HEARTLESS

Cast:

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

And OCs

.

.

ChanBaek (GS)

Romance, Hurt/Comfort

.

DON'T LIKE DON'T READ!


Happy Reading!


.

Berpuluh-puluh pasang mata mengerjap kagum ketika Bugatti Chiron biru mengilat berhenti tepat di depan sebuah Club kenamaan yang berlokasi di kawasan elit Cheongdam-dong.
Seorang lelaki keluar dari mobil yang bahkan masih menyisakan bau dari gerai resmi tersebut.

Lelaki itu, Park Chanyeol begitu tampan meskipun hanya mengenakan kaos putih dibalut jaket jeans dan celana senada, ia tampak santai dengan rambut yang dibiarkan sedikit menutupi dahi seksinya. Namun, kesepadanan selalu menguar dari sosoknya tersebut membuat tatapan memuja dari setiap kaum hawa tertuju padanya, meskipun ekspresinya tampak datar seperti biasa.
Lelaki itu bahkan tak memberi kesempatan kepada mereka untuk melihat senyuman yang berpotensi membuat setiap wanita setidaknya menahan nafas.

Park Chanyeol melempar kunci mobil kepada petugas keamanan kemudian melangkahkan kakinya memasuki Club tersebut dan suara bising yang khas langsung menyambut indera pendengarannya.

Matanya menelisik ke setiap sudut, ia tengah mencari seseorang. Namun, suara pekikan orang-orang membuatnya matanya sedikit menyipit. Ia mengikuti arah pandang setiap orang dan begitu matanya tertuju kepada seorang gadis yang tergeletak tak sadarkan diri di atas panggung DJ, lelaki itu secara refleks menghampiri gadis itu. Byun Baekhee.

Semua orang yang berada di situ seolah mengerti, mereka memberi jalan kepada Park Chanyeol untuk lewat.

Tanpa berkata apapun, lelaki itu mengangkat tubuh Baekhee dan membawanya keluar dari Club tersebut.

"Buka!" Perintah Chanyeol ketika melihat Kim Jongin keluar dari mobilnya.

Lelaki berkulit tan itu sedikit mengerjap, ia tak mengerti apa yang saat ini terjadi. Namun, begitu melihat Chanyeol menggendong seorang gadis yang tak sadarkan diri dan ekspresi temannya yang tak pernah Jongin lihat sebelumnya, lelaki berkulit tan tersebut membuka pintu mobilnya.
Dengan cepat Chanyeol mendudukkan Baekhee di kursi samping pengemudi, ia sedikit merampas kunci mobil yang masih bertahan di tangan Jongin.

Lelaki itu menginjak pedal gas tanpa kompromi, ia mengemudi dengan kecepatan tinggi. Salah satu tujuannya saat ini ialah Rumah Sakit.

Park Chanyeol bahkan tidak mabuk sama sekali, ia masih dalam kondisi sadar. Namun, kelakuannya saat ini terlihat seperti Park Chanyeol yang hilang akal sehatnya bukan?

Lelaki itu hanya terkejut ketika melihat gadis yang kemarin masih ia lihat dengan tersenyum hangat kali ini tak sadarkan diri dengan darah segar yang keluar dari hidungnya.

Gadis itu selalu membuatnya melakukan hal-hal menjijikan tanpa seizinnya, lelaki itu refleks jika kalian ingin tahu. Dan ketika ia sadar, ia akan menyesali perbuatannya tersebut. Percayalah.

.

.

Park Chanyeol berdiri melipat dada dan menyandarkan tubuhnya ke dinding ketika dokter memeriksa kondisi Baekhee.

"Apakah anda walinya?" Tanya dokter tersebut kepada Chanyeol.

Lelaki itu menaikkan sebelah alisnya, ia memperhatikan penampilan dokter tersebut sambil menggaruk tengkuknya tak gatal.

Dokter itu cantik, muda, dan bertubuh seksi. Karenanya Park Chanyeol tak henti-hentinya memandang bokong padat berisi dan payudara sintal milik sang dokter dengan tatapan nakal.

"Bukan, dia hanya gadis miskin yang tak sengaja tertangkap oleh mataku ketika pingsan tadi." Chanyeol menjawab seadanya.

Sang dokter tersenyum begitu mendengar jawaban Chanyeol.
"Jadi tidak ada walinya.. ada yang perlu saya bicarakan mengenai kondisi pasien." Ia memberi jeda,"Apa dia membawa ponsel?" Lanjutnya bertanya kepada salah seorang perawat.

Perawat tersebut sedikit merogoh saku celana Baekhee dan menemukan ponsel gadis tersebut.

"Tolong carikan kontak orang tuanya, dan hubu—"

"Tsk, dia bahkan tinggal di panti asuhan. Sudah pasti tidak punya orang tua."

Ucapan dokter itu terpotong ketika Chanyeol menyela dengan bergumam. Lelaki itu menghela nafas pelan,
"Katakan saja padaku sebenarnya dia kenapa?" Tanyanya sedikit tidak sabaran. Lelaki itu berdecak, Ia merasa sudah membuang-buang waktunya di sini.

Sepertinya lelaki itu sudah sadar, apa yang dilakukannya tidak penting sama sekali.

"Baiklah, anda bisa ikut ke ruangan saya sebentar?"

Kau akan menyesal mengajakku ke ruanganmu.. Chanyeol membatin.

Lelaki itu mengangguk sambil sedikit mengangkat sudut bibirnya.

.

.


-Heartless-


Byun Baekhyun berlari kecil di koridor Rumah Sakit, gadis itu panik. Perasaan tak enak hati yang menjalarinya sedari tadi terjawab ketika menguhubungi Baekhee namun bukan kakaknya itu yang menjawab, melainkan seorang suster.

"Eonni!" Gadis itu memanggil kakaknya begitu sampai di Unit Gawat Darurat dan menghampiri ranjang dimana Baekhee masih tak sadarkan diri.

"Apa anda walinya?" Seorang dokter lelaki menghampiri Baekhyun.

Gadis itu berbalik.
"Seonsaengnim?" Baekhyun sedikit terkejut melihat dokter yang mehampirinya tersebut, ia adalah dokter yang tempo hari temui di Villa Park Chanyeol.

Dokter itu sedikit melirik ranjang di mana gadis dengan wajah serupa tengah berbaring, kemudian tersenyum hangat.

.

"Apa kakak saya baik-baik saja?" Baekhyun bertanya setelah mendudukkan tubuhnya di kursi ruangan sang Dokter. Ekspresinya terlihat sangat khawatir.

"Byun Baekhee-ssi seharusnya tidak boleh sampai kelelahan. Itu sangat membahayakan kondisinya saat ini. Terlebih kakak anda memiliki riwayat penyakit hepatitis dan sudah pada tahap sirosis saat ini, kelelahan akan berpotensi membuat kesehatannya semakin menurun." Ucap Dokter tersebut sambil meneliti rekam medis.

Baekhyun hanya mematung mendengar penjelasan sang dokter.

Melihat ekspresi sedih yang terpancar dari gadis itu, sang dokter merasa iba.
"Byun Baekhee-ssi akan baik-baik saja, syukurlah dia segera dilarikan ke Rumah Sakit."

"Kalau boleh saya tahu, siapa yang membawa kakak saya kemari?"

"Dokter yang sebelumnya bertugas menangani kakak anda memberitahukan bahwa seorang lelaki yang membawanya kemari." Sahutnya ramah sambil tersenyum.

.

.

Baekhyun duduk di salah satu kursi yang berada di depan ruang UGD, gadis itu terlihat merenung.

Seorang lelaki bernama Park Chanyeol sudah membayar semua biayanya, Agasshi.

Gadis tersebut mengerjap ketika kata-kata itu terngiang.

Jadi Park Chanyeol yang membawa kakaknya ke Rumah Sakit? Dan membayar seluruh biaya perawatannya?

Beragam pertanyaan semacam itu muncul di benaknya.

"Byun.. Baekhee?" Sebuah suara membuyarkan lamunannya.

Baekhyun mengalihkan pandangannya begitu mendengar seseorang memanggil nama kakaknya.
Lelaki berkulit tan menghampirinya dengan ekspresi seolah bertanya.
Gadis itu sedikit bingung, ia tidak mengenal orang tersebut.

"Akh, kau sudah sadar? Syukurlah, Park sialan itu seenaknya saja menyuruhku datang kesini hanya untuk melihat kondisimu, dan aku yakin dia sedang bercinta dengan wanitanya sekarang." gerutu lelaki tersebut panjang lebar.

"Nugu..?" Baekhyun masih dalam mode bingungnya saat ini.

"Kau yakin sudah baik-baik saja? Kau tidak mengenalku sekarang?"

Baekhyun menggeleng.

"Kau bisa bertingkah sok polos seperti ini? Aku Kim Jongin, teman Park Chanyeol. Kita sering bertemu di Club jika kau lupa." Lelaki itu berdecak sebal.

Dan Baekhyun sepertinya sedikit mengerti situasinya saat ini.
"Ahh.. tentu, aku masih pusing jadi sedikit bingung. Joesonghaeyo." Gadis itu membungkukkan badan dan berucap dengan polosnya membuat Jongin mengernyit.

"Whoa, kau jadi seperti ini hanya karena Park Chanyeol memperlakukanmu seperti tadi?" Tanya Jongin tak percaya, setahunya gadis ini adalah gadis yang tidak seramah itu. melihat gadis itu mengernyit, Jongin menyela dengan cepat."Ahh.. benar, kau pingsan. Tentu saja kau tak akan tahu hal gila apa yang temanku lakukan tadi." Lelaki itu berucap dengan nada sinis, menurutnya Park Chanyeol sudah benar-benar tidak waras ketika dengan ekspresi paniknya menggendong gadis yang tak sadarkan diri tadi. Seorang bajingan sepertinya terlihat menjijikan melakukan hal seperti itu.

Baekhyun sedikit memiringkan kepala, ia sama sekali tidak mengerti apa yang orang itu katakan, namun ia tak ambil pusing. Gadis itu tersenyum lebar.
"Kim Jongin-ssi, aku sudah tidak apa-apa. Kau bisa pulang sekarang" Baekhyun merasa tak enak hati membuat seseorang harus repot-repot melihat kondisi kakaknya hanya karena Park Chanyeol yang memerintakannya.

Apa dia mencemaskan Baekhee Eonni? Pikirnya bertanya-tanya.

Belum sempat Jongin menetralkan dirinya dari keterkejutan karena melihat gadis itu tersenyum, ia kembali dibuat terkejut begitu namanya dipanggil dengan embel-embel ssi oleh gadis tersebut.

"Baiklah, aku juga muak berada di Rumah sakit. Kau bisa pulang sendiri bukan?" Tanyanya kepada Baekhyun dan gadis itu mengangguk.

Kim Jongin berbalik dan pergi dari tempat tersebut, lelaki itu sedikit memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung yang kentara. Yeah, gadis tersebut membuatnya seperti itu.

.

.

Baekhyun menghela nafas pelan begitu Jongin menghilang dari pandangannya, pikirannya berkecamuk.

Apa Park Chanyeol bersikap baik saat ini? Kepada Baekhee? Apa lelaki itu menyukai kakaknya?

Gadis itu menggelengkan kepalanya pelan, ia tidak seharusnya memikirkan hal seperti itu sekarang. Baekhee yang paling penting saat ini.

Haruskah Baekhyun melarang Baekhee untuk berhenti dari pekerjaannya? Ia sangat mengkhawatirkan kesehatan kakaknya.

.

.


-Heartless-


"Aahh Park Chanyeooll.."

Suara desahan dari seorang wanita bertelanjang bulat yang saat ini tengah berada di bawah tubuh tegap Park Chanyeol.

Dengan penuh nafsu dan ekspresinya yang tampak selicik rubah lelaki itu terus menghujam wanita tersebut berulang kali dengan kasar dan dengan tempo yang sangat cepat membuat si wanita yang berada dalam kungkungannya itu melenguh kenikmatan.

Wanita itu bahkan tidak menghiraukan permainan kasar yang Park Chanyeol lakukan. Ia terlalu sibuk mengagumi wajah tampan dan tubuh tegap seksi yang saat itu mengilat tersapu keringat.

Park Chanyeol menggeram tertahan sementara mulutnya meracau dengan segala makian ketika klimaks menghampirinya. Lelaki itu menutup matanya sejenak dan mulutnya sedikit terbuka lantas dengan gerakan pelan ia memiringkan kepalanya.

"That was amazing, Darling.." Ucap si wanita dengan mata yang sedikit sayu , ia bangkit dan berniat mencium bibir Park Chanyeol. Namun, usahanya itu gagal karena lelaki itu sudah lebih dulu bangkit dari ranjang tidak menyahut sedikitpun dan berjalan menuju kamar mandi.

Tak lama setelahnya ia keluar.

Park Chanyeol berdiri di depan sebuah cermin tinggi dengan ekspresi yang sangat datar, ia tengah memakai kembali pakaiannya.

"Kau tidak menginap?" Tanya si wanita penuh harap.

"Dan kenapa aku harus?"

"Well, tak ada salahnya bukan menginap di tempat kekasihmu sendiri."

Lelaki itu menaikkan sebelah alisnya, ia memandang si wanita di balik cermin lantas mengangguk membenarkan.

Wanita itu memang kekasihnya dan tentu hanya sebatas itu.

Karena menurut Park Chanyeol, wanita-wanita yang datang dan pergi dalam hidupnya dan mengaku-ngaku sebagai kekasihnya hanyalah sebatas tubuh tanpa jiwa yang sudah seharusnya ia nikmati dan hanya akan ia buang setelah merasa bosan.

Merasa tak ada jawaban dari Park Chanyeol, wanita itu berdecak.
"Kenapa? Kau bahkan meniduri setiap jalang sampai pagi, apakah semenjijikan itu menginap di tempat kekasihmu?"

"Apa kau baru saja memutar bola matamu kepadaku?" Tanya Chanyeol dengan penuh penekanan. Iris beku itu menatap tajam si wanita di balik cermin.

Wanita itu membuat kesalahan.

Park Chanyeol menghampiri si wanita yang saat ini sedikit menunduk karena takut.
"Kau tidak akan memutar bola matamu seperti itu lagi terhadapku, kau mengerti?" Lelaki itu menjambak rambut wanita yang saat ini tengah mengaduh kesakitan.

Jalang satu ini harus tahu, bahwa tak ada seorangpun yang boleh memutar bola matanya terhadap Park Chanyeol. Siapapun itu!

Lelaki itu dilahirkan untuk dijunjung tinggi harga dirinya.

"Kau pikir dengan menjadi kekasihku kau bisa sesukamu menyelidiki semua yang kulakukan?" Park Chanyeol kembali bertanya dengan tatapan nyalang. Lelaki itu tak akan bisa kompromi jika seseorang mengorek kehidupan pribadinya termasuk menyelidiki setiap gerak-geriknya.

"Aku.. aku membuat kesalahan. Maafkan aku.. Aku mencintaimu, aku hanya cemburu kau meniduri jalang-jalang itu."

"Kau bahkan sama seperti mereka!" Park Chanyeol menamparnya keras.
"Dengar, berhenti membuatku kesal. Aku tidak sesabar itu." Lanjutnya menghempas kasar wanita tersebut.

Lelaki itu beranjak dan berlalu membuat si wanita yang masih dalam keadaan telanjang bulat di atas ranjang itu mendengus dengan pipi yang memerah akibat tamparan keras yang ia dapatkan.

Tidak ada yang bisa ia lakukan, mungkin sekarang Park Chanyeol akan membuangnya.

Yeah, lelaki itu akan membuang setiap wanita yang dirasa sudah tak ia minati atau merasa bosan.

Tidak peduli secantik apapun wanita-wanita yang mengantri dan berharap menjadi kekasihnya, Park Chanyeol hanya akan memperlakukan mereka semua selayaknya pelacur.

Tidak ada kehangatan, tidak ada kelembutan, dan tidak ada cinta sama sekali.

Namun, ketahuilah mereka semua tak mempermasalahkan hal itu. Menjadi kekasih dari lelaki tampan dengan reputasi yang tak diragukan lagi di Korea Selatan tersebut seolah suatu kebanggaan.

Wanita-wanita itu akan tunduk di bawah pesona seorang Park Chanyeol. Itu sudah pasti.

.

Pasien menderita sirosis..

Satu kalimat yang terlontar dari mulut dokter itu sedikit membuat Park Chanyeol terganggu, menurutnya akan lebih bagus jika gadis itu menderita bipolar atau berkepribadian ganda, mengingat sikap gadis itu akan selalu berubah-ubah.

Kenapa harus penyakit seperti itu?

Lelaki itu berdiam diri di dalam mobilnya tanpa berniat menghidupkan mesin dan pergi dari lantai Basement tersebut. Pikirannya sedikit berkecamuk mengingat satu lagi hal gila yang ia lakukan yaitu menggendong gadis miskin yang pingsan dan membawanya ke Rumah sakit.

Apa dia peduli?

Park Chanyeol meremas rambutnya frustasi. Bajingan sepertinya tidak boleh seperti ini.

Apa yang sudah gadis itu lakukan terhadapnya? Siapa sebenarnya gadis itu?

Pertanyaan seperti itu memutari otaknya.

Tidak bisa! Park Chanyeol tidak akan terkecoh hanya karena gadis miskin itu bersikap lembut dan sok baik hati jika ia temui di siang hari.

Berani sekali gadis miskin itu mengusik ketenangan seorang Park Chanyeol.

.

.


-Heartless-


"Kau baik?" Baekhyun bertanya kepada Baekhee.

Gadis kembar itu berjalan di koridor Rumah Sakit, dokter mengizinkan Baekhee pulang pagi ini karena gadis itu hanya kelelahan saja semalam.

"Aku baik-baik saja,"Baekhee tersenyum dan menggandeng adiknya tersebut.

Beberapa pasang mata memperhatikan interaksi keduanya, saudara kembar yang sangat sulit dibedakan. Mereka begitu mirip.

"Aku akan memanggilkan Taxi, kau tunggu disini." Baekhyun berucap dan mendapati anggukan dari kakaknya.

.

Baekhyun kembali, gadis itu sedikit menyipitkan mata melihat seorang lelaki yang sempat berinteraksi dengan kakaknya dan berlalu begitu saja.

"Itu tadi siapa?" Tanyanya setelah menghampiri sang kakak.

Mereka berdua memasuki Taxi.

"Dia teman kerjaku, Minho. Dia datang untuk menjenguk,"

"Ahh begitu, kelihatannya dia baik."

"Begitulah.. Apa kau tahu apa yang dia katakan tadi?"

"Hm?"

"Park Chanyeol menggendong dan membawaku ke Rumah sakit semalam, apa kau percaya? Ya Tuhan! Ini tidak mungkin.." Baekhee berujar sedikit dramatis, Gadis itu menggigit bibir bawahnya menahan senyum.

"Benarkah? Kau senang?" Tanya Baekhyun menggoda.

"Apa aku terlihat senang? Akh.. pelacur-pelacurnya pasti akan mencakarku habis-habisan jika mereka tahu hal itu." Baekhee tertawa pelan.
"Apa aku harus berterimakasih? Tidak! Tidak! Park Chanyeol akan besar kepala." Baekhee menggeleng.

"Kenapa? Dia sudah menolongmu, tidak baik jika kau menutup hati atas kebaikan seseorang. Berterima kasihlah.." Baekhyun tersenyum lembut kepada kakaknya.

"Haruskah?"

Baekhyun mengangguk meyakinkan, melihat ekspresi senang yang terpancar dari wajah sang kakak, gadis itu yakin bahwa Baekhee benar-benar menyukai Park Chanyeol.

"Kau menyukainya bukan?" Baekhyun bertanya.

"I'm not really sure about my feelings." Baekhee menutup wajah dengan kedua tangannya.

Baekhyun hanya tersenyum melihat perilaku kakaknya tersebut.

.

.

"Apa Baekhee baik-baik saja?" Minseok bertanya kepada Baekhyun yang saat ini tengah membantunya membuat Kimchi.

Gadis itu mengangguk.
"Dokter bilang, Eonni hanya harus istirahat total." Ia tersenyum.

"Syukurlah, aku sangat mengkhawatirkannya."

"Eonni.."

"Hm?"

"Baekhee Eonni saat ini sedang jatuh cinta." Baekhyun berucap ragu.

"Benarkah?" Minseok tertawa pelan.
"Lelaki mana yang membuat Baekhee jatuh cinta? Aku harus memberinya penghargaan." Lanjutnya masih tertawa.

"Umm.. Park Chanyeol," Baekhyun menjawab.

Minseok mengerjap mendengar nama tersebut.
"Park Chanyeol?"

Gadis itu mengangguk dengan ekspresi yang sulit Minseok artikan.

"Kau pernah bertemu dengannya bukan? Park Chanyeol?" Tanya Minseok.

Baekhyun kembali mengangguk, gadis itu tersenyum lebar.

"Apa Eonni pernah bertemu dengannya?"

"Aku bahkan mengenalnya, dia satu sekolah denganku dulu."

"Benarkah?" Mata Baekhyun sedikit membulat.

"Kau tahu, perangainya memang sudah seperti itu dari dulu. Ahh.. mungkin sejak lahir." Minseok terkekeh.
"Dia angkuh, berkuasa tentu saja, berlaku sesuka hatinya, dan meniduri setiap gadis yang menurutnya menarik."

"Setiap gadis?" Baekhyun melongo.

Minseok mengangguk.
"Namun, bukan gadis yang sembarangan. Gadis itu setidaknya harus sederajat dengannya, Park Chanyeol sangatlah pemilih." Minseok memberi jeda,"Banyak gadis yang memujanya, berharap menjadi kekasihnya namun jika gadis itu tak pantas menurutnya, dia akan menolaknya mentah-mentah atau setidaknya dia bully."

"Apa dia pernah bersikap baik sebelumnya?" Tanyanya.

Minseok tertawa.
"He's actually just an asshole!" tawanya sedikit mereda, "Berakhirlah peradaban manusia jika seorang Park Chanyeol bersikap baik." Lanjutnya.

"Kurasa tidak begitu, dia pernah bersikap baik..." Baekhyun sedikit ragu,"Padaku." Ia menunjuk dirinya sendiri.

"Apa ini? Kau bertemu dengannya lagi selain di pesta itu?" Minseok terperangah.

Baekhyun tampak berpikir.
"Setelah pesta itu, aku bertemu dengannya lagi sebanyak tiga kali." Sahutnya polos.

"MWO?!" Minseok memekik dengan suara yang berpotensi membuat pendengaran siapapun bermasalah.

Baekhyun menutup kedua telinganya.
"Eonni.."

"Ahh sorry.. aku terkejut." Minseok terkikik. "Ceritakan padaku bagaimana pertemuan kalian? Kau tidak apa-apa kan? Apa dia menyentuhmu?" Tanyanya menuntut.

Baekhyun menggeleng.
"Umm.. pertemuan kedua di taman komplek," Gadis itu tersenyum lebar,"Ketiga kalinya tidak sengaja bertemu di jalan," Baekhyun sedikit ragu menceritakan tentang kejadian itu, dimana Park Chanyeol membawanya ke Villa besar dan menamparnya keras. Gadis itu menggeleng pelan, lelaki itu mungkin sedang emosi saat itu. Ia sebenarnya baik menurutnya,"Keempat kalinya bertemu lagi di jalan, dia mengantarkanku ke panti asuhan. Dia bahkan menunggu dan mengantarku pulang." Gadis itu masih tersenyum, ekspresinya penuh arti.

Minseok mengerjap, mulutnya sedikit terbuka. Wanita itu seolah tak percaya dengan penuturan Baekhyun. Tidak mungkin seorang Park Chanyeol berlaku seperti itu.
"Kau.. bersungguh-sungguh?"

"Aku berkata sejujurnya, Eonni. Park Chanyeol tidak seburuk kelihatannya bukan? Dia sebenarnya baik.." Gadis itu masih saja tersenyum. "Ahh.. Bahkan kemarin malam dia yang membawa Eonniku ke Rumah Sakit dan membayar semua biaya perawatannya, dia sangat peduli terhadap Eonniku."

"Dia.. dia melakukan itu semua? Tapi.. kenapa?"

"Aku tidak yakin. Hmm, Apa dia menyukai Baekhee Eonni?"

"Apa maksudmu?"

"Yang dia tahu hanya Baekhee Eonni, dia hanya tahu satu nama. Dan mungkin tidak tahu jika kami kembar, dia menganggapku Baekhee Eonni." Baekhyun sedikit meringis. "Kata Eonniku, mereka sering bertemu di Club. Dan mungkin karena dia menyukai Baekhee Eonni dan tentu itu yang membuatnya bersikap baik.. padaku, karena menurutnya kami adalah gadis yang sama, mungkin. "

Minseok bingung saat ini.
"Kenapa kau tidak bilang bahwa kau bukan Baekhee?"

"Aku tidak tahu, terjadi seperti itu saja. Aku pikir Park Chanyeol sangat berbahaya waktu itu, aku pikir.. aku harus melindungi Baekhee Eonni." Ia memberi jeda,"Namun ternyata Eonniku menyukai lelaki itu." Lanjutnya sedikit lirih.

"Jadi, dia tidak tahu sama sekali tentang Byun Baekhyun? Dan dia hanya tahu satu nama, Byun Baekhee?"

Baekhyun mengangguk polos.

Kurasa, Park Chanyeol sudah dibuat pusing oleh kalian berdua. Batin Minseok. Mengingat perangai keduanya sangatlah berbanding terbalik meskipun wajah mereka tidak ada bedanya.

Park Chanyeol bersikap baik? Jadi, siapa yang membuatnya menjadi seperti itu? Kembali Minseok membatin.

.

.


-Heartless-


Byun Baekhee memantapkan hatinya untuk sekedar berterimakasih kepada Park Chanyeol.

Gadis itu terlihat sudah lebih baik setelah dua hari beristirahat di rumah, kini ia akan kembali memulai aktifitasnya sebagai DJ. Byun Baekhyun sempat melarangnya, namun Baekhee berjanji tidak akan melakukan sesuatu yang mengancam kesehatannya.

Ia berjanji pada dirinya sendiri akan berhenti merokok dan menjauhi minuman beralkohol. Itu sudah pasti, karena ia tak mau membuat adiknya terus-menerus mencemaskannya. Gadis itu hanya akan melakukan tugasnya sebagai DJ saja dan akan pulang tepat waktu, ia berjanji.

Baekhee memasuki Club, beberapa pasang mata meliriknya dengan tatapan sinis. Gadis itu paham mengapa mereka semua berlaku seperti itu. Yeah, karena satu nama, Park Chanyeol.

Lelaki itu membuatnya seolah di perlakukan berbeda, membuat tatapan iri dan mengintimidasi dari beberapa wanita di Club tersebut terus menghujamnya.

Namun, gadis itu hanya cuek. Menurutnya itu tidak penting sama sekali.

"Baekhee, kau sudah sehat?" Tanya salah satu bartender.

Baekhee tersenyum.
"Oppa, Dimana Minho?"

"Dia tidak masuk hari ini, aku tidak tahu kenapa."

Gadis itu mengangguk-angguk paham.

"Kau, Byun Baekhee?" Seorang wanita cantik bertubuh seksi bak supermodel menghampiri Baekhyun, matanya memicing tajam.

"Ya," Sahut Baekhee seadanya.

Wanita itu mendecih. Ia melayangkan sebuah tamparan kepada Baekhee dan membuat gadis itu sedikit terhuyung.

Baekhee menatap nyalang, ia membalas menampar wanita itu lebih keras.
"Ahh, biar kutebak.. kau salah satu pelacur Park Chanyeol bukan?"

"Jaga mulutmu, sialan. Aku kekasihnya! Kuperingatkan kau, jauhi kekasihku!" Balas wanita itu tak terima dengan perkataan Baekhee.

Suasana di Club tersebut sedikit memanas. Desas-desus tentang Park Chanyeol yang menolong Baekhee dan menggendongnya memang sudah menyebar luas.

Baekhee mendecih seolah meremehkan.
"Tidak mempunyai harga diri sama sekali."

Kembali wanita itu menampar Baekhee.
"Beraninya kau!" Ia berniat menyiram Baekhee dengan minuman, namun sebuah suara berat menginterupsi.

"Apa yang kau lakukan?" Itu Park Chanyeol.

Sejujurnya lelaki itu sedari tadi menyaksikan pertengkaran mereka, ia malah menikmati itu.

"Chagiya.." Wanita itu menghambur memeluk Chanyeol.

Baekhee memutar bola matanya jengah, pipinya sudah memerah akibat dua tamparan tadi. Ia menatap Chanyeol marah. Niatnya untuk berterimakasih sedikit terkecoh.

Gadis itu berulah lagi.. Pikir Chanyeol begitu melihat iris tajam itu kembali terpancar di kedua bola mata Baekhee.

Park Chanyeol sedikit terbiasa dengan sikap gadis itu yang berubah-ubah, ia sendiri tak tahu mengapa.

Lelaki itu melepas kasar tangan wanita yang memeluknya erat dan menghampiri Baekhee. Matanya menelisik wajah gadis itu, ekspresinya sedikit berbeda.

Park Chanyeol meraih tangan Baekhee dan membawanya ke lantai Basement.

"Bukankah ada yang ingin kau katakan?" Tanya Chanyeol sambil mengangkat sudut bibirnya.

"Apa?"

Chanyeol mendecih.
"Aku tahu tadi kau mencariku."

Baekhee menelan salivanya gugup. Bola matanya berputar tak tentu arah.
"Umm.. T-terimakasih sudah menolongku."

Lelaki itu tertawa. Caranya berterimakasih kali ini sangat berbeda dengan sebelumnya, ia seolah terpaksa. Ada apa dengan gadis ini? Kemana ucapan terimakasih tulusnya beberapa hari yang lalu?

Mata Baekhee menyipit, ia tahu lelaki itu pasti mengejeknya.

"Kau berterima kasih bukan?"

Gadis itu tak bergeming.

"Jika kau berterimakasih, ikutlah denganku."

"Kemana? Ahh.. kau akan membawaku ke hotel dan menyutubuhiku disana, benar begitu?" Tanyanya sinis.

Sebelah alis Chanyeol terangkat. Ia menelisik gadis itu dari bawah keatas.
"Kau tahu, itu bahkan tidak menarik sama sekali." Park Chanyeol menunjuk dada Baekhee.

Dengan cepat gadis itu menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.
"Lihat apa kau?" Tanyanya garang.

"Awalnya aku memang berniat menelanjangimu dan menyutubuhimu tanpa ampun, tapi aku sudah tidak berminat."

Bukan tidak berminat, lelaki itu hanya sedikit menahan hasratnya jika kalian ingin tahu.

"Park Chanyeol.. Kau.." Gadis itu memicingkan matanya, ia mudah sekali tersulut emosinya.

Park Chanyeol memandangnya jengah, ia membuka pintu mobil dan menyuruh Baekhee masuk.

"Tidak bisa, aku harus bekerja sekarang."

"Aku tidak peduli, kau harus tahu tidak ada yang bisa menolak keinginannku."

"Tapi—"

"Ahh.. apa kau ingin tempat kerjamu hancur tak tersisa malam ini juga? Aku bisa saja menelepon pengawalku sekarang—" Park Chanyeol memberi jeda, ia mengeluarkan ponselnya.

Baekhee menahan tangan Chanyeol. Gadis itu menghela nafas pelan. Dengan terpaksa ia memasuki mobil tersebut.

Lelaki itu menyeringai penuh kemenangan.

Byun Baekhee menghidupkan ponselnya, ia menekan beberapa nomor dan menghubunginya.

"Ohh Dongsaeng.. aku akan pulang terlambat," Ucapnya kepada sesorang di seberang sana,"Tidak, tidak, aku tidak apa-apa."Ia memberi jeda,"Nanti kuceritakan di rumah, tak usah menungguku. Tidurlah." Gadis itu memutus sambungan telepon, ia melirik ke samping. Park Chanyeol masih fokus menyetir.

"Kau mempunyai adik?"

"Hm"

Chanyeol mengernyit. Kenapa gadis itu ketus sekali? Jika itu orang lain, maka sudah tamatlah riwayatnya. Berani sekali dia.

"Sebenarnya kita mau kemana?"

"Aku lapar, temani aku makan." Sahut Chanyeol enteng.

"Mwo?!"

.

.


-Heartless-


"Apa Noonamu baik-baik saja?" Tanya Jongdae.

"Ayolah Hyung, apa sesulit itu menyakannya sendiri kepada Noona?" Sahut Jimin.

"Eiyy, kau tahu aku payah dalam hal seperti itu. Aku bukan Park Chanyeol."

Mendengar nama itu, Jimin teringat percakapan Noonanya dengan Baekhyun tadi siang, sejujurnya ia mendengar semua yang Baekhyun katakan.

"Hyung, Apa Park Chanyeol pernah jatuh cinta?"

Jongdae tersedak minumannya.

"Dia bahkan selalu menyumpah serapah jika mendengar kata tersebut, jadi mana mungkin dia pernah jatuh cinta."

"Eiyy, manusia setidaknya pernah mengalami jatuh cinta dalam hidupnya termasuk Park Chanyeol."

"Aku tidak yakin, karena yang kutahu dia hanya menyukai paha mulus dan payudara besar." Jongdae terkekeh.

"Kau yakin?"

"Tentu saja.."

"Hyung, apa mungkin seorang gadis polos dengan senyuman hangat namun jauh dari kata seksi dan menarik bisa membuat Tuan mudamu itu jatuh cinta?"

Lagi-lagi Jongdae tersedak, namun lelaki itu kini tertawa pelan.
"Tidak mungkin"

"Bagaimana dengan gadis yang sedikit liar? Apa bisa membuat Tuan mudamu jatuh cinta?"

Kembali Jongdae tertawa.
"Yang pertama itu lebih masuk akal menurutku, karena Park Chanyeol sudah sering menjumpai gadis liar semacam itu. Jika itu gadis polos dan memiliki senyuman apapun itu yang kau sebut, umm.. kurasa mungkin saja."

Jimin tampak berpikir, sejujurnya ia tak percaya ketika mendengar Park Chanyeol bersikap sedikit baik terhadap Baekhyun. Bukankah itu terdengar gila? Park Chanyeol bersikap baik? Manusia tidak akan semudah itu berubah bukan?

Dan ketika mendengar penuturan Jongdae, Jimin sedikit mengerti. Ia tahu siapa yang sudah membuat Park Chanyeol segila itu.

Namun, seperti yang kalian tahu. Situasinya sedikit rumit bukan?

.

.


-Heartless-


.

Menurut Chanyeol, ini adalah kali kedua gadis itu tertidur di mobilnya. Dan ini juga kali kedua ia harus repot-repot menunggu gadis itu terbangun. Namun, ada yang aneh dengan wajah tidur gadis tersebut kali ini.

Lelaki itu menghidupkan ponselnya, ia membuka Gallery dan menelisik foto dimana seorang gadis dengan wajah serupa sedang tertidur pulas.

Ia membandingkan wajah tidur gadis yang beberapa hari lalu tertidur di mobilnya dari foto tersebut dengan wajah tidur gadis saat ini.

Park Chanyeol memiringkan kepalanya heran, gadis yang berada di foto terlihat sangat berbeda. Meskipun dalam keadaan tertidur wajahnya terlihat sangat lembut, tenang dan sedikit menggemaskan.

Lain lagi dengan wajah tidur gadis yang berada di sampingnya saat ini, ia terlihat tidak tenang, keningnya sedikit mengkerut dan jauh dari kata menggemaskan.

Lelaki itu bingung, mengapa seolah wajah tidur itu berasal dari gadis yang berbeda?

Park Chanyeol sedikit mendekatkan wajahnya dan Ia ingin memastikan sesuatu, ketika wajahnya sudah berjarak sangat dekat dengan wajah Baekhee, Gadis itu membuka matanya namun belum sepenuhnya terjaga, ia mengerjapkan mata berkali-kali begitu melihat iris beku seorang Park Chanyeol hanya berjarak beberapa senti saja dari irisnya.

Baekhee mematung, lelaki itu menatapnya sangat dalam bahkan tubuh mereka saling bersentuhan. Jantungnya berpacu dengan cepat ketika Park Chanyeol mempersempit jarak mereka, lelaki itu memiringkan kepalanya dan otomatis membuat Baekhee memejamkan mata.

Sebuah benda hangat dan lembut menempel di bibir tipis Baekhee, lelaki itu menciumnya dengan sedikit melumatnya.

Baekhee tak bergeming lantas membuka matanya, dan alangkah terkejutnya ia lelaki itu masih menatapnya dalam di sela-sela ciumannya tersebut.

Park Chanyeol melepas tautannya, lelaki itu tidak berkata-kata sedikitpun.

Sebelumnya bukan seperti ini.. Batinnya.

.

.

.

TBC

.

.

AN:
Yang pinter nebak pasti ngerti, Hehehehee... *Innocent Face*