HEARTLESS

.

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

And OCs

.

ChanBaek (GS)

Romance, Hurt/Comfort

.

DON'T LIKE DON'T READ!


Happy Reading!


.

Matanya yang terpejam sedikit mengerat ketika dirasanya sebuah telapak tangan membelai lembut menyusuri rambutnya, sentuhan itu berlangsung beberapa saat sebelum akhirnya berhenti tepat di rahang tegas miliknya. Chanyeol tak berniat membuka mata, jemari lentik itu membuatnya semakin terlelap meskipun matahari nyaris mencapai puncak yang sinarnya sedari tadi menerpa wajah tampannya.

Perlahan ia meraih tangan mungil itu, mengecupnya hati-hati dan sesaat kemudian segaris senyum tipis di bibirnya terpatri ketika aroma manis yang selalu menjadi kesukaannya menguar, menggelitik indera penciumannya.

Oh ya. Bukanlah hal baru bagi Chanyeol ketika ia menjelma menjadi manusia paling menyedihkan yang berakhir tertidur di samping pusara kekasihnya, setiap kali siang datang dan matanya masih terpejam disana ia selalu merasakan tangan mungil itu membelainya, memberikan ketenganan, menghangatkannya, melindunginya dari segala perasaan buruk.

Itu mimpi.

Namun mengapa kali ini terasa lebih nyata?

Chanyeol tidak ingin bangun, ia bahkan tak menghiraukan rumput basah yang menjadi alasnya tidur. Lelaki itu mengubah posisi tidurnya, dahinya mengkerut ketika ia merasa teduh, matanya sedikit terbuka dan samar-samar ia melihat seseorang terduduk di sampingnya, menghalau sinar matahari yang tak henti-hentinya menyerang wajahnya, lelaki itu bergumam sejenak namun tak lama karena setelah itu matanya kembali tertutup.

Entah mengapa aroma manis itu semakin kuat, memabukkan, sehingga membuatnya terbuai dan kembali terlelap.

.

.

Baekhyun menghela nafas berat ketika ia turun dari taksi, perjalanan panjang hari ini membuatnya sedikit merasa lelah. Namun dengan cepat ia menggeleng, karena bagaimana pun Baekhee tengah menunggunya saat ini. Gadis itu mendongak, punggung tangannya secara refleks menghalau sinar matahari yang menerpa wajahnya, dan satu tangannya yang lain mendekap sebuah buket bunga yang susah payah ia rangkai bersama Kyungsoo tadi pagi.

Dengan langkah pasti Baekhyun berjalan menyusuri komplek pemakaman yang luas dan tampak sepi.

Diam-diam ia merasa bersyukur karena suasana sepi seperti ini akan memudahkannya untuk mengunjungi Baekhee. Oh ya, tentu ia tahu dimana letak makam Baekhee, karena berteman dengan Kyungsoo tentu akan memudahkannya mengetahui apapun. Ya , termasuk fakta bahwa saat ini semua orang menganggapnya telah meninggal dunia.

Dan Kyungsoo memberondonginya dengan sejuta pertanyaan yang menuntut atas informasi tersebut. Namun ia tak bisa menjawab lebih jauh, karena itu akan berakhir pada satu nama yang selalu ia hindari.

Baekhyun mendengus, sedikit menyayangkan karena gadis bermata bulat itu tidak bisa menemaninya. Ia masih ingat ketika Kyungsoo memasang wajah masam saat mengatakan mempunyai urusan, dan Baekhyun sangat tahu urusan apa yang dimaksud gadis itu.

Ketika menaiki bukit, langkahnya mendadak merasa berat lalu terhenti. Baekhyun tidak tahu mengapa, namun perasaannya berubah menjadi tak menentu. Ia bimbang ada sesuatu yang seolah meneriakinya untuk tidak melanjutkan langkahnya. Namun setelah berhasil menormalkan detak jantungnya, ia kembali berjalan.

Satu persatu pijakan yang terbalut rumput basah mengiringi langkahnya, hingga akhirnya Baekhyun sampai.

Nafasnya seketika tercekat, bukan hanya karena ia melihat dua buah pusara yang berdampingan, namun karena kehadiran sesosok lelaki yang tengah meringkuk dengan mata terpejam di samping salah satu pusara itu.

Baekhyun tidak tahu apa yang merasukinya, ia bisa saja berlari secepat kilat dan pergi dari tempat itu. Namun pada kenyataannya gadis itu memilih untuk mendekat, setiap langkahnya diiringi detak jantung yang berpacu di atas normal.

Entahlah, ia hanya ingin memastikannya sendiri. Dan ya, tepat di hadapannya ia melihat sosok yang selama ini tak pernah berhenti mengusik benaknya, sekeras apapun akal sehatnya menyangkal namun hatinya selalu berhasil mengambil kendali.

Sosok yang diam-diam sangat ia rindukan.

Ya. Ia merindukan Park Chanyeol.

Gadis itu tak tahu lagi apa yang dilakukannya karena tanpa sadar ia duduk di samping Chanyeol yang terlelap, mengabaikan akal sehatnya yang menjerit untuk menjauh dan pergi.

"Apa yang kau lakukan disini hum?" Tanya Baekhyun dengan suara sangat pelan yang bahkan nada suaranya terdengar sangat asing di telinganya sendiri.

Satu tangannya terulur, meraih anak rambut Chanyeol yang menutupi sebagian dahi lelaki itu.

"Kenapa kau.." ada jeda yang sedikit panjang sebelum akhirnya Baekhyun melanjutkan kalimatnya "sangat kurus?" Suaranya sedikit menghilang, dan tangannya masih setia membelai suray itu dengan lembut, namun ia tak kuasa menahan satu tetes air mata yang meluncur begitu saja di pipinya.

Entah mengapa Park Chanyeol saat ini terlihat begitu menyedihkan, penampilannya berantakan, wajah tampannya dihiasi kantung mata, tidurnya terlihat tak tenang, dahinya tak berhenti berkerut seolah ia memikul beban yang sangat berat.

Kemarahan Baekhyun terhadap lelaki itu menguap entah kemana. Tidak. Ia tidak bermaksud memendam dendam, namun sejauh yang ia ketahui lelaki itu berperan banyak pada apa yang menimpanya selama ini.

Dan bolehkah ia sedikit saja mempunyai rasa marah?

"Apa yang terjadi hum? Apa kau sakit?" Suaranya terdengar semakin pelan dan payah, dan sesaat kemudian tubuh gadis itu menegang ketika tiba-tiba tangannya di genggam dan di kecupi pelan oleh Chanyeol yang masih setia memejamkan mata. Baekhyun membiarkan itu terjadi, mati-matian ia menahan nafas ketika ia melihat senyuman tipis terpatri di wajah lelaki tersebut.

Dan kemudian ia mengutuk kebodohannya karena tak pernah bisa mengendalikan perasaannya sendiri, gadis itu mulai panik ketika Chanyeol bergerak dan matanya sedikit terbuka. Bagaimana jika Chanyeol melihatnya?

"Aku merindukanmu.."

Suara berat itu.

Baekhyun yakin ia tidak salah mendengar apa yang Chanyeol gumamkan sebelum akhirnya lelaki itu kembali terlelap.

Keheningan menyelimuti beberapa saat, Baekhyun masih setia menelisik setiap inci wajah lelaki di sampingnya dan beberapa saat kemudian atensinya teralih pada marmer hitam mengilat di ujung pusara, namanya terukir jelas disana.

Seikat mawar putih yang telah layu berada diatasnya.

Apakah Chanyeol merindukannya?

Baekhyun menggeleng keras, tidak mungkin. Gadis itu melepas genggaman tangan Chanyeol perlahan.

Egonya perlahan menguasai.

Sampai kapanpun Chanyeol tidak akan pernah merindukannya, lelaki itu hanya akan merindukan satu nama. Byun Baekhee. Meskipun dalam hati ia bertanya-tanya mengapa lelaki itu tertidur di samping pusaranya?

Bukan Byun Baekhee yang harus mati, tapi kau!

Seharusnya kau yang mati!

Mata Baekhyun seketika memanas ketika kata-kata itu terngiang di benaknya. Gadis itu mendongak, menahan laju air mata yang mulai mendesak untuk keluar.

"Keinginanmu terkabul, aku sudah mati." Kata Baekhyun mutlak. Gadis itu bangkit dan mendekat kearah pusara Baekhee.

Gadis itu meletakkan rangkaian bunga yang ia bawa lalu mengusap pusara kakaknya pelan.

Hening.

Beberapa saat yang lalu Baekhyun yakin bahwa ia akan kuat dan sanggup menghadapi Baekhee, tidak sebelum akhirnya kekuatan gadis itu menguap, perlahan isak tangispun terdengar begitu pelan. Gadis itu menangis di balik telapak tangannya. Dan kini suaranya teredam, tubuhnya bergetar hebat.

Tak ada satupun kata yang keluar, gadis itu bahkan tak mampu untuk sekedar mengeluh tentang bagaimana kesepiannya ia selama ini, tentang bagaimana dunia begitu menakutkan tanpa Baekhee di sisinya, tentang semua yang ia rasakan.

Ia tak membiarkan Baekhee mendengar keluh kesahnya, gadis itu hanya mampu mengucapkan kata maaf yang tak terhitung di dalam hatinya.

Maaf karena ia datang terlambat.

Maaf karena ia telah lalai.

Maaf untuk semua hal menyakitkan yang tak sanggup Baekhyun ucapkan secara lisan.

Ia bahkan meminta maaf karena sesaat yang lalu perhatiannya teralihkan oleh lelaki itu.

Oh ya, Park Chanyeol. Gadis itu menoleh kearah samping, matanya sedikit membola ketika melihat Chanyeol bergerak, lelaki itu merentangkan kedua tangannya ke udara dan praktis membuat Baekhyun dilanda panik, gadis itu bangkit lalu dengan langkah tergesa ia berjalan dan meninggalkan tempat tersebut.

Ia harus pergi sebelum Chanyeol bangun dan menyadari keberadaannya.

.

.

Chanyeol menggeliat, matanya perlahan mengerjap. Lelaki itu menguap tak elit sambil menggaruk tengkuknya, lalu ia bangkit.

Dengan sorot mata yang menyiratkan kebingungan yang mendalam ia menelisik ke segala arah.

Mengapa terasa sangat hampa?

Lelaki itu memandangi telapak tangannya, kemudian mendekatkannya ke hidung. Chanyeol mengernyit, bukankah yang tadi itu mimpi?

Ia kembali mengalihkan atensinya ke segala penjuru arah, dahinya semakin mengkerut ketika melihat buket bunga diatas pusara Baekhee. Terlihat masih baru.

Seolah dikuasai iblis, lelaki itu bangkit dan berlari menuruni bukit. Ia tidak tahu apa yang merasukinya, namun hatinya berkata bahwa ia harus berlari dan mencari saat ini. meskipun ia tidak tahu apa yang harus ia cari. Ketika sampai di ujung komplek pemakaman, Chanyeol tidak melihat siapapun, netranya hanya berlabuh pada sebuah taksi yang berjalan menjauh.

Lelaki itu tidak tahu mengapa ia merasa sangat kecewa saat ini, ia mendengus kasar. Sebenarnya apa yang kau harapkan, Park Chanyeol? Pikirnya.

.

.


-Heartless-


.

Kyungsoo menatap datar pada dua objek di hadapannya saat ini, betapa menjijikan dan tidak tahu malunya mereka. Namun ia harus menguasai dirinya, dengan santai Kyungsoo memundurkan tubuhnya. Ia sandarkan punggungnya pada sandaran kursi lalu melipat kedua tangannya, Kyungsoo menunggu dengan sabar, sampai urusan Jongin dengan teman wanitanya yang tak sengaja bertemu di kafe tersebut selesai. Oh ya, tentu saja ia harus menunjukan sikap seperti itu bukan? Hell, ia tidak akan membuat kesalahan dengan menunjukan sikap yang membuat lelaki itu besar kepala.

Tidak akan!

Meski begitu gadis bermata bulat itu sedikit jengah, ia datang kesini bukan untuk melihat adegan dimana wanita itu duduk diatas paha Jongin, melakukan gerakan menggoda seraya mengatakan kalimat rindu karena sudah lama tak bertemu.

Oh. Kyungsoo sudah cukup mual sedari tadi.

"Ah itu tadi temanku, sudah lama aku tidak bertemu dengannya." Kata Jongin sesaat setelah memberikan kecupan singkat pada teman wanitanya, tanda perpisahan.

Kyungsoo sedikit mengangkat sudut bibirnya, ia tak lantas menjawab. Dengan gerakan anggun dan elegan ia mengangkat cangkir dan menyesap isinya perlahan lalu meletakkannya ke tempat semula. "Tak masalah, menilik dari bagaimana sifatmu, kurasa kau memang perlu dimaklumi oleh setiap orang." Sahutnya kemudian dengan nada yang sangat santai.

Namun tentu saja menurut Jongin tidak seperti itu. Kalimat yang Kyungsoo lontarkan sangat mengandung celaan yang mendalam. Tak masalah, seringaian khasnya terpatri sebelum akhirnya ia berucap,
"Kau terdengar cemburu. Ahh apa kau memang?" Balasnya kemudian dengan nada acuh.

Kyungsoo tertawa pelan dibalik punggung tangannya.
"Apa kau sangat menginginkan perjodohan ini?" Kyungsoo balik bertanya dengan nada sinis.

"Oh kuharap kau tidak kecewa, Do Kyungsoo. Aku bahkan tak berniat menjadikan anak di bawah umur sebagai istriku." Sahut Jongin santai seraya memberikan tatapan mengejek yang ia arahkan ke bagian dada Kyungsoo.

Kyungsoo melotot, dengan gerakan cepat ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Apa yang kau lihat?!" tanyanya garang.

Jongin hanya memandang jengah, namun sungguh ia menyukai ekspresi Kyungsoo saat ini, matanya yang bulat kini membola dan mulutnya sedikit terbuka, lelaki itu bahkan harus mati-matian menahan diri untuk tidak membungkam bibir merah itu dengan ciuman yang memabukkan.

Eh? Apa yang kau pikirkan Kim Jongin? Ingat! Dia hanya gadis kasar dan pemarah yang kebetulan terperangkap dalam wujud malaikat bertubuh mungil serta berwajah polos tanpa dosa yang lucu dan menggemaskan. Jangan sampai tertipu!

Ya. Jongin menekankan keyakinannya itu.

Kyungsoo berdehem, menutupi rasa gugup yang yang menyergapnya karena mendadak Jongin menatapnya dengan tatapan yang sulit ia artikan. "Jadi, ada hal penting apa hingga kau mengajakku bertemu?" Tanyanya kemudian.

"Aku harap kau tidak besar kepala karena aku mengajakmu bertemu, aku hanya malas mendengar ocehan ibuku yang terus-menerus memintaku agar mengajakmu kencan." Sahut Jongin cuek seraya mengangkat bahunya.

Kyungsoo menyentakkan kepala. "Kencan? kau sebut ini kencan?" Tanya Kyungsoo dengan nada tidak percaya dan sedikit protes, Bertemu di sebuah kafe tanpa pembicaraan yang jelas ia sebut kencan?

Oh ya, lupakan soal kafe. Kyungsoo bahkan hanya mengenakan pakaian santai, dan make up tipis seadanya. Jika ia tahu Jongin bermaskud mengajaknya kencan, mungkin saat ini ia masih sibuk mengeksplor isi lemarinya untuk memilih baju yang sekenanya pas untuk dipakai kencan dengan lelaki hitam yang sialnya sangat tampan itu.

Tampan? Oh ya, Kyungsoo tidak berani mengelak untuk hal yang satu itu, karena mungkin saja Jongin adalah keturunan dewa yunani yang terkenal memiliki paras rupawan. Gadis itu tak ingin ambil resiko jika suatu saat segerombolan orang berpakaian zirah kuno menggiringnya ke Olympus untuk diadili oleh dua belas dewa karena telah membantah ketampanan dan pesona seorang Kim Jongin. Kyungsoo bergidik ngeri ketika membayangkan tubuhnya yang dicabik-cabik oleh para titan dan Cyclops sebelum akhirnya berakhir menjadi santapan mereka.

Okay, sepertinya kegemarannya terhadap mitologi yunani telah membuat Kyungsoo begitu berlebihan atau mungkin memang membuatnya tidak waras, karena beberapa tahun yang lalu gadis itu pergi ke Los Angeles dan mendatangi Hollywood Sign hanya untuk memastikan bahwa disana ada jalan menuju dunia bawah tempat dimana Hades dewa kematian berada. Ya, informasi tak masuk akal tersebut ia dapatkan setelah menonton film Percy Jackson.

Gadis Konyol.

Jemari Jongin yang sesaat lalu menari diatas layar ponsel sontak terhenti, lelaki itu mendongak seraya menaikkan sebelah alisnya, dan tak lama seringaian khasnya kembali muncul. Jongin meletakkan ponselnya, kedua tangannya bertumpu diatas meja dan sedikit mencondongkan tubuh ke depan. "kenapa? Apa kau mengharapkan tempat romantis yang di penuhi lilin dan bunga?" Tanya Jongin dengan nada mengejek.

"Bukan itu—"

"Ahh apa kencan yang kau maksud itu menghabiskan waktu semalaman suntuk diatas ranjang?"

Kyungsoo menggeram tak suka, dan sungguh ia sangat membenci mendengar suara tawa Jongin yang jelek. Namun sesaat setelahnya ia harus mati-matian menahan tawanya sendiri ketika mendengar Jongin memaki tak karuan tentang minuman yang membuatnya sakit perut, lelaki itu bangkit dari kursi dan tanpa permisi pergi menuju toilet.

Kyungsoo mendengus kasar, Kim Jongin benar-benar menyebalkan dan tidak tahu sopan santun.

Namun tak lama kemudian ponselnya bordering.

"Eonni kau sudah selesai? Dimana kau sekarang?"

"…"

"Kau sudah dekat? Ahh syukurlah.."

"…"

"Tidak, tidak! Aku malah menunggumu sedari tadi, Kim Jongin benar-benar menyebalkan. Aku ingin pulang.

"…"

"Baiklah, aku tunggu."

.

.


-Heartless-


.

Baekhyun tak pernah menduga bahwa pengaruh Park Chanyeol akan selalu sebesar ini, sama seperti dulu, lelaki itu selalu berhasil membuat jantungnya berdegup kencang hingga nyaris membuat dadanya dipenuhi rasa sesak.

Namun ini berbeda sama sekali.

Jika dulu ia merasa sangat aman berada dalam jarak dekat dengan lelaki itu, saat ini ia merasa Park Chanyeol adalah seseorang yang paling harus ia hindari. Meski ia merasa kecewa kepada dirinya sendiri karena tak mampu mengendalikan diri ketika melihat lelaki itu beberapa saat yang lalu, namun ia menekankan bahwa ia tidak akan kalah lagi lain kali, Baekhyun tidak akan dikalahkan oleh nuraninya seperti tadi.

Karenanya ia merasa tidak perlu lagi berada terlalu lama di tempat yang membuatnya diliputi berbagai perasaan yang tak menutup kemungkinan bisa menggoyahkan kembali dinding pertahanan yang susah payah ia bangun selama mengasingkan diri satu tahun ini.

Setelah menghubungi Kyungsoo, Baekhyun mengintruksikan kepada supir taksi agar membawanya ke tempat dimana gadis bermata bulat itu berada.

Sejujurnya ia merasa tak enak mengganggu Kyungsoo, mengingat gadis bermata bulat itu tengah bersama calon tunangannya. Kim Jongin.

Baekhyun berpikir keras, entah mengapa ia selalu merasa tak asing dengan nama tersebut.

Tidak, ia tak pernah mengenal seseorang dengan nama Kim Jongin. Hingga beberapa saat kemudian ia memilih untuk tidak berpikir lebih jauh lagi.

Mungkin ia hanya lelah sehingga pikirannya bercabang kemana-mana.

Hingga akhirnya taksi yang ditumpanginya berhenti di depan sebuah kafe, gadis itu keluar dan langsung melihat sosok Kyungsoo yang tengah berdiri di depan kafe tersebut.

Satu hal yang membuat seorang Byun Baekhyun begitu mengagumkan, ia tak pernah lupa bagaimana mengulas senyuman hangat meski beberapa saat sebelumnya ia mengalami sesuatu yang begitu menggguncang perasaannya. Gadis itu berjalan menghampiri Kyungsoo yang langsung menyambutnya dengan sebuah pelukan.

"Aku mau pulang." Kata Kyungsoo terdengar merajuk, tak lama kemudian ia melepas pelukannya dan langsung dihadiahi oleh Baekhyun sebuah cubitan gemas di pipinya.

Baekhyun heran mengapa ada gadis langka yang begitu menggemaskan seperti Kyungsoo?

"Baiklah. Tapi bagaimana dengan Kim Jongin? Dimana dia?" Tanya Baekhyun begitu tersadar mendapati Kyungsoo hanya seorang diri, namun gelak tawa gadis bermata bulat itu membuatnya mengkerutkan dahi seketika.

"Eksprersinya begitu lucu ketika sakit perut tadi." Kata Kyungsoo yang masih diiringi tawa.

Baekhyun memasang wajah bingung yang kentara, tidak mengerti apa maksud Kyungsoo.

"Ahh, sudahlah kita pulang sekarang Eonni. Tak usah hiraukan makhluk hitam mesum itu." Tutur Kyungsoo lagi yang menggerutu di akhir kalimatnya.

"Baik, baik, kita pulang sekarang."

Dan setelahnya Baekhyun dan Kyungsoo berjalan meninggalkan kafe tersebut.

.

.

Jongin tak henti-hentinya memaki kasar, ia bersumpah akan menuntut pemilik kafe tersebut karena telah memberinya minuman yang membuatnya bertahan di toilet selama dua puluh menit. Lelaki itu keluar dan berjalan menuju tempat duduk, namun ia tak menemukan Kyungsoo disana.

"Kemana si pendek itu?" Gumamnya pelan.

Dahinya sedikit berkerut ketika netranya menangkap sebuah catatan kecil diatas meja.

Sesorang menjemputku. Sampai Jumpa~

Jongin meremas catatan tersebut, berani sekali gadis itu mengabaikannya seperti ini.

Tidak ada satupun wanita yang berlaku seperti ini terhadap Jongin sebelumnya, diam-diam ia bertanya-tanya seperti apa seseorang yang menjemput Kyungsoo hingga membuat seorang Kim Jongin merasa terabaikan.

Awalnya Jongin kira seorang lelaki bersetelan jas mahal yang dapat ia pastikan berasal dari kalangan eksekutif muda kaya raya yang menjemput calon tunangannya tersebut, karena jika itu benar maka ia tak akan segan membuat perusahaan bajingan itu hancur dalam hitungan detik, namun beberapa saat kemudian ia mengurungkan niat tersebut ketika netranya menangkap sosok Kyungsoo tengah berdiri dengan seorang gadis lain yang terasa tak asing. Mereka berdua terlihat sedang mengobrol.

Penasaran, Jongin melangkahkan kakinya keluar kafe tersebut dan tepat beberapa meter dari tempatnya berdiri ia dapat dengan jelas melihat wajah gadis yang bersama Kyungsoo, tak lama karena setelahnya kedua gadis itu masuk ke dalam taksi.

Jongin yakin penglihatannya masih normal, terlebih jika ada wanita seksi yang mengenakan pakaian ketat mencetak tubuh, matanya akan berfungsi dengan sangat baik. Mendadak lelaki itu menelan kering.

Yang bersama Kyungsoo itu tidak mungkin hantu bukan?

.

.


-Heartless-


.

"Kau baik?" tanya Minseok ketika mendapati Jimin melamun dengan ekspresi yang sulit terbaca. Oh sejujurnya ia telah memperhatikan adiknya dari kemarin, sejak pulang menemui pemasok bunga yang baru, Jimin jadi lebih banyak diam seolah tengah memikirkan sesuatu.

Jimin menoleh, mendapati kakaknya tengah bersandar pada lemari buku seraya melipat kedua tangannya di dada. "Noona.."

"Hm?"

"Menurutmu ada berapa nama Byun Baekhyun di Korea Selatan?"

Ada jeda panjang saat Minseok seketika membisu. Keheningan menyelimuti ruangan itu kala nama Byun Bakhyun terlontar tanpa beban dari mulut Jimin. Untuk beberapa alasan Jimin sedikit merasa bersalah menyebut nama tersebut, namun perasaan ganjil yang sedari kemarin ia rasakan tak kunjung mereda.

Ia yakin, kemarin kakek itu menyebut nama Byun Baekhyun dengan segala sesuatu tentang betapa lamanya gadis itu mengambil bunga dan gumaman tak jelas lainnya.

"Umm, ada banyak. Ratusan,atau bahkan Ribuan?" Kata Minseok yang akhirnya kembali bersuara.

Tidak ada sahutan yang Minseok terima, namun gumaman Jimin membuatnya sangat penasaran. "Apa yang terjadi? Katakan padaku." Desak Minseok kemudian.

Jimin menekuk wajahnya dalam, pemuda itu terlihat sedang berpikir. Tidak mungkin ia mengatakan pada Minseok bahwa ia terganggu hanya dengan mendengar nama Byun Baekhyun telontar dari mulut kakek pemilik Greenhouse kemarin.

Oh ayolah, jika ada yang bertanya siapa pemuda yang memiliki pemikiran paling masuk akal? Jawabannya adalah Kim Jimin. Ia tidak akan membuat dirinya tampak konyol hanya karena mendengar satu nama orang yang telah meninggal yang bahkan nama tersebut dimilikki oleh ribuan orang.

He's fucking realistic..

Namun kali ini nalurinya berkata lain, entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang salah. Jimin tak tahu apa, namun ia harus mencari tahu.

Tidak. Pemuda itu tahu ia tak boleh berharap apapun hal yang tak masuk akal seperti berharap seseorang yang telah meninggal hidup kembali dan bersembunyi di suatu tempat.

Tidak. Karena itu tidak mungkin.

"Kim Jimin!" Seru Minseok, sedikit kesal karena pertanyaannya tak kunjung mendapat jawaban.

"Eh?" Jimin sedikit tersentak. "Ahh. Bukan apa-apa, Noona." Lanjutnya santai.

Minseok hanya mendengus pelan. Ia mengenal adiknya dengan sangat baik, setiap pertanyaan Jimin yang dirasanya sedikit janggal sudah pasti mempunyai maksud tertentu. Namun Minseok selalu memilih untuk tak bertanya lebih jauh jika Jimin sudah menjawab seperti itu.

"Aku harus pergi, ada janji dengan Jongdae Hyung." Kembali Jimin berucap seraya bangkit dari kursinya lalu menyambar jaket yang menggantung di punggung kursi tersebut.

Raut muka Minseok seketika berubah mendengar hal tersebut, menunjukan sedikit tak suka. Ya hanya sedikit, karena lebih banyak menunjukan ketertarikan yang hanya dapat diketahui oleh Jimin.

"Hm." Kata Minseok sembari mengangguk-angguk pelan.

"Mau kutitipkan salam?" Goda Jimin tersenyum usil.

Minseok menyentakkan kepala. Apakah Jimin sedang bercanda?

Selama ini Minseok selalu bertanya apa yang salah dengan Jimin hingga adiknya tersebut sangat jarang tersenyum atau malah sangat pendiam. Wanita itu akan sangat senang jika Jimin menjadi anak manis yang rajin tersenyum, namun bukan senyuman menyebalkan yang mengandung ejekan seperti saat ini yang ia harapkan. Terlebih Jimin menggodanya dengan membawa-bawa nama lelaki berwajah kotak itu.

"Baiklah, akan kusampaikan." Kata Jimin lagi, setengah berlari ia keluar rumah, menghindari teriakkan Minseok yang berpotensi membuat gendang telinganya pecah.

.

.


-Heartless-


.

Suara bising di Club itu tak sedikit membuat Park Chanyeol terganggu karena pada saat yang sama pikirannya sibuk berkecamuk. Chanyeol duduk di salah satu Bar Stool yang menghadap langsung pada beberapa bartender yang tengah meracik minuman dalam sebuah atraksi yang mampu mendatangkan decak kagum bagi siapapun yang melihatnya.

Tapi tidak dengan lelaki itu.

Chanyeol menenggak gelas kelima berisi margarita, mata tajam itu menerawang jauh ke depan. Sesungguhnya apa yang telah ia lalui hari ini sedikit membuatnya lebih kacau, berkali-kali ia mengacak rambutnya frustasi karena perasaan aneh semenjak ia kembali dari makam tadi siang tak kunjung mereda.

Apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya?

Mengapa tadi siang ia merasa gadis itu ada?

Mengapa mimpi itu seolah nyata?

Shit! ia memaki dalam hati. Pikirannya terus berkecamuk hingga beberapa saat kemudian ia merasa seseorang menepuk bahunya dari belakang.

"Kau terlihat jelek." Celetuk Jongin ketika mendudukkan dirinya di samping Chanyeol yang kemudian mengangkat jari telunjuknya kepada bartender, memesan satu minuman.

Chanyeol menoleh ke samping, matanya yang sedikit sayu mengarah pada teman sepermainannya itu. ia berusaha untuk tetap terjaga walaupun kepalanya sudah terasa pusing karena pengaruh alkohol.

"Biar kutebak, calon tunanganmu yang seperti liliput itu pasti membuatmu kesal hari ini." Ujar Chanyeol dengan nada mencela yang tak perlu repot-epot ia tutupi, lelaki itu kemudian terkekeh sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya ke semula.

Oh ya. Tentu saja Jongin merasa kesal karena gadis bermata bulat itu mengabaikannya hari ini, namun untuk sejenak ia mengesampingkan rencana balas dendam terhadap gadis itu. Untuk saat ini dua sisi dalam dirinya tengah bersitegang, ia tak tahu harus memilih yang mana.

Memberi tahu Park Chanyeol tentang apa yang ia lihat hari ini, atau memilih tidak mengatakannya sama sekali.

"Apa kau percaya hantu itu ada?" Tanya Jongin konyol. Lelaki itu menggaruk tengkuknya tak gatal. Ekspresinya terlihat sangat bodoh saat ini.

Chanyeol kembali menoleh ke samping, sebelah alisnya terangkat sebelum akhirnya tawanya meledak. Setidaknya Kim Jongin selalu tahu bagaimana caranya membuat suasana hati Park Chanyeol sedikit membaik meskipun dengan cara konyol seperti saat ini.

Apa katanya? Hantu?

Oh ingatkan Chanyeol untuk berhenti tertawa sekarang juga.

Jongin mendengus, sudah pasti akan seperti ini. Susah payah ia berperang batin untuk menanyakan hal sekonyol itu,harusnya ia tahu bahwa Park Chanyeol akan menganggap pertanyaannya itu sebagai gurauan semata.

"Aku percaya." Kata Jongin dengan nada sinis, terlalu kesal mendengar tawa Chanyeol yang tak kunjung mereda, lelaki bekulit eksotis itu bahkan meringis beberapa kali ketika mendapati tatapan aneh dari orang-orang yang berada di sekitar mereka.

"Benarkah?" Tanya Chanyeol dengan ekspresi geli setelah tawanya sedikit mereda.

"Oh ayolah, aku melihat hantu hari ini. Dia bahkan berteman dengan Kyungsoo." Seru Jongin tidak sabaran, mengapa ia merasa Chanyeol memandangnya seolah ia adalah manusia paling konyol saat ini.

Jongin tidak berbohong, ia melihat hantu hari ini.

Kembali Chanyeol tertawa, "Jika itu benar, calon tunanganmu itu memang cocok berteman dengan hantu." Katanya kemudian, masih diiringi tawa.

"Dengar, mungkin aku terdengar gila. Tapi, hantu itu adalah gadismu, gadis yang sangat kau cintai!" Seru Jongin kesal, ayolah ia tak suka jika ditertawakan seperti orang gila.

Hanya butuh waktu sepersekin detik untuk membuat ekspresinya Chanyeol berubah seketika. Lelaki itu menatap Jongin dengan aura dingin yang berbahaya.

"A-aku bersumpah, aku melihatnya. Aku benar-benar m-melihatnya." Jelas Jongin panik sembari terbata. Ia tahu kilatan marah di mata Chanyeol bukan sekedar pajangan belaka, Jongin bahkan memohon pada Tuhan agar tidak membiarkan Chanyeol membunuhnya saat ini.

"Jangan konyol, Kim Jongin!" Geram Chanyeol menahan emosinya yang siap meletup.

Jongin mendengus pelan. "Aku tidak bohong, aku benar-benar melihatnya. Hantu itu berdiri beberapa meter dariku." Katanya mencari pembelaan.

Tangan Chanyeol mengepal kuat, sebuah pemikiran bodoh jika menganggap hantu itu ada.

Menurut Chanyeol hantu itu tidak ada!

Lelaki itu menelisik ekspresi Jongin, mencari celah kebohongan yang mungkin saja ada. Namun ia tak menemukannya, temannya itu tidak berbohong.

Tunggu.

Chanyeol terkekeh ringan, pengaruh alkohol mulai membuatnya tak waras. Mengapa ia harus menganggap serius omongan Jongin sekalipun temannya itu berkata benar, karena Demi Tuhan hantu itu tidak ada dan orang yang telah meninggal tidak bisa hidup kembali!

Kebaradaan manusia hanya dapat diakui jika ia masih hidup.

Ya. Kecuali jika gadis itu masih hidup.

Mata Chanyeol yang menyipit sempurna kembali menerawang jauh, ekspresinya sulit terbaca ketika mengingat kejadian di makam tadi siang. Membayangkan gadis itu masih hidup membuat batinnya berperang.

Sebagian berteriak itu konyol, mustahil jika kekasihnya masih hidup.

Namun sebagian lagi berkata jika itu benar terjadi..

Tidak peduli dimanapun gadis itu berada, sekalipun itu benar-benar hantu..

Chanyeol akan memburunya kemanapun.

.

.

.

TBC

.

.

AN: Annyeong, jangan protes kurang panjang ya sayang-sayangku :)
Sebelumnya Raisa mau minta maaf dulu nih karena update nya jadi agak lama karena Raisa sibuk sama urusan pribadi.

Ini yang bawelin Raisa di pm sama di instagram hehehe semoga gak kecewa sama chapter ini ya.

Oh ya, Raisa mau ucapin makasih buat kalian yang udah fav/follow dan terutama yang udah review hehe bighug buat kalian, mohon maaf gak bisa bls pm kalian satu-satu tapi makasih bgt buat supportnya.

Ini Raisa ketawa deh sama yang baper chanyeol dinistakan padahal sebelumnya semangat bgt pengen dia dinistakan haha

Kenapa Jimin peka? Karena cowok peka itu gemesin~ #eh

Supposed kapan lanjut? Nanti~

Kenapa Baekhyun punya abs? Itu bukan abs, hanya trik kamera. Hahaha #TeamGakRelaBaekhyunPunyaAbs

Okay, see you next chapter and chu~