ke Cafe tersebut.
"So, ada apa dengan sepeda dan keranjang susu?" Tanya Kris setelah mereka duduk dan memesan kepada pelayan Cafe.
"Oh? Sejak kapan Oppa mengikutiku?"
Kris menaikkan sebelah alisnya sambil mengangkat sebelah tangan dan mengetuk-ngetuk layar jam tangannya, seolah memberi tau bahwa ia sudah berjam-jam mengikuti gadis tersebut.
Baekhyun meringis.
"Kenapa tidak langsung menyapaku? Kenapa harus menunggu rantai sepedaku putus? Dan ada apa dengan pelukan tadi? Oppa membuatku terkejut, aku hampir saja menamparmu."
Mereka memberi jeda ketika pelayan datang membawa pesanan.
"Dan kenapa tidak menamparku?" Tanya Kris setelah pelayan itu berlalu.
"Itu karena kau sangat tampan." Sahut Baekhyun menaik turunkan sebelah alisnya.
"Whoa, kau baru saja menggoda Oppa huh?"
"Tidak, Oppa memang sangat tampan dan jauh lebih tampan sekarang." Baekhyun terkekeh.
Mereka pun mengobrol panjang lebar di Cafe tersebut, Baekhyun bahkan sangat terkejut ketika mengetahui Kris telah menikah dan bahkan lelaki itu terlihat sangat bahagia ketika menceritakan tentang istrinya kepada Baekhyun.
Melihat hal tersebut membuat Baekhyun turut bahagia. Mereka tidak bertemu selama lima tahun dan Baekhyun sangat berterimaksih kepada Tuhan karena mempertemukannya kembali dengan Kris, orang yang sudah ia dan Baekhee anggap seperti kakak mereka.
Ketiganya tumbuh bersama di panti asuhan, Kris akan selalu menjadi sosok kakak pelindung bagi kedua gadis kembar itu. Kris yang bahkan rela bekerja apa saja demi membelikan Baekhyun dan Baekhee Purity Ring sebagai hadiah ulang tahun.
Mereka menjalani hari-hari bersama, hingga suatu hari Baekhyun dan Baekhee harus merelakan sosok tersebut pergi dari hidup mereka, karena masalah pelik tentang asal-usul keluarga Kris yang mengharuskannya pergi ke China. Namun, Kris pernah berjanji satu hal kepada Baekhyun dan Baekhee, ia akan kembali menemui mereka. Dan lelaki itu menepati janjinya, meskipun sangat sulit melacak keberadaan kedua gadis tersebut.
"Where's my Baekhee?" Suara Kris membuyarkan lamunan Baekhyun.
"Eonni saat ini—"
Ucapan Baekhyun terpotong ketika suara dering ponsel milik Kris menginterupsi.
Ekspresi Kris sedikit berubah, ia terlihat cemas. Setelah menutup teleponnya ia menatap Baekhyun dengan sedikit bersalah.
"Ada apa?" Tanya Baekhyun bingung.
"Oppa tau ini akan membuatmu marah, tapi bolehkan Oppa pulang ke China sekarang?"
Baekhyun semakin bingung.
"Apa terjadi sesuatu?" Tanyanya cemas.
Kris mengangguk.
"Luhan masuk Rumah Sakit."
Baekhyun langsung menarik lengan Kris dan keluar dari Cafe tersebut.
"Dan kenapa kau masih disini? Kau harus pulang." Ucapnya sambil berjalan menyeret Kris yang terlihat panik.
"Taxi!" Baekhyun menghentikan Taxi yang melintas di depannya. Kemudian ia menghadap Kris yang kini menatapnya.
"Kenapa diam saja? Cepat masuk, kau harus pulang!" Baekhyun sedikit kesal melihat Kris yang diam saja, sungguh ia sangat mencemaskan Luhan saat ini. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan wanita yang kini menjadi Eonni barunya itu.
Kris memeluk Baekhyun erat dan mencium puncak kepala gadis itu sambil terus mengucapkan kata maaf.
"Oppa akan secepatnya mengunjungimu lagi dan membawa Eonnimu kesini. Sampaikan maaf Oppa pada Baekhee" Ucap Kris lantas memasuki Taxi setelah mendapat anggukan dari Baekhyun.
.
.
-Heartless-
"Tak bisakah wanita itu pulang ke rumah sendiri tanpa harus mengangguku seperti ini, Omma? Aku ini sibuk!" Ucap Chanyeol dengan nada kesal setelah menyumbat lubang telinganya dengan Handsfree berbicara dengan Ibunya lewat telepon, ia sedang menyetir saat ini.
"Siapa yang kau sebut wanita itu? Dia Noonamu, panggil dia Noona!" Seru Ibunya di seberang sana.
Chanyeol jengah, ia memutar kemudinya sedikit membelok ketika mobil yang dikendarainya melewati tikungan.
"Menyusahkan! Kututup!" Seru Chanyeol memutus sambungan teleponnya, ia melepas Handsfree dan melemparnya asal.
Chanyeol mengerang kesal, ia bahkan harus meninggalkan pekerjaannya dan membiarkan Jongdae mengurusnya. Ibunya itu memang suka memaksa.
Ia menekan klakson dengan keras ketika sebuah mobil meyalipnya dari belakang,
"Oh Shit!" ia mengumpat, lantas menginjak rem secara mendadak.
Ingatkan Park Chanyeol untuk mengahafal plat mobil yang menyalipnya itu, dan ingatkan pula bahwa ia harus meledakkan mobil tersebut beserta pengemudinya setelah ini.
Ketika akan menghidupkan mesin mobilnya kembali, Chanyeol mengernyit melihat seorang gadis di seberang jalan sana sedang dipeluk dan bahkan dicium oleh seorang lelaki, Ia sedikit kesulitan melihat wajah lelaki tersebut karena posisinya yang membelakangi jalan. Namun, wajah gadis itu terlihat sangat jelas.
Park Chanyeol kembali mengingat kejadian semalam, ia kembali diliputi rasa marah ketika gadis itu menolak tawarannya untuk bercinta dan malah menamparnya. Awalnya ia pikir gadis itu adalah gadis polos. Namun, setelah melihat gadis tersebut dipeluk dan dicium seperti saat ini dan bahkan di pinggir jalan membuatnya merasa terhina. Gadis itu berlaku sok jual mahal kepada seorang Park Chanyeol semalam, namun bertingkah layaknya pelacur murahan pinggir jalan sekarang menurutnya.
Ia memang sudah berniat akan membalas perlakuan gadis itu, dan mungkin sekarang lah saatnya.
Chanyeol meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Jaguar yang kau incar di garasiku bisa kau pakai sebulan penuh jika kau menjemput Park Yoora di bandara sekarang!" Ujarnya kepada seseorang yang langsung berseru heboh di seberang sana. Kemudian Chanyeol memutus sambungan teleponnya. Kembali ia memperhatikan gadis yang saat ini hanya sendirian di pinggir jalan tersebut.
Kau pelacur kecil, Aku harus memberimu pelajaran! Pikirnya. Lelaki itu benar-benar marah sekarang.
Chanyeol keluar setelah memarkirkan mobilnya tepat di samping trotoar, ia melangkah mendekati gadis tersebut dan menarik paksa lengan si gadis yang saat ini mengerang tertahan ketika merasakan perih luar biasa di bagian kanan lengannya.
Yeah, gadis itu Byun Baekhyun. Ia terperangah ketika melihat siapa yang mencengkram kuat dan menarik lengannya secara paksa tersebut.
"Hey, kau mau membawaku kemana?" Tanya Baekhyun panik ketika Chanyeol menyeret dan memaksanya masuk ke dalam mobil tanpa mengucapkan sepatah katapun. Baekhyun bahkan melupakan rasa perih yang menjalari lengan kanannya. dan bahkan ia melupakan belanjaan yang ia letakkan di keranjang sepedanya yang berada di depan Cafe tadi.
"Park Chanyeol?"
"DIAM!" Bentak Chanyeol dengan mata nyalang, sungguh ia benar-benar marah kali ini. Ia merasa terhina dengan perlakuan gadis itu semalam.
Baekhyun bungkam, ia ketakutan sekarang. Jimin sempat menceritakan padanya tentang siapa itu Park Chanyeol, lelaki itu sangatlah kejam. Ia adalah orang yang tak akan segan membunuh siapapun yang membuatnya marah. Dan sekarang lelaki itu tampak marah, meskipun Baekhyun sangat bingung apa yang telah ia perbuat sehingga lelaki ini marah kepadanya?
Tuhan, lindungi aku. Pikirnya.
Baekhyun memekik tertahan ketika Chanyeol menginjak pedal gas dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia bahkan bisa melihat gedung dan pepohonan di sekitar jalan seolah berlari ke belakang nyaris tak terlihat karena kecepatan mobil itu.
Chanyeol melirik dari sudut matanya, ia tersenyum remeh ketika gadis yang berada di sampingnya itu terlihat sedang Berdoa. Bagus jika gadis itu tau bahwa hari ini adalah hari terakhir ia bisa bernafas.
"Sebenarnya kau mau membawaku kemana?" Baekhyun memberanikan diri kembali bertanya, gadis itu terlihat sedikit tenang sekarang. Satu hal yang ia ingat ketika ia tinggal di panti asuhan dulu, ibu panti selalu memberitahunya bahwa bersikap tenang akan membuat semua pikiran negatif yang ada di pikiranmu lenyap, dan ia meyakini itu.
"Aku akan membawamu jauh, dimana tidak ada satu orang pun yang bisa menemukan mayatmu." Sahut Chanyeol enteng tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali.
Baekhyun tentu saja terkejut mendengar hal tersebut, ia menghela nafas pelan. Lengan kanannya sedikit basah oleh darah, namun gadis itu masih bisa bersikap tenang.
"Boleh aku tau, apa kesalahanku sampai kau begitu marah dan berniat membunuhku sekarang?" Tanya Baekhyun dengan suara lembutnya, suatu hal yang tak mungkin bisa orang lain lakukan ketika mengetahui bahwa nyawa mereka akan melayang saat itu juga.
Mendengar pertanyaan tersebut membuat Chanyeol geram, gadis ini bersikap seolah lupa dengan apa yang telah ia perbuat semalam, apa ia lupa? Atau memang gadis ini benar-benar berkpribadian ganda? Dan mengapa gadis ini masih bisa bersikap tenang ketika nyawanya sedang terancam saat ini?
Chanyeol menghentikan mobilnya secara mendadak, bukan karena apa-apa. Kepalanya tiba-tiba merasa sakit. Namun, ia tak peduli dan melanjutkan mengemudi.
Kau akan tau setelah ini. Kita lihat, apa kau masih bisa bersikap tenang seperti itu atau tidak, Pikirnya.
Chanyeol membanting keras pintu mobilnya dan menyeret Baekhyun keluar, ia membawa gadis itu masuk ke sebuah Villa besar yang terlihat jauh dari keramaian.
Beberapa pelayan membungkuk hormat ketika Chanyeol memasuki Villa tersebut, namun mereka semua sedikit terkejut melihat gadis yang diseret paksa oleh Chanyeol.
Chanyeol membawa Baekhyun ke kamar yang berada di lantai dua Villa tersebut, kamar itu sangat besar dan mewah. Ia menghempaskan lengan Baekhyun membuat gadis itu sedikit memekik.
Okay, kali ini Baekhyun tidak bisa bersikap tenang, ia sangat ketakutan. Sungguh. Park Chanyeol mengunci pintu kamar tersebut.
"A-apa yang akan kau lakukan?" Baekhyun beringsut.
"Kenapa? Kau takut? Kau mau menamparku lagi seperti tadi malam, Byun Baekhee?" Chanyeol menyeringai maju satu langkah.
Semalam? Baekhee Eonni? Jadi benar..? Pikir baekhyun menebak-nebak. Gadis itu mundur perlahan, ia sangat takut.
"K-kumohon, a-aku meminta maaf.. semalam.. semalam a-aku, aku mohon maaf.. Park Chanyeol."
"Jangan berani menyebut namaku! Aku merasa jijik namaku keluar dari mulut pelacur kecil kotor sepertimu!" Chanyeol menampar keras pipi Baekhyun. Ia benar-benar sudah dikuasai emosi, ia bahkan tidak mempedulikan rasa sakit di kepalanya yang kian menjadi.
Baekhyun menatap Chanyeol tidak percaya, rasa sakit tiba-tiba menjalari rongga hatinya ketika lelaki itu menyebutnya pelacur. Gadis itu tidak mempedulikan sama sekali pipinya yang memanas akibat tamparan keras Park Chanyeol. Hatinya benar-benar sesak. Ia menangis.
"Kau pikir aku akan peduli dengan air mata sialanmu itu? HUH?!" Chanyeol membentak.
"A-aku melakukan kesalahan semalam, k-kumohon maafkan aku." Kembali Baekhyun berucap dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah segar, ia semakin terbata dan tubuhnya bergetar.
Aku harus melindungi Eonni, Pikirnya. Park Chanyeol sangat berbahaya menurutnya.
Park Chanyeol maju beberapa langkah membuat Baekhyun mundur, lelaki itu tampak limbung dan terhuyung kedepan. Baekhyun yang berada di depannya secara refleks menahan tubuh Chanyeol, lelaki itu tak sadarkan diri dan berada di pelukannya.
Baekhyun panik sekaligus bingung, apa yang terjadi dengan Park Chanyeol? Tanpa pikir panjang, dengan susah payah ia pun membopong tubuh besar lelaki itu dan merebahkannya di ranjang.
Dengan cepat ia keluar dari kamar tersebut untuk meminta pertolongan.
"A-ahjumma, Park Chanyeol.. Park Chanyeol, dia tak sadarkan diri.. K-kumohon selamatkan dia." Baekhyun sangat panik. Ia berbicara kepada salah satu pelayan Villa tersebut.
.
"Tuan muda tidak apa-apa, beliau hanya terlalu banyak minum, dan kesehatannya sedikit menurun. Ia harus beristirahat untuk beberapa hari." Ucap seorang dokter kepada Baekhyun dan pelayan Villa setelah memeriksa keadaan Chanyeol.
Bolehkan Baekhyun merasa lega mendengar apa yang dikatakan dokter baru saja?
Sejujurnya, gadis itu sangat mencemaskan kondisi lelaki tersebut. Ia sendiri tak tau mengapa ia seperti ini.
"Anda tidak apa-apa?" Tanya dokter tersebut kepada Baekhyun.
Baekhyun mengangguk tersenyum.
"Biarkan saya mengobati luka anda." Ucap dokter itu ramah.
"Kamsahamnida.." Baekhyun membungkuk sopan.
.
Setelah mengobati luka Baekhyun dan memberi resep obat untuk Park Chanyeol, Dokter itu pun berlalu dari Villa tersebut.
"Agasshi tidak apa-apa?" Tanya seorang pelayan, ia adalah wanita paruh baya.
"Saya tidak apa-apa," Baekhyun tersenyum."Ummm.. Ahjumma, bolehkah saya meminjam dapurnya?" Lanjutnya bertanya.
Baekhyun sangat berterimakasih kepada pelayan yang ia ketahui bernama Jung ahjumma tersebut karena mengizinkannnya memakai dapur di Villa besar itu, wanita paruh baya itu sangatlah baik, ia bahkan mengizinkannya memasak untuk Park Chanyeol. Ia juga memberitahu makanan apa yang disukai dan tidak disukai oleh lelaki angkuh yang sayangnya sangat tampan tersebut.
Entahlah, Baekhyun merasa ia sangat senang memasak untuk orang yang sedang sakit. Ketika di panti dulu ia sering sekali mengurus anak-anak yang sakit, dan ia senang melakukan itu.
Apakah gadis ini telah lupa kejadian beberapa waktu lalu?
Selama memasak, Jung Ahjumma bercerita banyak tentang park Chanyeol. Tuan mudanya itu memang sering datang ke Villa ini untuk beristirahat, namun baru kali ini ia membawa seorang gadis ke Villa yang jauh dari perkotaan tersebut. Dan Baekhyun sedikit terkejut mendengarnya.
"Ahjumma, apa ada Bus menuju kota di sekitar sini?" Tanya Baekhyun setelah selesai memasak, jujur saja ia sangat mencemaskan Baekhee saat ini dan ia ingin pulang.
"Biar supir kami yang mengantarkan Agasshi pulang."
"Ah tidak apa-apa, saya bisa pulang sendiri Ahjumma, cukup memberi tahu letak haltenya saja." Tolak baekhyun halus, ia akan merasa tak enak hati merepotkan orang lain.
Jung Ahjumma tersenyum, entah mengapa ia menyukai gadis ini. Gadis baik hati menurutnya, ia tau betul sifat majikannya, Park Chanyeol pasti tadi berencana menyakiti gadis yang terlihat polos ini. Namun, gadis ini malah berlaku sebaliknya dan itu terlihat tulus. Ia bahkan tidak mempedulikan luka di lengannya ketika meminta di panggilkan dokter untuk memeriksa keadaan Chanyeol tadi. Dan ia merasa iba melihat pipi gadis itu sedikit memerah dengan bekas darah di sudut bibir mungilnya.
Baekhyun membungkuk sopan ketika berpamitan untuk pulang, selama perjalanan pulang ia merasa tidak nyaman memakai hoodie yang entah punya siapa yang Jung Ahjumma pinjamkan kepadanya. Hoodie itu sangat kebesaran di tubuhnya.
.
.
-Heartless-
Chanyeol mengerjap, kepalanya sangat pusing. Matanya menelisik ke seluruh ruangan, dan ia melihat Jongdae terduduk di samping ranjang.
"Apa yang terjadi?" Tanyanya.
"Anda pingsan tuan, dan dokter sudah memeriksa keadaan anda."
Chanyeol bangun dan menyandarkan tubuhnya, ia memijat dahinya pelan. Dan ia teringat sesuatu.
"Dimana gadis itu?"
"Jung Ahjumma mengatakan ia sudah pulang." Sahut Jongdae. Sejujurnya ia tak tau perihal gadis tersebut, karena ia datang setelah gadis itu berlalu dari Villa.
Dahi Chanyeol mengkerut mendengar hal itu, Ia melirik meja di samping ranjangnya. Ada sebuah nampan yang di atasnya terdapat mangkuk berisi bubur, air putih, dan beberapa obat. Oh ada catatan kecil disana.
Mungkin bubur ini rasanya buruk, dan aku sengaja. Tidak, Tidak, aku bercanda :) kau harus meminum obatmu dan cepatlah sembuh.
B.
Chanyeol merasa ada yang salah dengan gadis itu, ia merasa gadis itu akan selalu bersikap berbeda setiap kali ia menemuinya.
Chanyeol sama sekali tidak menyangka, gadis dengan tatapan tajam dan menusuk seperti itu mempunyai sisi naif yang seperti ini.
Ia melirik lengan kemejanya, dahinya kembali mengkerut melihat noda darah di area tersebut.
Beberapa pertanyaan pun melintas di benaknya.
Mengapa ketika sisi naif yang keluar dari gadis itu selalu ia temui dalam keadaan berdarah, menangis dan ketakutan?
Oh bahkan pernah ia temui dalam keadaan tersenyum.
Dan itu membuat Chanyeol dengan segala sumpah serapah yang keluar dari mulutnya saat ini karena sisi naif dari gadis itu membuatnya sedikit tidak nyaman.
Yeah, karena sedari tadi ia diam-diam mengamati telapak tangannya.
.
.
.
TBC
.
.
AN:
Namanya juga Heartless! gak punya hati, kejam! Huu awas aja kamu Park Chanyeol!
Scene yang bagian Chanyeol sama-sama tak sadarkan diri itu sengaja disamain biar adil haha tapi B kebagian meluk ;;) duuhh ribet ya ni ff wkwkwk -_- Btw Baekhee plinplan ya? dan B kasian ish huhuu T.T
meskipun bosenin, Review juseyoo T.T
