Heartless
.
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
And OCs
.
ChanBaek (GS)
Romance, Hurt/Comfort
.
DON'T LIKE DON'T READ!
Happy Reading!
.
Bagi sebagian orang mungkin Park Chanyeol tidaklah lebih seorang penjahat, pembunuh berdarah dingin, atau sesuatu yang lebih kejam yang selalu melekat pada sosoknya.
Akan tetapi, selain orang-orang terdekatnya, tidak ada yang tahu bahwa dulu Park Chanyeol kecil sebenarnya adalah anak yang bisa bersikap manis layaknya anak seusianya di masa itu, bahkan pertanyaan sederhana seperti tentang apa yang ia cita-citakan di masa depan akan selalu dijawabnya dengan penuh semangat.
Meski hingga kini ia menyesali hal tersebut.
Chanyeol tidak pernah menyangka bahwa cita-citanya yang ingin menjadi presiden di masa lalu selalu dijadikan senjata oleh Yoora untuk mengalahkannya di medan perang.
Dengan nada mengejek dan diiringi sindiran pedas, wanita siluman itu mengatakan bahwa akan lebih baik jika Chanyeol memiliki kemampuan untuk kembali ke masa lalu dan mengubah cita-citanya menjadi iblis pecinta selangkangan wanita.
Memang terdengar masuk akal menilik betapa buruknya perilaku lelaki itu sekarang yang tentu tak pernah absen mengundang decak sebal dari sebagian orang. Akan tetapi kembali ke masa Park Chanyeol kecil yang ketika itu menginjak usia sekolah dasar, siapa pun tidak akan menyangka bahwa saat itu ia adalah anak yang menjadi favorit para guru. Karena selain pintar, Chanyeol dikenal sebagai anak yang cakap. Ia bahkan selalu menjadi yang pertama mengacungkan tangan untuk menjawab pertanyaan yang guru tujukan kepada seisi kelas.
Dan menurut Yoora yang diliputi perasaan iri karena prestasi yang didapat oleh sang adik, Chanyeol itu hanya penjilat. Selalu ingin dipandang lebih baik dari siapapun, sifat sombong dan angkuhnya memang sudah tumbuh sejak ia kecil termasuk berlagak sok pintar –sebenarnya memang pintar- seperti itu.
Meski sebenarnya Chanyeol hanya benci dianggap dianggap remeh dan bodoh, karena Chanyeol yakin ia dilahirkan sebagai orang yang paling pintar, setidaknya di keluarganya.
Namun lelaki yang bahkan sampai saat ini dikenal cerdas dan handal mengutarakan berbagai pikiran, dan menyalurkannya secara lugas yang tentu sangat berpengaruh pada berkembang pesatnya perusahaan itu kini sanggup dibuat bungkam oleh pertanyaan yang dilontarkan seorang gadis yang masih berbaring di atas ranjang pasien seraya melempar tatapan yang sulit terartikan.
Jangan salah sangka. Chanyeol diam bukan berarti ia bodoh dan tak bisa menjawab. Hanya saja gadis itu menanyakan siapa dirinya?
Oh. Astaga.
Chanyeol memiringkan kepalanya ke satu sisi, dan kemudian sebelah alisnya terangkat. Iris kelam itu masih menatap lekat gadis yang berada di hadapannya sebelum akhirnya ia mumundurkan tubuh lantas menghempasnya dengan ringan keatas kursi di samping ranjang, lelaki itu memijat pelan dahi sebelum kemudian terkekeh singkat dengan nada mengantuk yang khas.
Konyol.
Bukankah pertanyaan seperti itu yang seharusnya Chanyeol lontarkan?
Siapa sebenarnya kau?
Apakah kau manusia?
Ataukah kau hantu Byun Baekhyun?
Namun semua pertanyaan itu hanya sebatas saliva pahit yang tertahan di kerongkongan sebelum akhirnya ia telan.
"Bukankah tidak sopan mengabaikan pertanyaan orang lain?" Kata gadis itu seraya mencoba untuk bangkit dari posisi tidurnya.
Chanyeol memejamkan mata, mencerna dengan baik suara lembut yang tertangkap oleh indera pendengarannya, dan sesaat kemudian matanya kembali terbuka namun tak lantas menjawab. Lelaki itu justru malah semakin gencar memperhatikan bagaimana gestur tubuh si gadis yang berubah tidak nyaman dan berusaha ia tutupi dengan menatap ke sekeliling ruangan.
Dan hal itu mau tak mau membuat sudut bibir Chanyeol sedikit terangkat.
Lagipula apa itu tadi? Apakah gadis itu menyebutnya tidak sopan? Meskipun ia berbicara dengan ekspresi yang minim, namun Chanyeol sama sekali tidak melewatkan nada yang dipenuhi nasehat menjenuhkan, khas seseorang.
Lelaki itu berusaha mati-matian untuk tidak menampilkan senyum merekah terpatri di wajahnya.
Oh tidak!
Jangan terkecoh Park Chanyeol, kau bahkan tidak yakin siapa gadis di hadapanmu saat ini. Batin lelaki itu seolah tersadar.
"Bukankah seharusnya aku yang bertanya, siapa kau?" Kata lelaki itu akhirnya. Sungguh, dengan susah payah agar nada suaranya terdengar biasa saja.
Byun Baekhyun. Gadis itu tidak menyahut, ia malah kembali bergerak dan mengulurkan kedua kaki yang sebenarnya sudah tak mampu menahan beban tubuhnya ke permukaan lantai dingin Rumah Sakit. Gadis itu tak bisa berlama-lama menghadapi Chanyeol. Demi Tuhan. Ia tidak pandai bersandiwara.
Yang dapat ia lakukan hanya terus merapalkan doa dalam hati, berharap Tuhan menolongnya saat ini.
Gadis itu sudah sepenuhnya berdiri, mengabaikan lututnya yang seolah akan mencair. Ia mulai melangkahkan kaki, menjauh. Dengan sisa tenaga yang ia punya, Baekhyun membuka pintu tangga darurat terdekat, tidak cukup mempunyai banyak waktu untuk menunggu pintu Elevator terbuka. Entah mengapa ia merasa lega sekaligus aneh karena lelaki itu tidak mengejarnya.
Akan tetapi kelegaannya itu tak berlangsung lama, ketika ia menginjak satu anak tangga, sebuah lengan kekar melingkar pada tubuhnya dari belakang.
Baekhyun berjengit terkejut, tubuhnya membeku, pergerakannya terkunci. Tak perlu indera keenam untuk tahu siapa pemilik lengan itu.
Park Chanyeol. Masih setia memeluk tubuh Baekhyun dari belakang, sementara mulutnya ia dekatkan pada telinga gadis itu, "Bukankah tidak sopan mengabaikan pertanyaan orang lain?" Dengan nada suara rendah dan berat kalimat itu mulus keluar dari mulutnya.
Kini tubuh Baekhyun menegang, rasa takut mulai merambat, menjalari seluruh pembuluh darahnya. Baekhyun takut, sentuhan leaki itu seolah mendatangkan mimpi buruk pada dirinya, mengingatkannya pada kejadian satu tahun yang lalu. Gadis itu perlahan memberontak. Namun ternyata tak membutuhkan usaha yang lebih untuk dapat lepas dari lelaki itu, dengan tubuh yang bergetar gadis itu kemudian berbalik dan tanpa disangka ia menampar lelaki di hadapannya.
Chanyeol mengusap sudut bibir, mengusir rasa ngilu akibat tamparan yang ia terima. Kemudian ia menganggukkan kepala pelan, "Bagus. Memang seperti inilah seharusnya kau bereaksi." Katanya seraya terkekeh pelan.
Chanyeol tidak mendapati sahutan, malah ia harus kembali meraih lengan Baekhyun ketika gadis itu mulai berniat meninggalkan tempat tersebut. Dalam sekali tarik, Chanyeol berhasil membuat gadis itu kembali menghadapnya. Kedua tangan Chanyeol menangkup wajah Baekhyun dengan pelan, meskipun gadis itu terus meronta namun Chanyeol berhasil menyatukan kedua kening mereka. Lelaki itu memejamkan matanya, merasakan hembusan nafas si gadis dalam jarak yang begitu dekat. "Kumohon.. Kumohon katakan padaku bahwa ini adalah kau.." Katanya terdengar parau tanpa membuka mata.
Baekhyun menangkap suara itu, nada putus asa itu. Baekhyun mencium aroma tubuh lelaki itu, aroma yang sebenarnya ia rindukan. Gadis itu terenyuh untuk sesaat sebelum kemudian Baekhyun menepis tangan Chanyeol yang masih bertahan menangkup kedua sisi pipinya, gadis itu secara terang-terangan menatap Chanyeol dengan sorot tidak suka. "Apa kau gila? Siapa kau berani melakukan ini kepadaku? Aku bahkan tidak mengenalmu!" Katanya tajam dan berlalu dengan cepat beberapa detik setelahnya. Meninggalkan Chanyeol yang seolah terpisah dari jiwanya, lelaki itu berdiri mematung, memerhatikan punggung si gadis yang semakin menjauh.
Persetan!
Lelaki itu mengejar langkah Baekhyun dengan berlari, layaknya seekor singa yang tak ingin kehilangan mangsanya. Hal pertama yang ia lihat ketika pintu tangga darurat yang menghubungkannya dengan lantai dua terbuka ialah kerumunan orang-orang. Bahkan ada beberapa paramedis. Kornea Chanyeol melebar ketika melihat seseorang yang mereka baringkan di atas brankar.
.
.
-Heartless-
.
Ini sudah kesekian kali Sehun memutar bola matanya, jengah.
Bagaimana tidak?
Lelaki itu kembali menoleh kearah Jongin yang duduk di sampingnya, melihat Jongin yang tengah menggigiti kuku seraya memasang ekspresi layaknya anak perawan yang tengah menunggu untuk digagahi lelaki tua.
Okay, itu berlebihan.
Tak dapat Sehun pungkiri bahwa ia pun merasa tegang, mengingat mereka berdua tengah berada di ruang kerja salah satu dokter –teman Jongin- Rumah Sakit tempat di mana dulu Byun kembar di rawat.
Helaan nafas terdengar, menit-menit menegangkan berlalu. Sehun dan Jongin praktis menegakkan posisi duduk ketika pintu ruangan itu terbuka. Mereka memperhatikan dengan seksama ketika seseorang berjubah putih memasuki ruangan itu dengan menenteng lembaran kertas dalam sebuah dokumen.
"Kau tahu, tidak sembarang orang bisa mendapatkan data kematian seseorang kecuali keluarganya. Dan tidak mudah mendapatkan ini." Kata Taemin seraya mengangkat dokumen itu ke udara dan setelahnya ia duduk di kursi kerjanya.
"Aku tidak bodoh. Untuk itu aku meminta bantuanmu, Lee Taemin." Sahut Jongin sembari menyeka peluh yang sedari tadi berlomba-lomba membanjiri dahi dan pelipisnya.
Melihat hal itu, Sehun kembali memutar bola matanya. Lelaki itu yakin jika ia buka mulut tentang keadaan Jongin saat ini, sudah pasti wanita-wanita yang sebelumnya menyapa Jongin dengan membuka paha, memamerkan selangkangan mereka akan berpikir dua kali sebelum melakukan hal yang sama.
Diam-diam Sehun tertawa licik di dalam hati.
Perhatian lelaki itu teralihkan oleh suara gemerisik kertas yang tengah Taemin teliti.
"Kalian bilang, namanya Byun Baekhyun?" Tanya Taemin kemudian. Raut wajahnya menampakkan ketertarikan yang mendalam.
Jongin mengangguk yakin.
Taemin menumpukan kedua siku keatas meja, memasang ekspresi serius ketika melampar pandang kepada kedua lelaki yang duduk di seberang meja kerjanya itu. Lelaki itu kemudian menyerahkan beberapa lembar kertas yang dengan sigap diterima oleh Sehun tentu saja, sementara Jongin sedikit enggan untuk melihatnya, karena kemungkinan terburuk seperti fakta bahwa yang ia temui waktu itu adalah hantu tidak akan menjamin kesadarannya tetap terjaga.
"Sebenarnya apa yang ingin kalian ketahui? Tidak ada yang menarik dari data kematian itu, menurutku." Kata Taemin lagi, masih memasang tampang serius.
Sehun yang tengah sibuk memabaca baris demi baris kata yang tertulis di kertas sama sekali tidak mengindahkan ucapan Taemin.
"Hm. Aku tidak tahu pasangan kembar itu begitu terkenal." Gumam Taemin dengan suara yang masih dapat didengar oleh Sehun, membuat lelaki albino itu langsung mendongak dan menatap Taemin.
"Apakah kau mengenal Byun Baekhyun dan Byun Baekhee?" Tanya Sehun penasaran.
Kali ini Jongin pun tak kalah antusias.
Taemin meringis tak yakin. "Aku tidak mengenal mereka. Tapi satu tahun yang lalu ketika masih menjabat sebagai dokter magang, aku dan teman-temanku ikut andil merawat kedua gadis itu terutama Byun Baekhyun" Jelasnya seraya memberi jeda untuk menghela nafas, "Akan tetapi ketika gadis itu meninggal.." Taemin tak melanjutkan perkataannya.
"Apa?" Kompak Sehun dan Jongin.
"Aku baru mengetahui ini beberapa waktu lalu. Salah satu temanku berkata bahwa ada kejanggalan dengan kematian gadis itu. Lagipula waktu itu Rumah Sakit tidak melibatkan dokter ahli forensik karena dari informasi yang di dapat, keluarga tidak ingin melakukan identifikasi lebih jauh karena sangat yakin bahwa korban adalah Byun Baekhyun."
"Maksudmu?" Kembali Sehun dan Jongin berseru serempak.
Taemin tidak yakin memberitahukan hal ini, karena ia tidak tahu apa hubungan Sehun, Jongin dan gadis bernama Byun Baekhun itu. Ia menatap kedua lelaki di hadapannya saling bergantian sebelum kemudian kembali menghela nafas. "Pada dasarnya, kembar identik memiliki DNA yang tergolong sulit untuk dibedakan, termasuk kedua gadis itu. Temanku berkata bahwa mereka memiliki golongan darah yang sama yaitu B. Akan tetapi temanku itu yang entah bagaimana caranya menemukan DNA yang berbeda pada mayat Byun Baekhyun dan sama sekali tidak cocok dengan data yang dimiliki Rumah Sakit sebelumnya."
Sehun dan Jongin mematung di posisinya, mendengar penjelasan Taemin membuat tubuh mereka membeku, bahkan lidah keduanya terasa kelu.
"Dan karena temanku menghormati keputusan keluarga Byun Baekhyun dan tidak ingin menimbulkan masalah apapun, dia memutuskan untuk melupakan kejanggalan tersebut." Lanjut Taemin seraya mengangkat bahunya.
.
.
Ini adalah detik-detik tersunyi dalam hidup Sehun dan Jongin, setelah keluar dari ruangan Taemin, keduanya berjalan menuju lobi tanpa diiringi satu patah kata pun. Pikiran Sehun berkecamuk, beberapa kemungkinan mendominasi akal sehatnya. Sementara Jongin tengah sibuk mengatur pernafasannya yang mendadak tidak stabil.
Jongin merasa tidak mendapatkan jawaban yang pasti, kematian Byun Baekhyun tertulis jelas di data kematian. Sementara penjelasan Taemin tadi membuatnya meragukan apa yang telah ia baca.
Jadi apa yang sebenarnya aku lihat?
Apa dia manusia atau hantu?
Tuhan berilah aku petunjuk.
Batin Jongin meneriakkan frustasi. Lelaki yang kini berwajah semakin pucat itu berjalan gontai, pening menjalar di sekitar kepalanya, dan kemudian kesadarannya menghilang.
Teriakan beberapa orang membuyarkan lamunan Sehun, lelaki itu menoleh dan kemudian matanya membola melihat Jongin yang sudah tak sadarkan diri, berbaring dengan tak elit di lantai Rumah Sakit.
.
.
-Heartless-
.
Ini adalah kali kedua Jimin pergi ke desa, Minseok menyuruhnya untuk mengambil beberapa bibit bunga yang baru dari pemasok. Seorang diri, pemuda itu menempuh perjalanan yang cukup melelahkan sebelum akhirnya ia sampai di tempat tujuan.
Jimin memarkirkan mobilnya di halaman rumah si kakek. Entah mengapa ia merasa sangat antusias bertemu dengan lelaki tua itu. Mungkin karena ada beberapa hal yang mengganjal di hatinya dan ingin segera ia ketahui jawabannya.
Pemuda itu berjalan menuju Greenhouse, ia mengernyit ketika hanya di sambut oleh kesunyian dan tak mendapati siapa pun berada di tempat itu. Namun beberapa saat telinganya mendengar suara mengaduh kesakitan yang berasal dari bagian belakang bangunan tersebut, setengah berlari ia menuju tempat asal suara.
Jimin terkejut ketika mendapati sang kakek tengah berbaring seraya mengaduh kesakitan, dengan cepat ia menghampiri lelaki tua itu. "Kakek baik-baik saja? Apa yang terjadi?" Tanyanya sembari membantu si kakek untuk bangkit.
"Oh, apalagi yang bisa terjadi kepada orang tua sepertiku, nak.. " Sahut kakek dengan nada payah, "Tubuhku sudah tidak sekuat dulu," Lanjutnya. Ia kembali mengaduh ketika merasakan sakit di bagian pinggang.
Dengan cekatan Jimin membopong lelaki tua itu menuju rumahnya, dengan petunjuk si kakek, Jimin berhasil membawanya ke sebuah ruang tamu dan mendudukan lelaki tua itu ke atas sofa.
"Kakek yakin tidak ingin berbaring?" Tanya pemuda itu dengan raut cemas di wajahnya. Pemuda itu ikut mendudukkan dirinya di samping kakek.
"Aku akan baik-baik saja sebentar lagi." Katanya parau, nafasnya sedikit tersengal. "Aku kelelahan karena mengurus rumah kaca seorang diri, kedua cucuku sedang pergi ke kota." Lanjutnya kemudian. "Maafkan aku sudah merepotkanmu, dan terimakasih sudah menolongku, anak muda."
Jimin tersenyum ramah, "Ahh tidak apa-apa, saya senang membantu." Jeda sebentar, ia hendak memilih kalimat yang pas untuk menanyakan tentang kedua cucu si kakek. "Oh, kedua cucu kakek itu.. Apa mereka tinggal di sini juga?"
Si kakek mengangguk, tersenyum ramah. "Sebentar, nak. Akan kuambilkan minum untukmu." Katanya sembari mencoba untuk bangkit namun Jimin dengan cepat menghalau pergerakan si kakek.
"Tidak apa-apa, terimakasih. Kakek istirahat saja." Kata Jimin, pemuda itu mengerahkan semua perhatiannya pada interior rumah. Dalam hati ia berdecak kagum akan suasana klasik di dalamnya. Sorot matanya menajam ketika pandangannya berlabuh pada sebuah bingkai foto berukuran sedang yang terletak di atas nakas tepat di sebelah sofa yang ia dan kakek duduki. Jimin menelan saliva dengan susah payah, potret kedua gadis yang berada dalam bingkai itu membuatnya seolah tidak percaya.
Kakek melihat gelagat aneh pada Jimin, lelaki tua itu kemudian mengikuti arah pandang pemuda di sampingnya dan kemudian senyuman kembali terpatri di wajahnya. "Itu kedua cucuku." Katanya kemudian sembari meraih bingkai foto itu dengan sedikit usaha.
"I-ini.." Jimin berucap terbata sembari meraih bingkai foto ketika si kakek menyerahkannya.
"Mereka cantik bukan?" Kekeh si kakek terdengar menggoda Jimin. "Yang terlihat ceria dan memiliki mata bulat itu Do Kyungsoo. Dan yang di sebelahnya, gadis yang memiliki sorot mata dan senyuman hangat itu adalah Byun Baekhyun." Lanjutnya menjelaskan dengan nada bangga.
"B-byun.. Byun Baek-hyun?" Jimin semakin terbata, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Pemuda itu tak mengalihkan sedikit pun atensinya dari bingkai foto tersebut.
"Ya, gadis yang malang." Gumam si kakek.
"Apa maksud kakek?" ternyata Jimin mendengar gumaman orang tua itu, merasa ada celah ia bertanya dan akan menuntut penjelasan tentang gadis yang berada di foto itu.
"Oh, lupakan saja. Itu sudah lama terjadi, gadis itu adalah cucuku." Kakek tersadar, tidak seharusnya ia berkata tentang kemalangan gadis itu di depan orang lain, Baekhyun sudah seperti cucu kandungnya. Yang sangat ia sayangi.
"Saya mengenal Byun Baekhyun." Ujar Jimin penuh keyakinan.
"Kau.. Kau mengenalnya? Tapi, bagaimana bisa?" Beo si kakek dengan nada terkejut.
"Saya mohon, bisa kakek jelaskan siapa Byun Baekhyun yang kakek sebut sebagai cucu kakek ini?"
Si kakek masih tidak percaya dengan apa yang pemuda di sampingnya katakan, namun ia tak mendapati kebohongan pada sorot mata Jimin. Memang sedari dulu ia merasa penasaran dengan identitas Byun Baekhyun, tentu dirinya tidak semudah itu percaya bahwa Baekhyun tidak memiliki siapa pun di dunia ini seperti yang gadis itu katakan pertama kali. Namun ketika melihat luka mendalam di balik sorot mata Baekhyun yang menenangkan, kakek memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut dan memilih membiarkan Baekhyun hidup sebagai cucunya.
Dan apa yang ia dengar dari pemuda bernama Jimin itu sungguh membuat perasaannya tak menentu. Jika yang dikatakan Jimin adalah kenyataan maka tidak menutup kemungkinan bahwa ia akan kehilangan cucunya, namun dalam waktu yang bersamaan pula ia merasa lega dan senang karena Baekhyun tidak sendiri di dunia, bahwa mungkin saja gadis itu mempunyai keluarga. Kakek menatap Jimin yang tengah memohon penjelasan darinya, ada riak putus asa pada sorot mata pemuda itu.
Kakek menghela nafas pelan sebelum akhirnya ia menjelaskan dari awal tentang Byun Baekhyun.
.
.
.
Minseok tidak tahu apa yang terjadi pada Jimin. Dua jam berlalu sejak anak itu kembali, selama itu pula Jimin tidak beranjak dari sofa tempatnya berbaring seraya menutup wajah dengan punggung lengan.
Minseok menepuk pelan kaki Jimin, anak itu mengerti dan segera bangkit untuk duduk dan meraih mug yang Minseok berikan padanya. Jimin mengernyit ketika minuman dalam mug itu melewati kerongkongannya. "Coklat?" Katanya, terdengar protes.
Minseok hanya mengangkat bahu. Menurutnya, Jimin bukanlah anak yang mudah murung, bahkan Minseok berani bertaruh Jimin tidak akan berubah menjadi bujangan melankolis ketika putus cinta. Namun bukan berarti Jimin anak yang datar, sungguh. Disaat para gadis percaya bahwa Jimin seperti itu, sebenarnya mereka tidak tahu bahwa seorang Kim Jimin suatu waktu akan menjelma menjadi anak yang sangat sensitif melebihi anak perempuan.
Dan percayalah. Disaat seperti itu hanya segelas coklat hangat yang—
"Noona.."
—dapat membuat anak itu kembali ke alam sadar.
"Hm." Minseok masih menyibukkan diri dengan majalah di tangannya, ketika merasa Jimin kembali terdiam, wanita itu menoleh kearah adiknya.
"Aku tahu, Noona tidak akan percaya padaku. Karena itu, aku ingin Noona mendengarkan ini." Jimin merogoh saku celananya, menyalakan ponsel dan mulai membuka sebuah file rekaman percakapannya dengan kakek siang tadi.
Karena Minseok harus tahu, dengan begitu kakaknya itu akan memberitahu kebenarannya kepada Kris dan Luhan.
.
.
-Heartless-
.
Pada awalnya Kyungsoo berniat menemui Baekhyun mengingat sudah berjam-jam ia berada di kamar inap ayahnya. Namun gadis itu tak mendapati Baekhyun berada di depan kamar ayahnya, kemudian ia bergegas mencari keberadaan Eonni-nya itu.
Kyungsoo sudah mencari di berbagai tempat, perasaan cemas pun mulai merambat. Namun ketika tak sengaja ia melewati Unit Gawat Darurat, Kyungsoo melihat sesosok iblis yang menebar tatap jahat seolah ingin menerkam bidadari yang tengah terbaring tak sadarkan diri.
Okay, Kyungsoo memang selalu berlebihan seperti itu.
Sontak Kyungsoo langsung berhambur menghampiri bidadari yang sejatinya adalah Byun Baekhyun itu. Ia tak ingin beberapa kemungkinan buruk terjadi pada Eonni-nya mengingat sorot mata sang iblis yang tajam bagai hunusan pedang tak teralih sama sekali dari objek indah di hadapannya.
Kyungsoo bahkan mengesampingkan rasa penasaran tentang apa yang dilakukan iblis itu di sini. Terlebih di samping Baekhyun.
"Eonni!" Seru Kyungsoo yang langsung menepuk pelan pipi Baekhyun, berharap ia bangun.
Kyungsoo memandang sosok lelaki bertubuh tinggi di hadapannya dengan mata memicing curiga. Bukan tanpa alasan jika sosok itu bukanlah Park Chanyeol yang sedari tadi duduk di kursi yang berada di samping ranjang Baekhyun. "Apa yang kau lakukan di sini, Park Chanyeol? Apa yang terjadi pada Eonniku?" Sinis. Hanya itu nada yang mengiringi setiap pertanyaan yang terlontar dari mulut Kyungsoo.
Awalnya Park Chanyeol hanya memandang datar manusia penguin di hadapannya. Merasa tak heran ketika gadis yang ia ketahui adalah calon tunangan Jongin itu mengenal dirinya. Well, mengingat popularitasnya yang melebihi seorang selebriti tentu saja siapa pun akan tahu siapa itu Park Chanyeol. Namun ketika Kyungsoo membawa-bawa kata 'Eonniku' tentu rasa ingin tahunya membuncah. Terlebih kata-kata Jongin tadi malam kembali terngiang di benaknya.
"Eonni?" Sebelah alis Chanyeol terangkat.
"Ya, dia Eonniku. Apa yang terjadi padanya, huh?" Tanya Kyungsoo menuntut. Kemudia ia menepuk kembali pipi Baekhyun. "Eonni, Baekhyun Eonni. Bangunlah. Apa yang terjadi padamu, uh?" Lanjutnya dengan nada meringis yang bahkan siapapun akan menebak bahwa beberapa detik lagi gadis itu akan menangis.
Praktis tubuh Chanyeol menegang ketika nama itu meluncur dari mulut Kyungsoo. Lelaki itu bangkit dan dengan sigap mencengkram kedua bahu Kyungsoo, membuat gadis itu memekik terkejut. "Siapa kau bilang? Siapa yang kau sebut Baekhyun?" Tanya Chanyeol dengan nada suara tinggi sembari mengguncang kedua bahu Kyungsoo.
Kyungsoo masih dalam mode terkejut itu menyahut dengan terbata, "D-dia, B-baekhyun Eonniku" gadis itu memandang sorot mata Chanyeol yang menajam, seolah meminta penjelasan dari dirinya. Sementara tangannya menunjuk pada Baekhyun.
Chanyeol memejamkan mata,meskipun perasaannya bercampur aduk antara terkejut, tak percaya dan bahkan senang, oh ralat, Chanyeol bahagia. Namun ia benci ketika apapun yang ia rasa adalah miliknya di klaim oleh orang lain. Chanyeol tidak suka ketika bagaimana Kyungsoo menyebut Baekhyun dengan sebutan 'Eonniku'.
Chanyeol tidak menyukainya.
Ya, karena Byun Baekhyun hanya miliknya.
Chanyeol mengesampingkan rasa ingin tahunya tentang apa yang tejadi selama ini pada Byun Baekhyun. Yang pasti tanpa mengindahkan omelan Kyungsoo, lelaki itu kini kembali menjelma menjadi seorang Park Chanyeol dengan segala kekuasaan yang ia punya. Memutuskan untuk membawa Baekhyun ke Mansionnya, meski pada kenyataannya gadis itu masih belum sadarkan diri.
Bukan tanpa alasan, disamping ia takut gadis itu melarikan diri dari dirinya, Chanyeol juga tidak ingin kekasihnya itu terbaring di ruangan UGD yang sudah pasti akan tersentuh oleh tangan-tangan perawat laki-laki, meski sebenarnya bisa saja ia memindahkan gadis itu ke kamar VVIP.
Well, sepertinya ego lelaki itu tengah menguasai. Ia bahkan melupakan fakta bahwa ini kali kedua gadis itu jatuh pingsan.
Lagi, Chanyeol tidak peduli jika ia dianggap sebagai cucu durhaka, mengingat saat ini kakeknya tengah dirawat di Rumah Sakit yang sama yang bahkan belum ia jenguk barang sedetik pun.
Lelaki itu malah sibuk menghubungi Jongdae untuk mengurus kepulangan Baekhyun. Ya, secara paksa.
"Apa yang kau lakukan, huh? Siapa kau berani melakukan ini pada Eonniku? Aku akan melaporkanmu kepada polisi!" Celoteh Kyungsoo dengan nada marah.
Chanyeol yang masih memerhatikan Baekhyun kini beralih pada Kyungsoo yang tengah sibuk mendial nomor di ponselnya. "Byun Baekhyun adalah tunanganku. Dia melarikan diri dariku satu tahun yang lalu." Ujarnya penuh dusta dengan nada santai.
Jemari Kyungsoo yang tengah menari-nari di atas ponsel kini terhenti, gadis itu mendongak, menatap Chanyeol dengan sorot mata yang semakin curiga. "Bajingan gila! Bagaimana bisa Eonniku adalah tunanganmu?! Jangan mengada-ngada, Park Chanyeol!" Katanya semakin marah.
Chanyeol mengangkat bahunya, acuh. "Kau bisa tanyakan kepada Kim Jongin tentang kebenarannya. Aku tidak mempunyai waktu untuk menjelaskan lebih jauh tentang apa yang terjadi." Katanya seraya memberi jeda sejenak. "Dan biar kutegaskan, jangan pernah berani menyebut Byun Baekhyun dengan sebutan 'Eonniku' seperti itu! Dia hanya milikku! Kau mengerti?" Lanjutnya dengan nada tidak suka. Tidak, ia benci.
Chanyeol dan Kyungsoo masih terlibat perdebatan kecil ketika Jongdae datang dengan tergopoh-gopoh, mungkin setelah melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju Rumah Sakit, lelaki itu harus berlari dari depan gedung hingga ruangan UGD.
Ya, ancaman Chanyeol berupa pemecatannya jika ia tidak datang dalam waktu sepuluh menit membuat Jongdae harus bermandikan keringat.
Lelaki berwajah kotak itu segera menghampiri Chanyeol, namun sesaat kemudian ia nyaris terlonjak dari posisinya ketika netranya berlabuh pada sosok mungil yang terbaring di atas ranjang pasien. Jongdae semakin berkeringat, kali ini di dominasi oleh keringat dingin dan wajahnya mulai memucat. Kemudian ia mengalihkan pandangannya kepada Chanyeol yang tengah melempar pandangan mata memicing kearahnya, seolah tidak suka melihat Jongdae menatap Baekhyun dengan sangat intens.
Chanyeol seolah tak ingin Baekhyun menjadi santapan tatapan lelaki mana pun, termasuk Jongdae.
Oh, haruskah Park Chanyeol berlebihan seperti itu?
Jongdae mengerti ketika Chanyeol mengisyaratkan untuk segera mengurus kepulangan Baekhyun, lelaki itu menundukkan kepala sebelum akhirnya melenggang pergi dengan langkah terbata, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat dan tidak mengerti dengan apa yang terjadi saat ini.
Beberapa saat kemudian Jongdae kembali dengan didampingi seorang dokter.
Kyungsoo dan Jongdae melengos ketika Chanyeol mencengkeram kerah sang dokter yang hendak membantu memindahkan Baekhyun pada Brankar lain.
"Siapa yang kau sentuh, brengsek?!" Geram Chanyeol ketika tangan sang dokter bersentuhan dengan bahu Baekhyun. Dan kemudian menghempas sang dokter dengan kasar.
Tanpa menunggu lama, Chanyeol melepas mantel yang ia kenakan sebelum kemudian ia gunakan untuk menyelimuti tubuh mungil Baekhyun, lelaki itu mencondongkan badannya, mengecup pelan kening si gadis sebelum akhirnya membawa gadis itu ke dalam gendongannnya, mendekapnya dengan posesif.
Kyungsoo setengah mengutuk dalam hati ketika apa yang Chanyeol lakukan tersebut nyaris membuat dokter wanita yang hendak memeriksa pasien di sebelah ranjang Baekhyun menjatuhkan stetoskop yang dipegangnya. Oh bahkan beberapa perawat sempat bergumam tertahan seraya menampilkan ekspresi wajah histeris. Kyungsoo berdecak, seharusnya mereka semua melarang iblis itu membawa Eonninya yang bahkan masih tak sadarkan diri itu, bukan malah melempar tatapan memuja seolah mereka semua tengah menyaksikan adegan romantis yang selama ini diidam-idamkan terjadi dalam hidup mereka.
Tanpa menghiraukan omelan Kyungsoo yang menjadi-jadi, Chanyeol melangkah dengan santai. Menjadi santapan tatapan setiap orang yang melihatnya menggendong seorang gadis yang masih setia memejamkan mata.
Chanyeol tidak peduli.
Karena yang pasti, setelah ia membawa gadis itu ke mansionnya, Chanyeol akan memanggil dokter pribadi yang ia punya.
Oh tentu, Chanyeol tidak segila itu untuk membiarkan gadis yang ia klaim sebagai kekasihnya itu tidak mendapat penanganan khusus dari dokter. Ia enggan memikirkan hal-hal buruk yang terjadi pada Baekhyun setelah apa yang terjadi selama ini, meski pada kenyataannya ia masih tidak mengerti sepenuhnya atas apa yang telah terjadi.
Dengan dibantu oleh Jongdae, Chanyeol berhasil membawa Baekhyun masuk ke dalam mobilnya, mendudukkannya di kursi penumpang dengan perlahan. Setelah memasangkan sabuk pengaman, Chanyeol mengelus rambut gadis itu sejenak sebelum akhirnya ia menutup pintu mobilnya. Lelaki itu berjalan memutari mobilnya namun ketika ia hendak membuka pintu mobil di sisi lain, Kyungsoo menghalaunya.
"Apa kau benar-benar gila? Aku tidak main-main, Park Chanyeol. Aku akan melaporkanmu kepada polisi karena telah menculik Eonniku!" Kali ini Kyungsoo berteriak, ia tak akan begitu saja menyerahkan Baekhyun pada iblis seperti Park Chanyeol. Karena bisa saja lelaki itu membual tentang apa yang ia bicarakan. Meskipun sisi lain dari dirinya bertanya-tanya mengapa Chanyeol mengenal Baekhyun? Apakah ini ada hubungannya dengan identitas Baekhyun yang sebenarnya?
Chanyeol memejamkan mata sejenak ketika kata tabu seperti 'Eonniku' kembali menyapa telinganya, lelaki itu membuka mata dan menatap tajam manusia penguin di hadapannya, tanpa berkata-kata pun ia sudah cukup yakin bahwa saat ini Kyungsoo mulai ketakutan, dapat ia lihat gadis itu beringsut mundur. Ya, gadis itu harus tahu bahwa tatapan tajam seorang Park Chanyeol adalah kematian.
Kyungsoo masih berdiri di posisinya, netranya berlabuh pada mobil Chanyeol yang melaju semakin menjauh dari area Rumah Sakit.
Tidak bisa! Kyungsoo harus bertemu dengan Jongin dan memastikan kebenarannya. Gadis itu menghembuskan nafas sejenak, menekan rasa gengsi sebelum kemudian ia mendial nomor di layar ponselnya, menghubungi Jongin.
.
.
-Heartless-
.
Setelah disambut oleh beragam ekspresi dari para pelayannya di mansion karena mendapati dirinya membawa seorang gadis yang dalam keadaan tak sadarkan diri, kini Chanyeol duduk termenung di pinggiran ranjangnya yang empuk, matanya tak lepas dari Baekhyun yang terbaring dengan selimut yang menutupi setengah dari tubuh gadis itu.
Hening.
Hanya terdengar detak jarum jam yang memenuhi luas kamar tidur dari orang nomor satu di Park Corporation itu.
Satu tangannya terulur, mengelus wajah Baekhyun dengan perlahan, merasakan lembutnya kulit itu, memastikan sekali lagi bahwa gadis itu nyata, bukanlah hantu seperti yang Jongin lanturkan.
Senyumnya terulas ketika jemarinya dengan usil menelusuri setiap bagian dari wajah Baekhyun, lelaki itu menggeram tertahan ketika ibu jarinya berlabuh pada bibir mungil berwarna merah muda milik Baekhyun, ia mati-matian menekan keinginannya untuk tidak mengecup bibir itu. Ya, karena Chanyeol tahu ia tidak kan bisa berhenti.
Brengsek!
Meskipun sisi iblis dalam dirinya kerap kali mendatangkan mimpi buruk bagi setiap orang hingga membuat orang-orang itu bertekuk lutut di bawah kekuasaannya, namun terkdang Chanyeol membencinya, sisi jahatnya itu selalu mengingatkannya tentang apa yang telah ia lakukan pada gadis itu, dan kemudian penyesalan mendalam selalu berhasil menguasai dirinya, membuatnya menjadi makhluk yang paling menyedihkan.
Chanyeol masih terhanyut dalam pikirannya ketika pintu kamarnya diketuk dengan perlahan, lelaki itu kemudian tersadar dan memberikan izin pada si pengetuk untuk masuk. Dan seorang wanita paruh baya yang terkadang mengingatkan Chanyeol pada kejadian satu tahun lalu, dimana wanita itu menangis tersedu-sedu ketika mendengar kabar bahwa Byun Baekhyun meninggal dunia, sejak saat itu ia tahu bahwa wanita paruh baya itu dekat dengan Baekhyun, dan hal itu pula yang membuat Chanyeol urung memecat wanita yang ia ketahui ikut andil membantu Baekhyun melarikan diri dari mansionnya waktu itu.
"Tuan Sehun mengatakan bahwa ponsel tuan muda tidak dapat dihubungi, karenanya beliau menghubungi telepon rumah, silahkan." Kata Jung Ahjumma seraya menyerahkan gagang telepon kepada Chanyeol.
"Apa lagi yang dia katakan?" Singkat Chanyeol.
"Tuan Sehun mengatakan ada hal penting yang ingin beliau beritahukan." Jung Ajhumma menyahut dengan sopan.
Setelah menimang-nimang, lelaki itu akhirnya bangkit seraya menerima gagang telepon, melirik kearah Baekhyun dan setelahnya ia memberikan isyarat kepada Jung Ahjumma berupa menempelkan telunjuknya di depan mulut, memerintahkan wanita paruh baya itu untuk tetap menjaga ketenangan, dan kemudian ia melenggang pergi, memutuskan untuk menerima panggilan dari Sehun di luar kamarnya.
Sementara Jung Ahjumma mulai mendudukkan dirinya di samping Baekhyun, wanita itu sedikit membenarkan letak selimut, dan kemudian tangannya terulur ke bagian kepala si gadis, mengelusnya pelan.
Untuk beberapa saat ia termenung.
"Ahjumma tidak tahu apa yang terjadi padamu, nak. Tapi Ahjumma senang melihatmu saat ini, fakta bahwa kau tidak benar-benar meninggal membuat bebanku terasa terangkat." Cicit wanita paruh baya itu. Cairan bening mulai menggenang di pelupuk matanya.
Sejujurnya ia selalu menyesali keputusannya untuk membiarkan gadis itu melarikan diri dari mansion itu. Ya, jika saja Jongdae tidak berceloteh tentang Park Chanyeol yang menjelma menjadi manusia paling menyedihkan pasca gadis bernama Byun Baekhyun meninggal. Sejak saat itu Jung Ahjumma menjadi yakin bahwa terjadi sesuatu dalam pelarian gadis itu sebelum akhirnya ia mendengar kabar duka tersebut. Dan ia selalu menyalahkan dirinya tentang hal itu.
Wanita paruh baya itu sedikit tersentak ketika perlahan Baekhyun mengerjapkan mata, ia dapat melihat ketika netra sayu gadis itu berubah dengan kornea yang melebar sempurna seraya menampakkan ekspresi ketakutan.
.
.
Chanyeol berdiri di atas balkon, netranya menatap kosong sesaat setelah panggilan dari Sehun terputus. Ia selalu percaya bahwa hal penting yang selalu Sehun bicarakan tidak jauh menyangkut tentang hal-hal absurd yang memang melekat dalam diri lelaki albino itu, karenanya ketika tadi Sehun mengajaknya untuk bertemu, Chanyeol menolak dan lebih memilih mendengarkan apa yang ingin Sehun bicarakan lewat telepon, karena selain enggan meninggalkan Baekhyun yang saat ini berada di kediamannya, Chanyeol juga tak ingin mengambil resiko jika setelah Sehun berbicara, ia tak bisa menahan diri untuk tidak menenggelamkan lelaki albino itu ke sungai Han atas hal tidak penting yang dikatakannya.
Namun kali ini Chanyeol keliru, apa yang ia dengarkan beberapa saat lalu menamparnya telak. Kejanggalan tentang kematian Byun Baekhyun yang Sehun jelaskan membuat perasaannya kian tak menentu. Chanyeol senang, sungguh. Namun di satu sisi ia menyalahkan ketololannya satu tahun lalu, membiarkan orang-orang mengubur mayat yang bahkan belum jelas identitasnya, hingga membuatnya menjadi manusia paling menyedihkan selama satu tahun terakhir.
Lelaki tersentak dari lamunannya ketika Jung Ahjumma keluar dari kamarnya dan langsung berhambur menghampirinya dengan raut cemas.
"N-nona..
Chanyeol tak sempat mendengarkan celotehan Jung Ahjumma yang terdengar tidak jelas, perasaannya berubah tak enak, lantas ia menggiring langkahnya setengah berlari menuju kamar.
Lelaki itu menghentikan langkah ketika posisinya hanya tinggal beberapa meter saja dari ranjang miliknya, pemandangan di hadapannya membuat ia merasa dejavu saat ini.
Baekhyun duduk di atas ranjang dengan posisi memeluk kedua lutut seraya menunduk, tubuh gadis itu bergetar hebat,kemudian bola matanya bermain ke segala arah dengan waspada, ia mengingat dengan baik tempat itu, dan ketika netranya menangkap sosok Chanyeol, air matanya berlomba-lomba keluar membasahi pipi, lantas ia beringsut dan membawa tubuhnya ke sudut ranjang dengan waspada. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepala seolah ia tengah melihat seorang monster di hadapannya.
Chanyeol melangkah terbata, namun pada detik berikutnya teriakan histeris Baekhyun membuat tubuhnya kembali membeku.
"J-jangan.. A-aku, aku b-bisa menjelaskannya.. Pa-padamu.." Ucap gadis itu dengan suara parau yang terbata, "J-jangan.. kumohon!" Lanjutnya kemudian semakin beringsut, Baekhyun meremas kedua sisi kepalanya seraya menggeleng keras, kemudian menjerit histeris.
Chanyeol terpukul hebat menyaksikan hal tersebut, hatinya tercubit sakit melihat betapa kacaunya gadis itu. Tak sedikitpun melewatkan gestur tubuh Baekhyun yang seluruhnya didominasi oleh rasa takut yang Chanyeol yakini adalah akibat ulahnya di masa lalu.
Chanyeol masih membisu sementara matanya semakin diselimuti kabut terluka melihat bagaimana gadis itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada, mengacak-acak sprei ranjang sebelum kemudian menutupi tubuhnya yang bergetar hebat.
Semua gestur yang Baekhyun perlihatkan itu seolah mendeskripsikan dengan sangat jelas tentang betapa jahat dan brengseknya Park Chanyeol waktu itu.
.
.
.
TBC
.
.
AN:
Chapter ini kok pendek bgt sih thor?
Ciyee yang mau bilang gitu ciyeee :V Chapter ini lumayan ko 5,3k tuh :p hayoooo
yang kangen ChanBaek moment tuh udah Raisa kasih ya :P nyaris komplit pula momentnya :V
Kok B nampar Chan? – Yeuu kali lagi ekting mah kudu professional ching (meskipun udahnya dia nyesel banget) hahaha
Apa B trauma?— Menurut kalian? :P
Kapan KrisHan tau? – Besok~ :V
Jadi nih ya, Raisa emang sengaja bikin mereka semua tau B masih hidup itu seolah dengan cara yang berbeda-beda, jadi biar drama banget :D Kecuali KrisHan ya nanti mungkin dikasih tau Min bersaudara sang superhero wkwkwk :D
Thanks buat yang udah Subscribe/Comment/Like Heartless fficial Video di youtube. Aku sayang kamuh semuah :*
