HEARTLESS

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

And OCs

.

ChanBaek (GS)

Romance, Hurt/Comfort

.

DON'T LIKE DON'T READ!


Happy Reading!


.

Lelaki itu masih setia berada di ruangannya. Meskipun jam pulang kerja sudah berakhir beberapa waktu yang lalu, namun ia masih tampak sibuk dengan beberapa berkas menumpuk diatas meja kerja yang di bagian depannya terdapat sebuah Nameplate terbuat dari kaca tebal mengilat berkualitas tinggi bertuliskan CEO Chan Yeol, Park.

Suara detak jarum jam teratur dan kertas yang bergemerisik pelan setiap Chanyeol membuka halaman lain dari berkasnya memenuhi setiap sudut ruangan yang tampak tak berpenghuni karena sunyi.

Lelaki itu menghela nafas, matanya menyipit di balik kacamata kerja yang bertengger di hidungnya yang mancung ketika fokusnya membuyar. Berkas-berkas itu terjatuh tak elit diatas meja, Chanyeol melepas kacamata dan menghempaskan punggung ke sandaran kursi kerjanya yang empuk. Lelaki itu mendongak dengan mata terpejam, sesekali ia memijit pangkal hidung karena pening itu tak kunjung mereda.

Terdengar bagus. Sejak menjabat posisi CEO satu tahun terakhir, setidaknya lelaki itu semakin menambah daftar panjang hal-hal yang membuat seorang Park Chanyeol pantas digilai oleh setiap kaum hawa. Gila kerja.

Well, gila kerja itu relatif jika yang menyandang gelar tersebut adalah seorang Park Chanyeol.

Berbeda dengan Yoora dan Jongin yang menyebutnya seorang zombie karena wajah pucat dan kantung mata mengerikan akibat kurang tidur, beberapa wanita yang mengaguminya justru beranggapan bahwa hal itu tidak mengurangi sedikitpun ketampanan dan keseksian seorang Park Chanyeol.

Dan tentu saja mereka mengatakan itu sembari membuka paha lebar-lebar di hadapan lelaki tampan dengan reputasi acungan jempol tersebut.

Karena tidak ada yang lebih nikmat selain rasa sesak yang ditimbulkan oleh kelelakiannya, sensasi panas yang menjalar ke seluruh tubuh karena sentuhannya. Dan ya tentu saja tidak ada yang lebih memuaskan ketika lendir-lendir itu bercampur menodai permukaan ranjang dengan sprei yang tidak beraturan.

Chanyeol membuka matanya, lelaki itu melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan lalu mendesah pelan. Sepertinya ia ketiduran.

Lelaki itu meraih ponsel yang tergeletak diatas meja kerja lantas mengetik sebuah pesan.

To: Beloved

Baby, I'm sorry. Minggu lalu aku terlalu sibuk, aku akan menemuimu secepatnya. I love you.

Tepat setelah mengirim pesan tersebut, pintu ruang kerjanya terbuka tanpa ketukan sebelumnya. Tak perlu indera keeenam pun Chanyeol tahu, siapa lagi yang berani bersikap kurang ajar seperti itu terhadapnya selain makhluk hitam bernama Kim Jongin.

Jongin mengernyit ketika mendapati Chanyeol tersenyum samar memandangi layar ponselnya, kemudian menghela nafas pelan. "Sepertinya kau benar-benar mencintainya dan membuatmu menjadi segila itu." Itu sebuah pernyataan yang terlontar dari mulut Jongin, ah lebih tepatnya sebuah sindiran. Lelaki itu tahu siapa yang Chanyeol kirimi pesan beberapa saat yang lalu.

Chanyeol yang sedari tadi fokus pada layar ponselnya kini mendongak, ekspresinya perlahan berubah mendengar sindiran Jongin. Oh ya Chanyeol tentu tidak melewatkan nada sinis yang terselip pada kalimat yang temannya itu lontarkan. Namun ia tidak peduli, karena itu memang kenyataan. Chanyeol mencintainya, tidak peduli seberapa sering Jongin menyebutnya bajingan gila tak berotak.

Chanyeol tersenyum remeh, ia yakin kedatangan Jongin bukan untuk membahas seberapa gila dirinya. Lelaki itu melirik kembali jam tangannya, dan ya tentu saja ini adalah waktu yang tepat untuk bersenang-senang.

Ya. Setidaknya selain berkutat dengan beberapa berkas perusahaan bernilai milyaran won tanpa mengenal waktu, hal-hal seperti Club, alkohol, ekstasi, dan wanita adalah pilihan lain yang tentu saja selalu berhasil menjadi sebuah pengalihan. Untuknya.

.

.


-Heartless-


.

"Dia sudah tidur?" Tanya Kris sedikit berbisik setelah dengan usaha penuh kehati-hatian membuka pintu kamar khas anak perempuan.

Luhan mengangguk seraya menempelkan jari telunjuk di bibirnya, mengisyaratkan Kris untuk tidak terlalu bersuara dan perlahan bangkit dengan sedikit menyeret Kris keluar setelah sebelumnya mengecup sayang kening putrinya yang telah terlelap.

Luhan meneliti penampilan suaminya yang masih mengenakan jas kerja, wanita itu melepas simpul dasi Kris tanpa bicara sedikit pun.

Kris memeluk Luhan tiba-tiba, ia membenamkan wajah lelahnya pada bahu sang istri. Lelaki itu dapat merasakan jemari lentik Luhan mengelus punggungnya lembut.

"Aku akan menyiapkan air hangat." Kata Luhan sembari melepas dekapan sang suami. Wanita itu berjalan menuju kamar mandi. Dan hanya mampu menghela nafas pelan ketika sampai disana.

.

Tiga puluh menit berlalu, Kris keluar dari kamar mandi dan mengenakan pakaian tidur. Ia berjalan menuju ranjang dan merebahkan dirinya di samping Luhan yang mungkin sudah terlelap. Kris menatap langit-langit kamarnya dengan mata kosong, entah sudah berapa kali ia menghela nafas sebagai pelarian rasa lelahnya. Kemudian berbalik memunggungi istrinya.

Luhan tidak tidur, wanita itu mengikis jarak dan melingkarkan lengannya pada pinggang suaminya. Memeluk Kris dari belakang. Menyerukan wajahnya pada punggung lelaki tersebut.

Untuk sesaat tidak ada yang bersuara, hanya sunyi yang memenuhi ruangan itu.

"Sudah satu tahun.." Dan Kris bersuara, terdengar payah dan tertahan. Seolah ada sesuatu yang mengganjal pita suaranya.

"Aku tahu, sayang.." Sahut Luhan dengan nada suara lembut sembari mengelus tangan suaminya. Luhan memakluminya, karena dua hari yang lalu mereka baru pulang dari Korea, setelah memperingati hari kematian salah satu adik kembar mereka. Dan Luhan tahu, saat ini Kris sedang dalam kondisi yang tidak stabil.

"Aku.." Kris memberi jeda, mencoba untuk mengontrol nada suaranya yang berubah asing. "Merindukan mereka." Timpalnya dengan susah payah, lelaki itu menelan kering.

Luhan semakin mengeratkan pelukannya. "Aku pun sama.. tapi ketahuilah mereka sudah bahagia disana." Kata Luhan setenang mungkin, meskipun tak ia pungkiri pembahasan seperti akan selalu membuat dadanya merasa sesak. Sekuat mungkin ia menahan laju air mata yang sedari tadi mengambang di pelupuk matanya.

Wanita itu kembali mengelus tangan suaminya, mencoba memberi ketenangan. Dan ya, itu berhasil ketika beberapa saat ia mendengar helaan nafas teratur suaminya.

Luhan menaikan selimut untuk menutupi tubuh suaminya, kemudian berbalik menghadap langit-langit kamar. Wanita itu mengusap wajahnya pelan, tak tahu harus menggunakan upaya apa lagi untuk membuat Kris berhenti menyalahkan dirinya sendiri, suaminya berubah menjadi sangat pendiam dan tertutup meskipun tidak demikian kepadanya. Namun perubahannya itu sangat berpengaruh besar, Kris jadi terlihat sedikit kurus karena bekerja sangat keras untuk mengalihkan perhatiannya dari masa-masa sulit itu.

Luhan bahkan butuh upaya keras untuk menghentikan kecanduan Kris terhadap alkohol enam bulan yang lalu.

Dan ia tidak mau Kris seperti itu lagi. Luhan tidak marah, ia bahkan mengerti ketika Kris selalu pulang malam dalam keadaan mabuk dan berantakan beberapa bulan yang lalu. Namun sebagai seorang istri tentu Luhan sangat mencemaskan suaminya.

Dan berkat kesabaran Luhan, ia membuat Kris perlahan berubah. Lelaki itu mulai meninggalkan alkohol dan ya, sebagai gantinya ia memilih berkutat dengan pekerjaan di perusahaan.

Meskipun terkadang Kris akan kembali membahas hal menyakitkan itu, seperti yang baru saja terjadi. Membuat dirinya maupun Luhan kembali merasakan sesak yang teramat.

Karena meskipun rasa sakit itu menghilang, namun bekas luka tetaplah ada.

.

.


-Heartless-


.

.

Tepat di pusat kota, terdapat sebuah bangunan. Itu adalah toko bunga, tidak besar namun mampu mengundang decak kagum siapapun yang melintas di depannya. Ya, berbagai bunga cantik beraneka macam dan warna yang terpajang di luar membuat eksterior bangunan itu terlihat indah dan menarik.

Di dalam toko itu, seorang wanita cantik berpipi tembam tengah sibuk merangkai beberapa bunga. Kim Minseok.

Wanita itu sangat pandai merangkai bunga dan menghiasnya, membuat beberapa pengunjung toko itu lebih tertarik menontonnya daripada memilih bunga-bunga cantik yang terdapat disana.

Minseok tersenyum dan mengucapkan terimakasih setelah pelanggannya berlalu, namun senyumannya perlahan menghilang. Wajahnya berubah ketus ketika melihat seorang lelaki memasuki tokonya.

"H-hai.." Sapa lelaki itu dengan cengiran bodoh di wajah kotaknya.

"Mawar putih lagi, Kim Jongdae-ssi?" Tanya Minseok sedikit sinis.

Jongdae mengangguk terbata, ia bahkan terlalu gugup untuk sekedar bersuara. Lelaki itu meneliti pekerjaan Minseok, dalam hati ia begitu mengagumi bakat wanita itu. Meskpun sebagian kecil hatinya yang lain masih bertanya-tanya akan sikap Minseok yang terkesan sinis padanya.

Padahal sebelumnya hubungan mereka baik-baik saja. Ya. Setidaknya satu tahun yang lalu.

"Terimakasih.." Ucap Jongdae pelan seraya menerima seikat bunga mawar putih dan kemudian berlalu setelah membayar.

Minseok memandang punggung Jongdae dengan tatapan yang sulit diartikan, ia tak pernah tahu kemana perginya mawar putih itu. Jongdae selalu rutin membeli bunga itu setiap minggunya.

Apa dia mempunyai kekasih? Minseok menggeleng keras ketika pertanyaan itu menyusup dalam benaknya tiba-tiba. Memang apa pedulinya jika Jongdae mempunyai kekasih?

Wanita itu mendengus lelah, sedikit merasa bersalah atas sikap tak bersahabat yang ia tujukan kepada Jongdae setiap kali bertemu dengan lelaki itu. Namun bukankah itu wajar? Mengingat Jongdae adalah orang kepercayaan Park Chanyeol. Lelaki yang telah membuatnya kehilangan dua gadis kembar yang ia sayangi selayaknya adik kandungnya sendiri.

Dan apapun yang terjadi pada kedua gadis itu pasti tak lepas dari peran seorang Park Chanyeol. Minseok sangat yakin.

Tak terasa air mata mengalir di pipinya, betapa ia sangat merindukan gadis kembar itu. Betapa ia sangat menyesali atas apa yang terjadi pada keduanya. Minseok menelisik beberapa bunga yang berada di sekitarnya, kemudian tersenyum samar. Salah satu dari gadis kembar itu sangat menyukai bunga, dan akan sangat menyenangkan jika ia berada disini saat ini.

Nafas Minseok tercekat, kemudian menggelengkan kepalanya perlahan. Ia tidak boleh seperti ini, mereka sudah bahagia disana, ia tahu.

"Noona.." Itu Jimin. Pemuda itu masuk ke toko seraya mengernyit melihat mata Minseok yang sedikit sembab. Oh tidak lagi. Timpalnya dalam hati.

Jimin sangat tahu bahwa Minseok habis menangis, dan ia pun tahu apa yang kakaknya itu tangisi. Tidak akan bagus jika ia membahas hal-hal yang membuat Minseok sedih, termasuk dirinya.

"Aku bertemu Jongdae Hyung di depan.."

"Yeah, seperti biasa. Seikat mawar putih."

Jimin mengangguk-angguk paham tanpa bersuara, cukup mengerti hubungan Minseok dan Jongdae sedikit rumit. Dan ia tahu apa alasannya.

"Lantas apa yang kau lakukan disini?" Minseok bertanya tanpa melemahkan atensi sedikitpun dari bunga anyelir yang beberapa saat lalu mengambil alih fokusnya.

"Apakah Kim Ahjussi masih tidak mau memberi harga yang kita minta?"

Minseok mengangguk diiringi helaan nafa payah.

"Akh benar-benar pak tua itu! padahal kita sudah bekerja sama dengannya selama ini, kenapa dia tiba-tiba menaikkan harga menjadi sangat mahal?" gerutu Jimin seraya memberi jeda sejenak. "Noona tenang saja, temanku menyarankan salah satu pemasok dari luar kota, dia bilang harganya cukup terjangkau." Timpalnya.

"Luar kota?" Minseok mengernyit.

"Ya. Tepatnya di sebuah pedasaan dan jauh.." Jimin ikut mengernyit, mengingat temannya mengatakan bahwa tempat itu sangatlah jauh dari perkotaan.

Minseok tengah menimang-nimang, ekspresinya tampak bimbang. Namun tak lama, "Baiklah, kita tidak punya pilihan lain bukan? Berhubung besok hari minggu, kau antar Noona kesana.." Ujarnya.

Dan Jimin pun mengangguk patuh.

.

.


-Heartless-


.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, Sehun akhirnya berhenti di depan bangunan besar sebuah restoran. Dalam hati ia mengutuk makhluk cantik bernama Park Yoora. Bagaimana tidak? Wanita itu rutin mengatur jadwal kencan buta di akhir pekan untuk Park Chanyeol dan tentu akan berakhir dengan Oh Sehun yang menggantikan lelaki brengsek itu.

Jika saja Chanyeol tidak mengiming-iminginya dengan kepemilikan Jaguar putih mengilat yang bahkan kecantikannya mengalahkan dewi yunani, mungkin dirinya tak akan berakhir dengan dimaki atau yang paling parah disiram minuman hanya karena ia bertanya apakah wanita itu mengidap Anorexia?

Well, sejak saat itu Sehun tahu bahwa Collarbone yang menonjol adalah salah satu hal penting untuk seorang wanita agar dianggap memiliki tubuh proporsional.

Meskipun menurut Sehun, wanita itu terlihat sangat kurus.

Oh. Sehun bergidik ngeri. Wanita yang terobsesi dengan kecantikan memang mengerikan. Sangat jauh berbeda dengan seseorang.

Yang bahkan selalu terlihat cantik dan menarik, meskipun tidak pernah memamerkan tulang selangka, paha mulus dan belahan dada.

Gadis itu.

Sehun mendengus keras, matanya mendadak memanas. Lelaki itu menyandarkan punggungnya.

I miss you, B. Batinnya kemudian.

Lamunan Sehun membuyar ketika ponselnya berbunyi, bola matanya berputar jengah manakala nama Park Chanyeol terpampang di layar.

"Aku sudah berada di lokasi jika itu yang ingin kau tanyakan.." Kata Sehun sinis setelah sebelumnya menempelkan ponsel ke telinga.

Sehun mengernyit ketika tak mendapati sahutan, "Chan— Fuck! Apa kau sedang menyetubuhi seseorang disana?" Sehun memaki ketika mendengar erangan seorang wanita di seberang sana.

"Oh aku tidak sengaja menghubungimu Sehun." Sahut Chanyeol sembari terengah.

Klik!

"What the fucking hell! Mati saja kau keparat!" Sehun berteriak lantang mengarahkan mulutnya pada layar ponsel. Dan Sehun bersumpah ia sempat mendengar Chanyeol terkekeh sebelum memutus panggilan tersebut.

Sehun melempar ponselnya ke Dashboard, kemudian menghelas nafas pelan. Park Chanyeol berhasil membuat mood nya kacau, sepupunya itu benar-benar bajingan gila.

Park bungsu itu selain lihai bermain tahta, harta dan wanita, ia juga seorang yang handal menipu semua orang dengan wajah garang, dan kelakuan brengseknya yang kian menjadi selama satu tahun terakhir.

Oh, tentu saja Sehun tahu. Chanyeol sengaja meneleponnya ketika tengah bersetubuh dengan mainannya. Lelaki itu hanya ingin menunjukan pada Sehun bahwa, ia tetaplah Park Chanyeol.

Sehun berdecak. Tidak selamanya kau bisa bersembunyi di balik topeng itu, Park Chanyeol. Pikirnya.

Lelaki itu melirik jam tangannya dan sesaat kemudian mendengus kasar. Well, meskipun Park Chanyeol adalah seorang bajingan, namun Sehun tak memungkiri bahwa saat ini ia tengah menjadi budak si keparat itu.

Sehun keluar dari mobilnya, langkahnya bermalas-malasan. Sejujurnya membaca novel karya Elizabeth Hoyt akan terasa lebih menyenangkan dibanding kencan buta sialan ini.

.

.


-Heartless-


.

Langkahnya riang ketika menyusuri aliran sungai dangkal berair jernih, kakinya menapak pada setiap batu diatas sungai yang menghubungkan dua seberang tersebut. Senandung kecil diiringi senyuman merekah mengundang beberapa kupu-kupu mendekat dan menari-nari diatas kepalanya.

Gadis itu tertawa kecil.

Ketika kaki mungilnya menapak pada batu terakhir, senyumannya semakin merekah. Tak jauh dari tempatnya berdiri ada sebuah bangunan minimalis yang seluruh bagiannya terbuat dari kaca.

Ya. Itu adalah rumah kaca, berada di bagian belakang rumah kakek. Bangunan itu memang tidak sebesar rumah kaca yang berada di sisi lain rumah kakek, namun letaknya yang berada pada bibir hutan dengan aliran sungai yang menenangkan di bagian depannya, udara sejuk dan sekumpulan kupu-kupu cantik berhasil membuat gadis itu mengidolakan tempat tersebut.

"Oh kakek akan marah jika aku berlama-lama disini.." Ujarnya. Ia berjalan sedikit tergopoh dan masuk ke dalam rumah kaca tersebut, mengambil jenis bunga langka yang memang sengaja kakek simpan disana.

Setelah selesai ia berjalan keluar, kembali menapaki batu diatas sungai dan kembali ke rumah kaca lain tempat dimana kakek berada.

"Baekhyun Eonni!" pekikan seorang gadis bermata bulat menyambutnya ketika ia berada diambang pintu.

"Kyung.. whoa, kau sudah pulang?" Baekhyun terkejut ketika Kyungsoo memeluknya secara tiba-tiba, namun senyuman merekah tak pernah tertinggal di bibir mungilnya.

Kyungsoo melepas pelukannya, bibirnya mengerucut lucu. "Aku merindukanmu, Eonni."

Baekhyun masih tersenyum ketika jemari lentiknya mencubit pelan pipi Kyungsoo. "Kita hanya berpisah dua hari, kau berlebihan sekali."

Kyungsoo baru akan memprotes, namun suara lain menginterupsi.

"Siapa itu?" kata kakek, lelaki tua itu mengedarkan pandangannya keluar.

Baekhyun pun mengernyit ketika melihat sebuah mobil terparkir elit di halaman rumah kakek yang letaknya beberapa puluh meter dari rumah kaca tersebut.

"Baekhyun, kau salah mengambil bunga." Kata kakek sembari berkacak pinggang.

Baekhyun meneliti bunga yang berada di tangannya, kemudian meringis. "Oh maafkan aku, kakek." Cicitnya pelan.

Kakek tersenyum maklum, "Kau bisa mengambilkannya lagi? Biar kakek yang mengurus tamu itu, sepertinya datang dari kota." Ujarnya kemudian.

"Baiklah, aku akan mengambilnya lagi." Sahut Baekhyun.

"Aku ikut!" Seru Kyungsoo sembari menggandeng lengan Baekhyun.

Mereka berdua berjalan melewati pintu lain yang menghubungkannya langsung dengan halaman belakang rumah kakek.

"Jadi, bagaimana? Apakah kepulanganmu menyenangkan?" Tanya Baekhyun pada Kyungsoo di sela-sela langkahnya.

"Jika menyenangkan aku tidak akan kembali kemari secepat ini." Sahut kyungsoo berwajah masam.

"Apakah terjadi sesuatu?" Baekhyun melepas gandengan Kyungsoo dan kembali berjalan diatas batu.

Kyungsoo tidak menyahut, dengan fokus penuh ia berjalan diatas batu yang sedikit licin. Ia lebih memilih menjawabnya ketika sudah berada di seberang sana nanti, kulitnya yang putih mulus tidak boleh lecet sedikitpun karena terpeleset.

"Mau bercerita padaku?" tanya Baekhyun lagi sambil membuka pintu rumah kaca yang tadi sempat ia kunjungi.

Kyungsoo ikut masuk dan duduk bersila diatas kursi panjang yang berada di dalam sana. Metanya mengekori gerak-gerik Baekhyun yang tampak sibuk menelisik beberapa jenis bunga.

"Eonni, apakah kepergianku selam satu tahun dari rumah tidak cukup menyadarkan mereka?" tanya Kyungsoo dengan suara payah.

Baekhyun berhenti sejenak, ia menoleh kearah Kyungsoo yang sedang menunduk dalam. Kemudian mendekat pada gadis itu, duduk di sampingnya, mengelus pundaknya dengan lembut. "Apakah mereka masih memaksamu?" tanyanya dengan hati-hati.

"Ya. Mereka masih dengan pendiriannya. Mereka masih terobsesi menjodohkanku." Kyungsoo bersungut kesal. "Andai saja bukan makhluk hitam mesum itu yang dijodohkan denganku, aku mungkin tidak akan menolaknya sejauh ini." Timpalnya nyaris menangis.

Sudah Baekhyun duga, pasti akan selalu seperti ini. Ia menghela nafas, kemudia memeluk Kyungsoo. Baekhyun tidak suka jika gadis bermata bulat itu bersedih, meskipun masalah yang dihadapinya cukup berat.

Kyungsoo adalah putri dari salah satu pengusaha kaya Korea Selatan. Lahir dari keluarga kaya raya membuat orang tuanya begitu terobsesi menjodohkannya dengan putra dari kolega bisnis mereka. Mengatasnamakan tali persaudaraan tentu saja, namun pada faktanya mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri dan perjodohan itu adalah ajang untuk meraup keuntungan besar , mereka begitu menggilai angka.

Kyungsoo mempunyai jiwa pemberontak, ia menolak mentah-mentah dan pergi dari rumah satu tahun yang lalu dan berakhir di tempat ini. Ia lebih memilih tinggal bersama kakeknya, meskipun hubungan keduanya sangatlah berbeda dengan pasangan cucu dan kakek pada umumnya.

Mereka sering bertengkar dan mengejek satu sama lain. Bahkan Kyungsoo selalu memanggil kakeknya dengan sebutan 'pak tua'.

Kyungsoo yang awalnya menolak usul kakek untuk pulang akhirnya melunak, sejak enam bulan yang lalu gadis itu rutin pulang ke rumahnya di Seoul satu bulan sekali, meskipun akan berakhir menjadi gadis pemurung ketika kembali dari sana.

Baekhyun dan kakek cukup mengerti, kepulangan Kyungsoo ke kota hanya akan berakhir dengan pertengkaran antara dirinya dan kedua orang tuanya. Namun meski begitu ia tetap akan pulang setiap bulan, mengingat ia hanyalah seorang anak yang akan selalu merindukan kedua orang tuanya.

Baekhyun mendesah panjang ketika ia merasakan tubuh Kyungsoo bergetar, gadis itu menangis. Inilah saat yang berat untuknya juga. Hatinya akan berdenyut nyeri jika Kyungsoo menangis.

Ia menyayangi Kyungsoo, dan juga kakek.

Oh ya. Kedua orang itu adalah sesuatu yang Baekhyun syukuri berada dalam hidupnya, ia selalu menyelipkan nama keduanya dalam doa sebelum tidur. Kedua orang yang berperan penting dalam hidupnya selama satu tahun ini.

Mereka adalah keluarganya.

Baekhyun tak pernah lupa ketika ia pertama kali berada disini. Kakek dan Kyungsoo merawatnya dengan baik satu tahun yang lalu. Kakek selalu membuatkannya obat tradisional yang berhasil membuatnya mual namun pada akhirnya ia telan ketika kakek mengatakan dengan tegas bahwa itu adalah obat yang sangat bagus. Kyungsoo adalah gadis pemalas menurut kakek. Namun bagi Baekhyun, Kyungsoo adalah gadis yang sangat rajin karena gadis bermata bulat itu selalu rutin menggantikan perban di kepalanya setiap beberapa hari sekali.

Kyungsoo bahkan tak pernah menyerah memaksa Baekhyun untuk makan, karena seminggu pertama ia menolak untuk memakan apapaun

Karena itu adalah masa-masa tersulit yang harus ia lewati. Beberapa nama selalu berputar diotaknya kala itu. Dan itu sangatlah berat untuknya.

Kau adalah cucuku mulai saat ini..

Kata-kata itu selalu berhasil membuat Baekhyun menangis dan mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya kepada kakek.

Kau adalah Eonniku mulai saat ini..

Dan kata-kata itu membuat Baekhyun merasa bahwa saat itu ia adalah kakak bagi gadis bermata bulat bernama Kyungsoo.

Tidak ada apapun yang ia inginkan saat ini selain tetap bersama dengan Kyungsoo dan kakek. Kedua orang yang amat ia sayangi dan hargai.

Baekhyun tidak ingin mengingat apapun lagi, dia tidak akan mengingatnya lagi.

Hal itu sudah jauh terkubur dalam-dalam. Dan tak akan ia gali kembali.

Karena rasa sakit itu bukanlah hal yang harus ia rasakan untuk kedua kalinya.

"Sebaiknya kita kembali Eonni, pak tua akan marah jika kita berlama-lama disini." Kata Kyungsoo yang berhasil membuat lamunan Baekhyun membuyar.

"Baiklah." Sahut Baekhyun tersenyum sembari mengusap noda air mata di pipi Kyungsoo.

"Oh ya. Apakah kau tidak lupa?" tanya Kyungsoo.

Baekhyun mengernyit. Tidak mengerti.

Kyungsoo memutar bola matanya, "Seminggu yang lalu Eonni mengajakku ke Seoul untuk mengunjungi makam seseorang bukan? Dan besok adalah harinya! Akhirnya setelah satu tahun lamanya, aku bisa pergi ke kota bersamamu." Mood Kyungsoo berubah drastis, tentu saja! Selama ini sangatlah sulit mengajak Baekhyun pergi ke Seoul.

Dan Kyungsoo sangat menunggu hari esok tiba.

Baekhyun menegang dalam diam, gadis itu bimbang. Ia tidak yakin, banyak hal-hal menakutkan berada disana. Namun, ia tidak bisa mengabaikan hari kematian orang yang paling ia sayangi dalam hidupnya. Byun Baekhee.

"Tapi Eonni, bukankah hari kematian orang itu adalah dua dua hari yang lalu? Kenapa kau baru akan datang besok?"

"Kakek sangat sibuk kemarin, Kyung.." Baekhyun beralasan.

Sejujurnya ia menghindari beberapa orang yang sudah pasti datang untuk memperingati hari kematian Baekhee. Tentu saja Baekhyun harus menyembunyikan keberadaannya dari siapapun.

Dan ia memilih hari esok. Ia akan datang mengunjungi Baekhee yang sangat ia rindukan.

Baekhyun mendongak perlahan ketika matanya mulai memanas, tidak boleh ada air mata lagi.

.

.


-Heartless-


.

Aroma seks menguar di udara. Chanyeol masih terengah ketika menarik dirinya dan menghempaskan tubuh di samping wanita yang sama berwajah lelah.

Namun kepuasan dan ekspresi senang terpancar dari wajah wanita tersebut.

Chanyeol memejamkan matanya sejenak, namun beberapa saat ada tangan mungil melingkari perutnya yang mengilat tersapu keringat.

Chanyeol membuka matanya, wajah wanita itu kini berada dalam jarak sangat dekat dengan wajahnya.

"Aku selalu mengingkan lebih jika bersamamu, Park Chanyeol." Kata wanita itu dengan nada suara yang Chanyeol yakin menurut wanita itu sangatlah seksi.

Chanyeol hanya bungkam dan bergeming ketika jemari lentik wanita itu menelusuri perutnya perlahan dan terhenti ketika mencapai bagian bawah pusarnya. Chanyeol mencengkram tangan wanita itu dan menghempaskannya dengan kasar.

Lelaki itu melirik jam yang menempel di dinding. 05:00

Dan helaan nafas panjang terdengar setelahnya.

Sudah cukup main-mainnya, Park chanyeol.

Itu bukan suara hatinya, namun lebih terdengar seperti bisikan samar. Lelaki itu bangkit, mengabaikan ekspresi wanita yang tampak jengah dengan perlakuannya.

Well, ia tak bisa berbuat lebih. Memang seperti itulah Park Chanyeol.

Bajingan tetaplah bajingan.

Chanyeol mengenakan kembali pakaiannya, dan berlalu tanpa satu patah kata pun setelahnya. Ia berjalan santai menuju Basement setelah keluar dari lift. Lelaki itu sudah tak heran melihat Jongdae tengah menunggunya di depan mobil.

Jongdae membungkuk hormat meskipun Chanyeol tidak menyahutinya dan memilih masuk ke dalam mobil. Lelaki baerwajah kotak itu menghela nafas lega setelah mobil yang Chanyeol bawa perlahan menghilang dari pandangannya.

Terkadang Jongdae bergidik ngeri dengan hal-hal yangmenyangkut bos nya selama satu tahun ini.

Setiap minggu.

Pukul lima sore.

Mawar putih.

Pesan penuh cinta yang dikirim Chanyeol pada nomor yang sama setiap harinya.

Dan tempat tujuan yang saat ini akan Chanyeol tempuh.

Tentu saja Jongdae mengetahui semua itu. Dan ya, ia kira wajar saja jika Sehun dan Jongin mengatakan jika bos nya itu sudah kehilangan kewarasannya.

Dan sedikit menyayangkan karena ketidakwarasan bos nya adalah suatu hal yang wajar pula.

.

.

Chanyeol mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, ekor matanya melirik pada seikat mawar putih yang tergeletak di sampingnya. Lelaki itu tersenyum penuh arti.

Ia mengendus bau tubuhnya, dan tersenyum puas. Ia bahkan sengaja tidak membersihkan dirinya terlebih dahulu setelah bersetubuh dengan salah satu jalang nya.

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya kemacetan pun terurai. Lelaki itu kembali mengemudikan mobilnya. Hatinya menjadi was-was ketika tempat tujuan sudah semakin dekat dan beberapa saat kemudian ia sampai.

Lelaki itu menghela nafas sejenak, kemudian meraih mawar putih di samping dan keluar dari mobilnya.

Chanyeol berjalan menapaki permukaan rumput hijau diatas bukit yang tidak curam, gradasi langit sore membuatnya tersenyum kecil. Tempat itu adalah tempat kesukaannya sejak satu tahun yang lalu, bukan hanya karena pemandangan indah langit sorenya, namun karena ada seseorang pula tinggal di tempat itu.

Susah payah ia menyeret kakinya, perasaanya semakin tak menentu. Kekuatannya tiba-tiba saja menguap ketika dua buah pusara hitam mengilat menyambutnya. Chanyeol mendekat ke salah satunya, kemudian duduk di sampingnya.

"Hei.." Sapanya seraya meletakan mawar putih diatas pusara hitam mengilat. Tangannya mengelus lembut pusara itu sembari tersenyum.

"Aku sudah bilang bukan, aku akan menemuimu secepatnya." Lanjutnya masih dengan nada lembut. "Dan Jongin mengatakan bahwa aku gila karena mengirim pesan itu padamu kemarin." Timpalnya sinis.

"Kau tahu? Banyak sekali pasang mata yang melihatku seolah aku ini orang yang tidak waras."

Chanyeol menunduk dalam, tubuhnya bergetar. Kemudian terkekeh renyah.

"Apa kau masih marah padaku?" tanyanya kemudian.

"Sangat tidak sopan jika orang mengajakmu berbicara tapi kau tidak menyahut sama sekali, Byun Baekhyun." Suara terdengar tajam dan penuh penekanan, namun berubah lembut saat mulutnya melontarkan nama tersebut.

"Jawab!" Bentaknya kemudian.

Dan beberapa saat raut mukanya berubah panik, "M-maafkan aku, sayang. A-aku tidak bermaksud membentakmu. M-maafkan aku." Ucapnya sembari menunduk dan memeluk lututnya sendiri.

Lelaki itu kembali manatap pusara di hadapannya dengan lembut.

"Kemarin aku memecat beberapa karyawan setelah membuat mereka babak belur." Ucapnya kemudian dengan nada bangga.

"Aku bahkan mencambuk beberapa wanita di atas ranjang, dan memaki mereka dengan kasar. Aku memanggil mereka jalang." Lanjutnya tersenyum sinis.

"Ahh, kau tidak mencium bau tubuhku saat ini? Aku menyetubuhi jalang terlebih dahulu sebelum datang kesini." Dengan ringan dan terkekeh ia mengatakan itu.

"Bagaimana?" sorot matanya berubah kosong, seolah tak berjiwa.

"Tidakkah kau ingin bangun dan menamparku karena semua kelakuan bejat yang ku lakukan itu?" tanyanya lirih.

"Haruskah aku berbuat lebih kejam? agar kau bangun dan mengguruiku dengan celotehanmu yang alim itu." satu tetes air mata mengalir di pipi lelaki itu.

"Tidakkah kau ingin bangun?" tubuhnya bergetar, punggung tangannya menutupi mulut dan hidung. Meredam tangis yang membuat air matanya mulai menganak sungai.

"Harus berapa kali aku mengatakan bahwa hukumanmu ini terlalu berat, kumohon bangunlah dan beri aku hukuman yang lain.. kumohon Byun Baekhyun.." Suaranya menghilang di akhir kalimat dan kemudian tangisnya menjadi.

Nama itu benar-benar membuatnya hancur dan kacau. Membuat seorang Park Chanyeol kehilangan otak serta kewarasannya. Byun Baekhyun tidak pernah berhenti berputar di otaknya selama ini.

Dan ya. Nama itu yang selalu membuatnya berakhir di tempat tersebut setiap minggu, membuat lelaki itu menangis kemudian tertidur hingga esok pagi, disana. Di samping pusara dingin yang ia yakini adalah tempat dimana tubuh kekasihnya yang sudah tak bernyawa terbaring.

.

.

.

TBC

.

.

AN:
Hallo..
Setelah satu bulan lamanya, ini buat yang neror aku minta update, astaga :'( semoga puas ya sama chapter ini. hehe maapkeun typo nya..
Ehem.. anggap aja aku jahat karena rada berat hati menistakan tuan Park T.T beneran deh sulit rasanya, itu aja bikin dia kaya orang gila nulisnya sambil nangis wkwkwk tapi tenang aja, Raisa mh konsisten ko orangnya uhhukk..

Miris ya di balik kebrengsekannya itu tersimpan cinta dan penyesalan yang mendalam #iniapasih :D

Di chapter ini ada beberapa tebak-tebakan nya loh.. hehehe

Btw guys, aku gak akan bikin karakter B berubah disini. Dia masih tetep B yang dulu, penyayang dan lembut baik hati. Abis gimana ya.. soalnya aku udah mendewakan karakter dia dari awal jadi sulit bikin dia jadi cewek angkuh, keras kepala dan pendendam. Mungkin akan aku buat sedikit berontak jika disangkut pautkan dengan uhhuukk itu orang itu, dan ya hal itu akan sedikit menyulitkan pertemuannya dengan sang kekasih hati.. haha :D sabar ya sabar.. jodoh mh rintangannya banyak~

Oh ya, Minal aidzin walfaidzin ya teman-teman semua. Mohon maaf lahir dan batin :)

Tenang aja Raisa gak akan bahas film nya Chanyeol ko hehehe #lahiniapa -_-

Pokonya selalu percaya sama ChanBaek. Coz they are real!

Arasseo? Fighting and Review.. :D

See you next chapter… chu :*