HEARTLESS
Cast:
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
And OCs
.
.
ChanBaek (GS)
Romance, Hurt/Comfort
.
.
DON'T LIKE DON'T READ!
Happy Reading!
.
Resort Jeju Art Villas, Seogwipo City, Jeju Island
Cahaya kekuningan berpendar dari beberapa lampion bulat yang bergantungan di sekitar halaman luas sebuah Resort mewah terkenal milik keluarga Park.
Halaman di bagian samping Resort itu disulap dengan apik menjadi sebuah tempat pesta bernuansa elegan.
Alunan piano mengalun lembut, beberapa pelayan berlalu-lalang menawarkan minuman kepada para tamu undangan.
Pesta ulang tahun dari putri sulung Park Sunwoo dan Park Minyoung itu hanya dihadiri oleh beberapa kerabat dan orang-orang terdekat saja. Park Yoora memang sengaja meminta Sunwoo untuk tidak mengundang rekan-rekan bisnis Ayahnya tersebut.
Ini hari bahagianya, dan Yoora tidak ingin pestanya menjadi ajang untuk para kaum jetset itu membicarakan bisnis
Park Yoora mengenakan gaun Backless putih yang membalut tubuh rampingnya, membuatnya terlihat seksi dan berkelas, kaki jenjangnya terbalut sepatu berhak tinggi berwarna silver, ia sangat cantik meskipun Makeup-nya tidak terlalu mencolok. Yoora tersenyum ramah, rona kebahagiaan terpampang jelas di wajahnya ketika mendapati ucapan selamat dari para tamu undangan.
Pemandangan berbeda datang dari seorang lelaki yang sedari tadi hanya duduk dengan wajah masam. Park Chanyeol tidak tahu berapa lama lagi ia harus berada di pesta yang membosankan menurutnya, ia menggoyang pelan gelas Champagne di tangannya sebelum akhirnya meneguk habis isi dari gelas tersebut. Lelaki yang memakai setelan Jas berwarna abu itu membuat para tamu undangan yang sebagian besar adalah teman-teman Yoora tersebut menatap kagum akan ketampanannya.
"Kau merusak pestaku!" Dengan suara pelan Yoora berbicara sembari menekan giginya.
Chanyeol menaikkan sebelah alisnya, sejak kapan kakaknya itu berada disini?
"Tak bisakah kau tersenyum?" Yoora kembali berucap, merasa kesal melihat Chanyeol yang sedari tadi berwajah ketus.
"Dan kenapa aku harus?" Balas Chanyeol dengan ekspresi datarnya.
Oh Tuhan, Yoora menghela nafas. Seharusnya ia tahu adiknya itu memang seperti itu, jarang berbicara, minim ekspresi, dan suatu hal yang tidak mungkin bahwa Chanyeol akan dengan ramahnya tersenyum sepanjang pestanya berlangsung.
Keduanya terdiam cukup lama sampai sebuah suara pelan memutus keheningan.
"Happy Birthday, Noona!" Lelaki berkulit putih pucat berbisik tepat di depan telinga Yoora, lelaki itu mengecup pipi Yoora dengan cepat dan memasang ekspresi mengejek setelahnya.
"Anak nakal! Bagaimana bisa kau tidak menghubungiku terlebih dahulu, Oh Sehun?" Yoora memukul-mukul punggung Sehun, membuat lelaki itu mengaduh kesakitan.
"Surprise!" Sehun merentangkan kedua tangannya kemudian memeluk Yoora dengan sangat dramatis, "Aku tidak mungkin melewatkan hari istimewa ini, Noona." Ia melepas pelukannya dan tersenyum.
"Aigoo!" Yoora kembali memukul punggung Sehun.
Chanyeol memasang ekspresi jengah melihat interaksi berlebihan kakak dan sepupunya itu. Mereka sama saja pikirnya.
Ia bahkan tidak terkejut sama sekali mendapati Sehun berada disini, Chanyeol sudah terbiasa dengan hal-hal konyol yang sepupunya itu lakukan.
"Kau terlihat mengerikan, Park Chanyeol." Ucap Sehun. Ia terkekeh begitu mendapati tatapan tajam mematikan dari sepupunya itu. Sehun tahu jelas bahwa Chanyeol sangat tersiksa berada disini. Keberadaan Orang tua Chanyeol sedikit membatasi keleluasaan lelaki tersebut.
Well, setidaknya Chanyeol harus sedikit menahan hasratnya untuk tidak menerkam salah satu teman kakaknya yang ia ketahui adalah seorang Designer muda kenamaan. Wanita cantik dengan gaun belahan tinggi yang mempertontonkan kaki jenjang dan paha mulusnya.
Dan haruskah Chanyeol merasa bangga bahwa wanita itu tidak sama sekali mengalihkan pandangan darinya? Wanita itu bahkan sesekali mengerling nakal kepadanya.
Shit! Umpat Chanyeol dalam hati.
Ingatkan Chanyeol untuk tidak membuat wanita itu berjalan tertatih esok hari.
"Dimana Paman dan Bibi?" Suara Sehun memecah pemikiran erotis yang terlintas di benak Chanyeol.
"Mungkin di dalam, temuilah." Sahut Yoora dan dibalas anggukan oleh Sehun yang lantas berlalu.
Tak lama kemudian Yoora memekik terdengar gembira sembari berjalan entah menghampiri siapa, Park Chanyeol memejamkan mata, suara pekikan yang melengking itu berpotensi membuat pendengarannya rusak. Ada hal mengagumkan apa sebenarnya? Dengan malas Park Chanyeol berbalik, wajah masamnya berganti terkejut, matanya menyipit melihat dua wanita yang tengah berpelukan dengan Yoora.
.
.
Luhan dan Baekhee berjalan dengan anggun begitu keluar dari mobil, mereka membuat beberapa tamu undangan lainnya mengerjap kagum. Kecantikan mereka seolah menghipnotis siapapun yang melihatnya.
Kedatangan Keduanya disambut riang oleh Yoora.
"Aku menunggumu sedari tadi, dimana Kris?" Tanya Yoora.
"Dia bilang akan menyusul, Eonni." Sahut Luhan tersenyum.
Baekhee berdiri resah di tempatnya begitu pandangannya tertuju pada sosok lelaki yang juga memandanganya dari kejauhan. Tatapan tajam dan ekspresi dingin lelaki itu bisa langsung ia kenali. Park Yoora, Park Chan.. Oh tidak! Pikir Baekhee. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, gugup.
Why is he so fucking handsome? Kembali Baekhee membatin.
Gadis itu mengernyit begitu melihat Chanyeol menunjuknya, kemudian menunjuk dirinya sendiri dan setelahnya memberi isyarat dengan kepalanya agar Baekhee mengikuti lelaki itu.
Dengan ragu Baekhee meminta izin kepada Luhan yang tengah mengobrol dengan Yoora untuk berkeliling di sekitar tempat pesta. Gadis itu berjalan perlahan mengikuti Park Chanyeol yang sudah jauh di depannya. Lelaki itu berhenti di depan sebuah kolam renang yang berada di sisi lain Resort tersebut, tempat itu sedikit lebih tenang dengan pencahayaan yang tidak terlalu terang.
"Hai.." Sapa Baekhee yang terdengar kikuk, jujur saja ia gugup saat ini. Ini adalah pertemuannya dengan Chanyeol setelah kejadian waktu itu.
Chanyeol memiringkan kepala ke satu sisi, lelaki itu tengah menelisik penampilan Baekhee.
Cantik.. Batinnya.
"Kau kenal dengan Luhan?" Tanya Chanyeol, sejujurnya ia sangat penasaran. Mengapa Baekhee bisa datang bersama Luhan?
"Umm, dia Eonni-ku." Sahut baekhee.
"Eonni?" Sebelah alis Chanyeol terangkat.
"Well, my brother's wife." Baekhee sedikit mengangkat bahunya.
"Kris?" Tanya Chanyeol semakin bingung.
"Hn.." Sahut Baekhee sejenak, "Hei, kau mengenal Oppaku? Kau mengenal Luhan Eonni juga?" Tanya Baekhee setelah tersadar.
Chanyeol menyeringai. Takdir macam apa ini? pikirnya.
"Luhan mantan kekasihku." Sahutnya enteng. "Dan Kris, dengan berat hati aku katakan bahwa dia adalah rekan bisnisku." Lanjutnya dengan nada sinis.
Baekhee terkejut tentu saja, gadis itu membulatkan matanya sempurna.
"B-benarkah?" Tanyanya.
Chanyeol menaikkan sudut bibirnya, ia melangkah maju mempersempit jarak diantara mereka.
"Kau cemburu?" Tanyanya.
"Untuk apa aku cemburu?" Baekhee mundur, ia semakin gugup. Gadis itu tidak cemburu, ia hanya terkejut mengetahui fakta bahwa Luhan pernah menjadi kekasih dari lelaki yang ia sukai. Punggungnya menabrak tiang kokoh yang otomatis membuat langkahnya terhenti. Gadis itu menelan salivanya dengan susah payah, tenggorokannya seolah kering.
"A-apa yang kau lakukan?" Tanyanya terbata. Tangannya sudah basah oleh keringat.
"Menurutmu?" Chanyeol bertanya dengan suara beratnya, mata sayunya menatap Baekhee dalam. Gadis itu tidak sedang berulah, dan ia suka. Ia selalu suka jika gadis itu tidak melayangkan tatapan tajamnya.
Chanyeol menyampirkan anak rambut ke telinga Baekhee, dengan gerakan lembut ia menyusuri setiap inci wajah cantik yang sejujurnya memenuhi kepalanya beberapa hari terakhir, dan kemunculannya saat ini membuat suasana hatinya sedikit membaik.
As always..
His mood change so drastically..
Because of her..
Refleks, lelaki itu memeluk Baekhee, membuat gadis itu memekik tertkejut.
"A-apa yang kau laku—?
"Sstt.. hanya sebentar" Ucap Chanyeol parau.
Dan Baekhee bersumpah suara Chanyeol itu terdengar sangat seksi.
Hell, pesona seorang Park Chanyeol kalian ingat?
Chanyeol tidak mengerti dengan apa yang ia lakukan. Yang pasti itu bukan karena pengaruh Champagne.
Awalnya hanya sebuah pelukan, namun bahu mulus gadis itu membuat ekspresi Chanyeol menggelap, mengundang beberapa pemikiran erotis memutari otaknya. Ia mengecup mesra bahu mulus itu berkali-kali, menghirup aroma lain yang asing, sebelah tangannya mengelus punggung Baekhee dan ia semakin lupa diri. Mulutnya beralih pada leher jenjang Baekhee dan mengecup rakus area tersebut, lidahnya bermain-main di telinga Baekhee sebelum akhirnya mengigit cupingnya pelan.
"P-park Chanyeol.." Baekhee menggeliat di tempatnya, gadis itu mendesis terdengar marah bersamaan dengan akal sehatnya yang berteriak untuk menghentikan perbuatan Chanyeol. Jantungnya berpacu tanpa kendali. Ia merasa tubuhnya memanas seketika, gadis itu meremas kemeja di bagian dada Chanyeol, ingin sekali ia berontak. Namun mengapa ia seolah menikmati apa yang lelaki itu lakukan? Mengapa sentuhan dan aroma maskulin lelaki itu membuatnya tak berdaya? Baekhee merasa seperti seorang wanita nakal yang membiarkan lelaki itu mencumbunya sensual saat ini.
Chanyeol kembali merengkuh Baekhee, memerangkap tubuh mungil itu dengan kedua tangan kekarnya. Matanya yang sudah dipenuhi kabut gairah menatap Baekhee dalam, jarak mereka semakin menyempit bahkan hidung keduanya saling bersentuhan. Tak lama kemudian Chanyeol mencium bibir Baekhee, ciumannya begitu menuntut dan bernafsu, ia melumatnya kasar, menghisap, mengecap rasa itu dengan sedikit berharap, namun Chanyeol harus menelan kekecawaan begitu rasa berbeda itu kembali ia dapatkan. Entah mengapa ia merindukan ciuman pertama dengan gadis ini, Chanyeol ingin merasakannya lagi.
Baekhee sedikit ragu namun akhirnya ia membalas ciuman Chanyeol dengan susah payah, lelaki itu sangat menuntut dan memaksa, dengan perlahan gadis itu mengalungkan lengannya di leher Chanyeol.
Mereka begitu menikmati ciuman panas tersebut, lidah mereka saling bertautan, keduanya seolah melayang ke dunia lain sebelum akhirnya suara dering ponsel yang terdengar nyaring menginterupsi kegiatan mereka, membuat dua insan yang saling berpagutan itu kembali ke dunia nyata. Baekhee terengah sementara Chanyeol mengalihkan pandangannya, dan lelaki itu bersumpah ia melihat seseorang disana, dibalik cahaya temaram lampu yang membuatnya tak terlihat jelas. Wanita itu berdiri di dekat beberapa tanaman hias. Dan mengapa perasaan Chanyeol mendadak sedikit tidak tenang saat ini? Siapa wanita itu?
Dengan langkah pelan lelaki itu menghampiri wanita tersebut, ia bahkan mengabaikan Baekhee yang masih terengah setelah ciuman panas yang baru saja terjadi diantara mereka.
Chanyeol menyipitkan mata melihat wanita itu berbalik dan berlari seolah menghindar, lelaki itu mempercepat langkah, tidak ingin kehilangan jejak. Ia melihat wanita itu berbelok dan menghilang di balik tembok. Dan ketika ia berhasil melewati tembok tersebut, beberapa meter dari tempatnya berdiri sebuah pemandangan lain tertangkap oleh atensinya.
.
.
-Heartless-
.
"Apakah kita sudah terlambat?" Tanya Baekhyun cemas.
Kris yang sedang mengemudi menggeleng pelan.
"Eonni-mu dan Baekhee pasti baru sampai."
Baekhyun meringis, ia merasa bersalah karena sore tadi merengek mengajak Kris pergi ke pantai.
Meskipun Luhan dan Baekhee menolak dan memilih beristirahat, namun Kris tidak bisa mengabaikan rengekan manja adiknya itu.
Dan siapa sangka Jeep yang mereka tumpangi mogok di tengah jalan ketika pulang dan memakan waktu berjam-jam untuk memperbaikinya, Kris terpaksa membiarkan Luhan dan Baekhee pergi ke pesta terlebih dahulu.
"Jaa,, kita sudah sampai." Ucap Kris.
"Tunggu, Oppa. Apa penampilanku.. umm baik?" Tanya Baekhyun cemas, gadis itu bahkan belum tahu akan menghadiri pesta siapa.
"Kau cantik, sayang." Sahut Kris tersenyum.
Kemudian keduanya turun dari mobil dan melangkahkan kaki ikut berbaur di tengah keramaian pesta yang tengah berlangsung.
"Akhirnya kalian datang.." Desah Luhan merasa lega. "Kalian baik-baik saja?" Lanjutnya.
"Kita baik-baik saja." Sahut Kris tersenyum lembut kepada istrinya.
"Dimana Baekhee Eonni?" Tanya Baekhyun, matanya menyapu ke sekeliling dan tidak menemukan saudari kembarnya dimanapun.
"Tadi dia izin berkeliling." Sahut Luhan yang sama-sama mencari keberadaan Baekhee.
"Aku akan mencarinya" Kata Baekhyun terdengar cemas, ia takut penyakit Baekhee kambuh dan bagaimana jika kakaknya itu pingsan di suatu tempat?
Oh tidak! Baekhyun menggeleng pelan bersamaan dengan langkahnya yang menderap tak tentu arah. Kemana ia harus mencari Baekhee? Tempat ini begitu luas pikirnya.
Gadis itu terus berjalan menyusuri sisi lain halaman, tak henti-hentinya ia mengerjap kagum melihat bangunan mewah Resort tersebut.
"Whoa.." Matanya berbinar melihat beberapa tanaman hias berukuran besar menghiasi sudut kolam renang dengan airnya yang jernih.
Namun dalam sekejap binar itu berubah nanar, langkahnya terhenti begitu atensinya berlabuh pada dua orang yang berada di sudut lain kolam tersebut.
Baekhyun terhenyak, nafasnya tercekat dan mulutnya mendadak kelu, disatu sisi ia merasa senang mengetahui Baekhee baik-baik saja namun di sisi lain ia merasa tidak mengerti, mengapa hatinya berdenyut sakit melihat Baekhee berpelukan dengan lelaki itu? Lelaki yang ia ketahui dengan baik, lelaki yang selalu berhasil membuat jantungnya berdegup kencang dan secara bersamaan membuatnya tersenyum penuh arti jika mengingat kejadian waktu itu.
Kejadian dimana ia membiarkan lelaki tersebut mencuri ciuman pertamanya ketika ia tertidur.
Baekhyun seharusnya berbalik ketika melihat Chanyeol mulai mencumbu mesra leher Baekhee, namun kakinya terasa kaku, langkahnya membeku. Ia membiarkan dirinya melihat itu semua, melihat bagaimana bibir mereka saling berpagutan. Membiarkan rasa sakit itu terus menjalari rongga hatinya. Jantungnya berpacu tanpa kendali.
Satu.
Dua.
Tiga tetes cairan bening yang sedari tadi mengambang di pelupuk matanya mendesak keluar, meninggalkan jejak yang menodai pipinya.
Gadis itu meremas gaun di bagian dadanya, merasa sangat sesak di bagian itu.
Baekhyun menggeleng pelan, ia tidak boleh seperti ini. Aku baik-baik saja! Byun Baekhyun, kau baik-baik saja. Batinnya meyakinkan.
Jantungnya semakin berdegup kencang ketika ponselnya mendadak berbunyi, nama Kris terpampang di layar ponsel tersebut. Akh, seharunya ia meninggalkan ponselnya di mobil. Baekhyun panik, bagaimana jika keberadaannya diketahui oleh Park Chanyeol?
Oh tidak! Chanyeol berjalan mendekat kearahnya, gadis itu berbalik ia berlari tak tentu arah.
She has never been so scared like this before..
Beberapa pikiran yang memutari otaknya membuat Baekhyun sedikit tidak fokus ketika berlari hingga menyebabkan tubuhnya bertubrukan dengan seseorang.
"Sehun.." Ucap Baekhyun.
"B? What are you— Hei, you crying?" Tanya Sehun terdengar cemas.
"Oh please.. Help me!" Baekhyun menggengam tangan Sehun dengan bergetar. Tatapannya begitu memelas.
"What's that mean?" Sehun tidak mengerti.
"Park Chanyeol.. Don't let him to see me now!" Suara Baekhyun yang ikut bergetar terdengar semakin panik.
"Chanyeol?" Sehun mengalihkan pandangannya ke depan, tak jauh dari tempatnya berdiri Park Chanyeol berlari dengan ekspresi wajah yang sulit Sehun tebak. Ada apa ini? Pikirnya. "Ow.. we're late, B." Guman Sehun. Dengan cepat ia menarik lengan Baekhyun dan memeluk gadis itu, satu tangannya ia letakan di kepala Baekhyun yang terbenam di dada bidangnya.
Chanyeol menghentikan langkah, sebelah alisnya terangkat melihat sepupunya itu memeluk seorang wanita.
"Apa kau melihat seorang wanita berjalan kearah sini?" Tanyanya seolah tidak terganggu dengan pemandangan di depannya.
"Wanita? wanita seperti apa yang kau maksud?" Tanya Sehun setenang mungkin.
"Aku tidak tahu, yang pasti jika aku menemukannya, aku akan memberinya pelajaran karena telah lancang mengganggu kegiatanku!" Ucap Chanyeol mutlak.
Tangan Sehun mengelus rambut Baekhyun pelan begitu merasakan tubuh gadis itu bergetar.
"Kegiatan? Dan kenapa kau terlihat seperti seorang yang tertangkap basah oleh kekasihmu sendiri ketika tengah bercumbu dengan wanita lain?" Tuturnya, "Whoa, apa aku benar?" Lanjutnya setelah menangkap ekspresi wajah Chanyeol yang seolah membenarkan.
"Cukup jawab pertanyaanku, Oh Sehun! Kau melihatnya atau tidak?" Desis Chanyeol tajam. Kenapa Sehun senang sekali berbelit-belit?
"Tidak. Apa kau yakin tidak salah lihat?" Balas Sehun.
Chanyeol mengerjap sejanak, tidak mungkin salah lihat pikirnya. Ia mengalihkan atensinya kepada wanita yang membelakanginya, sebelah alisnya terangkat mendapati wanita itu hanya bergeming di pelukan Sehun.
"Cinta sejatimu?" Tanya Chanyeol yang terdengar seperti mencemooh.
"Bukan urusanmu, dan bagaimana jika kau pergi dari sini? Kau mengganggu!" Balas sehun.
Chanyeol memutar bola matanya, lelaki itu berbalik kemudian berlalu dari tempat itu.
Cukup lama mereka bertahan di posisi itu setelah Chanyeol berlalu, Sehun enggan melepas pelukannya karena ia tahu Baekhyun sedang menangis. Ia bahkan merasakan kemejanya sedikit basah.
"Kau baik?" Tanyanya memecah keheningan.
Baekhyun menggeleng pelan, kepalanya masih terbenam di dada Sehun.
"Mau bercerita? Kau tahu, aku adalah seorang pendengar yang baik." Tukas Sehun lembut mengelus punggung Baekhyun. Sehun tidak mengelak, ia merasa penasaran. Ada hubungan apa antara Chanyeol dan Baekhyun? Setahunya mereka hanya pernah bertemu sekali di taman komplek waktu itu.
Baekhyun mendongak, matanya sedikit sembab.
Satu tangan Sehun terangkat dengan terampil ia menghapus jejak air mata di pipi Baekhyun.
"Jadi, kau mau bercerita?" Tanya sehun lagi.
Baekhyun mengangguk mantap. Gadis itu merasa Sehun adalah orang yang tepat untuk mendengar keluh kesahnya saat ini. Dan setelahnya Sehun mengajak Baekhyun keluar dan meninggalkan pesta yang masih berlangsung.
Mereka pergi ke pantai. Pasir, debur ombak dan langit malam pulau Jeju mengiringi setiap kata yang terlontar dari mulut Baekhyun. Ia bercerita kepada Sehun tentang apa yang selama ini terjadi. Tentangnya dengan Park Chanyeol dan juga kakaknya, Byun Baekhee.
Keduanya terdiam cukup lama. Sehun bahkan masih tidak percaya Baekhyun mempunyai saudari kembar. Lelaki itu menghela nafas berat, ia mengalihkan pandangannya kepada Baekhyun yang menerawang jauh ke depan.
"Karena itu tadi kau menangis?" Tanya Sehun memulai kembali perbincangan.
"Aku tidak tahu. Aku.. bahkan tidak sadar jika aku menangis." Tutur Baekhyun yang terdengar seperti sedang membela dirinya sendiri.
Sehun mengulum senyum.
"Ahh.. apakah sepupuku setampan itu?"
Baekhyun mengangguk kemudian menggeleng polos setelahnya.
Sehun tertawa pelan.
"Do you have a crush on him?" Tanyanya dengan nada menggoda.
"I am—WHAT?"
"You're just looks like brokenhearted girl!" Sehun terkekeh. Menggoda temannya itu cukup menyenangkan.
"I am not!"
"You're terrible liar, B."
"I am not lying.." Baekhyun tetap mempertahankan ekspresi polosnya.
"Alright, okay, you win Byun Baekhyun-ssi" Kata Sehun. Ia bisa maklum jika Baekhyun bersikap demikian, gadis itu hanya terlalu baik hati untuk menyakiti perasaan orang lain.
Especially her sister..
Baekhyun tersenyum.
"Aku merasa jengkel sekarang. Kenapa dia sangat bodoh tidak bisa membedakan kalian berdua." Gumam Sehun terdengar sebal.
"Itu lebih baik, Sehun." Baekhyun tertawa hambar.
Sehun menepuk bahu Baekhyun pelan.
"Jadi tugasku disini adalah berpura-pura tidak tahu tentang apapun?"
"Hn.. kau bisa melakukan itu?"
"Bagaimana jika Yoora Noona tahu? Kembaranmu datang ke pesta, tidak menutup kemungkinan jika mereka bertemu. Apa kau yakin kakak dan kakak iparmu tidak memberitahu soal kalian?" Tanya Sehun yang membuat Baekhyun sedikit resah. "Asal kau tahu, B. Wanita bernama Park Yoora itu bukan penjaga rahasia yang bisa diandalkan! Dia bermulut besar." Lanjut Sehun sedikit kesal mengingat dulu wanita itu membeberkan rahasia memalukannya pada gadis yang ia taksir.
"Bagaimana ini, Sehun?" Baekhyun menekuk wajahnya dalam-dalam, semua yang Sehun katakan sangat mungkin terjadi.
"Ah, aku baru ingat. Wanita itu mempunyai musuh besar bernama Alkohol. Kau ingin tahu apa yang akan terjadi padanya besok?" Tanya Sehun dengan ekspresi geli.
Baekhyun mengangguk.
"Dia akan lupa segalanya!" Tutur Sehun mantap.
Mata baekhyun membola, ia menutup mulutnya.
"Dia akan hilang ingatan maksudmu?"
Tawa Sehun meledak.
"Bukan, sekarang wanita itu pasti sedang minum dengan teman-temannya sampai mabuk. Dan besok ia akan melupakan semua yang terjadi malam ini. Ck, dia bahkan tidak akan ingat jika aku datang dan mengucapkan selamat." Ucap Sehun yang terdengar nelangsa diakhir kalimatnya.
"Apakah separah itu?"
Sehun mengangguk.
"Alkohol adalah musuh terbesarnya, dia akan melupakan kalimat sederhana seperti 'mereka kembar' esok hari." Ucap Sehun.
Baekhyun mendesah lega, ia merasa aman setidaknya untuk saat ini. Karena tak menutup kemungkinan jika Yoora akan ingat secepatnya.
Kuharap Eonni dan Oppa tidak memberitahu Yoora Eonni.. Batinnya berharap. Meskipun itu hal yang mustahil.
"Demi Tuhan, B! berhenti memasang tampang seperti itu." Cibir Sehun begitu melihat ekspresi Baekhyun yang seperti sedang menanti eksekusi mati.
Baekhyun menghela nafas panjang.
"Baiklah, maafkan aku. Ngomong-ngomong kapan kau pulang dari Roma?"
"Kemarin, wanita itu pasti mengamuk jika aku tidak datang menghadiri pesta ulang tahunnya. Meskipun aku tidak tahu dia akan ingat atau tidak tentang kehadiranku." Sahut Sehun bergidik ngeri mengingat Yoora yang memukul punggungnya tanpa ampun.
Baekhyun meringis, jika ia tahu dirinya menghadiri pesta ulang tahun Park Yoora, ia akan mencari berbagai alasan untuk tidak ikut bersama Kris tadi.
"Kau akan tinggal lama?" Ia bertanya penuh harap.
"Sepertinya begitu. Ada hal penting yang harus aku urus terlebih dahulu selain cinta sejati" Sahut Sehun berlebihan.
"Benarkah?" Baekhyun berbinar.
Sehun mengangguk tersenyum hangat.
Setelah merasa perasaan Baekhyun sedikit membaik, Sehun mengantarkan temannya itu pulang ke Villa tempat dimana gadis itu menginap.
.
.
-Heartless-
.
Tirai abu tua di salah satu kamar Villa besar itu sedikit terbuka, membuat sinar matahari pukul 10 pagi itu berlomba-lomba untuk masuk. Cahaya hangatnya hinggap di wajah Park Chanyeol yang masih bergulung di dalam selimut yang menutupi tubuhnya. Lelaki itu mengernyit dalam tidurnya, merasa silau. Tangannya meraba-raba pada nakas di samping ranjang, ia meraih remote lantas menekan tombol dan mengarahkannya pada tirai yang secara otomatis tertutup rapat kembali.
Drrt..
Fuck!
Drrt...
The fucking hell!
Drrt..
"AARRGHHHH.." Lelaki itu mengerang, ia benci ketika tidurnya terganggu. Orang tolol mana yang menghubunginya sepagi ini di akhir pekan pikirnya.
Dan hanya terdengar sumpah serapah yang keluar dari mulut Chanyeol setelahnya.
Kesal, lelaki itu memilih untuk menggapai sadar. Matanya setengah terbuka ketika membaca sederetan pesan masuk.
From: +821023xxxx
Hai, sayang.
Sebenarnya aku ingin marah, mengingat kau meninggalkanku begitu saja tadi malam. Aku bahkan masih dalam keadaan telanjang. Kau akan membalas pesanku bukan?
Chanyeol menguap malas, pesan itu tidak penting sama sekali. Tidak tahu malu sekali wanita itu pikir Chanyeol. Ia membuka pesan berikutnya.
From: Yoora
Wake up! Today, you'll go with me!
Oh Tuhan! Chanyeol bahkan langsung mengahapus pesan tersebut. Chanyeol rasa Yoora tertular sifat aneh Sehun, mengapa wanita itu mengiriminya pesan sementara kamar mereka di Villa ini bersebelahan?
Chanyeol membuka pesan terakhir.
From: +821059xxxx
Ini aku, kau bilang aku akan mati jika tidak mengirimimu pesan. Umm.. Good morning by the way..
Sebelah alis Chanyeol terangkat, sekelebat kejadian tadi malam seketika memenuhi kepalanya.
Ciuman panasnya dengan gadis itu tadi malam membuatnya tersenyum samar. Bagaimana bisa gadis sepolos itu membuat Chanyeol begitu bergairah namun secara bersamaan mampu membuatnya menahan hasrat tersebut untuk tidak berbuat lebih? Chanyeol berdecak kagum, ia tertawa keras setelahnya. Gadis itu membuat Chanyeol melampiaskan gairahnya pada Designer muda dan menyetubuhinya sangat keras tadi malam.
What did you do to me, B? Pikir Chanyeol.
Oh, jika saja wanita itu tidak muncul dan mengganggu ciuman panas mereka. Kedua alis Chanyeol bertaut, ekspresinya perlahan berubah menjadi serius.
Siapa dia? Kenapa dia lari begitu Chanyeol mendekat kearahnya? Beberapa pertanyaan semacam itu terlintas di benak Chanyeol.
Wanita misterius itu membuat Chanyeol merasa tak nyaman sejak tadi malam, dan perasaan itu masih ia rasakan sampai saat ini.
Dan kenapa kau terlihat seperti seorang yang tertangkap basah oleh kekasihmu sendiri ketika tengah bercumbu dengan wanita lain?
Chanyeol mengumpat begitu pertanyaan konyol Sehun tadi malam terngiang, memutari otaknya. What the heck is that mean? Pikirnya.
Lelaki itu mengacak rambutnya kasar, ia melempar ponselnya asal lalu bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Ia butuh mendinginkan otaknya yang mendadak memanas pagi ini.
.
.
-Heartless-
.
Seminggu berlalu, dan selama itu pula Baekhee tak henti-hentinya menebar senyum kepada siapapun. Gadis itu berubah menjadi gadis ramah yang membuat beberapa tetangganya memandang heran.
Yeah, satu nama yang membuatnya seperti itu.
"Akh aku merindukan Eonni dan Oppa, kenapa mereka tidak tinggal di Korea saja." Ucap Baekhee yang tengah menonton televisi.
"Aku juga merindukan mereka." Sahut Baekhyun yang duduk di sampingnya, gadis itu tengah merajut, membuat sebuah baju hangat.
Baekhee mengalihkan pandangannya, ia meneliti dengan baik jemari lentik Baekhyun yang dengan lincahnya menyambung helai demi helai benang wol berwarna merah.
"Kenapa kau sangat pintar merajut?" Baekhee terkagum-kagum.
Baekhyun tersenyum lembut tanpa mengalihkan atensinya kemanapun.
"Aku belajar sangat giat untuk bisa melakukan ini" Kata Baekhyun.
"Tapi kenapa ukurannya sangat kecil?" Baekhee mengernyit.
"Aku membuatkan ini untuk Jackson, kau tahu? Dia sedang merajuk karena sudah seminggu aku tidak mengantarkan susu untuknya." Baekhyun meringis, merasa bersalah.
"Apa itu akan berhasil?"
Baekhyun mengangguk.
"Hati siapapun akan menghangat jika kau memberi sesuatu yang mengandung ketulusan di dalamnya." Kata gadis itu. Ia tersenyum samar, Jackson pasti akan langsung memeluk dan menciumnya ketika Baekhyun memberinya baju hangat yang ia rajut saat ini.
"Benarkah?" Tanya Baekhee, gadis itu menggigit bibir bawahnya. Apa dia akan berhenti marah jika aku membuatkannya satu.. Pikirnya.
"Kau baik?" Tanya Baekhyun begitu mendapati Baekhee sedikit melamun.
"Umm, kau mau mengajariku merajut?"
Sebelah alis Baehyun terangkat.
"Tentu, tapi?" Baekhyun mengangkat bahunya tidak mengerti, ia pikir merajut bukanlah hal yang menarik untuk kakaknya itu.
Baekhee merengut.
"Tuan Park itu sepertinya sedang marah padaku."
Jemari lentik Baekhyun yang tengah menari lincah diatas kain rajut itu berhenti. Oh jangan lagi pikirnya.
Baekhee tidak henti-hentinya membicarakan tentang Park Chanyeol ketika mereka kembali dari pulau Jeju sampai saat ini. Baekhyun harus mati-matian mengontrol detak jantungnya tiap kali Baekhee menceritakan tentang kedekatannya dengan lelaki itu.
Baekhyun bahkan harus mendengar pekikan senang Baekhee setiap gadis itu mendapat pesan dari Park Chanyeol.
"Kenapa dia marah?" Tanya Baekhyun dengan nada senormal mungkin. Ia kembali merajut.
"Aku tidak tahu, dia terdengar lebih ketus dari biasanya ketika aku menghubunginya kemarin. Dia bahkan tidak membalas pesanku sampai sekarang." Baekhee merengut.
"Mungkin dia sibuk, Eonni."
"Tidak, dia bahkan membalas pesanku ketika sedang meeting." Baekhee tidak berbohong, Chanyeol selalu membalas pesannya meskipun hanya kata-kata singkat sepert 'Ya' atau 'Tidak' yang ia dapatkan sebagai balasan. Ah, Baekhee bahkan tidak melupakan kalimat-kalimat ancaman yang mengandung hal-hal sensual yang lelaki itu kirimkan padanya. Baekhee menggeleng pelan, mengapa ia berubah menjadi gadis mesum yang memikirkan hal-hal erotis begitu mengingat kejadian seminggu lalu di Jeju? Dan mengapa wajahnya mendadak memanas sekarang?
Baekhyun mengerjap. Tidak menyangka kakaknya sudah sedekat itu dengan Park Chanyeol.
"Umm, jadi kau akan membuatkannya baju rajut seperti ini?"
Baekhee mengangguk antusias.
"Ajari aku.." Ia memelas.
"Baiklah, aku akan mengajarimu" Kata Baekhyun lembut, senyumannya selalu berhasil membuat semua orang berpikir bahwa ia baik-baik saja.
.
Baekhyun tersenyum puas melihat hasil karyanya, baju hangat rajut berwarna merah itu akan sangat cocok di pakai oleh Jackson. Gadis itu melirik jam, sudah hampir petang. Ia melirik kearah lain dimana Baekhee tertidur di atas sofa, Bakhyun tersenyum melihat kakaknya itu tidur dengan sangat pulas, wajahnya terlihat tenang. Sudah sangat lama ia tidak melihat hal tersebut, dan Baekhyun berterimakasih kepada Tuhan karena telah membuat kakaknya merasakan kebahagiaan.
Baekhyun melipat baju rajut yang berada dalam genggamannya, ia harus mencucinya terlebih dahulu sebelum memberikannya kepada Jackson.
.
.
-Heartless-
.
Ruangan yang terlihat seperti sebuah gudang tua itu sangat gelap, hanya terdapat satu lampu dengan cahaya temaram yang menyinari seorang lelaki yang duduk terikat disebuah kursi. Kepalanya yang bercucuran darah itu menunduk, menekuk wajahnya yang nyaris tak berbentuk lagi. Kesadarannya hanya tinggal setengah, ia mendongak begitu mendengar pintu dobel gudang itu terbuka, menampilkan seorang lelaki yang berjalan angkuh menghampirinya.
Ia tahu betul siapa lelaki itu, tidak ada yang tidak mengenali seorang Park Chanyeol pikirnya.
Chanyeol menatapnya dengan sorot yang mampu mebuat siapapun tewas seketika, ekspresinya mengeras terlihat marah.
Park Chanyeol menelisik keadaan lelaki di hadapannya, memastikan tidak ada sedikitpun bagian dari tubuhnya yang tidak terluka. Ia menyeringai mendapati lelaki yang berusaha membunuhnya tempo hari terkulai lemah dengan luka di sekujur tubuh dan darah yang terus mengalir dari kepalanya. Ah, Chanyeol bahkan belum merasa puas jika belum melihat mayat lelaki itu terbujur kaku.
Chanyeol memainkan pistol di tangannya, ia berjalan mengelilingi kursi yang lelaki tadi duduki.
"Aku akan memberimu pertanyaan terlebih dahulu, sebelum pistol ini meledakkan isi kepalamu." Ucap Chanyeol datar namun terdengar menakutkan.
Jongdae dan beberapa pengawal bertubuh besar yang turut serta berada di ruangan itu hanya mampu meringis dalam diam, mereka tentu tahu Park Chanyeol tidak bermain-main dengan ucapannya.
Chanyeol berjongkok berhadapan langsung dengan lelaki yang memandangnya sayu.
"Siapa yang menyuruhmu?" Tanya Chanyeol dengan gigi bergemertuk marah.
Lelaki yang ditanyanya hanya diam, dan itu membuat emosi Chanyeol semakin tersulut. Ia memiringkan kepala ke satu sisi lantas menarik pelatuk pistol yang berada di tangannya dan mengarahkannya pada kaki sebelah kanan lelaki tadi dan suara tembakan keras terdengar memenuhi ruangan tersebut.
"Aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku, jika kau tidak menjawabku sekali lagi, akan ku pastikan bukan hanya kakimu yang ku tembak kali ini." Desis Chanyeol memperingati lelaki yang merintih tertahan menahan sakit luar biasa di kakinya yang mengeluarkan darah.
Drrtt..
Drrtt..
Ponsel Chanyeol bergetar, menginterupsi kalimat yang hendak ia lontarkan. Lelaki itu meraih ponsel yang berada di saku celana kerjanya dan membuka pesan yang baru saja masuk.
From: +82147xxxx
Kau tentu mengenal gadis ini..
Chanyeol mengernyit mendapati beberapa foto yang di kirim seseorang melalui pesan tersebut. Foto seorang gadis yang ia kenal baik sedang tersenyum sambil berjalan, dan beberapa foto lain yang membuat Chanyeol mengatupkan mulutnya rapat meredam gemertuk giginya, foto yang diambil ketika ia mencumbu gadis itu seminggu yang lalu di pulau Jeju. Sebuah pesan baru masuk.
From: +82147xxxx
Haruskah aku membuatnya bernasib sama seperti adikku?
Alis Chanyeol kian bertaut, Apa maksudnya? dan kenapa perasaannya mendadak resah?
"K-kang Minhyuk.." Dengan susah payah lelaki yang terduduk lemah di kursinya berucap, membuat Chanyeol mengalihkan pandangan kearahnya.
"K-kang M-minhyuk yang menyuruhku.." Lanjut lelaki tadi.
Chanyeol mengerjap, mencerna dengan baik satu nama yang baru saja menyapa indera pendengarannya. Seketika kejadian di masa lalu berputar di otaknya. Kang Minhyuk, nama itu jelas membuatnya teringat pada satu nama lain.
Kang Seulgi.. Batinnya mengingat dengan baik apa yang terjadi pada wanita itu.
Haruskah aku membuatnya bernasib sama seperti adikku? Kata-kata dalam pesan yang ia terima mulai mengusiknya.
B..
B..
Chanyeol terus melafalkan satu nama itu dalam hatinya. Lelaki itu memejamkan mata menahan amarahnya yang membuncah.
Ekspresinya semakin mengeras.
Ia tentu tidak akan membiarkan hal itu terjadi, bajingan itu akan mati di tangannya jika berani menyentuh gadis itu.
.
.
.
TBC
.
.
AN:
Annyeong readers tercinta :*
Mian, updatenya lama. Lagi sibuk sama beberapa urusan soalnya huhu T.T aku harap kalian gak kabur dan ninggalin ff ini ya hehehe
Udah pada tau kan kalo CY manggil Baekhee itu B padahal B itu panggilan buat Baekhyun? kenapa? karena CY ngerasa nyaman aja tiap sebut nama itu, entahlah mungkin kontak batin(?) #ngakaknista
Maaf kalo scene yang itu kurang maksimal T.T maklumin yaa da aku mah polos :D
Buat yang nanya twitter, aku udah lama gak pake twitter. kalo mau follow ig : raisa0069 :)
Dear Guest..
Terimakasih kritikan kamu. Sangat saya terima terlebih jika kamu memakai bahasa yang baik dan nyaman untuk dibaca :)
See you guys.. Chu..
