HEARTLESS
.
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
And OCs
.
ChanBaek (GS)
Romance, Hurt/Comfort
.
DON'T LIKE DON'T READ
Happy Reading!
.
Banyak sesuatu yang terjadi di luar dugaan, dan hal itu tak jarang dialami oleh Kyungsoo. Gadis itu membuat Baekhyun panik ketika mendadak ia menangis dan tak berbicara satu patah kata pun setelah menerima telepon dari sekretaris keluarganya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Baekhyun dengan raut cemas melihat Kyungsoo seperti itu.
Kyungsoo menoleh. "Appa.. Appa masuk Rumah Sakit, Eonni." Sahutnya dengan suara pelan, berharap kakeknya tidak mendengar percakapan mereka.
Baekhyun sempat bungkam karena terkejut, ia tak tahu harus berbuat apa selain memeluk Kyungsoo dan melontarkan kalimat-kalimat yang mampu membuat gadis itu sedikit tenang.
Kyungsoo memutuskan untuk pergi ke Seoul, ia harus tahu keadaan ayahnya saat ini.
Baekhyun panik sekaligus cemas, tak mungkin ia membiarkan Kyungsoo pergi seorang diri dalam keadaan seperti itu. Oleh sebab itu, untuk menghindari sesuatu yang tak diinginkan ia memutuskan untuk berbohong kepada kakek dengan alasan yang mengaruskan Kyungsoo pergi ke Seoul ditemani olehnya.
Dan beruntunglah mereka, karena kakek mengizinkan tanpa bertanya lebih jauh.
Ah. Mungkin setelah Baekhyun kembali lagi dari Seoul, ia harus mengunjungi salah satu kuil untuk meminta pengampunan dosa karena telah membohongi orang tua baik hati seperti kakek.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, mereka sampai di Rumah Sakit yang dituju. Kyungsoo segera melesat keluar dari taksi dan berlalri, memastikan bahwa ayahnya baik-baik saja adalah hal terpenting untuknya saat ini. Sementara Baekhyun hanya mematung menghadap bangunan besar menjulang di depannya, mendadak lututnya melemas, membuat gadis itu tak sanggup melangkahkan kakinya.
Satu tahun berlalu, waktu mengubah gadis itu menjadi sedikit sensitif terhadap beberapa hal. Termasuk Rumah Sakit. Menurutnya tempat berbau khas obat-obatan itu akan dengan kejamnya mengorek kembali kejadian menyakitkan yang ia alami waktu itu.
Baekhyun mengerjapkan mata berkali-kali ketika beberapa orang yang berada di sekitarnya bergerak lambat dan terlihat samar. Kepalanya mulai berdenyut ketika bayangan kematian Baekhee kembali berputar di otaknya, suara bising menggema terdengar memenuhi indera pendengarannya. Hingga beberapa detik selanjutnya, gadis itu sudah tak sanggup menjaga keseimbangan tubuhnya, ia nyaris terjatuh namun seseorang dengan sigap menahan kedua bahunya dari belakang.
"Anda baik-baik saja?"
Suara wanita itu terdengar tidak asing di telinga Baekhyun, gadis itu pun menoleh. Untuk beberapa saat ia terhanyut dalam pikirannya sendiri, mengingat dengan pasti siapa wanita yang masih setia menahan kedua bahunya itu. Hingga beberapa detik setelahnya, kornea mata gadis itu melebar seketika. Baekhyun ingat , wanita cantik berambut pendek di hadapannya saat ini ialah Park Yoora. Dengan cepat gadis itu menundukan kepalanya dalam. Berharap tak dikenali.
"Apa ada sesuatu di wajahku?" Tanya Yoora seraya mengernyit dalam ketika beberapa saat sebelumnya gadis itu mengamati dirinya, dengan cepat ia membebaskan tangannya dari bahu Baekhyun. Wanita itu meraba setiap inci wajahnya, memastikan Make up nya tidak rusak oleh sesuatu yang menempel atau apapun itu, karena yang pasti wanita itu tidak ingin terlihat jelek.
"S-saya baik-baik saja, Terimakasih." Ucap Baekhyun dengan suara pelan dan terbata, gadis itu sedikit membungkukkan tubuhnya dan kemudian bergegas memasuki Rumah Sakit. Dalam hati ia bertanya-tanya mengapa Yoora tidak mengenalinya?
Apakah wanita itu memang sangat pelupa?
Oh baiklah, itu tidak penting. Untuk saat ini, menghindari wanita itu adalah hal yang tepat. Pikir Baekhyun.
.
.
Yoora kembali mengernyit, namun terlihat tengah berpikir.
"Siapa? Noona mengenalnya?"
Yoora menoleh kearah Chanyeol yang baru keluar dari mobilnya. "Tidak." Katanya terdengar ragu. "Tapi, gadis itu terasa tidak asing. Dimana aku pernah bertemu dengannya?" Lanjutnya seraya memasang pose berpikir yang menurut Chanyeol sangat berlebihan.
Lelaki itu memutar bola matanya, malas. "Lupakan. Noona memang payah untuk urusan mengingat sesuatu." Katanya santai seraya melangkahkan kakinya.
Yoora menaikkan bahunya acuh, lagipula ia malas berpikir lebih jauh dan lebih memilih mengekori Chanyeol saat ini.
"Kenapa tua bangka itu menyusahkan sekali?" Gerutu Chanyeol pelan. Namun tampaknya kalimatnya itu sampai ke telinga Yoora, karena beberapa detik setelahnya wanita itu memukul punggung Chanyeol, cukup keras.
"Akh!" pekik Chanyeol pelan. Lelaki itu berbalik dengan segera dan memberikan tatapan tajam yang dibalas oleh Yoora tak kalah sengitnya. Chanyeol berdecak, suasana hatinya sedang tak bagus untuk memulai perang saudara yang biasanya akan dengan senang hati ia lakukan. Karena ia yakin, tujuan ia dilahirkan ke dunia bukan untuk sekedar besenang-senang menikmati tubuh telanjang para wanita saja, melainkan untuk membuat makhluk menyebalkan bernama Park Yoora itu lenyap dari muka bumi ini. Namun sekali lagi, Chanyeol sedang tidak mood melakukan tindakan radikal yang berpotensi mengakibatkan pertumpahan darah antar saudara. Oleh sebab itu, ia lebih memilih berpaling dan melanjutkan kembali langkahnya menuju lift.
.
.
Setengah berlari Baekhyun mencari keberadaan Kyungsoo, ia bersyukur melihat sosok gadis bermata bulat itu berdiri menghadap meja resepsionis dan segera menghampirinya.
"Bagaimana?" Tanya Baekhyun yang praktis membuat Kyungsoo menoleh kearahnya.
"Mereka bilang appa sudah dipindahkan ke kamar inap. Ayo Eonni." Sahut Kyungsoo seraya menarik lengan Baekhyun, mereka berdua menunggu dengan sabar hingga akhirnya pintu lift terbuka.
Keadaan lift yang nyaris penuh membuat Baekhyun dan Kyungsoo sedikit kesulitan untuk masuk. Sebenarnya tak masalah untuk saat ini, terutama bagi Baekhyun. Meskipun harus terjebak bersama beberapa orang yang berdesakan. Namun ketika ia berhasil masuk dan membalikkan badan, korneanya kembali melebar untuk kedua kali tatkala sepasang iris kelam milik seorang lelaki yang tengah berdiri tepat di depan lift tersebut tertuju padanya, menatapnya dengan sorot penuh keterkejutan.
Baekhyun tak tahu, waktu seolah berhenti ketika untuk pertama kalinya setelah satu tahun berlalu ia kembali bersitatap dengan lelaki itu. Ia bahkan tak tahu mengapa sulit untuk sekedar memalingkan wajah, tatapan lelaki itu seolah menguncinya untuk beberapa saat sebelum akhirnya pintu lift sepenuhnya tertutup.
.
.
-Heartless-
.
Jika ada yang bertanya, siapa orang yang paling menyebalkan menurut Park Yoora? Jawabannya adalah Park Chanyeol.
Selain karena ia merasa lelaki itu telah meniru seluruh bagian wajahnya hingga semirip itu dan membuatnya kesal karena sewaktu kecil, orang-orang lebih menyukai Chanyeol karena hidung adik semata wayangnya itu lebih mancung darinya, fakta menyebalkan lainnya seperti kelakuan bejad sang adik yang tidak akan habis meskipun ditulis dalam sebuah buku tebal itu selalu berhasil membuat Yoora tidak bisa menahan untuk tidak mengibarkan bendera perang setiap kali mereka bertemu.
Namun ada peribahasa bahwa darah lebih kental daripada air bukan?
Meskipun Yoora yakin bahwa di dalam tubuh Park Chanyeol bersarang sosok Incubus yang diutus oleh raja iblis untuk meniduri setiap wanita di muka bumi ini, namun lelaki itu tetaplah saudaranya. Tak peduli meskipun hubungan mereka lebih layak disebut sebagai musuh abadi, namun Yoora tetap menyayangi adiknya tersebut.
Karenanya, ketika ia melihat Chanyeol berdiri menegang di depan lift sebelum akhirnya lelaki itu kehilangan keseimbangannya dan nyaris terjatuh, Yoora dengan sigap menahan tubuh besar sang adik.
"Chan! Apa kau baik, uh? Apa yang terjadi?" Tanya Yoora panik. Dapat ia lihat wajah Chanyeol yang memucat serta kedua bola matanya memerah, dan ia merasakan tubuh lelaki itu masih menegang.
Yoora semakin panik, dalam hati ia bertanya-tanya apakah Chanyeol akan berubah wujud menjadi sosok Incubus yang sebenarnya?
Tidak. Tidak!
Wanita itu menggeleng keras, ia sedikit membopong Chanyeol dan membiarkan lelaki itu duduk di salah satu kursi terdekat. Setelah itu ia bangkit dan hendak meminta pertolongan kepada dokter, namun Chanyeol menahannya.
"I'm okay." Ucap Chanyeol pelan.
"Benarkah?"
Chanyeol menoleh kearah Yoora, dapat ia lihat raut cemas terpatri jelas di wajah sang kakak. Lelaki itu mengangguk. "Ya." Sahutnya.
Yoora menghela nafas lega. "Akh, Noona sangat terkejut." Ucapnya. "Noona pikir terjadi sesuatu padamu. Akh, kau membuatku takut." Lanjutnya dengan merengut yang tidak lucu sama sekali menurut Chanyeol.
Namun Chanyeol menyukainya, ia menyukai saat sang kakak mencemaskannya seperti itu. Dan tentu saja Chanyeol tak perlu repot-repot mengakui hal tersebut.
Lelaki itu meletakan satu tangannya di dada, merasakan jantungnya yang masih berdegup kencang . Apa yang ia lihat beberapa saat lalu sungguh membuatnya syok.
Bagaimana bisa…
Apa kau percaya hantu?
Aku melihat hantu hari ini..
Hantu itu adalah gadismu! Gadis yang sangat kau cintai.
Aku bersumpah, aku melihatnya!
Chanyeol menegakkan posisi duduknya. Kedua alis lelaki itu saling bertaut. Bola matanya bergerak tak tentu arah ketika beberapa kemungkinan mulai menyusup ke dalam pikirannya. Awalnya Chanyeol pikir itu hanya halusinasinya saja karena ia terlalu merindukan gadis itu. Namun ketika kata-kata Jongin terngiang di benaknya, ia yakin bahwa apa yang ia lihat itu nyata.
Tanpa mengindahkan teriakan Yoora, lelaki itu bangkit dengan segera berlari menuju tangga darurat, mengingat dengan pasti ke lantai berapa lift tadi membawa gadis itu.
Tidak. Tidak. Chanyeol menekankan dalam hati, bahwa apa yang ia lihat bisa saja salah. Lelaki itu tidak ingin mengharapkan sesuatu yang kemungkinan benarnya sangat tipis.
Ya. Mengharapkan gadis itu bangkit dari kubur dan hidup kembali adalah hal yang sangat mustahil.
Chanyeol tidak tahu pasti sejak kapan tubuhnya bereaksi tak sesuai dengan akal sehatnya, karena semakin ia berpikir maka semakin jauh pula kakinya melangkah, menaiki anak tangga dengan membabi buta tanpa mengindahkan cucuran keringat yang mulai membasahi dahi dan pelipisnya.
.
.
-Heartless-
.
Seperti biasa, hari-hari yang Kris lalui tidak pernah luput dari tumpukan kertas di atas meja kerja. Lelaki satu orang anak itu memang tengah disibukkan oleh project perusahaan yang baru-baru ini lebih banyak menyita waktu, dan mengharuskannya hilir mudik ke beberapa cabang perusahaan di beberapa negara asia.
Termasuk Korea.
Dan ya, saat ini lelaki itu tengah berada di sana.
Setelah melakukan beberapa pengecekan di cabang perusahaan, Kris berniat bertemu dengan salah satu temannya. Sebenarnya jika bukan teman baiknya, Kris akan memutar otaknya untuk menolak ajakan tersebut, mengingat ia sudah sangat merindukan anak beserta istrinya dan ingin segera pulang ke Beijing.
Well, itu mungkin bukan satu-satunya alasan mengapa ia tak perlu berlama-lama berada di Korea setelah urusan pekerjaannya selesai. Kris hanya takut dinding pertahanannya kembali runtuh, ia tak ingin berakhir dengan merindukan kedua gadis itu. Ia bahkan tak sanggup mengunjungi mereka.
Karena itu sangat menyakitkan.
Kris melajukan kendaraannya dengan sedikit terburu-buru, menuju tempat yang telah dijanjikan.
Tak butuh waktu lama, Kris pun sampai di depan sebuah restoran mewah bergaya Vintage. Ia disambut oleh lambaian seorang lelaki dan segera menghampirinya.
"Apakah kau menunggu lama?" Tanya Kris berbasa-basi.
"Oh tidak. Tenang saja, duduklah."
Kris pun duduk setelahnya, mereka mengobrol sambil menikmati makan malam. Cukup lama.
"Ahh, aku tidak tahu ini penting untukmu atau tidak. Jadi, kemarin siang aku mengunjungi makam ayahku. Kau tahu betul bukan makam beliau berada tak jauh dari makam kedua adikmu?"
Kris mengangguk terbata, entah apa yang akan temannya itu beritahu namun ketika mendengar kedua adiknya disebut, perasaannya berubah tak menentu. "Ya, aku tahu itu. Lalu?" Tanya Kris dengan nada yang terdengar tak sabar.
"Apa mungkin kedua adikmu itu mempunyai sanak saudara lain di sini? Tidak, maksudku kemarin siang selain si brengsek Park Chanyeol yang berada di sana—
"Park Chanyeol?" Kris menyela dengan cepat.
"Ya. Apa kau tidak tahu? Aku sering menemuinya dalam keadaan tertidur di samping pusara adikmu. Bajingan itu sudah benar-benar gila rupanya." Lelaki itu memberi jeda, ia terkekeh geli. "Tapi, kemarin bukan hanya dia yang berada di sana. Aku tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya, tapi dia seorang wanita muda."
Belum sempat Kris menetralkan dirinya dari keterkejutan karena mengetahui fakta bahwa Park Chanyeol sering mengunjungi makam kedua adiknya, pernyataan lain yang temannya lontarkan membuatnya semakin terkejut dan bingung. Dalam hati ia bertanya-tanya, siapa wanita itu?
Apakah Kim Minseok?
Benar. Sudah pasti Kim Minseok yang mengunjungi makam kedua adiknya. Mengingat wanita itu sangat menyayangi Baekhyun dan Baekhee.
"Kris-ssi?"
Suara seorang wanita yang memanggil namanya memecah lamunan Kris seketika. Lelaki itu menoleh dan langsung bergumam dalam hati bahwa wanita itu panjang umur, mengingat beberapa detik yang lalu ia tengah memikirkannya.
"Oh Annyeonghaseyo, Minseok-ssi." Sapa Kris ramah, lelaki itu bangkit dari kursinya dan menjabat tangan Minseok.
"Annyeonghaseyo" Minseok sedikit menundukan kepalanya.
"Apa yang anda lakukan di sini, Minseok-ssi?" Tanya Kris memulai perbincangan.
"Ahh, saya hendak menemui seseorang dan tak sengaja melihat anda di sini. Apakah Luhan-ssi baik-baik saja?"
"Ya. Dia baik-baik saja"
Mereka berdua berbicara sejenak, sebelum akhirnya Minseok pamit kepada kedua lelaki yang berada di hadapannya.
"Siapa?" Tanya teman Kris.
"Hanya seseorang yang kukenal, dia sangat dekat dengan kedua adik— Oh bisa kau tunggu sebentar? Ada yang ingin aku tanyakan padanya." Ucap Kris, kembali bangkit dari kursinya dan mengejar langkah Minseok.
"Minseok-ssi!" Panggilnya dengan nada yang sedikit ia naikkan, berharap Minseok mendengar.
Merasa dipanggil, wanita itu pun menghentikan langkahnya dan menoleh. "Oh, ada apa Kris-ssi?" Tanya Minseok sedikit mengernyit.
"Maaf sebelumnya, tapi saya ingin bertanya."
"Ya, silahkan."
Kris membuang nafasnya pelan. "Apakah kemarin anda mengunjungi makam Baekhyun dan Baekhee?" Katanya yang diakhiri nada payah ketika mengucap kedua nama itu.
Minseok sedikit memiringkan kepalanya ketika Kris bertanya demikian. "Tidak. Aku baru berencana mengunjungi mereka besok pagi." Sahutnya kemudian.
Alis Kris bertaut dalam. Jika bukan Minseok, lantas siapa? "Apakah mungkin mereka mempunyai teman dekat selama ini? seperti teman wanita selain anda?" Tanyanya lagi.
Minseok menggaruk tengkuknya dengan gerakan pelan, dari ekspresi yang terlihat wanita itu tengah berpikir. "Aku tidak yakin, Kriss-ssi. Setahuku Baekhyun tidak mempunyai teman dekat, Baekhee hanya memiliki beberapa. Itu pun hanya teman kerjanya, dan kebanyakan dari mereka adalah laki-laki." Jelas Minseok diiringi kernyitan di dahi. Sedikit penasaran karena Kris menanyakan hal tersebut. "Apa terjadi sesuatu?" Tanyanya kemudian.
Kris sedikit tersentak mendengar pertanyaan Minseok. "Ahh. tidak terjadi apa-apa, Minseok-ssi." Sahutnya tersenyum tulus. "Kalau begitu, terimakasih. Saya permisi." Lanjutnya kemudian. Lelaki itu sedikit menunduk sebelum akhirnya berbalik dan berlalu.
Ada banyak pertanyaan yang mengiringi setiap langkahnya. Salah satunya tentang siapa wanita muda yang mengunjungi makam kedua adiknya? Karena Demi Tuhan Kris sangat penasaran.
Ia tak tahu mengapa, pernyataan temannya tentang wanita misterius itu sangat mengganggu pikirannya saat ini.
Sungguh.
Lebih dari itu, ia sangat penasaran.
.
.
-Heartless-
.
Sehun menatap malas objek hitam yang berada di depan pintu apartmentnya.
Sungguh, ia tidak pernah menyebutkan nama Kim Jongin dalam doa sebelum tidur. Tapi mengapa makhluk hitam itu yang harus pertama ia temui pagi ini?
"Kau menyeramkan, Kim Jongin!" Ucapnya terus terang.
Bagaimana tidak? Penampilan Jongin yang sangat berantakan, bau alkohol, dan lingkaran hitam di bawah mata serta wajah pucat sukses membuat Sehun menebak-nebak bahwa mungkin saja Jongin adalah keturunan makhluk gaib yang mampu berubah-ubah wujud. Karena demi apapun, Jongin tidak terlihat seperti seseorang yang pandai memikat hati para wanita hanya dengan seringaian khas yang ia miliki.
Ia jauh dari kata keren saat ini.
"S-sehun-a, kau harus ikut denganku sekarang!" Desak Jongin dengan nada panik.
Sebelah alis Sehun tertarik keatas. "Kemana?" Sahutnya diiringi dengusan malas.
"Ikut saja, kau yang mengemudi." Balas Jongin sembari melempar kunci mobil yang dengan sigap ditangkap oleh Sehun.
Mereka berdua memasuki mobil yang berada di lantai Basement.
"Sebenarnya kita mau kemana?" Tanya Sehun yang mulai mengemudikan mobil.
"Rumah Sakit. Kita harus mengecek sesuatu. Tidak, tidak! Bila perlu kita lakukan tes DNA!" Sahut Jongin penuh keyakinan. Namun beberapa detik setelahnya ia terkejut ketika Sehun mendadak menginjak pedal rem, membuat kepala Jongin nyaris membentur Dashboard.
"Holy fucking shit! What the hell is going on, dude?!" Maki Jongin dengan nada kesal.
"Apa katamu? Tes DNA?" Sehun memasang ekspresi geli yang kentara.
Apa ini? Apakah selama ini orang tuanya mempunyai suatu rahasia? semisal anak yang mereka buang karena memiliki warna kulit berbeda yang berpotensi membuat keluarga Oh hancur karena sudah pasti beberapa orang akan berspekulasi macam-macam seperti perselingkuhan dan sebagainya.
Oh tidak!
Jika Jongin adalah anak yang orang tuanya sembunyikan selama ini, maka Sehun tak bisa menerimanya. Karena Demi Tuhan. Dari sekian banyak, mengapa harus makhluk absurd seperti Kim Jongin yang harus disandingkan sebagai saudaranya?
Tuhan. Cobaan apalagi yang kau berikan? Pikir Sehun berlebihan.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Jongin sembari memukul pelan bagian belakang kepala Sehun. "Akh, aku benar-benar frustasi!" Lanjutnya kemudian.
Sehun masih bungkam, memikirkan kemungkinan buruk yang akan terjadi jika benar Jongin adalah saudaranya.
"Tunggu apa lagi? Kita harus cepat, kau tidak lihat ini?" Tanyanya seraya menunjuk kedua kantung matanya yang mengerikan. "Gadis hantu itu benar-benar membuatku ketakutan sampai tidak bisa tidur!" Celotehnya dengan nada kesal.
"Gadis hantu?" Sehun mengernyit.
"Aku bertemu dengan hantu kemarin siang. Dia terus muncul dipikiranku, membuatku takut! Dan aku sudah tak tahan. Aku harus memastikan dia benar-benar hantu atau bukan."
"Apa kau benar-benar sudah tak waras? Berhenti berbelit-belit, bicara dengan jelas!" Sehun sedikit kehilangan kesabarannya.
Jongin mengedarkan pandangannya ke sekitar Basement dengan waspada, tengkuknya mendadak meremang. "Kau tahu, aku bertemu hantu Byun." Ucapnya pelan. "Aku bertemu dengannya kemarin, sungguh aku melihatnya bersama Kyungsoo." Lanjutnya bergetar, takut. "Aku coba meyakinkan diriku sendiri bahwa yang kulihat itu salah, tapi semakin aku mengingat wajahnya semakin jelas pula bahwa dia adalah gadis itu. Aku tahu ini terdengar gila, Sehun-a. Akan tetapi setelah aku berpikir semalaman suntuk, gadis itu terlihat sangat nyata! Meskipun sebagian dari diriku masih mengatakan bahwa dia hantu." Jelasnya panjang lebar seraya memeluk kedua lengannya.
Ada jeda yang sangat panjang sebelum akhirnya Sehun terkekeh geli. "Baiklah, kita ke Rumah Sakit sekarang. Kurasa ada masalah dengan otakmu!"
"Aku benar-benar serius, brengsek!" kembali Jongin memukul bagian belakang kepala Sehun. "Alasanku mengajakmu saat ini karena aku pikir kau akan percaya, aku sudah membicarakan ini dengan Park Chanyeol tapi dia malah hendak membunuhku tadi malam."
Ekspresi Sehun perlahan berubah, kemudian ia menoleh kearah Jongin. "Apakah saat ini kau mencoba mengatakan bahwa gadis itu masih hidup? Begitu?" Tanya Sehun sedikit geram. "Apa itu masuk akal, Kim Jongin?!"
"Karena itu, kita harus memastikannya sendiri. Seperti mengecek kembali data kematiannya. Kebetulan aku mengenal baik seseorang di Rumah Sakit itu. Oh ayolah, aku tidak ingin dibayang-bayangi sosok yang belum jelas eksistensinya di dunia ini" Ujar Jongin berlebihan.
Sehun mengernyit dalam. Benarkah? Sejujurnya ia merasa janggal dengan kematian teman dekatnya, Byun Baekhyun. Tak seperti kematian Byun Baekhee yang ia saksikan sendiri kala itu, kematian Byun Baekhyun hanya menyisakan jenazah dengan luka bakar di seluruh tubuh sebagai bukti.
Hanya karena Kris yakin itu adalah Byun Baekhyun, maka identifikasi lebih lanjut tak dilakukan saat itu. dan hal tersebut membuat Sehun merasa janggal sampai sekarang.
Sehun mengeratkan pegangannya pada stir mobil, lelaki itu kembali menoleh kearah Jongin yang memasang wajah meyakinkan. Ini memang terdengar gila, namun ketika berpikir bahwa gadis itu masih hidup dan berada di suatu tempat lebih membuat Sehun menggila. Ah tidak, bahkan semua orang.
Haruskah ia mencoba menyetujui saran Jongin?
.
.
-Heartless-
.
Ketika sampai di lantai empat Rumah Sakit, Kyungso segera bergegas menuju kamar tempat di mana ayahnya dirawat. Namun berbeda dengan Baekhyun, gadis itu lebih memilih menunggu di depan kamar inap sementara Kyungsoo masuk.
Butuh upaya keras agar terlihat biasa-biasa saja di depan Kyungsoo, Baekhyun tak ingin mempersulit gadis bermata bulat itu mengingat keadaannya sedang tidak mendukung.
Baekhyun menghela nafas payah, ia sudah tak mampu mejaga keseimbangan tubuhnya, gadis itu memilih untuk duduk sejenak di kursi yang disediakan. Ia menempelkan satu tangannya di dada, merasakan degup jantung yang kian menggila. Sungguh ia tak menyangka akan kembali bertemu dengan Park Chanyeol, bahkan lebih dari itu Chanyeol melihatnya. Baekhyun menutup wajah dengan kedua tangan, dalam hati ia bertanya-tanya apa yang harus ia lakukan sekarang?
Bagaimana jika lelaki itu tengah mencari keberadaanya saat ini?
Tidak. Untuk menghindari kemungkinan terburuk ia harus pergi secepatnya.
Gadis itu bangkit dan berjalan tergesa, mengabaikan kepalanyanya yang sedikit berdenyut. Ia bersyukur karena pada saat yang sama pintu lift yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri terbuka. Dengan cepat ia masuk dan menekan sembarang tombol.
Baekhyun tak tahu mengapa ia bernafas lega ketika pintu lift sepenuhnya tertutup, gadis itu mengambil ponsel yang berada di dalam tas kecil yang ia bawa. Untuk memastikan Kyungsoo tidak mencemaskannya, ia segera mengirimi gadis itu pesan.
Pintu lift kembali terbuka beberapa saat kemudian, namun ketika Baekhyun keluar, ia baru menyadari bahwa ia tengah berada di UGD. Gadis itu menelan kering ketika melihat beberapa pasien yang tengah mendapati pertolongan pertama. Ia tak tahu pasti apa yang membuat langkahnya terasa berat dan melambat.
Perasaan aneh ketika berada di depan gedung Rumah Sakit tadi kembali ia rasakan. Bedanya kali ini ia merasakan ketakutan yang teramat sangat. Baekhyun memalingkan wajah ketika segerombolan paramedis mendorong brankar dimana seorang wanita bersimbah darah dan tak sadarkan diri berada di atasnya.
Entah ia merasa tak asing dengan suasana seperti ini, namun mengapa dadanya merasa sesak.
"APA YANG KAU LAKUKAN?! CEPAT SIAPKAN DEFIBRILATOR!" Teriakan seorang dokter membuat Baekhyun terlonjak, gadis itu menegang saat melihat tubuh seorang pasien tersentak ke udara bersamaan dengan menempelnya alat kejut jantung di dadanya.
Baekhyun meremas rambutnya perlahan, ia merasakan nyeri luar biasa menjalari kepalanya.
"CPR! Cepat!" Kembali Baekhyun terlonjak ketika dokter lain berteriak panik, gadis itu menoleh dan denyut di kepalanya semakin menjadi tatkala melihat seorang perawat tengah memompa dada seorang pasien.
Semua itu seolah tak asing.
Aktifitas yang berada di ruangan itu seolah berputar dan melambat, membuat Baekhyun meremas dengan kuat rambutnya. Tubuhnya bergetar hebat. Gadis itu menggelengkan kepalanya berulang kali. "Hentikan! HENTIKAN!" Teriaknya tak sadar dan terus meneriakan kalimat yang sama.
Beberapa perawat mencoba mendekat, untuk memberi pertolongan, namun gadis itu semakin menjadi. Ekspresi kesakitan yang kentara terlihat jelas di wajahnya.
"Hentikan! HENTIKAN KUMOHON!" Teriaknya lagi masih dengan meremas rambutnya kuat-kuat, ia bahkan tak sadar ketika sepasang lengan besar milik seorang lelaki memeluknya dari belakang. Gadis itu mulai meronta hebat, kembali meneriakan kalimat yang sama. "Sakit! SAKIT!"
"H-hei, it's okay. It's me!"
Suara baritone itu, meskipun dalam keadaan setengah sadar seperti saat ini. Baekhyun mengenalnya dengan sangat baik.
Park Chanyeol.
Lelaki itu memutar tubuh Baekhyun yang masih meronta hebat untuk menghadapnya.
"Lepas! LEPAS! Hentikan! KUMOHON HENTIKAN!" kembali Baekhyun menjerit tak kalah hebat dari sebelumnya.
Chanyeol berusaha menanangkan gadis itu, gadis yang bahkan tak ia yakini nyata saat ini. "Sshh.. it's okay, it's okay." Dengan susah payah ia memeluk tubuh gadis yang bergetar hebat tersebut. Dikecupnya puncak kepala gadis itu berulang kali seraya membisikan kalimat-kalimat menenangkan.
Baekhyun kembali meronta dalam dekapan si lelaki, sebelum akhirnya tenaganya terkuras habis. Penglihatannya mulai memburam, dan kemudian tak sadarkan diri.
Chanyeol panik, ketika mendapati gadis itu pingsan. Dengan cepat ia menggendong tubuh mungil itu dan membaringkannya di salah satu ranjang pasien.
Dengan beringas ia menarik kerah salah satu dokter yang tengah menangani pasien. "Periksa keadaannya sekarang juga!" Ucapnya penuh penekanan, membuat dokter yang hendak melayangkan protes itu menunduk dalam. Sepertinya ia tahu siapa lelaki yang baru saja memerintahnya itu.
Chanyeol geram melihat dokter itu hanya diam, ia marah. Dicengkramnya kerah sang dokter, sementara sebagian orang yang berada di tempat memekik panik melihatnya. "Tunggu apa lagi brengsek?! Jika terjadi sesuatu padanya, aku akan membunuhmu!" Makinya dengan emosi yang meradang.
"B-baik, tuan."
Dengan cepat sang dokter memeriksa keadaan Baekhyun. Sementara Chanyeol nyaris kehilangan keseimbangan tubuhnya, lelaki itu mengusap wajahnya kasar. Netranya tak sekalipun beralih dan hanya tertuju pada gadis itu.
Ternyata tadi ia memang tak salah lihat.
Segala macam perasaan menguasai dirinya. Panik, cemas, takut. Bahkan lebih dari itu, perasaan terkejut yang masih mendominasi membuat lelaki itu sedikit tak percaya bahwa saat ini, gadis yang selama ini tak pernah berhenti berputar di otaknya, wujudnya benar-benar ada, membuat Chanyeol yakin bahwa tubuh gadis itu tak akan membuyar jika ia sentuh, seperti yang terjadi dalam mimpinya setiap malam.
Namun, melihat gadis itu terbaring tak sadarkan diri membuatnya merasa Dejavu. Nafasnya mulai memburu ketika kejadian satu tahun silam kembali berputar di otaknya.
Lelaki itu mengacak rambutnya frustasi. Ada begitu banyak pertanyaan dalam benaknya, dan hal yang paling membuat ia penasaran, Apakah gadis yang berada di hadapannya saat ini adalah Byun Baekhyun?
Jika iya, bagaimana bisa gadis itu masih hidup? Kemana ia selama ini?
Dan jika bukan,
Chanyeol menggeleng pelan. Bukan waktunya untuk memikirkan hal itu.
"Pasien mengalami syok berat, emosinya menjadi tidak stabil dengan sangat cepat. Apakah akhir-akhir ini pasien merasa tertekan oleh suatu hal?" Pertanyaan sang dokter membuyarkan lamunan Chanyeol. Lelaki itu menggeleng pelan.
Ya. Karena ia tak tahu, apa yang terjadi pada gadis itu sehingga membuatnya menjerit-jerit seperti tadi? Chanyeol benar-benar tidak tahu.
"Pasien akan baik-baik saja setelah beristirahat beberapa saat." Kembali dokter itu berujar sebelum akhirnya mohon undur diri.
Dengan cepat Chanyeol menduduki kursi yang berada di samping ranjang pasien. Sedikit ragu sebelum akhirnya ia memberanikan diri menggenggam tangan Baekhyun, mengecupinya pelan, menyesap aroma yang selalu membuatnya candu.
Chanyeol kembali mengamati Baekhyun dengan teliti, satu tangannya bergerak merapikan anak rambut yang menutupi sebagian wajah gadis itu. Tak berhenti di situ, ia bahkan membiarkan jemarinya membelai setiap inci wajah Baekhyun.
Chanyeol jarang sekali berdoa, sungguh. Namun kali ini, ia terus merapalkan sebuah doa di dalam hatinya.
Jika ini mimpi, maka Chanyeol memohon kepada Tuhan untuk tidak membiarkan ia bangun dari tidurnya.
Lelaki itu tak bisa lagi menahan diri, ia bangkit kemudian mencondongkan tubuhnya, lalu dengan gerakan pelan –sangat pelan— ia mengecup kening gadis itu. Cukup lama. Sebelum akhirnya ia menyudahi hal tersebut. Namun alangkah terkejutnya ia, ketika sepasang mata jernih yang berada dalam jarak pandang sangat dekat itu tengah menatapnya. Sekilas Chanyeol dapat melihat ekspresi terkejut di wajah gadis itu namun beberapa detik kemudian hilang, terganti oleh raut wajah yang tak menunjukan ekspresi sedikit pun. Mereka saling melempar pandang beberapa saat sebelum akhirnya si gadis bersuara,
"Kau.. siapa?"
.
.
.
TBC
.
.
AN:
Fast update ya thor..
Ciyeee yang mau bilang gitu ciyeee~ haha :D
Yang belum nonton Heartless Official Video bisa cek bio atau ig: xxoalc
Jangan lupa like and comment ya. Chu~
