HEARTLESS

.

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

And OCs

.

ChanBaek (GS)

Romance, Hurt/Comfort

.

DON'T LIKE DON'T READ!


Second Last Chapter


Happy Reading!


.

Noona..

Suatu hari aku bertemu dengan seorang gadis..

Dari awal aku tidak menyukainya karena dia berani meremehkanku dengan tatapan tajam. Membuatku bertekad untuk memberi pelajaran kepadanya.

Dan siapa sangka aku bertemu kembali dengannya.

Noona tahu?

Di pertemuan kedua, dia terlihat begitu cantik dengan gaunnya.

Namun tanpa berpikir ulang, aku melukainya. Membuat lengannya basah oleh cairan merah pekat berbau karat.

Awalnya, aku merasa tidak ada yang salah. Dendamku tertuntaskan, dengan begitu gadis itu tidak akan berani menantangku lagi.

Tapi Noona..

Dia menangis.

Tidak, itu salah.

Semua tidak baik-baik saja karena aku tidak menemukan gadis angkuh yang menatapku tajam dan menantang. Sekeras apapun aku mencari, aku tidak menemukannya.

Yang aku dapati hanyalah sosok gadis polos dengan sepasang iris bening yang basah tengah menatapku dengan sorot terluka.

Melihatnya seperti itu membuat sesuatu dalam diriku seolah terhantam keras, aku tidak tahu apa yang aku rasakan hanya saja, gadis itu menyudutkanku.

Dia membuatku memalingkan wajah saat air matanya tak kunjung mereda.

Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat itu, dan aku memilih untuk mengusirnya. Membuatnya menjauh, dengan begitu ekspresi terluka yang entah mengapa aku benci melihatnya lolos dari pandanganku.

Namun Tuhan tidak membiarkanku bernapas lega setelah malam itu.

Tuhan kembali mempertemukanku dengan gadis itu untuk ketiga kalinya.

Aku berniat protes, jika saja aku tidak mendapati senyuman hangat tertuju padaku.

Noona, dia tersenyum.

Seolah lupa dengan apa yang telah kuperbuat, dia menatapku dengan sorot mata setenang telaga. Senyumannya membuatku lupa bahwa tubuhku terdiri atas tulang dan sendi.

Dan pada saat itu aku menyadari bahwa dia mulai terasa menjengkelkan.

Perlahan mengusikku, mengacaukan hari-hariku dengan senyumannya yang luar biasa menyebalkan. Hingga membuatku harus memutar otak agar dapat melihat kembali wajah polosnya.

Noona, apakah aku jatuh cinta?

Oh ya, aku tahu itu terdengar konyol.

Namun hal sekonyol itu membuatku tak sadar bahwa semakin lama perasaanku padanya mulai tumbuh lebih besar.

Dan dari situlah semuanya mulai terasa rumit.

Aku mulai menjadi tidak terkontrol, mengkalim gadis itu sebagai milikku. Hingga suatu hari kesalahpahaman mengerikan meluluhlantakan segalanya.

Dia membuatku amarahku di ambang batas.

Dengan seluruh perbendaharaan kata yang kupunya, kulukai perasaannya.

Kulampiaskan segala kemarahanku dengan menyentuhnya.

Noona, aku menodai gadis polos itu.

Membuatnya menghilang dari hidupku sebelum aku menyadari bahwa ternyata semua yang aku alami adalah salah.

Bahwa dari awal aku bertemu dengan gadis yang berbeda.

Bodohnya, aku tidak menyadari perbedaan diantara mereka.

Yang aku tahu gadis itu menderita gangguan kejiwaan yang membuat sifatnya selalu berubah-ubah setiap kali bertemu denganku.

Ya, terkadang dia adalah sosok gadis sinis yang selalu antipati terhadap kehadiranku, menatapku penuh kebencian dan bahkan tak segan-segan melayangkan sebuah tamparan kepadaku. Namun di hari berikutnya dia akan menjelma menjadi gadis lembut dan manis, layaknya permen kapas. Senyumnya selalu merekah, begitu tulus. Sorot matanya menenangkan, wajahnya tampak lugu serupa anak kecil tanpa dosa.

Apakah Noona bingung?

Aku pun begitu, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi hingga membuatku sangat marah, menuduh gadis itu sebagai penipu.

Hingga tanpa sadar aku mengharapkan kematiannya.

Aku berharap dia lenyap.

Dan apakah Noona tahu?

Gadis itu memenuhi semua harapanku.

Dia menjelma menjadi manusia bertubuh dingin dan kaku tak bersuara.

Aku tidak bersungguh-sungguh ketika mengatakannya, aku tidak benar-benar mengharapkannya pergi begitu saja. Sungguh, kala itu aku hanya tidak tahu bahwa kepergiannya akan membuat dadaku seolah terhantam oleh jutaan ton baja, begitu sesak dan nyeri.

Namun gadis itu tidak memberiku kesempatan, dia membuat semuanya seolah sudah terlambat tanpa mengijinkanku mengatakan bahwa sebenarnya aku mencintainya.

Aku hanya mencintainya.

Mengapa dia sekejam itu?

Membuat hidupku dipenuhi lembar kelam. Menjadikanku manusia paling menyedihkan yang dipenuhi rasa sesal.

Hingga pada akhirnya, setelah jutaan detik yang kulalui dengan kekosongan, takdir kembali bermain-main dengan hidupku.

Entah bagaimana caranya sosok gadis kuyakini telah berada di surga menyapa indera penglihatanku.

Dia kembali dan muncul di hadapanku.

Awlanya terasa seperti mimpi sebelum aku memberanikan diri untuk melihatnya lebih dekat.

Noona, dia nyata.

Benar-benar nyata.

Siapa dia?

Oh tidak, dia bukan gadisku, karena dia menatapku dengan cara yang berbeda.

Dia beringsut mundur sebelum aku berhasil menggapainya.

Dalam ketakutannya dia terisak, menegaskan padaku bahwa aku tidaklah lebih dari seorang monster yang menyeramkan.

Penolakannya membuatku lidahku kelu, jutaan kata maaf yang hendak kulontarkan tertahan.

Dan dadaku kembali dipenuhi rasa sesak dan nyeri.

Noona..

Bagaimana sekarang?

Aku harus bagaimana?

.

.

Helaan nafas kesekian kalinya keluar dari mulut Yoora. Wanita itu berdiri diambang pintu kamar seraya memangku tangan, memperhatikan sosok jangkung yang tengah meringkuk di atas ranjang, membelakanginya.

Menyedihkan.

Oh, Yoora seharusnya senang karena Chanyeol pulang ke rumah dan tidak melulu tinggal di Mansionnya. Dengan begitu wanita itu akan dengan mudah dan senang hati mengganggu adik semata wayangnya tersebut.

Bagi Yoora, hidup tanpa mengggangu Park Chanyeol adalah sebuah dosa besar.

Namun, niat Yoora menjadikan rumahnya sebagai jalur perang layaknya di perbatasan negara tak kunjung terwujud.

Ya, jika saja Park Chanyeol tidak menjelma menjadi makhluk yang menjauh dari peradaban dengan mengurung diri di kamar selama tiga terakhir.

Sebagai seorang musuh, Yoora tentu tidak suka melihat Park Chanyeol bahagia.

Wanita itu memang kejam.

Namun sebagai seorang kakak, ia benci melihat adik semata wayangnya terlihat menyedihkan. Seolah Mengingatkannya kembali pada Park Chanyeol satu tahun lalu yang hingga saat ini Yoora tidak pernah tahu alasannya.

Meskipun kali ini Chanyeol tidak menghabiskan semalaman suntuk dengan Gin dan ekstasi, namun hanya melihat wajahnya yang sedikit tirus akibat tidak mengkonsumsi sedikitpun karbohidrat sejak tiga hari terakhir cukup membuat Yoora kalangkabut karena khawatir.

Demi Tuhan.

Park Chanyeol adalah iblis kondang yang nyaris tidak mempunyai kelemahan.

Dan dengan kondisinya seperti seolah mematahkan persepsi tersebut.

Yoora masih berdiri di tempatnya, benaknya di penuhi berbagai asumsi tentang apa yang membuat adiknya semenyedihkan itu.

Apa karena wanita?

Oh tidak! Konyol sekali!

Yoora bahkan tahu bahwa Chanyeol tidak pernah mempunyai gadis yang benar-benar disukainya sejak lelaki itu menginjak bangku sekolah menengah.

Wanita itu tersentak ketika ponsel yang ia genggam bergetar.

"Um, Omma.." Ucapnya setelah menggeser tombol hijau.

"…"

"Channie?" Yoora melirik sekilas kearah Chanyeol ketika ibunya menanyakaan keadaan sang adik. "Oh, dia baik-baik saja. Mungkin hanya sedikit kelelahan." Lanjutnya berdalih.

Sebenarnya ia merasa bersalah karena berbohong, hanya saja ia tidak ingin membuat ibu dan ayahnya yang tengah berada di luar negeri itu cemas jika tahu bahwa putra tampan mereka tengah menjelma menjadi seonggok daging pucat yang meringkuk di atas ranjang dengan kondisi mengenaskan.

"Ya, Omma tenang saja, aku tidak akan memakan putramu." Gerutu Yoora setelah ibunya memberi petuah panjang lebar. Meski sebenarnya ia mengerti bahwa ibunya sangat mencemaskan Chanyeol seperti halnya dirinya.

Setelah sambungan telepon terputus wanita itu mulai memberanikan diri melangkahkan kakinya, memutari ranjang dan berdiri di hadapan Chanyeol.

Lelaki itu tidak tidur. Matanya tampak tengah menerawang jauh, terlihat sayu.

"Hei, dude!" Ucap Yoora seraya membawa dirinya duduk di pinggiran ranjang. "You okay?"

Chanyeol mengerjap malas. "I told you…" Sahutnya memberi jeda, kemudian bangkit dari posisi tidurnya "I have a flu" Lanjutnya diiringi decakan seraya membawa kepalanya bersandar pada Headboard.

Jawaban yang sama yang Yoora dapat sejak tiga hari terakhir.

Chanyeol bilang bahwa ia hanya Flu.

Yoora mencoba mengatur helaan napas.

Park Chanyeol memang tidak mudah dijangkau oleh siapapun. Lelaki itu tidak pernah mengijinkan siapapun menyelami bagian terdalam dari dirinya.

Dan jalan satu-satunya adalah dengan bertanya.

Tangan Yoora terulur, mengelus bahu Chanyeol. "Who is she, hum?" Tanyanya kemudian dengan nada halus. "Tell Noona, what's going on between you and her?"

Chanyeol menatap kakaknya dengan sorot asing, anehnya ia merasa tidak heran dengan pertanyaan Yoora, karena ia tahu wanita itu selalu peka terhadap apa yang Chanyeol rasakan.

Meskipun pada kenyataannya lelaki itu selalu bungkam dan memilih menyembunyikannya dengan baik demi menjaga citranya.

Kepala Chanyeol tertunduk dengan gerakan pelan.

Hening selama beberapa saat sebelum kemudian Chanyeol kembali mendongak, matanya perlahan memerah. Mulutnya terbuka hendak mengucapkan kata namun kembali tertahan. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

Chanyeol tidak tahu harus memulai darimana meskipun jauh di dalam lubuk hatinya ia ingin sekali bercerita.

Karena sungguh, lelaki itu membutuhkan seseorang untuk mendengar tanpa harus menghakiminya.

Chanyeol masih sibuk menata setiap kata yang hendak ia lotarkan ketika suara dering ponsel yang berada di atas nakas terdengar. Lelaki itu dengan cepat meraih ponselnya dan nomor telepon yang berasal dari Mansion nya terpampang di sana.

Menggeser tombol hijau dan suara khas wanita paruh baya terdengar di seberang sana.

"Tuan, anu.. Agasshi, tuan.."

Chanyeol mengernyit mendengar nada gusar di seberang sana, Jung Ahjumma terdengar sangat cemas.

"Apa yang terjadi padanya?" Tanya Chanyeol tak kalah cemas. Ia mengeratkan pegangannya pada ponsel.

"Agasshi kembali histeris, tuan.."

Chanyeol tidak menyahut karena sepersekian detik setelah mendengar informasi dari Jung Ahjumma, lelaki itu melempar ponselnya ke sembarang arah. Ia bangkit dari ranjang dan kemudian keluar. Terang saja, lelaki itu tahu jika sudah sepeti itu, Baekhyun akan menjadi-menjadi. Melemparkan beberapa benda, kemudian menangis dan berakhir dengan tak sadarkan diri.

Yoora mengernyit melihat Chanyeol yang berlari kesetanan, wanita itu pun penasaran terlebih Chanyeol terdengar seperti membicarakan seseorang di percakapan teleponnya.

Akhirnya Yoora memilih mengekori Chanyeol dan ikut masuk kedalam mobil lelaki itu.

.

.


-Heartless-


.

Setelah bersabar menunggu beberapa hari agar bisa menemui Baekhyun, akhirnya hari yang Sehun nantikan itu tiba.

Ah ya, Baekhyun.

Sehun sudah sangat yakin bahwa gadis yang Chanyeol bawa ke Mansion nya ialah Byun Baekhyun.

Keyakinannya semakin bertambah ketika seorang gadis bernama Kyungsoo menghubungi nomor Jongin yang kala itu pemiliknya tengah terbaring tak sadarkan diri di UGD. Dan tentu saja Sehun yang menjawab.

Awalnya Sehun berniat memutus sambungan telepon karena gadis bernama Kyungsoo itu terdengar bertele-tele, namun ketika mendengar nama Byun Baekhyun terlontar akhirnya percakapan yang awalnya menurut Sehun sangat tidak penting berlangsung selama satu jam.

Kyungsoo menjelaskan secara rinci tentang Byun Baekhyun kepada Sehun, hingga setelah percakapan mereka selesai Sehun bertekad untuk memastikannya sendiri.

Tanpa mengindahkan kondisi Jongin yang masih belum terjaga, Sehun meninggalkan Rumah Sakit dan melajukan kendaraannya menuju Mansion Chanyeol. Namun ketika tiba di sana, Sehun sedikit menelan kekecewaan karena seorang dokter yang ia ketahui adalah dokter pribadi keluarga Chanyeol melarang siapapun untuk menemui gadis itu setidaknya untuk beberapa hari.

Dan hari ini Sehun sudah bertekad untuk menemui gadis itu, melihatnya secara langsung. Lelaki itu menaikkan kecepatan laju kendaraannya, diliriknya sekilas Jongin di sampingnya dan Kyungsoo bersama di kursi belakang.

"Kau benar-benar yakin ingin ikut?" Itu adalah pertanyaan kesekian kalinya yang Sehun tujukan kepada Jongin.

Terang saja, Sehun tidak ingin berakhir repot seperti beberapa hari yang lalu ketika Jongin pingsan.

"Tentu saja, sebagai laki-laki sejati aku harus menemani calon tunanganku." Sahut Jongin dengan nada bangga. Membuat Kyungsoo langsung memutar matanya.

"Kau melupakan fakta bahwa beberapa hari yang lalu kau pingsan." Gumam Kyungsoo pelan. Mendengar dari cerita Sehun bahwa Jongin pingsan setelah mengetahui fakta tentang Byun Baekhyun membuat Kyungsoo tertawa sekaligus malu.

Kim Jongin benar-benar payah.

Sehun kembali fokus pada jalanan, setengah dari benaknya tengah memikirkan bagaimana kondisi Baekhyun saat ini?

Dan bagaimana dengan Park Chanyeol? Apakah sepupunya itu baik-baik saja?

Jujur saja, yang pertama menarik perhatian Sehun ketika beberapa hari lalu mengunjungi Mansion Chanyeol ialah kondisi sepupunya tesebut.

Chanyeol terlihat begitu kosong, ia bahkan tidak mengucapkan satu kata pun ketika Sehun berada disana. Yang Chanyeol lakukan hanya memandangi pintu kamarnya tanpa berkedip.

Sehun tahu, tidak mudah bagi Chanyeol untuk menghadapi semua ini.

.

.


-Heartless-


.

Chanyeol berdiri lama di depan pintu kamarnya, mencoba mengontrol detak jantung yang berpacu melewati batas frekuensi, menghela napas berat sebelum kemudian memutar knop dan mendorong pintu perlahan. Setelah mendapati laporan dari Jung Ahjumma tentang kondisi Baekhyun, lelaki itu memberanikan diri menghampirinya.

Ini adalah kali kedua Chanyeol menghampiri gadis itu, karena setelah mendapati penolakan waktu itu Chanyeol tidak berani lagi mendekati Baekhyun dan bahkan memilih untuk tinggal di rumah orang tuanya selama tiga hari.

Lelaki itu menutup pintu dengan pelan, berjalan mendekati ranjang. Ia terpaku di posisinya, melihat Baekhyun tertidur dengan selimut yang menutupi setengah tubuh mungilnya.

Chanyeol kembali menghela napas sebelum akhirnya mendudukkan dirinya pada kursi yang berada di samping ranjang

Lelaki itu sedikit memiringkan kepala tatkala ia memperhatikan dengan seksama gadis di hadapannya. Tangannya terangkat dan hendak terulur untuk mengisi kekosongan pada celah jemari Baekhyun, namun dengan cepat Chanyeol mengurungkan niatnya.

Ia tidak ingin menyentuh Baekhyun dan membuat gadis itu ketakutan.

Baekhyun mengalami setengah trauma.

Ya, setidanya dokter itu berkata demikian.

Satu lagi hal yang menambah daftar panjang tentang betapa brengseknya Park Chanyeol.

Ia yang menyebabkan Baekhyun menjadi seperti itu.

Well, akhir-akhir ini Chanyeol lebih sering menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Baekhyun.

Chanyeol nyaris terperanjat ketika mata Baekhyun perlahan mengerjap, tidak ingin membuat gadis itu takut akan kehadirannya, Chanyeol pun memutuskan untuk meninggalkan kamarnya, namun sebelum ia sempat berdiri, mata Baekhyun sudah sepenuhnya terbuka.

Baekhyun perlahan bangun dari posisinya.

Chanyeol sedikit heran ketika tak mendapati ekspresi terkejut pada gadis itu seperti beberapa hari lalu, meskipun ketakutannya masih terlihat jelas.

Sejenak hening.

Mata mereka masih menatap lekat satu sama lain.

Bedanya, Baekhyun menatap lelaki di hadapannya dengan mata memerah dan mulai basah.

Hati Chanyeol kembali teriris ketika ekspresi terluka itu terpanacar di wajah Baekhyun, ia sudah tidak sanggup dan kemudian mengulurkan tangannya perlahan, hendak menyentuh wajah pucat itu.

Namun Chanyeol kembali membeku ketika Baekhyun memalingkan wajahnya.

Lagi-lagi sebuah penolakan.

Baekhyun kembali menatap Chanyeol dengan mata basahnya. "You killed my sister." Ucapnya penuh penekanan, sementar air matanya telah lolos membasahi pipi. Tubunya perlahan bergetar, menahan dirinya untuk tidak terisak. "You killed her." Matanya semakin memerah, menatap Chanyeol dengan skeptis.

Ada sesuatu tak kasat mata yang seolah menghantam ulu hati Chanyeol dengan sangat keras.

"Aku.. aku mempercayakannya padamu." Kembali Baekhyun berucap, "Aku merelakanmu untuknya." Lanjutnya terdengar bergetar. "Tapi, kau membunuhnya." Gadis itu perlahan terisak."Kau..kau.." Gadis itu tertunduk, menangis pelan. Wajah pucatnya dipenuhi jejak air mata.

Chanyeol bangkit dari kursi dengan gerakan pelan. Bungkam, ia berjalan menjauhi ranjang dengan langkah terseret, mengandalkan tenaganya yang tersisa untuk sekedar keluar dari ruangan itu. Sorot matanya tampak kosong.

Hati yang telah lama terluka harus kembali merasakan nyeri luar biasa.

You killed my sister.

You killed my sister.

You killed my sister.

Lelaki itu memejamkan mata sejenak sebelum kemudian keluar dari kamarnya.

Ia mendapati Yoora berdiri di depan pintu, kemudian ditatapnya sang kakak dengan mata yang perlahan basah.

"Noona.." Panggilnya dengan suara tertahan dan kemudian satu tetes cairan bening lolos dari matanya.

Yoora menatap Chanyeol dengan cemas, perlahan ia mengelus bahu sang adik sebelum kemudian masuk ke dalam kamar.

Wanita itu berdiri di depan pintu, menghadap pada seorang gadis yang tengah tertunduk di atas ranjang. Yoora perlahan berjalan, mendekat. Ia tersenyum ketika bertemu tatap dengan Baekhyun.

Yoora mengingatnya, setelah mendengar penjelasan dari Jung Ahjumma. Ia mengingat gadis itu, ia adalah Byun Baekhyun, gadis yang juga adalah adik Kris, suami Luhan.

Ah sekarang Yoora tidak terlalu merasa bersalah karena satu tahun yang lalu ia tidak bisa menghadiri pemakamannya.

Terdengar konyol, mengingat gadis itu saat ini masih hidup.

Yoora menatap gadis di hadapannya, tangannya terulur mengusap air mata di pipi gadis itu. "Umm, Eonni tidak tahu apa yang terjadi padamu." Ucapnya memulai percakapan. "Channie.. Eonni bahkan tidak tahu apa hubunganmu dengan Channie." Yoora merapikan rambut Baekhyun ke belakang telinga. "Hanya saja, dia mengalami waktu yang sulit saat kau tidak ada." Lanjutnya dengan suara pelan.

Perlahan Yoora mulai tahu penyebab sikap Chanyeol yang berbeda satu tahun terakhir.

Ya, cinta memang mampu membuat siapapun tak berdaya. Bahkan iblis seperti Park Chanyeol pun mampu dibuat begitu menyedihkan.

Baekhyun masih mendengar ucapan Yoora dengan seksama.

"Oh tidak, Eonni tidak memintamu untuk mengampuni Chanyeol. Kau tahu? Dia memang pantas mendapatkan akibat dari perbuatannya." Lanjut Yoora dengan terkekeh.

Yoora semakin mengerti, Chanyeol telah melakukan sesuatu terhadap Baekhyun.

"Haruskah Eonni menghubungi Oppa mu?" Tanya Yoora kemudian. Karena mungkin saja Kris belum mengetahui bahwa adiknya masih hidup.

Baekhyun menegang di posisinya.

Merasa ada perubahan pada ekspresi Baekhyun, Yoora langsung tahu bahwa Kris memang belum tahu. Wanita itu kemudian menghela napas, ini memang bukanlah hal yang sederhana. "Beristirahatlah." Ucapnya kemudian seraya mengelus bahu Baekhyun sebelum kemudian berlalu.

.

.

Sehun menghentikan mobilnya di depan Mansion Chanyeol. Kemudian keluar disusul oleh Jongin dan Kyungsoo. Ketiga orang itu mengernyit tatkala melihat Chanyeol keluar dari kediamannya dengan memasang wajah menyeramkan.

Lelaki itu terlihat tengah menahan sesuatu di balik sorot matanya yang dingin.

Mereka bertiga masih menyaksikan Chanyeol yang sudah memasuki mobil sebelum kemudian berlalu dari halaman depan, suara knalpot yang cukup keras menandakan bahwa si pengemudi tengah melajukan kendaraannya dengan membabi buta.

Sehun bertanya-tanya tentang apa yang terjadi pada sepupunya tersebut, namun sepersekian detik setelahnya ia memasuki kediaman Chanyeol, dan tentu disusul oleh Jongin dan Kyungsoo.

"Noona.." Seru Sehun saat mendapati Yoora di ruang tengah.

"Oh, Sehunnie?" Yoora mengernyit mendapati Sehun, Jongin dan satu perempuan memasuki ruang tengah.

"Dimana Baekhyun Eonni?" Tanya Kyungsoo tanpa berbasa-basi. Karena sungguh ia sangat mencemaskan Baekhyun selama beberapa hari ini.

Jika bukan karena kondisi ayahnya yang beberapa hari lalu memburuk, mungkin ia sudah menemui Baekhyun sejak kemarin.

Yoora mengerjap, tidak mengenal siapa gadis bermata bulat itu namun jari telunjuknya terarah pada lantai dua. "Di kamar Chanyeol." Sahutnya kemudian.

Meskipun Kyungsoo tidak tahu dimana kamar Chanyeol, namun ia berlari menaikki tangga menuju lantai dua. Sehun menyusul.

Sementara Jongin memilih untuk duduk di sofa seberang Yoora, ia tidak ingin ambil resiko membuat kesadarannya hilang seperti beberapa hari lalu, citranya akan hancur di mata Kyungsoo jika itu terjadi.

Kyungsoo berbalik dan menunggu Sehun mendahuluinya, karena ia tidak tahu di mana letak kamar Chanyeol. Namun ketika Sehun hendak meraih knop salah satu pintu kamar, Kyungsoo menahannya.

"Akan lebih baik jika aku yang menemuinya." Tutur Kyungsoo yang membuat Sehun mengurungkan niatnya.

Kyungsoo benar, jika Sehun tiba-tiba muncul di hadapan Baekhyun itu akan membuat gadis itu dalam kondisi yang tidak bagus, terlebih dari penjelasan dokter yang ia temui yang beberapa hari yang lalu di tempat yang sama, Baekhyun mengalami syok berat.

Hanya itu yang Sehun tahu, sisanya ia bahkan tidak mengerti dokter itu berbicara apa.

Sehun menganggukkan kepala pada Kyungsoo sebelum kemudian ia beringsut mundur, memberi jalan kepada gadis bermata bulat itu untuk masuk ke kamar Chanyeol.

"Eonni!" Seru Kyungsoo sembari berlari menghampiri Baekhyun yang tengah meringkuk.

Baekhyun berbalik dan kemudian bangkit dari posisinya, "Kyungsoo-a.." Ucapnya dengan suara parau.

Kyungsoo memeluk Baekhyun dengan sangat erat. "Kau baik-baik saja? Oh lihatlah wajahmu sangat pucat. Apa yang lelaki sinting itu lakukan kepadamu, hum?" Tanya Kyungsoo sembari meringis.

Baekhyun menggeleng. "Aku ingin pulang." Sahutnya singkat.

Kyungsoo bungkam untuk sejenak, "Aku tidak bisa membawamu pulang kerumah kakek." Ujarnya dengan merengut.

Baekhyun mengernyit.

"Seorang Eonni bernama Minseok menghubungiku beberapa hari yang lalu, dia bilang sudah menghubungi Kris.. apa benar dia Oppa mu?" Tanya Kyungsoo dengan hati-hati. "Ah, kakek bahkan menghubungiku, katanya seorang pemuda bernama Jimin menanyakan asal-usulmu, dan kakek menjelaskannya secara rinci. Eonni, kakek sangat mencemaskanmu. Dia berpesan, selesaikanlah masalahmu sebaik mungkin. Apa artinya itu?" Tanya Kyungsoo polos.

Baekhyun terhenyak, bagaimana bisa semuanya menjadi seperti ini. Ia masih belum siapa bertemu dengan Kris. Ia tidak tahu bagaimana menjawab setiap pertanyaan yang mungkin akan Kris lontarkan.

Kyungsoo merasakan ada perubahan dalam ekspresi wajah Baekhyun, diam-diam ia merasa bersalah menanyakan sesuatu yang mungkin saja sangat sensitif untuk Baekhyun.

"Baiklah, kita pulang ke rumahku saja." Ujar Kyungsoo. "Tapi, Eonni.. ada seseorang yang ingin bertemu denganmu terlebih dahulu. Dia sepertinya orang baik."

Baekhyun menautkan kedua alisnya, ia tersenyum kemudian mengangguk.

Kyungsoo bangkit dan perlahan keluar dari kamar itu.

Baekhyun tidak tahu siapa yang Kyungsoo maksud, namun begitu pintu kamar terbuka dan sosok lelaki tinggi berkulit putih tertangkap oleh netranya, gadis itu terkejut seketika.

Sehun mendadak membatu di tempatnya, sosok gadis yang juga tengah memandangnya membuat lelaki itu menelan kering. Napasnya tercekat seiring dengan langkahnya yang mendekat. Lelaki itu masih memperhatikan gadis di hadapannya dengan tidak percaya, lidahnya kelu membuat dirinya kesulitan berucap.

Sehun duduk menghadap Baekhyun, "B..?" Gumamnya dengan suara tertahan.

Baekhyun ingin menangis melihat ekspresi itu, Sehun terlihat begitu syok. Ia membayangkan bagaimana jika Kris melihatnya nanti.

Gadis itu mengangguk perlahan dan sepersekian detik setelahnya ia sudah berada dalam dekapan Sehun.

"Bagaimana.. Bagaimana bisa?" Tanya Sehun dengan suara pelan.

"Maaf." Hanya itu yang keluar dari mulut Baekhyun, ia tidak tahu harus menjawab apa saat ini.

"It's okay, It's okay.." Sehun kembali memeluk Baekhyun.

Dia tidak ingin bertanya lebih jauh, hanya mengetahui bahwa Baekhyun masih hidup saja cukup membuatnya merasa senang.

Setidaknya sahabatnya telah kembali.

"Se-sehun-a.." Panggil Baekhyun.

"Hm?" Sehun masih mendekap Baekhyun.

"Bawa aku pergi dari sini." Kata Baekhyun dengan susah payah, perlahan tubuhnya kembali bergetar.

Sehun melepas dekapannya, menatap Baekhyun dengan seksama. "Baiklah, kita pergi dari sini."

.

.


-Heartless-


.

Kris berada di Korea, namun bukan untuk perjalanan bisnis. Melainkan karena Minseok menghubunginya. Wanita itu tidak menjelaskan secara rinci, ia hanya berkata bahwa ada hal penting yang harus Kris ketahui dan itu bukanlah hal sederhana yang harus dijelaskan melalui sambungan telepon.

Kris membawa kendaraannya menuju alamat yang Minseok berikan, hingga beberapa menit kemudian ia berhenti di sebuah kafe.

"Minseok-ssi?" Sapa Kris setelah memasuki kafe tersebut dan berjakan menghampiri Minseok dan Jimin yang sudah lebih dulu berada di sana.

"Oh Annyeonghaseyo.." kata Minseok dan Jimin serempak.

Setelah memesan minuman dan sedikit berbincang menanyakan kabar masing-masing, akhirnya Kris memberanikan diri untuk bertanya.

Karena sungguh hal itu begitu mengganggunya.

"Ngomong-ngomong ada hal penting apa yang ingin anda sampaikan?"

Minseok dan Jimin saling melempar pandang, sesaat kemudian Minseok mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.

Kris mengernyit.

"Kyungsoo-ssi?" Ucap Minseok.

"…"

"Ini aku Minseok, dimana dia sekarang?.. Ya? Sehun Oppa?"

"…"

"Oh kalian membawanya ke Apartment Sehun-ssi?"

"…"

"Baiklah, tolong kirimkan alamatnya."

Setelah memutus sambungan telepon, Minseok memandang Kris dengan sedikit gusar. "Saya tidak bisa menjelaskannya secara pribadi, lebih baik anda ikut dengan saya dan melihatnya sendiri."

Kris semakin bingung, apa yang sebenarnya terjadi?

Namun lelaki itu akhirnya mengangguk dan mengikuti apa yang Minseok katakan.

Kris mengekori mobil Minseok, semakin lama perasaannya semakin tidak menentu. Ada gelenyar aneh yang ia rasakan di dalam dadanya.

Cukup lama ia mengikuti mobil Minseok sebelum akhirnya mereka sampai di depan sebuah bangunan megah Apartment ternama di kawasan Gangnam.

Kris kembali mengekori Minseok dan Jimin, mereka bertiga memasuki Elevator dan berhenti di lantai dua belas.

Minseok menekan bel pada salah satu pintu Apartment dan beberapa saat kemudian pintu terbuka, menampilkan sosok Sehun yang sedikit terkejut melihat Kris bersama Minseok dan Jimin.

Sehun tahu bahwa Kyungsoo sudah membuat janji dengan Minseok dan Jimin, namun Sehun tidak tahu bahwa Kris juga ikut bersama mereka.

Sehun mempersilahkan ketiganya masuk, sudah ada Kyungsoo dan Jongin di sana.

Semua orang yang berada di sana duduk di sofa dalam keheningan dan berwajah tegang, kecuali Kris.

"Jadi, ada apa ini?" Akhirnya Kris buka suara.

"Seperti yang sudah saya katakan, kami semua tidak menjelaskan secara pribadi." Sahut Minseok. "Sehun-ssi, dimana Baekhyun sekarang?" Lanjutnya kemudian bertanya pada Sehun.

"Dia di—

"Tunggu." Kris menyela dengan cepat ketika satu nama terlontar dari mulut Minseok. "Baekhyun? Apa maksud anda?" Tanyanya kepada Minseok dengan alus tertaut sempurna.

Hening.

Oh sungguh, ini adalah hal yang paling sulit dan menegangkan bagi mereka semua, kecuali Kris.

"Apa maksudnya? Baekhyun siapa yang kalian maksud? Kris bertanya kembali, terdengar penuh penekanan di balik deretan giginya yang mulai bergemertuk.

"Hyung, bisakah kau ikut denganku?" Ajak Sehun, meredam emosi Kris. Ia tahu nama Baekhyun akan membuat lelaki itu sangat sensitif.

Kris memejamkan mata dan kemudian menghela napas panjang sebelum akhirnya mengekori Sehun, meninggalkan ruang tamu. Hingga beberapa saat kemudian mereka tiba di depan sebuah pintu kamar.

Sehun mempersilahkan Kris untuk masuk untuk memastikannya sendiri.

Wajah Kris kembali digelayuti oleh kebingungan, namun lelaki itu meraih knop pintu dan masuk ke dalam kamar tersebut.

Hal pertama yang ia dapati saat memasuki kamar itu ialah keheningan. Matanya menelisik ke seluruh penjuru ruangan hingga pada akhirnya berhenti pada sosok yang tengah terbaring di atas ranjang.

Kris melangkah pelan, pikirannya di penuhi pertanyaan tentang siapa sosok itu. Dahinya mengekrut seiring dengan jarak yang kian mendekat.

Kris berhenti, memejamkan matanya untuk beberapa saat.

Ya, ia hanya ingin memastikan bahwa yang ia lihat tidaklah nyata.

Namun napasnya tercekat seketika ketika sosok itu masih tertangkap oleh netranya, bergerak dalam tidurnya sebelum kemudian membuka mata.

Kris mendekat, dan sosok Baekhyun yang berada di atas ranjang menyadari kehadirannya.

Baekhyun terhenyak ketika sosok tinggi itu berjalan kearahnya, lantas duduk di hadapannya.

Kris menelisik setiap inci wajah gadis itu, tangannya yang bergetar perlahan terulur sebelum kemudian hinggap di wajah Baekhyun, membelainya dengan lembut.

Mata Kris mulai memanas, membuatnya tampak semerah saga.

Sementara Baekhyun sudah tidak mampu menahan laju air matanya. "Oppa.." Ucapnya dengan tersedu pelan.

Kris membawa kedua telapak tangannya, menangkup wajah Baekhyun sementara tubuhnya bergetar, tidak mampu menahan air mata yang sedari mengambang di pelupuknya. Lelaki itu tidak berucap sedikitpun. Ia bahkan tidak tahu apakah yang ia alami saat ini adalah nyata?

"Oppa.." Baekhyun kembali memanggil Kris. Menggenggam tangan lelaki itu.

Sementara Kris masih menelisik wajah gadis di hadapannya, sorot matanya, gestur tubuhnya.

Byun Baekhyun? Kris membatin.

"Darimana saja kau, hum?" Tanya lelaki itu kemudian.

Sebenarnya ada begitu banyak pertanyaan yang ingin Kris layangkan, hanya saja kalimat itu yang kemudian terlontar dari mulutnya.

Darimana saja adiknya itu?

Kris merengkuh tubuh Baekhyun, memeluknya erat seolah gadis itu akan lenyap jika ia melepaskan dekapannya.

Dalam tangisnya Baekhyun menggumamkan kata maaf berulang kali.

Kris menciumi rambut Baekhyun dengan sayang. Mendekap gadis itu dan enggan melepasnya.

Lelaki itu menangis, ia memang seorang kakak yang gagal.

Bagaimana bisa ia tidak tahu bahwa adiknya masih bernapas dan hidup di suatu tempat?

Bagaimana bisa ia seceroboh itu?

Kris bertekad melindungi Baekhyun, tidak akan membiarkannya kehilangan gadis itu untuk kedua kalinya. "Kau mau pulang bersama Oppa? Luhan sangat merindukanmu." Kata Kris kemudian seraya menghapus air mata Baekhyun.

Baekhyun menatap Kris sejenak, kemudian ia mengangguk.

.

.

.

Tiga minggu setelah Baekhyun pamit kepada Kyungsoo, Minseok, Jimin, Sehun, Jongin dan kakek di bandara, dan setelah di sambut oleh tangis haru Luhan kini Baekhyun menetap di Beijing bersama Oppa dan Eonni nya.

Meskipun selama tiga minggu itu, yang dilakukannya hanya mengurung diri.

Gadis itu berdiri di balkon kamarnya, menatap langit biru yang membuatnya iri, karena hatinya tidak secerah itu.

Ketukan pintu terdengar, Baekhyun berbalik dan mendapati Luhan setelah pintu terkuak. Baekhyun mengulas senyum dan berjalan menghampiri Luhan.

"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu." Ujar Luhan seraya mengelus rambut Baekhyun dengan sayang. Luhan tahu dibalik senyumnya yang merekah, Baekhyun sebenarnya tidak baik-baik saja.

Baekhyun memasang wajah polos, "Siapa?" Tanyanya kemudian.

Dan seorang wanita berambut pendek masuk ke dalam kamarnya seraya melempar senyum.

Mata Baekhyun membulat, melihat sosok Yoora mendekat kearahnya.

"Bagaimana kabarmu" Tanya Yoora semari memeluk Baekhyun.

"Ah sepertinya Sophia terbangun." Ujar Luhan seraya melangkahkan kakinya keluar dari kamar Baekhyun, membiarkan gadis itu untuk berbincang-bincang dengan Yoora.

"Kau tidak pamit kepadaku." Ujar Yoora seraya merengut setelah duduk di salah satu sofa.

Baekhyun meringis canggung. "Maaf Eonni.. umm.. aku.." Sahutnya terbata.

Yoora terkekeh. "Eonni hanya bercanda." Ujarnya. "Kenapa terlihat kurus , hum?" Tanyanya kemudian dengan raut wajah cemas.

Sementara Baekhyun hanya bisa tersenyum.

"Ah, ini milikmu bukan?" Yoora mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya.

Baekhyun meraih buku itu dan menelisiknya, kemudian ia tersenyum senang. Itu adalah buku hariannya. "Tapi, kenapa ini bisa ada padamu, Eonni?" Tanya Baekhyun kebingungan.

"Eonni menemukannya di lemari Channie, sepertinya dia sudah menyimpan buku itu sejak lama." Sahut Yoora tanpa sadar.

Baekhyun menelan kering saat mendengar jawaban Yoora, bagaimana bisa Chanyeol memiliki buku hariannya?

Apakah lelaki itu sudah membaca semua isinya?

Diam-diam Baekhyun merasa gugup.

"Sebenarnya Eonni datang kesini untuk perjalanan bisnis dan kebetulan Eonni merindukanmu, jadi sekalian saja mampir."

Bohong.

Yoora berbohong, ia sengaja datang ke Beijing untuk memberikan buku itu kepada Baekhyun. Setidaknya ia sudah berusaha membantu Chanyeol yang saat ini kembali menjadi manusia menyedihkan.

Memang saat ini Chanyeol tidak terlihat seperti itu, lelaki itu memasang topeng terbaik untuk menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya.

Namun Yoora tahu, Chanyeol tidak baik-baik saja.

"Oh, maaf Eonni tidak bisa berlama-lama, ada yang harus diurus." Ujar Yoora setelah melirik jam tangannya.

Baekhyun mengangguk tersenyum.

"Jaga dirimu baik-baik." Kata Yoora memeluk Baekhyun sebelum kemudian berlalu meninggalkan Baekhyun yang mulai memeluk buku hariannya dengan erat.

.

.


-Heartless-


.

Chanyeol keluar dari ruang Meeting sembari melonggarkan dasinya, wajahnya terlihat begitu menakutkan. Membuat siapa pun yang berpapasan dengannya menghentikan langkah untuk sekedar menunduk penuh hormat kepada orang nomor satu di Park's Group tersebut.

Setelah memaki beberapa karyawan yang menurutnya tidak becus dan lalai dalam menangani perusahaan, lelaki itu memutuskan untuk meredakan emosinya dengan mengunjungi suatu tempat.

Ia membawa kendaraannya dengan kecepatan sedang, hingga setengah jam kemudian ia memasuki sebuah kawasan perumahan.

Chanyeol keluar dari mobilnya, berjalan menelusuri pelataran komplek dengan langkah pelan, tanpa terasa ia sudah berada di depan sebuah rumah.

Chanyeol melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah tersebut dan kemudian di sambut oleh potret gadis kembar yang tertempel di dinding.

Lelaki itu menghela napas.

Sejak satu tahun terakhir ia memang mengklaim rumah itu sebagai rumah ketiganya, jadi tak jarang lelaki itu menghabiskan banyak waktu disana ketika suasana hatinya sedang tidak bagus.

Meskipun chanyeol kerap kali memerintahkan sesorang untuk membersihkan rumah itu, namun ia tidak berani mengubah satu pun isi di dalamnya.

Karena jika ia melakukannya, jejak dan kenangan gadis itu akan hilang.

Chanyeol menyeret langkahnya menuju kamar utama, dua ranjang berukuran sedang itu masih berada di sana, namun Chanyeol memilih mendekat pada salah satunya.

Lelaki itu melepas sepatu dan kaus kaki sebelum kemudian membaringkan tubuhnya di ranjang Byun Baekhyun.

Tangan kekarnya ia jadikan bantal, matanya menatap kosong pada langit-langit.

Hening.

Helaan napasnya terdengar, seolah menjadi melodi yang memberinya rasa kantuk sebelum kemudian menggiringnya ke alam mimpi.

.

.

Drrtt.. Drrtt..

Getaran ponsel dari dalam saku celananya membuat tidur Chanyeol terganggu, lelaki mengernyit. Matanya perlahan mengerjap, melirik jam dinding kemudian mendengus.

Ia sudah tertidur selama satu jam.

Chanyeol merogoh saku celana ketika ponselnya kembali bergetar.

Lelaki itu kemudian menyernyit saat melihat nama seseorang terpampang di layar ponselnya tersebut.

"Kris?"

.

.

.

"Apakah kau yakin tidak ingin ikut?" Tanya Kris pada Baekhyun ketika sampai di ambang pintu.

Baekhyun menggeleng pelan. "Aku baik-baik saja, nikmati waktu kalian."

"Baiklah, hati-hati di rumah." Kata Luhan seraya memeluk Baekhyun sebelum kemudian ia dan Kris meninggalkan rumahnya.

Awalnya Kris berniat untuk absen pada perayaan ulang tahun kolega perusahaannya, mengingat ia mencemaskan Baekhyun, namun akan sangat tidak sopan jika ia melakukan itu.

Terlebih Luhan sudah meyakinkannya bahwa Baekhyun akan baik-baik saja.

Baekhyun memasuki kamar, kemudian menyeret kakinya menuju balkon. Ditatapnya langit malam yang tampak ditaburi bintang, namun bulan tampak sedikit malu-malu dan hanya menampakkan dirinya dalam bentuk setengah melengkung.

Angin sejuk menyapa tengkuk, membuat tubuh Baekhyun yang hanya dibalut Dress rumahan berbahan tipis seketika menggigil. Tanpa berpikir dua kali, gadis itu membawa dirinya kembali masuk ke kamar dan menutup pintu balkon dengan asal.

Baekhyun duduk dan bersandar pada Headboard. Matanya menerawang jauh ke depan, ia bertanya-tanya dalam hati mengapa suasana hatinya tak kunjung membaik? Mengapa rasa bersalah itu semakin menjalar di hatinya.

Gadis itu melirik kearah samping, menelisik buku hariannya di atas nakas. Ucapan Yoora siang tadi membuat perasaannya semakin tak menentu.

Bolehkan Baekhyun jujur?

Gadis itu tidak mengatakan kepada siapapun bahwa sebenarnya ia mencari keberadaan seseorang saat berada di bandara, sosok yang bahkan tak ia temui saat meninggalkan Mansion nya.

Sosok yang selalu membuat Baekhyun mengingat dengan jelas ekspresi terlukanya saat gadis itu menyerukan satu kalimat yang sangat kejam.

You killed my sister.

Mata Baekhyun mendadak memanas, perlahan ia memeluk lutut sementara kedua tangannya terulur menutupi seluruh wajah, dan kemudian isakan pelan terdengar.

Ia tidak bermaksud melukai perasaan Chanyeol.

Baekhyun tidak tahu bahwa ia akan merasa sangat hampa tanpa lelaki itu.

Baekhyun merindukannya.

Gadis masih tertunduk dan terisak di balik telapak tangan ketika sebuah tangan lain membelai rambutnya dengan lembut, membuat gadis itu mendongak. Matanya semakin basah saat mendapati sosok Chanyeol tengah menatapnya lekat, dan air mata Baekhyun turun semakin deras.

Tangan Chanyeol terulur, menghapus cairan bening yang membasahi pipi Baekhyun dengan pelan dan hati-hati, seolah ia bisa saja menggores pipi itu jika melakukannya dengan sedikit tergesa.

Baekhyun semakin terisak, menggengam tangan Chanyeol dengan sangat erat.

Chanyeol mempersempit jarak, mendekatkan wajahnya. Mengecupi setiap inci wajah Baekhyun dengan hati-hati sebelum kemudian menempelkan dahinya pada dahi gadis itu. Matanya terpejam, merasakan hembusan napas Baekhyun yang memburu.

Baekhyun menggumamkan berbagai kalimat dengan suara parau, Chanyeol tidak menangkap dengan jelas kata-kata Baekhyun selain kalimat rindu yang gadis itu lontarkan.

Baekhyun merindukannya sebesar Chanyeol merindukan gadis itu.

"It's okay, Baby. I'm here.." Bisik Chanyeol seraya membelai pipi Baekhyun, sementara wajah keduanya semakin tak berjarak, dan tidak butuh waktu lama sebelum akhirnya Chanyeol meraup bibir Baekhyun dengan hat-hati, mengecupnya perlahan sebelum kemudian mengulumnya dengan lembut, Chanyeol memejamkan mata dan pada saat yang sama cairan bening yang sedari tadi tertahan di pelupuk matanya lolos.

Lelaki itu masih mengeksplor bibir Baekhyun dengan putus asa ketika tangan Baekhyun perlahan melingkar di lehernya dan kemudian dua insan itu saling memagut satu sama lain.

Chanyeol merengkuh Baekhyun dan membawa gadis itu berbaring. Sementara tangan Baekhyun perlahan meremas rambut lelakinya, pertanda bahwa ia perlu menghirup oksigen. Chanyeol melepas pagutan mereka, dahi mereka kembali menyatu. Keduanya terengah-engah.

Chanyeol menatap gadis di bawahnya dengan mata sayu sebelum kemudian ia kembali melahap bibir Baekhyun dengan rakus, tangannya perlahan terulur melepaskan satu-persatu kain yang melekat di tubuhnya.

Baekhyun menegang di posisinya ketika tangan Chanyeol mencoba meloloskan pakaiannya, membuat Chanyeol melepas pagutannya dan menatap Baekhyun dengan cemas.

Ah ya, seharusnya ia tidak melakukannya sejauh itu.

Chanyeol hendak bangkit dan mengurungkan niat ketika mendadak Baekhyun menahannya.

Gadis itu menatap Chanyeol sejenak sebelum kemudian memagut bibir seraya melingkarkan tangan pada punggung telanjang lelakinya.

Chanyeol membalas dengan hati-hati, tangan lihainya meloloskan setiap kain yang menempel di tubuh Baekhyun.

Semilir angin menyapa dua tubuh polos. Langit malam meninggi, menjadi saksi penyatuan tubuh.

Perlahan, deru napas memacu di dalam ruang.

Lantas si lelaki mendominasi.

Di setiap titik peluhnya..

Dalam desahnya..

Ia berbisik. "Aku mencintaimu, Byun Baekhyun."

.

.

.

TBC

.

.

AN:
Kan mesem-mesem sendiri kan... :D

Habis gelap terbitlah terang. Bukankah begitu saudara se-OTP ku? :V

Jadi intinya, selamat menikmati Satnight bersama NANANINA~ HAHA

See you~