THE HALF BLOOD VAMPIRE 2 ( Chapter 5 )

Cast : Kai, Sehun, Jeno, Jaemin

Chapter 4 isinya terlalu berat ya? Maafkan aku ya, itu juga ngetiknya dengan bolak balik delete n kemudian ketik lagi, mau nyari yang sesuai n bisa sedikit di pahami. Karena terus terang kalau ff dengan tema fantasy kek gini, khayalan ku terlalu tinggi... Kalau kata momma Jennie sih ide fantasy aku itu terlalu liar #plakk makanya nyoba dikurangin, tapi tetap ga bisa n hasilnya ya gitu, absurd banget.

Untuk bocoran siapa dan makhluk apa tiap karakter utamanya, seiring bertambahnya chapter, semua akan terjawab kok.

Dan... chapter ini sedikit banyak akan lebih menitik beratkan pada penyelesaian masalah NOMIN, jadi mungkin akan lebih banyak part NOMIN dibanding KAIHUN. Kenapa aku bikin kek gitu? Jawabannya simple, karena setelah masalah NOMIN kelar, masalah akan berpusat pada tokoh utama yaitu KAIHUN.

dan soal NOMIN... aku penyuka couple mereka juga, jadi maaf ya kalau ada yang ga berkenan mereka menjadi cast ff aku di sini. #SMILE

no edit, mungkin banyak typo bertebaran.

Syakila8894

.

.

.

.

.

"Kau baik baik saja ?"

Satu pertanyaan dari orang yang tiba tiba saja muncul di depan pintu kamarnya membuat Jeno mengurungkan niat untuk berbaring di tempat tidurnya.

"Ya, aku baik baik saja." Jeno mengisyaratkan pada Jongin untuk mendekat dan kemudian duduk disampingnya.

"Kurasa tidak... Kau tampak lebih pucat dari biasanya. Setahuku kaum werewolf tak akan pernah terkena demam meski harus kehujanan untuk waktu yang cukup lama."

Jeno menghela napas, lelah. "Kau lebih pintar dari yang ku duga." jemarinya perlahan membuka kancing kemejanya hingga sebatas perut dan Jongin terkesiap kaget melihat guratan hitam di dada Jeno.

"Jaemin menolakku dan ia bahkan mengusirku."

"Bagaimana bisa, apa ia mengetahui siapa dirimu."

"Demon itu terlalu dekat di belakang kami, dan aku tak mungkin bisa membawa Jaemin berlari dengan cepat kalau tubuhku tetap menjadi manusia, karena itu aku berubah di hadapannya."

Jongin menatap dada Jeno yang menghitam, pasti sangat menyakitkan bagi seorang werewolf yang ditolak pasangannya. Apa ia juga akan merasakannya saat Sehun menolaknya setelah tau siapa ia sebenarnya?

"Ironis bukan, aku menolong nyawanya dan sebagai balasannya ia membuatku perlahan kehilangan nyawaku."

"Apa dia tau resiko untuk seorang werewolf yang di tolak?"

Jeno berdehem pelan, "Kurasa tidak, karena ia menolakku beberapa kali."

"Kalau orang tua Sehun mengetahuinya, kurasa masih ada kemungkinan kau selamat."

"Apa maksudmu?"

"Orang tua Sehun... Mereka dari kaum peri..."

Jeno menggelengkan kepalanya, "Apa Jaemin juga ?"

Jongin mengangguk. "Ya, dia punya tanda yang sama dengan Sehun."

Jeno tertawa miris, "Kalau begitu kecil kemungkinan bagiku untuk bisa bersamanya."

"Lee Jeno, apa yang kau pikirkan?"

"Kau tau, kaum peri memiliki darah yang sangat diinginkan para makhluk immortal, darah mereka bisa menyembuhkan segala luka apapun dan bisa menambah kekuatan, sangat cocok untuk demon dan para vampire yang menginginkan kekuatan untuk melawan seorang half blood."

"Karena itu, aku akan meminta bantuan Jaemin untuk menolongmu."

"Tak perlu, bagi kami kaum werewolf, pantang untuk meminta tolong pada orang yang telah mencampakkan kami." Tolak Jeno.

Jongin menatap Jeno sesaat, "Aku tau, mustahil untuk meminta bantuan pada Sehun, karena bukan dia yang menyebabkan dirimu luka seperti ini, dan bukankah hanya seorang mate yang dapat menyembuhkan luka pasangannya sendiri?"

"Percuma bukan...?"

"Jeno, kalau kau terluka seperti ini, bagaimana kau bisa melindungi Jaemin dari para demon."

"Ada dirimu..."

"Apa?"

"Aku titipkan Jaemin padamu, bila aku kalah saat melawan demon nanti kuharap kau mau menjaganya untukku."

"Lee Jeno..."

Jeno memejamkan matanya, "Rasanya sangat menyakitkan sekali, Jongin. Aku tak tau berapa lama aku bisa bertahan sebelum benar benar menghilang..."

"Kau pasti bisa bertahan, aku yakin itu."

Jeno menggedikkan bahunya, ia menunjuk ke arah lukanya yang menghitam. "Tak ada penawar untuk ini, Kim Jongin."

"Masih ada Jaemin, ku harap ia cepat menyadari bagaimana buruknya situasi saat ini karena ulahnya."

Dan aku bahkan belum mampu mengendalikan diriku sendiri.

0)(0

"Mommy... dimana jaket Hunnie..."

"Sebentar sayang..." Suho masuk ke dalam kamar anaknya, masih dengan mengenakan kemeja milik suaminya dan dan juga celana pendek.

"Mommy belum mandi?"

Suho nyengir, ia mengambil sebuah jaket berwarna pink dari lemari pakaian anaknya dan ketika ingin memakaikan jaket itu ke tubuh anaknya, Sehun langsung melangkah mundur. "Shireooooo, mommy bau... Hunnie mau sama daddy saja."

"Tapi sayang, daddy lagi mandi, Hunnie sama mommy dulu ya." Bujuk Suho.

"Tidak mau, mommy belum mandi, Hunnie mau sama daddy..." Sehun menggelengkan kepalanya, membuat poninya kembali berantakan.

"Baiklah, kita tunggu daddy sebentar ya." Suho membenarkan poni Sehun yang berantakan dan menepuk pelan pipi chubby anaknya itu.

"Daddy..." Sehun yang tak sabaran kembali berteriak. Uh, ia ingin cepat cepat berangkat ke sekolah dan bertemu kekasih tampannya, tapi kenapa daddy lama sekali baru muncul.

"Iya sayang, ada apa?"

Chanyeol muncul di depan pintu dengan handuk yang masih berada di kepalanya dan tubuhnya yang hanya mengenakan bokser untuk menutupi area pribadinya.

"Hunnie tidak mau kalau aku yang memakaikan jaket untuknya." Ucap Suho.

"Benarkah itu?" chanyeol memandang ke arah anaknya.

Sehun mengangguk, "Mommy bau, belum mandi."

Chanyeol terkekeh pelan, "Tapi mommy tetap cantik kok meski belum mandi." Ia duduk di tepi ranjang Sehun setelah mengecup sekilas pipi istrinya yang merona. "Kemarilah anak daddy yang manis."

Sehun menurut, ia mendekat dan kemudian menyodorkan jaket di tangannya pada ayahnya itu. Dengan hati hati, Chanyeol memakaikan jaket itu ke tubuh Sehun, tak ingin tergesa gesa, karena ia sangat menikmati saat dimana ia bisa mengurus anaknya yang manja.

"Nana kemana sayang?" Chanyeol yang sedang menarik resleting jaket anaknya, sedikit menoleh pada Suho yang mengambil handuk di kepalanya dan sedikit mengusap rambutnya yang masih basah.

"Belum keluar dari kamar mandi, daddy..." bukan Suho yang menjawab tapi Sehun.

"Apa yang dia lakukan di dalam sana?"

"Aku akan memeriksanya. Hunnie kalau sudah lapar, bisa sarapan lebih dulu bersama daddy..."

"Umm, Hunnie memang lapar, mommy..."

"Kalau begitu, Hunnie sarapan saja..."

Sehun mengangguk, tatapannya tertuju pada ibunya yang sedang membuka pintu kamar mandi. "Daddy, Nana kenapa?"

"Apa yang kenapa sayang?"

"Tadi Hunnie lihat, tatto Nana berubah warna merah... tapi setelah itu kembali hitam sih..."

Deg

"Apa Nana merasa kesakitan sayang?"

"Umm..." Sehun mengangguk. "Nana bilang dadanya terasa panas."

Lee Jeno, apa anak itu baik baik saja? Chanyeol tampak sedikit cemas, namun ia berusaha tersenyum pada anaknya. "Hunnie sarapan ya, setelah itu daddy antar ke sekolah."

"Nana bagaimana?"

"Nana tidak bisa masuk sekolah sayang, Nana kan sakit..."

"Tapi..." Sehun ingin protes, tapi ketika bayangan Jongin muncul di benaknya, ia hanya mengangguk. "Baiklah, tapi nanti Daddy jemput Hunnie ya."

"Pasti sayang." Chanyeol mengecup kening putranya lalu memeluknya dengan erat. "Daddy menyayangimu, anakku."

0)(0

"Nana..."

Jaemin mengangkat kepalanya yang terus menunduk. Ia tak merespon apapun hanya terus memandang sendu pada Suho.

"Sayang... Jangan membuat tubuhmu sakit dengan terus berendam seperti ini..." Suho membantu Jaemin turun dari bathub dan membilas tubuhnya di shower.

"Hiks... Aunty..."

Suho membiarkan Jaemin memeluknya karena ia tau Jaemin sangat membutuhkannya sekarang.

"Hiks... Jeno..."

Suho tetap diam, masih mengelus rambut Jaemin yang basah.

"Werewolf... Hiks... Nana membencinya..."

Suho melirik tanda di leher belakang Jaemin sekilas, ia memejamkan matanya, berharap Jeno akan baik baik saja di sana, walau ia tau harapan itu tidak akan pernah menjadi kenyataan.

"Aunty tau sayang..." pasti sangat berat bagi Jaemin untuk menerima fakta bahwa orang yang telah menolongnya adalah dari bangsa werewolf.

"Kenapa harus dia yang menolong Nana. Hiks... Nana benci werewolf..."

Cukup, Suho tidak bisa terus membiarkan Jaemin seperti ini dan menyakiti Jeno, meskipun Jaemin mungkin tidak menyadari hal itu.

"Nana, dengarkan aunty! Tidak semua werewolf itu jahat."

"Tapi werewolf itu sudah membunuh orang tua Nana, aunty."

"Werewolf tidak hanya satu, sayang. Lagi pula bukan Jeno yang melakukannya. Jangan menghukumnya sejauh ini sayang, Jeno tidak bersalah." Suho mengecup kening Jaemin. "Aunty tidak ingin kau menjadi seorang pembunuh."

"Hiks... Apa maksud aunty ?"

"Ganti pakaianmu, setelah itu temui aunty di luar."

"Baik aunty..."

Suho menatap keponakannya itu dengan tatapan sendu, kematian kedua orang tuanya secara tragis tepat dihadapannya tentu membuat anak itu trauma. Tapi Suho tak bisa terus membiarkannya, demon sudah mengetahui keberadaan mereka dan Jaemin jelas membutuhkan sosok pendamping yang setia melindunginya, Suho tahu hanya Jeno yang bisa melakukannya. Anak itu memiliki ikatan yang kuat dengan Jaemin, akan sangat disayangkan kalau hanya karena rasa trauma Jaemin, ikatan itu terlepas. Suho harus menyadarkan Jaemin secepatnya.

0)(0

Sepagian ini, Sehun merasa seperti orang yang sedang tersesat di jalan. Tak ada Nana disampingnya dan yang lebih parah dari itu, Jongin dan Jeno juga tidak datang ke sekolah. Ia merasa kesepian.

Hingga waktu bel tanda waktunya pulang sekolah, berbunyi. Sehun baru merasa sedikit lega, ia bergegas keluar dari ruang kelas. Namun baru beberapa langkah ia meninggalkan kelasnya, langkahnya harus terhenti karena ada tangan sedingin es yang mencekal lengannya. Keringat dingin langsung menetes di leher Sehun, ia ketakutan.

"Kenapa buru buru Sehuna?"

"I.. Itu, orang tua Hunnie..."

"Sepertinya mereka belum datang menjemputmu, ayo ikut denganku."

Sehun menoleh kesana kemari, tidak ada lagi murid yang tersisa, apa yang harus ia lakukan.

"Ayo..." orang itu, Kim Myungsoo menarik paksa tangan Sehun.

"Hiks... Hunnie tidak mau..."

"Kenapa kau cengeng sekali sih, apa kau takut padaku ? Aku tidak akan memakanmu..."

Sehun menggeleng, dengan air mata yang berlinang dipipinya. "Hiks... Hunnie tidak mau..."

"Ayo ikut..."

"Tidak mau... Hiks... Nini tolongin Hunnie..."

"Tak ada orang lain disini Sehunie, hanya ada kita berdua yang..."

Bugh

Cekalan tangan Myungsoo terlepas dan ia terlempar jauh ke belakang.

"Hiks..." Sehun jatuh terduduk di lantai sementara di depannya telah berdiri dua orang yang melindunginya.

"Jangan pernah kau sentuh tubuh Sehun..." Geraman bernada rendah itu hanya di balas senyuman sinis dari Myungsoo.

"Manusia lemah sepertimu dan seorang werewolf yang sedang sekarat mencoba menjadi seorang pahlawan... Jangan mimpi..." Dalam sekejap mata Myungsoo berubah merah dan taringnya memanjang.

Sehun menjerit ketakutan melihatnya.

"Jongina, kau lindungi Sehun, biar aku yang melawannya."

"Tidak, biar aku sendiri yang menghadapinya."

"Tapi kau..."

Jongin melangkah maju dengan tenang setelah mengisyaratkan pada Jeno untuk mundur. "Ya, aku mungkin hanya manusia yang lemah..." Jongin membuka kacamatanya dan menyimpannya di saku kemeja yang dipakainya. "Tapi aku juga bisa jadi kuat kalau kau mengusik milikku..."

"Kau..."

Tak hanya Myungsoo yang terkejut tapi juga Jeno.

"Half Demon... bagaimana mungkin... tak ada orang yang seperti itu..." Myungsoo mundur selangkah, sedikit gentar melihat mata orange Jongin yang menatapnya tajam.

"Kenapa... bukankah bangsamu percaya kalau half blood vampire itu ada? Lalu kenapa kau tidak percaya kalau half demon itu ada..." Jongin menyeringai.

'Pantas aku merasa auranya berbeda... kau pandai menyembunyikan jati dirimu Kim Jongin' Jeno menatap sahabatnya itu lalu tersenyum.

"Wah, apa sedang ada pertemuan para makhluk immortal disini."

"Sialan..." Desis Jeno saat menyadari kehadiran tiga orang demon di hadapan mereka.

"Jeno-ya, bawa Sehun pergi disini, biar aku yang menghalangi mereka."

"Tidak mau..." Sehun yang mendengar itu langsung menolak.

"Sayang, dengar.. ini sangat berbahaya untukmu..." Jongin menoleh sejenak pada Sehun sebelum kembali fokus pada ke empat orang yang telah bergabung di hadapannya.

"Tidak mau, Hunnie mau pulang kalau sama Nini..." Meski sempat terkejut melihat warna kedua pupil Jongin yang berubah, Sehun tetap menolak.

"Hahaha... lebih baik kau dengarkan apa kata kekasihmu itu, berlarilah seperti seorang pengecut..." Nichkhun menatap Jongin dengan pandangan menghina. "Seorang half demon tak akan pernah mampu melawan demon sesungguhnya, bocah."

"Kita tak akan pernah tau sebelum mencobanya bukan?"

"Jangan pernah bertingkah sombong dihadapanku bocah." Taecyeon menggeram, lalu dengan kecepatan yang luar biasa ia menyerang Jongin.

Jongin berlari dengan sigap sebelum kemudian melompat di atas kepala Taecyeon, ia mendarat tepat di belakang demon itu dan langsung menendangnya dengan kekuatan penuh. Demon itu terlempar jauh ke tengah lapangan sepak bola.

Disisi lain, Nichkhun dengan gerakan yang sangat cepat, bergerak dari arah belakang, mencoba menyergap Sehun, namun Jeno yang menyadari itu langsung melompat, merubah tubuhnya menjadi serigala dan melindungi tubuh Sehun hingga dirinya lah yang terkena terkaman Demon itu, keduanya berguling guling di tanah, menyisakan Sehun yang menganga, shock dan ketakutan.

Jeno yang masih dalam mode werewolfnya meraung kesakitan saat demon itu berhasil melukai kaki depannya, ia mencakar wajah demon itu sebelum berhasil mundur.

Jongin yang melihat itu segera berlari mendekat, namun tubuhnya sudah lebih dulu dihalangi Chansung dan Myungsoo. Sebelum ketiganya sempat saling serang, sesosok tubuh lain muncul dan dengan gerakan kilat sudah melempar tubuh Myungsoo dan Chansung ke tempat yang sama dengan Taecyeon berada.

Ketiga demon dan satu orang vampire itu bersiap menyerang kembali, namun mereka kalah cepat dengan orang itu yang sudha menghilang membawa serta Jongin, Sehun dan juga werewolf Jeno yang terluka.

"Sial..."

"Siapa dia?"

Tak ada yang tahu jawabannya karena mereka tidak sempat melihat wujud orang itu. Yang jelas, siapapun dia, dia telah berhasil membawa kabur buruan mereka.

0)(0

"Uhukk..."

Jeno yang sudah berubah kembali ke wujud manusianya, langsung terbatuk, mengeluarkan darah dari mulutnya.

"Lee Jeno.." Jongin mendekati sahabatnya itu dan menyandarkan tubuh lemah Jeno pada tubuhnya.

"Luka di lengannya mengandung racun... kita harus mengobatinya..."

Jongin mendongak dan langsung bertemu pandang dengan mata merah Taiyu, orang yang telah menyelamatkan mereka tadi. Pupil mata Jongin belum berubah normal seperti biasanya, Taiyu memahaminya, Jongin pasti belum bisa mengontrol emosinya saat ini. Tapi paling tidak ia berhasil menekan salah satu dari dua monster itu, hingga masih memiliki kesadaran untuk melindungi kekasih dan juga sahabatnya.

"Apa yang harus kita lakukan hyung? Aku tak bisa membiarkan Jeno terluka, apalagi dia telah melindungi kekasihku..."

Jeno terbatuk lagi. Darah semakin banyak mengalir di sela bibirnya.

"Hiks..."

Perhatian mereka sedikit teralih pada Sehun yang sepertinya sudah sadar dari pingsannya saat Taiyu membawanya pergi tadi.

"Nono kenapa...?" Sehun beringsut mendekat, tampilannya tampak begitu berantakan saat ia duduk di samping Jongin.

"Jeno terluka, sayang..."

"Ayo bawa ke rumah sakit..." Sehun memegang lengan Jongin. "Ayo, Nini..."

Jongin hanya diam.

"Nini... kenapa diam saja..."

"Dia tidak bisa di bawa ke sana Park Sehun." Taiyu yang sudah merubah warna matanya menjadi normal lagi, mendekat ke arah mereka.

"Kenapa? Hiks... Apa sakitnya sangat parah... Hunnie melihat beruang itu menelan tubuh Nono tadi..."

Kalau saja situasinya tidak seperti ini, Jongin rasanya sudah ingin tertawa, hei sejak kapan serigala berubah nama menjadi beruang? Dan menelan? Jongin rasa Sehun masih belum mengerti tentang perubahan seorang werewolf, apa benar dia keturunan seorang peri, kenapa sikapnya sangat polos seperti ini?

"Jaemin..."

"Ehh..." Jongin menatap ke arah Taiyu. "Apa maksudmu?"

"Bocah itu... apa yang dia lakukan berlari sendirian di saat seperti ini. Aku akan menjemputnya."

Jongin hanya mengangguk, ia sungguh tidak meragukan kemampuan hyung sekaligus gurunya itu dalam melihat sesuatu. Tetapi Jaemin? Apa dia sedang mencari Sehun atau...

Jongin melirik pada Jeno yang bernapas tersengal sengal, bibir namja itu sudah membiru, racun yang ada di lukanya sudah menyebar.

"Sehuna... apa kau bisa melakukan sesuatu untuk Jeno?"

Sehun mengerjapkan matanya, "Apa yang harus Hunnie lakukan, Nini ?"

Jongin mengerang pelan, lupa kalau Sehun bahkan sama sekali tidak tahu siapa dirinya sebenarnya, kalau begini bagaimana cara agar Sehun bisa menolong Jeno.

Brakk

Suara pintu yang di dobrak, membuat Jongin langsung siaga, namun saat ia mengetahui kalau yang mendobrak pintu adalah Taiyu, ia mengerutkan keningnya, bukankah namja itu bisa masuk keruangan mereka tanpa perlu mendobrak pintu ruang latihan tempat mereka berada sekarang. Pertanyaan itu segera terjawab, saat sosok Jaemin muncul dari belakang Taiyu. Matanya basah karena air mata dan dia terlihat begitu berantakan.

"Nana..."

Jongin menahan tangan Sehun saat namja manis itu ingin mendekati sepupunya.

"Kenapa Nini?"

"Tetaplah di sini." Ucap Jongin pendek.

Di depan sana, Jaemin menatap Jeno dengan tatapan bersalah, ia teringat lagi percakapannya dengan Suho dan Chanyeol saat di rumah Sehun tadi.

Flashback

"Kenapa aunty mengatakan kalau Nana bisa menjadi pembunuh tanpa Nana sadari?"

"Sayang, kau tau apa itu werewolf bukan?"

Jaemin mengangguk.

"Apa kau tau apa itu mate?" tanya Suho lagi.

Kali ini Jaemin menggelengkan kepalanya.

"Mate adalah pasanganmu, kekasih hatimu, belahan jiwamu, jika mereka terpisah atau salah satunya tersakiti maka akibatnya akan fatal." Suho berusaha menjelaskan pelan pelan.

"Lalu apa hubungannya dengan Nana, aunty?"

"Jeno, dia... adalah pasanganmu, kau adalah mate dari dirinya."

"Itu tidak mungkin." Jaemin menggelengkan kepalanya.

"Tak ada yang tidak mungkin di sini Nana, dan kau secara tidak sadar telah menolaknya."

"Apa maksud uncle, aku tidak pernah menolak dirinya, dia juga tidak pernah mengatakan padaku kalau dia adalah pasanganku." Bantah Jaemin.

"Apa kau pernah memintanya untuk menjauhimu?" tanya Chanyeol

"Itu..."

"Apa kau pernah mengatakan kalau dirimu membencinya?"

Jaemin diam.

"Secara tidak sadar kau telah menolaknya... sayang, dengarkan uncle, Jeno tidak bersalah, dia tidak tau apa-apa saat orang tuamu terbunuh karena serigala. Bagaimana kau bisa menyamakan dirinya dengan orang yang telah membunuh orang tuamu, dia pasanganmu, dan dia tidak akan pernah menyakitimu. Justru... kaulah yang bisa menyakitinya, karena kau pasangannya."

"Uncle... apa yang akan terjadi kalau aku menolaknya?"

"Dia akan merasakan sakit yang tak akan pernah bisa kau bayangkan, perlahan kekuatannya akan melemah dan serigala di dalam tubuhnya akan mati, dan kau tahu kalau serigala di dalam tubuh seorang werewolf mati, maka pemilik tubuhnya sendiri juga akan mati."

Deg

Jaemin meremas ujung kemeja yang di pakainya, Jeno akan mati, dan itu karena dirinya, karena kebodohannya, dia telah mematahkan hati Jeno dan serigalanya."

"Hiks... apa yang harus Nana lakukan..."

"Tanamkan dalam dirimu, kalau Jeno bukanlah orang jahat... sayang... apapun yang akan kau lakukan itu tergantung dengan perasaanmu sendiri, apa kau ingin menyelamatkan dirinya atau tidak. Pikirkan lah apa yang akan kau lakukan, dan jangan sampai kau menyesal dengan pilihanmu sendiri."

Flashback end

Dan disinilah Jaemin berada sekarang, tepat di hadapan Jeno yang balas menatapnya dengan sayu, wajah namja tampan itu sepucat mayat, jelas bukan seperti dia seorang werewolf yang memiliki suhu tubuh lebih hangat dari manusia normal.

"Jeno..." Jaemin melangkahkan kakinya semakin dekat dan berlutut di hadapan Jeno. "Maaf..." Jaemin terisak. "Semua ini salahku."

Jeno mencoba tersenyum di sela sela menahan sakit. "Ini semua bukan salahmu, dan aku selalu memaafkanmu, apapun yang kau lakukan padaku.

Tangan Jeno terasa sangat dingin saat menyentuh pipi Jaemin. Namja itu terbatuk lagi, dan semakin banyak darah keluar dari mulutnya.

"Jeno..."

Jaemin tampak panik, ia mengenggam jemari Jeno yang dingin, sementara di sisi lain, Sehun sudah terisak sembari menyembunyikan wajahnya di pundak Jongin.

"Nana, hanya kau yang bisa menolong Jeno, ku mohon tolonglah dia..." ucap Jongin.

"Apa yangharus aku lakukan?" Jaemin masih terisak.

"Berikan darahmu untuk Jeno." Ucap Taiyu.

"Eh, aku..." Jaemin menatap ngeri pada Taiyu.

Jeno terbatuk lagi.

Taiyu menggeram, waktu mereka sudah tidak banyak lagi dan Jaemin terus terusan ragu seperti ini. Kedua pupil matanya kembali merah dan ia menatap ke arah Jaemin dengan tatapan dinginnya. "Gigit bibirmu sendiri, dan berikan darahmu pada Jeno, lakukan sekarang atau kau bisa pergi dan biarkan dia sekarat di sini."

Jaemin menunduk, ia menggigit bibir bawahnya dengans edikit keras, meringis saat bibirnya terluka dan mulai mengeluarkan darah. Dengan tubuh yang gemetar ia mendekatkan tubuhnya untuk merapat pada Jeno, membiarkan bibirnya menempel di bibir Jeno yang membiru dan Jeno dengan insting werewolfnya langsung menghisap darah di bibir Jaemin.

Jaemin menutup matanya dan membiarkan Jeno terus menghisap darah di bibirnya.

"Jeno.. kau mendengarku, ku rasa sudah cukup kau mengambil darahnya." Taiyu menegur Jeno saat melihat tubuh Jaemin semakin gemetar.

Jeno melepaskan tautan bibir mereka dan menatap ke arah Jaemin yang tampak pucat. "Terima kasih kau sudah datang..."

Tak ada jawaban dari Jaemin, namja manis itu hanya memeluk tubuhnya dengan erat dan terisak di sana.

"Maafkan aku..." bisiknya lirih.

Jongin yang menatap ke arah kedua orang itu, tak menyadari kalau Sehun terus menerus menatap ke arahnya. Sampai suara pelan itu menyadarkannya dari lamunan sesaatnya.

"Nini... kenapa warna matamu berbeda?"

Deg

Jongin balas menatap ke arah Sehun, hatinya tertohok saat melihat tatapan Sehun yang begitu sendu. Apa Sehun takut dan setelah ini berniat menjauh darinya. Jongin memejamkan matanya dan mengeleng.

"Ini..." sungguh lidahnya terasa kelu, untuk mengeluarkan suara.

"Nini, apa kau juga..."

Cukup. Jongin tak ingin mendengarkan kelanjutan kalimat Sehun. ia tak akan pernah sanggup melihat Sehun lagi, kalau Sehun merasa takut padanya. dengan gerakan cepat, Jongin bangkit dari duduknya dan berlari keluar.

"Nini..." Sehun berteriak dan ikut ikutan berlari. "Hiks... Nini kemana..."

Ia memandang ke sekitar tempat itu tak ada tanda tanda keberadaan Jongin di sana. Sehun terisak dan terus memanggil nama Jongin.

Sementara tak jauh darinya, Jongin bersandar pada dinding, berusaha menyembunyikan tubuhnya dari penglihatan Sehun. "Maafkan aku Sehuna, aku tak bisa terus bersamamu, aku takut kau akan lari meninggalkanku setelah tahu siapa diriku..." setetes air mata jatuh membasahi pipi Jongin, emosinya yang tidak stabil memunculkan makhluk lain di dalam dirinya.

Sesaat sebelum pupil matanya berubah menjadi biru, seseorag lebih dulu memukul tengkuknya. "Kau tak bisa berubah secara tiba tiba Kim Jongin, kau hanya akan melukai Sehun dan yang lain." Gumam Taiyu, ia sedikit bersyukur cepat menemukan Jongin sebelum namja itu sempat berubah.

0)(0

Hari sudah menjelang tengah malam saat Jongin yang baru saja ingin tidur mencium baru harum darah yang sangat dikenalnya. Sehun. meski tubuhnya sangat lelah karena kemunculan monster di dalam tubuhnya, Jongin memaksakan diri untuk membuka jendela kamarnya dan ia menemukan makhluk manis itu duduk sendirian di atas trotoar, pinggir jalan depan rumahnya.

Jongin menghela napas panjang. Ia memejamkan matanya dan dalam sekejap ia sudah berada di halaman rumahnya. Dengan tangan yang dimasukkan ke dalam celana selututnya Jongin berjalan menuju pagar rumahnya.

"Apa yang kau lakukan di sini, Sehuna?"

Sehun yang menunduk kedinginan segera mendongak dan langsung bertemu pandang dengan Jongin.

"Hiks, Nini..." Sehun bangkit dan segera menubruk tubuh Jongin dengan pelukan eratnya. "Syukurlah, Nini tidak apa apa..."

"Apa maksudmu..." Jongin tampak bingung.

"Hunnie pikir, Nini sakit seperti Nono juga. Saat Hunnie ingin bertanya, Nini pergi meninggalkan Hunnie. Hunnie kepikiran dan..."

"Kau nekad pergi ke sini?"

Sehun mengangguk.

"Sendirian?"

Sehun mengangguk lagi.

"Ya Tuhan sayang, ini sudah hampir tengah malam." Jongin mengerang pelan, merasa sedikit bersyukur Sehunnya selamat sampai rumahnya, bagaimana kalau saja tadi demon muncul? Sehun tak akan selamat.

"Hunnie khawatir pada Nini.." Sehun mempoutkan bibirnya, matanya yang sipit menatap wajah tampan kekasihnya. "Ahh, Nini sudah melepas lensa kontak Nini ya..."

"lensa kontak?" Jongin tak mengerti, ia tidak pernah memakai benda itu seumur hidupnya.

"Iya, tadi warna mata Nini, orange. Sekarang tidak lagi."

Jongin menatap sendu pada kekasih polosnya. Apa kau selalu sepolos ini Sehuna?

"Sayang, apa kau tidak takut padaku?"

Sehun menggeleng.

"Meski dengan warna mataku yang seperti itu?"

"Umm, dimata Hunnie, Nini selalu tampan kok."

"Tapi aku berbeda dari yang lain Sehuna, bagaimana kalau warna mataku tiba tiba berubah lagi dan aku menyerangmu?"

Sehun mengerutkan keningnya. "Hunnie tidak mengerti apa yang Nini katakan, tapi Hunnie tahu, Nini tidak akan pernah menyakiti Hunnie, karena Nini mencintai Hunnie..." Sehun menyandarkan kepalanya di dada bidang Jongin. "Kata daddy, orang yang saling mencintai selalu akan berusaha untuk tidak menyakiti orang yang dicintainya..."

Jongin tersenyum, mungkin apa yang dikatakan orang tua Sehun benar, ia hanya harus berusaha lebih keras lagi untuk mencegah kemunculan monster itu. "Aku mencintaimu, Sehuna..." Ya, meski takdirnya memang bukan untuk bersatu dengan Sehun, ia akan berusaha terus bersama Sehun, sampai takdir itu tiba, dimana ia harus merelakan tanda matenya demi memunculkan monster di tubuhnya untuk menyelamatkan kekasihnya ini.

"Hunnie tau kok kalau Nini mencintai Hunnie..."

Jongin tertawa pelan. "Kalau begitu bolehkah, aku mendapatkan ciuman dari kekasihku, sebelum aku mengantarmu pulang?"

Sehun tersenyum manis, sebelum berjinjit dan mencium bibir Jongin. Jongin memejamkan matanya dan kemudian melumat bibir Sehun, sembari berharap, hari dimana mereka akan terpisah itu tidak akan pernah datang.

.

.

.

.

.

.

TBC

Bersyukur sekali NCT DREAM melakukan VAPP tadi malam dan menyuguhkan momen manis NOMIN, hingga aku ga begitu kesulitan menemukan feel ngetik ff ini, yang demi apa cukup menguras pikiran. Hehe...

Chapter selanjutnya mau disuguhkan adegan manis kaihun ? mungkin sebelum konflik memuncak, aku akan suguhkan momen manis dulu...

Terakhir, tolong tetap review ya...

Salam kaihun shipper

Syakila8894