THE HALF BLOOD VAMPIRE 2 ( Chapter 2 )
Cast : Kai, Sehun, Jeno, Jaemin.
Pairing : KaiHun, NoMin
Rated : T
Genre : Fantasy, Romance
Warning : MPREG untuk orang tua dari cast utama, YAOI. Vampire, Werewolf, Devil Hunter.
Cuma mau bilang terima kasih banyak untuk yang udah berkenan review di ff ini. Untuk tebakan kemaren, keknya untuk werewolf gampang ketebak ya. Jadi kali ini akan aq perjelas lagi deh karakter tiap orangnya. Semoga tebakannya pada benar ya.
no edit jadi mungkin banyak typo bertebaran.
Syakila8894
.
.
.
.
.
Jongin memasuki halaman rumahnya dengan langkah tenang, sesekali matanya melirik ke rumah tetangga barunya yang baru pindahan kemarin. Ada sesuatu yang menarik tentang penghuni rumah itu, entah apa yang mereka lakukan tapi tadi malam Jongin seperti mendengar suara lolongan dari lantai atas rumah itu. Apa mereka memelihara serigala di atas loteng ?
"Hai..."
Jongin menoleh ke arah sumber suara dan menemukan si murid baru berdiri di dekat pagar yang membatasi halaman rumahnya dengan rumah tetangga. Jadi tetangga barunya adalah murid baru itu?
"Hai..." Jongin membalas ucapannya sambil melangkah mendekat. "Jadi selain satu sekolah kita juga tetangga ya." Jongin memperbaiki letak kaca matanya sambil menatap serius ke arah namja di depannya.
Orang itu, Lee Jeno hanya tersenyum dan mengangguk. "Aku harap kita bisa berteman."
Jongin menaikkan sebelah alisnya, menatap serius ke mata Jeno, sebelum tersenyum tipis. "Tentu saja, sekarang kita teman." Jongin mengulurkan tangannya dan langsung di sambut oleh Jeno. Tangan Jeno terasa sedikit basah saat bersalaman dengannya, apa dia gugup? Jabatan tangan itu hanya sesaat, karena seruan dari teras depan rumah Jongin
"Jongina, apa yang kau lakukan di luar, cepat masuk, sebelum kau berakhir kehujanan di luar."
Jongin menoleh ke arah pintu rumahnya dan kemudian kembali menatap Jeno. "Ibuku sepertinya sebentar lagi akan mengomel kalau aku tidak cepat-cepat masuk."
Jeno tertawa. "Aku juga harus masuk sekarang, nanti malam kau ada acara? Bagaimana kalau kita pergi jalan jalan?"
Jongin berpikir sejenak. "Ku pikir aku bisa."
Jeno mengangguk lalu melambaikan tangannya. "Sampai bertemu nanti malam."
"Ah, Jeno..." panggil Jongin sebelum Jeno berbalik memunggunginya.
"Ya?"
"Apa kau memelihara serigala di lotengmu, kurasa tadi malam aku mendengar lolongannya dari atas sana."
Jeno terdiam sejenak. "Ya, aku punya..."
Jongin tersenyum tipis. "Hanya pastikan dia tidak keluar dan memakanku ya." Jongin berbalik dan melangkah menuju rumahnya.
Jeno balas tersenyum, "Aku tak pernah memakan daging manusia."
"Huh. Kau bilang apa?" Jongin mengernyitkan dahinya.
"Tidak. Bukan apa-apa."
Jongin hanya mengangkat bahunya dan terus melangkah, tanpa peduli Jeno yang terus menatap punggungnya.
"Manusia ya. Kurasa tak ada salahnya berteman dengan manusia." Jeno tersenyum tipis sembari ikut berbalik menuju rumahnya sendiri.
"Jongina, apa yang kau bicarakan dengan tetangga baru itu?" Kim Minseok memicingkan matanya ketika menatap anaknya.
"Eomma, dia teman sekelas Jongin dan Jongin berteman dengannya."
"Dia sekelas denganmu?"
Jongin mengangguk.
"Dan dia juga berteman denganmu?"
Jongin lagi lagi mengangguk. "Ya, bahkan rencananya malam ini kami mau jalan jalan bersama."
"Mwo..."
"Kenapa eomma? Eomma keberatan kalau aku berteman dengannya?"
"Tidak." Minseok terdiam sejenak. "Hanya saja, aku seperti mendengar lolongan serigala dirumah mereka. kau harus berhati hati dengan mereka Jongina, bagaimana kalau mereka manusia serigala dan berniat melukaimu?"
Jongin tersenyum, tangannya merengkuh pinggang ramping sang eomma dan memeluknya denagn erat. "Eomma, Jongin juga laki laki, Jongin juga bisa menjaga diri Jongin sendiri, jadi eomma tidak perlu khawatir."
"Tetap saja Jongina, kau harus berhati hati."
"Pasti, eomma..."
Minseok melepaskan pelukan anaknya dan memperhatikan wajah tampan anaknya dengan seksama. "Ngomong ngomong apa kau sudah punya pacar di sekolah?"
"Kenapa eomma tiba tiba bertanya seperti itu?"
"Jawab saja pertanyaan eomma."
"Tidak," jawab Jongin. "Tapi, aku menyukai seseorang, dia sangat lucu dan juga polos." jongin tertawa saat bayangan Sehun muncul. "Dan dia sangat penakut eomma."
"Apa dia perempuan?"
Jongin menggelengkan kepalanya. "Dia laki laki eomma, tapi dia sangat cantik."
Minseok tersenyum. "Ya. Eomma mengerti."
"Kenapa eomma menanyakan tentang dia?"
Minseok merengut. "Itu karena kau belum pernah membawa ataupun bercerita tentang orang yang kau sukai pada eomma."
Jongin tersenyum geli, "Eomma tenang saja. Nanti Jongin akan membawa Sehun ke rumah ini."
"Ah, jadi namanya Sehun."
"Iya, eomma pasti menyukainya."
"Dia manusia bukan? Jangan bilang kalau dia melolong di malam hari seperti tetangga kita."
Jongin tertawa. "Tentu saja dia manusia eomma. Aku tak akan mau kalau dia punya taring, bisa bisa dia akan menggigitku."
"Syukurlah."
"Ekhem, singkirkan tanganmu dari pinggang istriku Kim Jongin."
Jongin cepat cepat melepaskan rengkuhannya dan nyengir pada ayahnya yang tengah melotot padanya. "Sorry, appa."
"Jongdae-ya, jangan seperti itu, dia kan anak kita."
"Dan kau istriku, milikku seorang." Jongdae melangkah mendekat dan kemudian memeluk tubuh istrinya dengan erat.
"Jongin mencibir. "Apa aku anak angkat di sini. Sepertinya kehadiranku tidak diharapkan ya."
Jongdae tertawa dan sebelah tangannya merangkul pundak Jongin. "kau putra kebanggaan dan kesayangan appa, nak. Jadilah kuat, agar bisa melindungi orang yang kau cintai, seperti appa melindungi eommamu."
Jongin mengangguk. "Pasti appa, aku akan lebih rajin lagi berlatih."
Jongdae menepuk pundak Jongin. "Appa percaya padamu, anakku."
0)(0
Sehun tengah duduk santai bersandar di tempat tidurnya sambil main game di handphonenya dengan mulut mengemut lollipop ketika Jaemin masuk ke dalam kamarnya dan merebut handphone di tangannya.
"Nana... kembalikan handphoneku, sebentar lagi aku akan menang..." pekik Sehun setelah membuang lollipop dimulutnya ke sembarang tempat.
"Tidak mau."
"Ish, kembalikan." Sehun bergerak menghampiri Jaemin dan berusaha merebut handphonenya kembali, namun Jaemin dengan gesit menghindar dan Sehun mendorongnya hingga terbaring di ranjang . Jaemin kembali berguling menghindari Sehun, Sehun berusaha menyergapnya dan jadilah keduanya berguling guling di ranjang dengan Jaemin yang terus tertawa melihat Sehun yang terlihat begitu imut saat berusaha mengambil handphonenya kembali.
YOU LOSE.
Suara itu membuat keduanya terdiam, Jaemin menatap ke arah Sehun dengan raut wajah bersalah. Di sampingnya Sehun terbaring dengan mata yang berkaca kaca dan napas yang tersengal sengal.
"Hiks... Nana jahat..." Sehun memukuli tubuh Jaemin membuat sepupunya itu memekik kesakitan.
"Awww... Sehuna... aku minta maaf..."
"Masa bodoh..." Sehun terus memukuli tubuh Jaemin.
"Awww... awww... Lagi pula aku melakukan itu karena kau pasti akan mengacuhkan aku demi game bodohmu itu."
"Nana jahat..."
"Yak, berhenti memukulku. Padahal tadinya aku ingin mengajakmu membeli permen kapas, tapi kalau kau beringas seperti ini, lebih baik tidak jadi."
Sehun langsung menghentikan gerakannya memukuli Jaemin. "Permen kapas?"
"Iya." Jaemin bangkit dengan susah payah dan kemudian merapikan pakaiannya yang kusut serta rambutnya yang berantakan karena berguling guling di ranjang.
Sehun ikut duduk di samping Jaemin dan menggenggam tangan kiri Jaemin. "Hunnie mau permen kapas. Ayo beli..."
Jaemin menatap Sehun dengan sinis. "Aku tidak mau. Kau pasti takut pada vampire lagi dan menangis ditengah jalan. Lagi pula ini malam hari."
Sehun merengut. "Aku tidak akan menangis. Aku janji. Nana, ayo kita pergi." Rengek Sehun.
"Minta izin dulu sana pada ayah dan ibumu."
Cup
"Horee... Nana baik deh."
Sehun melompat turun dari ranjangnya dan berlari keluar kamar.
Di kamar sebelah, Chanyeol yang baru selesai mandi segera menghampiri istrinya yang berdiri di balkon sendirian. Ia memeluk tubuh istrinya dari belakang dan mencium pipinya dengan lembut. "Apa yang sedang kau pikirkan sayang?"
Suho meletakkan tangannya di atas tangan Chanyeol yang melingkar di perutnya. "Sehunie... tak terasa dia sudah sebesar itu, kadang aku merasa takut kalau dia akan punya pacar dan kemudian menikah. Kita akan kesepian di sini."
Chanyeol terkekeh pelan. "Kalau begitu ayo buat Sehunie Junior." Bisiknya nakal.
"Yak, kau selalu meminta itu, tapi sampai sekarang tidak pernah ada hasilnya." Cibir Suho.
"Itu karena kau selalu mmemintaku memakai pengaman sayang. Haruskah kita tidak perlu memakai pengaman lagi."
"Memang Sehun siap punya adik lagi?"
"Kita coba saja dulu." Chanyeol memiringkan kepalanya dan mengecup bibir Suho.
Brakk
Sepasang suami 'istri' itu langsung melepaskan tautan bibir mereka dan menoleh ke pintu. Terlihat Sehun di sana dengan rambutnya yang berantakan.
"Mommy... Hunnie mau permen kapas." Sehun melangkah dengan cepat menghampiri ibunya dan mendorong ayahnya sedikit menjauh agar ia bisa memeluk tubuh ibunya. "Boleh ya..." sambungnya penuh harap.
"Tentu saja boleh sayang, nanti daddy akan membelikannya untukmu." Chanyeol yang menjawab.
"Tidak mau. Hunnie mau beli sendiri bersama Nana."
"Tapi ini sudah malam sayang." Suho tampak khawatir melepas kedua makhluk imut itu di malam hari.
"Tidak apa apa mommy, kata Nana tidak akan ada vampire. Dan Hunnie bisa jaga diri Hunnie kok. Hunnie kan laki laki."
"Tapi..."
"Boleh ya daddy..." Sehun menatap penuh harap pada ayahnya.
Chanyeol menoleh ke arah jam dinding, baru pukul tujuh malam, jalanan masih ramai. "Baiklah tapi hanya sebentar, kalau ada apa apa segera telepon daddy, oke?"
"Oke, daddy."
"Cium daddy dulu." Chanyeol menundukkan badannya dan Sehun dengan cepat mencium pipinya, lalu mengecup pipi ibunya juga sebelum bergegas keluar.
"Sayang, apa tidak apa apa membiarkan mereka berdua pergi di malam hari."
"Tidak apa apa, daerah di sekitar sini aman. Lagi pula, Sehun harus merasakan pengalaman baru agar ia bisa lebih mandiri kelak."
"Tapi tetap saja kan, ini pertama kalinya untuk anak kita."
"Dari pada itu, kenapa kau tidak lebih mengkhawatirkan yang lain saja?"
"Apa maksudmu?"
Chanyeol menunjuk ke arah bawah. "Ayo membuat Sehun junior."
"Yak, dasar mesum..."
Dan teriakan dari kamar orang tuanya membuat Sehun yang akan masuk ke dalam kamarnya sendiri, sempat melongo, sebelum melangkah masuk.
"Aunty dan uncle sedang apa di kamar, kenapa berisik sekali?" tanya Jaemin.
"Tidak tau, mungkin sedang menonton film vampire dan mommy ketakutan." Jawab Sehun.
"Ya sudah, ayo siap siap." Jaemin memperhatikan penampilannya di cermin, saat ini ia menggunakan sweater merah dan celana pendek berwarna hitam. "Hunnie kau punya topi berwarna merah?"
"Ambil saja di lemari." Sahut Sehun yang tengah sibuk mengganti piyama pororonya.
Jaemin membuka lemari Sehun dan mengambil topi merah dengan motif angry bird dan langsung memakainya. "Nah, kalau begini terlihat lebih keren dan manly." Pujinya pada diri sendiri. Tak sadar diri kalau hal itu malah membuatnya terlihat lebih imut.
Setelah kurang lebih lima belas menit memilih dan memakai pakaian, akhirnya Sehun berdiri di samping Jaemin yang masih berdiri di depan cermin besar itu.
"Sepertinya Hunnie juga harus pakai topi." Gumam Sehun, memperhatikan penampilannya sendiri. Kaos putih tanpa lengan dengan tulisan love besar berwarna pink ditengah tengah kaos dan juga celana pendek yang hanya menutupi separo pahanya, ia melengkapi penampilannya dengan sebuah cardigan abu abu yang panjangnya mencapai lututnya.
"Akan lebih baik kalau kau memasukkan bagian bawah kaosmu ke dalam celana." Jamein membantu Sehun meperbaiki penampilannya. "Nah, begini kan lebih keren." Pujinya.
Sehun mengambil topi putihnya dan memakainya. "Ayo pergi."
"Sebentar." Jaemin meraih tas punggungnya dan memakainya. "Ayo..."
Keduanya meraih sepatu sport berwarna putih yang sama dan memakainya. "Mommy... Hunnie dan Nana berangkat ya."
"Ahhh... ya..." terdengar desahan seklaigus jawaban dari dalam kamar orang tuanya.
"Ish, mommy dan daddy tidak mengajak Hunnie nonton film, tapi tidak apa, Hunnie akan jalan jalan malam ini." Ucap Sehun semangat.
0)(0
"Aku belum pernah melihat orang sebanyak ini sebelumnya."
"Apa sebelumnya kau tinggal di hutan?" Jongin menoleh pada Jeno yang berjalan di sampingnya.
"Iya." Sahut Jeno.
"Ah, jadi karena itu kalian lebih memilih memelihara serigala dari pada anjing." Ucap Jongin.
"Ucapanmu seolah kau tahu sesuatu tentangku," komentar Jeno.
"Apa yang ku tau, selain kau tetanggaku dan juga temanku." Jongin menjawab seadanya."
Jeno tertawa pelan, "Ya, kurasa kau benar."
Saat itu langkah keduanya terhenti saat melihat pemandangan tak jauh dari mereka. dua orang namja manis sedang berjongkok di depan penjual permen kapas.
"Paman cepatlah, Hunnie sudah ingin memakannya."
"Ish, tidak bisa, Nana yang duluan."
"Tidak mau, Hunnie yang duluan." Sehun menghentakkan kakinya.
"Kan, Nana yang melihat penjualnya duluan." Jaemin ikut ikutan menghentakkan kakinya, ngambek.
"Mereka..."
Jongin dan Jeno saling pandang lalu tersenyum. "Ya Tuhan, keduanya sangat imut."
"Ish, Hunnie benci Nana..."
"Aku juga membencimu..."
"Sudah sudah jangan bertengkar, ini permen kapasnya untuk kalian berdua." Paman penjual permen kapas itu tersenyum geli melihat tingkah konyol keduanya.
"Terima kasih paman." Ucap keduanya berbarengan sambil menerima permen kapas itu.
"Ah, uangnya." Dengan tangan yang memegang permen kapas, Jaemin sedikit kesusahan mengambil dompet di dalam tas punggungnya.
Tiba tiba sebuah tangan berkulit tan menyerahkan beberapa lembar uang ke tangan paman penjual itu.
"Ini terlalu banyak..."
"Ambil saja sisanya."
Kedua laki laki manis itu menoleh dan langsung ternganga. "Jongin... dan murid baru ..."
Hatchi..
Oke, dan Jaemin kembali bersin.
"Terima kasih, Jonginie..." Sehun menunduk malu malu.
"Tak masalah." Sahut Jongin lembut.
"Yak, aku. Kenapa setiap bertemu denganmu, aku selalu bersin. Apa tubuhmu penuh bulu, hah." Jaemin menunjuk ke arah Jeno dengan tangannya yang memegang permin kapas.
Jeno sedikit menunduk dan menggigit permen kapas itu. "Manis... seperti yang membeli." Ucapnya.
"Permen kapaskuuuuu... dasar kau pencuri." Jaemin mengepalkan tangannya yang bebas dan hampir memukul Jeno, sebelum ia bersin lagi.
"Uhh, kau pembawa sial untukku." Rutuk Jaemin.
"Bukan, aku penyelamatmu." Jawab Jeno tenang.
"Apa katamu? Aku bersin gara gara kau ada di dekatku. Pergi sana..." Jaemin dengan ganas mendorong dorong tubuh Jeno hingga namja tampan itu melangkah mundur dengan Jaemin yang terus melangkah maju untuk mendorongnya. Tak menyadari jarak mereka yang semakin jauh dengan Sehun dan Jongin.
"Ehh, Nana mau kemana?" Sehun tampak panik dan ingin menyusul sebelum Jongin menggenggam jemarinya.
"Biarkan saja ia bersama Jeno, kau mau jalan jalan denganku?"
"Ehh..."
"Ada penjual boneka di sebelah sana. Kau mau?"
Sehun tersenyum cerah dan langsung mengangguk. "Kajja..."
Keduanya berjalan berdampingan dengan jemari yang saling bertautan dan Sehun yang sesekali memakan permen kapasnya.
"Jonginie mau?" Sehun merobek sedikit permen kapasnya dan menyodorkannya kemulut Jongin yang dengan senang hati membuka mulutnya. "Enak bukan?"
Jongin hanya mengangguk.
"Kalau Jonginie mau, Jonginie bisa beli sendiri. Karena permen ini punya Hunnie."
Jongin tersenyum geli. "Habiskan saja punyamu, aku tidak menginginkannya." Tangan Jongin yang bebas, menyapu sudut bibir Sehun yang ternoda serat dari permen kapas itu. "Makannya pelan-pelan saja, agar tidak kotor."
Wajah Sehun merona mendengar ucapan Jongin dan ia menundukkan wajahnya, terlihat begitu manis di mata Jongin.
Di sisi lain, Jaemin akhirnya menyadari kalau ia sudah terlalu jauh meninggalkan sepupunya, dengan panik ia menatap ke sekitar, berharap menemukan Sehun di antara keramaian.
"Sehun bersama dengan Jongin, kau tak perlu khawatir padanya."
Jaemin menatap Jeno dengan kesal. "Ini semua salahmu, gara gara kau, aku jadi terpisah dengan Sehun."
"Kan kamu yang mendorongku pergi menjauh."
"Ish, menyebalkan." Jaemin menghentakkan kakinya dan kembali bersin setelahnya. "kau itu membawa virus ya." Tudingnya.
Jeno menghela napas panjang. "Lebih baik kita duduk dulu, kau ini selalu saja berprasangka buruk padaku." Tangannya menarik Jaemin dengan paksa dan mendudukkan tubuh yang lebih mungil itu di kursi panjang yang kebetulan kosong di pinggir trotoar.
"Tentu saja aku berprasangka buruk padamu, karena sejak bertemu denganmu aku selalu bersin." Jawab Jaemin sewot. Ia memakan permen kapasnya, tak sadar kalau itu bekas di tempat yang sama Jeno menggigit permen kapasnya.
"Kau begitu ingin aku cium ya?"
"Eh, apa maksudmu?" Jaemin menatap bingung pada Jeno.
"Kau menggigit di tempat yang sama aku menggigit permenmu."
Jaemin menunduk dan memperhatikan permennya, wajahnya merona saat ia menyadari itu. "Yak, itu kan tidak sengaja." Ucapnya berusaha membela diri. Ia menggigit lagi permen kapasnya, bertepatan Jeno yang sedikit menunduk dan menggigit permen kapasnya di sisi yang lain. Keduanya berpandangan sejenak sebelum Jaemin kembali merasa gatal pada hidungnya, dan sebelum ia bersin Jeno mengambil alih permen kapas itu ke tangan kanannya dan tangan kirinya menarik tengkuk Jaemin untuk makin mendekat.
Cup
Jaemin mengerjapkan matanya sejenak, tak percaya dengan apa yang terjadi. Bibir perawannya baru saja di cium? Tak mungkin, ini pasti hanya mimpi.
Namun saat ia merasa bibirnya dilumat dengan lembut, Jaemin langsung berontak, tetapi Jeno mengeratkan rengkuhannya dan memperdalam ciumannya. Jaemin hampir menikmati ciuman itu ketika Jeno melepaskan tautan bibir mereka.
"Merasa lebih baik?" tanyanya sambil menyerahkan permen kapas itu lagi ke tangan Jaemin.
Sesaat Jaemin merasa blank. Sebelum kesadarannya kembali dan ia langsung menatap marah pada Jeno. "Kau mengambil ciuman pertamaku, dasar bodoh. Rasakan ini."
Dengan tangan yang bebas, Jaemin mendorong Jeno hingga terbaring di kursi panjang itu dan Jaemin langsung naik ke atas tubuhnya, duduk di perutnya dan memukuli Jeno dengan ganas. "Aku tak akan pernah memaafkanmu."
"Hei, tenanglah... kita di tempat ramai. Orang orang akan mengira kau ingin memperkosaku."
"Masa bodoh, kau sudah menciumku..."
"Aww, aku hanya ingin agar kau terbiasa denganku dan tidak bersin lagi. Tapi tak kusangka bibirmu manis sekali."
"Yak, dasar bodoh..." Jaemin lagi lagi memukuli dada Jeno.
Jeno yang merasa orang orang mulai memperhatikan mereka segera menarik tengkuk Jaemin hingga wajah keduanya kembali berdekatan. "Bisakah kau tidak bertindak brutal dihadapan orang banyak." Bisik Jeno.
"Aku..." berada sedekat ini dengan Jeno, membuat Jaemin gugup.
Jeno menggigit permen kapas yang berada di genggaman Jaemin dan kebetulan tepat berada di samping kepalanya. Ia menarik tengkuk Jaemin untuk makin mendekatkan wajahnya.
"Mau apa kau..." Jeno dapat merasakan tubuh Jaemin yang sedikit bergetar. Ia menggigit lembut bibir bawah Jaemin hingga pria manis itu membuka mulutnya dan Jeno tak menyia nyiakan kesempatan itu untuk mentransfer permen kapasnya ke dalam mulut Jaemin, sesaat lidahnya berdiam di dalam sana, sebelum ia kembali melumat bibir Jaemin denagn lembut.
Kali ini Jaemin hanya diam dan menutup matanya, pasrah. Ciuman itu berlanjut dengan keduanya yang saling berpagutan dengan mata tertutup. Tiba tiba saja mata Jeno terbuka, dan iris matanya yang biasanya berwarna hitam kini berubah keemasan. Ia melirik ke sana kemari dan ketika merasa ada yang mendekat dengan cepat ke arah mereka. ia segera menormalkan kembali warna bola matanya sebelum melepaskan tautan bibirnya dengan Jaemin.
"Kita harus cepat pergi dari sini." Ucap Jeno, gelisah. Ia mengusap bibir Jaemin yang basah lalu bangkit untuk duduk dengan Jaemin dipangkuannya. "Kau bisa lari?"
Jaemin hanya mengangguk dengan ekspresi bingung, ia menurut saja saat Jeno menariknya berdiri.
"Ayo." Jeno menautkan jemari mereka dan mengajak Jaemin berlari.
"Sebenarnya ada apa?"
"Kau tak akan mengerti walau aku ceritakan, lebih baik sekarang kita pergi mencari Jongin dan Sehun lalu pergi." Balas Jeno, ia beberapa kali menoleh ke belakang saat merasa ada hawa panas yang semakin mendekat. 'Sial, siapa mereka, auranya begitu kuat'
"Hunnie..." Jaemin berteriak saat menemukan Sehun yang memeluk sebuah boneka beruang berwarna coklat dengan garis putih ditengah, tengah suap suapan permen kapas dengan Jongin.
"Ahh... Nana..." Sehun melambaikan tangannya dengan semangat.
"Ayo pergi..." ucap Jeno saat keduanya sudah dekat.
"Ada apa..." tanya Jongin bingung.
"Aku tak punya waktu untuk menjelaskan sekarang." Jeno semakin gelisah. "Ada bahaya yang semakin mendekat. Ayo cepat..." ia menoleh ke sekitar. 'Siapa yang dia incar?'
Jongin menatap sejenak ke arah Jeno, lalu mengangguk. "Baiklah..."
Lalu ke empatnya berlari menembus kerumunan orang orang yang semakin ramai berlalu lalang. Sesaat setelah keempatnya berlari pergi, tiga orang mendarat tepat di bekas mereka berdiri tadi.
"Aku mencium baunya, dia ada di sekitar sini."
"Tunggu. Bau apa ini?"
"Ku rasa dia menyadari kehadiran kita."
"Ku rasa tidak. Ini bau werewolf. Pasti dia yang sudah membawanya pergi."
"Sial..."
"Baunya semakin samar. Dia pasti sudah jauh dari sini."
"Apa sekarang dia sudah berteman dengan kaum werewolf? Atau dia meminta bantuan mereka karena sudah menyadari kehadiran kita di kota ini."
"Apapun itu, werewolf itu sudah menyelamatkan dia dari kita. kita harus membunuh werewolf itu, segera."
"Ayo pergi."
Dan ketiganya kembali menghilang dari tempat itu.
0)(0
"Ku rasa sudah aman sekarang." Jeno menatap ke sekeliling sebelum memperhatikan kedua uke manis yang tampak kelelahan.
"Sebenarnya apa sih yang membuat kita lari?" tanya Jaemin.
Jeno mendengus. "Itu karena kalian memakai pakaian terlalu minim hingga banyak para ahjushi yang ingin menculik kalian." Balasnya.
"Mwo, ini sudah tertutup, bodoh. Itu sih kalian saja yang mesum." Balas Jaemin tak terima.
"Uhh, Hunnie cape..." keluh Sehun.
"Mau ku gendong?" tawar Jongin. Ia melirik ke arah Jeno dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Aku akan menceritakan padamu nanti." Bisik Jeno dan Jongin langsung mengangguk.
"Mau, Hunnie sudah cape." Jawab Sehun lemah. Dan Jongin langsung menggendongnya ala bridal style. "Aku akan mengantarmu pulang."
"Rumahmu di mana?" giliran Jeno yang bertanya pada Jaemin.
"Aku menginap dirumah Sehun." jawab Jaemin lesu.
"Kau mau ku gendong juga?"
Jaemin menggeleng, namun Jeno dapat melihat lutut Jaemin yang sedikit bergetar lalu tanpa izin ia segera menggendongnya.
"Yak, turunkan aku."
"Diamlah, simpan tenagamu untuk nanti." Jeno menatap sekitarnya, tak ada siapa siapa selain mereka. "Aman." Gumamnya.
Kedua pria seme itu melangkah pelan dengan Jaemin dan Sehun digendongan masing masing. Tak ada yang bicara di antara mereka, hanya sesekali jaemin yang menunjukkan arah jalan ke rumah Sehun.
"Mommy... Hunnie pulang..." begitu turun dari gendongan Jongin, Sehun segera menekan bel berkali kali.
"Mungkin uncle dan aunty sudah tidur." gumam Jaemin yang juga sudah turun dari gendongan Jeno.
"Tidak mungkin, tadi kan waktu kita pergi mommy dan daddy sedang nonton film, suara mommy sampai berisik seperti itu." protes Sehun.
Jongin mengerutkan keningnya. "Film apa yang orang tuamu lihat?"
"Itu..."
Cklek
Pintu terbuka, menampilkan sosok tinggi Chanyeol yang terlihat berantakan. "Anak daddy sudah pulang." Chanyeol memeluk tubuh Sehun sekilas, sebelum ia membeku saat bertemu pandang dengan dua orang pria yang tak dikenalnya. "Sehunie, siapa mereka?"
"Oh, ini teman sekelas Hunnie, Daddy.." jawab Sehun polos. "Yang pake baju hitam itu Jonginie, dan yang pake baju biru itu Jeno." Keduanya membungkuk sopan pada Chanyeol.
"Hunnie..."
"Mommy..." Sehun segera beralih ke pelukan ibunya dengan manja.
"Eoh, Hunnie membeli boneka ya." Ucap Suho.
Sehun mengangguk. "Jonginie yang membelikannya."
Suho menoleh pada suaminya yang masih memelototi dua laki laki dihadapannya itu. "Apa Hunnie sudah berterima kasih?"
"Belum mommy..."
"Ayo berterima kasih dulu sayang."
Sehun mengeratkan pelukannya pada bonekanya dan berjalan pelan menghampiri Jongin. "Jonginie, gomawo untuk bonekanya." Sehun berjinjit pelan untuk mencium lembut pipi Jongin.
Tak menyadari Chanyeol dan Suho yang shock juga Jaemin yang menepuk keningnya sendiri. Berharap kalau unclenya itu tidak marah pada kepolosan Sehun atau Jongin.
"Ehh... iya, Sehuna..." Jongin agak gugup karena terus di pandangi Chanyeol
"Dia pacarmu, sayang?" Chanyeol mengamati sekujur tubuh Jongin dengan seksama.
"Eoh, Jonginie tidak pernah mengatakan cinta seperti di drama yang Hunnie lihat kemarin sore." Jawab Sehun polos.
Chanyeol menghela napas panjang. "Masuklah ke dalam, aku yakin kalau kalian tidak sempat makan malam."
"Tapi kami..."
Chanyeol menatap tajam pada Jeno, hingga namja tampan itu kembali terdiam.
"Baik, ahjushi..." kali ini Jongin terlihat lebih tenang, dan kemudian mereka pun masuk dengan tenang ke dalam rumah.
Chanyeol melangkah mendekati istrinya yang tengah menyiapkan makan malam yang sempat tertunda karena Sehun yang pergi jalan jalan dan aktifitas mereka di kamar.
"Kau membuat banyak salad kan sayang?"
Suho menoleh pada Chanyeol dan kemudian mengangguk. "Kau mau memakannya sekarang?"
"Bukan. Aku dengar kaum vampire tidak menyukai sayuran begitupun dengan kaum werewolf. Aku ingin mereka berdua memakannya."
"Kau curiga pada mereka, teman teman Sehun dan Nana?" Suho tampak terkejut.
"Tidak juga, aku hanya ingin anakku bergaul dengan manusia biasa dan bukan makhluk jadi jadian. Tak ada salahnya kan kita harus waspada. Meskipun mereka terlihat normal seperti kita, kita tidak tau kebenarannya, karena itu masukkan salad pada menu makan malam kita."
"Baiklah aku mengerti..." jawab Suho.
Ketika menu itu dihidangkan di hadapan mereka, Jongin dan Jeno sempat terdiam melihat banyaknya salad di sana.
"Ayo silahkan di makan." Ucap Suho ramah.
Jeno tersenyum canggung, ia menggaruk tengkuknya pelan. "Maaf, ahjumma. Tapi aku tidak makan sayur." Ucapnya jujur.
Suho mengangguk dan tersenyum. "Tidak apa apa, kau bisa memakan yang lain." Namja cantik itu menatap suaminya yang tampak serius menatap ke arah Jongin. Kalau Jeno tidak bisa memakan sayur bagaimana dengan Jongin?
Jongin menatap pasangan suami istri itu dan tersenyum tampan. "Selamat makan malam ahjushi, ahjumma, kelihatannya semuanya enak."
Chanyeol terhenyak sesaat, lalu tersenyum lega saat balas menatap Jongin.
.
.
.
.
.
TBC
Fiuhhh... rasanya ngetik genre fantasy itu ga pernah gampang. Dan aku terus terang cukup terkejut dengan review yang masuk. Terima kasih banyak kalian sudah bersedia review di ff absurd ini. Mohon reviewnya lagi ya.
Dan demi apa, aku sedikit frustasi gara gara film yang aku nantikan belum juga rilis. Padahal dah lama banget aku menantikan film fantasy dengan tema seperti itu. oekh, abaikan killa yang lagi galau ini #plakk.
Chapter ini sedikit banyak sudah menceritakan karakter tiap tokoh utamanya, Jeno udah terungkap ya. Halfbloodnya ? ? ? ? tergantung dengan kejelian kalian. Hehehe...
Chapter depan mungkin giliran bumbu manis ala kaihun dan pengenalan tokoh yang tiga orang itu.
Salam damai KaiHun shipper
Syakila8894
