THE HALF BLOOD VAMPIRE 2 ( Chapter 3 )
Cast : Kai, Sehun, Jeno, Jaemin.
Pairing : KaiHun, NoMin
Rated : T
Genre : Fantasy, Romance
Warning : MPREG untuk orang tua dari cast utama, YAOI. Vampire, Werewolf, Devil Hunter.
Makasih banyak untuk yang udah baca n review, aku sangat sangat berterima kasih karena review dari kalian udah bantu aku untuk semangat ngetik chapter selanjutnya di sela sela kesibukan di dunia real #smile.
Sejujurnya aku agak n mungkin juga banyak terbebani dengan ff ini, karena aku takut klimaks dari ff ini bakal mengecewakan. Tahu sendiri lah, aku hanya penulis amatir yang pastinya juga banyak punya kelemahan di dunia tulis menulis, kadang dan bahkan mungkin sering ide yang aku tulis tidak memuaskan atau mengecewakan kalian. Jadi maaf ya kalo ffnya absurd kek gini...
Satu lagi, ini ff kaihun kok, hanya saja cast utamanya aku tambah sama couple nomin. Kenapa belum banyak moment mereka, ini di awal cerita ya n aku masih ngatur ngatur pembagian castnya. Hehe... meski aku sudah menentukan karakter tiap cast, sebenarnya ff ini alurnya tergantung dari ide yang ngalir begitu aja, jadi bahkan aku ga tau gimana ending akhirnya. Hanya satu yang pasti Kai tetap sama Sehun begitupun dengan Jeno dan Jaemin.
Dan ini no edit, jadi maafkan typonya yang numpuk.
Syakila8894
.
.
.
.
.
Chanyeol menatap ke arah Jongin yang memakan dengan tenang dan lahap semua makanan dan sayuran yang disodorkan padanya. "Kau mau tambah?"
Jongin menggeleng, "Terima kasih ahjushi, tapi aku sudah kenyang." Ucapnya di iringi senyuman tampan.
Chanyeol mengangguk, ia mengamati apakah ada perubahan dari Jongin setelah memakan semua itu. Tak ada perubahan apapun, Jongin tetap bertingkah biasa dan bahkan mulai bercanda dengan Sehun. Namja tampan itu tersenyum tipis, 'Jadi bukan vampire ya?'
"Kim Jongin, kau belum menceritakan tentang dirimu, apa kau asli orang sini?"
"Ne, Ahjushi. Eomma dan appa sudah menetap di kota ini bahkan sebelum mereka menikah dan aku lahir." Jawab Jongin.
Jeno yang sedari tadi memperhatikan Jaemin yang selalu menghindari tatapannya kini memilih untuk memfokuskan diri pada pembicaraan itu. kedengarannya menarik melihat sahabatnya di cecar pertanyaan dari orang tua calon incaran sahabatnya itu.
"Apa rumahmu tidak jauh dari sini?"
Jongin mengangguk, "Hanya berbeda satu blok dari sini, ahjushi."
"Siapa nama orang tuamu?"
"Kim Jongdae dan Kim Minseok." Jawab Jongin, ia memilih untuk jujur saja di hadapan orang tua ini, sepertinya orang tua Sehun bukan orang yang jahat.
Chanyeol menaikkan satu alisnya. "Jongdae? Ah, ku harap suatu saat aku bisa bertemu dengan ayahmu."
"Ahjushi mengenal ayahku?" Jongin tampak terkejut.
Chanyeol tersenyum, "Tentu saja tidak, karena itulah aku ingin mengenalnya." Chanyeol menyesap minumannya dengan tenang. Manusia berisik itu, tentu saja Chanyeol mengenalnya, ia pernah beberapa kali melihat bertemu Jongdae di tempat bisnis. Meski berisik, Chanyeol harus mengakui kalau Jongdae adalah pria yang baik dan sepertinya itu menurun pada putranya yang terlihat begitu menyayangi anaknya.
Chanyeol menatap ke arah Sehun yang sedang menyuapi Jongin buah anggur, lalu beralih pada Jaemin dan Jeno yang saling melotot. Seorang manusia biasa dan seorang werewolf, bisakah mereka menjaga kedua permata indah yang ia sayangi ini? Meski mungkin akan sangat sulit, tapi keduanya sepertinya bisa ia percaya. Chanyeol memejamkan matanya, haruskah ia mulai belajar mempercayakan anaknya pada orang lain?
0)(0
"Jadi, apa yang ingin kamu jelaskan padaku tentang peristiwa di taman kota tadi?" Jongin menatap serius pada Jeno, saat ini kedunaya berada di bangku panjang di bawha pohon rin dang di halaman depan rumah Jongin.
Jeno menghela napas panjang. "Kau tahu siapa aku?"
Jongin memperbaiki letak kaca matanya lalu berdehem pelan. "Tentu saja, kau Lee Jeno, temanku yang tinggal di sebelah rumahku dan juga teman sekelasku."
Jeno tertawa, "Bukan itu yang aku maksud, tapi identitasku."
"Apa? soal kau yang memelihara serigala di rumahmu?"
"Lebih tepatnya di dalam tubuhku sendiri." Gumam Jeno. "Aku manusia serigala."
Jongin terdiam, ia tidak berkomentar apapun.
"Kau tidak takut padaku kan. Aku takut kalau kau mengetahui yang sebenarnya kau akan menjauh dan tidak mau berteman denganku."
Jongin menggeleng, "Aku tidak sekejam itu, lagi pula aku sudah menduganya."
"Kau tahu?"
"Ya, sebulan yang lalu eomma mendatangi seorang peramal dan peramal itu mengatakan kalau kami akan kedatangan tetangga yang bukan manusia normal, sebelumnya aku tidak percaya, tapi setelah kedatanganmu dan keluargamu, aku mendengar lolongan itu dan aku mulai mempercayainya."
"Kim Jongin, siapa kau sebenarnya? Entah kenapa meski kau terlihat biasa biasa saja, tapi ada sesuatu yang berbeda darimu."
"Aku? Aku hanya manusia biasa, appaku seorang profesor di sebuah universitas, eomma, eomma hanya ibu rumah tangga biasa. Why? Kau curiga kalau aku vampire atau apa? kau bisa meminum darahku kalau tidak percaya aku hanya seorang manusia." Jongin menyodorkan tangannya yang segera ditepis Jeno.
"Sialan, werewolf bukan bangsa peminum darah tau. Ayahmu profesor, pantas saja anaknya sok tau." Cibir Jeno.
Jongin tertawa, "Hei, jangan remehkan ayahku, dia bahkan sering mengadakan penelitian tentnag makhluk immortal di laboratorium universitasnya." Jongin mengingat lagi tentang ayahnya.
"Apa dia juga menyelidiki tentang werewolf?"
Jongin mengangguk. "Adik ayahku terbunuh oleh salah satu makhluk immortal itu, karena itulah ayah terobsesi untuk mencari tahu kelemahan mereka."
"Untuk balas dendam?"
Jongin lagi lagi mengangguk, "Tapi sekarang tidak lagi, karena eomma memintanya berhenti untuk melakukan itu. dna ku rasa karena itulah appa sering memintaku berlatih, untuk menjaga diriku sendiri."
"Apa yang membunuh saudara ayahmu itu bangsa vampire?"
"Entahlah, aku tidak begitu yakin."
"Kenapa mereka membunuhnya, kalian kan hanya manusia biasa."
"Half blood..."
"Apa?"
"Pamanku mengetahui sesuatu tentang half blood, karena itulah mereka mengincarnya. Pamanku dibunuh karena ia tidak mau mengatakan siapa halfblood yang mereka cari itu. Saat itu aku masih kecil jadi aku tidak begitu mengingatnya, tapi aku ingat saat dia hampir meninggal, aku ada di dekatnya dan menggenggam tangannya." Jongin bahkan masih ingat wajah orang yang sudah membunuh pamannya dan ia mungkin cukup beruntung saat itu tidak di bunuh oleh mereka karena polisi yang keburu datang ke lokasi.
Jeno merangkul pundak Jongin, berusaha menguatkan sahabatnya itu. "Aku mengerti, half blood memang suatu hal yang luar biasa, ayahku bilang dia bisa menjadi pembawa kedamaian ataupun juga kehancuran bagi semua makhluk immortal."
"Aku pikir yang terkuat itu adalah Demon, aku membaca di buku yang pamanku simpan tentang semua makhluk immortal itu."
"Memang, tak ada yang pernah menang melawan demon."
"Baiklah kurasa sudah cukup tentang itu semua, sekarang boleh aku tanyakan lagi tentang apa yang terjadi di taman kota?"
"Aku merasakan hawa membunuh di sekitar tempat itu, itu bukan dari bangsaku atau pun bangsa vampire, auranya berbeda. Aku pikir mereka mengincar orang lain, karena itu aku berinisiatif membawa Jaemin menjauh, tapi mereka mengikuti kami bahkan sampai kita pergi dari tempat itu."
"Apa itu salah satu musuh dari keluargamu?"
"Keluarga kami bahkan tak pernah punya musuh." Bantah Jeno.
"Lalu siapa?"
"Entahlah, ku rasa aku harus hati hati sekarang." Gumam Jeno. "Walau aku tak yakin bisa menang melawan mereka."
"Apa maksudmu?"
"Kekuatannya bahkan sampai membuat napasku sesak, dia pasti bukan orang sembarangan."
Jongin mendongak menatap ke arah langit yang mendung. "Semoga saja mereka hanya salah orang dan bukan ingin menganggumu."
"Ya, tapi bagaimana kalau yang ia incar tidak hanya aku tapi kalian juga?"
Jongin tertegun, ya kalau itu sampai terjadi, sanggupkah ia melawan mereka?
0)(0
"Nana... tungguin Hunnie..." pekik Sehun saat melihat Jaemin yang melesat pergi keluar kelas begitu bel berbunyi, di kursi belakang Jeno tersenyum geli, kelinci manisnya berusaha menghindarinya rupanya.
"Aku menunggumu di depan." Balas Jaemin dari luar kelas.
"Ish, dasar Nana..." omel Sehun, ia merapikan buku bukunya yang berserakan di atas meja, ketika ada sebuah tangan yang terulur di depannya membantunya merapikan buku. Sehun mendongak dan ia langsung berkeringat dingin melihat siapa orang yang membantunya.
"Hai..."
Itu Kim Myungsoo, Sehun hampir menangis ketakutan saat namja itu mengulurkan tangannya dan mengajaknya bersalaman. "Kita belum berkenalan kemarin, aku Kim Myungsoo, siapa namamu cantik?"
"Sehun..." dengan tangan bergetar Sehun membalas jabatan tangan itu, dan ia langsung berjengit kaget, tangan Myungsoo terasa seperti es. Sehun buru buru melepaskan jabatan tangan mereka dan ia memasukkan semua bukunya ke dalam tas dengan tergesa gesa. "Terima kasih, maaf aku harus pulang sekarang."
"Mau pulang bersamaku?"
"Aku..."
"Maaf, dia bersamaku kawan."
Myungsoo menoleh kebelakang dan langsung bertatapan dengan Jeno.
"Ayo pergi." Jeno menarik tangan Sehun yang basah oleh keringat dan membawanya keluar kelas. Sialan, vampire itu benar benar ingin mendekati Sehun. kemana Jongin pergi, apa ia tidak tahu kalau orang yang ia sukai di dekati oleh vampire ?
Makhluk berbulu itu mencoba menghalangiku rupanya, lihatlah aku pasti akan mendapatkannya nanti. Myungsoo menyeringai, sebelum menghilang dari ruangan.
"Nono..."
"Eh, kau memanggilku?" Tanya Jeno.
Sehun mengangguk, "Terima kasih," ucapnya tulus. "Orang itu menakutkan, apa dia baru memegang balok es, tangannya dingin sekali. Hunnie takut. Apa Nono juga?"
Rasanya Jeno ingin tertawa mendengar panggilan Sehun untuknya, tapi ia menahannya, akan lebih gawat kalau Sehun ngambek. Sungguh, tak ada yang lebih merepotkan kecuali melihat seorang uke manja yang ngambek. "Tentu saja tidak, aku kan laki laki."
"Hunnie juga laki laki." Cibir Sehun. "Dan Hunnie juga bukan penakut," tambaknya tak sadar kalau baru saja tadi ia mengatakan bahwa ia ketakutan.
"Park Sehun..."
Pekikan itu membuat keduanya menoleh dan menemukan Jaemin yang ternganga dengan Jongin yang berada di belakangnya. Jaemin cepat cepat mendekat dan melepaskan pegangan tangan Sehun dan Jeno. "Baru ku tinggal sebentar, kalian sudah pegangan tangan." Ucapnya galak.
Jeno tersenyum lebar, "Kau cemburu melihat aku menggenggam tangan Sehun?"
"Teruslah bermimpi, dasar bodoh." Jaemin menghentakkan kakinya ke lantai.
"Apa yang terjadi?" kali ini Jongin yang bertanya, setelah menerima ranselnya yang tadi dibawakan Jeno dari ruang kelas.
"Murid baru itu mendekati Hunnie, dan Hunnie takut padanya, untung ada Nono yang menolong Hunnie." Adu Sehun.
"Kau tidak apa apa kan?" Jongin tampak cemas, ia tadi memang meninggalkan ruang kelas sebentar karena ada sedikit masalah di ruang osis.
Sehun mengangguk.
"Nono..." tawa Jaemin meledak. "Hahaha... kau memang cocok dengan panggilan itu." ia menunjuk wajah Jeno dengan jari telunjuknya.
"Kurasa kalian jodoh, panggilan kalian juga serasi, Nono dan Nana." Komentar Jongin.
"Ish, aku tidak mau dengannya." Jaemin lagi lagi menghentakkan kakinya, ia ingin menjauh dari situ, namun Jeno dengan cepat menarik lengannya dan menahan tubuhnya untuk berada tetap disampingnya. "Apa yang..."
"Ada yang mendekat kemari." Raut wajah Jeno tampak menegang.
"Siapa yang..." Jongin menghentikan ucapannya saat ia melihat tiga orang bertelanjang dada yang mendekat ke arah mereka. Wajah itu... Jongin mengenalnya, mereka orang yang sama yang telah membunuh pamannya 12 tahun yang lalu. "Dia..."
"Kau mengenalnya ?" Jeno menoleh pada Jongin, tampak terkejut. Ia menautkan jemari tangannya dengan jemari Jaemin yang tampak gemetar.
"Dia orang yang membunuh pamanku 12 tahun yang lalu."
"Apa?" Jeno menatap tak percaya pada Jongin.
"Tapi kurasa mereka tidak mengenaliku lagi."
"Jonginie, Hunnie takut..." Jongin mengeratkan tautan tangan mereka, berusaha menenangkan Sehun.
"Apa kau yakin ada halfblood di antara mereka? aku tidak mencium aromanya, Nichkhun-ah."
Yang berdiri ditengah mendengus kesal. "Saat kita tiba di gerbang tengah tadi aku mencium aromanya yang begitu kuat, ku rasa dia berhasil menyembunyikan aromanya." Orang itu, Nichkhun menatap tajam pada ke empatnya.
"Dari pada itu kenapa tidak kau urus anak werewolf itu, Chansung-ah."
"Aku akan mengurusnya nanti, Taecyeon hyung. Kurasa dia hanya serigala lemah."
Orang yang dipanggil Taecyeon menyeringai, ia melangkah maju dan sontak ke empat remaja itu mundur.
"Sialan." Desis Jeno.
"Ada apa?" bisik Jongin.
"Mereka devil hunter, dari bangsa demon. Aku bukanlah tandingan mereka."
"Kalau begitu, kita harus lari saat mereka sedikit lengah." Desis Jongin. Ia melirik pada Sehun yang sudah hampir menangis ketakutan.
Saat itulah angin kencang berhembus dari arah belakang mereka, ketiga orang bertubuh kekar itu menghirup udara dengan rakus, sebelum mata mereka berubah semerah darah.
"Aroma memabukkan ini..." Nichkhun menyeringai mengeluarkan taringnya. Berbeda dengan aroma pertama yang ia cium saat masih di gerbang tadi, ini aroma yang sangat memabukkan. Darah yang begitu wangi, ia bergerak maju, tak sabar untuk mencicipi darah itu.
Angin berhembus lebih kencang lagi dan ketiganya tersentak, aromanya berasal dari dua arah. Half bloodnya ada dua, tapi benarkah ini aroma darah half blood, kenapa wanginya berbeda?
"Ku rasa kita sudah mendapatkannya." Taecyeon ikut maju. Dan saat itulah Jeno menendang selangkangannya dengan kekuatan penuh.
"Ayo lari..." teriaknya.
Keempatnya berlari ke dua arah berbeda, diringi suara erangan kemarahan.
"Ayo kejar mereka, anak kecil itu tak akan pernah lolos dari kita." Nichkhun melesat pergi ke arah di mana Jongin dan Sehun berlari, di ikuti Chansung dibelakangnya, sementara Taecyeon meski masih terlihat kesakitan, ia pun berlari mengejar ke arah Jeno dan Jaemin pergi.
"Sialan... aku akan membunuh werewolf itu begitu ketemu."
Jeno melepaskan ranselnya masih dalam keadaan berlari dan menyerahkannya pada Jaemin. "Nana, apapun yang terjadi ku mohon jangan membenciku."
"Apa maksudmu?" mata Jaemin terbelalak saat Jeno membuka baju seragamnya. "Yak, jangan buka bajumu di saat seperti ini." Ucapnya panik.
Jeno tidak menjawab, ia mengangkat tubuh Jaemin dan membawanya melompati pagar. Saat melompat, Jaemin langsung menjerit ketakutan karena Jeno langsung merubah tubuhnya menjadi seekor serigala berbulu hitam dengan dirinya yang berada di punggung serigala itu. "Jeno..." rasanya Jaemin ingin pingsan sekarang.
0)(0
"Jonginie... Hunnie takut..." Sehun menangis terisak sementara tubuhnya terus berlari karena tarikan dari Jongin.
"Sebentar lagi Hunnie..." Jongin menoleh ke belakang, firasatnya mengatakan kalau mereka masih di ikuti.
"Tapi Hunnie lelah..." Ya, Sehun mulai kepayahan karena mereka sudah cukup lama berlari.
Jongin menatap ke sekitar, dan ia melihat sebuah jalan sempit tak jauh dari mereka. Jongin membawa Sehun kesana. Ya, ia harus berusaha mencari tempat yang berlawanan dengan arah angin kencang yang terus berhembus. Jongin masih ingat ketiga orang itu mengendus udara saat angin bertiup kencang tadi, mereka pasti mengejar mereka dengan mengandalkan bau tubuh. Sial, andai saja aku bisa melindungi Sehun, tapi aku tak bisa.
"Jonginie..."
"Stt, diamlah, mereka bisa menemukan kita nanti." Jongin menarik pelan tubuh Sehun dan membawanya ke sebuah rumah kosong yang sudah rusak dan bagian atapnya hancur. Ia merapatkan tubuh Sehun ke dinding dan ikut berdiri di sampingnya. Posisi mereka cukup strategis karena terhalang banyak tumpukan peti barang bekas. Jongin memejamkan matanya dan berdoa semoga orang orang itu tidak mengetahui keberadaan mereka.
Suara langkah kaki terdengar semakin dekat ke arah mereka, dan Sehun yang gemetar makin merapatkan tubuhnya ke sisi Jongin.
"Kemana mereka?"
"Pasti masih ada di sekitar sini. Jalan ini buntu, mereka tidak akan bisa lari, kecuali melompati pagar tinggi itu."
"Manusia tidak akan bisa melompati pagar setinggi itu. kita harus mencarinya di sekitar sini."
Jongin menahan napasnya saat angin berhembus makin kencang dan menerpa tubuh mereka, tangannya bergerak merangkul pundak Sehun yang nampak kedinginan.
"Mereka di sini, aku mencium baunya."
Deg
Ya Tuhan, apa yang harus ku lakukan?
Jongin melirik Sehun dengan tatapan cemas, hanya sesaat karena ia kembali mengintip ke celah tumpukan peti itu, mencoba melihat kondisi di luar. Keringat dingin mulai mengucur di tubuh Jongin saat ia melihat kedua orang itu makin mendekat ke arah mereka. Apakah ia dan Sehun harus berakhir di sini sekarang?
Tes
Tetesan air jatuh membasahi kening Jongin, dan namja tampan itu lansung mendongak, air kembali jatuh dan kali ini membasahi kaca matanya, hujan telah turun. Hanya sekejap, hujan turun dengan derasnya, membasahi tubuh mereka.
"Hujan sialan..."
"Kita hampir menemukan mereka tapi hujan telah menyamarkan aroma mereka."
"Baiklah, kali ini kalian beruntung anak kecil. Anggaplah aku memberi kesempatan untuk kalian sekali lagi."
Tubuh Sehun merosot turun, hingga jatuh terduduk di lantai yang kotor. Dan Jongin ikut menyusul duduk di sebelahnya.
"Mereka sudah per..." Jongin tidak meneruskan kata katanya, karena saat ia menoleh pada Sehun, saat itu pulan Sehun menoleh ke arahnya, wajah mereka begitu dekat dan hidung keduanya juga hampir bersentuhan. Untuk sejenak, Jongin tertegun, mengagumi betapa sempurnanya wajah Sehun saat di lihat dari jarak begitu dekat. Bibirnya yang merah alami tampak bergetar kedinginan.
Perlahan Jongin mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Sehun. Awalnya hanya menempel, namun Sehun hanya diam, dan Jongin mulai melumat bibir Sehun dengan gerakan lembut. Ini ciuman pertamanya dan Jongin tahu kalau ini pasti juga ciuman pertama Sehun.
Hujan masih terus mengguyur tubuh keduanya, membuat seragam mereka basah kuyup, namun Jongin tak peduli, ia terus melumat bibir atas dan bawah Sehun bergantian. Perlahan tangan Sehun bergerak menempel di punggung lebar milik Jongin sementara bibirnya berusaha membalas lumatan Jongin.
Jongin menggigit bibir bawah Sehun dengan pelan lalu menghisapnya. Bibir Sehun terasa begitu manis dan Jongin menyukainya. Tangannya yang bebas, bergerak pelan, menyusup ke sela kancing kemeja seragam yang Sehun pakai, dan mengusap lembut dada Sehun.
"Ahh... Nini..." Sehun mendongakkan wajahnya saat Jongin melepas ciumannya dan beralih mengecup lehernya.
Jongin tersenyum mendengar panggilan Sehun untuknya, ia kembali mengecup bibir Sehun yang sedikit membengkak. "Sepertinya sudah aman, ayo kita pulang."
Sehun menatap Jongin dengan tatapan sayu, "Hunnie lelah, Nini gendong ya."
Jongin mengangguk, ia mengecup kening Sehun, kedua matanya, pipi chubby nya, hidungnya dan terakhir bibirnya, melumatnya sekilas sebelum kemudian menyatukan kening mereka. "I love you, Sehunie. Mungkin ini terlalu cepat, tapi aku menyukaimu sejak pertama kali aku melihatmu."
Sehun tersenyum lebar, perasaannya menghangat. "I love you too, Nini. Hunnie juga menyukai Nini."
Jongin balas tersenyum, tak memperdulikan tubuh keduanya yang menggigil kedinginan, ia kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Sehun dan menciumnya dengan kelembutan yang ia miliki. Ciumannya itu tidak lama, Jongin kembali menarik diri, ia juga mengeluarkan tangannya dari balik kemeja yang Sehun pakai. "Ayo pulang..."
"Bagaimana dengan Nana?"
"Jeno pasti membawanya pulang dengan selamat." Jawab Jongin. Ia sangat yakin, karena tahu Jeno orang yang kuat.
Jongin berjongkok di hadapan Sehun dan membiarkan Sehun naik ke punggungnya. "Bersabarlah, kita akan pulang sebentar lagi."
"Umm..." Sehun mengangguk di punggung Jongin. Ia mengalungkan tangannya di leher Jongin, mencoba merasakan kehangatan dari tubuh Jongin, walau ia tau itu percuma saja karena tubuh keduanya yang sama sama basah kuyup.
0)(0
"Omo, apa yang terjadi ?" Minseok memekik kaget melihat anaknya datang dengan tubuh basah kuyup dan dengans eorang namja cantik yang terlihat pucat digendongannya.
"Eomma, bisakah bertanyanya nanti saja, Sehunie sudah kedinginan."
"Sehun..." Minseok menatap namja cantik itu, lalu menoleh pada Jongin. "Kenapa kalian basah kuyup begini, ayo bawa dia ke kamarmu Jongina, dia perlu berendam di air hangat."
"Aku akan menjelaskan nanti pada eomma." Ucap Jongin sambil membawa Sehun naik ke lantai atas di mana kamarnya berbeda. Jongin sengaja membawa Sehun pulang ke rumahnya karena ia tak mungkin membawa Sehun kerumah namja cantik itu saat keadaannya seperti ini.
"Aku akan menyiapkan air hangat untukmu." Jongin menurunkan Sehun dari gendongannya saat keduanya berada di dalam kamar.
Sehun tidak menjawab, ia duduk bersandar di lantai kamar mandi, memperhatikan Jongin yang sedang menyiapkan air hangat untuknya.
"Airnya sudah siap." Sesaat kemudian Jongin menoleh pada Sehun dan tersenyum. "Mandilah sebelum airnya berubah dingin."
Sehun memandang ke arah bathub dan Jongin bergantian. "Nini yang mandikan Hunnie kan?" tanyanya polos.
"Ehh..." Jongin terkejut, ia memandikan Sehun? hell, saat ciuman tadi saja ia kesusahan mengontrol nafsunya, apalagi memandikan namja itu. sebenarnya apa yang ada dipikiran Sehun sih? "Kenapa aku?"
Sehun mempoutkan bibirnya. "Hunnie biasa dimandikan mommy... Hunnie tidak mau mandi sendiri." Namja cantik itu melipat kedua tangannya di dada.
Jongin menggaruk tengkuknya dengan ekspresi serba salah, bagaimana kalau ia tidak bisa mengontrol nafsunya dan berakhir di tangan Chanyeol yang murka. Sungguh, ia tidak mau kalau itu sampai terjadi. "Hunnie benar benar tidak bisa mandi sendiri? Aku akan menunggu di depan pintu."
"Tidak mau, nanti siapa yang menggosok punggung Hunnie, Hunnie tidak mau mandi sendiri."
"Tapi aku tidak bisa memandikanmu, Sehuna..." karena Jongin junior pasti akan berontak.
"Hiks, tapi Hunnie tidak mau mandi sendiri..." Sehun terisak.
Jongin memejamkan matanya, tak ada pilihan lagi, selain...
"Eomma..." ia berteriak.
Terdengar langkah kaki bergegas menaiki tangga dan sesaat kemudian, pintu kamar Jongin terbuka dari luar, Minseok masuk dan langsung menuju kamar mandi. "Ya Tuhan Jongin apa yang kau lakukan pada Sehun."
"Aku tidak melakukan apapun, eomma." Bela Jongin. "Sehun ingin dimandikan, tapi aku tidak bisa melakukannya dan ia menangis."
Minseok melirik tonjolan di celana Jongin dan ia langsung tersenyum geli, mengerti kenapa anaknya tampak begitu frustasi. "Ya sudah kau mandi saja di kamar lain, biar eomma yang memandikan Sehun."
"Gomawo eomma," Jongin menunduk, mengusak rambut basah Sehun sekali. "Aku akan menunggumu di luar."
Sehun mengedipkan matanya yang berlinang air mata, lalu menatap Jongin dan ibunya bergantian. "Nini... dia tidak menggigit kan, bagaimana kalau Hunnie di gigit..."
Jongin terkikik pelan. "Ya Tuhan sayang, dia eommaku, manusia juga sama seperti kita. Hunnie tidak perlu takut." Setelah menepuk pundak Sehun pelan, Jonginpun berjalan keluar kamar mandi, menyisakan Minseok yang kini berjongkok di hadapan Sehun.
"Sehunie, buka bajunya ya."
Sehun mengangguk, di bantu Minseok ia segera berdiri dari posisi duduknya. Perlahan tangannya melepas satu persatu kancing seragamnya yang basah, Minseok membantunya melepas seragam itu. Tak lama kemudian, Sehun sudah berdiri telanjang di hadapan Minseok yang berdecak kagum melihat lekuk tubuh ramping nama cantik dihadapannya.
"Sekarang Hunnie berendam di air hangat dulu ya."
Sehun kembali mengangguk, sebelum melangkah membelakangi Minseok. Tak menyadari Minseok yang tersentak kaget melihat area belakang tubuh Sehun, bukan pada bokong padat berisinya, tapi pada tatto di leher bagian belakangnya.
Tatto itu ...
Tubuh Minseok gemetar, tatto itu sebenarnya terlihat biasa biasa saja, hanya sepasang sayap dengan ukiran rumit yang menghiasi sepanjang sisinya, tatto yang sama yang ia temukan di buku milik kakak dari suaminya, mungkinkah?
Minseok memejamkan matanya sebelum ia membukanya kembali dan menghampiri Sehun yang berendam di bathub sambil bermain main dengan busa sabun yang ia tuangkan banyak banyak. Ia harus bertanya pada namja manis ini tentang tatto itu.
"Sehunie..."
"Ya, bibi..."
"Tattomu cantik sekali siapa yang membuatnya?"
Sehun meraba belakang lehernya, lalu tersenyum cerah. "Hunnie tidak tau," namja cantik itu meniup busa sabun di telapak tangannya, "Kata mommy, Hunnie itu sudah ada sejak Hunnie kecil, Nana juga punya."
"Nana? Siapa itu Nana?" tanya Minseok lagi.
"Sepupu Hunnie, dia cantik loh bibi."
"Kalian punya tatto yang sama?"
Sehun mengangguk. "Ya, bibi..."
Deg
Bagaimana mungkin bisa ada dua pemilik tatto yang sama? Terlebih lagi anaknya berhubungan dengan salah satu pemilik tatto itu? dengan jari yang gemetar, Minseok mengelus tatto itu pelan.
Jongina, apa kau sanggup ?
Di kamar mandi yang lain, Jongin tengah menatap telapak tangannya di bawah guyuran air dari shower. Ingatannya melayang pada saat ia mencium Sehun dan tak sengaja melihat tatto di belakang leher namja yang baru saja menjadi kekasihnya itu.
"Sehun... sebenarnya siapa dirimu? Kenapa aku merasa seperti ini?"
Jongin melirik pergelangan tangannya, ada bekas luka di sana. "Maafkan aku paman... aku mencintainya... aku akan bertaruh nyawa untuk mempertahankannya disisiku."
Jongin memejamkan matanya.
Dan untuk mempertahankannya, aku harus berlatih lebih keras lagi.
.
.
.
.
.
TBC
Review menurun di chapter 2, ceritanya membosankan ya?
Aku pernah bilang ma kakak tersayang, kalau review lebih dari 20, aku akan terus lanjutkan nih ff. Jadi begitu review sudah mencapai target, aku langsung ketik lagi.
So, ada yang berubah pikiran tentang apa dan siapa mereka?
And, untuk yang galau galau ria tentang berita yang akhir akhir ini banyak beredar, cobalah untuk melihat dengan pikiran lebih jernih dan kau akan temukan jawabannya. #smile
For kak aty, ini ff keknya kebawa emosi karena kelamaan nunggu film itu tayang and ending season 2 yang menyebalkan, hampir sama frustasinya nunggu Jongin share foto mbul ganteng, tapi pasrah aja sih, karena nunggu dia share foto rahee aja lamanya minta ampun #plakk
Salam damai kaihun shipper
Syakila8894
