HEARTLESS

.

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

And OCs

.

ChanBaek (GS)

Romance, Hurt/Comfort

.

ChanBaek Day Special! #614everWithChanBaek

.

DON'T LIKE DON'T READ!

.

.

Aku nulis Chapter ini sambil dengerin lagunya Taeyeon (Love, that one word) dan cukup bikin aku ngelus dada.. coba deh kalian bacanya sambil denger lagu itu juga. Aku saranin banget :D

Happy Reading!

.

Chanyeol masih berdiri di tempatnya, mendadak ia kehilangan tenaganya, lututnya melemas, membuatnya tak mampu untuk sekedar bergerak. Lelaki itu tak tahu harus kearah mana ia melangkahkan kakinya.

Ia hanya mampu memandang kedua gadis yang tengah mendapat penanganan dari dokter masing-masing dengan tatapan tak percaya.

Chanyeol mengalihkan atensinya pada gadis yang memakai dress dengan luka di telapak kaki, tubuh mungilnya tersentak saat alat kejut jantung itu menyentuh dadanya. Dokter yang menanganinya memberikan perintah untuk menaikkan tegangan ketika denyut jantung pasiennya kian melemah.

Chanyeol memejamkan mata kemudian mengalihkan atensinya pada gadis lain dengan wajah serupa, gadis yang ia bawa sendiri ke Rumah Sakit tersebut, alat bantu pernafasan sudah terpasang di hidungnya, selang-selang besar mengerikan menempel di tubuhnya. Dua perawat wanita membersihkan luka di sekujur tubuhnya.

Chanyeol menelan kering, nafasnya kian memburu. Jemarinya menyisir kasar surainya, ia seperti seseorang yang bodoh saat ini.

Fokusnya membuyar, perawat yang hilir mudik terlihat seperti bayangan buram di matanya, samar-samar ia mendengar seorang perawat lain yang menyerukan denyut jantung gadis itu sudah kembali normal dan itu membuatnya sedikit bernafas lega. Dengan alasan yang tak ia ketahui kenapa.

"Chanyeol?"

Sebuah suara yang sangat Chanyeol kenali memanggil namanya, lelaki itu berbalik dan menemukan sosok Sehun yang berdiri di belakangnya. Chanyeol dapat menangkap berbagai ekspresi yang Sehun lemparkan, dan Terkejut adalah hal yang paling jelas terpatri di wajah sepupunya tersebut.

"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Sehun, kemudian ia tersentak melihat kedua gadis dengan wajah serupa terbaring berseberangan.

"Dan kau?" Balas Chanyeol penuh penekanan. Keberadaan Sehun membuat beberapa pemikiran menyusup masuk dan memenuhi otaknya.

Belum sempat Sehun menyahut, Minseok dan Jimin muncul dan cukup menarik perhatian Chanyeol saat keduanya menghampiri sosok mungil –Baekhyun- yang sedari tadi lebih banyak menyita perhatiannya dibanding gadis yang satunya lagi.

"B! astaga, Jimin apa yang terjadi? Jelaskan pada Noona!" Desak Minseok setelah duduk di samping ranjang Baekhyun. Jimin hendak menyahut namun Minseok kembali memekik saat atensinya berlabuh pada sosok Baekhee yang terbaring di atas ranjang pasien di seberang Baekhyun. " Baekhee!" Tangis Minseok pecah, tubuhnya mendadak kehilangan tenaga saat melihat kedua gadis yang sudah ia anggap adiknya sendiri sama-sama terbaring tak sadarkan diri. Sungguh ia tak mengerti apa yang terjadi pada keduanya.

"Noona, tenanglah.." Kata Jimin menenangkan Minseok. "Ketika aku pulang dari rumah temanku, aku tak sengaja melihat kerumunan orang-orang, aku penasaran dan aku sangat terkejut melihat B Noona tergeletak bersimbah darah di tengah jalan." Tutur Jimin pelan. "Dan Baekhee Noona, aku tidak tahu dia kenapa, aku melihat Park Chanyeol yang membawanya." Timpalnya sedikit berbisik saat menyerukan nama tersebut.

Mendengar nama Park Chanyeol, Minseok tersentak. Atensinya beralih pada sosok Chanyeol yang berdiri memasang tampang bodoh. Wanita itu dengan tergesa mendekat kearah Chanyeol.

"Brengsek! Apa yang kau lakukan kepada Baekhee?" Raung Minseok mencengkram kerah Chanyeol, amarah itu berkilat di kedua bola matanya.

Setengah berlari, Jimin menghampiri Minseok dan menenangkan kakaknya tersebut. Bukankah tidak bagus disaat-saat seperti ini? Terlebih yang Minseok serang adalah Park Chanyeol.

Chanyeol masih dalam ekspresi terkejut hanya mampu bungkam, ia bahkan tak sadar saat tubuhnya setengah ditarik oleh Sehun untuk menjauh dari ruangan tersebut.

.

"Jadi apa yang kau lakukan disini, Oh Sehun?" Tanya Chanyeol memulai perbincangan setelah keduanya duduk dan terdiam cukup lama di jajaran kursi yang berada di depan ruang UGD.

"Aku sama seperti bocah tadi, aku tak sengaja melihat B di tengah jalan. Aku rasa dia menjadi korban tabrak lari." Jelas Sehun pelan. Perasaan cemas kian menjalari hatinya, karena bagaimana pun Baekhyun adalah temannya.

Chanyeol terkekeh kering, "Jangan becanda, Sehun. Aku bahkan tidak tahu siapa B yang kau maksud itu." Katanya miris. Memang benar Chanyeol tidak tahu siapa B yang Sehun maksud, terasa asing.

"Byun Baekhyun.." Kata Sehun, ia memberi jeda sejenak. Merasa tidak harus membicarkan rahasia Baekhyun, namun keadaan mendesaknya. "Dia B, temanku dan saudari kembarnya, Byun Baekhee yang kau bawa sendiri ke Rumah Sakit ini." Timpalnya.

Chanyeol memejamkan mata, ia mencengkaram kaleng minuman yang tadi sempat Sehun berikan.

Kembar? Saudari kembar? Byun Baekhyun? Konyol. Lelaki itu kembali terkekeh, terdengar meremehkan.

"Dengar, Chanyeol. Selama ini kau menghabiskan waktu dengan kedua gadis kembar itu tanpa kau ketahui. Dan Baekhyun—"

"Aku tidak mengenalnya" Chanyeol menyela dengan cepat, auranya seketika menggelap. Lelaki itu memandang Sehun sedikit memicing. "Aku tidak mengenal gadis yang kau bicarakan, aku hanya tahu satu nama dalam hidupku, hanya Byun Baekhee." Tuturnyan dingin. Namun tak ia pungkiri nada suaranya seakan asing di telinganya sendiri saat melontarkan kalimat tersebut.

Lelaki itu bingung, ia marah, kalut. Rasa penasaran tentang berubah-ubahnya sifat gadis itu sudah terjawab, dan ia yakin Baekhyun telah menipunya selama ini. Tentu saja, karena gadis itu selalu berperan sebagai Baekhee ketika bertemu dengannya, sudah jelas bukan?

Sehun menatap Chanyeol tidak percaya, namun ia hanya bungkam tidak tahu apa yang harus ia katakan.

Everything is getting more complicated..

Perlahan Chanyeol bangkit, melangkahkan kakinya untuk kembali memasuki UGD, namun setelahnya ia dapat melihat beberapa perawat dan dokter mengerumuni ranjang Baekhee. Mereka semua berwajah panik dan cemas.

Apa yang terjadi?

"Seonsaengnim, detak jantung pasien semakin melemah." Seorang perawat berseru panik.

"Siapkan Defibrilator.." Perintah sang dokter tak kalah panik.

Chanyeol dapat melihat tubuh Baekhee tersentak saat kedua Paddle itu menempel di dadanya, seperti tadi namun kali ini pada gadis yang berbeda.

Pada kakaknya? Atau adiknya ? Chanyeol memejamkan mata menahan amarah yang nyaris meletup. Merasa dipermainkan.

"200 joule, all clear?!" Dokter itu kembali memberi aba-aba pada perawat, dan tubuh Baekhee kembali tersentak ke udara. "sekali lagi 200 joule, all clear?!" Ia merasa putus asa ketika alat itu bekerja namun Baekhee tak memberi reaksi. Denyut jantungnya semakin melemah. Dokter itu menggeleng pelan, "300 joule, all clear?!" Ia tak patah semangat saat kembali tak mendapatkan reaksi dan kehilangan detak jantung pasiennya, sekali lagi ia menempelkan kedua Paddle itu ke dada Baekhee namun tetap sama, ia melempar asal Paddle itu, melipat kedua tangan dan membawanya bertumpu diatas dada Baekhee tanpa menunggu lama ia memompanya perlahan berharap gadis itu memberi reaksi, berharap detak jantung itu kembali, lima menit berlalu.

"Ayolah! Kau harus berjuang!" Dokter itu berseru marah, peluh sudah mengalir di dahi dan pelipisnya, namun ia tak tak menyerah dan terus memompa dada Baekhee, "Tidak, tidak.." lanjutnya mulai putus asa. Sampai di menit ke sepuluh satu garis lurus di layar pasien monitor menyita perhatian semua orang. Terdengar bunyi panjang sedikit melengking dan memilukan, mengiris hati siapapun yang mendengarnya.

Dokter itu menyerah, perlahan ia bangkit lantas melempar ekspresi sedih dan kecewa. "Tetapkan waktu kematiannya." Perintahnya pada perawat di sampingnya.

"Pasien bernama Byun Baekhee, meninggal dunia pada tanggal—"

"TIDAK!" Chanyeol menyela dengan cepat ucapan sang perawat, rahangnya terkatup rapat, ekspresinya bersemu marah perlahan ia berjalan mendekati ranjang Baekhee, mengguncang tubuh yang kini tak lagi bernyawa. "H-hei, bangun!" Ucapnya terbata seraya menepuk pelan pipi Baekhee. "KAU HARUS BANGUN, BYUN BAEKHEE!" Raungnya kemudian, ia membawa Baekhee ke dalam ke dekapannya.

Beberapa perawat mencoba menenangkannya termasuk Sehun. Jimin pun sama kalutnya, ia membawa Minseok berbaring pada satu ranjang pasien yang kosong karena wanita itu langsung pingsan saat mendengar Baekhee meninggal dunia.

"Tidak, tidak.. kau harus bangun.." Chanyeol terus mendekap tubuh dingin itu. Ia tidak peduli, yang ia tahu hanya satu nama, Byun Baekhee.

Nama itu yang ia ketahui telah membuat dunianya jungkir balik. Ya. Hanya sebatas nama yang ia tahu.

Hanya nama.

Lelaki itu perlahan melepas dekapannya, dengan ekspresi marah ia mendekati ranjang Baekhyun. Ia mengguncang tubuh mungil itu, melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan pada Baekhee, namun kali ini berbeda, tidak ada permohonan, tidak memerintahkan gadis itu untuk bangun dan justru malah sebaliknya.

"Seharusnya kau yang mati! KAU YANG HARUS MATI!" Kata Chanyeol dengan suara lantang, ia terus mengguncang secara kasar tubuh mungil Baekhyun yang masih dalam keadaan tak sadarkan diri tersebut. "Bukan Byun Baekhee yang harus mati tapi kau!" Timpalnya dengan sedikit melunak namun mengandung ratusan belati dalam nada suaranya tanpa berhenti mengguncang tubuh Baekhyun tak kalah kasar.

"HENTIKAN, PARK CHANYEOL!" Sehun berseru sama marahnya, ia menggapai tubuh Chanyeol dan mencengkram erat kerah lelaki itu lantas mendaratkan satu pukulan keras di rahang Chanyeol.

Dan membuat beberapa aktifitas di ruangan itu berhenti dalam sekejap, semua orang yang berada di sana memekik terkejut, beberapa orang melempar ekspresi iba dan sebagainya.

Park Chanyeol terhuyung, nyaris menyentuh lantai. Netranya memandang kosong, jauh ke depan. Kini wajahnya tak menunjukan satu ekspresi pun.

Akal sehatnya merasa tindakannya benar, Byun Baekhee lah gadis yang selama ini memenuhi otaknya. Namun jauh di dalam hatinya, sisi lain dari dirinya memberontak, meneriakan satu nama lagi, satu nama yang terasa asing. Namun egonya secepat kilat menguasai, membuatnya mengenyahkan perasaan itu, baginya hanya Byun Baekhee. Tidak ada nama lain, tidak ada gadis lain.

Hanya Byun Baekhee. Dan menegaskan dalam hati, sifat polos dan senyuman hangat yang menjadi favoritnya adalah milik Baekhee.

Chanyeol, Sehun dan bahkan Jimin terlalu sibuk dengan pikiran mereka masing-masing sehingga tidak menyadari satu hal.

Jari telunjuk Baekhyun bergerak pelan sedari tadi, satu tetes cairan bening lolos dari sudut matanya yang masih setia terpejam.

.

.

-Heartless

.

Luhan menangis sejadi-jadinya seraya menatap peti mati mengilat, tempat dimana dibaringkannya jasad Baekhee. Sementara Kris, ia hanya menatap nanar pada objek yang sama. Menyesal.

Ya. Hanya satu kata itu yang terus menghantuinya semenjak ia menginjakan kakinya di korea setelah sebelumnya memesan tiket penerbangan pertama. Seseorang bernama Minseok menghubunginya, menyampaikan berita yang nyaris membuatnya terjatuh dari lantai sepuluh saat mengunjungi proyek pembangunan perusahaan yang tengah ditanganinya.

Lelaki itu bahkan mengutuk dirinya sendiri yang tidak mengetahui penyakit yang Baekhee derita, ia kembali merasa gagal menjadi seorang kakak. Membiarkan adik-adiknya menanggung beban seberat itu.

Kris menyesal, lelaki itu menangis tertahan.

Ia sangat terpukul, belum lagi kondisi Baekhyun yang masih tak sadarkan diri pasca operasi membuatnya semakin terpukul. Ia gagal, sungguh. Ia bukan kakak yang baik, bukan sosok yang dapat diandalkan untuk kedua adiknya.

Kris mengalihkan pandangan pada sudut lain di rumah duka tersebut, Park Chanyeol terduduk lesu. Lelaki itu tak mengalihkan atensinya sama sekali dari objek yang sama yang sedari tadi Kris dan Luhan pandangi.

Keadaan Chanyeol sangat berantakan, luka memar di sebagian wajahnya yang diakibatkan oleh pukulan yang Kris layangkan bertubi-tubi.

Emosi Kris meletup seketika saat dengan entengnya Chanyeol mengatakan bahwa Baekhee meninggal disebabkan olehnya, Baekhee menjadi sasaran amukan wanita yang menyukai Chanyeol. Tentu saja Kris tak terima, ia memukul Chanyeol berkali-kali sampai satu kalimat yang terucap dari mulut Chanyeol membuatnya mematung seketika.

Lalu, dimana kau saat adikmu dalam keadaan sekarat?

Kata-kata itu terus terngiang di benak Kris, mengiris hati, membuat lelaki itu menyesal sejadi-jadinya.

.

.

Hari berlalu dengan cepat, seakan memaksa manusia meninggalkan kesedihan yang dirasakan. Sudah seminggu sejak acara pemakaman Baekhee yang memecahkan tangis setiap orang yang hadir.

Cukup mengejutkan, mengingat Baekhee bukanlah gadis yang disukai banyak orang seperti Baekhyun.

Luhan masih setia duduk di samping ranjang Baekhyun, wanita itu terus menggenggam jemari lentik sang adik. Wajah Luhan sudah sangat pucat, ia bersikukuh menjaga Baekhyun tanpa memikirkan kesehatannya, Luhan hanya tidak ingin kehilangan Baekhyun, kepergian Baekhee cukup membuatnya terpukul. Tidak ingin hal itu terulang.

Pintu kamar inap itu terbuka, menampilkan sosok Minseok yang tersenyum ramah.

Luhan sudah cukup akrab dengan Minseok, karena wanita itu yang selalu menemaninya menjaga Baekhyun. Dan Luhan sangat berterimakasih kepadanya.

"Biar aku saja yang menjaganya, Luhan-ssi. Sebaiknya kau beristirahat." Kata Minseok, wanita itu sedikit ngeri melihat wajah Luhan yang sangat pucat.

Luhan menggeleng pelan tanpa lupa mengulas senyum.

"Adikku lebih membutuhkanku saat ini, terimakasih Minseok-ssi"

Minseok menghela nafas pelan, merasa kagum akan kasih sayang yang Luhan dan Kris berikan kepada Baekhyun.

Tak lama kemudian sosok Kris memasuki ruangan tersebut, lelaki itu tersenyum ramah kepada Minseok sebelum akhirnya menghampiri istrinya.

"Kau harus istirahat, Baekhyun akan marah padamu jika melihat kondisimu seperti ini." Bujuk Kris, mencoba memberi pengertian kepada Luhan. Ia sangat tahu istrinya itu masih terpukul atas kepergian Baekhee dan ia pun sama.

Namun berlarut dalam kesedihan takkan pernah berujung, ia harus kuat. Baekhyun saat ini membutuhkannnya, karenanya ia mencoba memberi Luhan pengertian akan hal itu. Namun Luhan tetaplah Luhan, wanita itu sedikit keras kepala.

"Aku tak mau kehilangan Baekhyun juga, Kris." Tangis Luhan seketika pecah. Terdengar pilu dan menyakitkan.

"Aku tahu, aku pun sama. Tapi kau harus memperhatikan kondisimu dan kesehatan bayi kita." Kris memeluk Luhan, memberikan ketenangan kepada istrinya.

Tangis Luhan semakin menjadi, namun sesaat setelahnya wanita itu pingsan. Kris dan Minseok panik, dengan segera Kris mengangkat tubuh Luhan dan membawanya ke UGD dibantu oleh Minseok.

Tak lama setelah Kris dan Minseok menghilang, sosok wanita yang mengenakan pakaian pasien masuk ke kamar inap Baekhyun. Gerak-geriknya tampak waspada, namun ia menghela nafas lega saat tak ada satu pun orang yang menjaga Baekhyun.

Wanita itu— Seulgi. Ia memandang jijik pada Baekhyun, menampar wajah Baekhyun yang dan mengguncang tubuh mungil yang masih belum sadarkan diri.

"Lihat kau, tak berdaya dan menyedihkan! Haruskah kubuat kau menyusul saudari kembarmu?!" Tanya Seulgi dengan terkekeh.

Wanita itu mengalihkan atensinya pada jemari lentik Baekhyun, sebuah cincin yang melingkar di jari manis gadis itu menarik perhatiannya. Dan seketika Seulgi marah.

"Apa Park Chanyeol yang memberikannya padamu? Jalang sialan! Kau telah merebutnya dariku!" kembali Seulgi menampar Baekhyun dengan keras. Wanita itu melepas cincin yang Baekhyun kenakan. "Lihat, ini sangat cocok jika aku yang memakainya." Wanita itu tertawa keras saat cincin –Purity Ring— itu melingkar di jari manisnya, Seulgi berjingkrak riang yang malah terlihat seperti orang gila.

Karena ia pikir itu adalah cincin pemberian Park Chanyeol, wanita itu cukup bodoh untuk mengetahui cincin apa yang ia kenakan saat ini.

"Sstt.. jangan menangis.." Kata Seulgi saat melihat air mata mengalir dari sudut mata Baekhyun. "Eonni akan mengajakmu jalan-jalan, jadi jangan menangis, jalang sialan!" kembali Seulgi tertawa bahagia, menyebut dirinya sendiri Eonni dengan ekspresi mengejek. "Eonni bersusah payah menyamar dan memakai baju pasien menjijikan ini untuk mengajakmu jalan-jalan. Lihat, Eonni bahkan mengenakan perban yang sama sepertimu" Timpalnya dengan menunjuk kepalanya yang terbungkus perban.

Ya. Setelah mendengar kabar Minhyuk yang telah dihabisi oleh Park Chanyeol, Seulgi bersembunyi dari kejaran anak buah lelaki itu. Ia merasa marah dan dendam.

Seulgi mencabut beberapa selang yang menempel di tubuh Baekhyun secara paksa, melepas alat bantu pernafasan yang bertengger di hidung dan mulut Baekhyun dengan tergesa-gesa. Ia harus membawa Baekhyun dari sini secepatnya dan membunuhnya di suatu tempat. Kembali Seulgi tertawa renyah saat pemikiran itu terlintas.

Seulgi meninggalkan sebuah catatan di atas nakas yang berada di samping ranjang.

Susah payah ia mengangkat tubuh Baekhyun, mendudukkannya di kursi roda yang ia bawa. Wanita itu mengedarkan pandangannya ke segala penjuru dan bernafas lega, koridor Rumah sakit tampak tidak terlalu ramai. Dengan langkah pelan Seulgi mendorong kursi roda tersebut, membawanya keluar dari Rumah Sakit dan menghentikan sebuah taksi yang melintas di depannya.

"Aku akan membayar berapapun yang kau minta, jika kau membawaku jauh dari sini."Katanya kepada supir taksi yang langsung mengangguk patuh, tergiur dengan penawaran Seulgi.

Wanita itu tertawa keras di dalam taksi, rencananya pasti akan berhasil. Tentu saja, karena tak lama lagi gadis yang terduduk di sampingnya dalam keadaan setengah sadar itu akan menyusul saudari kembarnya yang telah terlebih dahulu dijemput oleh malaikat maut.

Seulgi harus melenyapkannya, karena dengan begitu gadis itu tidak akan mempunyai kesempatan untuk bersama Park Chanyeol.

Jam menunjukan pukul lima pagi. Taksi yang Seulgi dan Baekhyun tumpangi semakin jauh, Seulgi mengedarkan pandangannya keluar di balik kaca mobil, taksi itu melaju di sebuah jalan yang berada di sisi bukit yang cukup curam, wanita itu bahkan dapat melihat dengan jelas ada danau luas di bawah sana. Ia bertanya-tanya dimana ini? Apakah sudah sangat jauh? Jika ya, maka ia hanya harus meminta supir taksi itu berhenti.

Mendorong Baekhyun ke jurang sepertinya menyenangkan.

Namun sesaat kemudian, sang supir mulai kehilangan konsentrasinya, merasa lelah dan mengantuk karena telah mengemudi selama berjam-jam tanpa berhenti. Mobil yang dibawanya mulai tak tentu arah, sang supir mencoba mengendalikan mobilnya namun terlambat.

Mobil itu menabrak pembatas jalan yang berada di ujung bukit. Tebing curam menjadi saksi ketika mobil itu melayang di udara sebelum akhirnya bergulingan di atas permukaan jurang yang sempit dan tak rata.

Sementara di dalam mobil itu, Baekhyun yang setengah sadar mengedarkan pandangannya dengan susah payah. Pelipisnya mengeluarkan darah, ia melihat wanita di sebelahnya sudah tak sadarkan diri dengan luka yang bahkan lebih parah.

Mata Baekhyun setengah terbuka saat melihat percikan api di bagian depan mobil tersebut. Kembali dengan susah payah ia menggerakan tubuhnya, mencoba mencari cara untuk keluar dari mobil yang mungkin sebentar lagi akan meledak.

Ia bahkan mengenyahkan pertanyaan tentang keberadaannya di tempat tersebut, Itu tidak penting saat ini.

Tangannya perlahan terulur membuka pintu mobil dengan susah payah, ia merangkak keluar sangat pelan. Namun itu adalah usahanya yang menguras sisa tenaga yang ia punya. Baekhyun tak berdaya, ia bergulingan dengan tak elit saat mobil itu tiba-tiba meledak, dan kemudian tubuh mungilnya melayang di udara sebelum akhirnya tenggelam di lahap kedalaman danau yang sunyi dan dingin.

Tubuhnya mengambang dengan gerakan pelan di dalam sana, tangannya terangkat di udara, matanya yang setengah terbuka perlahan tertutup rapat. Semua seolah bejalan dengan lambat saat ini. Baekhyun tak berharap seseorang menolongnya, Karena jika ia mati sekarang, ia akan sangat bersyukur. Setidaknya ia akan menyusul dan bertemu Baekhee yang telah lebih dulu meninggalkannya.

Dan hidup pun takkan ada gunanya sekarang tanpa Baekhee. Ia hanya akan merasakan sakit luar biasa meratapi kepergian kakaknya.

Ya. Seharusnya Baekhyun mati, seperti yang lelaki itu katakan.

.

.

-Heartless-

.

Park Chanyeol berdiam diri di dalam mobilnya yang sudah berjam-jama terparkir di sebuah pekarangan komplek yang sudah sangat ia hafal.

Ia datang ke tempat itu dalam keadaan mabuk. Pikirannya kalut semalaman suntuk, ia mencoba menahan dirinya namun gagal.

Lelaki itu merindukannya.

Setelah acara pemakaman Baekhee waktu itu, ia tak memperlihatkan batang hidungnya sedkitpun. Chanyeol tidak pernah mengunjungi Rumah sakit itu lagi.

Ia bahkan mengabaikan permohonan Sehun untuk sekedar melihat keadaan gadis itu. Dengan kasar Chanyeol berkata.

Untuk apa? Aku bahkan tak mengenalnya. Katakan padanya untuk mati saja.

Chanyeol memejamkan mata, menyandarkan punggungnya pada jok mobil. Merasa heran kenapa saat ia mengatakan hal itu hatinya seolah memberontak, menampik dengan sangat keras.

Lelaki itu keluar dari mobilnya, udara dingin pukul lima pagi menyerangnya tiba-tiba. Chanyeol tidak peduli dengan penampilannya yang berantakan karena mabuk semalaman. Ia berjalan dengan gontai, lelah. Langkahnya menelusuri setiap rumah yang berjajar rapi di pekarangan komplek tersebut.

"Jesper, B Noona tidak akan mengantar susu. Dia masih sakit, sayang. Ayo masuk." Wanita itu membujuk anaknya dengan susah payah.

"Tidak mau, aku ingin bertemu B Noona." Sahut bocah lelaki itu keras kepala, sesaat kemudian tangisnya pecah.

"Baiklah, maafkan Omma.. kau boleh menunggu B Noona sekarang, tapi jika B Noona tidak datang kau harus segera masuk, mengerti?" Kata wanita itu lagi, bernegosiasi.

Bocah lelaki itu megangguk antusias.

Chanyeol yang sedari tadi memperhatikan interaksi sepasang anak dan ibu itu perlahan berjalan mendekat. Lelaki itu berlutut di hadapan Jesper.

"Sedang apa kau di depan rumah pagi-pagi seperti ini?" Tanya Chanyeol berbasa-basi.

Bocah lelaki itu memandang Chanyeol lekat seraya memiringkan kepalanya ke satu sisi dengan ekspresi lucu. "Aku menunggu B Noona." Jawabnya kemudian dengan polos.

Nafas Chanyeol tercekat untuk sesaat setelah mendengar nama itu."Kenapa? Ibumu bilang dia tidak akan datang.." Tuturnya dengan nada suara asing.

"Aku tahu, B Noona sedang sakit." Sahut Jesper masih dengan ekspresi polosnya, namun matanya memancarkan kesedihan yang mendalam.

"Lantas?"

"Aku ingin meminta maaf, aku takut dia meninggal seperti Baekhee Noona." mata bocah lelaki itu berkaca-kaca "Waktu itu aku merajuk padanya karena dia tak mengantarkan susu untukku, tapi setelahnya dia datang untuk meminta maaf dan memberiku baju ini." Kata Jesper menunjuk baju hangat yang dikenakannya. "Noona bilang, Noona yang merajutnya sendiri. Tapi aku malah mengacuhkannya." Timpalnya seraya mengelus baju yang di kenakannya dengan perlahan. "Aku hanya berharap Noona datang sekarang, dan aku akan meminta maaf karena sudah mengacuhkannya waktu itu"

"Kenapa harus meminta maaf? Bukankah dia bersalah padamu?" Tanya Chanyeol sedikit geram. Dia bahkan menipuku.. Timpalnya dalam hati.

Bocah itu menggeleng pelan.

"B Noona tidak bermaksud seperti itu, sekarang aku mengerti. B Noona menyanyangiku." Bocah itu menghela nafas pelan. "Seandainya aku mendengarkan penjelasan Noona waktu itu, mungkin aku tidak akan menyesal saat ini."

"K-kau menyesal?" Tanya Chanyeol yang malah terdengar seperti cicitan ragu.

Jesper mengangguk seraya mengerucutkan bibirnya lucu.

"Aku sangat menyesal, aku takut tidak mempunyai kesempatan untuk meminta maaf kepadanya."

Chanyeol mengepalkan tangannya erat, ia tidak boleh terkecoh oleh ucapan bocah lelaki itu. Tidak. Karena bagaimana pun gadis itu sudah menipunya, masuk ke dalam dunianya dan Baekhee tanpa izin. Gadis itu perusak.

Ya. Chanyeol bersikukuh.

"Ahjussi siapa?" Jesper melontarkan pertanyaan itu dengan ekspresi curiga.

Chanyeol mengernyit menangkap ekspresi itu, berani sekali bocah itu.

"Bukan siapa-siapa, Ahjussi hanya ingin bertanya. Dimana rumah B Noona?" Tanyanya sedikit lirih saat nama itu terlontar dari mulutnya.

Masih merasa asing.

Jesper memicingkan matanya semakin curiga, sementara Chanyeol menaikkan sebelah alis menunggu respon dari bocah tersebut. Lelaki itu bernafas lega setelah Jesper menunjuk kearah rumah sederhana tak jauh dari tempat ia berpijak. Chanyeol bangkit dan mengusak rambut Jesper pelan sebelum akhirnya berlalu, melangkahkan kakinya menuju rumah Baekhyun.

Sepuluh menit berlalu, dan Chanyeol masih berdiri di depan rumah itu tanpa berniat melangkahkan kakinya kemanapun. Namun setelah hatinya mantap ia mulai bergerak, memasuki halaman rumah itu. Matanya menyipit ketika memutar kenop pintu, rumahnya tidak terkunci. Dengan langkah pelan dan ragu ia masuk.

Nafasnya tercekat seketika saat disuguhi sebuah bingkai besar yang menempel di dinding, menampilkan potret dua gadis berwajah serupa tengah tersenyum. Chanyeol memandang lekat salah satunya, senyum itu. Senyum yang berhasil menjungkir balikkan dunia seorang Park Chanyeol.

Dan Chanyeol meyakinkan dalam hati jika itu Byun Baekhee.

Langkahnya menelusuri setiap sudut rumah kecil itu. Chanyeol memasuki sebuah kamar, ada dua buah ranjang disana. Ia mengedarkan pandangannya, sesaat berhenti setelah sebuah buku catatan di bawah sana menarik perhatiannya. Terselip di celah kecil antara dinding dan nakas

Chanyeol mengulurkan tangganya, megambil buku catatan tersebut dan kemudian duduk di salah satu ranjang, lelaki itu mendecih, siapapun pemilik buku catatan ini, maka ia benar-benar polos atau bodoh? Tentu saja, memilih mencurahkan isi hatinya pada sebuah buku catatan adalah hal terkonyol di jaman secanggih ini.

Namun hal itu tak membuat rasa penasaran Chanyeol berkurang sedikitpun ketika nama Byun Baekhyun tertulis rapi pada halaman pertama. Jadi ini miliknya.. Terkanya dalam hati,

Chanyeol membuka halaman kedua. Tertulis sebuah tanggal disana.

Okay, hari ini aku mengunjungi toko bunga itu lagi. Kau tahu apa? Aku masih tidak berani masuk untuk sekedar bertanya apakah mereka membutuhkan pekerja tambahan? Aku terlalu malu untuk itu, karenanya aku hanya berdiri seperti orang bodoh di depan toko itu. Kenapa aku sangat kaku? :(

Chanyeol megulas senyum tanpa sadar. Lelaki itu membuka halaman berikutnya, seperti halaman sebelumnya tertulis sebuah tanggal disana.

Hei, aku telat memberitahumu tentang sesuatu. Aku terlalu sibuk menjaga Baekhee Eonni di Rumah Sakit, kau tahu? Penyakitnya kambuh lagi dan itu membuatku menangis berjam-jam di samping ranjangnya, bukankah aku sangat cengeng?:S

"Hm, kau cengeng sekali." Gumam Chanyeol sejenak, bibirnya masih mengulas senyum, penuh arti. Kembali ia membaca kalimat berikutnya.

Umm, awalnya aku sempat putus asa karena membutuhkan banyak biaya untuk pengobatan Eonniku, namun seorang anak baik hati bernama Jimin menawarkanku satu pekerjaan untuk bernyanyi di sebuah pesta.

Nafas Chanyeol mendadak tercekat.

Dan aku bertemu dengan PARK CHANYEOL disana, dia mengatakan suaraku buruk :( Hei, tidak seburuk itu bukan? Dan dia menghukumku karena itu, dia membuatku sedikit berdarah tapi tenang saja aku tidak apa-apa. Meskipun kurang bersahabat, tapi sungguh dia benar-benar tampan dan aku tidak berhenti memikirkannya sejak saat itu.

Chanyeol memejamkan mata sejenak, nafasnya memburu tatkala sekelabat memori lama itu berputar. Ia mengingat dengan jelas ketika pertama kali melihat senyuman itu mengembang mengiringi suara lembut gadis itu saat menyanyi, senyuman yang langsung membuat seorang Park Chanyeol tersudut. Lelaki itu menggeleng pelan. Kemudian membuka halaman selanjutnya.

Chanyeol mengernyit menemukan sebuah kain lusuh ada bercak darah disana.

Dia merobek kemejanya untuk menutupi lukaku, dan itu membuatku jatuh cinta kepadanya dalam sekejap. Aku tahu ini memalukan dan aku tahu ini salah karena Eonniku juga menyukainya, menyukai orang yang sama dengan Eonniku untuk kedua kalinya tidak akan bagus. Baiklah, aku menyerah. Kebahagiaan Eonniku nomor satu.

Chanyeol membuka halaman berikutnya dengan tergesa. Berulang kali ia menggelengkan kepalanya pelan, berulang kali ia meyakinkan dirnya bahwa ini tidaklah benar.

Aku sudah bilang kan dia itu kurang bersahabat? Ya, dan dia menamparku hari ini. Dia membawaku jauh-jauh ke Villanya hanya untuk menamparku. Bagus sekali, tuan muda.. kau bahkan masih terlihat tampan meskipun sedang marah. Hei, kenapa buku catatan ini jadi kugunakan untuk membicarakannya?

Chanyeol tersenyum kering, Bodoh.. Pikirnya. Nafasnya semakin memburu, hatinya mulai menghangat, namun akal sehatnya tetap membantah.

Halaman lain ia buka.

Aku bertemu dengannya lagi, dan aku sungguh senang. Dia baik, kau tahu? Dia bahkan mengantarkanku ke panti asuhan. Ya, aku tahu dia tidak seburuk yang orang bicarakan, dia baik menurutku. Hei, kau mau tahu satu rahasia? Dia mencuri ciuman pertamaku ketika aku tertidur di dalam mobilnya, tentu saja aku berpura-pura terlelap. Dia akan sangat malu bukan jika tertangkap basah olehku? Dan selama dia menciumku, aku merasakan pipiku menghangat, bukan hanya pipiku tapi juga hatiku. Benar-benar lelaki itu. Tapi, dia tidak tahu siapa aku. Dia menganggapku Baekhee Eonni. Aku terjebak di antara mereka. Ini sulit.

Chanyeol mulai meremas buku catatan itu perlahan, dapat ia ingat dengan baik ciuman itu. Bibir manis itu, membuatnya candu. Sungguh. Dan ciuman itulah yang membuat perasaannya terhadap gadis itu semakin menjadi.

Gadis yang mana?

Chanyeol menggeleng sekali lagi. Byun Baekhyun? Tidak mungkin gadis itu bukan? Chanyeol hanya meyakini Baekhee selama ini, bukan Baekhyun.

Lelaki itu mulai kalut. Ia membuka halaman lain.

Aku berkencan dengannya malam itu, seperti biasa yang dia tahu hanya satu nama, Byun Baekhee. Umm.. tidak apa-apa, aku cukup senang setidaknya malam itu aku tahu dia sangat menyukai Tteokbokki dan Fish Cake, kau harus liat ekspresinya saat memakan itu semua, dia menggemaskan. Diluar dugaanku. Tapi kesenanganku tak bertahan lama saat sebuah mobil menabrak kita berdua, dia menyelamatkanku. Sungguh, aku menangis saat melihatnya terbaring tak sadarkan diri, hatiku berdenyut sakit. Ini memalukan, aku bahkan tak sadar memeluknya saat dia terjaga. Oh benar-benar memalukan.

Chanyeol terkekeh ringan, ia mengingat dengan jelas kejadian itu. masih tersimpan dengan baik di otaknya. Ekspresi polos itu masih Chanyeol ingat dengan baik. Lelaki itu kembali membaca kaimat berikutnya.

Aku baru tahu, jika seorang Park Chanyeol menyukai dongeng sebelum tidur. Jangan katakan padanya jika saat itu aku menahan tawa, dia akan marah. Kau tahu? Aku mendongeng untuknya saat itu, tapi dia tidak cukup peka dengan apa yang aku ceritakan dalam dongeng itu. Tidak apa-apa, setidaknya aku sudah memberinya petunjuk. Aku sudah melakukan semampuku bukan?

Chanyeol merasa bodoh sekarang, gadis yang memperlakukannya dengan lembut malam itu, mengelus surainya, memberikan ketenangan, bukanlah Byun Baekhee, melainkan Byun Baekhyun. Tangan Chanyeol mulai bergetar, tenaganya seketika terkuras, dengan susah payah ia membuka halaman berikutnya.

Aku melihatnya mencium Eonniku di pesta waktu itu, whoa.. dia membuatku patah hati, aku menangis. Tapi tidak apa-apa, aku sedikit bersyukur karena sejak saat itu Baekhee Eonni berubah menjadi ceria,aku berterimakasih kepada Park Chanyeol, karenanya Eonniku terlihat bahagia.

Itu catatan terakhir, saat Chanyeol membuka halaman berikutnya ia hanya bertemu dengan setetes air mata yang sedari tadi mangambang di pelupuk matanya, cairan bening itu terjatuh, menodai kertas putih yang masih bersih belum terjamah oleh tinta.

Chanyeol menutup buku catatan itu dengan perasaan tak menentu yang menggrogoti hatinya. Berulang kali ia meyakinkan dirinya bahwa ini tidaklah nyata.

Namun kenyataan itu harus ia telan pahit.

Satu hal.

-Bahwa selama ini yang berhasil menjungkir balikan perasaan Park Chanyeol dengan perlakuannya yang tulus, senyumannya yang hangat, aroma tubuhnya, bibir manisnya, suara lembutnya, bukanlah Byun Baekhee, melainkan nama lain. Satu nama yang bahkan Chanyeol tepis secara kasar dalam pikirannya. Pemilik nama itu pula yang Chanyeol harapkan untuk mati seminggu yang lalu.

Lelaki itu tertegun untuk sesaat, dadanya terasa sesak. Akan lebih baik jika gadis itu memakinya dalam tulisan itu, akan lebih baik jika Baekhyun menyerukan kalimat-kalimat benci di dalamnya, akan lebih baik jika ia menulis semua perlakuan kasar yang pernah Chanyeol lakukan terhadapanya, bukan kata-kata menenangkan seperti: Tidak apa-apa, tenang saja, aku baik-baik saja.

Itu membuat hati Chanyeol berdenyut sakit. Sungguh.

Gadis bodoh, ia bahkan tak mempedulikan perasaannya sendiri.

Seandainya aku mendengarkan penjelasan Noona waktu itu, mungkin aku tidak akan menyesal saat ini.

Kata-kata bocah lelaki bernama Jesper itu mendadak memenuhi otak Chanyeol.

Tidak.

Lelaki itu menggeleng keras. Setengah berlari ia keluar dari rumah Baekhyun dan mengemudikan mobilnya membabi buta, mengutuk siapapun yang menghalangi jalannya dengan umpatan kasar.

Chanyeol menutup kasar pintu mobilnya, berlari layaknya orang sinting di sepanjang koridor Rumah Sakit. Langkahnya terhenti saat atensinya berlabuh pada layar televisi yang menggantung di sudut ruang tunggu.

Korban kecelakaan? Meninggal di tempat?

Telinga Chanyeol tidak mungkin salah menangkap setiap kata yang Reporter itu lontarkan, ia dapat dengan jelas mendengar nama Byun Baekhyun disebut. Chanyeol menatap lekat layar televisi itu, sebuah mobil yang telah ringsek dan setengah hangus terbalik tak elit di bawah jurang.

Chanyeol terkekeh remeh, gadis itu membuatnya benar-benar seperti orang gila. Nama Byun Baekhyun bukan hanya satu di Korea Selatan. Namun nama itu berhasil membuat Chanyeol gugup setengah mati saat terlontar dari mulut reporter tadi.

Yang dimaksud Reporter itu tidak mungkin Byun Baekhyun-nya bukan?

Tidak. Perasaan tak enak yang perlahan menyusup pada diri Chanyeol dengan secepat kilat dienyahkan oleh lelaki itu. Byun Baekhyun baik-baik saja ia yakin. Dengan menggeleng pelan, mengeyahkan segala pikiran buruk dalam otaknya Chanyeol kembali berlari menuju kamar inap Baekhyun.

Dan ia hanya mendapati kamar itu kosong.

Chanyeol keluar secepat kilat, ahh.. mungkin Baekhyun-nya tengah berada di ruangan lain. Ya, Chanyeol yakin.

Namun tubuh tinggi tegap itu mendadak kehilangan tenaga ketika netranya menangkap sosok Luhan, Kris, Sehun dan dua orang lain yang tak ia kenal keluar dari kamar jenazah. Bagaimana Luhan menangis sejadi-jadinya, Bagaimana Kris terduduk lesu di atas lantai Rumah sakit, Bagaimana Sehun hanya menatap nanar dengan pandangan kosong cukup membuat Chanyeol mengerti.

Langkah gontainya menarik atensi Sehun, lelaki berkulit putih pucat itu menatap tajam Chanyeol yang bahkan tak tertarik untuk membalas ekspresi sinisnya.

Chanyeol terus menatap lekat pada pintu kamar jenazah tak berniat melemahkan atensinya kemanapun, langkahnya semakin gontai, pandangannya kosong.

"Katakan padaku, jika di dalam sana tidak ada Byun Baekhyun.." Desaknya dengan nada dingin menusuk.

Chanyeol geram, ia mencengkram erat kerah Sehun. "Katakan padaku, Brengsek! Dimana Byun Baekhyun?"

"Dia di dalam.." Kata Sehun datar seraya menyerahkan sebuah catatan kepada Chanyeol.

Aku ingin mati..

Aku pantas mati..

Aku akan menyusul Byun Baekhee..

Chanyeol tertawa keras, sangat keras sehingga menarik perhatian setiap orang yang lewat di sekitarnya.

Lelaki itu menerobos masuk ke dalam kamar jenazah, disingkapnya kain putih di atas Brankar. Dan sesaat setelahnya matanya terpejam erat melihat tubuh itu setengah hangus, wajahnya sudah tak berbentuk.

"Apa yang kau lakukan, Brengsek?!" Kris menyusul masuk dan mencengkram kerah Chanyeol dan mendaratkan pukulan di rahang Chanyeol.

Chanyeol terhuyung pasrah, tak mempunyai tenaga untuk sekedar melawan. dan ia pun tidak peduli.

"Dia tidak mungkin Baekhyun, katakan padaku Kris.." Cicit Chanyeol terdengar parau.

Kris memejamkan mata, menetralkan emosinya yang meletup-letup. Ia tidak tahu apa hubungan kedua adiknya dengan Park Chanyeol, namun Kris dapat melihat sorot terluka di kedua iris lelaki brengsek itu saat ini.

"Itu.. dia. Aku yakin, dia mengenakan cincin ini di jari manisnya dan aku sendiri yang membelikannya beberapa tahun yang lalu." Setengah hati Kris berucap demikian, itu memang Baekhyun. Baju pasien yang ia kenakan, perban di kepala serta Purity Ring yang melingkar di jari manisnya jelas mengatakan jika itu adalah Byun Baekhyun.

Hati Kris kembali teriris, sungguh ia tidak siap kehilangan kedua adiknya dalam waktu sekejap. Kris mengutuk dirinya. Hatinya benar-benar sakit, sebagian kebahagiaannya seolah terenggut. Ia telah kehilangan kedua gadis kembarnya dan itu benar-benar membuatnya sangat terpukul.

Kris dapat mendengar pekikan Minseok, Luhan sudah pasti kembali jatuh pingsan. Setengah berlari ia keluar meninggalkan Chanyeol dalam keadaannya yang menyedihkan.

Lelaki itu menggenggam sebuah cincin yang sesaat lalu diberikan oleh Kris. Irisnya menelisik tulisan yang terpahat di bagian dalam cincin tersebut.

True Love Waits

Chanyeol mencengkram kuat cincin itu sesaat setelah tahu bahwa itu adalah Purity Ring.

Apa Tuhan marah saat ini? Apakah ini adalah hukuman yang harus Chanyeol tanggung karena telah menyentuh dan menodai gadis itu?

Jika ya, maka Chanyeol pantas mendapatkannya. Bahkan pantas mendapatkan hukuman yang lebih menyakitkan dari ini.

Ya. Ini sungguh menyakitkan bagi Chanyeol.

Atau mungkinkah gadis itu marah atas semua perlakuan kasar Chanyeol, atas semua hinaan Chanyeol dan karenanya ia menghukum lelaki itu dengan cara seperti ini? Membawa separuh hatinya pergi, membuat seorang Park Chanyeol merasa sangat kehilangan. Dan Demi Tuhan. Menyesal.

Aku tidak bersungguh-sungguh saat mengatakannya, berharap kau mati, aku tidak bersungguh-sungguh saat itu. jadi bangunlah sekarang, ku mohon..

.

.

-Hearless-

.

Itu Baekhee, Baekhyun melihat kakaknya tersebut berlarian di padang rumput yang terhampar luas. Baekhee tersenyum lebar melambaikan tangan kearahnya, Baekhyun bangkit dan mengejar langkah Baekhee yang perlahan menjauh dan menghilang dari pandangannya.

Baekhyun mengedarkan pandangannya ke segala arah, memanggil Baekhee sekuat tenaga. Namun dalam satu kali kedipan mata, padang rumput itu ikut menghilang, berganti warna putih sejauh mata memandang.

"Lovely B.." Itu Baekhee, suaranya terdengar menggema dan lembut secara bersamaan.

"Eonni.." Netra Baekhyun menangkap sosok Baekhee tak jauh dari tempatnya berdiri.

"Kau tidak ingin bangun?" Tanya Baekhee dengan suara yang kian melembut tanpa lupa mengulas senyum.

"Aku ingin bersamamu." Sahut Baekhyun terdengar meratap.

Baekhee menggeleng pelan tanpa menanggalkan senyumannya. "Kau sudah lama tertidur, bangunlah. Eonni baik-baik saja disini. Jangan buat mereka larut dalam kesedihan, bangunlah."

Baekhyun menggeleng keras, ia mengulurkan tangannya menggapai tubuh Baekhee yang perlahan mengabur. Meneriakan nama kakaknya berulang kali.

"Lihat, matanya bergerak.." suara itu terdengar samar, suara seorang wanita. "Hei, pak tua matanya sedikit terbuka. Cepatlah kemari.." Lanjutnya.

Baekhyun mengerjapkan matanya perlahan, membiasakan diri dengan cahaya di sekitar.

"Dia sudah sadar?" sebuah suara lain, suara pria tua.

Baekhyun sepenuhnya terjaga saat ini. Ia memandang lekat pada dua orang yang terduduk di sampingnya.

Seorang wanita muda yang ia tebak seusia dengannya,dan seorang kakek?

"Hei, kau mendengarku?" Tanya yang lebih muda melambaikan lima jarinya di depan wajah Baekhyun. "Kau tahu siapa aku?" Timpalnya.

"Bodoh," kata si kakek. "Kau bukan artis mana mungkin dia mengenalmu." Hardiknya berhasil membuat yang lebih muda merengut.

"Hei, nak. Siapa namamu?" Tanya si kakek lembut.

Baekhyun bungkam seolah memikirkan sesuatu, membuat si kakek dan wanita muda itu menyipitkan mata.

"Byun Baekhyun.." Jawabnya memecah keheningan yang sesaat lalu menyergap. "Aku dimana?" kemudian bertanya dengan suara paraunya. Baekhyun mengedarkan pandangannya, sebuah kamar bernuansa klasik kental yang tidak terlalu luas, namun sangat nyaman ditempati. Ia melihat beberapa jenis obat-obatan tradisional di atas nakas rendah. Sebuah dupa menyala di sudut ruangan, menguarkan baunya yang khas, menggelitik indera penciuman Baekhyun.

"Jauh, sangat jauh. Kita berada di sebuah desa yang sangat jauh dari kota." Kata wanita muda itu terdengar antusias, seolah kata 'Jauh' adalah hal yang menyengangkan untuknya.

"Nak, apa yang terjadi padamu? Dimana keluargamu?" Tanya si kakek.

Baekhyun terdiam sejenak, sesaat setelahnya ia menggeleng pelan.

Dalam hati ia meminta maaf kepada Kris, Luhan dan Baekhee.

Well, hidup sebagai Byun Baekhyun yang lain dirasanya adalah pilihan terbaik. Untuk saat ini. Ia akan mencoba mengubur kepahitan yang telah dialaminya.

Lari dari kenyataan yang membuatnya terpukul hebat, bersembunyi dari seseorang yang membuat hatinya terluka dan remuk redam.

.

.

.

TBC

.

.

AN:

Rumit ya?

Okay, tarik nafas dulu.. Baekhee Eonnikuuuu T.T kesian kan sekarang sama Baekhee Eonni? yang sempet ngira Baekhee di-anuin sama Minhyuk itu gak bener, Cuma diambil fotonya aja kok sisanya disiksa abis2an sama Minhyuk dan Seulgi, berhubung keadaan Baekhee lagi sakit kan jadinya dia sampe sekarat gitu dan ya.. Tuhan berkehendak lain T.T Kejam gak sih? :|

Chapter ini adalah awal dari kisah ChanBaek yang baru sih bisa di bilang (tanpa Baekhee)

Yang minta Chanyeol dinistakan(?) mana suaranya? :D itu udah mulai aku hukum dia, pelan-pelan dulu, kita buat dia merana seiring berjalannya waktu haha Biarin! Biar dia tau rasa! nakal sih. Kita pisahkan dulu dia dari belahan jiwanya, setuju? Wkwkwk

.

.

HAPPY CHANBAEK DAY! YEAYYYY!

Langgeng ya mih.. pih.. :* itu pasti. Because 'B' always beside 'C'.

GOSH! THEY ARE PERFECT! #614everWithChanBaek

Woohooooo!

.

.

Buat Readersku sayang dan silent Readers ku tercinta :D aku mau kasih tau aja ni, Heartless bakal hiatus sampe lebaran. Dan untuk yang nanya Supposed, chapter 2 nya masih aku garap, doain aja mudah-mudahan cepet kelar. Amiinn..

Aku gak akan berhenti ngucapin terimakasih buat yang udah fav/follow/review. Love you guys and sorry for Typos.. kkkk

Oh, hai kak ri *pasang wajah tanpa dosa* hahaha

Dan buat GUEST..

Bisakah kamu lebih menghargai kerja keras orang lain? sepele memang. Fanfict. Tapi cukup menguras otak loh.. daripada mengeluh ini itu sama jalan cerita Heartless, lebih baik bikin ff sendiri sesuai dengan apa yang kamu mau. Mudah bukan?

.

So, Review?