THE HALF BLOOD VAMPIRE 2 CHAP 10

Pairing : KaiHun, NoMin

Genre : Fantasy, Romance

Rating : M ( meski pengen naruh di rated T tapi karena ada adegan yang menjurus jadinya ganti M )

Sedikit penjelasan untuk yang mungkin bingung di chapter kemarin, itu Jongin di bawa pergi sama Taiyu ke hutan bukan untuk hilangin monsternya, tapi untuk mengendalikan tuh monster half bloodnya. Taiyu terluka karena itu dan Jongin berusaha nolongin dia pake kekuatan half bloodnya yang sebenarnya belum bisa sepenuhnya dia kendalikan. Dan soal tanda mate yang hilang, di chap sebelum sebelumnya keknya udah dijelasin ya( meski aku ga nyebut secara langsung ) kalau Jongin berjodoh ( mate ) dengan Sehun karena ia seorang half blood ( separo manusia dan separo vampire ) jadi otomatis saat Jongin merelakan dirinya kena panah yang mengenai pusat kekuatannya ( mata ), dia kehilangan darah manusia dan juga separo darah half bloodnya, karena itulah tanda matenya ilang.

Apa penjelasannya bisa di mengerti ? Maaf kalau ribet banget ya...

Chapter ini mungkin lebih banyak menceritakan NoMin, aku harus menyelesaikan satu satu kan, ga bisa langsung kedua couple beres dalam satu chapter. Untuk NoMin shippper maaf kalau ga sweet. Hehehehe...

No edit

Syakila8894

.

.

.

.

.

Seminggu berlalu sejak Jongin menghilang seiring teriakan dari Jeno dan Jaemin yang berusaha mendekat padanya. Selama seminggu itu pula Sehun pingsan, meski akhirnya ia bangun tepat di hari ke tujuh, tentunya dengan kondisi yang bisa dikatakan tidak bagus menurut Jaemin, karena Sehun yang sama sekali bungkam tiap ditanya soal Jongin.

"Apa dia baik baik saja ?" Jeno menunjuk Sehun dengan sumpitnya, saat ia ikut makan malam di rumah keluarga Park.

Dug

"Awww..."Jeno meringis saat Jaemin dengan tanpa perasaan menendang kakinya di bawah meja."Tidak bisakah kau lembut sedikit pada kekasihmu?"

Jaemin memutar bola matanya, "Apa yang harus lembut, seluruh tubuhmu kan keras seperti itu."

"Oh ya, memang kau pernah menyentuh seluruh tubuhku ?"goda Jeno.

Wajah Jaemin seketika memerah seperti buah tomat yang matang."Yak, kalau itu... Aku... Mana pernah..." ucapnya tergagap-gagap.

"Kau mau mencoba ?"goda Jeno lagi.

"Mencoba apa ?"Sehun yang sedari tadi mendengarkan, mulai ikut bicara."Memukul Nono dengan palu ya, untuk tahu seberapa keras tulangnya?"

Plakk

Jaemin dengan tanpa perasaan langsung menggeplak kepala sepupunya itu."Jangan coba coba untuk memukul Jeno dengan palu."

Sehun merengut, "Lalu harus pakai apa ?"

"Yak, hanya aku yang boleh memukul Jeno, kau pukul saja Jongin..."

"Jongin..."gumam Sehun pelan, matanya menerawang. "Jongin..."

Jaemin dan Jeno saling pandang."Kau benar benar lupa dengan Jongin?"tanya Jeno. Ia melirik pada orang tua Sehun yang baru pulang dari acara jalan jalan mereka.

Sehun terdiam sejenak, wajahnya menunduk."Jongin..."

"Sayang..."Suho yang dengan cepat dapat memahami situasi, segera mendekat dan memeluk putranya itu dari belakang."Kau sudah selesai makan malam ?"

"Ne, mommy..."

"Sekarang istirahatlah di kamar, mommy akan menemanimu."

Sehun menatap ke arah ayah dan ibunya bergantian."Hunnie ingin tidur dengan mommy dan daddy."

"Baiklah, tapi Hunnie ke kamar duluan bersama mommy ya, daddy mau bicara dengan Jeno dulu."Chanyeol mengecup kening Sehun sebelum memberi isyarat pada istrinya untuk membawa Sehun pergi.

"Jadi..."Jeno memainkan sumpit ditangannya tanpa minat, setelah melihat Sehun pergi dengan ditemani ibunya. "Sehun benar benar tidak mengingat sesuatupun tentang Jongin, ahjushi?"

"Sepertinya itu dikarenakan tanda matenya yang menghilang."gumam Chanyeol.

"Tapi uncle, cahaya biru yang keluar dari tubuh Jongin dan menyelimuti tubuh Sehun sesaat sebelum Sehun pingsan itu apa?" tanya Jaemin.

Chanyeol menggelengkan kepalanya."Entahlah, aku juga tidak tahu. Aku tidak berada di sana saat kalian semua mengalami kejadian itu."

"Tak mungkin kan Jongin sengaja menghilangkan ingatan Sehun karena tahu kalau tanda matenya sudah menghilang ?" Jeno menatap pada Chanyeol dengan tatapan serius.

Tuk

Jaemin langsung meletakkan sumpitnya di atas meja."Kejam sekali, kalau begitu kenapa tidak sekalian saja dari awal tidak usah pacaran dengan Sehunie kalau akhirnya ingatannya harus dihilangkan."

Jeno menoleh pada kekasihnya dan tersenyum."Itu kan hanya kemungkinan, sayang..."tangannya dengan iseng mencubit pipi chubby Jaemin sebelum jemarinya mengelus bibir yang belepotan saos itu. "Berantakan seperti biasa."

"Yak, kau ingin mengatakan bibirku berantakan." Jaemin menepis tangan Jeno, bibirnya mengerucut dan ia memalingkan wajahnya.

Jeno tertawa dan ia meraih pinggang ramping Jaemin dan menarik tubuh kekasihnya itu untuk mendekat ke tubuhnya. "Bukan bibirmu sayang, tapi cara makanmu. Kalau ini..."Jeno mencubit bibir Jaemin yang masih mengerucut."Tetap sexy seperti biasa."

Senyum Jaemin terlihat begitu lebar saat akhirnya ia mau kembali menatap wajah kekasihnya.

"Ekhem..."Chanyeol berdehem pelan mencoba menyadarkan keduanya.

"Ish, uncle tidak seru."Jaemin kembali ngambek dan Jeno hanya bisa mencoba menenangkan kekasihnya itu dengan mengelus punggungnya dengan lembut.

"Kalian bisa lanjutkan lagi nanti, sekarang ceritakan padaku, apa dia... Benar benar telah pergi ?"

Gerakan tangan Jeno mengelus punggung Jaemin terhenti."Aku tak yakin, karena Jongin bahkan menghilang begitu saja sebelum kami berhasil mendekat."

"Eh, tunggu... Bukankah dia tidak berubah menjadi abu?"Jaemin menyandarkan kepalanya di pundak Jeno."Apa itu artinya dia hanya menghilang untuk sementara?"

"Aku tidak menemukannya di mana mana."ucap Chanyeol.

"Di rumahnya juga tidak ada siapapun. Hanya ada bekas darah yang aku yakini sebagai darah orang tua Jongin, tapi bahkan mayat merekapun tidak ada, seolah semuanya lenyap begitu saja." ucap Jeno.

Chanyeol mengusapkan telapak tangannya di wajahnya."Jongin pernah mengatakan padaku kalau ia ingin bersama Sehun bahkan meski itu hanya sementara. Dan aku memberinya izin untuk bersama Sehun juga hanya untuk sementara ..." pandangan Chanyeol tampak tidak fokus."Saat ia benar benar pergi, aku merasa menyesal tidak memberinya kesempatan untuk lebih lama bersama Sehun."

"Ahjushi... ini semua bukan kesalahanmu…"

"Sudahlah, semua sudah terjadi dan dia juga sudah tidak berada di sini lagi."Chanyeol menoleh pada Jaemin yang tampak mengantuk."Kita tak perlu mencarinya lagi. Mungkin... Ia memang benar benar ingin menghilang dari kehidupan putraku... atau kalau tidak ia pasti sudah..." bahkan seorang Park Chanyeolpun tak sanggup untuk meneruskan ucapannya.

.

.

.

.

.

.

Semilir angin yang berhembus kencang tak juga menggoyahkan sesosok tubuh tinggi yang berdiri diam di atas sebuah besar, matanya tertutup rapat oleh sebuah perban yang melingkar mengelilingi kepalanya, bibirnya pucat seakan tidak memiliki darah lagi dan ia bahkan tidak mengenakan pakaian yang lain selain sebuah celana selutut menggantung rendah di pinggang rampingnya.

Entah berapa lama ia berada di sana, karena matahari sore bahkan sudah hampir tenggelam di ufuk barat.

"Mau berapa lama kau berada di sana?" sesosok pria bertubuh tak kalah tinggi dari pria pertama muncul dari balik pepohonan yang menjulang tinggi di sekitar kawasan itu dan pria itu berdiri tak jauh dari batu besar yang menjadi pijakan pria pertama.

"Mungkin sampai pikiranku sedikit tenang."Gumam pria itu.

"Kapan? Kau sudah berada di sana sepanjang hari Kim Jongin... kau tahu pasti aku menyelamatkanmu bukan untuk melihat penyesalanmu karena tetap hidup. Kembalilah dan temui kedua orang tuamu."

"Hyung..."

"Sehun hidup dengan baik di sana dan kau pun juga harus memulai hidup yang baik di sini. Tegarlah Kim Jongin... terima takdirmu."

Tangan Jongin meraba perban yang menutupi matanya yang terluka."Takdirku bahkan belum di mulai hyung... kau tau pasti dengan itu."

Taiyu tersenyum tipis, "Kalau begitu tentukan takdirmu sekarang, tapi sebelum itu temui kedua orang tuamu dulu."

"Aku tahu." Dan bersamaan dengan ucapan Jongin, tubuh keduanya pun menghilang dari tempat itu dan muncul sedetik kemudian di tempat yang berbeda.

Sebuah rumah kecil di pinggir hutan. Rumah yang sudah ia tinggali selama seminggu ini bersama kedua orang tuanya.

Masih segar di ingatan Jongin saat ia menghilang dari halaman sekolahnya dan muncul di sini, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana kedua orang tuanya terbaring dengan kaku di lantai, sudah tak bernyawa. Ia tahu kalau ia dan Taiyu telah terlambat untuk menyelamatkan kedua orang tuanya.

Saat itu masih dengan kondisinya yang terluka parah, Jongin memberi kehidupan yang baru untuk kedua orang tuanya. Kehidupan yang sama seperti dulu dijalani ayahnya di dunia immortal. Vampire.

"Jongin... kau sudah pulang?"

Ini dia ibunya, yang terlihat semakin cantik setelah berubah menjadi vampire. Minseok juga menjadi lebih tenang dan lebih terkendali.

"Eomma..."

Tangan Minseok meraih lengan anaknya dan menuntunnya untuk duduk di kursi di sampingnya. "Kau terlalu lama berada di luar anakku."

Jongin tersenyum tipis. "Eomma tenang saja, cahaya matahari tidak akan membuat tubuhku menjadi gosong."

"Eomma tahu nak, tapi eomma kesepian di rumah. Appamu senang sekali meninggalkan eomma berburu binatang di hutan." Minseok cemberut.

Jongin terkekeh pelan. "Appa mungkin harus membiasakan diri lagi eomma... bagaimanapun kita tak bisa meminum darah manusia bukan?"

"Ya, kau benar..." perhatian Minseok teralih pada tanda berbentuk sayang di punggung Jongin, tanda itu masih ada di sana, sempurna, meski pasangannya telah menghilang. "Lukamu masih belum juga sembuh?" tanyanya pelan.

"Entahlah, aku tidak bisa merasakannya." Jawab Jongin pelan.

Minseok mengusap punggung Jongin. "Tak masalah bagi eomma, apakah luka itu akan meninggalkan bekas cacat atau tidak yang pasti eomma ingin anak eomma sembuh."

"Eomma..."

"Hmmm..."

"Haruskah aku memilih apa yang tidak ingin aku pilih?"

Minseok meraih tubuh Jongin dan menariknya ke dalam dekapan hangatnya. "Apapun itu anakku, lakukan apa yang hatimu inginkan dan jangan lakukan apa yang membuat hatimu meragu, eomma tidak ingin anak eomma menyesalinya nanti."

Jongin mengeratkan pelukannya di tubuh ibunya. "Aku mengerti..."

"Jongina, apapun yang kau pilih, percayalah nak, kami semua akan selalu ada di sisimu..."

Jongin tersenyum. "Eomma tidak menyesal bukan harus menjalani hidup seperti ini karena Jongin?"

"Tentu saja tidak... eomma bahkan bahagia bisa tetap bersama ayahmu dan juga dirimu untuk waktu yang lebih lama lagi." Minseok melonggarkan pelukannya dan telapak tangannya menyentuh ke area di mana jantungnya yang tak lagi utuh seperti saat ia masih menjadi manusia. "Meski ini tidak lagi berdetak, eomma tidak pernah menyesalinya."

Jongin mengangguk, "Kalau begitu, aku juga tak akan menyesal dengan pilihanku sendiri."

"Jongin..."

Jongin berbalik untuk memunggungi ibunya. "Kurasa sebentar lagi matahari akan benar benar tenggelam dan sebelum itu aku harus melakukannya. Eomma... aku akan pergi sebentar."

"Jongin..."

"Ini saatnya aku harus merelakannya, eomma..." Jongin berjalan menjauh, lalu menghilang.

Ia muncul kembali di tempat yang sama seperti sebelumnya. Tangannya terangkat ke atas saat ia mendongak. "Aku mungkin tak bisa lagi mendapatkan half bloodku yang sempurna dan juga Sehun... tapi paling tidak, aku masih bisa memperbaiki kerusakan di sini."

Telapak tangan Jongin menekan tepat di area matanya yang rusak dan cahaya orange berpendar di sana. "Dulu aku selalu meremehkannya karena ia sangat mudah aku kendalikan, tapi ternyata ia sangat berguna untukku sekarang... terima kasih paman... karena telah meminta Taiyu hyung memberikan setengah darah Demonnya padaku..."

Jongin melepaskan lilitan perban yang menutupi matanya, mata itu masih terpejam dan cahaya orange yang melingkari mata Jongin semakin menipis dan akhirnya menghilang, seiring dengan tanda sayap di punggung Jongin yang juga menghilang. "Untuk mendapatkan ini, aku harus mengorbankan sesuatu yang berharga milikku. Sehuna... maafkan aku..."

Jongin membuka matanya, menampilkan pupil matanya yang berbeda warna di kiri dan kanan, biru dan orange. Tangan Jongin meraba punggungnya sesaat. "Benar benar hilang ya... ini artinya aku benar benar sudah tidak terhubung lagi dengan Sehun..." Jongin tersenyum pahit menyadari takdirnya di usia enam belas tahun, ia harus kehilangan pasangan hidupnya.

"Mate untuk setiap makhluk immortal hanya berlaku satu kali, itu artinya kau hanya punya kesempatan mempunyai pasangan hanya satu kali dan kalau kau kehilangan itu, maka seumur hidupmu kau tidak akan mempunyai pasangan."

Ucapan Taiyu kembali terngiang di telinga Jongin.

"Aku tak masalah kalau tidak mendapatkan pasangan lagi hyung, tapi bagaimana dengan Sehun?"

"Dia berbeda denganmu, dia bukan makhluk penghisap darah. Suatu saat dia akan menemukan pasangannya kembali."

Jongin meringis, sanggupkah ia kalau suatu saat nanti harus melihat Sehun bersama pasangannya yang lain?

Srakk

Jongin melompat turun dari atas batu dengan sikap waspada saat mendengar suara langkah kaki yang bergegas meninggalkan tempat itu.

"Siapa di situ..."

Tak ada jawaban dan Jongin bergegas masuk ke dalam hutan untuk mengejar orang yang mungkin sudah melihat dirinya. Namun langkahnya terhenti saat ia mencium bau yang cukup familiar di sekitar tempat yang telah ditinggalkan oleh orang itu.

"Dia..."

.

.

.

.

.

.

Jaemin merasa heran saat tiba tiba saja Jeno mengajaknya dan Sehun untuk menemani namja werewolf itu berburu di hutan.

"Kau sedang kesambet setan? Kau tahu kan aku tidak bisa berburu dan di hutan... Pasti banyak binatang yang aneh di sana. Aku tidak mau." Tolaknya mentah mentah.

"Ayolah sayang, hanya sekali..." bujuk Jeno.

"Ish, kalau ada yang menyerang kita bagaimana? Aku tidak mau mengobatimu lagi kalau kau terluka."

Sehun yang baru menyusul keluar kelas hanya bisa mengerutkan keningnya melihat Jaemin yang cemberut. "Nana kenapa?"

"Tidak apa apa..." sahut Jaemin cepat.

"Sehuna... kau mau ikut ke hutan besok? Mumpung sekolah lagi libur." Tanya Jeno.

"Hutan?" Sehun mengerjapkan matanya. "Apa ada binatang di sana?"

Jeno mengangguk. "Yap, banyak. Seperti di kebun binatang."

"Wah benarkah? Apa nanti juga ada binatang seperti Nono yang di sihir Nana?" tanya Sehun antusias.

"Yak, aku bukan penyihir Sehuna." Pekik Jaemin tidak terima.

"Tapi kau membuat badan Nono gosong dan berbulu waktu itu, setelah kau menyembuhkannya baru dia kembali normal. Itu pasti karena ulahmu kan." Sehun ngotot dengan teori miliknya sendiri.

Jaemin mendengus, "Memangnya aku sekejam itu apa menyihir kekasihku sendiri."

"Ya, kau kejam..." tunjuk Sehun. "Suka memukul sembarangan."

"Apa kau bilang, kau mau ku pukul lagi?"

"Tuh kan, sudah ingin memukul lagi, dasar nenek sihir. Bweeee..."

"Aku tidak setua itu untuk menjadi nenek sihir." Jerit Jaemin ia menarik jaket Sehun dan menjitak dahinya.

"Awww... Nana kejam..."

Plakk

Giliran kepala Jaemin yang kena geplakan maut tangan Sehun.

"Yak, bocah ini..." geram Jaemin.

"Aish, sudah sudah, kenapa kalian harus bertengkar lagi." Lama lama Jeno jengkel juga melihat keduanya yang terus bertengkar.

"Jeno, kau membela bocah manja ini?" tunjuk Jaemin dengan muka cemberut.

"Tidak sayang... aku tidak membela siapa-siapa... sekarang sekali lagi aku tanya kalian mau ikut tidak denganku besok?"

"Tapi kenapa..." Protesan Jaemin terhenti saat Jeno menarik tubuhnya ke dalam pelukan dan membisikkan sesuatu ke telinganya. "Benarkah itu?" Tanyanya dengan nada tak percaya.

Jeno mengangguk.

"Baiklah, kalau begitu aku akan mengajak Sehunie ikut." putus Jaemin. Ia melirik pada Sehun yang masih merengut.

"Uhh, di hutan nanti banyak nyamuk, bagaimana kalau badanku gatal-gatal dan..."

"Sudah jangan banyak protes. Ayo pulang..." Jaemin menarik tangan Sehun dan setengah memaksanya untuk berjalan dengan cepat.

"Nana..." protes Sehun.

Jaemin tetap diam dan tidak mengurangi kecepatannya dalam melangkah, pikirannya sedang terbagi sekarang antara percaya dan tidak, benarkah apa yang dikatakan Jeno padanya. Kalaupun ya, masihkah ada harapan, mengingat Sehun bahkan sudah tidak mengingat dia lagi.

.

.

.

.

.

Malam itu, Jaemin yang masih merasa tidak tenang karena ucapan Jeno waktu mereka di sekolah, berniat mendatangi kekasihnya itu di rumahnya. Namun saat ia tiba di rumah Jeno, hanya kesunyian yang ia dapati.

"Jeno-ya..." Jaemin menekan bel berkali kali, namun tak ada juga suara langkah kaki yang mendekat untuk membukakan pintu. "Apa dia pergi... Tapi tadi dia mengirim pesan kalau dia sedang berada di rumah sekarang."

Jaemin menoleh ke sekelliling dan secara tak sengaja tatapannya terfokus pada bulan yang tampak bersinar lebih terang dari pada biasanya. Jaemin mendadak merasa merinding, ada aura magic yang terpancar dari sinar bulan kali ini. "Kenapa aku merasa aneh..." ia mengusap lengannya yang terasa dingin sebelum kembali memfokuskan dirinya untuk memencet bell.

Masih sepi, seperti tak ada tanda tanda kehidupan di dalam rumah Jeno.

"Ish... kemana dia pergi..." Jaemin menghentakkan kakinya dengan kesal. Saat itulah terdengar geraman samar samar dari atas lantai dua rumah Jeno.

Jaemin terdiam dan memfokuskan pendengarannya.

"Grrrrr..."

"Jeno..." mendadak Jaemin merasa cemas, apakah kekasihnya sedang dalam bahaya di atas sana. Tanpa pikir panjang, dengan menggunakan kekuatan perinya, ia mendobrak pintu rumah Jeno dan berlari masuk ke dalam. "Jeno-ya..." teriaknya panik.

Suara geraman itu terdengar semakin nyaring dari dalam sini dan Jaemin terus berlari menaiki tangga menuju kamar Jeno.

"Jeno..."

"Grrrrr..."

Sesaat langkah Jaemin terpaku saat menyadari kalau suara geraman itu berasal dari dalam kamar kekasihnya. "Jeno-ya... kau di dalam..." dengan tangan gemetar ia mengetuk pintu kamar Jeno.

'Nana...'

Seperti telepati, suara Jeno bergema di dalam kepala Jaemin.

"Jeno... kau tidak apa apa..." Jaemin merasa lega saat mendengar suara kekasihnya.

'Nana, pergilah!'

Suara Jeno terdengar begitu tersiksa, dan dengan nekad, masih menggunakan kekuatannya, Jaemin mendobrak pintu kamar Jeno dan apa yang dilihatnya membuat mulutnya terbuka lebar.

Seekor serigala hitam yang ia yakini sebagai kekasihnya, terikat dengan rantai di atas lantai. Serigala itu mengaum saat Jaemin mendekat.

'Nana, Pergilah!'

Kembali suara Jeno bergema di kepala Jaemin.

"Tidak mau." Jaemin semakin mendekat, air mata mengalir di pipinya saat menyadari kekasihnya tampak tersiksa dengan puluhan rantai yang membelit tubuhnya. Dengan tangan yang gemetar, ia mencoba menarik rantai yang mengikat tubuh serigala Jeno, berusaha membebaskan kekasihnya itu.

Serigala itu mengaum lagi, sebelum menggeram.

'Jangan Nana, aku sangat berbahaya saat ini, kau bisa terluka karena aku'

"Tapi rantai ini mengikatmu Jeno-ya, kau pasti sangat tersiksa." Balas Jaemin. Tepat setelah ia mengatakan itu, ia berhasil melepaskan semua rantai yang mengikat tubuh Jeno.

'Pergilah Nana... aku takut melukaimu...'

"Kenapa? Kau kekasihku bukan? Kenapa kau harus melukaiku?"

Jaemin yang keras kepala bukanlah yang Jeno inginkan saat ini, disaat insting serigalanya bahkan jauh lebih kuat daripada insting manusianya. Ia menggeram saat sisi serigalanya semakin mengambil alih dirinya.

"Kenapa? Kenapa kau memintaku untuk pergi?"

'Maiden Moon' suara Jeno bahkan terdengar lebih seperti geraman di telinga Jaemin.

"Maiden Moon..." suara Jaemin terdengar shock. Seketika ia teringat bulan yang ia lihat saat di luar rumah Jeno tadi. Bulan yang bersinar lebih terang, aura magic dan Jeno yang terikat di lantai, otaknya yang pintar segera memproses itu semua dan menemukan jawabannya. Maiden Moon, bulan bergaul para kaum serigala, saat dimana mereka akan menandai para pasangan mereka. Jadi karena itu tubuh Jeno terikat ?

'Aku tak ingin melukaimu, jadi pergilah' suara Jeno terdengar begitu sedih.

"Bagaimana kalau aku tidak mau?" tantang Jaemin.

'Ini pertama kalinya untukku Nana, aku takut kalau aku akan melukaimu.' Serigala itu bergerak tidak nyaman. 'Pergilah sebelum aku tak bisa mengendalikan pikiranku sendiri'

"Tidakkah kau berpikir kalau aku juga ingin menjadi pasanganmu yang sebenarnya dan bukan hanya sebagai kekasihmu."

'Nana...' Serigala itu menggeram lagi.

"Kau pasti tersiksa karena tak punya pelampiasan bukan, kenapa tidak lakukan saja padaku. Aku yakin kau takkan melukaiku." Mata Jaemin terpaku pada kekasihnya yang juga menatapnya dengan intens. Tangannya terulur untuk mengelus bulu hitam sang kekasih.

Jeno tetap diam dan hanya terus memandang kekasihnya.

'Apa kau benar benar siap?'

"Aku... aku rasa ya." Jawab Jaemin.

'Kalau begitu buka pakaianmu.'

"Eh..." Jaemin membelalakkan matanya.

'Seorang werewolf akan menandai pasangannya saat dirinya masih dalam bentuk serigala dan bukan manusia. apa kau takut? Kalau kau takut larilah selagi aku masih memberimu kesempatan.'

Bibir Jaemin mengerucut. "Aku tidak takut." Sanggahnya. Dan dengan gerakan cepat ia melepas seluruh kain yang menempel di tubuhnya, hingga ia benar benar telanjang di hadapan Jeno. "Sekarang apa yang harus aku lakukan."

Jeno menggeram, harusnya tadi ia tidak perlu meminta orang tuanya mengikatnya, kalau ternyata kekasihnya justru menawarkan diri seperti ini. Tapi ketakutannya yang akan menyakiti kekasihnya membuatnya melakukan itu, mengikat tubuh serigalanya agar tidak berlari ke tempat Jaemin dan mengajaknya bercinta. Akan tetapi keadaan sekarang menjadi berbeda karena justru Jaeminlah yang datang lebih dulu dan menawarkan kesempatan padanya.

Serigala Jeno mendekat, hingga bulunya menggesek kulit Jaemin yang telanjang. Moncongnya mengendus area private milik Jaemin sebelum menjilatnya dengan lidahnya yang kasar.

Jaemin mengerang ketika merasakan sensasi asing saat lidah Jeno menjelajahi kejantanan mungilnya. Ia menjerit saat lidah Jeno bergerak turun dan menjilat holenya dan gerakan seduktif.

"Ahhh.. Jeno..."

Jeno merespon desahan Jaemin dengan jilatan di dada dan sepanjang pahanya yang membuat desahan Jaemin makin terdengar.

'Berbaliklah'

Jaemin menurut dan ia segera berbalik, berpegangan pada meja di depannya dan menungging tepat di hadapan Jeno. Ia merasakan lagi jilatan Jeno di pantatnya sebelum Jeno menjauhkan sedikit tubuhnya.

'Nana... maaf...'

Dan sedetik kemudian kejantanannya yang besar menyeruak masuk mengoyak hole Jaemin yang belum pernah terjamah. Jeritan Jaemin bergema diruangan itu selama beberapa saat. Bukan hal mudah baginya untuk menyesuaikan diri dengan seorang werewolf, apalagi dengan milik werewolf itu yang begitu besar menginfasi tubuhnya.

"Hiks... sakit..."

Jeno berhenti, menjilati punggung Jaemin, berusaha mengalihkan perhatian kekasihnya itu dari rasa sakitnya. Ketika merasa isakan Jaemin sudah tidak terdengar, ia kembali bergerak, mendesak milik Jaemin untuk menerima miliknya lebih dalam lagi. Jaemin kembali menjerit saat rasa sakit itu kembali datang, namun tak lama kemudian jeritan itu sudah berubah menjadi desahan.

Cukup lama mereka bergerak dalam posisi seperti itu hingga akhirnya terjangan orgasme menghantam keduanya.

"Jeno..." Jaemin menoleh dan melihat tubuh serigala itu kembali berubah menjadi sosok kekasihnya dalam wujud manusia.

"Ya, sayang..." Jeno mencium punggung mulus Jaemin yang penuh keringat.

"Jeno..."

"Hmmm... apa kau terluka?" tanya Jeno khawatir.

"Tidak, aku hanya ingin memanggilmu. Aku hanya ingin tahu, apakah yang tadi itu nyata?" bisik Jaemin.

Jeno membalik tubuh Jaemin, kembali menghadap ke arahnya. Tanpa melepaskan tautan tubuh mereka, ia membaringkan tubuh Jaemin di lantai yang dingin. Ia mengecup bibir Jaemin dengan lembut. "Semua itu nyata sayang..."

"Benarkah..." Tangan Jaemin bergerak untuk mengelus wajah Jeno. "Jeno..."

"Umm... teruslah sebut namaku." Bisik Jeno, sebelum kembali menggerakkan tubuhnya, melakukan penyatuan, kali ini dalam dirinya yang berwujud manusia.

"Jeno..."

Setelah melalui penyatuan yang panjang, akhirnya keduanya terbaring dengan saling berpelukan di lantai, hanya ditemani selembar selimut yang menutupi tubuh polos keduanya.

"Apa?" Jeno memeluk tubuh kekasihnya, Jaemin tampak begitu kelelahan dan Jeno rasanya menjadi merasa bersalah karena terus memintanya untuk melayaninya tadi.

"Benarkah Jongin masih hidup ?"

Tangan Jeno makin memeluk dengan erat tubuh Jaemin sebelum ia bicara. "Ya, semalam... saat aku berburu di hutan terlarang... secara tak sengaja aku tersesat, dan saat aku ingin mencari jalan untuk pulang, aku melihatnya... berdiri di atas sebuah batu besar. Hanya saja..."

"Apa... apakah dia cacat?" tanya Jaemin.

"Aku tidak tahu... dia menutupi matanya dengan perban, hanya saja... aku melihat sendiri tanda mate di punggungnya juga menghilang..."

"Jadi... itu artinya dia bukan pasangan Sehunie lagi?"

"Ku rasa jawabannya ya."

"Lalu untuk apa kau ingin membawa Sehunie ke hutan kalau ternyata mereka bukan lagi pasangan? Bukankah itu percuma." Gumam Jaemin.

"Aku hanya ingin mereka bertemu... dan...berharap ada keajaiban yang datang..."

"Keajaiban..."

"Hmm..." Jeno mengecup hidung mungil Jaemin. "Keajaiban yang akan menyatukan mereka. boleh bukan kita berharap..."

Jaemin tersenyum. "Ya, kita harus mempertemukan mereka."

.

.

.

.

.

.

"Ini di mana?" hal pertama yang ditanyakan Sehun pada sepasang kekasih itu adalah tentang keberadaan mereka. Ia berdiri di tempat asing yang mirip sebuah tanah lapang dengan hutan yang mengelilingi tempat itu. Ada sebuah batu besar tepat mengarah ke matahari terbenam dan pandangan Jeno sedari tadi terus terfokus ke sana.

"Kau tunggulah di sini sebentar... aku dan Jeno akan kembali beberapa menit lagi." Ucap Jaemin.

"Tunggu, aku ikut..." rengek Sehun.

"Jangan, di dalam hutan banyak nyamuk dan serangga, kau mau di gigit dan kulitmu penuh bintik bintik?" cegah Jaemin.

Sehun merengut. "Tapi Hunnie takut di sini..." rengeknya lagi.

"Tidak akan ada apa apa, di sini aman." Jaemin memeluk tubuh sepupunya itu.

"Tapi..."

"Aku akan membawakanmu kelinci yang imut." Ucap Jeno.

"Bunny?" mata Sehun berbinar saat mendengarnya. "Hunnie mau..."

"Karena itu, tetaplah di sini dan tunggu aku dan Nana membawakannya untukmu."

"Umm..." Sehun mengangguk dan membiarkan sepasang kekasih itu meninggalkannya seorang diri di tengah tanah lapang itu.

"Kau yakin dia akan aman?" tanya Jaemin khawatir.

"Tentu saja, di sini tidak ada kaum pemangsa yang berbahaya." Jawab Jeno. Ia teringat pada ucapan orang tua Sehun tadi pagi sebelum berangkat.

Flashback

"Jadi dia masih hidup dan kau ingin mempertemukannya dengan Sehun?" tanya Chanyeol

"Ya, ahjushi..."

"Tapi dia bukan mate anakku lagi." Ucap Chanyeol dengan nada ragu.

"Karena itulah ahjushi, aku ingin mempertemukan keduanya, untuk meyakinkan kita semua kalau mereka memang ditakdirkan atau tidak untuk bersama."

"Bagaimana aku bisa percaya padamu? Sementara kau bahkan sudah menandai Jaemin tanda seizin kami."

Jeno meringis. "Itu aku..."

"Baiklah, aku akan memberimu kesempatan kali ini. Tapi kalau ternyata mereka memang tidak saling mengingat lagi, maka aku akan benar benar melarangmu mempertemukan mereka lagi."

"Baik, ahjushi..."

Flashback End

"Aku hanya berharap, Jongin akan datang ke sini hari ini." Gumam Jeno.

Jaemin tersenyum, " Pasti... dia pasti akan datang." Ucapnya yakin.

Tap memang terkadnag keyakinan saja tidaklah cukup, karena siang bahkan sudah berganti menjadi sore dan Sehun tetap berada sendirian di tanah lapang itu.

"Ish, Nana kenapa lama sekali, Nono juga... apa kelincinya kabur?" Sehun menghentakkan kakinya dengan kesal. Ia sudah berada cukup lama di sini, bahkan sempat tertidur juga, namun kedua orang yang ia tunggu belum juga datang. "Apa harus Hunnie menyusul ke dalam hutan?"

Sehun menatap ke arah hutan yang tampak gelap, lalu menggelengkan kepalanya. "Terlalu gelap, Hunnie takut..." ia merengut lagi. "Tapi Hunnie kan namja, namja harus berani. Jadi baiklah ayo pergi ke hutan..." Sehun mengepalkan tangannya ke udara sebelum berbalik dan ia langsung terpaku saat menyadari dirinya tidak hanya sendirian di tempat ini. Tapi ada sosok lain yang kini berdiri beberapa langkah di depannya. Perlahan Sehun menurunkan tangannya yang tadi masih terangkat ke udara. Pandangannya terpaku pada sosok bertubuh tinggi yang hanya mengenakan kaos tipis berwarna hitam dan juga celana selutut berwarna senada. Pandangan Sehun turun ke bawah dan menemukan kalau sosok di depannya ini menapak di tanah dengan kakinya yang berbalut sepatu yang warnanya mulai memudar.

"Apa yang kau lakukan di tempat ini sendirian...?"

"Eh, itu... aku menunggu... sepupuku dan kekasihnya." Ucap Sehun gugup. Ia merasa sedikit terintimidasi oleh tatapan pria di depannya.

Sosok di depannya menghela napas. 'Pasti karena Jeno ya...'

Ia memperhatikan sosok Sehun dalam diam, namja itu terlihat secantik biasanya dengan sweater jaring jaring berwarna hitam yang mengekspos kulit putihnya dan juga celana jins yang membalut kaki rampingnya dengan begitu pas dan juga sepatu converse berwarna putih yang membuat penampilannya terlihat lebih sempurna.

"Kemana mereka?"

"Entahlah, mereka bilang akan mencarikan Hunnie kelinci. Tapi ini sudah lama sekali." Sehun tanpa sadar mengerucutkan bibirnya.

Namja di depannya mengangkat sebelah alisnya. Polos sekali, mau menunggu di tengah hutan hanya demi seekor kelinci, Sehunnya tetap tidak berubah.

"Kau tidak takut?"

"Tadinya... tapi sekarang tidak lagi." Jawab Sehun.

"Kenapa?"

"Karena ada kamu..."

Namja itu terdiam, ia mendongak menatap matahari yang sudah semakin turun ke ufuk barat.

'Aku hanya bisa membuat warna matamu tetap menjadi hitam saat siang harri, saat matahari terbenam di ufuk barat, maka warna matamu akan kembali seperti semula'

Ia memejamkan matanya saat mengingat ucapan Taiyu, ia harus pergi sebelum Sehun melihat warna matanya berubah. Tapi ia juga tak bisa meninggalkan Sehun terus berada di sini sendirian. Terlalu berbahaya.

"Aku akan mengantarmu ke tepi hutan. Kau bisa menunggu di sana. Di sini tidak aman. Apalagi sebentar lagi hari akan gelap."

"Tidak mau... aku suka di sini." Tolak Sehun.

"Sehunie..."

"Kau tahu namaku?" tanya Sehun antusias.

Namja itu terdiam, tentu saja ia sangat tahu nama orang yang dicintainya. "Ya..."

Sehun tersenyum manis. "Jadi karena kau sudah tahu namaku, bolehkah aku juga tahu namamu?"

"Jongin..."

"Ahhh... Jongin..."

Sesaat Jongin melihat Sehun yang tengah berpikir, namun hanya sekejap karena namja manis itu kembali tersenyum. Perasaan Jongin mengatakan ada yang janggal karena Sehun bahkan tidak menanyakan kenapa ia bisa tahu nama namja itu, tapi mengingat kepolosan Sehun, Jongin harusnya sudah tahu jawabannya.

"Kau pernah mendengar nama itu?"

"Umm, Nana dan Nono sering menyebut nama itu." jelas Sehun.

"Ohhh... kalau begitu bisakah aku mengantarmu ke tepi hutan. Hari hampir gelap, binatang buas akan berkeliaran di tempat ini."

"Apa?" Sehun melompat ke sisi Jongin dan menatap takut kesekeliling. "Mana?"

"Aku bilang kan malam hari." Jongin terkekeh pelan.

"Ish, kau menakutiku..." Sehun menghentakkan kakinya dan mulai berjalan menjauh.

"Maaf..." Jongin mensejajarkan langkahnya dengan Sehun dan keduanya melangkah dalam diam, meninggalkan sepasang kekasih yang tengah mengamati mereka dari balik sebuah pohon besar.

"Apa dia benar-benar tidak mengingatnya?"

"Entahlah, ayo pulang..."

"Tapi bagaimana dengan Sehunie?"

"Dia akan pulang dengan Jongin nanti. Ayo kita pergi..."

Begitu keduanya pergi, Jongin melirik ke arah tempat itu dan tersenyum tipis.

"Jalanannya agak licin, jadi berhati-hatilah."

"Berapa lama lagi kita akan tiba di tepi hutan?" tanya Sehun, tatapannya tak beralih dari Jongin yang kini menggenggam jemarinya dan menuntunnya untuk melangkah dengan hati hati.

"Cukup lama kalau kau tetap berjalan sepelan itu." sahut Jongin. Ia sama sekali tidak menoleh pada Sehun, tangannya yang bebas sibuk menyibak ranting pohon, untuk memudahkan Sehun berjalan.

Sehun tersenyum ia mengeratkan tautan jemari mereka membuat Jongin berhenti melangkah tapi tetap tidak menatap ke arahnya.

"Nini... ayo hentikan ini semua..."

"Sehuna..."

.

.

.

.

.

.

TBC

Berharap chapter depan udah bisa end nih ff dan aku bisa fokus ke ff yang satu lagi ( My Love Is Werewolf ). Rasanya melegakan karena utang ff ku ga banyak lagi #plakk dan juga review nambah dikit. Hehehe... meski karyaku mungkin ga sebagus karya orang lain, mohon tetap review ya...

Dan aku sangat berharap EXO bisa menang lagi di Melon Music Award malam ini. Amiiiinnnn...

Dan berharap juga momen KaiHun sebanyak yang di AAA kemarin. Kalau perlu sama ChanHo juga sih, karena aku greget banget liat Chanyeol yang rebahan manja sambil ngelus paha Suho. Aaaaaa... #plakkk momen crackpair memang selalu bikin greget.

Terakhir salam damai KaiHun shipper

Syakila8894