THE HALF BLOOD VAMPIRE 2 ( Chapter 6 )

Cast : Kai, Sehun, Jeno, Jaemin

Rated : T

Aku ga yakin ada momen sweet di chap ini, ada terlalu banyak hal yang membuat pikiranku terasa blank. Kadang ada masalah yang bikin aku down. Dan aq sangat berterima kasih untuk momma Jenny untuk segala nasehatnya.

Chapter ini berisi sedikit flashback masa lalu Jongin. Mungkin masih ada yang sedikit bingung dengan siapa Jongin, karena itu aku fokus membahas itu dulu sebelum ngasih momen kaihun yang entah bisa masuk kategori manis atau pahit. #smile

Buat yang mungkin masih belum tau atau bingung, tolong diliat gaya bahasa dan penulisannya ya. Yang nulis lover eternal itu juju jongodult, kalo killa hanya ngetik the half blood vampire untuk genre fantasy. Karena kami dua orang yang beda, pastinya gaya penulisannya juga beda. Please jangan ketuker lagi ya, sobat. Hehehe..

Banyak typo, no edit

Syakila8894

.

.

.

.

.

Suho merasa jantungnya hampir saja copot saat mengetahui anaknya tidak berada di dalam kamarnya, segala dugaan kalau anaknya di culik oleh demon terlintas di benaknya. Namun itu semua ternyata tidak benar, karena saat ia dan suaminya juga Jaemin bersiap siap mencari keberadaan Sehun, anak itu pulang ke rumah dengan Jongin di belakangnya.

Emosi Chanyeol meledak dan ia segera memukul perut Jongin dengan seluruh kekuatannya, terlalu marah untuk mendengarkan penjelasan dari namja tampan itu. tubuh Jongin terpelantinng ke belakang dan jatuh ke tanah setelah menabrak pot besar berisi tanaman bunga matahari yang di tanam Suho. Pot itu pecah berantakan karena hantaman tubuh Jongin. Jongin mengerang pelan, dan ia terbatuk, mengeluarkan darah di mulutnya, pukulan Chanyeol tidak main main.

"Nini..." Sehun menjerit, dan berontak di pelukan ibunya.

"Sayang... dia menculikmu... biarkan saja daddy memberinya pelajaran..."

"Hiks... Nini tidak bersalah mommy..." jerit Sehun, ia kembali berontak, namun pelukan Suho makin menguat di tubuhnya.

Bukk

"Kau pikir karena anakku mencintaimu, kau bisa seenaknya membawanya pergi."

Pukulan lain di terima Jongin, nafasnya sesak, meskipun tubuhnya kesakitan, ia berusaha keras mempertahankan sifat manusianya sebelum monster menyebalkan itu muncul dari dalam tubuhnya.

"Bukankah aku sudah bilang padamu untuk menjauhi anakku..."

Bugh

Jongin memejamkan matanya, dan saat ia membuka matanya, tatapannya seakan membakar tubuh Chanyeol. Pupilnya yang berwarna orange tampak mengerikan saat menatap.

"Kau menyalahkanku tanpa mendengarkan penjelasanku. Tak ku sangka kaum peri begitu naif." Jongin mengusap darah yang membasahi sudut bibirnya. Ia melirik sebentar pada Sehun yang menangis terisak. "Kalau aku ingin mencelakai Sehun, mungkin sedari awal aku tidak akan pernah membawanya pulang lagi kesini."

"Hiks... Daddy hentikan... ini salah Hunnie... Hunnie sendiri yang pergi menemui Nini... Daddy hukum saja Hunnie... hiks... Nini tidak salah... Nini hanya mengantar Hunnie pulang..." Sehun terus terisak, pelukan Suho melonggar saat mendengar ucapan Sehun. dan sehun memanfaatkan kesempatan itu untuk melepas pelukan ibunya dan berlari mendekati Jongin.

"Hiks... Nini..."

Jongin meringis saat Sehun memeluknya dengan erat, rusuknya terasa sakit, tapi ia mencoba menahannya demi membuat kekasihnya tidak bertambah khawatir.

"Sudahlah baby, aku tidak apa-apa." Jongin mengelus punggung Sehun, ia memejamkan matanya, berusaha mengontrol emosinya sebelum ia membuka matanya lagi, dan kedua bola matanya telah kembali berwarna normal. Meski Jongin sadar, saat ia kembali ke wujud manusianya rasa sakit itu akan makin terasa, namun ia tak ingin mengambil resiko, dengan tetap bertahan dalam wujud immortalnya kemungkinan dirinya untuk menyerang Sehun sangat besar, ia masih belum bisa mengontrol kekuatan demon itu sepenuhnya.

"Kau..." Chanyeol menunjuk ke arah Jongin. "Salah satu dari mereka, tapi matamu..."

Jongin menunduk, ia mengusap air mata yang menetes di pipi Sehun dan mengecup pipinya. "Masuklah ke rumah dan segera tidur..." ucapnya pelan, namun Chanyeol masih bisa mendengarnya.

"Tapi... Luka Nini belum di obati..." protes Sehun.

Jongin meringis. "Kau tenang saja, aku akan minta eomma mengobatiku nanti." Ya, walau Jongin sepertinya tidak akan pulang ke rumahnya malam ini, ia harus pergi mencari Taiyu dan meminta namja itu mengobatinya. Sebenarnya ia bisa saja meminta Sehun untuk mengobatinya dengan menggunakan darah namja itu, tapi Jongin tidak tega kalau harus membuat kekasihnya melukai tubuhnya sendiri demi mengobati dirinya.

"Perlu Hunnie antar?" tanya Sehun.

Jongin tertawa pelan, "Kalau kau mengantarku pulang ke rumahku sendiri, lalu buat apa aku mengantarmu kesini dan menerima pukulan ini?"

"Maaf..." Sehun menundukkan kepalanya.

"Tak apa baby, masuklah kerumah.." Jongin memberi isyarat pada Jaemin, dan namja manis itu langsung menarik tubuh Sehun untuk menjauh dari Jongin dan membawanya masuk ke dalam rumah di ikuti oleh Suho. Kini hanya tersisa Jongin dan juga Chanyeol di halaman.

"Aku minta maaf, karena sudah membuatmu seperti ini."

"Tidak apa ahjushi, aku mengerti ahjushi sangat mengkhawatirkan Sehun." jawab Jongin tenang.

"Tapi kau terluka dalam cukup parah." Chanyeol tampak menyesal. Jika saja Jongin melawan atau menangkis serangannya tentu hasilnya tidak akan sama, meski dia hanya seorang half demon, kekuatannya jelas dapat menandingi Chanyeol.

"Aku akan sembuh, ahjushi tenang saja. Dari pada itu, harusnya aku yang minta maaf karena tak bisa menjauhi putra ahjushi, aku mencintainya."

"Aku tahu... meski aku tak menyukai kalau anakku harus bersama seorang demon, tapi Sehun juga menyukaimu."

Jongin menunduk dengan jemari terkepal. "Aku hanya butuh izin ahjushi untuk bersama Sehun selama bebebapa saat." Jeda sejenak. "Setelah itu, aku akan benar benar pergi dari hidup Sehun dan ia tidak akan mengingatku lagi."

"Apa maksudmu, kau hanya ingin memanfaatkan anakku sebelum kemudian mencampakkannya?" Emosi Chanyeol kembali naik.

Jongin menggeleng. "Sehun terlalu berharga untuk disakiti ahjushi, aku tak akan pernah melakukan itu padanya."

"Lalu kenapa kau mengatakan itu?"

"Tidak ada maksud apa apa.. aku hanya merasa suatu saat..."

"Jongin... Sehun mate mu bukan?"

Jongin mengangguk.

"Lalu kenapa kau merasa kalau kalian akan terpisah?"

"Ahjushi tau siapa aku kan? Seorang half demon yang belum sempurna. Saat kesempurnaan itu muncul maka akan ada resiko yang harus aku tanggung."

Chanyeol terdiam, ia mengerti sekarang apa maksud Jongin.

"Aku hanya berharap sebelum saat itu tiba, ahjushi tidak melarangku untuk tetap bersama Sehun."

Chanyeol terdiam, ia hanya terus menatap ke arah Jongin dengan tatapan yang sulit di artikan. Haruskah ia memberi izin?

0)(0

"Uhukkk..."

Jongin terus terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya, sementara di hadapannya Taiyu menatapnya dengan tatapan tajam.

"Jadi kau membiarkan peri itu menghajarmu?"

Jongin mengangguk.

"Lukamu cukup dalam Jongina. Harusnya kau bisa melawannya."

"Dan membiarkan kesempatan untuk tetap bersama Sehun, aku tidak akan melakukannya." Ucap Jongin.

"Kau memang keras kepala seperti pamanmu."

Jongin tersenyum pahit. "Hanya Sehun yang aku inginkan saat ini."

Taiyu mengibaskan tangannya di depan wajah. "Dan kau tau harusnya Sehun bisa menyembuhkanmu, tapi kau malah datang kepadaku dengan alasan tak ingin Sehun melukai tubuhnya sendiri untuk menyembuhkanmu. Itu konyol, Kim Jongin. Kau tau aku seorang demon, dan demon bukanlah type penyembuh seperti kaum peri."

"Apa kau tak punya solusi yang lain?" Jongin melirik pada Taiyu.

Taiyu menatap lurus ke depan. "Hanya ada satu cara lagi, munculkan dia yang selama ini kau sembunyikan. Kehadirannya mungkin akan mengundang para demon itu datang kesini, tapi sebelum mereka datang kau harus sudah menyembuhkan lukamu dan mengembalikan dia kembali ke ruang tergelap di dasar hatimu."

"Apa tak ada cara selain itu, itu akan sangat beresiko."

Taiyu mengerutkan keningnya. "Kau memang merepotkan." Namja tampan itu berdiri dari tempatnya duduk, pupil matanya telah berubah merah dan taringnya terlihat muncul di sela bibirnya. "Aku akan menyegel tempat ini dan kau bisa memunculkan monster itu. waktunya 5 menit, kau tahu aku tak bisa mengontrol dia kalau lebih dari itu." Taiyu mengarahkan telunjuknya ke dada Jongin.

"Aku mengerti, hyung..."

"Lakukan sekarang." Taiyu mengibaskan tangannya, mengirim Jongin keruang hampa yang gelap gulita.

Jongin berkonsentrasi untuk menekan darah demonnya dan memunculkan makhluk yang sekian lama tertidur di dalam tubuhnya. Dalam sekejab, pupil matanya berubah biru.

"Akhirnya..." Jongin tersenyum tipis. "Aku bisa merasakan diriku bebas..."

Di ruangan yang lain, Taiyu memejamkan matanya, ia mengingat percakapan terakhirnya dengan Yixing, paman dari Jongin, sebelum namja itu meninggal.

Flashback

"Aku titip Jongin padamu..." ucapan lemah dari Yixing yang sedang sekarat itu, menyadarkan Taiyu yang tengah berusaha menolong sahabatnya itu. Taiyu melirik pada anak kecil berusia 4 tahun yang terus menangis sesenggukan tak jauh dari tubuh Yixing yang terbaring lemah di tanah.

"Apa yang kau katakan, kau akan selamat..."

Yixing menggeleng. "Aku akan pergi, dan selama itu kau harus menjaga Jongin..."

"Kenapa aku harus menjaganya?"

"Nyawanya pasti terancam karena dia telah melihat para demon itu."

"Tapi dia hanya seorang..."

"Gigit dia..."

"Apa?" mata Taiyu terbelalak.

Yixing terbatuk, darah hitam keluar dari mulutnya. "Waktuku tidak banyak.. aku mohon gigit dia..."

"Tapi..."

"kita harus tetap melindunginya dari para demon, sampai ia dewasa dan bisa memutuskan sendiri apa yang harus ia lakukan."

"Bagaimana kalau anak itu tidak akan bertahan dengan darahku, dia akan mati..."

Yixing menggeleng. "Dia pasti kuat demi aku, Taiyu... aku mohon..."

Taiyu tampak bimbang sejenak. "Baiklah..."

Yixing tersenyum lemah. "Terima kasih... hanya ini yang bisa aku lakukan demi keponakanku, dia harus bertahan hidup." ucapnya sebelum menutup mata.

Tangisan Jongin makin keras, dan Taiyu dengan matanya yang merah menyala dan taring yang mencuat, mendekatinya. "Maafkan aku, Kim Jongin, kau harus menerima takdirmu ini..."

Raungan Jongin terdengar keras saat Taiyu menggigit tangannya, sebelum kemudian dia melemah dan akhirnya pingsan.

Flashback end

"Dulu aku selalu bertanya kenapa kau memintaku untuk menggigitnya, kini aku mengerti, Yixing-ah... kalau kau masih ada di sini, apa kau akan melakukan hal yang sama denganku? Maafkan aku yang memanfaatkan Jongin untuk membalaskan dendamku pada orang yang telah membunuhmu. Dia akan kehilangan cinta sejatinya... apa yang harus aku lakukan?"

"Hyung tidak salah..."

"Jongin... kau sudah selesai..." Taiyu menoleh pada Jongin yang melangkah mendekat padanya.

"Hyung tidak perlu merasa bersalah, karena aku juga tidak akan memaafkan orang yang telah membunuh pamanku sendiri. Hyung adalah guru terbaik yang aku punya, tak peduli seperti apapun akhirnya nanti, aku yakin hyung telah memikirkannya dengan matang." Jongin menatap tangan kanannya, tepatnya pada bekas luka gigitan Taiyu dulu, tanda itu tidak memudar meski telah berlalu 12 tahun lebih. "Aku malah berterima kasih pada hyung... karena kekuatan yang hyung berikan, aku bisa melindungi orang yang aku cintai..."

Taiyu tersenyum, ia menepuk pundak Jongin, pelan. "Aku tahu, kau pasti akan mengerti Jongina, terima kasih..."

Jongin mengangguk. "Aku pulang dulu hyung." Pamitnya sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan Taiyu.

"Kim Jongin."

Jongin menghentikan langkahnya tepat di depan pintu, ia tidak berbalik, hanya tetap diam di tempatnya.

"Aku tau apa yang ada dipikiranmu saat ini. Jongina, karena cinta tulusmu lah yang akan membawamu pergi meninggalkan Sehun nanti, tapi jika dia memang juga tulus padamu, maka cintanya yang membimbingnya untuk kembali..."

Jongin tersenyum, "Dia akan pergi hyung... aku sudah melihatnya..."

Taiyu sedikit terhenyak, 'kekuatan monster itu ya... jadi Jongin juga sudah tahu?' Taiyu menatap ke arah pintu dimana beberapa saat yang lalu Jongin melewatinya. 'Ku harap takdir akan berpihak padamu, Kim Jongin.'

0)(0

"Nini..." Sehun melompat ke pelukan Jongin saat keesokan harinya Jongin datang ke rumahnya dan menjemputnya.

"Pagi, baby..." Jongin mengecup kening Sehun dengan penuh kelembutan. "Tidurmu nyenyak?"

"Umm..." Sehun mengangguk imut. "Tapi Nana memeluk Hunnie erat sekali, Hunnie jadi susah bernafas."

"Dasar pengadu..." cibir Jaemin yang baru keluar dari rumah. "Itu kan karena aku takut kau pergi menemui Jongin lagi."

"Tapi tak harus memeluk Hunnie juga kan?" Sehun mempoutkan bibirnya.

"Lalu aku harus apa? mengikatmu di ranjang?"

"Nana..." pekik Sehun sebal, ia melepaskan pelukannya dan memukul kepala Jaemin dengan cukup keras.

Jaemin mengaduh, matanya melotot ke arah sehun yang segera sembunyi ke belakang Jongin.

"Jangan lari kau bocah, teganya kau membuat kepalaku sakit..."

"Kau juga bocah..." Seru Sehun. "Nini... lindungi Hunnie..." rengeknya sembari memeluk pinggang Jongin dengan erat.

Jongin hanya tertawa dan ia mengisyaratkan pada Jeno yang sedari tadi sibuk dengan handphonenya untuk menangkap Jaemin.

Greb

"Aww... lepaskan aku..." Jaemin berontak, saat Jeno memegang lengannya.

"Angel... tidak baik kalau kau marah marah sepagi ini."

Pletak

Jaemin menjitak kepala Jeno dengan kesal. "Aku bukan angelmu dasar makhluk berbulu..."

Jeno hanya nyengir, berbeda dengan Sehun yang menatap intens pada Jeno. "Nana salah lihat ya, Nono tidak berbulu kok, Nono hanya punya rambut di kepalanya." Protes Sehun.

Jaemin tersedak air ludahnya sendiri, dan Jongin serta Jeno tertawa terbahak bahak. "Ish... aku tidak tau apa yang aunty idamkan saat hamil dirimu, kau tidak lihat, dia itu berbulu Sehuna..."

"Nana yang salah lihat." Protes Sehun.

Jongin membenarkan kacamatanya yang sedikit melorot, lalu menggenggam jemari Sehun. "Sudah, dari pada ribut soal itu, kau mau pergi berdua denganku?"

"Kencan?" tanya Sehun dengan mata berbinar.

"Kalau kau ingin mengatakannya begitu."

"Hunnie mau... tapi Nana...?"

"Aku akan jaga rumah sementara aunty dan uncle pergi. Kau pergilah."

"Lalu Nono?"

"Aku akan menemani, angelku di sini." Jawab Jeno kalem.

"Aku tak butuh ditemani." Ucap Jaemin angkuh, namun saat ia melangkah sampai di depan pintu rumahnya, ia berhenti dan menoleh ke belakang.

"Yak werewolf aneh, kenapa kau tidak mengikutiku?" pekiknya.

Jeno mengangkat alisnya sebelum tersenyum. "Rasanya tadi ada yang mengatakan padaku kalau dia tidak perlu ditemani."

"Masa bodoh... ayo cepat masuk." Ucap Jaemin, galak.

"Ih, Nana selalu galak kalau sama Nono." Cibir Sehun.

"Sudahlah, biarkan saja mereka, ayo kita pergi." Jongin menggenggam jemari lentik milik Sehun dan mengajaknya berjalan jalan. Ya, kali ini Jongin lebih memilih untuk berjalan kaki saja, ia ingin meluangkan waktu yang lebih banyak dengan kekasihnya itu.

"Kita mau kemana?" tanya Sehun antusias.

"Pantai?" tanya Jongin.

"Umm... Hunnie mau..."

"Okeh, biar cepat bagaimana kalau kita naik taksi saja?"

"Baiklah..." Sehun hanya bisa menurut. Ia terlampau bahagia bisa berjalan jalan bersama Jongin, tanpa menyadari Jongin yang terus memandangi wajahnya dengan tatapan yang sulit di artikan.

0)(0

"Woahhh..." Sehun tidak berhenti untuk terus berdecak kagum saat Jongin membawanya berjalan di tepi pantai.

Keduanya sengaja melepaskan sepatu mereka dan lebih memilih menyusuri pasir pantai tanpa menggunakan alas kaki.

"Hunnie tidak pernah pergi ke pantai sebelumnya?"

"Umm... Daddy selalu melarang Hunnie kesini, katanya angin pantai tidak bagus untuk Hunnie..."

Jongin tahu, alasan Chanyeol bukan hanya itu, tapi ia tak ingin membahasnya sekarang ini. Sehun menautkan jemarinya dengan Sehun. "Mau bermain air denganku?"

Sehun memandang ke arah laut. Ia menggeleng. "Hunnie tidak mau pakaian Hunnie basah. Nini... Hunnie mau ke sana." Tangan Sehun yang bebas menunjuk ke arah laut lepas, tepatnya ke arah sebuah pulau yang terlihat hanya seperti titik yang tak berarti di tengah laut.

Jongin tahu tempat itu, itu pulau milik pamannya. "Kau mau kesana?"

Sehun mengangguk.

"Ayo kita menyewa perahu motor."

Dengan jemari yang masih bertautan, keduanya mendekati tempat penyewaan perahu. Dan setelah percakapan singkat antara Jongin dan orang itu, kini keduanya sudah duduk manis di dalam perahu motor, dengan Sehun yang duduk di pangkuan Jongin dan Jongin yang memeluknya dari belakang.

Angin yang berhembus kencang menerbangkan rambut mereka, Sehun terlihat kedinginan dan Jongin langsung menarik tubuh Sehun untuk makin merapat dengan tubuhnya. Berusaha menghangatkan tubuh kekasihnya itu.

"Masih kedinginan?" tanya Jongin.

Sehun tersenyum, "Tidak lagi, karena Nini memeluk Hunnie..."

Jawaban Sehun membuat Jongin mengecup kening Sehun cukup lama. "Manisnya kekasihku..."

"Hunnie kan sering makan coklat..." ucap Sehun bangga.

Jongin tertawa, apa hubungannya sering makan coklat dengan sifat manis Sehun?

Tak berapa lama, mereka tiba di pulau itu dan setelah pemilik perahu itu mengatakan akan menjemput mereka sore nanti kalau badai tidak datang, keduanya pun segera berjalan di dermaga itu menuju sebuah villa kecil di tengah pulau terpencil itu.

"Cantik..." Sehun terlihat begitu mengagumi tempat itu.

"Kita akan berada di sini seharian." Jongin menjelaskan.

"Tidak apa apa, Hunnie suka kok di sini."

Sehun berjalan jalan di sekitar villa itu sebentar, sebelum berlari mengikuti Jongin yang lebih dulu masuk ke dalam villa, menggunakan kunci duplikat yang ia punya. Sudah 12 tahun berlalu, namun villa ini masih terawat dan bersih, Jongin tidak tahu siapa yang telah merawatnya, karena orang tuanya pun tidak pernah lagi pergi kesini setelah pamannya meninggal. Apa mungkin itu Gao Taiyu? Gurunya itu kan begitu dekat dengan pamannya dan ia juga punya kunci villa ini.

"Nini..."

Jongin yang sedang menatap foto pamannya di dinding langsung menoleh ke arah sumber suara, dan ia nyaris tersedak air liurnya sendiri saat melihat kekasihnya mendekat ke arahnya, hanya mengenakan sweater pink dan celana jeans pendek berwarna hitam yang membalut separo paha rampingnya. Sejak kapan Sehun melepaskan celana panjangnya dan berganti dengan yang pendek?

"Hunnie pikir karena kita seharian di sini, Hunnie memakai celana pendek ini saja." Tanpa diminta, Sehun menjelaskan pada Jongin. "Hunnie selalu membawa celana cadangan di dalam tas, kata mommy, kalau celana Hunnie kotor, Hunnie bisa menggantinya dengan yang baru."

Jongin mengangguk, "Karena di sini tidak ada bahan makanan, bagaimana kalau kita memancing saja?" tawar Jongin.

"Memancing?"

Jongin mengangguk.

"Hunnie mauuuuuu..." teriak Sehun senang. "Sebentar ya, Hunnie mau pipis dulu." Pamitnya sebelum kembali berlari ke dalam kamar yang tadi sudah di tunjukkan Jongin untuknya.

"Aku akan menunggumu, di tepi pantai" teriak Jongin. Setidaknya disini aman, karena demon tak bisa menembus pulau ini yang telah di beri mantra. Jongin beruntung, ia masih mempunyai darha manusia yang bisa membuatnya bisa masuk dengan bebas kesini.

"Jangan jauh jauh..." rengekan Sehun terdengar.

"Iya, sayang..."

Baru saja Jongin mulai memancing ketika teriakan Sehun yang memanggil namanya membuatnya balas berteriak meminta kekasihnya mendekat.

Senyum cantik terlukis di bibir Sehun saat ia melihat kekasihnya yang hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek tampak serius dengan alat pancingnya. Jongin terlihat berkali lipat lebih tampan saat ia tampil seadanya seperti ini dan hari ini namja itu tidak mengenakan kacamatanya.

"Nini..."

Jongin menoleh dan balas tersenyum, kekasihnya tampak begitu imut dengan poninya yang di ikat ke atas.

"Hunnie juga mau mancing ikan." Ucap Sehun.

"Kalau begitu kau pegang ini." Jongin menyerahkan joran pancing itu ke tangan Sehun. "Kau hanya harus menunggu umpannya di makan ikan."

"Nini mau kemana?"

"Aku tak akan kemana-mana." Jawab Jongin, ia membaringkan tubuhnya sembari mengamati Sehun yang tampak serius memancing. Angin laut yang berhembus begitu kencang membuat namja tampak itu agak mengantuk. Ia hampir saja berhasil tertidur saat Sehun berteriak.

"Nini, bagaimana ini... ikannya tidak mau naik ke atas."

Jongin segera bangkit dari posisinya, ia berdiri di belakang Sehun, melingkupi tubuh kekasihnya itu dengan pelukannya, sebelum membantu Sehun menarik ikan itu ke atas permukaan air.

"Kyaaaa... Hunnie dapat satu." Sehun melompat penuh rasa bahagia, sebelum ia berbalik dan memeluk tubuh Jongin dengan erat.

Joran pancing terlepas dari tangan Jongin, saat ia membalas pelukan Sehun, joran itu terjatuh ke dalam air bersama dengan ikan yang belum di ambil oleh keduanya.

Namun Jongin tidak menghiraukan itu, tatapannya terfokus pada mata polos kekasihnya. "Mungkin kau akan bosan mendengarnya Sehuna, tapi aku sangat mencintaimu." Bisiknya tepat di depan bibir Sehun.

Sehun tersenyum, tangannya terulur ke depan, merapikan anak rambut Jongin yang berantakan tertiup angin. "Hunnie juga mencintai Nini..."

Perlahan tangan Jongin turun, ia menangkup pantat Sehun dan menarik tubuh itu untuk makin merapat di tubuhnya, bibirnya tergerak untuk mencium bibir lembut milik Sehun. untuk sejenak, keduanya berciuman, tka peduli tiupan angin yang semakin kencang, dan awan gelap yang tiba tiba melingkupi sekitar mereka, hujan badai.

Tetesan air yang mengguyur sekujur tubuh mereka mau tak mau membuat Jongin melepaskan ciumannya, ia mengecup kening Sehun sebelum menggendongnya dan dengan setengah berlari membawanya kembali ke villa.

"Sepertinya kita tak bisa pulang hari ini, aku akan menghubungi orang tuamu nanti, mengatakan kalau kita akan menginap."

Jongin perlahan menurunkan tubuh Sehun di kamar mandi. Sekujur tubuh keduanya basah kuyup saat ini. Dan Sehun tidak menjawab ucapan Jongin, ia menggigil kedinginan.

"Aku akan menyiapkan air hangat untukmu, bersabarlah sebentar." Bisik Jongin, ia mengusap pipi Sehun yang dingin sebelum beranjak menuju bathub, bersyukurlah perlengkapan di villa ini cukup lengkap hingga Jongin tidak perlu kerepotan memasak air untuk membuat air hangat.

"Airnya sudah siap, baby..."

Jongin menghampiri Sehun yang masih berdiri diam ditempatnya. Namja tampan itu menghela napas panjang, berusaha menguatkan hatinya. "kau benar benar tidak bisa mandi sendiri ya?"

Sehun mengangguk.

"Lain kali, saat ibumu atau aku tidak ada, Hunnie harus janji untuk mandi sendiri ya."

"Kenapa Nini berkata seperti itu?" Sehun terlihat cemberut.

"Berjanjilah untukku, baby."

"Umm, Hunnie janji."

Jongin tersenyum, perlahan kedua tangannya mengangkat ujung sweater milik Sehun dan Sehun dengan senang hati mengangkat kedua tangannya ke atas, membiarkan Jongin melepas sweater itu dari tubuhnya. Di balik sweater itu, Sehun tidak mengenakan apa apa lagi, tubuh putih dan dadanya yang berisi, terpampang jelas di mata Jongin, namja tampan itu mesti bolak balik memejamkan matanya, merasakan gejolak kedua monster di tubuhnya yang berontak ingin keluar. Ia tak bisa mengambil kesempatan ini, ia tidak ingin menyakiti Sehunnya.

Sehun bukannya tidak menyadari pupil mata Jongin yang berubah ubah dari orange, hitam, dan biru, tapi ia menganggap hal itu sesuatu yang normal, jadi ia diam saja.

"Kau bisa melepaskan celanamu sendiri?"

Sehun mempoutkan bibirnya. "Bisa... tapi Nini bantu Hunnie mandi ya."

Jongin menarik napas lega dan ia mengangguk, namun beberapa detik kemudian ia kembali berusaha mati matian mengendalikan monsternya saat bokong padat Sehun terpampang dengan jelas di hadapannya, apalagi Sehun dalam posisi menungging karena ia sedikit kesusahan melepaskan celananya yang tersangkut di kakinya. Jongin sedikit mengeram, saat si mata biru hampir bisa menguasainya, untunglah tanda di belakang Sehun mengingatkannya tentang jati diri kekasihnya dan Jongin berhasil mengendalikan dirinya lagi.

"Nini tidak ingin melepaskan pakaian?" tanya Sehun polos.

"Aku tidak..."

"Nini kan juga perlu mandi..."

Jongin menahan pundak Sehun untuk tidak berbalik ke arahnya, ia pasti tidak akan sanggup saat melihat bagian depan tubuh Sehun juga. "Aku akan melepaskan pakaianku dan kau masuklah ke dalam bathub, nanti airnya dingin."

Sehun menurut, dan Jongin bisa bernapas sedikit lega sekarang, ia melepas kaos oblongnya dan memilih ikut berendam di bathub tanpa melepaskan celana pendeknya.

"Berbaliklah, aku akan menggosok punggungmu." Ucap Jongin lirih.

Sehun lagi lagi kembali menuruti apa ucapa Jongin, dan ia berbalik memunggungi Jongin, tangannya bermain main dengan busa sabun, sementara merasakan punggungnya bersentuhan dengan jemari Jongin.

Jongin memejamkan matanya lagi, ini sulit, karena ia harus berjuang mengontrol dirinya sendiri dan terus mengingatkan dikepalanya kalau ia tak ingin menyakiti Sehun, dan setelah berjuang cukup keras, akhirnya ia selesai menggosok punggung Sehun. "Kau bisa melakukan bagian depannya sendiri kan?" suara Jongin sedikit serak saat ia mengatakan itu.

"Ne... Hunnie bisa melakukan sendiri..."

Suara Sehun yang bergetar menyadarkan Jongin kalau Sehun pasti takut dengan aura monster yang ia keluarkan, hingga saat ia menuntun Sehun untuk pergi ke bawah shower untuk membilas tubuhnya yang penuh busa sabun, ia dapat merasakan jemari Sehun yang bergetar. Jongin sedikit merasa bersalah, tapi ini juga bukan sepenuhnya salahnya, ia masih belum terlalu mahir untuk mengontrol monsternya.

Tubuh Sehun sedikit tersentak saat Jongin melingkarkan tangannya diperutnya yang telanjang. Air masih membasahi tubuh mereka, membilas semua sisa sabun ditubuhnya.

"Kau takut padaku?" bisik Jongin dengan suara parau.

Sehun menggeleng, tadi mungkin ia sedikit takut, tapi sekarang tidak lagi, tak ada aura mengerikan lagi pada diri Jongin.

Jongin tersenyum, ia sedikit menundukkan wajahnya dan mengecup tanda mate di leher Sehun, cukup lama, setetes air mata jatuh dan ikut membasahi tanda itu, Sehun mungkin tidak menyadarinya karena tubuhnya yang basah.

"Aku sangat mencintaimu, Hunnie... tolong jangan pergi."

Sehun berbalik menghadap Jongin dan memeluk lehernya. "Nini bilang apa sih, Hunnie kan ada di sini, tidak kemana mana."

Jongin hanya diam, ia kembali menunduk dan mencium bibir Sehun dengan lembut, tak peduli dengan guyuran air dari shower dan juga tubuh Sehun yang masih telanjang dihadapannya. "Ya, aku berharap kau tak akan pernah pergi dariku."

0)(0

Sehun terbangun dari tidur nyenyaknya saat merasakan kedinginan. Hujan deras yang tak kunjung reda, ditambah dirinya yang hanya mengenakan kemeja tipis dan celana pendek, serta selimut yang yang tersingkap, membuat namja manis itu menggigil. Ia menoleh ke samping dan tak menemukan Jongin yang tadi tidur bersamanya. Sehun turun dari atas ranjang dan berjalan perlahan ke arah pintu tanpa mengenakan alas kaki.

"Nini..." panggilnya pelan, ia sedikit merasa takut, karena disini sangat sepi.

Tak ada sahutan dari luar dan Sehun memberanikan diri untuk membuka pintu kamar dan melangkah keluar. "Nini... Nini di mana, Hunnie takut sendirian..."

Sepi.

Tak ada orang di luar.

"Hiks... Nini..."

Sehun terus melangkah diiringi suara isakan dari mulutnya, ia ketakutan. Hingga saat ia tiba di teras belakang, ia melihat sesosok bertubuh tinggi dan tidak mengenakan baju dan hanya mengenakan celana pendek, berdiri dengan posisi membelakanginya.

"Nini..." panggil Sehun.

Sosok itu menoleh, dan Sehun sempat berhenti melangkah melihat mata biru itu menatapnya dengan tajam. Namun saat menyadari kalau sosok itu benar benar Jongin, Sehun berlari mendekat dan langsung memeluk tubuh Jongin yang tetap terasa hangat. "Hiks... Nini... Hunnie takut..."

Jongin balas memeluk tubuh Sehun dengan erat. "Kenapa bangun..." bisiknya.

"Hunnie kedinginan... dan Hunnie tidak menemukan Nini di tempat tidur."

Jongin melonggarkan pelukannya, ia menghapus air mata yang sempat mengalir di pipi Sehun dengan gerakan lembut. "Maaf..."

Sehun kembali menyandarkan kepalanya di dada bidang Jongin. "Nini tidak bisa tidur ya?"

"Iya..." jawab Jongin seadanya, ia menatap ke arah luar,tatapannya menembus ke arah kegelapan malam, ada banyak hal yang mengganggu pikirannya.

"Nini..." panggil Sehun.

"Ya, baby..."

Sehun sedikit mendongak, ia menangkup kedua pipi Jongin, meminta kekasihnya itu untuk bertemu pandang dengannya. Biru dan coklat bertemu pandang.

"Apa yang Nini pikirkan... Nini bisa cerita pada Hunnie."

Jongin menangkupkan tangannya pada tangan Sehun yang masih menempel di pipinya. "Kamu..."

"Eh, apa...?"

Jongin tersenyum, "Bagaimana bisa aku mendapatkan seorang peri cantik sepertimu..."

Sehun balas tersenyum, "Hunnie bukan peri ... Hunnie hanya manusia biasa, Nini terlalu berlebihan."

"Benarkah?"

Hembusan angin, membawa gerimis yang mengenai tubuh keduanya, dan Sehun semakin bergetar kedinginan.

"Dingin?"

Sehun mengangguk.

Jongin membawa jemarinya ke dagu lancip milik Sehun, mendongakkan wajah Sehun sebelum mencium bibirnya dengan lembut. "Ayo kembali ke kamar." Bisiknya dengan lembut setelah melepaskan tautan bibir mereka.

"Gendong..." rengek Sehun.

Jongin terkekeh, "Manjanya kekasihku," namun tak urung ia mengabulkan permintaan Sehun untuk menggendong namja manis itu hingga masuk ke dalam kamar tidur mereka.

"Kau tidak mengantuk?" Jongin menumpuk bantal di atas tempat tidur dan menoleh pada Sehun yang masih setia berdiri di tepi ranjang, tempat ia menurunkan tubuh Sehun tadi.

Sehun menggelengkan kepalanya. "Hunnie tidak mengantuk."

Jongin duduk bersandar di tumpukan bantal itu dan mengulurkan tangannya. "Kemarilah..."

Sehun dengan semangat naik ke atas ranjang dan langsung duduk di paha Jongin.

"Baby... aku tidak memintamu untuk duduk di sana." Erang Jongin, karena milik Sehun yang sempat bersentuhan dengan miliknya sebelum namja manis itu sedikit memundurkan pantat berisinya.

"Tapi Hunnie mau di sini." Sehun mempoutkan bibirnya, ia kemudian melingkarkan tangannya di leher Jongin.

Jongin tersenyum tipis, membayangkan mereka yang berada di tempat tidur berduaan seperti ini, sungguh bukan seperti anak belasan tahun yang sedang menikmati masa masa awal pacaran.

"Nini..."

"Hmm..."

Sehun memperhatikan pupil mata Jongin yang belum berubah, mata itu masih biru, terlihat begitu jernih. "Hunnie mimpi..."

"Mimpi apa, baby?"

"Mimpi kalau Hunnie akan meninggalkan Nini, itu tidak benar kan? Hunnie sayang Nini, dan Hunnie tidak ingin meninggalkan Nini..." suara Sehun terdengar sedih.

"Tidak akan baby, aku akan mengikatmu kalau kau berniat meninggalkanku."

"Nini..." Sehun merajuk, ia mengeratkan pelukannya di leher Jongin. "Hunnie bukan hewan, kenapa harus di ikat."

"Biar saja, soalnya aku tidak ingin kau pergi meninggalkanku."

Sehun makin memajukan bibirnya. "Ihhh... itukan hanya mimpi." Suara Sehun terdengar seperti anak kecil yang sedang merengek minta makanan.

Jongin tertawa. "Iya, aku tahu baby, sudah jangan ngambek."

"Hunnie tidak ngambek kok," bantah Sehun.

"Lalu memajukan bibir seperti itu, untuk apa? Hunnie mau menciumku ya?" goda Jongin.

Sehun terlihat memasang pose berpikir yang terlihat begitu imut di mata Jongin, tak lama kemudian ia tersenyum lebar, sebelum mendekatkan wajahnya dan mengecup kilat bibir Jongin.

"Aww, baby mulai nakal ya.." Jongin dengan sengaja menggerakkan tangannya di pinggang Sehun, menggelitik tempat sensitif di tubuh Sehun itu.

"Hahaha... Nini hentikan..." Sehun tertawa kegelian sembari berusaha melepaskan diri dari tangan nakal Jongin.

"Tidak akan..."

"Hahaha... Nini... geli..."

Sehun mengeliat sebelum jatuh terguling ke samping dengan tangan Jongin yang masih mengelitik bagian pinggangnya. "Hahaha...Nini... Hunnie menyerah..."

Napas Sehun sedikit tersengal, dan Jongin langsung menghentikan gelitikannya. Ia menyadari posisi mereka yang terbilang janggal. Dengan Sehun yang terbaring di bawah tubuhnya dan kaki Sehun yang membelit pinggangnya. Ia menundukkan wajahnya dan melumat bibir Sehun sebentar.

"Bisa kau lepaskan kakimu dari tubuhku, baby... lebih baik kita tidur sekarang." Bisik Jongin, ya ia harus sedikit menjaga jarak dari tubuh Sehun, sebelum si biru mengeluarkan taringnya.

Sehun melepaskan belitan kakinya. "Tapi Nini peluk Hunnie ya." Ucapnya manja.

Jongin menggulingkan tubuhnya sendiri, hingga ia terbaring telentang, dan Sehun langsung merangkak naik ke atas tubuhnya, membaringkan kepalanya dengan nyaman di dada bidang Jongin, dan tak lama kemudian langsung tertidur dengan Jongin yang memeluk tubuhnya dengan erat.

Sementara di teras belakang tempat Jongin berdiri sendirian tadi, sesosok tubuh berbadan tinggi dan berpakaian serba hitam, tengah mendongakkan kepalanya dengan mata yang terpejam, sebelum kemudian ia membuka matanya, pupil merah seperti api yang menyala ditengah kegelapan. Namja itu menyeringai, menampakkan sepasang taring yang terlihat begitu mengerikan.

'Semua sudah di mulai ya, Gao Taiyu... apapun rencanamu kali ini, kurasa kau tak akan bisa menghentikannya'

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Apa momen kaihun ini termasuk kategori yang sedikit sweet? Sepertinya tidak ya, mood ku lagi kurang bagus sih, makanya hanya bisa nulis segini. Maaf kalau mengecewakan ya...

Dan mohon tetap review di chap ini ya... review dari kalian itu penyemangat aku untuk lebih semangat ngetik nih ff.

Salam damai kaihun shipper

Syakila8894