THE HALF BLOOD VAMPIRE 2 ( Chapter 4)

Cast : Kai, Sehun, Jeno, Jaemin

Pairing : KaiHun, NoMin

Makasih banyak untuk yang udah ninggalin jejak di ff ini. I love u all. Ini mungkin part yang sedikit banyak menentukan nasib ke empat tokoh utama plus memperjelas lagi siapa dan apa mereka.

Syakila8894

.

.

.

.

.

"Selesai..." Minseok bertepuk tangan saat selesai memandikan dan memakaikan pakaian untuk Sehun.

"Hunnie boleh bertemu Nini tidak bibi ?" tanya Sehun semangat, saat Minseok menaburkan bedak bayi yang entah ia dapat dari mana ke wajah putih Sehun.

"Tentu saja sayang, Jongin pasti sudah menunggumu di bawah."

Begitu selesai mengatakan itu, Minseok menuntun Sehun keluar dari kamar Jongin dan membawanya ke ruang tengah tempat anaknya dan juga suaminya tengah bersantai dengan segelas kopi di tangan masing masing.

"Nini..."

Uhukkkk

Jongin menyemburkan kopi yang ada di mulutnya saat melihat tampilan Sehun. Ia melotot pada ibunya yang duduk dengan raut wajah tak bersalah di samping ayahnya.

"Eomma... Kenapa kau memakaikan pakaian seperti ini pada Sehun?"

"Dia tidak membawa pakaian ganti Jongin, kau keberatan dia memakai sweatermu?"

Sehun menunduk memandang sweater merah yang dipakainya, kemudian menoleh pada Jongin. "Nini tidak suka melihat Hunnie memakai baju Nini ya... Hiks... Hunnie minta maaf..."

"Bukan begitu sayang..." Jongin gelagapan sendiri di pelototi eommanya. Ia segera menarik tangan Sehun dan mendudukkan tubuh kurus itu di sampingnya. "Aku tidak keberatan kau memakainya." Tangan Jongin tergerak untuk menghapus air mata yang mengalir di pipi mulus Sehun.

"Lalu kenapa Nini terlihat tidak suka ?" Sehun cemberut.

"Karena Hunnieku yang cantik, kenapa tidak memakai celana, hmm...?"

"Ini..." Sehun melirik ke kakinya. "Celana Nini tidak ada yang pas. Kebesaran semua di badan Hunnie."

Jongin mengerang pelan. "Tapi kenapa tidak memakai bokser saja sayang..." Hell, hanya memakai atasan sweater dan celana dalam di hadapannya, Jongin jadi tidak yakin ia bisa mengontrol nafsunya lebih lama lagi, dan yang lebih parah sesuatu yang ada di dalam dirinya mulai bergejolak. Kalau ia tidak berhasil menekannya, sia sia saja ia berlatih keras setiap hari.

Chen yang sedari tadi memperhatikan anaknya, kini mulai sedikit khawatir melihat mata sekelam malam Jongin kadang berubah menjadi berwarna orange. "Siapa dia Jongin?"

Berhasil. Sepertinya ucapan ayahnya membuat Jongin kembali sadar sepenuhnya. "Dia kekasihku, appa."

Jongdae menatap Sehun sekilas, namja cantik itu tengah menunduk sembari berusaha menutupi celana dalamnya dengan sweater yang dipakainya. Ia tersenyum tipis saat anaknya melepas jaket yang dipakainya dan menutupi paha Sehun dengan itu. "Apa dia anak dari orang yang kau minta aku menghubunginya tadi?"

Jongin mengangguk.

"Anakku, bisa kita bicara berdua, sebentar?"

Jongin menoleh pada Sehun yang sibuk makan puding yang disodorkan Minseok padanya, lalu mengangguk, "Baiklah, appa ingin kita bicara di mana?"

"Di ruang kerjaku saja."

"Sayang, sebentar ya." Bisik Jongin di telinga Sehun, sebelum ia mengikuti langkah appanya ke ruang kerja namja itu.

"Apa kau yakin ingin berhubungan dengannya?"

"Appa sudah tahu?" Jongin balik bertanya.

"Ibumu sudah memberitahukannya padaku. Tatto itu... dia mempunyai darah yang akan diperebutkan oleh para makhluk immortal, Kim Jongin. Apa kau sanggup menjaganya?"

"Aku akan berusaha semampuku, appa?"

"Dan meskipun itu artinya kau akan kehilangan nyawamu?"

Jongin terdiam.

"Nak, selama 16 tahun ini, kita berdua tahu, kau berusaha keras untuk menekan agar dia yang ada di dalam aliran darahmu itu tidak muncul dan mengacaukan segalanya. Jangan hanya demi bocah itu, kau rela kehilangan segalanya."

"Appa... aku mencintainya..." ucap Jongin lirih.

Jongdae memejamkan matanya sejenak, saat ia membukanya kembali, tatapannya berubah menjadi sendu. "Hanya jika kau berjanji akan terus berlatih dan menekan agar dia yang ada di dalam tubuhmu tidak keluar, appa akan membiarkanmu melakukan apa yang kau mau."

"Pasti appa..." Jongin menunduk, tangannya sedikit mengepal. Maafkan aku appa, andai kau tahu apa yang terjadi padaku dulu, kau akan mengerti kenapa sangat sulit bagiku untuk menekan 'dia' agar tidak muncul, karena...

"Sayang, orang tua Sehun sudah datang."

Jongdae menepuk pundak Jongin sekilas. "Pikirkan sekali lagi, nak. Appa hanya ingin yang terbaik untukmu."

Jongin termenung di tempatnya berdiri, sungguh ini pilihan yang cukup berat untuknya, tapi ia tidak menyesal telah memilih Sehun menjadi calon pendampingnya, kekasih hatinya. "Aku akan berjuang mempertahankanmu, Sehuna..."

Saat Jongin kembali ke ruang tengah, ia melihat ayahnya tengah berhadapan dengan Chanyeol, ayah Sehun. keduanya tampak tegang.

Jongin perlahan mendekati ibunya dan berdiri di sampingnya. "Apa yang terjadi, eomma?"

"Ayah sehun datang dan sepertinya ia marah pada kita."

Jongin menghela napas panjang, apa keputusannya membawa Sehun kemari sudah salah?

"Ahjushi...?"

"Kim Jongin... apa yang kau lakukan pada putraku?" tatapan Chanyeol padanya terlihat begitu menakutkan.

"Kami kehujanan, dan aku sengaja membawanya kemari, karena aku pikir Sehun akan demam nantinya kalau..."

"Apa yang terjadi di sekolah tadi sore?"

"Ehh..." Jongin mengerjapkan matanya, sedikit terkejut dengan pertanyaan Chanyeol.

"Ada sesuatu yang kau sembunyikan bukan?" Chanyeol melirik pada Sehun yang tertidur dipangkuan istrinya sebelum kembali menatap Jongin. "Nana juga belum kembali, pasti telah terjadi sesuatu bukan?"

Jongin menatap ayahnya sejenak, Jongdae hanya bisa mengangguk dan akhirnya Jongin menceritakan kejadian tadi sore pada ayah dari kekasihnya itu.

"Siapa mereka?"

"Jeno bilang kalau mereka adalah demon hunter."

Chanyeol berdeham pelan, lalu kembali melirik pada anaknya dengan resah. "Aku tak tahu harus mengatakan apa padamu, kalau kau memang benar manusia biasa, lebih baik menjauhlah dari putraku. Kau tak akan sanggup menjaganya."

"Ini tidak adil bagiku ahjushi, kau membiarkan Nana dekat dengan Jeno dan meminta aku menjauhi Sehun?"

"Bagaimana caramu menjaga anakku dari orang orang yang mengincarnya?"

Jongin terdiam.

"Lagi pula, Jeno seorang werewolf, aku sudah menyelidikinya, dia seorang calon alpha. Aku yakin Nana akan lebih aman kalau berada di dekatnya.

"Tunggu, apa kau juga menyelidiki tentang anakku?" Jongdae tampak tidak terima dengan ucapan Chanyeol.

"Tentu saja, demi keselamatan anakku, aku harus menyelidiki siapa yang dekat dengannya bukan?"

"Ahjushi, tidak bisakah kau tetap membiarkan aku dekat dengan Sehun? aku mencintainya..."

"Cinta saja tidak cukup Jongina, fakta bahwa kau berhasil membawa pulang anakku hari ini, belum bisa menjadi jaminan kau akan bisa menjaganya dihari yang lain. Atau kau dan keluargamu menyembunyikan sesuatu dariku? Kurasa kalian juga bukan manusia biasa, mengingat kau yang tau banyak tentang makhluk immortal."

"Aku tidak menyembunyikan sesuatu darimu ahjushi, kau tau pasti siapa aku..."

Chanyeol memandang tubuh Jongin sekilas. "Ya, kau memang mempunyai darah yang normal seperti manusia, detakan jantungmu juga stabil..."

"Berhenti mencurigai anakku." Sela Jongdae. "Kau kesini ingin membawa pulang anakmu pulang kan. Bawalah... aku dan keluargaku tidak akan melarangmu."

"Ya, aku akan membawanya pulang."

Tatapan Chanyeol dan Jongdae kembali bertemu. "Ku rasa kau harus lebih berhati hati menjaga anakmu itu, Park Chanyeol."

Chanyeol menyeringai, "Dari pada itu bukankah lebih baik kau urus Jongin supaya bisa menjadi hunter yang hebat, Kim Jongdae. Aku tau dia punya bakat itu..."

"Kau tau banyak soal aku juga ya..."

"Manusia pemburu vampire hanya ada beberapa orang dan ku dengar saat pertempuran di hutan beberapa tahun silam, hanya ada satu orang yang selamat dan itu kau bukan?"

Chanyeol menoleh pada Jongin. "Jadilah lebih kuat kalau kau ingin berada disisi putraku."

"Aku mengerti..."

0)(0

Jeno menatap ke arah Jaemin dengan tatapan sendunya. Sudah lima belas menit sejak ia berubah kembali menjadi manusia dan sejak itu pula Jaemin tidak mau mendekat padanya, tak hanya itu saja, namja manis itu juga enggan menatap ke arah dirinya.

"Jae..."

"Jangan bicara padaku... aku membencimu..."

"Kenapa...?"

Jaemin hanya diam dan terus menunduk.

"Apa karena aku berbeda?"

Masih tak ada jawaban.

"Jika memang boleh memilih, aku juga tak ingin dilahirkan seperti ini, tapi... aku tak bisa merubah takdir hidupku..."

"Kau benar benar manusia serigala?"

Jeno mengangguk, ia memilih jujur kali ini, ia ingin kalau Jaemin memang memiliki rasa yang tulus padanya, namja itu akan tetap bersamanya. Tapi kalau tidak? Jeno mungkin lebih memilih pergi, ia tak ingin memaksakan kehendaknya sendiri, walau Jaemin adalah matenya.

Jaemin tertawa lirih. "Jadi karena itu, aku tak pernah tahan berada di dekatmu." Namja itu memeluk kedua lututnya sendiri, berusaha mengusir rasa dingin yang kian menusuk.

"Jae..."

"Panggil aku Nana saja..." gumam Jaemin.

"Baiklah, Nana... apa... apa kau benar benar membenciku?"

"Bukankah sudah jelas, aku membenci semua makhluk berbulu, termasuk dirimu."

Jeno tersenyum pedih, ia langsung di tolak ya. Ada goresan yang tak kasat mata menggores tepat di jantungnya. Tanda penolakan dari mate. Jeo memejamkan matanya, berusaha menahan perih itu, ia harus kuat, agar bisa melindungi Jaeminnya, karena para demon itu pasti akan terus mengejar mereka. tak peduli, Jaemin akan terus menolaknya dan menambah goresan luka di jantungnya, ia akan melindungi namja itu sampai akhir.

"Begitu ya..."

"Menjauhlah dariku... aku tak ingin kau mendekatiku lagi... aku benci dirimu... aku benci kaummu..." Jaemin menangis.

"Nana..."

"Aku bilang pergi... dan jangan pernah muncul lagi dihadapanku..." Jaemin menjerit, tak sadar kalau penolakannya itu telah membuat goresan baru lagi dijantung Jeno. Jeno meletakkan tangannya di dada, merasakan sakitnya di bagian sana.

"Aku tidak menginginkanmu... jadi menyingkirlah dari hidupku."

Dengan berakhirnya ucapan itu, Jaemin melangkah pergi dari tempat itu, sementara Jeno terjatuh berlutut di tanah, tangannya mencengkeram bagian dadanya sembari terbatuk.

'Ternyata seperti ini ya rasanya di tolak seorang mate? Jaemina... aku tak tau seberapa lama aku akan bertahan, karenamu...'

Dengan tangannya yang gemetar, ia mengusap darah yang merembes di sela sela bibirnya. 'Aku telah berjanji untuk melindungimu... dan aku akan menepati janjiku...'

Jaemin terus melangkah dengan langkah gontai menuju rumah Sehun. Sesekali ia menghapus air mata yang terus berjatuhan di pipinya. "Hiks... kenapa harus makhluk itu... kenapa..."

"Ya Tuhan, Nana..."

Saat Jaemin tiba di rumah Sehun, ia langsung di sambut pelukan khawatir milik Suho.

"Hiks... bibi..."

"Kau tidak apa apa sayang?"

Suho dengan cepat memeriksa tubuh Jaemin, ia sedikit mendesah penuh kelegaan saat tidak menemukan tanda tanda kekerasan ataupun bekas luka di tubuh Jaemin.

"Bibi..."

"Ya sayang..."

"Hiks... Jeno..."

"Kenapa dengan Jeno..." Suho mengedipkan mata pada suaminya yang ingin melangkah mendekat dan Chanyeol yang paham segera menghentikan langkahnya dan memilih mendengarkan ucapan istri dan juga keponakannya.

"Dia... dia... manusia serigala bibi..."

Suho tampak terkejut, karena Jaemin sudah mengetahuinya. "Itu tidak mungkin sayang..."

"Tapi Nana melihatnya bibi... dia berubah dihadapan Nana..."

Suho menggigit bibirnya. "Kau tidak menolaknya bukan, maksud bibi kau tidak memintanya untuk menjauhimu kan?"

"Nana melakukannya bibi... dia ... hiks... Nana membencinya..."

Oh Tuhan, ini buruk...

Suho berpandangan sejenak dengan Chanyeol. Keduanya tampak cemas. "Sayang, kau sebaiknya mandi dan setelah itu pergilah ke kamar dan tidur bersama Hunnie."

"Hunnie sudah datang?"

Suho mengangguk.

Jaemin melepaskan pelukannya. "Baiklah bibi, aku ke kamar dulu." Pamitnya.

"Ini tidak baik..." gumam Suho saat Jaemin sudah pergi ke kamarnya.

"Ya... entah bagaimana nasib Jeno sekarang." Balas Chanyeol, ia menuntun istrinya untuk duduk di sampingnya di sofa panjang.

"Sayang, tak ada kah yang bisa kita lakukan untuk mereka?"

Chanyeol menggeleng, "Kau tau persis siapa Nana... hanya dia yang bisa mengobati Jeno dan bukan kita..."

"Tapi kalau Jeno terluka... bagaimana kita akan melindungi anak kita dan juga Nana? Awalnya aku pikir kita bisa mempercayakan Nana pada Jeno, karena ia seorang calon alpha. Tapi werewolf yang ditolak oleh calon pasangannya bahkan lebih buruk dari seorang omega."

"Aku tau... andai saja Jongin bukan seorang manusia biasa, mungkin dia akan bisa membantu kita..."

"Tapi bukankah kau sudah memastikan kalau dia manusia?"

Chanyeol mengangguk, "Sebenarnya aku juga masih agak ragu, karena aku dapat merasakan ada sesuatu di dalam diri Jongin, sesuatu yang begitu kuat, entah apa itu."

"Apa mungkin dia half blood?"

"Bukan... dia bukan half blood..."

"Lalu apa..."

Chanyeol menggeleng, "Ia terlalu cerdas untuk seorang manusia, terlalu lemah untuk seorang vampire, terlalu tenang untuk seorang demon. Hanya ada satu kemungkinan yang terpikir olehku."

"Apa itu?"

"Mungkinkah dia keturunan dari seorang angel?"

Suho tampak melamun. "Bisa jadi, karena ibunya bahkan hampir setenang dirinya."

"Dan kalau itu benar, juga tidak akan merubah apa apa... kita dan para angel bukanlah tandingan demon..."

"Kita bisa melatih Nana dan Hunnie juga bukan, supaya mereka bisa sedikit menjaga diri mereka sendiri."

"Aku meragukan itu, kau tau bagaimana manja dan cengengnya anak kita dan Nana... meski terlihat sedikit lebih dewasa, namun sifatnya sama saja dengan anak kita."

Suho nyengir. "Ku rasa kau benar."

Chanyeol memeluk tubuh Suho dan mengecup keningnya. "Berdoalah ada seorang malaikat yang akan turun dan menjaga keduanya dengan sepenuh hati." Karena aku tak yakin, kita akan menang dari para vampire dan demon...

0)(0

"Apa yang seorang monster lamunkan?"

"Hyung... jangan memanggilku seperti itu?" Jongin menatap tidak suka pada orang yang memanggilnya dengan panggilan monster.

"Hanya untuk mengingatkan dirimu, bahwa kau tak sendirian, ada yang lain di dalam tubuhmu." Orang itu, Gao Taiyu, pelatih Jongin sedari ia kecil.

Jongin hanya diam.

"Ku dengar kau sudah memiliki kekasih."

"Kau memata mataiku?"

"Tidak juga, aku kebetulan berada di sekitar sana, saat itu. Menjagamu..."

"Hyung..."

Taiyu mengangkat satu tangannya ke atas menghentikan ucapan Jongin. Ia melangkah maju dan berhenti tepat di hadapan Jongin. "Kau mungkin bisa menekan kekuatan ini..." ia menepuk dada sebelah kiri Jongin. "... Dengan bantuan darah manusiamu..." Tatapannya tertuju pada bagian tengah dada Jongin. "Tapi kau tak akan bisa mengontrol dan menekan kekuatanmu yang ini..." telunjuknya mengarah pada dada kanan Jongin. "Aku tak bisa untuk tidak mengawasimu Kim Jongin, terlalu berbahaya kalau anak itu berada di dekatmu kalau kau tidak bisa mengontrol sesuatu yang ada di dalam dirimu..."

"Apa itu artinya aku harus menjauhi Sehun ?"

Taiyu mengangguk.

"Tapi aku mencintainya hyung..."

"Aku tahu... Tapi bagaimana kalau kau secara tidak sadar menyakitinya ?"

Jongin menunduk. Tangannya menekan dada kanannya dengan kuat. "Tak bisakah aku hanya terus menjadi manusia biasa ?"

"Tidak..."

"Tapi kenapa harus aku yang menerima ini semua hyung ?"

"Maafkan aku, hanya itu satu satunya cara yang terpikir saat itu untuk menolongmu dari demon."

"Taiyu hyung... Sehun... Kekasihku dia punya tatto yang sama denganku..."

"Maksudmu ?"

"Dia juga mempunyai tatto yang sama denganku. Apa itu artinya hyung ?"

Taiyu memejamkan matanya. "Pemilik darah yang diinginkan para makhlul immortal ya. Ini akan sangat merepotkan untuk menjaganya." Taiyu memandang wajah Jongin lekat lekat. "Dan kau tak bisa melakukannya jika tetap mempertahankan darah manusiamu."

"Hyung... Dia mate ku kan ?"

"Kau sudah mengetahuinya sendiri."

"Dan untuk bisa bersamanya kau bilang aku..." Jongin tampak resah.

"Musuh kekasihmu orang orang yang kuat Jongina. Kau beruntung punya darah manusia di tubuhmu, karena itu ada kemungkinan kau bisa melakukannya. Karena... Pilihan untukmu hanya ada dua..."

"Apa itu...?"

"Membiarkan salah satu dari keduanya menyatu dengan darah manusiamu dan membuang yang lain."

"Itu artinya, latihanku selama ini sia sia," gumam Jongin. "Lalu apa yang satu lagi hyung ?"

"Menyatukan keduanya... Dan itu artinya kau harus membuang darah manusiamu."

Jongin memejamkan matanya. "Ku rasa bukan hanya itu resikonya kan hyung ?"

"Ya..." Taiyu menoleh ke arah lain. "Kau akan kehilangan kekasihmu."

Jongin masih setia memejamkan matanya.

"Dan aku akan menjadi monster sepenuhnya."

"Kau akan memiliki kekuatan yang sangat besar sebagai ganti kehilangan tanda mate mu." Taiyu menepuk pundak Jongin, pelan. "Pikirkan dengan matang apa yang kau inginkan. Aku akan siap membantumu..." setelah mengucapkan itu, Taiyu menghilang dari hadapan Jongin.

'Demi Sehun, aku akan melakukan apapun hyung... aku pernah kehilangan orang yang aku sayangi sebelumnya... kali ini aku akan menyelamatkannya... meskipun harus mempertaruhkan semuanya...'

Jongin membuka matanya, secara perlahan sulur sulur berwarna hitam muncul dari belakang lehernya, terus turun dan membentuk lambang sepasang sayap yang memenuhi seluruh punggungnya. Tanda yang sama dengan Sehun, dan begitu lambang itu terbentuk sempurna, kedua bola mata Jongin berubah, biru untuk sebelah kiri dan orange untuk sebelah kanan.

"Maafkan aku hyung... demi menyelamatkan Sehun, aku akan makin merepotkanmu..."

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Annyeong... ini keknya bakal jadi chap yang membosankan karena momen mereka ga ada. Hehe... tapi aku harus menyesuaikan cerita dengan alur yang aku buat, ga selamanya mereka harus melakukan momen saat konflik di mulai...

Dan maafkan aku jika rada terlambat untuk update. Maklum lah awal bulan kerjaan numpuk #plakk maunya sih cepat... biar ide di otak ga ilang, tapi mau gimana lagi, aku jadi sering lembur karena kerjaan.

Demi apa, aku dua hari ini dibuat ngakak mulu ma kelakukan ongen alay, duh... filternya bisa dikurangin ga bang... itu idung ampe ga keliatan #plakk

Beberapa hari ini juga malas banget on, karena yah... selalu ada permasalahan para shipper yang lewat di TL. Hahaha... tapi yang hari ini lumayan menarik untuk aku komen dikit, soal foto yang di share ma Sehun taon lalu dan orang yang menjadi objek foto itu siapa? Aku mikirnya realistis aja, kalo yang di korea sana aja bilang bukan lalu kenapa yang disini bilang ya? Padahal secara perbandingan, kita yang disini paling banyak hanya melihat dari foto dan video, fans di korea sana bisa lihat mereka langsung ga hanya dari tv tapi juga saat fanmeet ataupun promosi, jadi kenapa yang disini ngotot ? ah, mungkin mereka punya bukti yang kuat ya dan aku belum liat bukti itu…. bisa jadi sih...

For kak aty... itung mundur sampe tanggal 18, filmnya rilis. Kyaaaa... n jangan lupa ff barunya, killa tunggu...

Jangan lupa ya, meskipun ini jelek, tolong bantu dengan review agar killa tetap semangat bikinnya...

Salam damai kaihun shipper

Syakila8894