HEARTLESS
Cast:
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
And OCs
.
.
ChanBaek (GS)
Romance, Hurt/Comfort
Happy Reading!
.
"Ketahuilah.. Kau membuat semua orang muak dengan sikap sok polosmu itu!"
"Semua ini salahmu!"
"Akh.. panas.. tolong.. panas.."
"Sadarlah, kau jauh berbeda dengannya."
"Kau merenggut kebahagiaannya."
"Ini salahmu!"
"Aku membencimu, Byun Baekhyun."
"Buka.. B-buka pintunya, aku tidak bisa bernafas.. Kumohon buka pintunya.."
"Semua ini salahmu!"
"Apa kau sengaja ingin membunuhnya? HUH?"
"EONNI!"
Suara-suara itu terdengar menggema, mengganggu tidur lelap seorang gadis cantik, Byun Baekhyun.
Ia terus saja menggelengkan kepalanya, matanya yang masih tertutup rapat kian membasah karena peluh yang mengalir dari dahinya yang sedari tadi mengkerut.
Tidurnya terlihat tak tenang seiring dengan tubuhnya yang bergerak gelisah.
Gadis itu bermimpi buruk.
Dan satu helaan nafas panjang membangunkannya dari mimpi tersebut. Matanya terbuka lebar, Baekhyun terbangun dengan tubuh yang bergetar hebat. Kepalanya mendongak, Gadis itu mencoba menghirup udara dengan sedikit membuka mulutnya berharap ada oksigen yang masuk ke paru-parunya, namun usahanya sia-sia. Ia terus saja meremas kerah piyamanya, dadanya terasa sesak seiring dengan jantungnya yang berpacu tanpa kendali.
Ia butuh bernafas.
Setelah beberapa saat, Baekhyun berhasil mengendalikan dirinya. Ia mulai bisa menghirup udara meskipun sedikit terengah-engah dan terdengar sangat payah.
Matanya menyayu terlihat sangat lelah. Gadis itu melirik kearah ranjang yang berada tepat di samping ranjangnya. Ia merasa lega melihat Baekhee masih terlelap dalam tidurnya karena jujur saja ia takut mengganggu tidur Sang kakak.
Jarum-jarum di dalam jam dinding terus bergerak, angka demi angka ia lewati menghasilkan bunyi detik yang menjadi satu-satunya suara di kamar itu.
Baekhyun mengalihkan pandangannya pada jam tersebut, kemudian mengusap wajahnya pelan.
Sudah lewat tengah malam, namun sepertinya Baekhyun tak terkejut sama sekali seolah sudah biasa terbangun pada jam-jam seperti sekarang ini.
Dan mungkin selalu dalam kondisi seperti itu.
Baekhyun turun dari ranjangnya, jika sudah seperti ini akan sulit untuknya terlelap kembali dan ia memutuskan untuk mencari udara segar. Gadis itu mengikuti langkah kakinya menuju bagian belakang rumahnya, ia duduk disalah satu ayunan yang menghadap langsung kearah kota Seoul dengan pemandangan malamnya yang sungguh indah.
Namun, gadis itu hanya diam memandang lurus ke depan dan pandangannya itu terlihat kosong. Satu titik cairan bening tanpa terasa mengalir di pipinya, ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat berusaha meredam suara tangisnya.
.
.
-Heartless-
Ada yang berbeda di kediaman keluarga Park pagi itu, seluruh pelayan di Rumah utama tempat petinggi Park's Group tinggal itu tampak lebih sibuk dari biasanya. Mereka tak boleh melakukan kesalahan sedikitpun pagi ini.
Tentu saja, karena Nona muda mereka Park Yoora baru saja kembali dari Amerika. Namun, bukan itu yang membuat seluruh pelayan di kediaman Park tersebut tampak sedikit lebih berhati-hati dari biasanya.
Tuan muda mereka Park Chanyeol yang jarang sekali pulang ke Rumah utama kali ini terlihat berada di kediaman tersebut, membuat seluruh pelayan di rumah itu diselimuti perasaan mencekam. Tuan mudanya itu adalah orang yang sangat Perfeksionis, tidak boleh ada kesalahan sedikitpun ketika melayaninya. Mereka tau betul watak seorang Park Chanyeol.
Ada sekitar tujuh orang pelayan yang membungkuk hormat ketika Park Chanyeol berjalan menuju meja makan. Sebelum ia mendudukkan dirinya di kursi, lelaki itu tampak menelisik penampilan ke tujuh pelayan tadi. Ekspresinya terlihat sangat dingin seolah mampu membuat pelayan-pelayan itu menggigil oleh auranya.
Tidak ada yang salah dengan penampilan mereka, seragam pelayan yang melekat rapi di tubuh masing-masing dan cara mereka membungkuk hormat cukup membuat Park Chanyeol menyeringai puas.
Itulah Park Chanyeol, menurutnya orang-orang rendahan seperti pelayan-pelayan itu harus tau dan menyadari posisi mereka masing-masing.
Ketahuilah, akan sangat sulit mendapat perlakuan baik dari seorang park Chanyeol jika kalian hanya orang-orang yang berasal dari kalangan bawah. Yeah, orang miskin lebih tepatnya
"Whoa, seperti biasa! Park Chanyeol dengan segala kekuasaannya."
Celetuk seorang wanita cantik berambut pendek yang duduk disalah satu kursi di meja makan tersebut. Dan Chanyeol duduk di sampingnya.
"Diamlah, Park Yoora." Chanyeol berujar dengan enteng.
"Dimana sopan santunmu?! Dia Noonamu, panggil dia Noona!" Perintah seorang lelaki paruh baya yang duduk di kursi utama, rambutnya yang sudah sedikit memutih itu tak mampu menghilangkan aura kewibawaan yang sangat kentara dari sosoknya tersebut. Park Sunwoo.
"Ne, Aboeji." Sahut Chanyeol dengan nada tak berminat, seolah itu tidak penting sama sekali.
"Tidak sopan sekali." Ucap Yoora.
Chanyeol mengalihkan pandangannya kearah Yoora. Ia mendecih.
"Lihat, lihat, anak manja ini malah meledekku." Ujar Yoora kesal.
Mendengar hal tersebut membuat Chanyeol sedikit geram, baru saja ia akan membalas perkataan kakaknya, namun sebuah suara terlanjur menyela.
"Sudahlah, sayang.. seperti tidak tahu sifat adikmu saja" Ucap seorang wanita paruh baya yang bahkan usia saja tak mampu merenggut kecantikannya. Park Minyoung.
Yoora merengut, ibunya itu selalu saja membela Chanyeol.
Melihat hal tersebut membuat Sunwoo tak bisa menahan senyumannya, lelaki paruh baya tersebut seolah sudah paham dengan sifat putra dan putrinya itu.
Ia merasa senang bisa berkumpul dengan mereka meskipun hanya sekedar sarapan bersama, mengingat maupun Chanyeol ataupun Yoora sangat jarang sekali berada di rumah.
Dan setelahnya hanya terdengar suara dentingan dari sendok dan piring yang beradu, mereka menyantap sarapan tanpa ada yang berbicara satu patah katapun. Karena keluarga Park selalu menjunjung tinggi tata krama saat sedang makan.
.
Park Sunwoo dan Park Chanyeol keluar dari mobil yang berhenti tepat di depan gedung Park Corporation, terlihat beberapa staf perusahan yang berjajar rapi didekat pintu masuk. Mereka semua membungkuk hormat ketika orang yang paling berpengaruh di Park Corporation itu berjalan melewati mereka, lantas mengikuti langkah keduanya memasuki gedung perusahaan.
Park Chanyeol berjalan dengan angkuhnya ketika beberapa staf perusahaan yang lain membungkuk hormat saat berpapasan dengannya, aura dingin yang sangat menusuk itu sangat terasa. Sorot dari lensa beku itu mampu mengintimidasi siapapun yang melihatnya.
Lain lagi dengan Park Sunwoo, Ayahnya itu adalah orang yang hangat. Lelaki paruh baya itu tidak henti-hentinya tersenyum kepada beberapa staf perusahaan yang menyapanya dengan hormat. Ia sangat berwibawa.
Mereka begitu kontras ketika berjalan bersama.
Banyak dari staf perusahaan yang selalu membicarakan perbedaan yang sangat kentara dari keduanya, namun tak ada yang berani berspekulasi bahwa Park Chanyeol bukan putra dari Park Sunwoo mengingat wajah mereka sangatlah mirip, paras tampan rupawan Park Sunwoo tercetak jelas di wajah putranya, Park Chanyeol.
Mungkin Park Chanyeol yang seperti itu karena ia terbiasa dimanja sedari kecil. Yeah, dan hal itu membuat sifatnya berbanding terbalik dengan ayahnya.
Park Chanyeol melirik meja Resepsionis, ada sesuatu yang sedikit menarik disana. Sepertinya karyawannya itu sengaja memakai pakaian seperti itu untuk menarik perhatian Chanyeol. Tidak. Wanita itu memang sering mencoba segala cara untuk memikat bosnya tersebut.
Chanyeol menyeringai, mungkin kali ini ia akan memberi kesempatan kepada jalang satu itu untuk merasakan betapa nikmatnya disetubuhi oleh seorang Park Chanyeol.
.
.
-Heartless-
Beijing, China.
"Good morning" Ucap Kris memeluk Istrinya dari belakang. Xi Luhan.
"Sedang apa pagi-pagi seperti ini?" Tanyanya.
"Tentu saja menyiapkan sarapan untuk suamiku" Sahut Luhan.
"Tidak, kau baru pulang dari Rumah sakit. Kau harus banyak beristirahat, aku tidak ingin anak kita kenapa-kenapa" Kris mengelus lembut perut Sang istri.
Luhan terkekeh, suaminya itu terus saja memperingatinya ini itu sejak kemarin. Sejak dokter mengatakan bahwa ia akan menjadi seorang ayah.
Awalnya Kris memang sangat terkejut sekaligus cemas ketika di Korea ia mendapat panggilan darurat mendengar istri tercintanya masuk Rumah sakit. Namun, setelah ia sampai di China dan menyusul ke Rumah sakit, dokter mangatakan bahwa kondisi Luhan yang sedikit drop dikarenakan ia sedang mengandung dan itu membuat Kris sangat bahagia. Ia akan menjadi seorang ayah.
"Baiklah, suamiku." Luhan berbalik menghadap Kris dan mengecup singkat bibir suaminya itu.
"Kau tidak ke kantor?" Tanya Luhan.
"Tidak, aku meminta izin untuk menemani istriku hari ini." Sahut Kris balas mengecup bibir Sang istri.
"Aku baik-baik saja, sayang" Luhan mengelus lembut pipi Kris.
"Tapi, aku tidak baik-baik saja. Kemarin aku sangat terkejut mendengarmu masuk Rumah sakit." Kris memeluk erat istrinya.
Luhan tersenyum, ia menuntun suaminya itu ke ruang tamu dan duduk di sofa.
"Bagaimana urusanmu di Korea?"
"Semua baik-baik saja, aku bahkan bertemu dengan salah satu gadisku" Sahut Kris dengan tersenyum.
"Kau bertemu dengannya? Dengan siapa?" Tanya Luhan bersemangat, ia tau betul siapa yang Kris maksud.
"Baekhyun.. aku bertemu dengannya."
Melihat ekspresi bahagia dari suaminya mau tak mau membuat Luhan tersenyum, ia sangat tau bahwa Kris mempunyai adik kembar dan sangat menyayangi mereka.
"Kau tidak bertemu dengan Baekhee?"
"Aku belum sempat bertemu dengannya, setelah mendengar kau masuk Rumah sakit aku langsung pulang. Aku bahkan meninggalkan Baekhyun di depan Cafe."
"Kenapa kau meninggalkannya? Aku jadi merasa bersalah."
"Hey, tenanglah. Aku tidak mungkin membiarkan istriku kenapa-kenapa bukan?" Kris memberi jeda."Baekhyun sendiri yang menyuruhku untuk cepat pulang, gadis itu sangat mengkhawatirkan Luhan Eonninya,"
"Benarkah?" Luhan berbinar.
Kris mengangguk.
"Aku ingin bertemu dengan mereka, aku ingin melihat seperti apa mereka."
"Mereka cantik, mereka lucu, mereka sangatlah mirip dan akan sangat sulit membedakan keduanya."
"Lantas bagaimana kau bisa membedakan mereka?"
"Umm, wajah mereka mungkin sangat mirip. Namun, karakter keduanya sangat berbeda." Kris memberi jeda, "Baekhee.. dia gadis yang ceria, namun sedikit acuh dan terkesan tidak peduli dengan keadaan di sekitarnya. Dia sebenarnya sangat baik dan penyayang, gadis itu hanya tidak terlalu pandai menunjukannya kepada orang-orang."
"Dia pasti sangat menyenangkan.. Bagaimana dengan Baekhyun?" Tanya Luhan, ia menyamankan posisi duduknya dengan bersandar di bahu suaminya.
"Baekhyun.. " Ia memberi jeda, lantas tersenyum lebar."Lovely B.. Gadisku yang satu itu sedikit pendiam namun sangat baik hati, dia lembut dan perasa, penuh kasih sayang, dia akan menyanyangi orang-orang yang dianggapnya teman meskipun orang tersebut baru dikenalnya beberapa jam."
"Apakah dia memang sepolos itu?"
Kris mengangguk.
"Benar, Baekhyun bahkan selalu tersenyum seolah dia baik-baik saja." Kris menghela nafas sejenak,"Namun sebenarnya dia tidak baik-baik saja" Lanjutnya sedikit lirih, ekspresinya terlihat berubah.
"Apa maksudmu?" Luhan mengernyit.
Kris pun mulai bercerita.
Ini terjadi ketika Baekhyun dan Baekhee berada di bangku SHS, saat itu Baekhyun adalah murid yang sangat pendiam, dia tertutup, dan tidak mempunyai teman meskipun gadis itu sangat pintar. Berbeda dengan Baekhee yang ceria dan sangat populer, ia mudah bergaul dan menyenangkan. Hal itu membuatnya mempunyai banyak teman, meskipun Baekhee sangat acuh namun banyak lelaki di sekolahnya yang berharap untuk menjadi kekasihnya.
Sebagai kakak, Baekhee tentu tidak pernah membiarkan adiknya itu sendiri, dia selalu mengajak Baekhyun bermain bersama dengan teman-temannya yang lain. Namun, teman-teman Baekhee seolah tidak senang jika Baekhyun ikut bermain bersama mereka. Dan Baekhyun merasakan itu, dari situlah Baekhyun selalu menolak ajakan Baekhee untuk bermain bersama dengan berbagai alasan. Ia tidak ingin kakaknya dijauhi oleh teman-temannya hanya kerana dirinya.
Hingga suatu hari Baekhyun bercerita kepada Baekhee bahwa ia menyukai salah satu kakak kelas mereka, Jung Daehyun. Yang tanpa Baekhyun ketahui Daehyun sudah resmi berpacaran dengan Baekhee sebelumnya, mendengar betapa antusiasnya Baekhyun bercerita tentang kekasihnya membuat Baekhee tidak tega dan tidak ingin menyakiti perasaan adiknya.
Dan Baekhee memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Daehyun meskipun ia sangat menyukai lelaki tersebut, ia bahkan meminta teman-temannya merahasiakan hal itu dari Baekhyun.
Baekhee yang tidak peka sama sekali terhadap sikap sinis teman-temannya kepada Baekhyun menganggap semua akan baik-baik saja.
Namun, ia salah.
Teman-teman Baekhee sangat tidak terima mendengar Baekhee memutuskan Daehyun hanya demi adiknya Baekhyun, melihat Baekhee yang terlihat murung setelah putus dengan Daehyun membuat mereka geram dan membenci Baekhyun.
Entah alasan tepat apa yang mereka miliki sehingga begitu tidak menyukai Baekhyun namun sangat mengelu-elukan Baekhee. Meskipun wajah keduanya mirip, menurut mereka Baekhee dan Baekhyun sangat berbeda.
Tanpa sepengetahuan Baekhee, mereka menyeret Baekhyun ke gudang sekolah dan memberitahu perihal hubungan Daehyun dan Baekhee dengan segala makian yang keluar dari mulut mereka dan setelahnya mengunci Baekhyun di gudang tersebut.
Dan dari situlah kejadian pahit yang teramat membekas di benak Baekhyun terjadi, kebakaran besar terjadi di sekolahnya tersebut.
Kejadian itu membuat Baekhee nyaris kehilangan nyawanya karena menyelamatkan Baekhyun dari kobaran api. Baekhee membuat dirinya sendiri tak sadarkan diri dan kritis selama beberapa hari di Rumah sakit demi melindungi adiknya.
Namun, hal tersebut membuat Baekhyun semakin dibenci oleh teman-teman Baekhee dan Daehyun yang saat itu sudah terpengaruh oleh mereka.
Mereka menyalahkan Baekhyun atas apa yang menimpa Baekhee.
.
Luhan terdiam beberapa saat, ia sangat terkejut gadis sepolos Baekhyun mengalami kejadian semengerikan itu.
"Baekhyun pasti sangat terpukul." Ucapnya lirih
Kris mengangguk.
"Dia bahkan terus menyalahkan dirinya mengingat Baekhee sudah berkorban begitu banyak untuknya, senyuman hangatnya menghilang sejak saat itu. Aku dan Baekhee terus meyakinkannya bahwa ini semua bukan salahnya. Dan perlahan Baekhyun kembali menjadi dirinya sendiri. Meskipun aku tidak yakin mimpi buruk yang menghantuinya setiap malam sudah tak pernah dia alami lagi, aku terus mencemaskan hal itu selama lima tahun ke belakang, mengingat dia akan sangat menderita jika mimpi buruk itu muncul. Dan aku merasa gagal menjadi Oppanya ketika mengingat hal menyakitkan itu."
Luhan mengelus bahu Suaminya.
"Tidak usah menyalahkan dirimu, itu semua sudah berlalu." Ia memberi jeda, "Apakah Baekhee baik-baik saja setelah itu?"
"Percayalah, Baekhee adalah gadis yang kuat. Sejujurnya kedua gadis kecilku itu adalah gadis yang kuat, hanya saja Baekhyun sedikit perasa dan dia tidak ingin hal itu terjadi kembali." Kris menghela nafas pelan, "Sejak saat itu, menurut Baekhyun menyukai orang yang sama dengan kakaknya bukanlah hal yang bagus. Itu hanya akan berakhir dengan sangat menyakitkan bagi keduanya seperti waktu itu." Lanjutnya.
.
.
-Heartless-
"Akh.. dimana sebenarnya rumah gadis itu,,"
Oh Sehun menggerutu, saat ini ia tengah berjalan menyusuri pekarangan komplek tempat Baekhyun tinggal. Ia mencari-cari dimana rumah gadis penolongnya itu.
"Oh Sehun?"
Sebuah suara yang sangat Sehun kenal memanggilnya dari belakang, ia berbalik dan raut mukanya berubah, matanya berbinar. Itu Baekhyun.
"Chingu!" Seru Sehun dramatis menghampiri Baekhyun kemudian memeluk gadis itu.
"Whoa.." Baekhyun memekik terkejut, sepertinya ia harus terbiasa dengan sikap Sehun yang satu ini. Lelaki itu akan tiba-tiba mengejutkannya dengan sebuah pelukan.
"Sedang apa kau disini?" Baekhyun bertanya sedikit mengernyit.
"Aku mencarimu." Sehut menyahut.
"Kau mencariku? Ada apa?"
"Kau mau kemana?" Bukannya menjawab Sehun malah balas bertanya.
Baekhyun tersenyum.
"Toko bunga, mau ikut denganku?"
Sehun mengangguk dan mengulurkan tangannya membuat Baekhyun tertawa pelan.
Mereka berjalan seperti dua orang anak kecil yang bergandengan tangan dan sesekali mengayunkan tautan jemari mereka.
Meskipun Sehun membawa mobil, ia lebih memilih berjalan kaki menemani Baekhyun.
"Jadi, untuk apa kau mencariku?" Tanya baekhyun.
Mereka masih berjalan menyusuri trotoar.
"Aku akan pergi ke Roma dan akan memulai kembali pencarian cinta sejatiku di sana. Dan tentu saja aku harus mengunjungimu terlebih dahulu sebelum pergi, kau temanku." Sehun menyahut tersenyum.
Baekhyun tersenyum lebar mendengar penuturan Sehun tersebut, ia merasa senang karena Sehun menganggapnya teman. Karena baru kali ini ia merasa dekat dengan orang lain selain Baekhee, Kris, Minseok dan Jimin.
"Kau akan meninggalkan temanmu ini?" Tanya Baekhyun lirih, ia bermaksud menggoda Sehun, karena ia tau lelaki putih pucat itu akan bereaksi sedikit berlebihan.
Sehun menghentikan langkahnya, ia menatap Baekhyun nanar sambil menggenggam erat jemari gadis itu dengan kedua tanganya.
"Chingu, jangan membuatku memilih antara cinta sejati dan sahabat sejati, keduanya begitu berarti untukku." Ucapnya begitu dramatis.
Dan seketika tawa Baekhyun meledak.
Suara tawa itu terdengar sangat merdu, bahkan membuat Sehun sedikit mengerjap. Gadis itu berkali-kali lipat lebih cantik ketika tertawa.
Tawa itu seolah membawa kebahagiaan bagi siapa saja yang mendengarnya.
"Aku hanya bercanda, pergilah dan temui cinta sejatimu." Ucap Baekhyun sedikit terkekeh.
Mereka sampai di toko bunga yang Baekhyun tuju.
"Bisa menungguku sebentar?" Tanya Baekhyun dan langsung memasuki toko bunga tersebut setelah mendapati anggukan dari Sehun.
.
Setelah Baekhyun membeli seikat bunga dengan rangkaian yang sangat cantik, Sehun mengajak gadis itu untuk makan siang bersama.
Lelaki itu mengajak Baekhyun ke sebuah Restoran yang sangat mewah, membuat gadis itu mengerjap melihat menu makan siang yang Sehun pesan. Dan menurutnya harganya pastilah sangat mahal.
"Sehun, apa ini tidak berlebihan? Harganya sangat mahal kau tau.." Baekhyun berbicara kepada Sehun sambil berbisik dan sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan.
"Tidak, aku sengaja memesannya untukmu Chingu." Sehun menyahut balas berbisik dan ikut mencondongkan tubuhnya.
"Benarkah? Tapi ini terlalu banyak" Kembali Baekhyun berbisik.
"Tak apa." Sehun memberi jeda, "Oh ya, kenapa kita berbisik-bisik seperti ini, B?" Lanjutnya.
Baekhyun mengerjap dan tersadar, lantas mengembalikan posisi duduknya seperti semula. Ia meringis malu.
Dan Sehun tertawa pelan melihat kelakuan polos temannya itu.
.
"Sehun, kau bisa mengantarku sampai depan Cafe itu, aku harus pergi ke suatu tempat terlebih dahulu."
Mereka berdua telah menyelesaikan makan siangnya, dan Sehun berencana mengantarkan Baekhyun pulang.
"Kau yakin? Tidak mau kuantar sekalian?"
Baekhyun terseyum.
"Tidak, aku bisa sendiri."
"Baiklah," Sehun menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah Cafe.
Setelah acara perpisahan yang cukup dramatis menurut Baekhyun, Sehun kembali masuk ke dalam mobilnya dan berlalu dari tempat tersebut.
Baekhyun menghela nafas pelan, rangkaian bunga masih dengan setia ia genggam di tangannya. Ia melirik ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan kepada Baekhee.
Gadis itu berdiri di pinggir jalan, menunggu sebuah taxi melintas di depannya. Baekhyun berencana mengunjungi panti asuhan tadi, namun ia tak bisa menolak ajakan Sehun yang mengajaknya makan siang. Menolak niat baik seseorang akan membuat Tuhan marah menurutnya. Terlebih Sehun adalah temannya.
Dan ini nyaris menjelang sore, namun gadis itu tetap dengan tujuan awalnya yaitu mengunjungi panti asuhan.
Baekhyun masih setia menunggu taxi, ia mengalihkan pandangannya ke tengah jalan.
"Oh?" Gadis itu terperangah melihat seekor anak kucing berada di tengah jalan diantara lalu lalang kendaraan. Ia panik, bagaimana jika anak kucing itu terlindas mobil? Oh Tidak! Gadis itu segera berlari ke tengah jalan tanpa menghiraukan beberapa suara nyaring klakson mobil yang nyaris menabraknya.
Ketika sampai di tengah jalan, ia segera meraih anak kucing tersebut dan mendekapnya erat.
Gadis itu segera melangkah dan berniat kembali ke tempatnya semula, namun disaat yang sama ada sebuah mobil yang melesat cepat di depannya. Baekhyun mematung, pupilnya melebar namun dengan cepat ia menutup matanya seolah pasrah jika mobil itu menghantam tubuhnya, kakinya terlalu kaku untuk sekedar bergerak menjauh.
Suara klakson yang sangat nyaring pun tertangkap oleh indra pendengarannya. Namun, gadis itu tak merasakan apapun.
Jika si pemilik mobil tidak dengan cepat menginjak rem, maka gadis itu sudah tamat. Karena jarak antara lutut Baekhyun dengan bagian depan mobil itu hanya beberapa senti saja saat ini.
Perlahan gadis itu membuka matanya yang sedari tadi terpejam.
Baekhyun bahkan lebih terkejut lagi melihat si pemilik mobil yang saat ini sudah berada di hadapannya dengan raut wajah yang, apa itu? Khawatir?
Park Chanyeol? Pikirnya.
"KAU INGIN MATI?HUH?!" Tanya Chanyeol membentak.
Baekhyun mengerjap, dengan cepat ia pergi dari tempat tersebut, tidak akan bagus jika ia berurusan dengan lelaki itu lagi.
Park Chanyeol memasuki mobil dan menjalankannya kembali lantas menghentikannya di samping trotoar. Lelaki itu keluar dan mengejar langkah Baekhyun.
Ia seperti orang gila saat ini, apakah lelaki itu sadar? Tentu saja tidak, ia sangat terkejut karena nyaris saja menabrak gadis yang cukup mengusiknya akhir-akhir ini.
Chanyeol meraih tangan Baekhyun membawa gadis itu kearah dimana mobilnya terparkir.
Baekhyun terdiam, ia merasa Dejavu saat ini.
Lelaki itu membuka pintu mobil.
"Keluar!" Ucapnya dingin. Ia mengusir seorang wanita yang penampilannya sedikit berantakan. Kancing kemeja yang sudah terlepas di bagian dadanya, rok pendek yang wanita itu kenakan sudah tersingkap keatas.
Baekhyun melongo.
"T-tapi.." Wanita itu sedikit protes.
Chanyeol menarik paksa tangan wanita itu untuk keluar dari mobilnya. Wanita itu memekik kesakitan.
"Hey, tidak usah kasar seperti itu." Baekhyun melepaskan tangan Chanyeol yang mencengkram kuat tangan wanita tadi.
"Kau tak apa?" Tanyanya sambil mengelus pelas tangan si wanita, tangannya yang lain masih setia menggendong anak kucing dan memegang seikat bunga.
Wanita itu hanya menatapnya sinis dan menghempaskan kasar tangan Baekhyun lantas meninggalkan tempat tersebut.
Baekhyun merasa bersalah kepada wanita itu, ia mengalihkan pandangan kearah Chanyeol yang saat ini memandangnya jenuh, seolah apa yang terjadi baru saja adalah drama yang sangat membosankan.
"Kasar sekali!" Gumam Baekhyun dengan mata yang ia picingkan kearah Chanyeol. Ayolah Byun Baekhyun, kau tidak akan membuat Chanyeol takut dengan memicingkan mata seperti itu, kau malah terlihat umm.. menggemaskan.
Tangan Chanyeol masih setia bertengger di pintu mobilnya, lelaki itu memberi isyarat dengan kepalanya agar Baekhyun masuk.
Baekhyun menggeleng.
"Kenapa pelacur ini harus masuk ke dalam mobilmu? Kau menganggapku pelacur bukan? Kau tidak takut mobilmu kotor?" Tanya Baekhyun ketika mengingat lelaki itu menyebutnya pelacur kemarin. Baekhyun tidak dendam, ia hanya masih merasa sedikit kesal.
"Masuk." Perintah Chanyeol dengan penuh penekanan.
Baekhyun menghela nafas pelan, ketika akan memasuki mobil tersebut, Chanyeol menghentikannya.
"Kau akan membawa kucing kotor itu masuk ke dalam mobilku?"
"Dia tidak mempunyai ibu, aku akan memeliharanya."
"Aku tidak peduli, cepat buang itu."
Baekhyun menggeleng dan mengeratkan dekapannya terhadap si anak kucing tersebut.
Park Chanyeol memutar bola matanya. Okay, Untuk pertama kali dalam hidupnya, Tak apa Park Chanyeol. Tidak ada salahnya kan mengalah sekali saja? Meskipun harga dirinya sedikit tidak rela. Akhirnya ia mengizinkan Baekhyun dan anak kucing sialan itu masuk ke dalam mobilnya.
Baekhyun tersenyum lebar.
"Kumohon Park Chanyeol jangan membawaku terlalu jauh kali ini, aku harus pergi ke suatu tempat." Ucap Baekhyun setelah Park Chanyeol duduk di sebelahnya tanpa mengalihkan pandangannya, gadis itu terlalu sibuk mengelus bulu anak kucing.
Sebelah alis Chanyeol terangkat, Siapa dia berani sekali memerintah seorang Park Chanyeol?
"Kau telah menggagalkan acara bercintaku dengan jalang sialan tadi, dan kau harus menggantikannya." Chanyeol berujar dengan seringaiannya yang khas.
Baekhyun mengalihkan pandangannya kearah Chanyeol.
"Tak bisakah kau memanggil seorang wanita dengan sebutan yang normal? Dengar Chanyeol, seharusnya kau menghormati wanita, ibumu wanita juga. Kau tidak seharusnya berlaku kasar seperti tadi, kau menyakitinya."
Baekhyun berbicara panjang lebar dan hanya dibalas dengan Chanyeol yang menguap, seolah apa yang dikatakan gadis itu hanyalah sebuah dongeng tidur.
Gadis itu kembali mengelus lembut bulu si anak kucing.
"Kau mau kemana?" Tanya Chanyeol.
"Hm? Ahh, aku harus pergi ke panti asuhan tempatku tinggal dulu." Jawabnya polos.
Chanyeol tersenyum remeh.
"Jadi kau anak panti asuhan? Tak heran, kau memang terlihat seperti..." Chanyeol memberi jeda, ia menelisik penampilan Baekhyun dari bawah hingga atas, lantas mendecih.
Baekhyun tersenyum, gadis itu tau apa yang Chanyeol pikirkan. Dan ia tidak tersinggung sama sekali.
"Dimana panti asuhannya?" Tanya Chanyeol.
"Memangnya kenapa?"
Chanyeol memutar bola matanya jengah dan itu membuat Baekhyun tertawa pelan.
Lelaki itu mulai menghidupkan mesin mobilnya setelah Baekhyun memberitahukan alamat panti asuhan yang ditujunya. Oh, Park Chanyeol mengantarkan gadis itu dengan sukarela, ada apa dengannya hari ini? Lelaki itu sudah gila sepertinya.
Byun Baekhyun, sebenarnya gadis itu tengah sibuk mengontrol detak jantungnya yang tak beraturan. Ia merasa heran karena tidak takut sama sekali kepada Chanyeol, padahal baru kemarin lelaki itu berlaku kasar terhadapnya. Ia merasa tak jera. Justru ia merasa sangat aman kali ini. Namun, dengan cepat ia menepis pemikiran tersebut. Lelaki ini adalah orang yang mungkin Eonninya sukai saat ini, Tidak! Baekhyun tidak boleh seperti ini.
"Kau tak apa? Kau tau.. kemarin kau pingsan dan.. Bagaimana kondisimu sekarang?" Tanya Baekhyun ragu memecah keheningan di dalam mobil.
Park Chanyeol hanya bungkam dan tak berminat menjawab pertanyaan Baekhyun.
Baekhyun sedikit merengut. Tidak sopan sekali. Pikirnya.
Namun, gadis itu sedikit mengernyit melihat Chanyeol yang sedari tadi menggesekkan hidung dengan jemarinya dan terlihat seperti menahan sesuatu.
.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 30 menit, mereka sampai di sebuah panti asuhan. Chanyeol memarkirkan mobilnya di halaman depan panti.
"Terimakasih, Park Chanyeol. Hati-ha—" Ucapan Baekhyun terpotong ketika Chanyeol menyela dengan cepat
"Jangan terlalu lama, aku benci menunggu."
Apa ini? Apa Park Chanyeol berencana menunggunya?
"Kau tidak ikut masuk?" Tanya Baekhyun.
Chanyeol menelisik panti asuhan tersebut dari dalam mobil, tempat itu tidak layak sama sekali untuk ia masuki.
Melihat hal tersebut membuat Bakehyun mengerti, gadis itu tersenyum.
"Baiklah, aku masuk dulu." Ucapnya.
Setelah Baekhyun menghilang dari pandangannya, Park Chanyeol tidak bisa menahan lagi, lelaki itu bersin-bersin dan hidungnya sudah sangat memerah.
Yeah, Park Chanyeol alergi terhadap kucing.
Sial! Pikirnya.
Park Chanyeol sedikit merenung saat ini, ada apa dengan dirinya hari ini? Mengapa ia melakukan sesuatu yang menjijikan seperti mengantar dan bahkan menunggu seorang gadis bodoh yang berlarian di tengah jalan raya hanya untuk menyelamatkan seekor anak kucing kotor.
Ponselnya bergetar.
"Ada apa?" Tanyanya kepada orang di seberang sana. Dan memberi jeda untuk mendengar jawaban orang tersebut, "Aku sedang diluar, mungkin akan pulang terlambat." Ia terdiam sejenak. "Kau tau Resepsionis yang tadi pergi bersamaku? Pecat dia." Lanjutnya dan kemudian menutup sambungan telepon.
Lelaki itu mengusap wajahnya kasar, dan kemudian turun dari mobilnya. Samar-samar ia mendengar suara gaduh di samping bangunan tua panti asuhan tersebut.
Chanyeol melihat beberapa bocah laki-laki sedang bermain bola, tanpa ia duga bola tersebut menggelinding kearahnya dengan sigap ia menahan bola tersebut dengan kakinya.
"Ahjussi.. tendang bola itu kesini." Seru seorang bocah.
Sebelah alis Chanyeol terangkat. Ia tidak yakin kali ini.
.
"Aku masih merindukan Ibu.." Baekhyun merengut sambil memeluk wanita paruh baya dengan sangat erat. Tidak terasa sudah 2 jam ia mengobrol dan melepas rindu dengan Ibu panti yang sudah ia anggap Ibunya sendiri tersebut.
Wanita itu tersenyum hangat dan mengelus pipi Baekhyun.
"Kau bisa kesini lagi nanti, sayang. Eonnimu pasti mencemaskanmu."
"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Jaga kesehatanmu Bu, aku menyayangimu." Baekhyun berbalik menghadap anak-anak kecil yang berdiri di belakangnya lantas berjongkok merentangkan kedua tangannya yang langsung di sambut oleh anak-anak kecil tersebut, ia memekik kegirangan.
Gadis itu menghentikan langkah kakinya saat hendak keluar, kemudian berbalik.
"Umm, apa Ibu mempunyai obat alergi? Alergi kucing lebih tepatnya" Tanyanya sedikit meringis. Baekhyun baru sadar Park Chanyeol ternyata alergi kucing dan ia terpaksa menitipkan anak kucing tadi di panti asuhan ini. Karena, Park Chanyeol akan sangat terganggu dengan kehadiran anak kucing tersebut.
Baekhyun keluar dan sedikit mengernyit ketika melihat Park Chanyeol tidak berada di mobilnya, Gadis itu berjalan menuju halaman samping panti asuhan.
Satu pemandangan yang cukup membuat Baekhyhun mematung, Park Chanyeol yang entah kemana Jas yang tadi ia pakai dan kini mengenakan kemeja yang sedikit basah oleh keringat yang bagian lengannya ia lipat sampai siku. Lelaki itu tengah asyik bermain bola dengan anak-anak panti, ia terlihat sangat berbeda. Lelaki itu tertawa.
Satu hal yang tak pernah Baekhyun lihat dari wajah tampan yang di penuhi aura dingin tersebut, Park Chanyeol tertawa.
Dan mengapa wajahnya berkali-kali lipat lebih tampan dengan keringat yang membasahi pelipis dan dahinya? Lelaki itu benar-benar tampan nyaris tanpa celah.
Baekhyun semakin mematung, gadis itu bahkan tak sadar saat ini Chanyeol tengah berjalan kearahnya dan sudah berada di hadapannya.
Chanyeol sedikit merendahkan tubuhnya, ia mendekatkan wajahnya tepat di telinga Baekhyun.
"Aku memang tampan." Lelaki itu berbisik dengan suara beratnya, lantas berlalu menuju mobilnya.
Baekhyun mengerjapkan matanya berkali-kali, gadis itu tersadar dan mengikuti langkah Chanyeol.
Setelah duduk di samping Chanyeol, Baekhyun membuka bungkus obat dan memberikannya kepada lelaki tersebut.
Dahi Chanyeol mengkerut.
"Hidungmu sudah sangat merah, jangan menggeseknya terus menerus. Minum ini" Baekhyun meraih tangan Chanyeol dan memberikan obat tersebut, kemudian ia membuka tutup botol air mineral.
"Kenapa diam saja? Cepat minum."
Park Chanyeol menurut, dan meraih botol air yang di berikan oleh Baekhyun.
Darimana gadis ini tau? Pikirnya.
Dan suasana di mobil itu sedikit canggung karena hal tersebut.
"Kau baik?" Tanya Baekhyun.
"Hm."
Gadis itu tersenyum.
Hari sudah semakin sore, Baekhyun merasa sangat lelah hari ini. Gadis itu tertidur selama perjalanan pulang. Park Chanyeol melirik dari sudut matanya, dahinya mengkerut melihat gadis itu tertidur dengan pulasnya. Apakah ia tidak takut sama sekali? Mengapa mudah sekali tertidur di mobil orang lain terlebih mobil seorang lelaki seperti itu? Park Chanyeol bisa saja menerkam gadis tersebut saat ini juga.
Lelaki itu membawa mobilnya memasuki sebuah komplek, ia yakin komplek tersebut tempat tinggal Baekhyun dan ia masih mengingat jelas lingkungan itu. Chanyeol memarkirkan mobilnya di pekarangan komplek.
Satu lagi hal menjijikan menurut Chanyeol yang saat ini ia lakukan yaitu menunggu seorang gadis yang dengan sangat lelapnya tertidur di mobilnya. Dan hal ini tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
Hey, Chanyeol bisa saja kan membangunkan gadis tersebut dan mengusirnya keluar dari mobilnya?
Baekhyun terbangun, gadis itu mengucek pelan sebelah matanya. Tak lama setelahnya ia terkejut karena sadar masih berada di dalam mobil Park Chanyeol, dan betapa bodohnya ia bisa sampai tertidur di sini.
Gadis itu mengalihkan pandangan kearah Chanyeol yang tengah sibuk mengotak-atik ponselnya.
"Kenapa tidak membangunkanku?" Tanya Baekhyun dengan suara yang sedikit serak.
"Kau pikir aku sudi?" Chanyeol balas bertanya tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun. Ia masih sibuk dengan ponselnya.
"Maaf, aku sedikit lelah. Dan terimakasih sudah mengantarku pulang, Park Chanyeol"
Lelaki itu tidak menyahut sedikitpun.
Baekhyun hanya tersenyum. Gadis itu keluar dari mobil tersebut.
Park Chanyeol menghidupkan mesin mobilnya dan meninggalkan area komplek itu. ia bisa melihat dari kaca spion, Baekhyun yang melambai-lambaikan tangannya sambil tersenyum.
Stupid.. Pikirnya.
Satu garis lurus dari bibirnya yang sedari ia tahan kini terpatri di wajahnya yang tampan.
.
.
.
TBC
.
.
AN:
Hello... hehe
Pada tau drama Exo Next Door dong? Karakter Sehun disini hampir sama lah sama di drama itu :D
Kenapa kalian gak suka sama Baekhee Eonni? Kenapa? Waeyo? Dia gak jahat padahal huhu T.T
Yaudalah ya, Review jutheyooo..
