HEARTLESS
Cast:
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
And OCs
.
.
ChanBaek (GS)
Romance, Hurt/Comfort
.
DON'T LIKE DON'T READ!
Happy Reading!
.
Baekhyun terjaga, duduk di samping ranjang dengan kedua tangan bertumpu pada kedua paha sembari menutup wajahnya, tubuhnya sedikit bergetar. Satu isakan lolos terdengar.
God, don't let him get hurts.. Please.. Pikirnya.
Ia menatap nanar pada Chanyeol yang terbaring dengan mata terpejam setelah mendapat beberapa penanganan dari dokter. Lelaki itu menyelamatkannya dari benturan keras, melindungi tubuh mungil itu dengan mendekapnya erat beberapa jam yang lalu ketika tubuh keduanya bergulingan di permukaan jalan saat sebuah mobil berhasil menabrak tubuh keduanya.
Yeah..
He did it..
Meskipun luka yang keduanya alami tidak terlalu serius, namun Baekhyun merasa terbebani, hal yang paling ia hindari ialah membuat seseorang terluka karena menyelamatkannya. Seperti dulu.
Gadis itu semakin terisak, ia menundukan kepala dengan kedua tangan yang kembali menutup wajahnya, mencoba meredam suara tangisnya.
Chanyeol mengerjapkan mata perlahan, mencoba membiasakan diri dengan cahaya disekitar. Dimana ini? Pikirnya. Kedua alisnya saling bertautan.
Lelaki itu bungkam, ia menikmati melihat gadis disampingnya menangis seperti anak kecil sembari menutup wajahnya.
Pintu kamar rawat itu terbuka pelan, Chanyeol yang melihat Jongdae dengan wajah panik segera mengangkat tangannya lantas mengibaskannya pelan tanpa bersuara, ia memerintahkan orang kepercayaannya itu untuk keluar. Jongdae membungkuk hormat sebelum akhirnya meninggalkan ruangan tersebut.
Chanyeol masih bungkam, senyum tipis mengembang di wajahnya. Sangat tipis.
"Berisik sekali." Ucapnya dingin seolah terganggu oleh tangisan Baekhyun. Senyuman itu lenyap berganti ekspresi datar andalannya. Lelaki itu bangkit dari posisinya mencoba untuk duduk meskipun rasa pusing menyergapnya tiba-tiba.
Baekhyun terkesiap, dengan mata sembab, hidung dan bibir yang memerah gadis itu berhambur memeluk lelaki yang tengah terduduk di hadapannya.
"Terimakasih.. Terimakasih.." Hanya suara itu yang terdengar di telinga Chanyeol, sisanya terdengar samar. Ia terlalu sibuk menetralkan jantungnya yang tiba-tiba berdetak tak karuan begitu gadis itu memeluknya. Lelaki tersebut menautkan kedua alisnya, tubuh mungil itu bergetar hebat seiring dengan pelukannya yang kian mengerat, Chanyeol merasakan gadis itu ketakutan. Bahunya terasa semakin membasah, gadis itu menangis dalam diam.
Satu tangan Chanyeol terangkat, berniat mengelus punggung gadis tersebut namun ia urungkan niatnya itu.
Chanyeol memejamkan mata, ia menyukai wangi itu. Wangi Strawberry yang menguar dari sosok mungil itu.
Itu menenangkannya.
Tak lama kemudian Baekhyun mengendurkan pelukannya, ia menunduk dalam, wajahnya memerah. Gadis itu baru sadar dengan apa yang ia lakukan.
Memeluk Park Chanyeol? Park Chanyeol? Oh tidak. Berani sekali kau Byun!
"Apakah kau memang terbiasa memeluk setiap lelaki sesukamu?" Tanya Chanyeol terdengar sinis.
Baekhyun bungkam, entah mengapa pertanyaan itu terasa mencubit hatinya.
"Ahh, atau kau pikir kita sudah seakrab itu hingga kau berani memelukku? Berhenti bertingkah sok akrab kepadaku, berhenti berbesar kepala dengan apa yang sudah ku lakukan. Sulit untuk menjelaskan apa yang akan terjadi padamu jika aku marah, yang pasti kematianmu akan terasa lama dan menyakitkan." Kata Chanyeol terdengar cuek.
"Maafkan aku.. dan terimakasih sekali lagi, Park Chanyeol. Aku permisi." Gadis itu membungkuk sopan dan berniat untuk pulang. Namun Chanyeol menahan pergerakannya, lelaki itu tahu Baekhyun tersinggung. Bukan karena ancamannya, namun karena pertanyaan pertama yang ia lontarkan.
Bukankah seharusnya gadis itu marah dan memakinya? Dan kenapa dia selalu mengucap kata maaf dan terima kasih secara bersamaan pikir Chanyeol.
"Kau.. Kau pikir aku akan melepaskanmu begitu saja setelah membuatku seperti ini?" Tanya Chanyeol sembari menunjuk beberapan perban yang menutupi luka di lengan dan dahinya, beralasan.
Baekhyun yang hendak buka mulut mendadak menciut, hatinya membenarkan bahwa ia yang telah membuat Chanyeol seperti itu. Gadis itu menghela nafas pelan.
"Apa yang harus kulakukan?"
Chanyeol tampak berpikir, mencari alasan yang masuk akal saat ini.
"Kau lihat, ini hampir tengah malam." Lelaki itu menunjuk jam dinding, "Aku adalah orang penting, apa kata bawahanku jika melihat atasannya berkantung mata mengerikan besok pagi karena kurang tidur?"
"Lantas?" Baekhyun sedikit memiringkan kepala, ia tidak mengerti maksud Chanyeol.
Lelaki itu jengah kemudian berdecak.
"Aku tidak bisa tidur.." Chanyeol sedikit ragu. "So.. Tell me a bedtime story." Lanjutnya dengan bergumam.
Baekhyun terbelalak, apa baru saja Park Chanyeol memintanya untuk menceritakan dongeng sebelum tidur?
Whoa..
Park Chanyeol..
He's full of surprises, right?
Chanyeol pikir gadis itu akan tertawa terbahak-bahak dan tak akan berhenti hingga ia menamparnya keras, namun gadis itu malah menuntunnya untuk berbaring, ia tersenyum hangat sementara tangannya membawa selimut itu menutupi tubuh Chanyeol lantas duduk setelahnya.
Baekhyun berdehem pelan, satu tangannya terangkat sebelum akhirnya hinggap di dahi Chanyeol yang tertutup anak rambut, gadis itu menyibak dan mulai mengelus surai itu perlahan. Ini adalah hal yang sering ia lakukan pada anak-anak panti, dulu.
"Umm.. dahulu kala ada seorang pangeran yang hidup di sebuah istana yang begitu megah, hidupnya nyaris sempurna. Dia tampan, sangat tampan sehingga membuat setiap puteri dari kerajaan tetangga berlomba-lomba untuk mendapatkan perhatian sang pangeran."
"Bukankah pangeran itu terdengar sepertiku?" Tanya Chanyeol menyela dengan nada bangga, ia tak mengalihkan pandangannya sama sekali.
Baekhyun tertawa pelan.
"Percaya diri sekali." Kemudian terkekeh begitu melihat Chanyeol yang mengernyit dengan ekspresi tidak puas.
"Pangeran itu memang tampan, namun sifatnya benar-benar menjengkelkan. Dia kasar, sombong, dan angkuh. Namun hal itu tidak sama sekali membuat semua puteri itu terkecoh, mereka seolah membutakan mata dan menulikan telinga. Karena pesona sang pangeran benar-benar memikat." Lanjut Baekhyun masih mengelus lembut surai coklat gelap Chanyeol. tak henti-hentinya ia tersenyum. Lelaki itu terlihat seperti anak kecil yang mendengarkan ibunya mendongeng, dan Baekhyun harus mati-matian menahan kekehannya setiap kali mata bulat itu mengerjap.
"Apa yang salah dengan sifatnya yang seperti itu? Dia seorang pangeran yang mempunyai segalanya, bukankah seharusnya dia memang seperti itu agar tidak ada yang berani menentangnya?" Tanya Chanyeol menuntut. Ia begitu menikmati setiap jemari lentik itu mengelus rambutnya.
Baekhyun menggeleng, senyumannya masih mengembang.
"Dia seperti itu sejak ditinggalkan oleh seorang gadis yang amat ia cintai. gadis itu adalah seorang puteri dari kerajaan lain yang merupakan kekasihnya, sang puteri yang menghilang tanpa kabar dan entah kemana membuat pangeran murka. Ia merasa dibohongi. Beberapa kabar yang berhembus tentang sang puteri yang melarikan diri bersama pria lain membuat pangeran tampan menutup hati, ia berubah menjadi dingin, kasar, dan bersikap pongah setiap harinya."
Chanyeol bungkam, ia masih setia mendengarkan setiap kata yang terlontar dari bibir Baekhyun yang akan mengembangkan senyuman disetiap ia memberi jeda.
"Suatu hari, pangeran merasa bosan. Ia mengajak beberapa pengawal untuk menenaminya berburu di hutan. Sang pangeran terhenyak, anak panah yang siap ia lesatkan tertahan begitu seorang gadis berdiri di depan rusa yang menjadi mangsanya. Pangeran mematung, mulutnya kelu sampai satu kata pun tak mampu ia lontarkan. Kau tahu apa yang membuatnya seterkejut itu?"
Sebelah alis Chanyeol terangkat, mencoba bersikap keren namun ekspresinya mengatakan bahwa ia sangatlah penasaran.
Tatapan Baekhyun perlahan berubah nanar.
"Karena wajah gadis itu begitu mirip dengan kekasihnya yang telah lama menghilang. Rasa rindu yang terpendam, rasa marah yang menjalari hatinya, rasa dendam yang sudah mendarah daging, semua dirasakannya saat itu. Ekspresinya mengeras namun sorot matanya seolah memperlihatkan bahwa ia sangat merindukan sosok itu. Dienyahkannya semua bujukan nurani untuk memaafkan, sang pangeran memerintah beberapa pengawalnya untuk menyeret paksa gadis itu dan membawanya ke istana. Meskipun sebagian kecil nuraninya itu mengatakan bahwa gadis itu bukanlah sang puteri."
"So, who the hell is she?" Tanya Chanyeol penasaran, merasa ceritanya semakin menarik.
"Ini rahasia besar, sang puteri dan pihak kerajaan tidak pernah memberitahu kepada dunia luar bahwa dia memiliki saudari kembar. Dan entah untuk alasan apa mereka begitu menyembunyikan rapat-rapat tentang keberadaan kembaran sang puteri tersebut. Bahkan dari pihak kerajaan sang pangeran sekalipun." Baekhyun menghela nafas pelan. "Lelaki itu tidak tahu sama sekali bahwa kekasih yang begitu ia cintai memiliki saudari kembar." Lanjutnya. Suaranya nyaris menghilang diakhir kalimat yang terlontar.
"Jadi sang puteri memiliki saudari kembar? Dan gadis yang pangeran temui di hutan adalah kembarannya tersebut?" Tanya Chanyeol tidak sabaran.
Baekhyun mengangguk pelan, hatinya sedikit tertohok saat ini.
"Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Waktu berjalan sangat cepat namun tak jarang terasa merangkak lambat. Sudah satu bulan gadis itu terkurung di dalam istana, ia tak lagi memberontak karena percuma saja pangeran akan semakin membuatnya merasa menderita, meskipun ia tidak tahu untuk alasan tepat apa pangeran tampan itu mengurungnya di dalam istana.
Merasa gadis itu tidak lagi memberikan perlawanan dan tidak mencoba untuk melarikan diri seperti sebelumnya, hati sang pangeran perlahan mulai tergerak. Ia sedikit memberi kebebasan pada gadis itu untuk sekedar berjalan-jalan di halaman istana, atau paling tidak menanam beberapa bunga di halaman belakangnya, ahh.. pangeran bahkan mengizinkannya untuk memakai dapur istana begitu mengetahui bahwa gadis itu gemar membuat kue.
Dalam waktu selama itu, pangeran mulai menyadari bahwa sifat yang gadis itu miliki sangatlah berbanding terbalik dengan kekasihnya. Jika sang puteri adalah seorang yang tangguh dan kuat, maka gadis itu adalah seorang yang lemah lembut. Jika sang puteri adalah seorang yang setiap harinya berkutat dengan beberapa pedang dan tidak akan segan melenyapkan musuh-musuh, maka gadis itu adalah seorang yang anggun dan perasa yang bahkan tidak akan tega membunuh semut-semut kecil yang mengerubungi kue yang dibuatnya setiap hari." Baekhyun memberi jeda, ia menatap teduh kearah Chanyeol yang juga menatapnya."Mengantuk?" Tanyanya lembut masih setia mengelus surai lelaki itu.
"Dan apa pedulimu?" Balas Chanyeol datar. Ingin sekali Ia melayangkan protes karena Baekhyun menjeda cerita yang menurutnya semakin menarik.
"Kau sedang sakit, akan lebih baik jika kau beristirahat. Kita bisa melanjutkan ceritanya lain waktu." Sahut Baekhyun dengan raut cemas.
Kedua alis Chanyeol bertautan."Apa baru saja kau menceramahiku? Asal kau tahu, tanganku sudah sangat gatal ingin menarik pelatuk pistolku dan mengarahkannya tepat di kepalamu sebelum akhirnya otakmu hancur dan akan kupastikan mayatmu terseret dengan—"
"Pangeran menyukai kekasihnya karena ia adalah seorang puteri tangguh dan mandiri yang mampu melindungi dirinya sendiri, namun sikap lembut dan penyayang dari gadis yang selama sebulan ini tinggal di istananya membuat perasaan pangeran mulai terkecoh. Diam-diam ia memendam perasaan kepada gadis yang diyakininya sebagai orang lain tersebut, ia tidak lagi menganggap gadis itu adalah kekasihnya yang menghilang. Sifat yang dimiliki keduanya membuatnya semakin yakin. Meskipun ia tidak tahu bahwa gadis itu adalah saudari kembar dari kekasihnya yang masih belum bisa dilupakannya, rasa cinta itu masih begitu besar untuk sang puteri.
Semakin hari pangeran terlihat banyak berubah, ia menjadi seorang yang hangat penuh kasih. ia menjadi begitu penyabar ketika gadis itu tidak sengaja mengotori pakaiannya, padahal sebelumnya jika ada yang berani membuat penampilan berantakan sedikit saja maka ia akan menghukum orang tersebut tanpa ampun."
"Itu tolol namanya." Kata Chanyeol tersungut-sungut, ia seolah tidak menyukai perubahan pangeran yang seperti itu. Berubah karena seorang gadis adalah hal terkonyol yang pernah ia dengar.
Baekhyun hanya mampu tertawa pelan.
"Kebersamaan yang mereka lalui di dalam istana membuat keduanya saling memendam rasa, mereka berdua saling menyukai. Bahkan pangeran telah menyatakan perasaannya, ia merasa sangat senang ketika gadis itu menunduk malu sembari mengangguk mengiyakan begitu pangeran mengajaknya untuk bertunangan."
Chanyeol menghela nafas, lelaki itu menyukai segala sesuatu yang berakhir menyenangkan. Namun ia harus menelan kekecewaan begitu Baekhyun kembali berucap, menandakan bahwa cerita itu belum berakhir sampai disitu.
"Seminggu sebelum acara pertunangan, hal yang tak diduga terjadi. Sang puteri yang telah lama menghilang muncul kembali, membuat seluruh penghuni istana terkejut begitu dengan tak berdosanya ia memeluk pangeran sembari mengucapkan kata-kata maaf dan rindu sementara gadis dengan wajah serupa hanya mematung tidak percaya, saudari kembarnya adalah kekasih dari pangeran yang beberapa minggu lalu mengajaknya untuk bertunangan, pangeran yang mulai dicintainya, pangeran tampan yang sebenarnya memiliki hati yang begitu hangat. Perasaan gadis itu benar-benar terluka begitu menyadari selama ini pangeran menyukainya hanya karena wajahnya yang mirip dengan saudari kembarnya, selama ini pangeran menganggapnya sebagai orang lain bukan sebagai dirinya sendiri,
Sementara pangeran dirundung dilema. Dia resah, dalam hati ia masih sangat mencintai sang puteri, namun hati kecilnya yang lain mulai merasakan cinta yang sama pada gadis yang baru ia ketahui adalah saudari kembar dari kekasihnya yang kembali muncul tersebut."
Hening.
Chanyeol mengerjap dengan wajah sedikit mengantuk, sementara Baekhyun mengulum senyum.
"It's fucking ridiculous!" Kata Chanyeol sinis dan terdengar tidak puas.
"Jika kau jadi pangeran tersebut, siapa yang akan kau pilih? Siapa sebenarnya yang benar-benar kau cintai?" Tanya Baekhyun sedikit lirih.
Chanyeol tidak menjawab pertanyaan Baekhyun.
"Ceritamu payah, dan aku tidak menyukainya sama sekali." Ucapnya pelan, matanya mulai terpejam, nafasnya perlahan teratur. Dan setelahnya ia tertidur.
Baekhyun tersenyum miris.
"Ini belum berakhir, karena kau yang nantinya akan menentukan akhir dari cerita itu." Gumamnya pelan. Baekhyun menghentikan elusan di surai coklat gelap Chanyeol. Ia bangkit dari kursinya dan pergi dari kamar tersebut.
Gadis itu berjalan dengan tertatih. Ia mencoba menahan rasa sakit dan ngilu di seluruh tubuhnya.
.
.
-Heartless-
.
Melihat adiknya pulang larut dengan beberapa luka memar di tubuhnya membuat Baekhee sangat panik, ia begitu mencemaskan Baekhyun. Adiknya demam hebat dan belum sadarkan diri sejak semalam, begitu akan hendak membawa Baekhyun ke Rumah sakit pagi ini adiknya itu tersadar dan berkata 'Aku baik-baik saja' dengan nada lembut khas seorang Byun Baekhyun. Gadis itu bahkan enggan memberitahu apa yang membuatnya seperti itu.
Baekhee mengelus lembut surai sang adik yang saat ini tengah tertidur, ia merasa ngilu melihat luka-luka memar yang bersarang di tubuh Baekhyun.
Tiga hari berlalu, kondisi Baekhyun berangsur membaik. Gadis itu merasa senang dirawat dengan begitu baik oleh kakaknya. Ia menolak ajakan Baekhee ke Rumah Sakit, Baekhyun hanya ingin dirawat oleh Baekhee.
"Bagaimana?" Tanya Baekhee, ekspresinya terlihat cemas ketika sendok berisi bubur buatannya masuk ke dalam mulut Baekhyun. Ia takut rasa buburnya buruk, karena ini pertama kalinya ia membuat bubur.
Baekhyun tampak berpikir, kemudian mengernyit membuat Baekhee ikut menyipitkan mata. Tak lama kemudian Baekhyun tersenyum sembari mengacungkan kedua jempolnya.
"Whoa, ini bubur terenak yang pernah aku cicipi." Ucap Baekhyun tulus.
Mata Baekhee berbinar, ekspresinya terlihat senang dan bangga.
"Benarkah? Ah syukurlah.." Kata Baekhee bernafas lega. "Habiskan makanmu dan setelah itu minum obat." Lanjutnya.
Baekhyun mengangguk patuh.
"Ahh, aku sudah berkata kepada Ahjussi pemilik toko susu bahwa selama semingu ke depan kau tidak akan bekerja" Kata Baekhee sembari mengambil obat untuk adiknya.
Baekhyun menggeleng tidak setuju.
"Aku sudah membaik Eonni." Katanya.
"Berhenti keras kepala, kesehatanmu lebih penting untuk saat ini." Tegas Baekhee membuat Baekhyun mendengus pelan.
Sebuah ketukan pintu membuat keduanya saling melempar pandang, siapa yang bertamu sepagi ini pikir mereka.
"SURPRISE!" Kris dan Luhan berseru begitu Baekhee membukakan pintu, gadis itu terganga disusul oleh Baekhyun yang mengikutinya dari belakang.
Sebuah lagu ucapan selamat ulang tahun dinyanyikan oleh Kris dan Luhan yang membawa kue berhiaskan lilin diatasnya.
Baekhyun dan Baekhee tidak bisa menahan haru, mereka berdua berhambur saling berpelukan dan saling mengucapkan selamat. Selama ini mereka hanya merayakannya berdua dengan kue sederhana yang Baekhyun buat sendiri. Namun kali ini, orang-orang yang mereka sayangi ikut merayakan dan bahkan memberikan kejutan.
Setelah membuat permohonan, Baekhyun dan Baekhee meniup lilin dan disambut oleh sorak riang Luhan.
"Terimakasih.. Eonni, Oppa.." Ucap keduanya bersamaan yang membuat Kris dan Luhan terkekeh.
"Berkemaslah." Ucap Kris yang membuat Baekhyun Baekhee menatapnya bingung
"Kita akan berlibur ke pulau Jeju" Jelas Luhan sembari berseru.
Baekhyun berbinar sementara Baekhee sedikit ragu. Karena sejujurnya ia masih mencemaskan kondisi Baekhyun saat ini.
"Tapi.." Ucap Baekhee tertahan. Ia mengalihkan pandangannya kearah Baekhyun yang juga memandangnya.
"Tapi?" Kris dan Luhan mengernyit.
Baekhee menghela nafas begitu melihat Baekhyun dengan tatapannya yang memelas, mungkin berlibur akan membuat adiknya itu merasa lebih baik.
"Tapi.. Umm, kapan kita berangkat Oppa? Aku sudah tidak sabar." Kata Baekhee riang.
"Hari ini juga, jadi cepatlah berkemas." Sahut Kris tersenyum kepada kedua adiknya.
.
.
-Heartless-
.
"Kau gagal? Kenapa baru memberitahukannya padaku sekarang?" Tanya seorang Pria dengan ekspresi wajah mengeras. Dia— Kang Minhyuk.
"Maafkan saya, tuan. Hal sepenting ini tidak mungkin saya beritahukan melalui sambungan telepon jadi saya memutuskan untuk memberitahukannya setelah anda kembali dari Jepang." Sahut lelaki yang berdiri di depan meja kerja Minhyuk, ia merupakan pembunuh bayaran yang ditugaskan oleh lelaki bermarga Kang tersebut.
Minhyuk mengusap kasar wajahnya.
"Tolol! Melenyapkan Park Chanyeol saja tidak becus!" Ia menggebrak meja dengan keras tanganya terkepal kuat.
"Semua ini karena gadis itu." Gumam si pembunuh bayaran.
"Gadis?" Minhyuk mengernyit.
"Malam itu saya mengikuti Park Chanyeol, dia terlihat bersama seorang gadis. Dan mungkin gadis tersebut adalah kekasihnya dilihat dari kebersamaan mereka dan gadis itu pula yang menolongnya. Meskipun saya berhasil menabrak Park Chanyeol, namun kondisinya sudah semakin membaik saat ini karena lukanya tidak terlalu serius."
Kedua alis Minhyuk bertautan, menandakan bahwa ia sedang berpikir keras saat ini. Kemudian sudut bibirnya sedikit terangkat.
"Cari tahu siapa gadis itu! Dan jika terbukti dia adalah kekasih Park Chanyeol, maka dia akan sangat berguna. Meskipun kecil kemungkinannya jika Park Chanyeol akan peduli mengingat betapa brengseknya dia."
"Baik, tuan" Tukas pembunuh bayaran itu mengakhiri percakapan.
.
.
Minhyuk memasuki kamar adiknya— Kang Seulgi. Seperti biasa, wanita itu akan berdiam diri di balkon. Sang kakak menghampirinya.
"Kenapa kau suka sekali berdiam diri disini? hum?" Tanya Minhyuk lembut mengelus rambut Seulgi.
Wanita itu tak bergeming, seperti sebelumnya ia akan selalu bungkam.
"Park Chanyeol," Minhyuk memberi jeda, dilihatnya Seulgi mengerjap. Ekspresinya sedikit berubah meskipun wanita itu masih bungkam. "Ada seorang gadis yang dekat dengannya saat ini, dan sepertinya mereka menjalin hubungan yang sangat dekat."
Seulgi masih bungkam, namun kilatan marah begitu jelas terpancar di kedua bola matanya. Tangannya mulai terkepal.
Minhyuk meghela nafas pelan lantas berbalik dan hendak berlalu.
"Siapa gadis itu?" Suara yang amat ia rindukan menyapa indera pendengarannya menghentikan langka Mihyuk, suara itu terdengar dingin penuh penekanan. Namun Minhyuk begitu senang sekaligus merasa miris, karena pada kenyataannya hanya Park Chanyeol yang bisa membuat Seulgi kembali bersuara setelah sekian lama.
"Oppa tidak tahu—"
"Oppa harus tahu!" Tuntut Seulgi, suaranya meninggi. "Oppa harus tahu!" Seulgi mengulang perkataannya. "Tidak ada yang boleh merebut Chanyeol dariku!" Kata Seulgi sembari mengeleng-gelengkan kepalanya, suaranya sedikit bergetar sorot matanya kian menajam.
"Seulgi-a.."
"CHANYEOL HANYA MILIKKU!" Teriak Seulgi membuat Minhyuk tersentak. Wanita itu mendongak, matanya sudah memerah dan siap menumpahkan cairan bening yang sudah terbendung di pelupuk matanya, membuat perasaan Minhyuk begitu terluka. Sudah sangat sering Seulgi menangisi seorang lelaki keparat seperti Park Chanyeol. Minhyuk merengkuh sang adik dan memeluknya erat. Dalam hati ia berjanji akan melakukan apapun untuk adiknya.
Anything he would do just for her..
"Oppa harus membawa jalang itu padaku," Perintah Seulgi penuh penekanan, "Oppa akan melakukannya untukku." Lanjutnya dengan suara yang nyaris tak terdengar, tatapannya kembali kosong, mulutnya kembali bungkam. Jejak air mata menodai pipi mulusnya.
Tentu.. Oppa akan melakukannya untukmu... Batin Minhyuk. Lelaki itu terus mengecup puncak kepala adiknya.
.
.
-Heartless-
.
Ruangan besar yang dihuni oleh seorang lelaki itu begitu sunyi, hanya terdengar suara jarum jam yang terus bergerak maju dan sesekali suara gemerisik kertas terdengar begitu Park Chanyeol membuka halaman dari berkas-berkas perusahaan yang sedari tadi membuatnya terfokus. Lelaki itu terlihat semakin berkarisma ketika menjelma menjadi seorang yang gila kerja. Beberapa hari terakhir ini ia memang disibukkan oleh beberapa masalah perusahaan yang harus ia tangani.
Chanyeol bahkan tidak mempunyai waktu untuk sekedar bersenang-senang, sudah seminggu ini ia jarang mengujungi Club. Lelaki itu lebih sering menghabiskan waktu di Restoran bernuansa klasik bersama beberapa rekan bisnisnya.
Ia merindukan Shot glass berisi cairan beralkohol yang biasa ia nikmati dengan beberapa butir pil Ekstasi dan ia butuh menelanjangi wanita yang akan memuaskan hasratnya diatas ranjang.
Namun semua itu dienyahkannya untuk sementara, ia adalah lelaki yang bertanggung jawab penuh atas pekerjaannya.
He loves his job..
And no one could deny it..
Suara ketukan pintu membuat fokus Chanyeol membuyar.
"Masuk." Katanya.
Jongdae memasuki ruang kerja tuan mudanya tersebut. Lelaki itu membungkuk hormat begitu berdiri di depan meja kerja Park Chanyeol.
"Sudah kau temukan siapa pemilik mobil itu?" Tanya Chanyeol tanpa mengalihkan pandangannya dari lembaran berkas perusahaan.
"Maafkan saya, tuan muda. Mobil yang dipakai orang tersebut bernomor plat palsu dan tidak terdaftar sama sekali. Tapi saya masih berusaha untuk mencari orang tersebut." Kata Jongdae terdengar hati-hati.
Chanyeol menghentikan kegiatannya. "Kau jadi semakin lamban, Kim Jongdae." Ucap Chanyeol santai namun terdengar begitu megancam, membuat Jongdae sedikit waspada karena bisa saja tuan mudanya itu mengamuk saat ini juga.
"Maafkan saya, tuan muda." Jongdae membungkuk sopan namun sedikit tersentak begitu Chanyeol menggebrak meja dengan kerasnya
"Aku tidak butuh permintaan maafmu! Aku hanya ingin kau membawa bajingan yang sudah berani membuatku celaka." Perintah Chanyeol. Ia mengalihkan pandangannya kearah Jongdae, tatapannya berubah tajam kelihatan sekali kilatan amarah dikedua bola matanya.
Lelaki itu geram, ia akan menghabisi siapapun itu yang berani menyentuh bahkan membuat tubuhnya mendapatkan luka memar. Tak ia pungkiri jika dirinya mempunyai banyak musuh, dan Chanyeol yakin orang yang beberapa hari lalu mencoba mencelakainya adalah salah satu musuhnya.
Chanyeol semakin mengeraskan ekspresinya, dalam hati ia sudah melafalkan beberapa cara untuk membuat bajingan itu merasakan sakit luar biasa, sebelum akhirnya Park Chanyeol membuat orang itu mati terendam oleh darahnya sendiri.
Tentu saja. Siapa bajingan itu hingga ia pikir ia bisa melakukan hal yang nyaris membuat nyawa seorang Park Chanyeol melayang?
"Jangan mengecewakanku, Jongdae. Aku menggajimu agar kau melakukan pekerjaanmu dengan benar. Akan sangat sulit bagimu jika aku marah, kau mengerti?" Kata Chanyeol yang kembali fokus pada berkas-berkasnya.
"Saya mengerti." Sahut Jongdae sopan.
"Apa ada jadwal penting besok?" Tanya Chanyeol.
"Tidak ada, tuan. Tapi pesta ulang tahun nona Yoora.." Sahut Jongdae sedikit ragu, karena hal itu tidak berkaitan dengan pekerjaan Chanyeol sama sekali.
"Ahh, aku hampir melupakannya, dimana kali ini?" Tanya Chanyeol.
"Di pulau Jeju, tuan muda."
.
.
.
TBC
.
.
AN:
Jengjenggg... :D Ini update nya janjian loh sama author goodgalriri hehhee aku tersanjung diajakin update bareng sama senpai sekece dia :* kak riri jjang!
Aaakk Happy Birthday buat the one and only my Lovely B! Byun Baekhyun! Saengil Chukkae uri Baekhyunee :* Semoga tambah sholeha(?) , langgeng sama papih Ceye, punya momongan lagi ya biar njes sama njek ada temennya :D #HidupCHANBAEK *lah
Dan pada hari ini juga Hearteulesseu genap berusia 2bulan yeayy! *disorakin* #GakAsik
Wassalam..
