THE HALF BLOOD VAMPIRE 2 CHAP 11 (FINAL CHAPTER PART 1)
Pairing : KaiHun, NoMin
Genre : Fantasy, Romance
Rated : M
Akhirnya...
Ini chapter yang bikin galau bagi yang nulis, karena takut endingnya mengecewakan kalian. Tapi aku punya prinsip lebih baik mencoba dulu, hasilnya ntar aja dipikirin. Karena itulah ini hasil dari mikir bagian endingnya. Moga ga terlalu mengecewakan. Tapi mungkin bakal kecewa berat juga sih, karena ini pendek. No edit pula.
Syakila8894
.
.
.
.
.
.
Jongin berbalik dan menatap intens ke arah Sehun, mulutnya sedikit terbuka dan tatapannya menyiratkan rasa tidak percaya. "Kau mengingatku?"
Sehun mengerjapkan matanya lalu menggeleng, wajahnya murung. "Hunnie ingat Nini... tapi tidak semua hal Hunnie ingat..."
Jongin tersenyum, ia melepaskan genggaman tangannya dan menyentuh pipi Sehun, namun namja cantik itu menghindar, tak mau di sentuh olehnya. Senyuman Jongin memudar seketika.
"Maaf..." Sehun menunduk dan menggigit bibirnya.
"Aku mengerti," Jongin mengepalkan tangannya dan kembali memunggungi Sehun. "Ayo, aku harus mengantarmu keperbatasan sebelum hari berubah menjadi gelap."
Sehun tak bergeming meskipun Jongin sudah melangkah meninggalkannya. Jongin yang merasa kalau Sehun tidak mengikutinya hanya mendesah lirih. "Sampai kapan kau mau tetap berdiri di situ, menunggu hari gelap atau menunggu binatang buas datang menghampirimu?"
"Nini jahat..."
"Ehh..."
"Nini bahkan tidak menanyakan kenapa Hunnie tidak mau Nini sentuh. Hunnie benci Nini..." sehun menghentakkan kakinya sebelum melangkah dengan langkah yang lebar, bermaksud untuk mendahului langkah Jongin. Namun, niatnya itu terhenti karena Jongin yang lebih dulu menahan pundaknya.
"Ada banyak hal yang ingin ku bicarakan denganmu Sehuna, tapi sekarang bukan waktu yang tepat. Hari sudah menjelang malam, dan aku harus memastikan dirimu aman."
"Kenapa tidak sekarang saja?"
"Hunnie..."
"Tidak tau kenapa, Hunnie merasa... kalau hari ini kita tidak saling bicara, maka... kita tidak akan pernah bertemu lagi. Nini... ayo bicara meski hanya sebentar." Sehun menatap penuh harap pada Jongin.
"Di sini?" Jongin mengedarkan pandangan ke sekitar.
Sehun mengangguk, "Tak apa, paling juga Hunnie di gigit nyamuk." Sehun nyengir.
"Aku tau sebuah tempat yang tenang dan aman untuk kita bicara. Kau mau ikut?" Jongin mengulurkan tangannya, berharap Sehun untuk menyambutnya.
Sehun memandang tangan Jongin sejenak, sebelum tersenyum dan memajukan tubuhnya untuk memeluk tubuh Jongin dengan sebuah pelukan erat. "Hunnie lebih suka seperti ini."
Jongin menghela napas sebelum balas tersenyum. "Pejamkan matamu." Bisiknya lirih. "Kita pergi."
Dalam sekejap, dengan menggunakan kekuatan Jongin keduanya berpindah tempat.
"Buka matamu, kita sudah tiba." Dengan lembut Jongin melepaskan pelukan Sehun di tubuhnya dan melangkah sedikit menjauh.
Perlahan Sehun membuka matanya dan langsung menatap jejeran pohon di depannya. Bukankah ini masih di kawasan hutan yang sama?
Seakan mengerti pandangan bingung Sehun, Jongin menunjuk ke arah belakang tubuh Sehun. "Berbaliklah."
Dah, Oh Tuhan...
Sehun memandang takjub tempat itu. "Woahh..."
Jongin tersenyum tipis, "Aku suka hutan dan juga air, kadang di malam hari aku suka berdiam diri sendirian di sini. Sangat menenangkan."
Sehun mengernyit bingung. "Kau tidak takut dengan binatang buas dan kegelapan?"
"Aku suka kegelapan, itu seperti bagian dari diriku sendiri."
"Jadi... selama ini kau bersembunyi di tempat ini?"
"Aku tidak bersembunyi." Bantah Jongin.
"Tapi kau menghilang, Nini. Tak taukah kau betapa bersalahnya aku. Hiks..." Sehun menangis.
"Sehunie..."
"Semua karena aku, kau harus terluka parah dan menghilang. Kau jahat, kenapa tidak pernah menemuiku lagi dan membuatku makin merasa bersalah. Ku kira kau sudah meninggal..." Sehun meremas ujung sweaternya dan terus terisak.
"Kau... mengingat semuanya?" Jongin tampak tak percaya. Ia masih ingat setelah tanda di tubuh Sehun hilang, ia langsung menggunakan sisa kekuatannya untuk menghilangkan ingatan Sehun tentangnya. Apa itu tidak berhasil?
Sehun melemparkan pandangannya pada hamparan air danau yang bening, dengan taman bunga yang mengelilinginya.
"Awalnya tidak... tapi... saat aku merasa marah dan kekuatanku muncul... ingatan itu kembali..."
Jongin terdiam.
"Nini... kau yang melakukannya bukan? Kenapa kau tega sekali? Kenapa Nini ingin Hunnie melupakan Nini..."
Jongin menunduk. "Tanda itu..."
Mendengar kata tanda, secara otomatis tangan Sehun bergerak untuk memegang area belakang lehernya.
"Begitu tanda itu hilang, secara otomatis kita bukan pasangan lagi Sehuna."
"Jadi, Hunnie bukan kekasih Nini lagi?"
Jongin mengangguk.
"Hunnie tidak bisa bersama Nini lagi?"
Jongin lagi lagi mengangguk.
"Meski Hunnie masih mencintai Nini?"
Jongin mendongak menatap tepat pada wajah Sehun yang basah dengan air mata. "Iya... eh, apa?" tatapan Jongin terlihat seperti orang yang tidak percaya dengan apa yang ia dengar. "Kau..."
"Hiks... Hunnie mencintai Nini... tapi kenapa takdir begitu kejam pada Hunnie?"
"Itulah kenapa aku ingin menghapus ingatanmu tentangku Sehuna... aku tak ingin kau terluka, cukup hatiku saja yang terluka." Mungkin Sehun tidak tahu, namun Jongin merasakan dadanya begitu sakit ketika menyadari meski mereka masih saling mencintai tapi tetap tidak bisa bersama.
"Hiks... tidak bisakah kita tetap bersama meski tidak ada tanda itu?"
Jongin mendekat dan merengkuh tubuh Sehun dari belakang dan memeluknya erat. "Aku ingin... tapi di dunia immortal, itu semua tidak bisa Sehuna, yang tidak punya tanda mate tidak diperbolehkan untuk hidup bersama."
"Kalau begitu ayo buat lagi tanda itu."
"Andai saja bisa..." Jongin tersenyum sedih. Membayangkan tidak bisa hidup bersama dengan Sehun sungguh terasa menyakitkan.
Sehun berbalik dan memeluk tubuh Jongin dengan erat. "Hunnie tidak mau pisah dari Nini..." gumamnya lirih.
"Aku juga..." Jongin mengelus punggung Sehun dengan gerakan lembut, ia memejamkan matanya dan sesekali mencium pundak Sehun.
"Andai saja ada cara lain..." Sehun tampak begitu putus asa. "Pasti kita tidak akan berpisah kan Nini..."
Ya, seandainya saja ada cara...
Jongin memejamkan matanya, sekelebat ingatan melintas dipikirannya. Ingatan akan ucapan gurunya yang mengatakan tentang takdirnya, ucapan pamannya yang terputus karena kematiannya, mimpinya saat berada di vila di tengah pulau dan... tubuh Jongin menegang. Mungkinkah...?
"Nini..." panggil Sehun cemas, "Nini tidak apa-apa?" Sehun melepaskan pelukannya dan menatap wajah Jongin yang semakin memucat dan juga warna matanya yang telah berubah. Biru dan orange. Sehun menoleh ke sekeliling yang mulai gelap karena matahari yang telah tenggelam di ufuk barat. "Nini..."
Jongin mengerjapkan matanya, menyadari kalau sihirnya telah berakhir dan warna matanya yang asli kembali muncul. "Aku tidak apa-apa Sehuna..." ia mengamati wajah Sehun dengan seksama. Wajah manis itu terlihat sedikit terkejut. "Kau takut denganku? inilah aku yang sebenarnya Sehuna..."
Sehun menggelengkan kepalanya. "Hunnie tidak takut kok," kilahnya. "Nini terlihat keren..." ia mengamati kembali wajah Jongin dengan seksama. "Jadi... tadi Nini melamunkan apa?"
"Bukan apa-apa, hanya satu ingatan tentang..." Jongin menelan ludahnya. "Penyatuan." Sambungnya dengan nada lebih pelan.
"Penyatuan...?" Sehun tampak tak mengerti dengan apa yang di ucapkan Jongin.
"Ya, dulu aku pernah bermimpi melakukan penyatuan denganmu untuk menyempurnakan tanda mate kita." jelas Jongin.
Sehun terdiam, mencerna ucapan Jongin dalam keheningan. "Apa dengan begitu penyatuan akan sempurna?"
"Ya, tapi itu bagi orang yang mempunyai tanda mate, sayang."
"Kenapa kita tidak mencoba, Nini tau kan caranya? Siapa tau kan ini juga akan berhasil."
"Tapi..." Jongin jelas merasa ragu, ia benar benar tidak tau apakah ini akan berhasil atau tidak. Karena kalau ini tidak berhasil bisa saja Sehun akan mati karena monster di dalam tubuhnya dan Jongin tidak menginginkan itu. "Sehuna, ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang berpasangan."
"Tapi kita kan dulu juga berpasangan." Sehun cemberut.
Jongin meringis, "Tapi sekarang kita bukan lagi orang yang berpasangan. Lagi pula ini beresiko Sehuna... aku tak bisa mengambil resiko sifat jahat dan brutalku lebih mendominasi dalam penyatuan ini dan mencelakakanmu."
Cup
"Hunnie percaya pada Nini... kalau Nini mencintai Hunnie, pasti semua akan baik baik saja."
Jongin memejamkan matanya dengan erat. Haruskah ia melakukannya? Kalau perkiraannya tidak tepat bagaimana? Bisa saja bukan mimpi itu menjebak dirinya dan Sehun? bukankah mimpi itu diciptakan oleh pamannya?
"Nini..." rengek Sehun.
Jongin membuka matanya, "Apa kau yakin?"
"Seratus persen," jawab Sehun mantap.
"Aku tak yakin kalau ini akan berhasil. Tapi kau benar, kita harus mencobanya." Suara Jongin terdengar begitu parau saat ia maju selangkah untuk lebih merapat dengan Sehun.
Sehun sedikit gemetar saat Jongin menunduk, tapi ia tetap diam di tempatnya menunggu Jongin berbuat sesuatu.
Setelah meyakinkan dirinya kalau ia tidak akan menyakiti belahan jiwanya, Jongin menempelkan bibirnya di bibir Sehun. Menciumnya dengan lembut. Tubuhnya sedikit tersentak saat merasakan setitik rasa hangat muncul di ujung jari kakinya tempat sebuah sulur berwarna hitam muncul, namun ia tetap melanjutkan ciumannya.
Sehun memejamkan matanya, sedikit berjinjit dan mengalungkan tangannya di leher Jongin, dengan kaku ia membalas ciuman Jongin.
'Yixing bukanlah orang yang jahat Jongina, paling tidak ia telah memberikanmu jalan lewat mimpi itu, kau hanya perlu membuka hatimu lebar-lebar untuk ikatan yang baru'
Ucapan Taiyu kembali terngiang di pikiran Jongin, sekarang ia mengerti kenapa Yixing memasukkan mimpi itu ke dalam pikirannya, Taiyu benar, meskipun berambisi menaklukkan dunia menggunakan dirinya, pamannya masih mempunyai setitik rasa peduli padanya. Pamannya tahu kalau keinginannya tidak terpenuhi, ia masih bisa membahagiakan keponakannya lewat takdir yang ia ubah. Dan memberikan petunjuk lewat mimpi itu.
Sekarang yang bisa Jongin lakukan hanyalah membuka hati dan pikirannya untuk menerima sepenuhnya bagi sulur-sulur ikatan itu menyebar diantara tubuhnya dan Sehun.
Saat ciumannya dengan Sehun berubah menjadi intens, Jongin dapat merasakan sulur sulur itu bergerak menjalari kaki mereka dan semakin naik ke atas. Lidah Jongin menyapu mulut Sehun sebelum menyusup masuk ke dalam kehangatan mulut Sehun. lengannya melingkari pinggang Sehun dengan erat dan mendekapnya erat-erat.
Ciuman Jongin berpindah ke leher Sehun dan ia menancapkan taringnya di sana, menghisap darahnya dengan rakus tanpa peduli pada jeritan kesakitan Sehun.
Tubuh Jongin terasa terbakar dan panas saat darah Sehun mengalir di tubuhnya, ikatan sulur itu makin menguat di tubuh mereka dan Jongin, pikirannya kini sepenuhnya telah dikendalikan oleh sesuatu di dalam tubunya, yang ia inginkan saat ini hanyalah melempar tubuh Sehun ke tanah, melucuti pakaiannya dan bercinta dengannya dengan keras dan lama.
Tanpa pikir panjang, Jongin merobek seluruh pakaian Sehun dan dalam sekejap tubuh mulus itu terpampang dengan nyata di hadapannya.
"Nini..." Sehun mencicit sedikit ketakutan, namun juga sekaligus bergairah.
Jongin hanya menggumam, sebelum melumat dengan ganas bibir Sehun yang membengkak karena ciumannya.
"Ahhh..." Sehun sedikit tersentak saat ciuman Jongin kembali berpindah ke lehernya, menelusuri leher mulus itu dengan lidahnya sebelum menggigit dan memberikan tanda yang lumayan banyak di sana.
Setelah merasa cukup, Jongin mendorong tubuh telanjang Sehun hingga terbaring telentang di atas rumput, dengan agak kasar ia membuka kedua paha Sehun dengan lebar, kau tahu aku tak bisa bermain dengan lembut saat penyatuan." Suara Jongin terdengar lebih kasar dari sebelumnya, hingga Sehun tak tahu apakah yang berbicara itu benar benar Jonginnya atau tidak. "Mungkin akan sangat sakit untukmu, tapi karena kau juga menginginkannya, maka cobalah untuk bertahan."
Mata Jongin yang berlainan warna tampak mengkilat dan Sehun yang agak ketakutan hanya bisa mengangguk.
"Sekarang... ikuti ucapanku..." Meski Jongin belum pernah mengikuti ritual seperti ini, tapi setidaknya ia tau dengan mantra yang harus di ucapkan saat sepasang mate melakukan penyatuan, meski dirinya dan Sehun tidak memiliki tanda itu, setidaknya keduanya harus tetap mengucapkan mantranya. Ia melepaskan lebih dulu seluruh pakaiannya sebelum menatap Sehun dengan tajam.
"Pasangan takdir, melewati batasan waktu, melewati keabadian. Dua tubuh, satu jiwa, aku memilikimu, kamu memilikiku, dan memberikan seluruh diriku kepadamu."
Bleshhhhh
"Aaaaarrgggghhhhhttttt..."
Halilintar menggelegar dan kilat menyambar, menghujam tanah dan rumput hingga membentuk lingkaran yang mengelilingi tubuh Jongin dan Sehun, sulur sulur itu bergerak dengan sangat cepat mengikat tubuh keduanya, sebelum berputar di punggung masing, membentuk ukiran rumit yang sambung menyambung. Sebuah tanda mate baru terbentuk saat akhirnya Jongin menyatukan tubuh mereka.
Kilat menyambar lagi saat Jongin menarik sedikit pinggulnya dan kembali menghujam milik Sehun, menimbulkan jeritan kesakitan dari Sehun lagi, holenya robek dan berdarah. Milik Jongin yang terlalu besar dan ketidak siapan dirinya membuat Sehun mengerang, ini pertama kalinya untuknya dan rasanya sangat menyakitkan. Air mata membasahi pipi Sehun saat merasakan milik Jongin yang bertambah besar seiring bertambahnya kekuatan namja itu, ia merasakan sobekan holenya semakin bertambah lebar. "Hiks... Nini..."
Tak ada jawaban dari Jongin, ia kembali menggerakkan pinggulnya dengan kasar.
"aaaarrgghht..." jerit Sehun, ia masih kesakitan. Jari jarinya mencengkeram pundak Jongin dengan kuat. Merasakan kejantanan monster itu bergerak keluar masuk dengan brutal di dalam holenya yang terluka.
Jongin menunduk dan menggigit dada Sehun sebelum menghisapnya dengan kuat.
"Ahhh..." Kenikmatan menjalar di tubuh Sehun di sela-sela rasa sakitnya, saat milik Jongin menyentuh titik sensitivenya dengan sangat akurat. "Nini..."
Jongin masih menggerakkan tubuhnya dengan brutal, hingga tubuh Sehun tersentak sentak di atas rumput.
"Aaaaggghhh..."
Di iringi suara halilintar yang menggelegar dan teriakan Sehun, keduanya mennyemburkan cairan orgasme dalam jumlah yang banyak. Sulur sulur itu kemudian membuat ikatan simpul yang sempurna saat akhirnya proses penyatuan itu selesai.
Jongin melepaskan kejantanannya dari dalam hole Sehun dan meringis saat melihat darah yang menempel di kejantanannya.
"Akh... sakit..." rengek Sehun.
"Maaf..." bukan keinginan Jongin untuk bertindak brutal, tapi memang ia harus berbuat seperti itu. "Apa kau ingin aku menyembuhkanmu?" Jongin tampak cepas pada luka di hole milik kekasihnya.
"Umm..." Sehun menggumam. "Hunnie bisa sendiri..."
"Biar aku saja..." dengan menggunakan kekuatan setengah half bloodnya yang masih tersisa, Jongin menyapukan telapak tangannya di hole Sehun dan dalam sekejap, hole itu kembali rapat dan bersih tanpa luka.
Sehun menatap pada Jongin dengan wajah cemberut. "Hunnie marah pada Nini... Nini kasar sekali..."
"Ya, yang memintaku untuk melakukan penyatuan tadi siapa?"
"Hunnie sih, tapi kan..." pembelaan Sehun terhenti saat ia menatap ada yang berbeda di punggung Jongin. "Nini tandanya..."
Jongin melirik pada punggungnya, "Hmm... tandanya sudah kembali Sehuna..."
"Benarkah, apa itu artinya Hunnie bisa kembali bersama Nini?" Sehun tampak antusias.
"Ya," Jongin mengangguk.
"Kyaaa... Hunnie bahagia sekali..." Sehun bangkit dari posisi berbaringnya dan duduk di pangkuan Jongin sebelum memeluknya dengan erat.
Jongin mencium kening Sehun dengan sayang. "Kau bahagia..."
"Sangat..."
"Tapi kau tau kan sayang, ada resiko yang akan kau tanggung setelah ini."
"Apa itu?" tanya Sehun penasaran.
"Kau akan terikat terus bersamaku sepanjang hidup kita yang abadi."
"Abadi?"
Jongin mengelus pipi Sehun dengan lembut. "Saat kau sudah resmi menjadi pasanganku maka... secara otomatis hidupmu juga akan abadi sama sepertiku, kecuali ada yang melenyapkan salah satu di antara kita."
"Dan apa yang terjadi kalau ada salah satu dari kita yang lenyap?"
"Yang satunya juga akan lenyap, sayang."
Senyum Sehun bertambah lebar. "Tak apa, Hunnie malah sangat menyukainya, apalagi Hunnie akan selalu bersama Nini..."
Jongin menunduk untuk mengecup bibir Sehun. "Ya, kita akan selalu terus bersama karena kita abadi."
.
.
.
.
.
END PART 1
Pendek ? memang iya, harusnya sih lebih panjang dari ini. Tapi karena kesibukanku yang parah banget karena sempat cuti sakit selama seminggu, jadinya aku ga punya banyak waktu untuk ngetik. Jadi aku post seadanya... maafkan syakila ya...
Part 2 nanti mungkin menceritakan soal NC yang nanggung di chap ini dan tentunya ada NOMIN juga nanti.
Meski pendek dan mungkin mengecewakan, mohon tetap review ya agar aku semangat ngetik lagi. Dan doain pekerjaan aku cepat kelar biar punya waktu untuk ngetik.
Untuk pengganti HB, aku dah nyiapin ff baru sih, ga tema fantasy lagi karena aku ngerasa gagal banget nulis ff genre ini, tapi kali ini tema keluarga, mungkin bakal hurt / comfort / sad. Dan meski masih ragu antara milih Kyungsoo atau Baekhyun sebagai istri pertama Jongin, tapi aku udah netapin judulnya sih.
BUKAN ISTRI PENGGANTI ======== Coming soon
Salam damai KaiHun Shipper
Syakila8894
