THE HALF BLOOD VAMPIRE 2 ( Chapter 9 )
Cast : Kai, Sehun, Jeno, Jaemin
Rated : M ( untuk adegan actionnya )
Reviewnya tiap chapter makin menurun terus ya. Keknya mank tulisan aku tuh type yang enak dibaca dibagian awal doang #plakk. Mungkin aku akan perhatiin kalo review terus menurun, aku bakal berhenti nulis lagi, bukan apa apa sih, bukan aku gila review juga, hanya saja pasti ada alasan dibalik kenapa review menurun, salah satunya mungkin karena kualitas tulisan aku yang ga bagus n membosankan #sadardiri apalagi aku sadar banget, karena seringnya aku absen karena sakit, kemampuan menulis juga rada makin turun. Aku keseringan blank di depan komputer, bingung mau menulis yang seperti apa. Hehehe...
Chapter ini mungkin buat mbak Arthea yang dah ngomel2 karena aku yang selalu gagal bikin adegan actionnya. Susah banget mbak... #plakk
No edit jadi typo banyak banget.
Syakila8894
.
.
.
.
.
.
Jongin mengerjapkan matanya, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya terang matahari yang merasuk ke dalam indra penglihatannya. Ia menggerakkan tubuhnya dengan sedikit bersusah payah, sebelum kemudian berhenti saat menyadari kalau dirinya terbaring di atas tanah terbuka yang dikelilingi hutan lebat. Menggunakan sisa tenaganya, ia bergegas untuk duduk.
"Di mana ini?"
"Uhukkk... akhirnya kau bangun juga."
Suara bernada lemah di iringi batuk terdengar dari arah belakang Jongin. Dengan cepat namja tampan itu menolehkan kepalanya ke arah belakang dan langsung terpekik kaget melihat keadaan orang yang berbicara itu.
"Taiyu hyung..." Jongin mendekat dan langsung memangku kepala Taiyu ke atas pahanya. "Apa yang terjadi dengan kita berdua?"
Taiyu mencoba memaksakan senyumnya walau jelas jelas wajahnya menunjukkan kalau ia terlihat sangat kesakitan. "Kau tidak mengingatnya?" tanyanya lemah.
"Apa yang aku..." ucapan Jongin terhenti, ia menyibak kemeja Taiyu yang robek dan berlumuran darah dan kemudian mengernyitkan keningnya dengan ekspresi muka yang tak terbaca. "Ini..."
"Tak apa, mungkin memang butuh waktu yang sangat lama, tapi lukanya akan menutup."
Jongin memandang wajah Taiyu dengan raut wajah sedih, ia tahu kalau Taiyu juga mempunyai kemampuan menyembuhkan sendiri luka ditubuhnya dengan cepat, tapi melihat lukanya yang begitu parah dan penyembuhannya yang sangat teramat lambat, Jongin sepertinya tahu apa penyebabnya. "Apa aku yang melakukannya?"
"Bukan..."
"Hyung, jangan berbohong padaku. Kalau ini luka karena demon lain yang menyerang, hyung pasti sudah sembuh sekarang."
"Itu memang bukan dirimu Jongina, tapi dia yang darahnya juga mengalir ditubuhmu." Dengan tangan yang gemetar dan berlumuran darah, Taiyu meletakkan telapak tangannya di dada Jongin. "Syukurlah, dia tidak memberontak lagi. Uhukkk..."
"Hyung... jangan memaksakan diri..." Jongin rasanya ingin menangis. Kenapa makhluk itu selalu membawa masalah untuknya?
"Jangan menangis, kau itu namja Jongina..." gumam Taiyu seraya memejamkan matanya, namja itu tersengal, dan Jongin sangat tahu apa yang akan terjadi selanjutnya kalau ia tidak bertindak sekarang. Gurunya itu akan mati.
"Hyung... aku akan membantumu."
Taiyu membuka matanya dan menatap tajam pada Jongin. "Jangan bodoh, kau pikir kenapa aku mau terluka seperti ini. Itu semua untuk dirimu Jongina, jangan biarkan pengorbananku sia sia."
"Dan hyung pikir aku juga akan membiarkan hyung terluka seperti ini karena monster ini. Aku tahu ini mungkin beresiko besar hyung, tapi karena monster ini hyung terluka dan karena itulah monster ini juga yang harus menyembuhkan hyung."
"Kau tau resikonya bukan? Kalau kau tidak berhasil mengendalikannya, bukan hanya aku yang akan mati juga, tapi juga dirimu sendiri."
"Aku tahu dan aku siap untuk itu hyung..."
Taiyu tersenyum tipis, "Kau sepertinya sudah tahu banyak ya, apa monster itu sudah memberitahumu apa yang akan terjadi?"
"Sedikit, aku hanya tahu setelah ini, aku akan terpisah dari Sehun." gumam Jongin. Ia menggigit jari telunjuknya hingga terluka dan menyodorkannya ke depan mulut Taiyu. Mata Taiyu langsung berubah merah saat ia menghisap darah dari jari Jongin yang terluka. "Ayo kita mulai sekarang hyung..." Jongin memejamkan matanya, tak ada waktu untuk bersantai sekarang, ia harus bisa mengendalikan monster ini dan menyembuhkan Taiyu.
Apa yang ia lihat saat ia berubah menjadi monster itu, benar benar di luar perkiraannya. Ada bahaya yang sedang mengancam semua orang disekitarnya.
'Sehuna... ku mohon bertahanlah sebentar lagi...'
"Jongin... saat kita memulainya, kau tahu bukan tak ada jalan lagi untuk mundur. Hanya ada dua pilihan, kita berdua tetap hidup atau kita berdua akan mati di sini."
Jongin membuka matanya, pupilnya yang berwarna biru terlihat begitu terang saat menatap ke arah Taiyu. "Aku tahu hyung. Ayo lakukan sekarang."
Ya, Jongin memilih untuk mempertaruhkan semuanya sekarang. Ia haya berharap semoga semua berjalan sesuai dengan perkiraannya.
.
.
.
.
.
Chen menatap ke arah Minseok dan mengerutkan keningnya. "Jadi Jongin juga tidak ada di sana. Lalu kemana perginya anak itu. membuat susah orang tua saja."
Minseok menggeleng. "Dia hanya meninggalkan pesan dan mengatakan kalau ia pergi bersama gurunya. Tapi apa yang mereka lakukan. Ini bahkan sudah satu bulan lebih."
"Tak mungkin Taiyu melatihnya untuk menjadi vampire hunter bukan?" tanya Chen.
"Apa? demi Tuhan aku tidak akan mau kalau anakku menjadi hunter." Minseok menatap marah pada Chen. "Cukup dirimu saja di masa lalu."
"Ya, tapi tidakkah kau merasa kalau anak kita agak sedikit berbeda dari kebanyakan orang lain?"
"Maksudmu kepintarannya yang di atas rata-rata?" tanya Minseok.
"Bukan, tapi ia terlalu tenang untuk menjadi seorang putraku."
Plakk
"Aww, sayang kenapa kau memukulku?" teriak Chen.
"Itu karenamu sendiri, kau mau bilang kalau Jongin bukan anak kandungmu kan. Apa kau menuduhku selingkuh?"
Bugh
"Awww, bukan seperti itu sayang. Maksudku dia agak berbeda saja. Dia terlalu tenang, terlalu sensitive, bahkan ia bisa mendengar apa yang tidak kita dengar. Aku hanya takut..."
Gerakan Minseok yang lagi lagi ingin memukul suaminya langsung terhenti. "Apa kau mau bilang kalau..."
Chen memperbaiki posisi duduknya dan menatap serius pada Minseok. "Sayang... saat aku akhirnya berhasil menjadi manusia seutuhnya, itu sudah berapa lama?"
Minseok menggigit bibir bawahnya, berusaha mengingat. "Tujuh belas... tahun..." ucapnya pelan.
"Dan kau hamil Jongin juga tujuh belas tahun yang lalu."
Minseok menggenggam jemari suaminya. "Apa kau ingin bilang kalau Jongin dia..."
Chen menelan ludahnya dengan susah payah. "Aku tak ingin mengatakan ini, tapi mungkin saja kau mengandung Jongin saat aku masih menjadi vampire dan dia memiliki separuh darah vampire dalam tubuhnya."
"Anak kita... half blood..." tangan Minseok gemetar, "karena itu Jongin selalu terlihat berbeda dengan kebanyakan anak lain." Masih Minseok ingat bagaimana perkembangan bayi mereka kala itu yang begitu pesat, namun ia tidak pernah menaruh curiga pada anaknya. Tapi sekarang... "apa karena itu dia sangat dekat dengan Taiyu..."
Minseok tahu kalau Taiyu bukan manusia biasa karena itu ia sempat khawatir dengan kedekatan anaknya dengan Demon itu, tapi Taiyu bukan orang jahat dan ia selalu memperlakukan Jongin dengan baik karena itulah, ia tidak khawatir saat Jongin banyak menghabiskan waktu dengan gurunya tersebut. Tapi sekarang setelah semua kemungkinan yang suaminya katakan, ia menyadari kedekatan Jongin dengan Taiyu lebih kepada karena keduanya memiliki darah immortal di tubuh mereka.
Plok plok plok
Minseok dan Chen tersentak kaget saat mendengar suara tepuk tangan dari arah belakang mereka. keduanya cepat berdiri dari duduknya dan melangkah menjauh saat menyadari kalau itu adalah dua orang Demon yang kini menyeringai pada mereka.
"Wah, tak kusangka kalau kedatanganku ke sini akan mendapat info tentang half blood." Nichkhun menyeringai sembari melangkah mendekat.
"Ada urusan apa kalian kemari?" tanya Chen dengan suara datar.
"Wah, mantan vampire memang beda ya, kau kelihatan sangat tenang, tapi sayang.. kau sekarang hanya manusia biasa yang lemah, kau tak akan bisa melawan kami." Chansung menatap ke arah Chen dengan tatapan penuh hinaan.
"Tak perlu basa basi lagi, cepat katakan di mana anak itu?" Nichkhun tampak mulai tak sabaran karena tak mencium bau half blood dirumah itu.
"Meski aku harus mati, aku tidak akan pernah mau mengatakan dimana anakku." Geram Minseok. Kali ini ia sangat bersyukur karena anaknya tidak sedang berada di rumah sekarang. Ia hanya berharap kalau Jongin akan tetap selamat nantinya.
"Yah, tak ada gunanya juga berdebat dengan sampah seperti kalian. Meski sekarang aku tidak bertemu dengannya, kurasa sebentar lagi aku akan menemukannya dan sementara itu." Nichkhun memperhatikan kuku kuku jarinya yang mulai memanjang. "Aku harus menyingkirkan makhluk tak berguna seperti kalian."
Dengan kecepatan kilat ia menerjang maju. Dan Chen yang menyadari bahaya, hanya bisa membalikkan tubuhnya untuk memunggungi Demon itu dengan istrinya yang berada dalam dekapannya. Percuma untuk lari karena ia tahu kalau mereka tak akan bisa lolos.
Crap
Blesh
"Uhukkkk..."
"Memang lemah." Gumam Nichkhun. Ia menarik kembali tangannya yang baru saja menembus dada kedua pasangan suami istri itu dan menjilat darah yang menempel ditangannya.
Brukkk
Chansung menendang kedua orang tua Jongin itu hingga terpental cukup jauh. "Kurasa keduanya sudah mati. Kau sudah menghancurkan jantung keduanya."
"Ya, saatnya perburuan selanjutnya. Werewolf itu..."
.
.
.
.
.
"Hunnie... ayo cepat... setelah ini aku ada kencan dengan Jeno." Jaemin melirik pada Sehun yang tampak masih sibuk membereskan buku buku pelajarannya dan memasukkannnya kedalam tas.
"Sabar sebentar." Gumam Sehun.
"Ish, ya sudahlah aku dan Jeno akan menunggumu di depan kelas. Jangan lama lama ya."
Sehun mengacungkan jempolnya, memperhatikan sejenak pada pasangan kekasih yang menghilang dibalik pintu kelas dan kemudian kembali sibuk dengan buku bukunya. "Sudah beres..." Sehun bertepuk tangan saat akhirnya selesai membereskan semua bukunya. Ia sudah akan mulai melangkahkan kakinya saat seserorang dari arah belakang mencengkeram lengannya dengan kuat.
Sehun menoleh dan langsung bertemu pandang dengan orang yang di kenalnya. "Myungsoo..."
Orang itu yang ternyata adalah Kim Myungsoo, tersenyum atau lebih tepatnya menyeringai memamerkan taringnya. Sehun ingin berteriak namun sebelum itu, tangan Myungsoo lebih dulu membungkam mulut dan hidung Sehun menggunakan sebuah kain dengan aroma obat yang tajam, Sehun tak sempat lagi berteriak karena pandangannya seketikan buram, gelap lalu kemudian tubuhnya terkulai di lengan vampire itu.
"Ternyata sangat mudah untuk menculikmu, Sehuna..."
Brukk
Myungsoo melirik pada tas ransel Sehun yang jatuh ke lantai dan menimbulkan suara keras. "Sial..."
Bertepatan dengan itu Jeno muncul di depan pintu dan langsung bertemu pandang dengan Myungsoo. "Lepaskan Sehun, dasar brengsek."
Myungsoo segera menggendong tubuh pingsan Sehun dan melangkah mundur. "Ambil sendiri kalau kau bisa."
Jeno menggeram, ia tau saat seperti ini ia tak boleh gegabah karena bisa saja ini jebakan dan ia juga harus melindungi kekasihnya, entah kenapa ia merasa yakin kalau Myungsoo tidak sendirian di sini.
"Lepaskan Sehun dan bertarunglah denganku."
"Jeno..."
Jaemin yang menyusul masuk hanya bisa ternganga saat melihat sepupunya di gendong oleh orang yang ia kenali sebagai teman sekelas mereka. "Oh shit, harusnya aku tadi tidak meninggalkan Sehun di dalam."
"Tak akan aku serahkan Sehun padamu dan Jeno-ya... kenapa tidak kau serahkan saja juga kekasihmu padaku."
"Brengsekk..." Jeno menggeram sebelum menerjang maju dan menghantam wajah Myungsoo dengan kepalan tangannya. Myungsoo yang belum siap langsung terpental ke belakang dan menabrak dinding kelas, Sehun terlepas dari gendongannya dan sebelum jatuh ke lantai Jeno lebih dulu menangkapnya dan menggendongnya, dengan cepat ia mendekat pada Jaemin yang masih terpaku di tempatnya. "Ayo pergi sebelum yang lain datang."
Jaemin yang tersadar langsung berlari disamping Jeno dan merekapun keluar dari kelas menuju halaman sekolah yang sudah sepi.
"Kita harus cepat sampai di rumah dan..." pelarian mereka berakhir di tengah lapangan sekolah. Jeno meneguk ludahnya dengan susah payah. Perlahan ia menurunkan Sehun dari gendongannya dan menopang tubuh pingsan itu dengan sebelah tangannya, sementara tangannya yang lain digenggam Jaemin dengan erat.
Di hadapan mereka tampak tiga orang makhluk immortal yang tengah berdiri menghadang langkah mereka. Jeno mengenali dua di antara mereka, Nichkhun dan Chansung, tapi ia tidak kenal dengan namja lain yang berdiri di tengah. Wajahnya terkesan kalau dia namja baik baik, tapi melihat posisinya, tak mungkin kalau dia juga orang yang baik.
"Sepertinya, kau tidak berhasil menculiknya Kim Myungsoo..." orang yang berdiri di tengah mulai membuka suara.
"Maafkan aku, tapi werewolf itu telah membuat rencanaku gagal."
Jeno melirik ke belakang dan diam diam menghela napas, apa dia akan berhasil melindungi Jaemin dan Sehun sekarang, sementara ia tahu kekuatannya tak sebanding dengan mereka.
"Kau pasti juga menyadarinya serigala muda, kau pasti akan langsung kalah kalau melawan kami, karena itu aku minta padamu serahkan kedua peri itu padaku dan aku akan mengampuni nyawamu."
"Kau pikir aku akan mau?" balas Jeno. Ya, meski ia tau akan kalah paling tidak ia harus berusaha melindungi kedua orang disisinya ini sekarang.
"Ck,jadi kau memilih untuk mati, terserahlah..."
Jeno melirik pada Jaemin yang tampak gemetar. "Nana... kau jaga Hunnie sebentar ya."
"Jeno... aku..." Mata Jaemin tampak berkaca kaca saat Jeno melepaskan genggaman tangannya. "Jangan terluka..." bisiknya lirih. "Aku mencintaimu."
Jeno tersenyum lemah. "Aku tahu..." Ia maju selangkah dan kemudian mengubah tubuhnya menjadi werewolf.
"Ah, calon alpha rupanya..." Yixing melirik pada kedua demon disampingnya dan mengisyaratkan pada mereka untuk menyerang. Ia sendiri menatap fokus pada Jaemin yang memeluk tubuh Sehun yang masih pingsan. "Merepotkan, tapi kurasa aku memang harus menyingkirkannya sekarang."
Saat kedua demon itu maju menyerang Jeno, Yixing melompat ke dekat Jaemin dan Sehun berada.
"Mau apa kau brengsek..." meski takut, Jaemin tetap tak bisa menghilangkan sisi galak dirinya.
"Ck, mungkin kalau berkata seperti itu, aku akan bersikap lebih lembut padamu, tapi sepertinya itu tak perlu... kau tanya apa mauku, mauku adalah serahkan Sehun kepadaku."
"Tidak mau..."
"Jangan membuatku hilang kesabaran bocah... aku bisa saja langsung mengeringkan darahmu disini, sekarang juga."
"Aku tak akan membiarkan kau membawa sepupuku pergi." Teriak Jaemin, matanya tanpa disadarinya sudah berubah menjadi biru.
"Ah, mata peri, aku menyukainya karena warna itu sama dengan half blood. Tapi aku tak menyukai dirimu yang menghalangi jalanku." Yixing menjambak rambut Jaemin dan melemparnya menjauh.
"Akhh..." Jaemin terpekik kesakitan.
Jeno yang masih berusaha menghindar dari serangan lawan, langsung menoleh saat mendengar teriakan Jaemin. Ia menggeram melihat kekasihnya yang terbaring di tanah. Untuk sesaat konsentrasinya buyar.
Nichkhun yang menyadari itu bergerak dengan cepat, menerjang tubuh werewolf Jeno dan memojokkannya di tanah, Jeno tak sempat menghindar saat Nichkhun mencengkeram kedua kakinya dengan kuat, terdengar bunyi keretak keras dan Jaemin menjerit saat menyadari kalau kaki kekasihnya itu telah patah.
Nichkhun tertawa terbahak bahak. "Harusnya aku membunuhmu sekarang, tapi itu terlalu mudah, kau harus melihat saat aku mengeringkan darah di tubuh kekasihmu."
Jeno yang sudah kembali berubah wujud ke dalam tubuh manusianya hanya bisa mengerang saat Nichkhun mendekati Jaemin. Ia tak bisa bergerak karena kedua kakinya yang patah. "Nana..." gumamnya dengan nada putus asa.
"Bernapaslah untuk terakhir kalinya anak manis.." Nichkhun menyeringai.
"Aku tak akan mati." Geram Jaemin. "kau yang akan mati..."
Nichkhun tertawa. "Teruslah bermimpi dan... nikmati kesakitanmu..." Nichkun mencengkeram leher Jaemin dan menariknya untuk berdiri. Sebelum ia sempat mendekatkan kepalanya ke leher Jaemin, seseorang dengan kecepatan kilat menerjang ke arahnya. Nichkhun melepaskan cengkeramannya di leher Jaemin dan menghindar dengan gerakan yang tak kalah cepat.
Tap
Sepasang kaki menapak di tanah tepat di hadapan Jaemin. "Kau tidak apa apa?"
"Jongin..." Jaemin menatap ke arah Jongin dengan tatapan terkejut.
"Sepertinya kau tidak apa apa, tolonglah Jeno dan sembuhkan dia."
"Tapi bagaimana dengan Hunnie?" tanya Jaemin cemas.
"Aku akan menyelamatkannya. Kau sembuhkan saja Jeno." Jongin melangkah dengan tenang ke arah pamannya yang berdiri tepat di hadapan tubuh Sehun yang terbaring pingsan di tanah. Sesekali ia melirik pada Jaemin yang melangkah dengan tertatih menghampiri Jeno, memastikan kalau sepupu dari kekasihnya itu aman. Perhatian Jongin kemudian kembali fokus pada sang paman yang juga tengah menatapnya. "Lama tak berjumpa paman Yixing..."
"Aku senang kau masih mengingatku." Yixing tersenyum.
Jongin mengangguk. "Kalau paman ingin bertemu denganku, tidak perlu memakai cara seperti ini. Kau menyakiti semua orang terdekatku." Jongin membungkuk untuk menyentuh leher Sehun, merasa kelegaan luar biasa saat menyadari kekasihnya hanya pingsan. Ia menyalurkan sedikit kekuatannya dan tak lama kemudian, mata Sehun mulai mengerjap pelan. Namja manis itu sadar dari pingsannya.
"Nini..."
"Ya, sayang..."
"Nini..." Sehun melompat bangun dari berbaringnya dan memeluk tubuh Jongin dengan erat. "Hunnie kangen Nini..."
Jongin mengelus pundak Sehun dengan lembut, ia menatap pada pamannya yang menatap tak suka pada kekasihnya. "Aku mencintainya dan paman jangan sekali sekali menyakitinya."
Yixing menggeram dan Sehun yang akhirnya menyadari situasi, hanya bisa mengeratkan pelukannya pada tubuh Jongin.
"Kau melupakan tujuan awalmu, Kim Jongin."
"Aku tahu... dan aku tidak pernah melupakan tujuanku paman, hanya paman yang melupakan tujuan paman dengan bergabung dengan mereka."
"Aku melakukannya demi dirimu Kim Jongin."
"Apa? dengan menjadikanku monster dan menguasai seluruh dunia immortal. Kau tahu paman, apa penyesalan guruku yang terbesar, yaitu menghidupkan lagi paman. Ambisi paman yang..."
"Tidakkah kau menyadarinya..." geram Yixing.
"Apa?"
"Kau yang sedari kecil terus di buru oleh orang yang menginginkan darahmu. Kau pikir apa tujuan utamaku... aku hanya ingin agar kau kuat hingga tidak ada lagi yang memburu dan menginginkan darahmu."
"Tapi cara paman salah, aku tidak menginginkan itu paman..." pekik Jongin. "Aku hanya ingin hidup dengan normal dan menjadi manusia biasa, bukannya menjadi monster."
"Grrr... kalau begitu membusuklah Kim Jongin... aku akan mengambil darahmu..."
Jongin melepaskan pelukan Sehun di tubuhnya, ia mengecup bibir Sehun sekilas dan mendorong tubuhnya untuk menjauh. "Pergilah ke dekat Nana..."
"Tapi..."
"Lakukan saja sayang."
Dengan berat hati Sehun melangkah, sesekali ia memandang pada Jongin yang sudah di kelilingi tiga orang yang ia ketahui sebagai orang jahat itu.
"Sepertinya, kekasihmu menganggap remeh diriku ya, Oh Sehun."
Sehun tersentak saat seseorang lagi lagi mencengkeram pundaknya. Kim Myungsoo.
"lepaskan aku..."
"Tidak akan... darahmu harum sekali... akan sangat sayang kalau aku tidak akan mencicipinya."
"Lepaskan akuuuuu..." Sehun memberontak, matanya berubah warna menjadi biru saat ia berusaha sekuat tenaga lepas dari cengkeraman Myungsoo.
"Dasar peri sialan." Myungsoo melepaskan cengkeraman tangannya saat menyadari rasa dingin seperti es menjalar di tangannya. Kekuatan Sehun yang muncul bahkan tanpa namja manis itu sadari.
"Apa kau bilang..." jerit Sehun. "Kau menyebutku sialan."
Bugh
Ia menendang perut Myungsoo dengan sekuat tenaga.
"Sialan..." Myungsoo menggeram sebelum menerjang maju dan Sehun berlari menjauh. Mencoba menghindar. "Kau tak akan pernah lepas dariku Sehuna..."
"Lepaskan aku..." Sehun kembali menjerit saat lengannya di pegang Myungsoo.
"Tidak a..."
Bugh
Sebuah tendangan lain di dapat Myungsoo, kali ini bukan Sehun, melainkan Jaemin. "Jangan sentuh sepupuku dengan tangan kotormu."
Bugh
"Uh, Hunnie juga tidak mau dipegang dia."
Bugh
"Awww..."
Myungsoo mengerang saat kedua peri di hadapannya memukulinya dengan membabi buta.
"Uhukk... bawa dia padaku, kalian tidak akan bisa membuatnya mati dengan cara seperti itu." Jeno yang masih terbaring lemah di atas tanah menatap ketiganya.
"Kau pikir bisa membunuhku dengan keadaanmu yang seperti itu." Myungsoo berhasil lolos dari serangan Jaemin dan Sehun, ia melompat dan mendekat ke arah Jeno. "Mungkin akan lebih baik jika aku membunuhmu lebih dulu." Myungsoo menyeringai.
Saat vampire itu melompat untuk menyerangnya. Jeno secepat mungkin berubah menjadi serigala lagi dan kedua kaki depannya yang tida terluka menyambut serangan Myungsoo, menangkisnya dan kemudian menahan tubuh itu untuk tidak bergerak, sebelum mencabik leher Myungsoo dengan gigitan taring tajamnya.
"Aaaakkhhhhh..." Myungsoo menjerit dengan keras saat lehernya terkoyak. Sebelum ia bisa menjauh, Jeno lebih dulu menancapkan taringnya lebih dalam lagi dan menarik menggunakan kepalanya untuk memutuskan leher Myungsoo. Dalam sekejap setelah kepalanya terpisah dari tubuhnya, vampire itu terbakar dan kemudian berubah menjadi abu.
"Jeno..." Jaemin mendekat dan mengelus Jeno yang masih dalam wujud werewolfnya. "kau tidak apa apa?"
Mata werewolf itu mengerjap pelan, Jaemin tersenyum dan mencium wajah berbulu werewolf itu. "Aku akan menyembuhkan kakimu. Bersabarlah..." bisiknya. Jaemin melirik pada Sehun yang terpaku menatap tubuh werewolf besar didepannya.
"Itu Nono..."
Jaemin mengangguk. "Kau takut?"
"Kenapa Nono berubah menjadi jelek seperti ini, Nana mengutuknya ya?" tuduh Sehun.
"Yak, mana mungkin aku mengutuknya, aku bukan nenek sihir. Kemarilah dan bantu aku." Ucap Jaemin galak.
Sehun mencibir. "Kau galak seperti nenek sihir, pantas saja Nono jadi berbulu dan gosong seperti ini."
"Oh Sehuuuunnn..."
"II... iya iya, aku bantu. Kau cerewet sekali."
.
.
.
.
.
Jongin melirik pada ketiga orang yang mengelilinginya dan kemudian menatap lurus pada pamannya.
"Kau masih tidak berubah pikiran Kim Jongin? Kau pasti sudah tahu akibatnnya kalau kau melawan bukan?"
"Aku tak akan menarik kata kataku paman... aku ingin hidupku normal, selayaknya manusia biasa."
Nichkhun menyeringai. "Meskipun itu artinya kau harus menyusul kedua orang tuamu?"
Jongin memejamkan matanya. "Ya." Sahutnya tegas. Saat ia kembali membuka matanya, ia sudah berubah menjadi half blood sepenuhnya.
"Akhirnya... The half blood vampire muncul juga."
"Ayo kita selesaikan sekarang." Desis Jongin. Ia mengeluarkan pisau peraknya yang sudah ia siapkan semenjak ia berangkat dari hutan.
Chansung dan Nichkhun langsung maju ke depan, dan Jongin dengan kecepatan kilat menarik lengan Chansung, menariknya dengan sangat kuat sebelum menghujamkan pisau peraknya ke arah jantung Chansung. Ia menarik pisau itu kembali yang kini berlumuran darah hitam, melempar tubuh Chansung yang langsung lebur di udara dan menghindari tendangan Nichkhun yang tampak sangat marah karena kematian saudaranya.
Menggunakan kekuatan telekinesisnya, ia melempar tubuh Nichkhun menjauh. Yixing yang melihat itu hanya menyeringai sinis dan menerjang tubuh Jongin, Jongin terjatuh ke tanah, keduanya bergulingan sesaat, sebelum Yixing berhasil mengoyak leher Jongin dengan taringnya.
Jongin menggeram, mencengkeram bahu Yixing dan kemudian melemparnya ke udara. Ia kemudian berdiri dan menyentuh tenggorokannya yang sudah sembuh kembali dengan cepat berkat darah half bloodnya.
Nichkhun kembali menerjang maju dan Jongin yang sudah siap langsung menyambutnya dengan terjangan lebih dulu. Ia menahan bahu Nichkhun yang jatuh ke tanah karena terjangannya dan menahan bahunya untuk tetap di sana. Dengan menggunakan kekuatannya Jongin mencabut kedua tangan dan kaki Nichkhun dan melemparnya ke udara.
"Aaaakkkhhhh..."
"Kau sudah membunuh kedua orang tuaku dan juga pamanku, sekarang terimalah kematianmu sendiri." Desis Jongin. Ya, namja tampan itu memang sudah mengetahui kematian kedua orang tuanya saat masih bersama Taiyu di dalam hutan, penglihatannya yang ia lihat saat berjuang melawan kekuatan half blood di dalam tubuhnya ternyata benar. Tanpa perasaan Jongin menggerakkan tangannya untuk mematahkan leher Nichkhun dan meninggalkan tubuh yang kemudian lebur menjadi abu itu untuk mendekat ke arah Sehun.
Namun ada yang ia lupakan, sosok Yixing yang kini berdiri dengan busur panah ditangannya, busur yang sudah ia siapkan sejak lama.
"Kim Jongin... sepertinya memang tak ada cara lain. Dengan terpaksa aku harus membunuh dia untuk membangkitkan amarahmu."
Jongin tersentak kaget dan ia menoleh pada pamannya yang bersiap melepaskan anak panahnya, lalu pandangannya beralih pada Sehun yang saat itu tidak melihat ke arah pamannya, tapi tengah tersenyum manis memandang ke arahnya.
"Nini..."
Yixing melepaskan anak panahnya tepat lurus ke arah Sehun. Jongin tahu ia tak punya banyak waktu lagi sekarang. Ia harus menentukan pilihan dengan cepat, dan demi cintanya kepada Sehun ia memilih berlari mendekati Sehun dan melindunginya.
Jongin tersungkur saat anak panah itu menembus salah satu matanya. Ia merintih dan menggeratakkan giginya menahan rasa sakit.
"Nini..." Sehun menangis dan menjerit, ia memeluk tubuh kekasihnya dengan erat.
Dengan tangan yang gemetar, Jongin mencabut anak panah itu, membiarkan darah mengucur dengan deras di matanya yang tertembus anak panah. "Paman ingin aku menjadi monster half blood bukan? Sayang sekali sekarang aku bukan half blood lagi paman." Jongin tersenyum lemah ke arah Yixing yang terpaku di tempatnya.
Bukan ini yang Yixing inginkan.
"Aku berjuang mengendalikan ini semua ini semua agar bisa menjadi manusia biasa seperti kedua orang tuaku dan menjalani hidupku yang damai dengan Sehun." Jongin melirik pada tanda mate di belakang leher Sehun yang semakin memudar, takdir yang tidak ia inginkan telah datang. "Aku pikir aku akhirnya akan bahagia karena itu. Tapi semua sudah tak bisa aku sesali lagi, aku tak akan bisa menjadi manusia biasa lagi dan tak bisa juga menjadi half blood yang kau inginkan. Kau lihat takdirnya sudah berubah dalam sekejap. Kau tak bisa mendapatkanku dan aku tak bisa mendapatkan kekasihku."
Tepat setelah Jongin mengatakan itu, cahaya biru muncul mengelilingi tubuhnya dan tubuh Sehun, ketika cahaya itu akhirnya lenyap, Sehun pingsan seiring tanda matenya yang telah hilang. Ikatan mereka telah terputus.
"Uhukkk..." Jongin terbatuk, darah makin deras keluar dari luka di matanya yang menganga. "Sebelum aku pergi, kau juga harus pergi paman.." dengan susah payah, Jongin bangkit berdiri dan menerjang ke arah Yixing yang masih diam di tempatnya.
Jleb
Tak ada perlawanan dari Yixing ketika anak panah itu menembus jantungnya.
"Jongin... aku hanya ingin yang terbaik untukmu.. tapi..."
"Apa yang terbaik menurut paman, bukan berarti yang terbaik untukku. Maaf karena harus membuat paman pergi lagi."
Brukk
Keduanya sama sama jatuh berlutut di tanah dengan Yixing yang tersenyum. "Harusnya aku yang minta maaf dan Jongin mimpi itu... aku..." tangan Yixing yang bergetar menyentuh pipi Jongin yang penuh dengan darah. "Aku..."
Sebelum Yixing sempat melanjutkan kata katanya, kematian lebih dulu menjemputnya, menyisakan Jongin yang akhirnya juga roboh ke tanah.
"Apakah ini akhirnya... aku akan menyusul kedua orang tuaku." Jongin memejamkan matanya dan seiring hembusan angin kencang, tubuhnya pun lenyap dari tempat itu.
"Jonginnnnnn..."
.
.
.
.
.
.
END or TBC
Masih adakah yang berkenan ngasih review di ff ini...
Kalo chapter ini makin menurun juga reviewnya, berarti nih ff ending sampai disini aja ya. Hehehe...
Untuk ff ku yang lain, karena masih belum sembuh total, aku ga berani janjiin bakal cepat ya.
Salam damai KaiHun shipper
