THE HALF BLOOD VAMPIRE 2 ( Chapter 8 )
Cast : Kai, Sehun, Jeno, Jaemin
Rated : Balik lagi ke T
Mood masih belum sepenuhnya balik, tapi aku paksain untuk ngetik lagi. Entah hasilnya seperti apa. Maaf kalo mengecewakan.
Chap ini mungkin bakal garing banget. Aaahhhh... aku ga pernah berbakat kalo di minta nulis genre fantasy/action macam begini. T_T
Syakila8894
.
.
.
.
.
.
Jongin menautkan jarinya dengan Sehun sebelum berbisik, "Hunnie, apa kau merasakan pantatmu sakit?" Ya, Jongin ingin memastikan sesuatu sebelum ketiga demon dihadapannya ini menyerang dirinya dan Sehun.
Pantat ? dengan sebelah tangannya yang bebas, Sehun meraba pantatnya yang tertutup oleh celana, lalu menggeleng. "Tidak, memang kenapa Nini?"
Kali ini giliran Jongin yang menggeleng. Semua sudah jelas sekarang dan ia bisa kembali fokus untuk memikirkan bagaimana caranya menyelamatkan kekasih cantiknya ini. Andai saja gurunya ada di sini, tapi kemana dia? Bukankah gurunya sudah berjanji kepadanya akan datang menyusulnya kesini?
"Jadi... apa pesan terakhirmu untuk kedua orang tuamu, bocah ?" Taecyeon menyeringai menampakkan taringnya.
Sehun yang melihatnya langsung menyembunyikan tubuhnya di balik tubuh Jongin.
"Ahh, peri yang ketakutan memang terlihat sangat manis untuk di santap." Chansung menjilat bibirnya.
Jongin menggeram, tatapannya penuh kemarahan dan namja tampan itu berusaha mati matian menekan monsternya agar tidak muncul sekarang. Sial, andai saja tubuhku tidak melemah seperti ini,pasti aku bisa membawa kabur Sehun.
"Dasar pengecut, kalian bermaksud menyerang bocah sepertiku bertiga seperti itu?" Jongin semakin marah saat melihat ketiganya maju, ini akan semakin menyulitkannya menjaga Sehun.
"Well, bagi bangsa demon tak ada hal yang terlihat pengecut di dunia ini."
Tak ada pilihan lain, ia harus membawa Sehun kabur sekarang. Jongin menarik Sehun untuk berdiri disampingnya dan memeluk tubuhnya dengan erat, ia melangkah mundur hingga hanya berjarak dua langkah dari jendela kamar yang mereka tempati. Secepat yang ia bisa dengan sebelah tangannya yang bebas, Jongin mengangkat meja nakas dan melemparnya ke arah tiga demon yang langsung melompat mundur untuk menghindar. Saat ketiganya melompat mundur, Jongin menendang kusen jendela hingga terbuka, namun sebelum ia sempat membawa Sehun keluar dari tempat itu, salah satu Demon itu menarik lengannya dan membantingnya ke lantai kamar.
Sehun menjerit, dan ia tetap berdiri di dekat jendela dengan tubuh yang gemetar.
Pandangan Jongin mengabur, kepalanya pusing karena benturan keras. Sedikit bersusah payah, Jongin berhasil bangkit dan menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir pusing dikepalanya. Jongin belum siap untuk bertarung saat Taecyeon berhasil menendang perutnya lagi hingga ia kembali tersungkur di dekat kaki Sehun.
"Nini..." Sehun bergegas berjongkok dan membantu Jongin berdiri.
"Ah, sepertinya ini akan seru, melihatmu yang sekarat dan orang yang kau lindungi ini akan mati kehabisan darah di depanmu."
Jongin menyeringai, sepasang taring muncul di sela sela bibirnya. "Kau pikir aku akan membiarkannya."
"Wah, wah..." Nickhun bertepuk tangan. "Kau masih punya nyali untuk melawan kami rupanya."
Jongin menggeram dan mata orange miliknya perlahan berubah menjadi semerah darah. Seperti kata Taiyu dia tidak mungkin bisa mengeluarkan monster yang satunya dari dirinya, tapi Taiyu tidak melarangnya untuk berubah menjadi demon sepenuhnya bukan.
"Kau..." Nichkhun tampak terkejut. Tak ada orang yang bisa merubah dirinya yang merupakan seorang demon murni menjadi half demon, tapi anak muda di depannya ini bisa melakukannya. Sebenarnya siapa dia?
"Jangan pernah bermimpi bisa mendapatkan Sehun dariku." Suara Jongin berubah besar dan serak.
"Untuk apa kau melakukan ini? Kau demon dan kau bisa mengambil darah peri itu semaumu untuk menjadi kuat, tapi kau malah melindunginya. Apa ini untuk bisa bercinta dengannya? Atau kau ingin mendapatkan keturunan sebelum membunuhnya?"
Mata merah Jongin melirik pada Sehun yang tampak ketakutan saat balas menatapnya. "Aku tak akan membunuhnya, karena dia berharga untukku."
Nichkhun tertawa terbahak bahak. "Tak ada yang lebih berharga selain darah peri dan half blood. Kau pasti juga tau itu."
"Karena tidak bisa mendapatkan halfblood kau mau memanfaatkan darah peri, kau tau, kau terlihat begitu lemah dimataku."
"Kurang ajar..."
Bugh
Sebelum Nichkhun sempat menyerangnya, Jongin lebih dulu menendang area private pria itu dan menarik tangan Sehun, melompat dari jendela dan mendarat dengan mulus di atas rerumputan.
"Ayo..."
Jongin menarik tangan Sehun untuk berlari bersamanya menuju ke arah pantai.
"Apa mereka mengejar kita, hiks... Hunnie takut..." Sehun sedikit terisak dan diam diam Jongin menyesal telah membawa Sehun ke tempat ini dan membuatnya bertemu dengan demon, tapi apa yang membuat demon selain dirinya bisa masuk ke tempat ini, siapa yang membuka segelnya?
"Jangan menangis Hunnie, aku akan melindungimu..."
"Tapi... kyaaaa..." Sehun berteriak saat pegangan tangannya dengan Jongin terlepas dan tubuh Jongin terbanting ke tanah. Sehun jatuh terduduk karena terlalu terkejut melihat Jongin yang mengerang kesakitan. Darah merah mengucur dari kening dan juga pipinya yang terluka.
"Wow, aroma darahmu hampir seharum kaum peri, kau demon yang istimewa..."
"Nini..." Sehun menjerit terkejut saat seorang demon menjambak rambutnya dan menyeretnya kehadapan Jongin yang tengah mengerang kesakitan karena tendangan dan di perut dan juga punggungnya oleh Nichkhun dan Chansung.
"Kali ini kau akan melihat tubuhnya yang mengering dihadapanmu." Taecyeon tertawa, tangannya yang menjambak rambut Sehun beralih untuk mencekik leher namja manis itu.
"Grrrr..." kemarahan Jongin sudah berada di ambang batas yang bisa ditahannya dan sesaat sebelum ia sempat berubah. Sekelebat bayangan yang begitu cepat telah menusukkan pisau perak ke paha dan lengan orang yang mencekik leher Sehun. Sehun terbebas dari tangan Taecyeon dan langsung terpuruk di tanah dengan napas tersengal.
"Kau..." Taecyeon terhuyung-huyung kebelakang sebelum menabrak tubuh seseorang yang dengan tidak memiliki perasaan langsung memisahkan kepalanya dari badannya. Tubuh Taecyeon ambruk ke tanah dan langsung menjadi debu.
Bayangan tubuh itu berkelebat cepat ke arah Nichkhun dan Chansung, namun seakan sadar situasi, keduanya melepaskan Jongin dan langsung menghilang dari tempat itu.
"Hyung..."
"Maaf aku sedikit terlambat." Taiyu berjongkok dan membantu Jongin yang sudah babak belur itu untuk berdiri.
"Sehun..." dengan susah payah, Jongin berjalan dan menghampiri Sehun.
"Hiks, Nini..."
"Sudah, tidak apa-apa." Jongin menarik tubuh Sehun kedalam pelukannya dan mendekapnya dengan erat. Matanya yang merah langsung berubah menjadi normal sesaat setelah ia memeluk tubuh Sehun.
Tatapan Jongin beralih pada Taiyu, ada yang sedikit berbeda dari gurunya itu, ada luka di sudut bibirnya. "Apa demon tadi sempat melukai hyung?"
"Huh, tidak..." jawab Taiyu.
"Lalu siapa yang melukai hyung?"
Taiyu meraba lukanya dan tersenyum tipis. "Hanya seseorang di masa lalu." Jawabnya singkat. Danmungkin dia akan menjadi lawan tersulitmu Kim Jongin, sambungnya di dalam hati.
"Dari pada mengurus masalah luka kecilku ini, lebih baik kita kembali ke kota dan mengobati lukamu," Taiyu melirik Sehun yang sepucat mayat dan juga ada lebam di lehernya. "Oleskan darahmu pada lebam di lehernya, sepertinya dia bahkan terlalu shock untuk mengobati tubuhnya sendiri."
Jongin menyeka darah yang masih mengalir dari luka dikeningnya dan mengusapkannya di leher Sehun. ada asap tipis yang muncul sebelum lebam itu menghilang dengan perlahan.
"Darahku bisa menyembuhkan Sehun?" tanya Jongin tak percaya.
"Sepertinya begitu, dan Jongin... kau biasanya tidak selemah ini. Apa yang terjadi denganmu?"
"Aku tidak tahu hyung... hanya saja... aku bermimpi sedang..." Jongin melirik pada Sehun yang meringkuk di dalam pelukannya.
"Aku mengerti." Gumam Taiyu, "Kau bermimpi melakukan itu dengan Sehun?"
"Ya, dan saat aku bangun tubuhku langsung melemah begitu juga dengan Sehun. sebenarnya apa yang terjadi, Hyung?"
Taiyu memejamkan matanya sejenak, saat ia bertatapan dengan Jongin kembali ia hanya mengatakan. "Kau hanya akan menjalani takdirmu. Dan kau melemah karena sepertinya ada pengaruh dari dia..."
"Dia...?" Jongin mengernyitkan alisnya.
"Orang yang ingin mencelakakan kekasihmu. Sudahlah, kita akan membicarakan itu nanti, ayo pergi..."
.
.
.
.
.
"Nana..."
"Hmm..." Jaemin yang sedang membaca komik sambil berbaring di atas kasur milik Jeno, hanya membalas dengan gumaman.
"Sayang..."
Brugh
"Awww..." Jeno mengusap kepalanya yang baru saja di pukul Jaemin dengan sekuat tenaga menggunakan buku Harry Potter milik Jeno yang ada di meja nakas. "Kau ini kenapa kasar sekali sih dengan pacar sendiri, kalau aku amnesia dan salah mengenali pacarku sendiri bagaimana?" omel Jeno.
Jaemin memicingkan matanya, ia mengacungkan kepalan tangannya tepat di depan hidung mancung Jeno. "Berani melupakanku, hidungmu akan ku buat datar saat ini juga." Ancamnya.
Jeno tertawa, "Ya, kenapa aku bisa mencintai orang segalak dirimu sih, haruskah aku memilih orang yang seperti Sehun, ah... dia manja sekali dan ma..."
Bukk
Bukk
Bukk
Kembali hantaman buku mengenai punggung Jeno yang berguling berusaha menghindar dari amukan Jaemin. "Aku akan membunuhmu Lee Jenooooooo..."
"Aww, hentikan sayang... kalau aku mati sekarang, siapa yang akan melindungimu nanti?"
Pukulan Jaemin terhenti. Ia menatap Jeno dengan raut wajah yang terbaca. "Andwae..."
"Huh,.." Jeno balas menatap kekasihnya sambil membenarkan kaosnya yang kusut karena berguling guling menghindari Jaemin tadi.
"Andwae... kau tidak boleh mati..."
Jeno tertegun melihat mata Jaemin yang berkaca kaca, menahan tangis. "Sayang..." ia menarik tangan Jaemin, mengajaknya untuk duduk berhadapan di atas kasur, sebelum membawa tubuh yang lebih mungil darinya itu ke dalam pelukan hangatnya. "Aku tak akan mati... aku akan selalu di sini... bersamamu... melindungimu... seumur hidupku." Jeno mengecup puncak kepala Jaemin dengan sayang.
"Kau janji..." Wajah Jaemin cemberut saat mendongak menatak raut wajah kekasihnya.'
"janji, tapi jangan cemberut seperti ini dong, kau jelek tau.."
"Yak..." sekuat tenaga, Jaemin mencubit perut Jeno, hingga kekasihnya itu mengaduh kesakitan.
"Ahh, kau menyakitiku, Nana..."
"Biarkan saja, kau bilang aku jelek kan, lalu kenapa kau mengatakan kalau kau mencintaiku." Bibir merah itu terpout, imut.
"Karena kamu mateku..." balas Jeno. "Bahkan meski kau lebih jelek dari ini, aku juga akan tetap menyukaimu."
"yak, jadi kau benar benar mengatakan aku jelek." Jaemin hampir mengamuk lagi, seandainya saja Jeno tidak lebih dulu memeluknya dengan begitu erat.
"Aku hanya bercanda, Nana... tapi kau membuat tubuhku penuh lebam..." Keluh Jeno.
"Biarin..."
Jeno tersenyum, ia sedikit melonggarkan pelukannya dan menatap wajah kekasihnya. "Coba aku lihat..."
"Lihat apa?"
"Mata ini..."
Cup
Jeno mengecuk kedua mata Jaemin bergantian. "Begitu cantik." Ciumannya berpindah ke ujung hidung Jaemin, "Hidung ini juga begitu mungil dan menarik." Bibir Jeno kembali berpindah mengecup kedua belah pipi Jaemin. "Pipi ini terlihat begitu chubby dan menggemaskan."
Jeno sedikit memiringkan kepalanya saat bibirnya menempel di bibir Jaemin, "Dan bibir ini..." ucapnya masih dengan bibir mereka yang saling menempel. "Adalah bibir terindah milik orang yang tercantik dan orang itu begitu aku cintai."
Wajah Jaemin tidak bisa lebih memerah dari ini, ia malu namun juga senang dengan ucapan Jeno untuknya. "Aku..."
Ucapan Jaemin terputus karena Jeno yang lebih dulu melumat bibirnya, Jaemin tersenyum, ia mengeratkan pelukannya di tubuh Jeno dan membalas ciumannya.
"Ekhem..."
Deheman itu membuat keduanya dengan cepat melepas ciuman mereka. Jeno dengan cepat menoleh ke belakang dan ia langsung melompat turun dari ranjang saat tahu siapa yang datang mengganggu.
"Akh, siapa sih yang da..." Nana menutup mulutnya saat melihat ke arah tiga orang yang baru datang itu. "Sehunie..." ia melempar selimutnya ke arah sembarang dan bergegas turun dari ranjang.
"Apa yang terjadi?" Jeno menatap ke arah Jongin yang babak belur dan Sehun yang pingsan digendongannya.
"Bicaranya nanti saja," Taiyu menggumam, ia terus mengamati Jongin yang tampak semakin lemah, namun namja itu terus melangkah ke arah ranjang dan meletakkan Sehun di sana. Ada yang terjadi pada tubuh Jongin, namun belum sempat Taiyu mencari tahu. Pintu kamar terbuka dengan kasar dan orang tua Sehun yang sempat ia beritahu, muncul.
"Sehunie..." Suho terpekik kaget. Ia berlari ke arah ranjang dan langsung menyentuh tubuh anaknya. "Syukurlah dia hanya pingsan." Ucapnya, menghela napas lega, sebelum menoleh pada Chanyeol yang tampak khawatir.
"Maaf, ahjushi... aku tak bisa menjaga Sehun dengan baik." Ucap Jongin lirih.
"Tidak apa, kau sudah melakukannya dengan baik." Chanyeol sempat tertegun saat menatap Jongin. Wajahnya terlihat begitu pucat, sepucat mayat hidup dan darah yang terus mengucur dari lukanya. "Kau harus di obati. Lukamu parah."
"Aku..." Jongin merasa napasnya sesak dan ia tak sanggup berbicara lagi.
"Jangan bicara dulu, sepertinya jantungmu terluka." Chanyeol menyentuhkan tangannya ke kening Jongin, mengeluarkan kekuatannya untuk membantu menyembuhkan kekasih dari anaknya itu.
Taiyu yang sedari tadi diam memperhatikan kini mulai mengernyitkan dahinya, melihat darah yang keluar dari luka Jongin kini tidak lagi merah, tapi hitam. Ini gawat.
"Kenapa..."
"Hentikan sekarang juga." Taiyu memotong ucapan Chanyeol, dan namja itu langsung melepaskan tangannya dari kening Jongin seketika saat Taiyu mendekati Jongin.
Napas Jongin tersengal, dan Taiyu sadar seratus persen kalau kekuatan tubuh Jongin yang melemah tak bisa lagi menahan kekuatan monsternya. Monster itu akan muncul, dan Taiyu tak bisa membahayakan semua orang saat ini.
"Hyung..." panggil Jongin lirih.
"Aku tahu, bertahanlah..." Taiyu menggigit jarinya hingga terluka dan memasukkan telunjukanya yang berdarah itu ke mulut Jongin.
Jongin menghisapnya dengan isapan yang sangat lemah, sebelum ia mendorong tubuh Taiyu dan berjongkok untuk memuntahkan cairan hitam kental dari mulutnya.
"Grrrrr..."
"Sial..." Taiyu memukul tengkuk Jongin dan menahan tubuh namja tampan itu sebelum ambruk ke lantai. Meski ia tahu ini hanya akan menolong mereka selama beberapa saat sebelum Jongin sadar kembali dan muncul sebagai monster, Taiyu harus membawanya pergi dari tempat itu.
"Jeno, aku serahkan Sehun padamu."
"Aku akan ikut denganmu, Sehun akan aman di sini bersama orang tuanya." Jeno yang sadar situasi langsung memilih untuk ikut.
Tapi Taiyu lebih dulu menggelengkan kepalanya. "Jangan bertindak gila, kau tau bukan salah satu dari kita berdua mungkin saja akan mati karenanya, dan karena itu aku memintamu untuk tinggal di sini. Sehun dan Jaemin lebih membutuhkanmu."
"Hyung..."
Taiyu menoleh pada Jeno.
"Tetaplah bertahan untuk hidup, aku yakin Jongin pasti akan menyesal kalau ia sadar nanti. Kau orang yang sangat penting untuknya."
Taiyu tersenyum samar. "Aku tak bisa menjanjikan apa apa sekarang ini." Setelah mengucapkan itu Taiyupun menghilang bersama Jongin.
.
.
.
.
.
Sudah seminggu berlalu dan Jongin belum juga kembali begitupun dengan Taiyu. Sehun yang diberitahu kalau Jongin pergi ke rumah sakit di luar negeri, oleh ayahnya, terus-terusan merengek untuk pergi dan menengok kekasihnya itu.
"Tidak bisa Sehuna, kau harus sekolah." Ucap Chanyeol.
"Shireo, Hunnie mau ketemu Nini..." rengek Sehun.
"Hunnie... kalau Jongin tau kalau kau malas sekolah dia pasti tidak akan mau lagi denganmu." Suho mengelus sayang surai lembut anaknya.
"Tapi Nini suka Hunnie," Sehun dengan keras kepala terus mencari alasan untuk pergi menemui kekasihnya.
"Hunnie tau Jongin kan, dia murid paling pintar di sekolah, ketua Osis juga. Apa nanti kata orang orang kalau tau kalau kekasih ketua osis mereka ternyata pemalas untuk pergi sekolah, Jongin pasti malu sayang..."
Sehun menggembungkan pipinya sambil memiringkan kepalanya ke kanan, terlihat berpikir. "Andwae... Hunnie tidak mau bikin Nini malu," pekiknya setelah cukup lama berpikir. Namja manis itu segera mengambil tasnya dan kemudian menghampiri sang ayah. "Daddyyyyy... antar Hunnie ke sekolah sekarang," rengeknya.
Chanyeol tersenyum lebar, "Tentu saja daddy akan mengantar anak kesayangan daddy," Chanyeol melirik ke arah Suho, mengedipkan mata kanannya dan mengacungkan jempolnya.
Suho tersenyum sembari balas mengedipkan matanya juga.
"Ayo daddy, kita berangkat..." Sehun dengan bersemangat menarik tangan ayahnya.
"Kau belum berpamitan pada mommy, Hunnie..." Suho mengingatkan.
"Ah, Hunnie hampir lupa..." pekik Sehun. ia bergegas menghampiri ibunya dan mencium pipinya. "Hunnie berangkat dulu mommy..."
"Belajar yang rajin dan nanti di sana, jangan merepotkan Nana dan Jeno ya,"
"Siap..." Sehun memasang pose hormat sebelum melangkah keluar rumah.
Namun apa yang dikatakan Sehunkepada Suho, berbeda dengan kenyataan yang ada sekarang. Karena saat ini Jaemin tengah menatap kesal ke arah sepupu cantiknya itu.
"Sehunie, bisakah kau tidak mengikuti kami terus. Kau mengganggu kencanku tau,"Jaemin menatap galak pada Sehun.
"Tidak tidak punya teman selain Nana dan Nono disini," tolak Sehun.
"Ish, kembali ke kelas saja sana," usir Jaemin.
"Shireo, Hunnie lapar dan Hunnie mau tetap di sini," Sehun menggelengkan kepalanya.
"Akh...kapan sih si hitam itu pulang," keluh Jaemin.
Jeno yang sedang menyumpit sepotong daging kontan menghentikan gerakan tangannya, teringat pada sahabatnya dan juga Taiyu yang tidak ada kabar sama sekali. Berhasilkah Taiyu menyembuhkan Jongin dan apa namja itu baik baik saja ? Meski ia tidak tahu makhluk apa yang ada di tubuh Jongin namun seperti Taiyu katakan padanya, kekuatan makhluk itu bukanlah tandingannya.
"Jeno... Kau melamun ?" Jaemin menyenggol pelan lengan Jeno dengan sikunya.
"Ah, tidak," Jeno mengarahkan sumpitnya ke arah Jaemin. "Buka mulutmu, sayang."
"Aaaaa..."
Hap
"Ini enak..."
"Park Sehuuuuuunnnnn..."
Sehun tertawa melihat Jaemin yang murka karena ia yang lebih dulu menyantap daging itu. "Suapan Nono enak, Nana gak dapat. Weeeee..."
"Sehuuuuuunnnn..."
"Kyaaaa... Jangan kejar Hunnie..."
Jeno tertawa saat melihat Jaemin yang berlari mengejar Sehun mengelilingi meja kantin tempat mereka berada sekarang. "Ahh, aku seperti orang yang mempunyai dua orang kekasih yang berebut ingin aku suapi."
Jaemin dan Sehun berhenti berlari dan saling pandang sejenak sebelum sama sama mendekati Jeno.
Bugh
Bugh
"Awww..." Jeno meringis saat dua pukulan mendarat di perutnya.
"Aku akan memotong ekormu kalau kau berani selingkuh," ancam Jaemin.
"Nini lebih tampan dari Nono, jadi Hunnie tidak mau punya pacar seperti Nono."
"Kalian ini kenapa galak sekali sih, aku kan hanya bercanda." Keluh Jeno. "Dan kamu sayang... Apa kamu tega kalau aku kehilangan ekorku..."
Jaemin cemberut, "Sebenarnya tidak sih, tapi kalau kamu benar benar selingkuh... Yak, Hunnie... Apa yang kamu lakukan ?" Jaemin memandang ke arah Sehun yang membungkukkan badan menatap tubuh Jeno lebih dekat.
"Hanya penasaran... Memang Nono punya ekor?" pertanyaan Sehun membuatsepasang kekasih itu menepuk jidat, lupa dengan kepolosan Sehun.
.
.
.
.
Yixing mengangkat gelas di tangannya dan memperhatikan cairan merah di dalam gelas itu. "Tak lama lagi... Semua akan berakhir..."
Ia tersenyum sinis sebelum menghabiskan isi gelas itu dalam sekali teguk dan kemudian melemparkannya ke lantai.
"Kim Jongin, keponakanku tersayang... Kedua orang itu mengatakan kalau dia terluka dan saat ini Taiyu pasti sedang mengobatinya." Yixing memejamkan matanya. "Aku harus memastikan monster itu keluar sebelum terlambat. Taiyu pasti tidak akan bisa menahannya dan... Penghalang terbesarku itu akan lenyap." Yixing tertawa terbahak bahak.
"Kau memanggil kami ?" suara itu menghentikan tawa Yixing.
Ia membalikkan tubuhnya dan langsung berhadapan dengan Nickhun dan juga Chansung. "Ya, aku ingin kalian membereskan sahabat Jongin dan kekasihnya itu,"
"Tanpa kau minta pun kami akan melakukannya," Nickhun menyeringai.
"Dan kau..." Yixing menatap pada seorang yang bersandar di pojokan. "Terserah seperti apapun caranya, culik Sehun dan bawa dia kemari,"
"Aku mengerti."
"Kalian pergilah."
Yixing menatap ke arah bulan yang terlihat dari jendela. "Kim Jongin... Tunggulah sebentar lagi..."
.
.
.
.
.
TBC
Maafkan aku kalo ini masih rada pendek ya, moodku hanya sampe segitu untuk ngetik chapter ini #plakk
Menjawab tantangan dari duo kesayangan #plakk yang nyepam di akun pribadi aku, Momma... ffnya hari senin ya, semoga bisa anakmu share tepat waktu, tapi ga janji bakal bagus #plakk ini pertama kalinya bikin karakter my baby bunny kek gitu. T_T .
Buat yang nanya apa arti lagu sanam re di ff Kiss Me, Hold Me, Love Me, aku akan kasih jawaban di sini aja ya karena kamu nanya ga pake akun. Ini dia terjemahannya.
Ho Oo Oo...
Bheegi Bheegi Sadkon Pe Main, Tera Intezaar Karun
Di jalan yang basah aku menunggumu
Dheere Dheere Dil Ki Zameen Ko, Tere Hi Naam Karun
Perlahan-lahan kuserahkan hatiku padamu
Khudko Main Yun Kho Doon, Ke Phir Na Kabhi Paoon
Aku ingin menghilang sehingga tak ada yang bisa menemukanku lagi
Haule Haule Zindagi Ko, Ab Tere Hawaale Karun
Perlahan-lahan ku berikan hidupku padamu
Sanam Re, Sanam Re, Tu Mera Sanam Hua Re (x2)
Oh sayangku, kau telah menjadi milikku
Karam Re, Karam Re, Tera Mujh Pe Karam Hua Re…
Ini semua karena kebaikanmu padaku
Sanam Re, Sanam Re, Tu Mera Sanam Hua Re…
Oh sayangku, kau telah menjadi milikku
Ho Oo Oo...
Tere Qareeb Jo Hone Laga Hoon, Toh Toote Saare Bharam Re
Saat aku dekat denganmu, semua angan-anganku hilang
Sanam Re, Sanam Re, Tu Mera Sanam Hua Re (x2)
Oh sayangku, kau telah menjadi milikku
Ho Oo Oo...
Baadalon Ki Tarah Hi Toh, Tune Mujh Pe Saaya Kiya Hai
Seperti awan,kau selalu membayangiku
Baarishon Ki Tarah Hi Toh, Tune Khushiyon Se Bhigaaya Hai
Seperti hujan, kau membasahiku dengan kebahagiaan
Aandhiyon Ki Tarah Hi Toh, Tune Hosh Ko Udaaya Hai
Seperti angin kau membawa pergi kesadaranku
Mera Muqaddar Sanwara Hai Yun, Naya Savera Jo Laaya Hai Tu
Kau telah menghiasi tujuanku dengan membawa fajar baru dihidupku
Tere Sang Hi Bitaane Hain Mujhko, Mere Saare Janam Re
Aku ingin menghabiskan hidupku hanya untukmu
Sanam Re, Sanam Re, Tu Mera Sanam Hua Re (x2)
o sayangku,kau telah menjadi milikku
Sanam Re… Sanam Re…
o sayangku
Karam Re, Karam Re, Tera Mujh Pe Karam Hua Re…
Ini semua karena kebaikanmu padaku
Karam Re… Karam Re…
kebaikanmu
Sanam Re, Sanam Re, Tu Mera Sanam Hua Re…
o sayangku,kau telah menjadi milikku
Ho Oo Oo...
Mere Sanam Re Mera Hua Re
o sayangku,kau telah menjadi milikku
Tera Karam Re Mujh Pe Hua Yeh
Ini semua karena kebaikanmu padaku
Mere Sanam Re Mera Hua Re
o sayangku,kau telah menjadi milikku
Tera Karam Re Mujh Pe Hua Re
Ini semua karena kebaikanmu padaku
.
.
.
Salam KaiHun Hard Shipper
Syakila8894
