HEARTLESS

.

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

OCs

.

ChanBaek (GS)

Romance, Hurt/Comfort

.

DON'T LIKE DON'T READ!


Happy Reading!


.

Baekhyun melangkahkan kakinya tak tentu arah, ia bahkan tak mengindahkan sapaan ramah dari para tetangga yang berpapasan dengannya kala itu. Beberapa dari mereka pun terheran-heran begitu melihat raut panik tergambar jelas di wajah Baekhyun.

"Akh bagaimana ini.." Baekhyun bergumam, terselip nada putus asa di setiap kata-katanya.

Gadis itu menelusuri setiap jalan di pekarangan komplek dengan resah, matanya menyapu ke segala penjuru namun ia tetap tak menemukan Baekhee dimanapun.

"Eonni.. Minseok Eonni.. Apa kau ada di dalam?" Dengan tergesa Baekhyun mengetuk pintu rumah Minseok.

"Noona.." Jimin membuka pintu, pemuda itu mengernyit dalam melihat Baekhyun berpeluh dengan wajah panik.

"Jimin-a.. Apa Baekhee Eonni ada di sini?"

"Baekhee?" Itu Minseok.

"Eonniku ada disini kan?" Tanya Baekhyun penuh harap. Perasaannya sangat tidak baik saat ini.

Minseok menggeleng pelan, "Tidak ada Baekhee di sini, B. Apa yang terjadi?"

"Akh bagaimana ini Eonni.." Baekhyun semakin resah, tubuhnya sedikit bergetar menahan tangisnya yang nyaris pecah.

"A-apa yang terjadi? Katakan padaku!" Desak Minseok tidak sabaran.

"Baekhee Eonni menghilang.." Sahut Baekhyun dan seketika tangisnya pecah, "Dia sedang tidak baik Eonni, kesehatannya sedang tidak stabil. Baekhee Eonni menghabiskan sepanjang malam dengan merajut, karena itu aku berniat membelikannya obat tadi pagi. Ketika aku kembali, Eonniku sudah sudah tidak ada dan rumahku sudah sangat berantakkan," Baekhyun memberi jeda," Aku bahkan menemukan ponsel Eonniku tergeletak di lantai. Akh bagaimana ini Eonni? Aku sudah mencarinya kemana-mana.." Timpalnya dengan tangis yang semakin menjadi.

"T-tenang, B.. kau harus tenang, mungkin saja Baekhee pergi ke rumah temannya atau—"

"Tidak mungkin Eonni, aku sudah mengatakan padanya agar tetap di rumah. Baekhee Eonni tidak akan membantah ucapanku jika dia sedang sakit. "

"Kita harus mencarinya, aku akan membantumu Noona.." Kata Jimin terdengar serius, tak bisa dipungkiri bahwa ia pun sangat mencemaskan Baekhee saat ini.

Bagaimana jika terjadi sesuatu?

Baekhyun, Minseok dan Jimin berpencar mencari Baekhee dan berharap dapat menemukan gadis itu, langkah mereka sudah semakin jauh, namun orang yang dicari tetap tak ditemukan, Baekhyun bahkan berlari-lari di sepanjang jalan tanpa memedulikan tatapan heran setiap orang.

Semburat jingga menghiasi langit sore, hari sudah mulai gelap namun Baekhee masih tetap tak di temukan.

Baekhyun berniat melangkahkan kakinya menuju kantor polisi, dengan tak bersemangat gadis itu berjalan sembari menunduk. Penampilannya sudah sangat berantakan, ia bahkan tak tahu dimana alas kakinya berada. Rasa perih yang menjalar di telapak kakinya pun tak ia hiraukan. Ia hanya ingin segera menemukan Baekhee.

Beberapa pikiran buruk terus menyusup masuk ke dalam pikirannya dan itu semakin membuatnya resah.

Langkahnya terhenti ketika seseorang menghalaunya dari depan, dengan gerakan lambat Baekhyun mendongak. Matanya kembali berkaca-kaca seraya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, mencoba menahan tangisnya. Bertemu dengan lelaki di hadapannya bukanlah hal yang bagus saat ini.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Chanyeol menautkan kedua alisnya.

Baekhyun bungkam, perasaannya benar-benar campur aduk saat ini.

"Apa kau sebegitu miskinnya sampai tidak mampu membeli alas kaki?" Kembali Chanyeol bertanya, ia merasa geram melihat kondisi Baekhyun saat ini. Gadis itu terlihat sangat menyedihkan dan Park Chanyeol tidak menyukai itu. Meskipun ia tidak tahu apa yang terjadi pada gadis itu.

Lagi-lagi Baekhyun hanya bungkam, ia sungguh tidak tahu harus bagaimana sekarang.

Chanyeol mendengus kasar sebelum akhirnya mengangkat tubuh mungil itu dengan kedua tangannya dan menggendong Baekhyun menuju mobilnya. Lelaki itu menaikkan sebelah alis karena Baekhyun tidak memberi perlawanan dan justru memeluk leher Chanyeol seraya membenamkan kepalanya di dada bidang lelaki itu.

Chanyeol memasangkan sabuk pengaman setelah mendudukan Baekhyun di kursi samping pengemudi sementara gadis itu hanya mampu terdiam, pikirannya melayang jauh. Emosinya seakan menguap ketika memeluk lelaki di sebelahnya. Namun dengan cepat ia mengenyahkan perasaan tersebut. Baekhee yang terpenting saat ini.

Apakah aku harus meminta bantuan Park Chanyeol untuk menemukan Eonni? Tapi apa yang akan terjadi setelahnya? Pikirnya bertanya-tanya. Gadis itu meremas pakainnya kuat-kuat, menahan tangis yang kembali nyaris pecah.

Chanyeol menyalakan mesin dan membawa mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah ramainya jalanan dengan keheningan yang menyiksa. Dan Chanyeol terlalu malas bertanya tentang apa yang terjadi, ia merasa gadis di sampingnya butuh ketenangan saat ini.

Dari awal Chanyeol tidak berniat sama sekali mengganggu Baekhyun ketika ia melihatnya berlarian di sepanjang jalan, namun nama Kang Minhyuk berputar di otaknya tatakala melihat raut panik gadis itu. Chanyeol berpikir gadis itu tengah di kejar-kejar oleh seseorang dan itu sukses membuatnya mendapat sumpah serapah dari beberapa pengemudi lain karena memarkirkan mobilnya di sembarang tempat demi menyelamatkan gadis itu dari bahaya.

Oh jika saja tidak dalam keadaan mendesak, mereka semua sudah pasti kehilangan lidah mereka karena berani melempar kalimat-kalimat yang tak pantas untuk ditujukan kepada seorang Park Chanyeol.

Chanyeol menghela nafas pelan begitu melirik ke samping melalui ekor matanya, Baekhyun tertidur.

.

Sesampainya di Mansion, Chanyeol langsung membawa Baekhyun ke kamarnya. Dibaringkannya tubuh mungil itu dengan perlahan.

Kenapa aku membawanya ke kamarku? Tanya Chanyeol dalam hati setelah tersadar.

Lelaki itu menyisir kasar rambutnya dengan lima jari, hari ini terlalu banyak orang yang memandangnya dengan tatapan aneh termasuk para pelayannya, mereka semua memang tidak bersuara namun ekspresi yang mereka layangkan seakan mengatakan jika tuannya adalah manusia langka yang baru pertama kali menggendong seorang wanita dengan penuh perlindungan.

Apa sebegitu jahatnya seorang Park Chanyeol sehingga para pelayannya itu harus mencubit lengan mereka sendiri untuk memastikan apakah hal yang dilakukan tuannya itu nyata?

Ketukan pintu membuyarkan lamunan Chanyeol.

"Masuk." Ucapnya datar.

"Anda memanggil saya tuan?" Sesosok wanita paruh baya memasuki kamar Chanyeol, ia bertanya tanpa menanggalkan rasa hormat kepada tuannya tersebut.

"Hn, bersihkan tubuhnya dan ganti pakaiannya. Aku tidak mau ranjangku menjadi sarang bakteri karena tubuhnya yang kotor itu." Perintah Chanyeol mutlak seraya berjalan keluar dari kamarnya, meninggalkan senyum penuh arti yang terlukis di wajah wanita paruh baya yang bertugas menjadi kepala pelayan di Mansion tersebut.

Wanita paruh baya itu sangat tahu jika tuannya peduli pada gadis yang saat ini berbaring di hadapannya, namun sifat angkuh dan sombong seorang Park Chanyeol yang membuatnya enggan terlihat seperti itu.

Tentu saja. Jika Chanyeol tak peduli, kenapa ia membawa gadis itu ke tempatnya? Dan membuat seisi Mansion tersebut gaduh karena tuannya itu membiarkan gadis asing tidur di ranjangnya yang bahkan tak pernah terjamah oleh wanita manapun.

.

.


-Heartless-


.

"Bodoh! Kenapa kau baru memberitahuku jika gadis itu mempunyai saudari kembar?" Raung Minhyuk seraya melempar beberapa benda kearah orang yang menjadi kaki tangannya. Ekspresinya mengeras, terlihat jelas bahwa dia sangat marah.

"Maafkan saya, tuan. Anak buah saya ceroboh, mereka lupa menginformasikan hal tersebut."

"Tidak berguna! Sekarang dimana kembarannya itu?" Dengan nafas tersengal menahan amarah Minhyuk kembali bertanya.

"D-dia bersama Park Chanyeol saat ini. Park Chanyeol sendiri yang membawa gadis itu ke kediamannya."

Gigi Minhyuk bergemertuk, lelaki itu semakin meraung marah. Ruang kerjanya berubah berantakan akibat ulahnya sendiri.

Sudah pasti akan sangat sulit jika gadis itu berada di bawah lindungan Park Chanyeol.

"Tapi, tuan.. sepertinya Park Chanyeol juga tidak tahu jika mereka kembar."

"Benarkah?" Ekspresi Minhyuk perlahan melunak. Otaknya berpikir sangat keras akan apa yang harus ia lakukan sekarang.

"Ya, tuan."

"Untuk saat ini, kau awasi Byun Baekhee jangan sampai dia melarikan diri. Aku akan memikirkan cara untuk mengurus saudari kembarnya."

"Baik, tuan."

.

.


-Heartless


Baekhyun mengernyit dalam tidurnya begitu sinar hangat mentari yang masuk melalui celah tirai menerpa wajahnya, gadis itu menggeliat pelan, matanya mengerjap beberapa kali. Ia menautkan kedua alis begitu sepenuhnya terjaga, terheran-heran berada di sebuah kamar yang luas dan terkesan mewah. Aku dimana? Pikirnya bertanya-tanya.

Baekhyun terperangah melihat keadaannya, kemeja siapa yang ia pakai? Sangat kebesaran di tubuhnya, gadis itu panik, siapa yang mengganti pakaiannya?

"Kau berada di rumahku, dan kau memakai pakaianku jika itu yang ingin kau tahu."

Baekhyun mengalihkan atensinya, ia tak sadar jika sedari tadi Park Chanyeol memperhatikan gerak-geriknya. Lelaki itu duduk di salah satu sofa yang berada di kamar tersebut, Baekhyun tersihir melihat penampilan Park Chanyeol pagi ini, stelan Jas kerjanya seakan tercipta hanya untuk lelaki itu, rambutnya yang di sisir rapi ke belakang membuat keseluruhan wajahnya yang bersinar terekspos.

"A-apa yang kau lakukan disini?" Kata Baekhyun yang akhirnya tersadar.

Sebelah alis Chanyeol terangkat.
"Ini kamarku." Sahutnya datar sesaat kemudian ia kembali terfokus pada surat kabar yang sedari tadi ia baca.

Tidak sungguh-sungguh ia baca sebenarnya.

"Siapa yang mengganti pakaianku?" Kembali Baekhyun bertanya sedikit panik.

Park Chanyeol menyeringai, membuat gadis itu jantungan di pagi hari mungkin menyenangkan.
"Menurutmu? Kau tidur di kamarku, memakai pakaianku. Bukankah kau bisa menyimpulkan siapa yang menggantikan pakaianmu?"

Kesabaran Baekhyun sedikit goyah, gadis itu bangkit dari ranjang. Namun sesaat kemudia ia meringis merasakan perih di telapak kakinya, ia nyaris terjatuh jika Park Chanyeol tidak dengan sigap menahan tubuhnya.

"Kenapa kau selalu ceroboh, huh?" Tanya Chanyeol dingin.

Baekhyun tidak menyahut, ia terlalu sibuk mengontrol detak jantungnya yang siap meledak. Bagaimana tidak, posisinya dengan Chanyeol saat ini sedikit intim. Kedua tangan Baekhyun yang berada di bahu tegap Chanyeol, sementara sebelah tangan lelaki itu melingkar Possessive di pinggang Baekhyun.

Semburat merah merona terpatri di wajah putih mulus gadis itu, oh memalukan.

Melihat penampilannya yang bahkan hanya memakai kemeja kebesaran yang nyaris mencapai lututnya membuat Baekhyun sedikit tidak nyaman. Namun aroma mint bercampur maskulin yang menguar dari tubuh Chanyeol seakan mengenyahkan semua itu dan kembali membuatnya tersihir. Baekhyun bahkan tidak sadar tatkala jemari lentiknya dengan lembut membelai wajah Chanyeol, dahi, alis, hidung, bahkan bibir tebal lelaki itu tak luput dari sentuhan lembutnya yang mengantarkan perasaan asing menyusup masuk ke dalam diri Park Chanyeol.

Lelaki itu menatap Baekhyun tanpa berkedip, ia tak ingin sentuhan itu berakhir. Park Chanyeol menyukai sentuhan itu.

Baekhyun yang sesaat melayang entah kemana akhirnya tersadar, gadis itu segara menarik tangannya. Namun gerakannya sedikit lambat di banding Chanyeol. Lelaki itu dengan cepat meraih kembali tangan Baekhyun dan membenamkan sebagian wajahnya di telapak tangan gadis itu, mengecupnya berkali-kali, helaan nafasnya yang hangat dapat Baekhyun rasakan.

Dalam satu kali tarikan pelan Chanyeol membawa tubuh gadis itu ke dalam pelukannya, di dekapnya erat dan Possessive. Perasaannya berubah tak menentu saat ini, ia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi.

"Kau baik?" Tanya Baekhyun dengan susah payah karena Chanyeol memeluknya sangat erat. Gadis itu berusaha mati-matian mengontrol detak jantungnya yang kian berdegup kencang, namun tak ia pungkiri berada dalam dekapan lelaki itu membuatnya merasa nyaman dan terlindungi.

Chanyeol tidak menjawab, ia hanya menunduk seraya membenamkan wajahnya di bahu Baekhyun. Dan sesaat setelahnya ia merasakan tangan mungil itu menepuk-nepuk punggungnya pelan, memberinya ketenangan, melindunginya dari perasaan resah yang mendadak menyergapnya beberapa saat yang lalu.

"Bisakah kau memelukku lebih lama?" Tanya Baekhyun yang masih berada dalam pelukan possessive Chanyeol.

"Kenapa aku harus?" Balas Chanyeol datar, tanpa Baekhyun tahu lelaki itu tengah mengulas senyum jahil.

Karena setelah ini aku mungkin tidak akan mempunyai kesempatan untuk memelukmu lagi.. Batin Baekhyun.

"Karena aku akan mengatakan sesuatu, dan aku tidak yakin bisa mengatakannya saat melihat wajahmu." Kata Baekhyun.

Chanyeol mendecih.
"Apa kau akan menyatakan cinta?" Tanyanya dengan nada remeh, sangat berbanding terbalik dengan bahasa tubuhnya. Lelaki itu semakin menyerukkan wajahnya di bahu sempit Baekhyun.

Aroma manis yang menguar dari gadis itu sangat memabukkan.

"Tidak, aku mempunyai sebuah rahasia. Dan aku akan mengatakannya padamu sekarang." Kata Baekhyun lirih,"Dan kau boleh marah atau bahkan membenciku setelah ini." Timpalnya dengan nada yang terdengar asing di telinganya sendiri.

Baekhyun sudah memutuskan akan memberitahu Chanyeol semuanya, ia akan jujur. Karena dengan begitu ia bisa meminta bantuan Chanyeol untuk mencari keberadaan Baekhee dengan segala reputasi dan kekuasaan yang lelaki itu punya.

Baekhyun sudah siap menanggung segala resikonya seorang diri.

Chanyeol mengernyit ketika mendengar penuturan Baekhyun, lelaki itu melepas dekapannya. Di perhatikannya wajah gadis itu lamat-lamat.
"Rahasia apa itu?" Tanyanya penasaran.

Baekhyun menelan salivanya dengan susah payah. Tak bisa ia pungkiri, perasaannya benar-benar tak menentu saat ini. Ia takut, cemas dan gugup. Beberapa perihal buruk yang berputar di otaknya dan bisa saja terjadi pada Baekhee membuat Baekhyun berkali-kali meyakinkan dirinya bahwa ini adalah tindakan yang tepat dan tentu gadis itu tak mempunyai pilihan lain karena ia tak mungkin menghubungi Kris karena sudah pasti lelaki itu akan sangat cemas dan langsung terbang ke Korea, meninggalkan kesibukannya di China.

Harapannya saat ini hanyalah Park Chanyeol, karena lelaki itu pasti akan melakukan apapun untuk Baekhee. Karena yang Baekhyun tahu Chanyeol menyukai Baekhee.

Tidak. Baekhyun tahu betul Kris itu sangat sibuk. Dan ia tak mau merepotkannya. Gadis itu menghela nafas sebelum akhirnya berucap, "Sebenarnya aku—"

Drrtt..

Drrrtt..

Getaran ponsel di saku celana Chanyeol menginterupi satu kalimat terakhir yang akan terlontar dari mulut Baekhyun.

"Ada apa?" Tanya Chanyeol setelah sebelumnya menempelkan ponselnya ke telinga.

"…"

"Kau berhasil menghubunginya?"

"…"

"Aku akan kesana sekarang juga." Tukas Chanyeol mengakhiri percakapannya dengan seseorang di seberang sana.

"Aku harus pergi. Dan kita akan berbicara soal rahasiamu itu nanti setelah aku kembali. Satu lagi, jangan berani-berani pergi dari sini, jika hal itu terjadi aku akan mengejarmu kemanapun dan memberimu pelajaran setelahnya." Kata Chanyeol menegaskan.

Well, ia benci menggunakan kata-kata manis sebagai bentuk perhatian, itu bukan dirinya sama sekali.

"Tapi—"

Ucapan Baekhyun terpotong ketika Chanyeol mencuri satu kecupan singkat di bibirnya dan melenggang pergi begitu saja.

Baekhyun menghela nafas berat setelah sosok Chanyeol menghilang dari pandangannya, entah mengapa ia merasa tidak akan mempunyai kesempatan lagi di lain waktu. Namun dengan cepat ia mengenyahkan prasangka buruknya, ia harus menunggu Park Chanyeol pulang dan memberitahukan semuanya.

Gadis itu berjalan mondar-mandir seraya menyentuh bibirnya, pipinya memerah merona mengingat kecupan singkat yang Chanyeol lakukan terhadapnya.
"Oh tidak, tidak, jangan memikirkan hal itu sekarang, Byun Baekhyun. Pikirkan Baekhee Eonni!" Gumamnya kepada diri sendiri.

Baekhee Eonni, dimanapun kau berada sekarang, bertahanlah.. Park Chanyeol pasti akan menemukanmu.. Ia membatin

Suara ketukan pintu membuat Baekhyun sedikit tersentak ketika sosok wanita paruh baya masuk seraya tersenyum ramah kepadanya.

Baekhyun mengingat-ingat dimana ia pernah bertemu dengan sosok tersebut, dan sesaat kemudian matanya sedikit membola.
"Jung Ahjumma!" Seru Baekhyun lantas menghampiri wanita paruh baya itu dan langsung memeluknya.

"Apa anda baik-baik saja, Agasshi?" Tanya Jung Ahjumma ramah dan terdengar sangat sopan sembari menepuk-nepuk punggung Baekhyun pelan.

Baekhyun melepas pelukannya, ia mengangguk pelan tanpa lupa mengulas senyum.
"Kenapa Ahjumma ada disini?" Tanyanya polos.

"Saya dipindahkan kesini atas perintah tuan muda, karena kepala pelayan sebelumnya mengundurkan diri." Sahut Jung Ahjumma seraya tersenyum.

"Ahh begitu, Apakah Ahjumma yang mengganti pakaianku semalam?" Kembali Baekhyun bertanya dengan sedikit berharap bahwa Jung Ahjumma yang menggantikan pakaiannya.

"Ya, saya yang menggantikan pakaian anda, Agasshi.."

"Ah syukurlah, aku kira Park Chanyeol yang—" Ucapan Baekhyun terputus ketika menyadari akan apa yang yang hendak ia katakan, gadis itu menunduk malu.

"Tuan muda yang memerintahkan saya untuk menggantikan pakaian anda, Agasshi." Tutur Jung Ahjumma tersenyum penuh arti.

Baekhyun meringis, ia benar-benar malu saat ini.
"Ahjumma, jangan berbicara seformal itu padaku itu membuatku merasa tidak nyaman."

"Tapi—"

"Aku bukan siapa-siapa disini, jadi santai saja Ahjumma." Baekhyun bersikukuh.

"Baiklah.. Ahjumma sudah siapkan sarapan untukmu." Kata Jung Ahjumma seraya mengelus bahu Baekhyun pelan.

Baekhyun tersenyum kering, ia bahkan tak mempunyai selera untuk makan saat ini. Namun ia pun tak bisa menolak, Jung Ahjumma pasti bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan tersebut.
"Aku akan sarapan nanti, Ahjumma." Katanya dengan senyum yang masih mengembang.

"Baiklah, jika membutuhkan sesuatu panggil saja Ahjumma." Kata Jung Ahjumma, dan setelah mendapati anggukan mengerti dari Baekhyun, wanita paruh baya itu keluar dari kamar Chanyeol.

Baekhyun membawa tubuhnya duduk di atas ranjang, ia meremas ujung kemeja yang dikenakannya seraya menghirup aroma khas Park Chanyeol yang menempel di tubuhnya.

Gadis itu menghela nafas terdengar payah, pandangannya menerawang jauh, memikirkan apa yang akan terjadi setelah hari ini? Apakah akan tetap sama? Apakah Park Chanyeol akan memaafkannya nanti saat tahu ia telah membohongi lelaki itu?

.

.


-Heartless-


.

Park Chanyeol mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk memberi pelajaran pada wanita itu.

Kang Seulgi.

Memperoleh informasi tentang wanita itu tidaklah sulit untuk seorang park Chanyeol, Seulgi tidak berubah sama sekali, ia masih sangat tergila-gila kepada Park Chanyeol. Dan Chanyeol sangat tahu itu, karenanya ia memanfaatkan hal tersebut untuk bertemu dengan wanita itu, mengingat selama ini Seulgi menghilang seolah lenyap ditelan bumi.

Chanyeol menghentikan mobilnya di tepian sungai Han. Lelaki itu tersenyum remeh, sangat tahu dengan baik Seulgi akan mengajaknya bertemu di tempat yang sepi dan jauh dari keramaian.

Di lihatnya sebuah mobil hitam tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini, seorang wanita yang terduduk di kursi roda didampingi oleh seseorang yang Chanyeol yakini adalah pengawal pribadinya. Wanita itu Chanyeol dengan tersenyum, Dengan langkah angkuh Chanyeol berjalan mendekat.

Seulgi mengibaskan tangannya pelan, memberi isyarat kepada pengawal pribadinya untuk membiarkannya bersama Chanyeol.

"Kau terlihat sangat cocok dengan kursi roda itu, Kang Seulgi." Ucap Chanyeol datar, lelaki itu memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Atensinya berlabuh pada hamparan luas sungai Han yang berada di depannya.

"Apa kau mencemaskanku?" Tanya Seulgi dengan binar bahagia, wanita itu tak cukup pintar menangkap maksud perkataan Chanyeol. Ia malah mengira itu adalah sebuah bentuk perhatian.

Chanyeol tersenyum remeh, ia mengalihkan pandangannya kearah Seulgi dan membawa tubuhnya menghadap wanita itu. Lelaki itu mencondongkan tubuhnya, mencengkram kedua sisi kursi roda Seulgi erat-erat. Ekspresi Chanyeol berubah menggelap, ia menatap tajam wanita yang saat itu mendongak menghadapnya.

"Untuk apa aku mencemaskanmu? Kau bahkan tidak benar-benar cacat." Ucap Chanyeol dingin.

Mendengar penuturan Chanyeol, ekspresi Seulgi perlahan berubah. Tubuh wanita itu sedikit menegang, ia bahkan menghindari tatapan mematikan Chanyeol yang seolah menghakiminya.

"Kau terkejut?" Tanya Chanyeol dengan seringaiannya yang khas.

"A-pa maksudmu..?" Seulgi bertanya dengan sedikit terbata.

"Haruskah aku menjelaskannya secara rinci?" Balas Chanyeol, lelaki itu semakin mengeratkan cengkramannya di kursi roda Seulgi. "Kim Yejin.." Lelaki itu kembali menyeringai melihat raut wajah Seulgi yang semakin resah ketika mendengar satu nama yang Chanyeol sebutkan, "Aku tahu kau membunuhnya!" Timpalnya dengan penuh penekanan.

Sejujurnya membahas masa lalu adalah hal yang selalu Chanyeol hindari. Oh tidak, bukan karena ia pernah mengalami hal-hal tak menyenangkan dulu, lelaki itu hanya malas. Namun kali ini harus mengalahkan egonya untuk memberi Seulgi pelajaran.

"Kau ingin mendengar lebih? Seperti.. kau membunuh Yejin karena dia dekat denganku—"

"Dia merebutmu dariku! Jalang murahan itu pantas mendapatkannya!" Raung Seulgi terdengar marah.

Chanyeol menaikkan sebelah alisnya. Ia bahkan hanya menganggap Yejin sebagai mainan sama seperti ia menganggap wanita-wanita lain, namun Seulgi begitu terobsesi dengan Yejin dan tega membunuhnya dengan kejam karena Yejin terus menempel pada Chanyeol.
"Ahh, kau mengakuinya sekarang?" Tanya Chanyeol. "Itu sebabnya kau berpura-pura bunuh diri ? memanfaatkan kekuasaan keluargamu untuk memalsukan catatan kesehatanmu, bertingkah layaknya manusia cacat yang memiliki gangguan kejiwaan untuk menutupi semua kejahatan yang kau lakukan dulu. Ahh, kau bahkan menipu kakak angkatmu itu, kau tahu Minhyuk menyukaimu lebih dari sekedar kakak dan kau memanfaatkan perasaannya itu untuk melenyapkan setiap wanita yang dekat denganku, bukan begitu?" Timpalnya terdengar santai.

"Aku melakukan itu semua karenamu! Aku.. Aku mencintaimu, Park Chenyeol." Ucap Seulgi membela dirinya, dengan gerakan cepat ia mengalungkan kedua tangannya di leher Chanyeol, menariknya dengan cepat dan mencium bibir Chanyeol rakus.

Park Chanyeol melapas pagutan wanita itu dan menghempas tangan yang melingkar di lehernya dengan kasar. Punggung tangannya mengusap bibirnya dengan ekspresi jijik yang ia perlihatkan kepada seulgi, "Dengar, aku tidak pernah mengatakan bahwa aku menyukaimu dulu, kita bahkan bukan sepasang kekasih. Kau hanya wanita tolol yang mudah besar kepala menganggap aku menyukaimu hanya karena aku menyetubuhimu sekali waktu itu." Kata Chanyeol seraya menyampirkan rambut Seulgi ke telinganya.

Seulgi bungkam. Wanita itu menunduk,matanya memerah dan berkaca-kaca. Wanita itu marah mendengar ucapan Chanyeol yang kembali membuat hatinya berdenyut sakit seperti dulu.

"Kau sudah mengerti sekarang? Kau mungkin tidak setolol itu untuk mengerti ucapanku. Dan kau tahu aku tidak suka menyimpan sebuah rahasia, terutama rahasiamu." Ucap chanyeol lagi, "Jadi jangan pernah berani menyentuh gadisku, jika kau dan kakakmu melakukannya aku akan membuatmu membusuk di penjara dan membunuh Kang Minhyuk dengan tanganku sendiri. Ahh dan akan kupastikan keluargamu jatuh miskin dalam sekejap!" Timpalnya dengan suara dingin, auranya yang menakutkan sanggup membuat bulu Seulgi meremang seketika.

Park Chanyeol menegakkan kembali tubuhnya, tanpa menunggu lama lelaki itu melenggang pergi begitu saja, meninggalkan Seulgi dengan kemarahan yang memuncak. Wanita itu geram bukan kepalang, Park Chanyeol mengancamnya bertubi-tubi hanya untuk melindungi gadis yang saat ini mungkin tengah berada di atas ranjang dalam kondisi tak sadarkan diri dan bertelanjang bulat.

Dan wanita itu tahu Park Chanyeol tidak pernah bermain-main dengan ucapannya.

Seulgi cukup mengerti bahwa Park Chanyeol saat ini tengah jatuh cinta. Dan itu membuat Seulgi tak terima. Akan Seulgi pastikan Park Chanyeol membenci gadis itu dengan rencana yang sudah ia susun matang-matang. Karena jika Seulgi tidak bisa memiliki Park Chanyeol maka orang lain pun tidak akan bisa.

Setelah Seulgi masuk kedalam mobil, wanita itu meraih ponselnya dan menghubungi Minhyuk.
"Oppa?" Panggilnya lirih, wanita itu sanggup membuat Minhyuk di seberang sana seketika cemas.

"…"

"Aku membenci gadis itu, aku membencinya.." Tangis Seulgi pecah.

"…"

"Aku percaya pada Oppa, rencana yang kubuat.. Oppa bisa melakukannya sekarang bukan?" Tanya Seulgi di sela-sela tangisnya.

"…"

"Terimakasih, Oppa. Aku menyayangimu." Tutur Seulgi mengakhiri percakapannya dengan Minhyuk di seberang sana.

.

.


-Heartless-


.

Byun Baekhyun tidak terbiasa mendapat perlakuan seperti seorang putri, para pelayan Park Chanyeol memperlakukannya dengan baik namun sedikit berlebihan menurut Baekhyun. Gadis itu tidak terbiasa berdiam diri tanpa melakukan apapun, karenanya ia memaksa Jung Ahjumma untuk mengizinkannnya membantu pekerjaannya.

"Dia sangat baik dan juga sopan." Kata salah satu pelayan wanita saat melihat Baekhyun sibuk berkutat di dapur. Mempersiapkan makan malam.

"Ya, ngomong-ngomong.. apa dia kekasih tuan muda?" Timpal yang lain.

"Tentu saja mengingat semalam dia tidur di kamar tuan muda."

" Astaga, lihat.. aku sampai merinding."

"Apakah kalian tidak ada pekerjaan lain selain bergosip?" Tegur Jung Ahjumma pada kedua pelayan yang tengah asik bergosip itu.

Mereka berdua menunduk dalam.
"Maafkan kami.."

"Pergi kerjakan tugas kalian." Kata Jung Ahjumma.

Mereka berdua membungkuk sebelum akhirnya pergi dengan tergesa, terlalu takut mendapat amukan wanita paruh baya tersebut.

Jung Ahjumma tersenyum begitu melihat Baekhyun yang tengah sibuk memasak. Wanita paruh baya itu tak heran mengapa tuan mudanya berubah menjadi orang yang sedikit hangat, meskipun hanya ia lakukan kepada Baekhyun saja, namun itu cukup membuat semua orang tercengang.

"Ahjumma… bisa kau mencicipi ini? Aku tidak yakin dengan rasanya.."

Baekhyun menggigit bibir bawahnya begitu menangkap ekspresi Jung Ahjumma saat mencicipi masakannnya.

"Darimana Agasshi belajar memasak? Apa dari ibumu?" Tanya Jung Ahjumma, wanita paruh baya itu cukup terkejut. Tidak hanya cantik dan sopan, Baekhyun bahkan sangat pintar memasak.

Baekhyun yang awalnya memasang wajah antusias perlahan memucat, namun dengan cepat ia tersenyum.
"Aku belajar sendiri. Eonniku sedikit payah dalam memasak, karenanya aku yang memasak setiap hari. Umm, ibuku sudah meninggal." Katanya dengan nada sedikit lirih di akhir kalimatnya.

"Oh Tuhan, maafkan—"

"Tidak apa-apa Ahjumma" Kata Baekhyun menyela dengan cepat, ia paling tidak bisa membuat seseorang merasa bersalah pada dirinya.

Jung Ahjumma mengelus pelan bahu Baekhyun, tatapannya dipenuhi iba dan rasa bersalah karena ia pikir telah membuat gadis baik hati itu sedih.
"Istirahatlah, biar Ahjumma yang menyelesaikan sisanya." Katanya seraya mengusap lembut rambut Baekhyun.

Wanita paruh baya itu tahu, Baekhyun pasti lelah mengingat gadis itu membantu setiap pekerjaan yang dikerjakan oleh para pelayan sepanjang hari ini. Dan Jung Ahjumma yakin Baekhyun sudah hafal dengan baik setiap sudut Mansion tersebut saat ini.

Baekhyun mengangguk pelan, gadis itu berlalu dari dapur. Ia tersenyum ramah pada setiap pelayan yang membungkuk penuh hormat kepadanya.

.

.

Sementara di gedung Park Corporation, tepatnya di dalam ruangan tempat dimana wakil Presdir berada. Park Chanyeol menelisik beberapa foto yang dikirim dalam sebuah paket tak dikenal. Lelaki itu mendesis setiap membuka lembar foto yang menampilkan seorang gadis tanpa busana tertidur memeluk seorang lelaki.

Gadis yang ia tahu betul, gadis yang bahkan aroma manisnya masih menempel di Jas yang Chanyeol kenakan saat ini. Ekspresi lelaki itu mengeras, giginya bergemertuk menyiratkan betapa ia sangat marah.

Berulang kali Chanyeol meyakinkan dirinya bahwa ia tidak sama sekali peduli, namun perasaan asing yang kian menjalari rongga hatinya membuatnya tak bisa menerima kelakuan gadis yang seolah menghinanya saat ini.

Park Chanyeol merasa dipermainkan, ia membiarkan gadis itu terlalu jauh. Membiarkannya menerobos dinding pertahanan yang selama ini Chanyeol jaga dengan baik, menjadikan lelaki itu sedikit berhati, membuat pikirannya kacau setiap kali gadis itu berputar di otaknya secara tiba-tiba.

Dan sekarang gadis itu membuat hatinya merasa tercubit.

Cemburu?

Lelaki itu memejamkan matanya seraya meremas satu foto terakhir yang sesaat sebelumnya tertangkap indera penglihatannya.

Park Chanyeol bangkit dari kursi kerjanya lantas berjalan keluar yang bertepatan dengan jam pulang karyawan, karenanya mereka semua dibuat menunduk takut ketika atasannya tersebut berjalan dengan aura menakutkan yang terlihat jelas pada wajahnya yang memerah terlihat marah. Bahkan Jongdae pun sanggup dibuat bungkam.

.

.

Dengan sangat keras Chanyeol membanting pintu mobil sesaat setelah ia sampai di Mansionnya. Ia melangkahkan kakinya dan menemukan Baekhyun tengah bercengkrama dengan beberapa pelayannya, terlihat akrab.

Gelandangan tetaplah gelandangan.. Batinnya mencemooh.

Lelaki itu berjalan mendekat, dicengkramnya kuat pergelangan tangan Baekhyun dan menyeret paksa gadis itu ke lantai dua menuju kamarnya, meninggalkan beberapa bisik para pelayannya akan apa yang baru saja terjadi.

"Ini sakit, Park Chanyeol." Baekhyun meringis merasakan ngilu di pergelangan tangannya saat cengkraman itu semakin kuat.

Chanyeol bungkam, di bantingnya pintu kamarnya keras yang sontak menimbulkan sedikit kegaduhan. Lelaki itu menghempas kasar tangan Baekhyun, ekspresinya semakin mengeras.

"H-hei, kau baik? A-apa yang terjadi?" Tanya Bekhyun terbata, sedikit ngeri melihat tatapan tajam yang Chanyeol layangkan kearahnya.

"Apa itu?" Tanya Chanyeol melalui celah giginya yang bergemertuk seraya melempar beberapa foto tepat di wajah Baekhyun.

Gadis itu tersentak, dengan cepat ia memungut beberapa lembar foto yang bertebaran di lantai. Dan sesaat kemudian ia terhenyak, gerakannya melambat ketika ia bangkit. Tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Baekhee, apa yang sebenarnya terjadi pada kakaknya saat ini? Kenapa Baekhee? Kenapa kakaknya itu tidur dengan seorang lelaki dalam keadaan telanjang bulat?

"JAWAB!" Bentak Chanyeol yang membuat Baekhyun kembali tersentak.

"A-aku.. tenanglah Chanyeol, aku.. aku bisa menjelaskannya, ku-ku mohon tenang." Sahut Baekhyun semakin terbata, Park Chanyeol benar-benar terlihat sangat menakutkan saat ini.

Satu tangan Baekhyun terulur mencoba menenangkan Chanyeol yang semakin berapi-api, namun lelaki itu menepisnya dengan kasar.
"Jangan sentuh aku, pelacur!" Tuturnya dingin.

Mata Baekhyun terbelalak, hatinya berdenyut sakit secara tiba-tiba. Park Chanyeol saat ini bukanlah Park Chanyeol yang tadi pagi memeluknya.

Lelaki di hadapannya saat ini terlihat sangat menakutkan.

Emosi yang membuncah membuat Chanyeol semakin lupa diri. Lelaki itu akan memberi pelajaran pada gadis di hadapannya saat ini. Dengan kasar ia mendorong Baekhyun sehingga membuatnya terhempas dengan tak pantas keatas ranjang.

Baekhyun beringsut, gadis itu mulai panik melihat gerak-gerik Chanyeol.

"Ap-apa yang akan kau lakukan?" Tanya Baekhyun dengan suara yang terdengar payah.

Bukan jawaban yang ia dapatkan, Chanyeol merangkak naik keatas ranjang seraya melepas satu persatu kancing kemejanya. Baekhyun memberontak saat Chanyeol menindih tubuhnya dan mulai mencumbu gadis itu dengan kasar. Mencium, melumat, mengigit bibir Baekhyun tanpa perasaan.

"DIAM!" Bentak Chanyeol, lelaki itu menampar keras pipi Baekhyun, "Diam kau, pelacur sialan! Kau bahkan sudah menyerahkan tubuhmu pada bajingan itu. Aku akan membayarmu lebih daripada bajingan itu, jadi kau diam sekarang! Aku bisa maklum jika gelandangan sepertimu menjadi pelacur." Racau Chanyeol dengan nafas memburu, " Aku muak melihat wajah sok polosmu itu, Byun Baekhee!" Raung Chanyeol yang masih menindih tubuh Baekhyun dan kembali mencumbu gadis itu, merobek paksa pakaian yang gadis itu kenakan.

"Itu bukan aku, dengarkan aku ku mohon.. itu bukan aku, beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya.." Suara Baekhyun terdengar bergetar, ia membawa tangannya melindungi tubuhnya. Sungguh ia merasa takut sekarang, berkali-kali ia memohon kepada Tuhan untuk melindunginya.

Namun seolah tuli, Chanyeol yang sudah berkabut gairah bercampur dengan kemarahannya yang kian menjadi mulai menanggalkan celana yang ia kenakan. Hal itu sontak membuat Baekhyun semakin berontak, tak henti-hentinya ia memukul dada telanjang Chanyeol, namun tenaganya semakin terkuras habis karena memberikan perlawanan bertubi-tubi. Chanyeol mencengkram kedua tangan Baekhyun dengan sebelah tangannya, sementara tangannya yang lain membuka kedua paha Baekhyun lebar-lebar tanpa mempedulikan rintihan gadis yang terus memohon padanya.

Baekhyun menjerit tertahan ketika Chanyeol memajukan pinggulnya dalam satu kali hentakan keras, membuat gadis itu mendongak dan mengigit bibir bawahnya kuat-kuat, sudut matanya menitikan satu tetes air mata merasakan sakit luar biasa ketika benda tumpul itu merangsak masuk dan merobek lubang kewanitaannya secara paksa.

Sementara Chanyeol tak bergerak sama sekali dalam posisinya, lelaki itu terhenyak. Ia seolah tidak percaya bahwa gadis itu masih suci, lalu apa yang ia lihat di foto itu? Apa ini? Apa seseorang mencoba mempermainkannya saat ini?

Chanyeol mengalihkan atensinya pada gadis yang berada di bawah kungkungannya, gadis itu menangis, tubuhnya bergetar hebat dan Chanyeol dapat merasakan itu. Hatinya kembali merasa tercubit melihat Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya sembari mencengkram sprei kuat-kuat dengan tangis yang kian menjadi.

Tanpa menunggu lama Chanyeol melepas penyatuan mereka, meskipun ia tak berniat melanjutkan kelakuan bejatnya namun semuanya sudah terlambat bukan? Park Chanyeol telah menodai gadis itu, dengan cara yang kejam. Menyakiti hati gadis itu dengan setiap hinaan yang terlontar dari mulutnya.

Dengan gerakan cepat Baekhyun menutup tubuhnya dengan sprei, ia semakin bergetar hebat. Gadis itu menangis terdengar memilukan. Ia beringsut ketakutan ketika satu tangan Chanyeol terulur kearahnya.

Lelaki itu menghentikan gerakannya, sebelah tangannya menggantung di udara begitu melihat Baekhyun beringsut mundur ke sudut ranjang menghindari sentuhannya.

Chanyeol terlalu bingung dengan apa yang terjadi, lelaki itu tak berucap satu patah katapun. Ia memakai kembali pakainnya sebelum akhirnya keluar, meninggalkan Baekhyun yang semakin menjadi-jadi dalam tangisnya.

Chanyeol hanya tidak sanggup melihat gadis itu menangis, ia tidak ingin membuat gadis itu semakin ketakutan akan kehadirannya. Dan Chanyeol sadar betapa brengseknya ia saat ini.

Lelaki itu kembali membuat gaduh dengan amukannya yang menakutkan, ia menghancurkan beberapa barang dengan membabi buta. Membuat ruang tamu terlihat seperti kapal pecah dalam sekejap. Sementara para pelayannya beringsut ketakutan.

Chanyeol bersumpah akan membunuh siapapun itu yang berani mempermainkannya, lelaki itu memasuki mobil dan menyalakan mesin lantas berlalu meninggalkan Mansionnya.

.

.

Dua jam berlalu dan tangis Baekhyun sudah mereda. Tak ada yang ia lakukan, gadis itu hanya menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Tubuhnya serasa tanpa jiwa, binar di matanya menghilang meninggalkan kesedihan yang menyayat. Apa yang terjadi padanya dan pada Baekhee membuatnya terguncang hebat.

Ia mengalihkan atensinya ketika pintu kamar itu terbuka, sosok Jung Ahjumma masuk dan berjalan kearahnya dengan cepat wanita paruh baya itu merengkuh tubuh Baekhyun, dan seketika tangis Baekhyun kembali pecah, terdengar sangat menyakitkan. Jung Ahjumma tak bertanya sedikitpun, ia sudah tahu dengan jelas apa yang terjadi.

"Sstt, tak apa. Ahjumma ada disini, menangislah." Wanita paruh baya itu mengelus lembut puncak kepala Baekhyun, ia dapat merasakan tubuh gadis itu bergetar hebat.

"Aku ingin pulang, aku takut.. aku takut.." Kata Baekhyun susah payah di sela-sela tangisnya.

"Ahjumma akan membantumu keluar dari sini." Kata Jung Ahjumma seraya mengahus jejak air mata di pipi Baekhyun.

Meskipun Park Chanyeol dengan sangat jelas memerintahkan kepada semua para pelayan dan pengawal di Mansion itu untuk tak membiarkan Baekhyun pergi, namun Jung Ahjumma yang merasa sudah menyayangi Baekhyun harus membantu gadis itu. Ia tak peduli jika akhirnya Park Chanyeol memecatnya.

"Diluar ada beberapa pengawal yang berjaga, Ahjumma akan membawamu keluar melalui pintu gerbang belakang, karena disana hanya ada satu pengawal. Ahjumma akan mengalihkan perhatiannya, dan gunakan kesempatanmu sebaik mungkin, nak." Jelas wanita paruh baya itu panjang lebar.

Baekhyun mengangguk pelan, mengucapkan terimakasih berulang kali kepada Jung Ahjumma.

Gadis itu mengikuti langkah wanita paruh baya di depannya dengan pelan dan tanpa mengundang kecurigaan.

"Tunggu disini, Ahjumma akan berpura-pura meminta bantuannya." Katanya seraya menunjuk pengawal bertubuh besar yang tengah berdiri tak jauh dari gerbang yang berada di bagian belakang Mansion tersebut.

Baekhyun mengangguk, diperhatikannya dengan seksama interaksi Jung Ahjumma bersama lelaki dewasa itu. Dan ketika keduanya menghilang dari pandangannya Baekhyun bergerak cepat dan ia berhasil keluar.

Gadis itu berjalan tertatih ketika rasa perih di bagian bawah tubuhnya kembali menyergapnya, namun seolah tak peduli Baekhyun berjalan sedikit lebih cepat, ia hanya ingin menjauh dari tempat menakutkan itu. Ia hanya tidak ingin bertemu dengan Park Chanyeol lagi.

Baekhyun tersenyum miris melihat penampilannya, dress putih panjang di bawah lutut yang sudah robek di bagian bahu dan dadanya, ia bahkan tak mengenakan alas kaki. Lagi.

Jung Ahjumma hendak meminjamkannya pakaian dan alas kaki, namun dengan keras kepala gadis itu menolak. Ia hanya tidak ingin memakai sesuatu yang berhubungan dengan Park Chanyeol.

.

.


-Heartless-


Cukup lama Chanyeol membawa mobilnya tak tentu arah, ia sangat kacau. Benar-benar kacau. Ia menghentikan mobilnya di suatu tempat yang cukup sepi. Lelaki itu menerawang jauh ke depan.

Memikirkan apa yang telah ia perbuat beberapa jam yang lalu, Chanyeol mengusap wajahnya kasar ketika bayang-bayang akan tangisan dan ketakutan Baekhyun berputar di otaknya. Lelaki itu mengumpat kasar sebelum akhirnya ponselnya bergetar.

Ia membuka pesan masuk dan kembali mendapati beberapa foto dalam pesan tersebut. Matanya seketika memicing tajam, gadis yang sesaat lalu memutari otaknya berada dalam foto tersebut dalam kondisi terikat, berdarah, dan tergeletak lemah tak berdaya.

Brengsek! Makinya dalam hati. Gadis itu pasti melarikan diri dari Mansionnya.

Drrt..

Drtt..

"Brengsek! Aku tahu itu kau Kang Minhyuk!" Raung Chanyeol setelah menjawab panggilan masuk.

"Datanglah dan selamatkan kekasihmu.. aku akan dengan senang hati menyambutmu." Kata Minhyuk di seberang sana.

"Kau berani main-main denganku?" Desis Chanyeol.

"Tidak, aku hanya terlalu menyayangi Seulgi, aku ingin kau mati di tanganku! Sebaiknya kau bergegas cepat, kekasihmu sudah nyaris sekarat." Sahut Minhyuk diselingi tawanya yang terdengar seperti orang sinting.

Park Chanyeol memukul stir mobilnya berkali-kali. Lelaki itu menghubungi Jongdae untuk melacak keberadaan Minhyuk dan mengumpulkan beberapa anak buahnya. Park Chanyeol bersumpah akan membunuh bajingan itu.

Chnayeol membawa mobilnya membabi buta, membelah jalan malam kota Seoul dengan beberapa mobil pengawalnya dari depan, menuntunnya pada sebuah tempat yang cukup jauh dari kota.

Lelaki itu tertawa keras, menertawakan ketololan Kang Minhyuk dan Kang seulgi. Mereka berdua memang tolol menurut Chanyeol, berani main-main dengan seorang Park Chanyeol tentu saja cari mati.

"Hanya ini yang kau siapkan selama bertahun-tahun untuk membalaskan dendammu padaku, Kang Minhyuk?" Tanya Chanyeol dengan nada remeh melihat Minhyuk hanya di kawal oleh beberapa orang yang tak terlatih. Meskipun jumlah mereka tidak sedikit.

"Siap bertemu ajalmu, Park Chanyeol?" Kata Minhyuk menyeringai licik.

Chanyeol memerintah para pengawalnya untuk menghabisi anak buah Minhyuk sementara ia sibuk mencari keberadaan Baekhee di dalam bangunan tua yang letaknya jauh dari keramaian kota tersebut. Namun sebuah tangan mencengkram kerahnya dari belakang. Dan baku hantam pun terjadi setelahnya, Chanyeol berhasil menepis setiap pukulan yang Minhyuk layangkan, sebagai balasannya Chanyeol menginjak-injak tubuh Minhyuk, menghantamnya dengan pukulan bertubi-tubu tanpa ampun. Lelaki itu semakin marah mengingat kondisi Baekhee, akan Chanyeol pastikan Kang Minhyuk merasakan hal yang sama.

Merasa Minhyuk sudah tak berdaya dengan luka dan lebam di seluruh wajahnya, Chanyeol berlalu kembali mencari keberadaan Baekhee. Dia akan menyesal jika terjadi sesuatu pada gadis itu. Dan sebuah pintu ganda menarik perhatian Chanyeol, dan benar saja Baekhee berada disana, gadis itu tergeletak di atas lantai kotor tanpa alas apapun. Setengah berlari Chanyeol menghampiri gadis itu, ia memejamkan mata sejenak ketika melihat tubuh Baekhee yang dipenuhi luka sayat dengan darah yang setengah mengering di setiap lukanya, wajah gadis itu pun tak luput dari luka lebam keunguan. Kenapa kondisinya sangat mengenaskan? Apa yang Minhyuk lakukan padanya selama tiga jam ke belakang?

Chanyeol menepuk-nepuk pipi Baekhee pelan.
"Hei, kau mendengarku? Bertahanlah.. Ku mohon.." Kata Chanyeol terdengar putus asa. lelaki itu mengangkat tubuh rapuh Baekhee dan membawanya pergi dari tempat itu.

"Habisi bajingan itu!" Titah Chanyeol menunjuk Minhyuk kepada para pengawalnya setelah mereka semua berhasil melumpuhkan anak buah Minhyuk. "Dan cari dimana keberadaan Kang Seulgi, pastikan wanita itu membusuk di penjara!" Titahnya kepada Jongdae.

"Baik, tuan." Kata Jogdae patuh.

Chanyeol membawa Baekhee masuk ke dalam mobilnya. Kembali ia membawa mobilnya dengan membabi buta ketika melihat kondisi Baekhee yang semakin parah, tubuh gadis itu mendadak menegang, kesadaran yang hanya tinggal setengah membuatnya tak mampu bersuara.

Tujuan Chanyeol saat ini adalah Rumah Sakit. Gadis itu tidak boleh kenapa-kenapa, karena jika itu terjadi Chanyeol tidak akan memaafkan dirinya sendiri.

Chanyeol akan menyesal karena ia sudah ikut andil menyakiti gadis itu beberapa jam yang lalu.

.

.

Sementara di tempat lain Baekhyun masih berjalan tak tentu arah ketika satu jam telah berlalu, telapak kakinya sudah mulai mengeluarkan sedikit darah, namun gadis itu seolah tak peduli. Matanya menatap lurus ke depan, pandangannya kosong di sela-sela langkahnya yang tertatih. Baekhyun terlalu sibuk dengan pikirannya sampai ia tidak menyadari sebuah mobil melaju dengan sangat cepat kearahnya. Dan setelahnya seperti berjalan dengan lambat bagi Baekhyun, gadis itu tergeletak di tengah jalan dengan bersimbah darah yang merembes dari kepalanya. Beberapa orang memekik terkejut karenanya, Baekhyun bisa melihat orang-orang tersebut mengerubunginya di balik penglihatannya yang sedikit buram, samar-samar ia mendengar sebuah suara yang ia kenal dengan baik. Pandangan Baekhyun kian memburam dan kesadarannya menghilang sesaat setelahnya.

.

.


-Heartless-


Chanyeol menghentikan mobilnya tepat di depan Rumah Sakit, beberapa perawat telah menunggunya di depan pintu.

Chanyeol membaringkan tubuh Baekhee diatas Brankar, lelaki itu mengikuti lengkah para perawat yang mendorong Brankar tersebut menuju Unit Gawat Darurat. Namun ketika melewati lorong Rumah Sakit tersebut langkah Chanyeol terhenti dan seketika membeku, lelaki itu mematung di tempatnya. Sungguh Chanyeol berharap bahwa ini hanya efek lelah atau semacamnya.

Lelaki itu mengerjapkan mata tanpa melemahkan atensinya pada sebuah Brankar lain yang tengah di dorong oleh para perawat. Mereka semua berwajah panik dengan sedikit berlari medorong Brankar itu seolah jika mereka tidak cepat memberi penanangan maka pasien yang terus mengeluarkan dari kepalanya itu tidak akan tertolong.

Wajahnya, pakaian yang di kenakan, pakaian yang ia robek dengan paksa beberapa jam lalu, bahkan luka di telapak kakinya membuat Chanyeol terhenyak.

Chanyeol menggeleng pelan, Tidak mungkin.. Pikirnya meyakinkan bahwa ini tidaklah nyata.

"Ini rahasia besar, sang puteri dan pihak kerajaan tidak pernah memberitahu kepada dunia luar bahwa dia memiliki saudari kembar."

"Jika kau jadi pangeran tersebut, siapa yang akan kau pilih? Siapa sebenarnya yang benar-benar kau cintai?"

"Aku mempunyai sebuah rahasia, dan aku akan mengatakannya padamu sekarang."

"Kau boleh marah dan membenciku setelah ini."

"A-aku.. tenanglah Chanyeol, aku.. aku bisa menjelaskannya, ku-ku mohon tenang."

"Itu bukan aku, dengarkan aku ku mohon.. itu bukan aku, beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya.."

Kalimat-kalimat itu terngiang dan terus-menerus berputar memenuhi otak Chanyeol seketika, dengan langkah gontai Chanyeol berjalan menuju Unit Gawat Darurat. Ia harus memastikannya sendiri.

Lelaki itu kembali mematung di tempatnya. Ia menatap tak percaya pada dua gadis berwajah serupa terbaring bersebrangan berada tak jauh dari tempatnya berpijak.

Berulang kali Chanyeol mengalihkan atensinya secara bergantian pada kedua gadis itu.

Mereka berdua berdarah, sama-sama tak sadarkan diri dan tengah berjuang melawan maut.

.

.

.

TBC

.

.

AN:
Ini yang pada neror minta update udah aku update, yang nagih minta CY tau tentang si kembar sudah kupenuhi pula.. yang minta di panjangin udah aku kasih ini 6k ada anunya lagi meskipun sebentar uhhuukk

Aku sadar ko, Chapter ini emang agak drama hahhaa

Minhyuk dan Seulgi itu sebenernya cuma Cameo guys, jd kalem aja kalem :D

Oh ya, aku mau ucapin terimakasih buat yang udah fav/foll/review berkat kalian Hearteulesseu mencapai 1k reviews woohoo!
Eh mau puasa kan ya? Raisa mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan, mohon maaf lahir batin ya semuanya.

Hello Xiaorey61, kamu tenang aja.. aku sempilin sedikit bahasa inggris di ff ini kalo lg mood aja kok :D

AND..

Dear GUEST:

I have so much more for you to be mad at, just be patient! LOL