THE HALF BLOOD VAMPIRE 2 ( Chapter 6 )

Cast : Kai, Sehun, Jeno, Jaemin

Rated : M ?

No edit jadi mungkin typo bertebaran.

Syakila8894

.

.

.

.

.

.

"Kau pikir begitu?"

Pemilik mata merah itu tersentak kaget, ia sungguh tidak menyadari ada orang lain yang berada di sana. Secepatnya ia menoleh dan langsung bertemu pandang dengan pemilik mata merah lainnya. "Gao Taiyu, kau..."

"Lama tidak bertemu Zhang Yixing..." Taiyu tersenyum tipis, sebelum kemudian kepalanya mendongak ke atas memperhatikan balkon kamar yang ditempati Jongin dan juga Sehun. "Jadi begitu..." wajah tampan itu berubah sedikit murung setelah ia kembali menatap sosok dihadapannya. "Kau yang memasukkan penglihatan itu ke dalam pikiran Jongin."

"Aku hanya ingin dia mengetahui kebenarannnya. Dia harus menjauhi anak peri itu."

"Zhang Yixing, aku menghidupkanmu kembali menjadi seorang Demon bukan untuk menjadi seorang penjahat."

Yixing tertawa, "Apakah ada monster yang tidak jahat di dunia ini, Taiyu... sepertinya kau terlalu lama hidup berdampingan dengan manusia."

Taiyu mengangguk, "Bisa dibilang begitu, atau... kau yang terlalu lama mendekam di ruang bawah tanah mungkin..."

Yixing menggeram.

"Aku peringatkan padamu, jangan arahkan Jongin untuk mendendam, dia mungkin terlihat tenang di luar tapi di dalam siapa yang tahu..."

"Apakah kau ingin bilang kalau dia mempunyai kekuatan yang lebih besar dariku?" Yixing memicingkan matanya.

Taiyu bersidekap. "Aku tak bilang begitu." Namja tampan itu memperhatikan Yixing dengan seksama. Ada yang berbeda dari sosok di depannya ini, Yixing yang ia kenal tidak seperti ini, bukan sosok yang begitu terobsesi menjadikan keponakannya menjadi monster juga. Apa ada yang mempengaruhinya?

Taiyu memejamkan matanya. "Shit." Ia mengumpat saat kembali membuka mata dan menatap Yixing yang menyeringai padanya. "Apa yang telah kau lakukan?"

"Hanya ingin memisahkan keponakanku dari peri lemah itu. Aku tak ingin Jongin melemah karena cinta dan melupakan tujuan untuk membunuh orang yang telah membunuhku di masa lalu."

Taiyu mendesis, "Kau pikir itu jalan keluar yang terbaik."

"Aku sudah mengatakan padamu, apapu yang kau rencanakan, Gao Taiyu. Aku tak akan membiarkan itu. Aku tak ingin semua berjalan sesuai rencanamu. Jongin keponakanku, apapun yang kau lakukan aku akan menggagalkannya."

"Sebenarnya apa yang ada di pikiranmu yang bodoh itu, Zhang Yixing, kau tak hanya ingin membunuh Sehun tapi juga mencelakakan keponakanmu sendiri." Teriak Taiyu.

"Jongin harus merasakan kesakitan untuk membangunkan monster yang sudah tertidur cukup lama."

Mata Taiyu berubah merah. "Kau sudah berubah, apa kau sadar kalau dia keponakan yang dulu selalu kau jaga. Dia bukan monster Zhang Yixing, apa kau tahu apa yang telah dia lakukan selama ini? Dia berusaha mati-matian untuk tidak berubah menjadi monster..."

Bugh

Dengan kecepatan kilat Taiyu menerjang Yixing dan melayangkan pukulan ke perutnya. Yixing menggeram kesakitan, namun ia masih sempat mencengkeram pundak Taiyu dan membawanya pergi dari tempat itu. Meski ia harus mengorbankan nyawanya lagi di tangan Taiyu, ia harus membuat rencananya berjalan lancar kali ini saja.

e)(o

Jongin membuka matanya dan menemukan Sehun yang tengah menatap dirinya dengan senyuman manis di bibirnya.

"Sayang..." suara Jongin begitu serak, saat jemari lembut Sehun mengelus rahangnya.

"Nini sudah bangun..."

"Hmm..." Jongin memejamkan matanya meresapi usapan lembut jari jari Sehun dirahangnya.

"Nini... Hunnie mau mandi..." suara manja Sehun mengalun ditelinganya membuat Jongin kembali membuka matanya.

"Kalau begitu buka bajumu."

Sehun mengerucutkan bibirnya. Namun tak urung ia melakukan apa yang diperintahkan Jongin. Namja cantik itu berdiri ditempat tidur dan mulai membuka kancing kancing piyama yang dipakainya. Saat ingin membukan celananya, Sehun merasa malu jadi ia membalikkan tubuhnya dan berdiri membelakangi Jongin.

Jongin duduk di atas kasur dan memperhatikan Sehun yang tengah menurunkan celananya dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Nini... sudah..." Suara Sehun begitu pelan, sungguh ia malu berdiri dengan tubuh telanjang seperti ini, ya meskipun Jongin hanya melihat tubuh bagian belakangnya saja.

Tak ada sahutan dari Jongin.

"Nini... ayo mandi..." rengek Sehun.

Masih tak ada suara. Namun tiba tiba sepasang tangan berkulit tan memegang pundak telanjangnya dan memutar tubuhnya. Sehun mengerjapkan matanya saat menyadari kini ia telah berdiri berhadapan dengan Jongin di atas tempat tidur.

Sehun menunduk karena merasa malu.

"Hunnie cantik sekali..." Jongin tersenyum tampan.

Tangannya bergerak untuk mengelus pundak Sehun dengan lembut, usapan itu berlanjut hingga ke dada Sehun. Jongin mengelus puncaknya sekilas sebelum tangannya bergerak melingkari pinggang ramping Sehun dan mendekapnya dengan erat.

"Nini..."

"Aku mencintaimu, Sehuna... sangat..." Tuhan, Jongin ingin sekali terus mendekap tubuh ini untuk selamanya. Bisakah ia terus memiliki Sehun?

"Hunnie juga mencintai Nini..." Sehun tersenyum, ia melingkarkan tangannya di leher Jongin, tak peduli lagi dengan ketelanjangannya. Ia berjinjit untuk menyamakan tingginya dengan Jongin.

Cup.

Jongin diam, sedikit kaget saat Sehun menciumnya. Tapi hanya sesaat karena ia balas mengerakkan bibirnya. Ditekannya bibir Sehun dengan kuat, sebelum memasukkan lidahnya ke dalam mulut Sehun.

"Eeehhmmmm..."

Sehun mendesah dengan lembut saat lidah Jongin menelusuri setiap celah di dalam mulutnya. Tangannya menggapai kepala Jongin lalu mulai mengelus rambutnya dengan gerakan lembut.

Dengan tak kalah lembutnya tangan Jongin mengelus punggung Sehun yang terasa begitu halus. Sementara bibirnya masih melumat bibir Sehun dengan buas. Lidahnya tersu bertaut di dalam mulut Sehun, mencoba mengajak namja manis itu membalas apa yang dilakukannya.

Napas Sehun terengah engah.

"Emmpphhh..." jemari lentik itu mencengkeram rambut Jongin dengan kuat, ketika dadanya mulai terasa sesak.

Jongin melepaskan tautan bibir mereka, ia menatap wajah Sehun dengan dalam. Wajah cantik Sehun bersemu kemerahan, dan bibirnya mereka mereka.. membuat Jongin tidak tahan untuk tidak mencium bibir Sehun lagi.

Bibirnya turun ke leher Sehun, mengecup, menggigit dan menjilat, memberikan banyak tanda di sana. Ciumannya turun ke pundak, tulang selangkanya dan makin turun ke dada Sehun.

"Aahhh..." Sehun mendesah seraya melengkungkan tubuhnya saat merasakan bibir Jongin mengecup puncak dadanya.

Jongin menciumi dada Sehun dengan lembut, lidahnya menjilat puncak dadanya sebelum menggigitnya pelan. Masih dengan aktifitasnya menjilat dan menggigit dada Sehun, Jongin perlahan menuntun Sehun untuk berbaring di kasur.

"Ahhh..." Sehun mengerang saat mulut Jongin menghisap puncak dadanya bergantian dengan kuat. Jongin tersenyum mendengar erangan Sehun, ia menjilat area dada Sehun, mengigitnya lalu menghisapnya dengan kuat, meninggalkan bekas kemerahan menyeluruh di dada Sehun.

"Aaahhhh..." erangan Sehun bertambah kuat saat lagi lagi mulut Jongin menghisap puncak dadanya.

Tangan Jongin meraba ke bawah dan bertemu dengan kejantanan mungil milik Sehun. milik Sehun terasa basah di tangan Jongin, namja manis itu rupanya sudah begitu terangsang karena ulahnya.

Jongin melepaskan kulumannya di nipple Sehun, ia mengecup perut rata Sehun sekilas sebelum mulutnya menjilat kejantanan Sehun. tangannya menyusup ke belakang dan menangkup pantat berisi Sehun.

"Aaahhh... Aaahhh..."

Sehun mengelinjang saat Jongin mengulum kejantanannya dan menggerakkan kepalanya naik turun. "Ahhh... Niniiiii..."

Jongin melepas kulumannya, tubuhnya sedikit naik untuk berbisik di telinga Sehun. "Berbaliklah sayang."

Sehun menurut tanpa protes, meski ia tak tahu untuk apa Jongin memintanya seperti itu, tapi ia tidak ingin menanyakannya.

Sehun mengambil posisi merangkak seperti bayi dan pantatnya yang semok tepat menghadap wajah Jongin.

Jongin menunduk untuk mengecup dan sesekali menggigit kedua bongkahan padat itu.

Sehun sedikit tersentak kaget saat merasakan ada benda dingin yang bersentuhan dengan area holenya, itu tangan Jongin yang entah ia olesi dengan apa. Namja cantik itu meringis saat jari Jongin memaksa masuk ke dalam holenya.

"Nini..."

"Tahan sayang..." bisik Jongin seraya mengecup punggung Sehun yang berkeringat.

"Aaarrgghhhttt..." Sehun mengerang kesakitan saat Jongin menambah satu jari lagi ke dalam holenya. Sungguh rasanya sakit sekali dan ini juga pertama kalinya bagi Sehun holenya di masuki dengan sesuatu.

Jongin memutar jarinya di dalam hole Sehun dan berujung pada erangan kesakitan Sehun.

"Nini... ini sakit..." tubuh Sehun sedikit gemetar. Ia sudah ingin meminta Jongin mengeluarkan jarinya saat tubuhnya sedikit melengkung karena jari Jongin yang menyentuh sesuatu di dalam sana. Prostatnya.

"Ahhhh..." Sehun tak mampu untuk tidak mendesah.

"Jadi di sana ya." Jongin mengecup punggung Sehun lagi, sebelum mengeluarkan jari jarinya dari dalam hole Sehun.

Sehun menoleh ke belakang saat merasakan holenya kosong, dan ia langsung tersipu malu saat melihat Jongin melepaskan pakaiannya dan kini telanjang sama seperti dirinya. Sehun memejamkan matanya tak berani memandang ke arah kejantanan Jongin yang jauh lebih besar dari miliknya.

"Nini... Hunnie takut..."

"Tidak apa apa... aku akan melakukannya dengan lembut." Jongin melumat bibir Sehun dengan lembut, sementara ujung kejantanannya menempel di bibir hole Sehun.

"Ummhhh..." Sehun membalas lumatan Jongin dengan tak kalah lembut.

Jongin melepaskan ciumannya, ia memeluk tubuh Sehun dari belakang, tangannya meraba dada Sehun yang berisi, meremas, membelai dan kemudian memelintir nipplenya. Tubuh Sehun menggeliat pelan di dekapan Jongin dan bibirnya terus mengeluarkan desahan yang tertahan.

"Ahhh... Nini..." tangan Sehun terarah ke belakang dan ia menyentuh tubuh kekar Jongin sebisanya.

Tiba-tiba ada benda keras yang berusaha masuk ke dalam holenya. Sehun langsung mengerang kesakitan saat holenya dipaksan membuka dengan begitu lebar untuk membiarkan benda itu masuk. Kejantanan Jongin begitu besar dan Sehun merasa holenya sampai sobek untuk bisa menampung benda itu.

"Arrgghhttt... hiks... Nini..." Sehun menangis saat merasakan rasa sakit yang teramat sakit, bernai bertaruh ia seperti merasakan darah yang mengalir dari holenya yang sobek.

"Oohhh... Sempit sekali..." Jongin menggeram, matanya berubah orange saat kejantanannya berhasil masuk keseluruhan.

Badan Sehun bergetar menahan rasa sakit yang teramat sangat, ia merasakan begitu sesak di dalam sampai tak ada celah sempit yang tersisa di holenya. Tubuhnya melemas dan kalau saja Jongin tidak menopang tubuhnya mungkin Sehun sudah terbaring tak berdaya sekarang. Penyatuan ini sungguh menguras energi di dalam tubuhnya.

"Hiks... Nini... ini sakit sekali..." Sehun menangis terisak.

"Maaf... tapi aku tak bisa berhenti." Gumam Jongin dengan nada menyesal. Ya, ia tak bisa berbuat apa apa saat monsternya yang mengambil alih pikirannya.

Jongin melingkarkan tangannya di pinggang ramping Sehun dan mulai mengerakkan tubuhnya perlahan.

Sehun meringis. Namun itu tak lama, karena Jongin langsung menemukan prostatnya dan membuat tubunya terlonjak penuh kenikmatan.

"Aahhhhh... aaahhh..."

Jongin memacu tubuhnya lebih cepat, kejantanannya keluar masuk di dalam hole Sehun dengan kecepatan tinggi. dan Sehun hanya bisa terus mengerang antara merasakan sakit dan juga nikmat disaat bersamaan.

Keringat membanjiri tubuh keduanya.

"Ahhh... Niniiii..." Sehun serasa mati rasa saat Jongin terus menghajar holenya dengan cepat. "Hunnie ... Ahhh... mau pipiiissss..."

Kejantanan Sehun sudah mengalirkan precum yang deras dan Jongin segera menggenggam kejantanan Sehun dan mengocoknya dengan irama teratur. "Keluarkan saja sayang..." ucapnya. "Aaaarrghhh... aku juga hampir sampai..." geramnya lagi.

Gerakan Jongin semakin cepat dan semakin bertenaga, tubuh Sehun tersentak sentak dibuatnya.

"Aaahhh..." Sehun ikut menggeram. Ia merasakan kejantanan Jongin berubah semakin besar di dalam sana dan ia juga merasa holenya kembali Sobek karena tak mampu menampung milik Jongin yang membesar.

"Niniiiii..."

"Hunnieeeee..."

Keduanya memejamkan mata dan...

Semburan sperma mengalir dari milik Sehun yang mengenai seprai dan juga milik Jongin yang membasahi holenya. Tetesan sperma yang bercampur darah keluar dari hole yang tak mampu menampung semuanya.

Keduanya membuka mata dan tanpa keduanya sadari, warna biru mengambil alih mata mereka.

"Sehun..." Jongin menatap tak percaya pada kekasihnya. "Kau..."

Brakk

Jongin melompat bangun dari tidurnya saat mendengar suara dobrakan pada pintu luar. Sesaat ia tertegun, ia bangun dari tidur? lalu yang tadi itu apa?

Jongin memperhatikan tubuhnya, ia masih berpakaian lengkap, diliriknya kesamping dan menemukan Sehun masih tidur dengan lelap, juga masih dengan pakaiannya.

Jongin mengusap keningnya yang basah dengan keringat. Jadi yang tadi hanya mimpinya? Tapi kenapa semua seperti nyata? Jongin sekali lagi memperhatikan tubuhnya. Tak ada yang berubah kecuali dirinya yang merasa lemah.

Sebenarnya ada apa ini? Kenapa ia bisa mimpi melakukan hal itu pada Sehun. Tapi Jongin tak bisa berpikir panjang sekarang, monster di dalam tubuhnya merasakan ada penyusup yang masuk, tempat ini sudah tidak aman.

"Sehuna..." Jongin mengguncang tubuh Sehun, meminta namja itu untuk bangun.

"Ummhhh..." gumam Sehun.

"Ayo bangun, Hunnie..."

"Shireooo... Hunnie ngantuk..."

Jongin tampak gelisah, ia merasakan ada bahaya yang mendekat, jadi ia kembali mengguncang tubuh Sehun. "Hunnie... ayo bangun sayang..."

"Hunnie ngantuuuuukkk..." meski terpaksa, akhirnya Sehun bangun juga. Namja manis itu duduk di kasur dan menatap Jongin dengan mata sayu. "Nini ... ada apa..."

"Ada..."

Brakk

Belum sempat Jongin menyelesaikan kalimatnya, dobrakan pada pintu kamar yang ditempati keduanya membuat ia dengan cepat memeluk tubuh Sehun dengan erat.

"Wah, wah, wah,... apa yang dia katakan memang benar. Kalian ada disini..."

"Kalian..." Jongin merasakan tubuh Sehun yang gemetar di dalam dekapannya. "Bagaimana mungkin bisa masuk..."

Nichkhun menyeringai. "Kau harus berterima kasih pada pamanmu yang bodoh itu, dia yang membuka pagarnya dan meminta kami masuk ke sini."

"Tidak mungkin." Jongin mengusap punggung Sehun berusaha menenangkannya. "Pamanku sudah mati..."

"Mati sebagai manusia maksudmu?"

Deg

"Apa..." Jongin terdiam. Mati sebagai manusia... jangan-jangan?

"Hooo, sepertinya kau cerdas juga bocah. Ya dia sekarang sama seperti kami."

Jongin menggeram, ia hampir saja membangkitkan monsternya saat ucapan Taiyu terngiang ditelinganya. 'Apapun yang terjadi, saat kau bersama Sehun, hanya munculkan Demon dan jangan pernah sekalipun memunculkan dia, atau Sehunmu akan mati'

"Ahhh... Half Demon akhirnya muncul..."

Jongin melirik Sehun dengan perasaan galau, bisakah ia menyelamatkan Sehun hanya dengan setengah kekuatannya?

"Sehunie kau bisa lari..." bisiknya.

Sehun menggeleng di dekapan Jongin. "Hunnie tidak tahu, tapi tubuh Hunnie rasanya lemas sekali." Balas Sehun.

Kenapa tubuh Sehun juga merasakan hal yang sama dengannya. Kalau seperti ini bisakah Jongin menyelamatkan Sehun?

"Bersiaplah untuk menyerahkan bocah peri itu padaku bocah..." Nichkhun menyeringai lagi.

Dan mucul dua sosok lain yang Jongin kenali sebagai anak buah Nichkhun. Ia menelan ludah, mampukah dirinya menghadapi tiga demon sekaligus. jongin memejamkan matanya, apapun yang terjadi kali ini, ia harus berhasil menyelamatkan Sehun, apapun caranya.

.

.

.

.

.

TBC

Ini pendek ? emang sengaja. Hahaha... #plakk

Maafkan aku yang sibuk banget akhir akhir ini hingga baru bisa share sekarang.

Dan mohon reviewnya ya. Chap kemaren reviewnya dikit banget. Kali ini bolehkah killa berharap reviewnya lebih dari 20 orang agar killa semangat ngetiknya.

Dan demi Sehun yang tampil dengan tanda merah di tangan dan bibir yang uhuk tepat di malam setelah Jongin pulang dari jepang membuat pikiranku melanglang buana. Hahaha... mana dia ga seperti biasanya tampil dengan flower crown. Kyaaaaaa...

Untuk nomin shipper, chapter depan baru muncul ya.

Salam damai kaihun shipper.

Syakila8894