HEARTLESS
Cast:
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
And OCs
.
.
ChanBaek (GS)
Romance, Hurt/Comfort
.
DON'T LIKE DON'T READ!
Happy Reading!
.
Park Chanyeol sedikit melonggarkan dasi begitu langkah kakinya terseret menuju mobilnya. Ekspresinya tampak menyeramkan.
Ia tak lantas menghidupkan mesin mobil dan memilih untuk berdiam diri sejenak.
Lelaki itu tampak kacau, ia membuat suasana di perusahaan sedikit mencekam akibat beberapa amukannya yang sedikit banyak tidak terlalu beralasan.
Ini memang sudah biasa terjadi jika suasana hatinya sedang tidak dalam kondisi yang bagus.
Jika sudah seperti itu, ia akan mendatangi Apartment wanita yang mungkin akan menyambutnya dengan keadaan telanjang bulat begitu mengetahui wajah tampan seorang Park Chanyeol terpampang jelas di layar interkom.
Namun, lelaki itu sedang tidak dalam mood ingin menyetubuhi jalang manapun.
Wow!
Bukankah ini suatu keajaiban?
Otak Park Chanyeol yang setiap harinya berisi tubuh molek dan beberapa pemikiran mesum kurang ajarnya kini seolah tersapu bersih oleh satu gadis yang berhasil membuat lelaki itu setidaknya memecat beberapa staf perusahaan dan menghajar beberapa pengawal pribadinya hingga babak belur untuk melampiaskan kekesalannya.
Yeah, gadis itu membuatnya kesal.
Gadis miskin itu membuatnya kinerja otaknya tak bekerja dengan baik, gadis itu selalu membuatnya bingung dengan segala perubahan drastisnya.
Flashback..
Park Chanyeol menghela nafas pelan begitu mobilnya terparkir dengan elit di pekarangan komplek. Ia sedikit lelah karena acara bermain bola dadakannya bersama anak-anak panti asuhan.
Itu menyenangkan.
Ia tidak pernah merasa seperti itu sebelumnya, ia bahkan tak melupakan fakta bahwa hari ini dirinya sudah banyak tertawa.
Lelaki itu menolehkan kepalanya pada seorang gadis yang masih tertidur lelap di sampingnya. Ia menatapnya lekat kala mengingat bahwa gadis itu yang membuatnya terlihat seperti manusia normal hari ini.
Chanyeol terkesiap begitu tubuh Baekhyun sedikit berpindah posisi, bahunya secara refleks menahan kepala si gadis yang nyaris terjatuh.
Lelaki itu mendecih.
"Masih untung aku tidak membuangmu di tengah jalan dan sekarang kau malah tertidur di bahuku? Orang miskin memang tidak tahu diri." Gumamnya sinis.
Batinnya mengumpat kesal mengingat lagi-lagi gadis ini membuatnya melakukan hal-hal tak terduga seperti itu.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Park Chanyeol, ia membiarkan seorang gadis bersandar di bahunya. Bahkan tertidur.
Gadis ini yang pertama. Yeah, Byun Baekhyun.
No one else..
Just her..
Lelaki itu menelisik wajah Baekhyun yang posisi kepalanya sedikit menengadah dan secara otomatis berhadapan langsung dengan wajah Chanyeol. Lelaki itu menyampirkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah Baekhyun.
Park Chanyeol sedikit mengerjap melihat wajah tertidur itu. Nurani seolah tak megizinkannya membangunkan tidur lelap yang terlihat polos dan menenangkan tersebut.
Yeppeo.. Batinnya.
Lelaki itu menusukkan pelan jari telunjuknya tepat di bagian tengah pipi Baekhyun yang menurutnya.. umm, menggemaskan.
What the hell did you just do, Park Chanyeol?
Ia mengambil ponselnya dan mengaktifkan mode Camera, lelaki itu memotret dirinya dan gadis yang tertidur di bahunya.
Apakah Park Chanyeol baik-baik saja? Bukankah ia terdengar seperti orang gila?!
Lelaki itu kembali menelisik wajah Baekhyun setelah menaruh ponselnya di Dashboard. Ia mematung begitu irisnya tertuju pada bibir tipis berwarna merah lembut. Ia terus menatapnya lekat.
Cukup! kau sudah keterlaluan. Batinnya tak terima.
Tanpa ragu, lelaki itu mendekatkan wajahnya. Dengan gerakan pelan bibirnya meraup bibir tipis itu hati-hati.
Manis.. Pikirnya.
Demi Tuhan Park Chanyeol tak bisa berhenti, Ekstasi yang selalu ia konsumsi seolah menjadi berada di urutan kedua dalam hal yang membuatnya candu.
Namun, ia tak mengabaikan fakta bahwa Baekhyun bisa saja terbangun, karenanya ia mengulum bibir itu dengan lembut dan pelan.
Satu hal lagi yang tak pernah ia lakukan terhadap wanita manapun, ia akan mencium setiap jalang dengan kasar tanpa perasaan.
Ingatkan Park Chanyeol untuk berhenti sekarang juga!
Ini sudah berlangsung satu menit dan lelaki itu belum berniat menyudahi acara mengulum lembut bibir manis tersebut. Ia bahkan menutup matanya ketika menyesap setiap bagian dari bibir Baekhyun.
Kau menikmatinya, Park Chanyeol?
Lelaki itu membuka mata, ia menaikkan sebelah alis ketika menyadari bahwa gadis itu masih tertidur dengan lelap di bahunya.
Chanyeol melepas tautannya dengan tidak rela, ia mengecup pelan bibir Baekhyun yang sudah basah dan mengilat akibat kelakuannya yang seperti.. Pencuri?
Setelah beberapa menit lelaki itu tak mengalihkan pandangannya sama sekali, ia terus menatap gadis di sebelahnya.
Melihat ada tanda-tanda akan bangun dari Baekhyun, lelaki itu dengan hati-hati memindahkan kepala si gadis seperti semula.
Ia mengalihkan pandangannya dan mengotak-atik ponselnya seolah menyibukkan diri.
Akan tetapi batinnya terus bertanya-tanya mengapa ia bisa sesabar itu menunggu seorang gadis tertidur di mobilnya? Terlebih gadis itu bukan siapa-siapa, namun mengapa ia berhasil membuat Chanyeol melakukan hal-hal seperti itu?
Ekspresi yang sedari tadi layaknya es yang mencair di terpa sinar hangat mentari kini kembali membeku begitu gadis itu membuka matanya.
Flashback off..
.
Chanyeol sedikit mematung kala mengingat kejadian tersebut, ia terheran-heran mengapa jantungnya berdetak tak beraturan sekarang.
Kemudian ia mengingat kejadian dua hari yang lalu ketika kembali ia mencium gadis itu. Matanya menyipit.
Itu sama sekali berbeda.
Chanyeol selalu merasa ada yang salah dari gadis itu, dan Ia merasa dipermainkan.
Haruskah ia mencari informasi tentang gadis tersebut? Tidak. Ini gila!
Penasaran terhadap seorang wanita dan mencari informasi tentangnya tidak ada dalam kamus seorang Park Chanyeol.
Lelaki itu mengerang kesal, ia memukul setir kemudi dengan keras.
Gadis itu berbahaya. Ia ancaman terbesar seorang Park Chanyeol saat ini.
.
.
-Heartless-
"Whoa, masakanmu sungguh enak Eonni." Seru Baekhee kepada Minseok, saat ini mereka— Baekhee, Baekhyun, Minseok dan Jimin tengah duduk bersama di meja makan. Minseok sengaja mengundang si kembar untuk makan malam bersama di rumahnya.
Minseok tersenyum.
"Terimakasih Eonni, masakanmu yang terbaik." Baekhyun berucap.
"Makan yang banyak.." Sahut Minseok ramah.
"Tentu saja, aku akan menghabiskan ini semua." Kembali Baekhee berseru penuh semangat.
"Whoa, sepertinya Baekhee sedang berbahagia. Apa kau mempunyai kekasih?" Goda Minseok.
Baekhyun yang tengah menyuapkan makanannya sedikit menegang mendengar pertanyaan yang dilontarkan Minseok kepada Baekhee.
"I am not." Sahut Baekhee.
"Lantas, apa yang membuatmu terlihat sebahagia itu?" kembali Minseok bertanya.
Baekhee tampak berpikir.
"Eonni, Apa kau pernah dicium oleh orang yang kau suka?" Tanya Baekhee blak-blakkan. Kalian ingat? Dia adalah gadis yang seperti itu.
Baekhyun dan Minseok tersedak.
Sementara Jimin, ia tengah memperhatikan ekspresi Baekhyun yang sedikit membuatnya menebak-nebak sesuatu.
"K-kau.. dicium oleh siapa?" Tanya Minseok kaku.
"Park Chanyeol, isn't he?" Itu Baekhyun, gadis itu tersenyum menggoda Baekhee yang saat ini merona.
Ketahuilah, Baekhyun tengah menutupi perasaan terkejutnya? Mengapa hatinya merasa sedikit tercubit saat ini? Namun ia bisa dengan baik menutupi itu semua, senyumannya memang terlihat begitu meyakinkan.
Miseok dan Jimin pun tampak terkejut.
"Aku belum memberitahumu, darimana kau tahu?" Tanya Baekhee kepada adiknya.
"Byun Baekhee-ssi, aku tinggal satu rumah denganmu. Dua hari belakangan ini kau tidak henti-hentinya tersenyum dan merona, kau pikir aku tahu darimana kalau bukan dari pertanyaanmu tadi kepada Minseok Eonni?" Baekhyun terkekeh, namun terdengar hambar.
Ternyata gadis itu sangat peka.
"Bukan itu, maksudku tahu darimana bahwa Park Chanyeol yang—
"Menciummu? Eonni menyukai lelaki itu, aku tahu." Baekhyun menyela. Jantungnya berdetak tak normal, dadanya sedikit sesak. Ada apa denganmu Byun Baekhyun? Pikirnya.
"Dia tidak melakukan sesuatu yang lebih terhadapmu bukan?" Tanya Minseok yang masih dalam keadaan terkejut, sejujurnya ia mencemaskan Baekhee. Ia takut Park Chanyeol menyentuh Baekhee mengingat betapa brengseknya lelaki itu.
"Of course not!" Sahut Baekhee spontan kemudian tersenyum.
"Eonni, Why did he kiss me?" ia memberi jeda, "Gosh! Does he like me?" Tanyanya dramatis.
"Bagaimana jika ada orang lain yang menyukai Park Chanyeol?" Jimin menyela, "Dan Bagaimana jika lelaki itu malah menyukai orang tersebut dan bukan kau, Noona?" Lanjutnya tanpa mengalihkan padangannya dari sendok yang di pegangnya.
"Oh? Siapa?" Tanya Baekhee, dahinya sedikit mengkerut.
Jimin mengalihkan pandangannya kepada Baekhyun yang sedari tadi menatapnya dengan ekspresi terkejut, matanya membulat, gadis itu menggigit bibir bawahnya. Dan Jimin tahu apa artinya itu.
Pemuda itu menghela nafasnya pelan.
"Aku tidak tahu, aku hanya bertanya bagaimana jika ada?"
"Umm.. Hatiku yang sudah rusak ini akan bertambah parah jika itu benar." Sahut Baekhee sambil terkikik geli.
Ia bermaksud bergurau, namun hal itu membuat Baekhyun menatap kakaknya nanar, kata-kata yang terlontar dari mulut Baekhee begitu menusuk perasaannya, ia tidak akan membiarkan hati kakaknya merasakan sakit lagi. Ia tidak akan membiarkan hati itu semakin membengkak.
Yeah, she would do anything for her beloved sister..
Baekhyun sedikit menundukan kepalanya dan hal itu tak luput dari perhatian Jimin. Mulai sekarang kau akan berusaha lebih keras untuk menutupi semuanya, Noona. Pikirnya.
.
.
Setelah acara makan malamnya selesai, Baekhyun mengajak Jimin untuk sekedar berbincang di taman komplek.
"Kenapa tadi kau bertanya seperti itu kepada Baekhee Eonni?" Tanya Baekhyun memulai perbincangan dan menyesap kopi yang Jimin belikan.
"Aku hanya penasaran. Noona tahu? Aku tidak sengaja mendengar percakapanmun dengan Noonaku tempo hari. Apa semua itu benar?"
Baekhyun mematung, ia tak tahu harus menjawab apa. Ini terlalu rumit.
"Aku tahu ini tidak benar, tapi maukah kau merahasiakan ini? Aku tidak mau Baekhee Eonni tahu bahwa aku mengenal Park Chanyeol?"
"Kenapa seperti itu?" Jimin mengernyit.
"Baekhee Eonni menyukai lelaki itu, aku tidak tahu.. Jimin-a ini semua terlalu rumit. Aku hanya ingin membuat Eonniku bahagia, dia sudah cukup menderita karena penyakitnya selama ini. Aku tak pernah melihatnya sesenang itu seperti tadi."
"Dan kau hanya akan menjadi bayang-bayang Baekhee Noona saja? Kau akan bersembunyi di balik namanya, apa itu yang Noona maksud? Bukankah Noona menyukai Park Chanyeol?"
"Aku tidak menyukainya. Aku hanya pernah bertemu dengan lelaki itu beberapa kali. Tidak mungkin aku menyukainya."
"Aku bukan anak kecil, aku tahu seperti apa perasaanmu, dan aku tahu Park Chanyeol memendam perasaan terhadapmu—"
"Tidak, kurasa dia hanya bingung. Dan aku tidak mau membuatnya bertambah bingung jika aku terus-menerus muncul di hadapannya, sepertinya aku harus menjauh."
"Dan kenapa kau harus melakukan itu? Kau mencemaskan Park Chanyeol?"
Tidak, aku mencemaskan keduanya. Park Chanyeol dan Eonniku. Batin Baekhyun.
Gadis itu tersenyum lembut.
"Jimin-a.. kuharap kau mengerti. Aku sudah membohongi lelaki itu, aku tahu aku egois dan hanya memikirkan perasaan Eonniku saja, karenanya aku merasa bersalah sekarang. Aku sudah berdosa, aku akan menjauh dari lelaki itu dan memberi ruang untuk mereka berdua. Sebisa mungkin aku tidak akan muncul di hadapan Park Chanyeol"
Well, jika semudah itu. Apa kau lupa? Setiap pertemuanmu dengan lelaki itu tidak pernah kau atau dia yang rencanakan. Bukankah pertemuan kalian selalu secara kebetulan?
.
.
-Heartless-
Baekhyun dan Baekhee dibuat terkejut ketika seorang lelaki dan seorang wanita berdiri di depan pintu rumah mereka. Kedua gadis kembar itu mengerjap.
"Kris Oppa.." Baekhee menganga.
"Luhan.. Eonni?" Itu Baekhyun, ia sedikit ragu.
"Oh Gosh! Kris, mereka.. begitu mirip." Luhan berhambur memeluk kedua gadis kembar di hadapannya. "Yang ini.. Baekhyun?" Ia mengelus lembut pipi salah satu gadis yang masih terkejut karena di peluk oleh dirinya.
"She is Baekhee, Darling.." Kris terkekeh lantas memeluk Baekhee.
"Really? Sorry, You two look so much alike.." Luhan merengut ia merasa iri kepada suaminya karena bisa membedakan kedua gadis kembar yang nyaris tidak ada bedanya itu.
Baekhyun tersenyum maklum.
"Whoa, Eonni sangat cantik, Kris Oppa beruntung sekali" Seru Baekhee.
"Masuklah Eonni, Oppa." Kata Baekhyun.
.
"Apa kalian baik-baik saja?" Tanya Kris memulai perbincangan begitu mereka duduk di sofa ruang tamu.
"Aku baik-baik saja, dan Eonni—"
"Aku juga baik, sangat baik." Baekhee menyela dengan cepat, ia tahu bahwa Baekhyun akan memberitahukan perihal kondisinya saat ini. Baekhee tidak ingin Kris cemas mendengar penyakit yang ia derita. Sudah cukup ia merepotkan beberapa orang terdekatnya selama ini, ia tidak mau sampai merepotkan Oppanya itu.
Baekhyun mengalihkan pandangannya kepada Baekhee, ia menghela nafas pelan begitu melihat Baekhee yang sedikit menggelengkan kepala kepadanya. Dan Baekhyun sangat mengerti apa yang kakaknya itu maksud.
"Tunggu, aku masih belum bisa membedakan mereka, Kris." Itu Luhan.
"Aku Baekhyun, Eonni. Aku mempunyai ini." Kata Baekhyun sambil menunjukan bekas luka di lengan kanannya. Karena tak ada hal lain yang bisa membedakan keduanya kecuali bekas luka tersebut.
"What the hell hapenned to you?" Tanya Kris spontan, ia merasa cemas begitu melihat bekas luka di lengan adiknya tersebut.
"Seperti biasa.. Baekhyun dengan segala kecerobohannya, Oppa. Dia terpeleset dan lengannya mengenai pecahan kaca." Baekhee yang menyahut.
"You okay, Honey?" Kali ini Luhan yang bertanya.
"Don't worry too much.. I'm okay Eonni, Oppa." Kata Baekhyun. Gadis itu tersenyum manis.
Setelah itu mereka berbincang-bincang cukup lama dan saling melepas rindu. Mereka sangat bahagia, tak jarang mereka tertawa ketika mengingat kejadian konyol di masa lalu.
Baekhyun dan Baekhee bahkan lebih bahagia lagi ketika mengetahui bahwa mereka akan mempunyai seorang keponakan.
.
.
"Eonni.. aku bisa sendiri, seharusnya Eonni beristirahat bukan malah menemaniku pergi ke pasar seperti ini." Baekhyun merasa tidak enak kepada Luhan.
"Whoa, kau baru saja mengomeliku, B?" Luhan terkekeh.
"Tidak, bukan seperti itu. Aku hanya tidak mau keponakanku kenapa-kenapa jika Eonni kelelahan. Maafkan aku.." Kata Baekhyun penuh sesal.
Luhan semakin terkekeh, ternyata memang benar Baekhyun itu sangat perasa.
"Eonnimu ini hanya bercanda, sayang." Luhan tersenyum lembut, "Eonni akan memasakkan kalian semua sesuatu yang istimewa nanti."
"Benarkah?" Tanya Baekhyun berbinar.
Luhan mengangguk sambil mengelus pipi Baekhyun. Gadis itu kegirangan bahkan sedikit berjingkrak layaknya anak kecil. Ia merasa mempunyai keluarga baru, Luhan sangat baik. Ia merasa nyaman bisa sedekat ini dengan Eonni barunya tersebut. Ia juga sangat bersyukur Oppanya mempunyai istri sebaik Luhan.
.
.
Selepas berbelanja, Luhan berniat mengajak Baekhyun ke suatu tempat terlebih dahulu.
"Kita mau kemana Eonni?"
"Aku ingin mengunjungi suatu tempat, kau tidak keberatan menemaniku sebentar?"
"Tentu saja, lagipula aku harus menjaga Eonni." Sahut Baekhyun.
"Whoa, aku merasa tersanjung, akhir-akhir ini banyak sekali orang yang menjagaku. Terimakasih, sayang." Luhan tersenyum.
"Itu karena Eonni sedang mengandung, kau tidak boleh kenapa-kenapa."
"Akh, jadi jika aku sedang tidak mengandung.."
"Eonni..." Baekhyun merengut, Kenapa sedari tadi Luhan senang sekali menggodanya.
Tawa Luhan meledak begitu melihat ekspresi Baekhyun, gadis itu benar-benar terlihat seperti anak kecil. Seketika ia mengingat kembali apa yang pernah Kris katakan mengenai sifat Baekhyun yang satu itu.
Dia akan berubah menjadi anak kecil yang manja jika aku menggodanya terus-menerus.
Luhan memarkirkan mobilnya didepan sebuah rumah mewah sementara Baekhyun berdecak penuh kagum begitu melihat bangunan megah bergaya eropa klasik tersebut. Ia bertanya-tanya konglomerat mana yang mempunyai rumah yang dijaga ketat oleh beberapa orang berpenampilan serba hitam di setiap sudut rumah itu.
"Ayo masuk.." Ajak Luhan.
Baekhyun mengikuti langkah Luhan memasuki rumah tersebut. Beberapa pelayan rumah itu membungkuk hormat begitu Luhan dan Baekhyun sampai di ruang tamu.
Dan seorang wanita paruh baya menyambut kedatangan Luhan dengan tersenyum hangat.
"Aigoo, putriku sudah datang.." Ucapnya.
"Ahjumma.." Luhan tersenyum, ia memeluk wanita paruh baya tersebut. Sepertinya ia sudah mengenal baik wanita itu.
Sementara Baekhyun, gadis itu hanya mematung begitu matanya tertuju pada sebuah foto keluarga yang menempel sempurna di dinding ruang tamu yang begitu kental dengan nuansa modern yang begitu kontras dengan desain Eksterior yang mengutamakan kesan klasiknya. Matanya mengerjap beberapa kali begitu melihat lelaki yang lebih muda yang berada dalam foto keluarga tersebut, ia adalah lelaki yang selalu membuat jantungnya berpacu tanpa kendali seperti saat ini.
Kenapa Park Chanyeol? Ini rumahnya? Apa Luhan Eonni mengenalnya? Batinnya melontarkan beberapa pertanyaan.
Jantungnya semakin berdetak tak normal ketika menyadari bahwa di dalam foto tersebut Park Chanyeol tersenyum lebar, satu hal yang tak pernah Baekhyun lihat dari wajah datarnya. Meskipun senyuman itu hanya berada di dalam sebuah foto, namun itu cukup membuat jantung Baekhyun sulit untuk diajak bekerjasama.
Tuhan, dia benar-benar tampan. Pikirnya.
"LUHAN!"
Sebuah pekikan dari seorang wanita cantik menyadarkan Baekhyun dari acara mengagumi wajah tampan Park Chanyeol dengan senyuman berkekuatan ribuan voltasenya itu.
"Yoora Eonni.." Luhan memeluk wanita bernama Yoora tersebut.
Lagi-lagi Baekhyun terkejut begitu melihat wanita yang saat ini tengah berpelukan dengan Luhan. Ia mengerjap, wanita itu begitu mirip dengan Park Chanyeol. Noonanya? Astaga dia sangat cantik. Batinnya terkagum-kagum, inilah adalah keluarga dengan visual yang sempurna.
"Duduklah.. aku sangat merindukanmu, Lu." Ucap Yoora.
"Tapi, ini siapa?" Wanita paruh baya itu, Park Minyoung bertanya begitu menyadari bahwa Luhan tidak datang sendiri.
"Ahh.. ini adik iparku Ahjumma" Luhan tersenyum sambil mengelus bahu Baekhyun.
"Annyeonghaseyo, Byun Baekhyun-imnida." Gadis itu tersenyum kemudian membungkuk sopan.
"Whoa, she's cute!" Yoora berseru begitu melihat senyuman Baekhyun yang membentuk bulan sabit di kedua matanya, ia menangkup kedua pipi Baekhyun dengan gemas membuat gadis itu sedikit terkesiap.
Luhan dan Minyoung hanya tersenyum melihat kelakuan Yoora yang seperti itu.
"Duduklah, sayang." Ucap Minyoung kepada Luhan dan Baekhyun.
Mereka berempat duduk di sofa ruang tamu tersebut dan memulai perbincangan yang lebih banyak didominasi oleh Luhan, Yoora dan Minyoung karena Baekhyun hanya diam meskipun sesekali ia tersenyum menanggapi lelucon Yoora.
Menurutnya Yoora adalah orang yang sangat ceria dan menyenangkan. Begitupun Ibunya Park Chanyeol, wanita paruh baya itu sangat baik dan ramah.
Baekhyun terheran-heran mengapa sifat Park Chanyeol sangat bertolak belakang dengan keduanya. Tidak, Park Chanyeol adalah orang yang baik.
Mungkin hanya luarnya saja yang terlihat kejam. Namun sebenarnya Chanyeol sangat baik, Baekhyun sangat yakin karena lelaki itu pernah bersikap baik terhadapnya dan juga Baekhee.
Baekhyun terus menanamkan kepercayaan itu di dalam hatinya.
.
.
-Heartless-
Seorang wanita cantik terduduk di kursi roda yang berada di sebuah balkon Apartment, matanya menatap kosong meskipun kota seoul terhampar dengan begitu luas di hadapannya. Birunya Cakrawala seakan tak mampu menarik perhatiannya.
"Hei, kau sudah meminum obatmu?" Seorang lelaki menghampirinya.
Wanita itu tak bergeming sama sekali, bahkan ketika lelaki tersebut membelai wajahnya ia tetap tak mengalihkan pandangannya kemanapun.
Lelaki itu tersenyum seolah maklum.
"Waktunya tidur siang, sayang." Ia mendorong kursi roda itu masuk.
Setelah sampai di sebuah kamar, lelaki itu mengangkat wanita tersebut dan membaringkannya di ranjang. Ia menutup tubuh si wanita dengan selimut kemudian mengecup keningnya lembut.
"Bersabarlah, sayang. Sebentar lagi, tunggulah sebentar lagi." Kata si lelaki begitu mata wanita tersebut terpejam kemudian keluar dari kamar tersebut.
Baru saja akan melangkahkan kaki, lelaki itu terkejut mendengar suara kaca pecah dan jeritan dari dalam kamar sang adik. Dengan cepat ia memasuki kamar adiknya dan kembali dibuat terperangah begitu melihat sang adik tengah mengiris pergelangan tangannya dengan pecahan kaca dari gelas yang mungkin dibantingnya, ia berlari menghampiri adiknya yang meronta sambil menjerit begitu pecahan kaca tersebut berhasil ia rebut. Sprei yang semula berwarna putih bersih kini ternodai oleh darah yang mengalir dari pergelangan tangan si wanita.
Lelaki tersebut merasa bersyukur karena lukanya tidak sampai mengenai bagian vital, karenanya ia mnegobati luka tersebut sendiri. Setelah selesai, ia melihat adiknya tertidur di bahunya. Satu titik air mata mengalir dari sudut mata wanita tersebut.
Lelaki itu tercenung, hatinya mencelos kala melihat kondisi adiknya yang seperti itu, tidak bisa berjalan, tidak pernah berbicara sepatah katapun, tidak pernah merespon siapapun dan selalu mencoba melukai dirinya semenjak kejadian itu.
Ia marah, rahangnya mengatup dengan keras seiring dengan matanya yang memicing tajam dan tangannya yang terkepal kuat. Ia merogoh ponselnya lalu menghubungi seseorang.
"Aku sudah tidak tahan, habisi dia! Buat si keparat itu menderita berkali-kali lipat! Tidak. Akan lebih baik jika dia mati secepatnya, bunuh dia!" Ucapnya memerintah kepada seseorang di seberang sana.
.
.
-Heartless-
"Eonni, Oppa, kenapa tidak menginap saja?" Tanya Baekhee begitu mereka sampai di depan pintu bermaksud mengantar Luhan dan Kris yang sudah berpamitan pulang ke Hotel.
"Oppamu ada sedikit pekerjaan di suatu tempat besok, sayang. Dan lokasinya lumayan dekat dengan Hotel kami." Sahut Luhan.
"Apa kalian akan kesini lagi?" Tanya Baekhyun.
"Tentu saja, begitu pekerjaan Oppa selesai. Umm.. Oppa akan mengajak kalian berlibur. Oppa janji." Kata Kris.
"Whoa!" Seru Baekhyun.
"Oppa sudah berjanji, ingat itu!" Baekhee menimpali.
Si kembar berjingkrak kegirangan begitu Oppanya menjanjikan akan mengajak keduanya berlibur.
"Akh.. aku masih ingin bersama mereka berdua, Kris." Luhan memeluk si kembar, ia merasa tak rela meninggalkan kedua gadis yang menurutnya begitu lucu jika sedang bertingkah layaknya anak kecil seperti barusan.
Kris hanya terkekeh pelan lantas memasuki mobil yang disusul oleh istrinya dan kemudian meninggalkan area komplek.
Begitu Mobil Kris dan Luhan menghilang dari pandangan, Baekhyun berbalik menghadap Baekhee, ia melipat kedua tangannya di dada.
"Tidak ada yang namanya Club, malam ini kau harus istirahat." Ucapnya.
"Yes, Mom!" Kata Baekhee menggoda adiknya, ia terkekeh pelan. Byun Baekhyun akan berubah menjadi gadis cerewet jika sedang cemas.
"Ayo masuk, diluar dingin. Apa kau sudah minum obatmu?" Baekhyun menggandeng kakaknya masuk ke dalam rumah.
Baekhee menggeleng tersenyum.
"Tunggu sebentar aku akan mengambilkan obatmu." Kata Baekhyun.
"Aku mengantuk, B"
"Oh? Obatmu sudah habis, bagaimana ini?" Baekhyun berkata dari dalam kamar. Kemudian ia keluar. "Aku akan membelinya sekarang." Lanjutnya. Gadis nampak terburu-buru sampai tidak menyadari bahwa ia hanya memakai pakaian seadanya.
"Hei, aku tidak apa-apa. Kau bisa membelinya besok." Protes Baekhee.
"Tidak. kau harus meminum obatmu malam ini, Byun Baekhee-ssi." Sahut Baekhyun sambil tersenyum kepada kakaknya.
Baekhee hanya mendengus, adiknya itu memang terlalu mencemaskannya.
"Hati-hati, sayang." Ucapnya sedikit keras begitu Baekhyun berjalan keluar, samar-samar ia mendengar kata 'Okay' dari adiknya sebagai jawaban.
.
.
Baekhyun berjalan di pekarangan komplek yang luas, gadis itu mengerjap kagum begitu matanya memandang langit. Begitu banyak bintang yang bertaburan disana,
"Oh? Bintang jatuh." Serunya, gadis itu menghentikan langkahnya begitu melihat bintang jatuh. Ia memejamkan mata, membuat sebuah permohonan.
"Apa yang kau lakukan?"
Sebuah suara menginterupsi kegiatan Baekhyun, gadis itu membuka matanya. Ia terkejut begitu melihat sosok lelaki yang berada di hadapannya saat ini.
"Apa ini? Bukan ini permohonanku." Gadis itu bergumam sendiri, ia memicingkan mata. Kedua tangan mungilnya menangkup wajah si lelaki yang menurutnya hanya halusinasinya saja. "Oh? Bahkan bayangannya terasa nyata." Ucapnya polos, kemudian ia kembali menutup matanya dengan tangan yang masih menangkup wajah si lelaki. "Tuhan, kurasa kau telah salah, bukan ini permohonanku. Bisakah kau jatuhkan satu bintang lagi? aku ingin mengulang permohonanku." Lanjutnya memohon.
"Apa yang kau lakukan?" Lelaki itu kembali mengulang pertanyaannya.
Kembali Baekhyun membuka matanya, ia memiringkan kepalanya.
Lelaki itu memandang jengah.
"Apa kau memang sebodoh itu?" Tanyanya sinis.
Baekhyun terkesiap begitu menyadari itu bukan sebuah halusinasi. Lelaki itu nyata. Dengan cepat ia melepas tangan yang sedari tadi menangkup wajah lelaki itu.
"M-maafkan aku Park Chanyeol, aku hanya... Umm, Bintang jatuh.." Ucapnya tidak jelas sambil menunjuk-nunjuk keatas langit. Gadis itu gugup bercampur malu. Akh Byun Baekhyun! Memalukan sekali. Batinnya.
Gadis itu menunduk, ia benar-benar malu. "Tapi, apa yang kau lakukan disini?" Tanyanya.
Benar! Apa yang kau lakukan disini, di pekarangan komplek tempat gadis itu tinggal, Apa yang lakukan, Park Chanyeol?
Lelaki itu bahkan baru menyadarinya sekarang, ia juga tak tahu mengapa bisa berada disini. Sumpah Demi apapun, Park Chanyeol tidak tahu.
Apa lelaki itu tersesat? Tidak. Itu tidak mungkin.
"Aku hanya.. kenapa? Apa urusanmu jika aku berada disini?"
"Ahh begitu, apa kau mempunyai teman yang tinggal disini?"
"Kau pikir aku sudi mempunyai teman yang tinggal di tempat seperti ini?"
Baekhyun tersenyum begitu pertanyaan sarkastik itu terlontar.
She's back.. Batin Chanyeol begitu melihat senyuman itu. Ia seakan sudah menghafal dengan baik senyuman tersebut.
Senyuman yang hanya di miliki oleh sisi polos yang ia ketahui berasal dari gadis ketus, galak dan tidak sopan. Tanpa ia ketahui bahwa gadis itu bukanlah gadis yang sama. Ia bahkan melupakan fakta bahwa gadis itu kembali berubah menjadi gadis polos yang selalu membuat jantungnya berdetak sedikit tidak normal.
He doesn't fucking care..
Chanyeol berusaha mati-matian menahan senyumannya begitu mengingat kelakuan polos yang baru saja gadis itu lakukan, terlebih saat tangan mungil itu menangkup wajahnya.
Namun ia lebih pintar mempertahankan mimik mukanya yang datar tanpa ekspresi ketimbang mengembangkan senyumannya itu.
The hell!
He's always been like that!
"Ikut denganku!" Perintah Chanyeol.
"Kemana kali ini?" Tanya Baekhyun.
Lelaki itu menghentikan langkahnya, ia berbalik.
"Aku bosan dan kau harus menemaniku malam ini." Sahutnya enteng.
"Tapi..
"I don't wanna hear anything excuses from you, B"
"K-kau tahu namaku?" Baekhyun sedikit terperangah.
Chanyaeol memutar bola matanya jengah.
"Namamu Byun Baekhee, dan sepupuku Oh Sehun memanggilmu B. Kenapa? Apa hanya dia yang boleh memanggilmu seperti itu?" Sahut Chanyeol sedikit jengkel. Kenapa memangnya jika ia memanggilnya seperti itu? Apa tidak boleh? Apa hanya Oh Sehun saja yang boleh?
Sejujurnya sebutan itu terasa pas menurut Chanyeol, ia sendiri tak tahu mengapa.
Baekhyun menghela nafas lega begitu mendengar jawaban tersebut. Sejujurnya ia takut lelaki itu tahu yang sebenarnya.
"Hei, calm down. You can call me anything you want, okay?" Gadis itu tersenyum lembut. Ia menghidupkan ponsel dan mengetikkan sebuah pesan kepada Baekhee.
Setelah itu ia mengajak Chanyeol untuk berlalu dari tempat tersebut.
Gadis itu tidak sadar dengan apa yang ia lakukan, ia bahkan melupakan kata-katanya untuk menjauhi lelaki itu. Gadis itu seolah tersihir, senyuman itu terus mengembang di wajahnya.
She's feel happy..
Sementara Chanyeol, Ia mengikuti langkah gadis mungil itu.
.
Mereka berdua masih berjalan di tengah keramaian malam kota Seoul, sesekali Baekhyun mengajak Chanyeol berbicara meskipun hanya gumaman singkat yang ia dapat sebagai jawaban dari lelaki itu.
"Whoa, kau harus mencoba itu." Seru Baekhyun begitu melihat beberapa kedai makanan yang dijajakan di pinggir jalan. Gadis itu menarik tangan Chanyeol dan membawanya ke salah satu kedai tersebut.
"Kau pernah mencoba itu?" Tanya Baekhyun sambil menunjuk Tteokbokki .
Chanyeol mengernyit.
"Kau pikir aku pernah memakan makanan pinggir jalan seperti ini? Menjijikan sekali."
"Hei, ini semua luar biasa enak. Kau harus mencobanya" Sahut Baekhyun. Gadis itu menusuk satu potongan Tteokbokki dan mengarahkannya ke mulut Chanyeol, ia bermaksud menyuapi lelaki itu. "Aaa.. buka mulutmu.." Ucapnya.
Chanyeol bungkam, ini semua bukan makanan menurutnya. Sangat tidak higienis dan menjijikan.
"Park Chanyeol, buka mulutmu.."
Chanyeol menyerah, lelaki itu membuka mulutnya. Ia mengerjap begitu satu potongan Tteokbokki itu masuk ke dalam mulutnya.
Ini enak menurut Chanyeol.
Baekhyun tertawa melihat ekspresi Chanyeol. Kemudian ia mengambil satu jajanan yang ditusuk berlipat-lipat berbentuk pipih. Itu Fish Cake. "Coba juga yang satu ini," Kembali ia menyuapi Chanyeol.
Lagi-lagi Baekhyun tertawa melihat Chanyeol dengan lahap memakan Fish Cake tersebut.
Lelaki itu tak berkata sedikitpun, ia sibuk memakan beberapa jajanan yang baru kali ini ia cicipi selama hidupnya. Ia bahkan tak menghiraukan beberapa orang yang menatapnya heran, lelaki itu terlihat seperti orang kelaparan bahkan sampai tersedak.
"Hei, pelan-pelan."Baekhyun memberi segelas air dan mengusap pelan punggung Chanyeol.
"Apa seenak itu?" Tanyanya sedikit berbisik kepada Chanyeol sambil tersenyum.
Lelaki itu mengangguk dan kembali memakan beberapa jajanan lain.
Kembali Baekhyun tergelak, Park Chanyeol sungguh diluar dugaannya.
"Tertawalah sepuasmu sekarang, karena aku tidak akan mengampunimu setelah ini." Ancam Chanyeol dengan mulut penuh. Meskipun suara tawa itu sangat merdu ketika tertangkap oleh indera pendengerannya.
Seharusnya Baekhyun takut, namun ia malah semakin tergelak.
"Telan dulu makananmu, baru berbicara." Gadis itu tersenyum sambil menyeka saus Tteokbokki yang berada di sudut bibir Chanyeol.
Park Chanyeol sedikit mengerjap, mengapa sisi polos gadis itu selalu selembut itu memperlakukannya?
.
Melakukan hal-hal konyol menurut Chanyeol seperti makan di pinggir jalan, menonton pertunjukan dari musisi jalanan dan hal lainnya bersama gadis itu membuatnya merasakan sesuatu yang lain.
He never felt like this before..
Mereka masih berjalan di tengah lalu lalang orang-orang, sampai sebuah dering ponsel Chanyeol menginterupsi langkah keduanya.
"What's going on?" Ucapnya setelah menempelkan ponselnya di telinga. Ia memberi jeda kepada Jongin yang menghubunginya di seberang sana. "I'll be there in 30 minutes". Lanjutnya, kemudian memutus sambungan telepon.
"I gotta go." Ucap Chanyeol kepada Baekhyun.
Gadis itu mengangguk tersenyum.
"Terimakasih untuk tadi, Park Chanyeol."
Bukankah seharusnya Chanyeol yang berterimakasih? Entahlah..
Sebelah alis Chanyeol terangkat begitu melihat gadis itu sedikit menggigil.
Oh tentu saja, Baekhyun tidak memakai pakaian hangat sama sekali.
Namun, Park Chanyeol seakan ragu. Ia lebih memilih untuk berlalu begitu saja, lelaki itu hanya tidak ingin membuat gadis itu besar kepala dengan perlakuannya.
What the fucking hell!
He's truly an asshole, isn't he?
Chanyeol berniat menyebrang jalan, karena mobilnya ia parkir di seberang jalan sana. Namun sebuah teriakan menginterupsi kegiatannya.
Baekhyun tak sedikitpun mengalihkan pandangannya begitu Chanyeol berlalu meninggalkannya di tempat yang sedari tadi dipijaknya, ia terus memperhatikan punggung tegap lelaki tersebut. Gadis itu terperangah begitu sebuah mobil melaju dengan cepat kearah Park Chanyeol yang terlihat akan menyebrang jalan, ia berlari sangat cepat menuju lelaki itu.
"PARK CHANYEOL AWAS!" Teriak Baekhyun, gadis itu menarik tangan Chanyeol dengan cepat namun naas tubuh keduanya terpental jatuh ke tepi jalan.
Sementara dari kejauhan, si pengendara mobil tadi tengah mengumpat kesal karena tidak yakin rencananya berhasil atau tidak.
.
.
.
TBC
.
.
AN:
Hai.. hehehe, updatenya kelamaan ya? Mianhaeyo Chingu :*
Pada greget ya kapan Ceye tau kalau mereka kembar? Sama! Aku juga greget ih! Kapan sih dia taunya? -_- Author mh gitu, sekalian aja jangan di bikin tau! Umm.. boleh juga idenya hahaha :D
Aku mau kasih sedikit saran, buat yang gak suka sama Hearteulesseu karena alurnya ribet atau lambat atau apapun yang kamu bilang, mending jangan di baca! Karena ini emang ff pertama yang aku buat jadi masih banyak banget kurangnya. Typonya aja bejibun :D
Yaudahlah ya.. see you :*
