THE HALF BLOOD VAMPIRE 2 CHAP 11 (FINAL CHAPTER PART 2)
Pairing : KaiHun, NoMin, ChanHo, ChenMin
Genre : Fantasy, Romance
Rated : M
Ini ending yang entah apa memuaskan atau tidak #plakk yang jelas aku ucapin makasih banget untuk teman teman semua yang sudah mau membaca dan review di ff syakila yang absurd. Butuh waktu untuk ngetik ff ini, karena bagaimanapun juga aku harus pintar pintar manfaatin wkatu di sela kerjaan yang numpuk. Seperti kata teman, berharap aja aku ga masukin laporan keuangan ke ff yang aku buat. Hahaha...
Untuk half blood 3, aku masih belum menentukan akan post di akun ini, akun aku pribadi atau grup rempong para emak-emak. Lagian aku masih utang ff juga nih. Hehehehe...
Syakila8894
.
.
.
.
.
( CHENMIN SIDE )
Bukan hal mudah bagi seorang Kim Minseok yang merupakan seorang manusia harus beradaptasi menjadi seorang monster penghisap darah. Awalnya ia menangis dan berontak tak terima dengan takdir yang harus ia jalani. Meski akhirnya ia bisa pasrah dan menerima semuanya, tetap saja ada saat ia rindu pada masa-masa ia masih menjadi manusia.
Seperti saat ini contohnya, saat anak semata wayangnya pergi entah kemana dan suaminya pergi berburu binatang untuk di ambil daging dan darahnya untuk makan malam mereka, ia termenung seorang diri di belakang rumahnya. Duduk di atas bangku yang terbuat dari kayu, yang khusus di buatkan oelh suaminya untuk mereka bersantai di belakang rumah.
Minseok tak tahu sejak berapa lama ia melamun di sana, hingga tak menyadari kalau dirinya sekarang tidak sendirian di sana. Ada suaminya yang tengah duduk menghadap ke arahnya, menatapnya dengan intens. Minseok tidak tahu apa yang sedang dipikirkan suaminya, yang pasti ia melihat ada tatapan terluka di mata itu. Kenapa? Apa telah terjadi sesuatu?
"Sejak kapan kau datang?" tanyanya berbasa basi.
"Sejak melihat istriku duduk di sini dan kemudian melamun." Chen menjawab, suaranya menyiratkan kesedihan.
"Kau kenapa? Apa telah terjadi sesuatu?" Minseok cemas, tentu saja, suaminya jarang sekali mengeluarkan ekspresi seperti itu.
"Tidak ada apa-apa sayang." Chen tersenyum menenangkan.
"Lalu...?"
Chen berdehem pelan, sebelum menatap dengan serius. "Apa kau menyesal hidup kembali bersamaku?"
"Apa maksud pertanyaan itu? tentu saja aku tidak pernah menyesal hidup bersamamu." Ada kemarahan di dalam suaranya , Minseok jelas tak terima kalau suaminya sendiri meragukan dirinya.
"Kau seperti tak menginginkan itu sayang, lihat! Baru sebentar kutinggalkan kau sudah melamun dan terlihat sedih." Chen masih tampak tenang. "Kau masih tak bisa menerima keadaanmu sekarang bukan?"
Minseok menundukkan kepalanya, mengerti apa maksud dari perkataan suaminya.
"Bukankah kalau kau tidak menerima takdirmu, itu sama saja artinya kau tak mau hidup bersamaku lagi karena kondisi kita yang seperti ini?"
"Bukan begitu... aku..."
"Arra... aku mengerti maksudmu." Chen memandang lurus ke arah depan. "Haruskah aku meminta Jongin memanggil gurunya kemari?"
"Untuk apa kau meminta itu?" tanya Minseok heran.
"Untuk membiarkan kita menghilang untuk selamanya." Jawab Chen tenang.
"Yak, Kim Jongdae." Minseok tampak marah.
"Kenapa kau harus marah seperti itu? bukankah kau tidak bisa terima kalau harus hidup sebagai vampire dan berdampingan denganku." Tatapan terluka Chen membuat Minseok terdiam. "Kau tau saat kita harus meninggal karena Demon itu ada hal yang aku sesalkan..."
"Apa...?"
"Aku belum bisa membuat dirimu bahagia sepenuhnya. Aku sering pergi meninggalkanmu bekerja selama berhari-hari dan berbulan-bulan, membiarkan dirimu dan Jongin kesepian tanpa adanya diriku. Dan jujur saja saat akhirnya Taiyu membangkitkan kita lagi, aku merasa sangat senang..."
Minseok menatap suaminya dengan tatapan bingung, suaminya senang karena telah menjadi monster?
"Aku berpikir kalau aku bisa menebus semua waktu yang telah terlewat, waktu dimana aku dulu tak bisa selalu ada disisimu. Karena kita abadi jadi aku akan selalu bersamamu dan juga Jongin untuk selamanya..."
Minseok mengerti sekarang, dan ia merasa sangat terharu dengan ucapan suaminya dan merasa menyesal juga karena sempat merasa tak terima dengan takdirnya. "Maaf..."
Chen menggeleng, "Kamu tak salah sayang, aku mengerti bagaimana perasaanmu... kau pasti merasa shock dengan perubahan ini."
Minseok memeluk tubuh Chen dengan erat kemudian menggelengkan kepalanya. "Bukan itu..."
"Lalu..."
"Maaf, karena sempat egois dan tidak memikirkanmu. Sekarang aku merasa bahagia ketika memikirkan kisah kita tidak akan memiliki akhir. Aku mencintaimu..."
Chen tersenyum lebar. "Tentu saja... karena kita abadi sayang. Selamanya aku akan mencintai dan menyayangimu..."
.
.
.
.
.
( CHANHO SIDE )
Keuntungan menjadi seorang peri mungkin adalah karena hidup mereka abadi, mereka akan bisa terus bersama dengan pasangannya seumur hidup mereka. Tapi bagaimana kalau ternyata memiliki pasangan yang tak setia? itu akan menjadi perasaan menyakitkan seumur hidup juga. Setidaknya sekarang, Suho menyadari itu. Ia sungguh takut kalau suami tampannya selingkuh dan kemudian meninggalkannya demi orang lain, lalu kalau itu semua terjadi, sanggupkah ia menahan beban selamanya? Jawabannya jelas tidak, dan Suho akan lebin memilih untuk mengakhirinya dengan cara apapun juga.
Sebenarnya ia tak akan segalau ini seandainya saja temannya tidak datang dan curhat kepadanya, mengeluh tentang suami yang jarang pulang dan kemudian saat pulang ternyata membawa pasangan baru. Awalnya Suho tidak kepikiran akan bernasib sama seperti sahabatnya itu, tapi setelah beberapa hari ini, suaminya menjadi orang yang super sibuk dan jarang pulang, mau tak mau pemikiran itu muncul di dalam otaknya.
Apalagi Chanyeol juga tak pernah menjelaskan kenapa ia telat pulang atau apapun yang setidaknya tidak akan membuat Suho kepikiran. Seperti sekarang ini, waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari dan suaminya belum tiba di rumah. Suho gelisah dan khawatir karena Chanyeol bahkan tidak mengangkat telepon darinya, tidak juga menjawab pesan yang ia kirim. Suho ingin sekali curhat kepada putra semata wayangnya, tapi mengingat Sehun yang mungkin sedang bersenang senang dengan Jongin, membuat ia mengurungkan niatnya. Mana mungkin ia tega membuat perasaan bahagia putranya berubah menjadi sedih. Karena itu ia lebih memilih duduk diam di ruang tamu, menunggu kedatangan suaminya.
Jam terus berdetak dan kini waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari dan belum juga ada tanda tanda kalau Chanyeol akan datang. Suho bangkit dari duduknya, mengambil dompet dan jaket, lalu bergegas keluar rumah untuk pergi ke rumah sakit tempat suaminya bekerja.
Tak butuh waktu lama bagi Suho untuk tiba di rumah sakit, dan ia langsung bergegas menuju tempat yang sudah sangat ia hapal. Ruangan kerja suaminya.
Namun saat tiba di lorong yang menuju ruangan suaminya, langkahnya terhenti ketika melihat pemandangan di depannya. Chanyeol sedang berdiri berhadapan dengan seseorang di depan pintu ruangannya. Dari posisinya sekarang, Suho kesulitan untuk melihat orang yang sedang bicara dengan suaminya tersebut.
"Kenapa kau tak bisa?"
Suho mengerutkan keningnya, rasanya ia pernah dengar suara seperti itu, tapi siapa?
"Aku tak bisa, Kyungie... Bagaimana dengan Suho...?"
Deg
Kyungie?
Ingatan Suho melayang pada dua puluh tahun silam. Mungkinkah?
Dengan langkah yang sedikit gemetar ia melangkah sedikit kesamping untuk melihat wajah orang menajdi lawan bicara Chanyeol, dan kakinya langsung lemas saat akhirnya berhasil melihat wajah orang itu. Tak salah lagi, memang dia orangnya. Do Kyungsoo, putra mahkota Raja peri. Mantan kekasih suaminya. Air mata jatuh di pipi Suho tanpa bisa ia cegah. Jadi ini penyebab suaminya selalu terlambat pulang ke rumah dan mengabaikannya?
Suho harus mengakui kalau ia kalah dalam segala hal dari Kyungsoo. ia hanya berasal dari kalangan rakyat biasa dan bukan dari kaum bangsawan seperti halnya suaminya ataupun Kyungsoo. mungkin salah satu hal yang membuatnya menang dari Kyungsoo hanyalah kenyataan bahwa Chanyeol ternyata bukan pasangan dari namja itu. dialah yang mempunyai tanda pasangan yang sama dengan Chanyeol.
Dengan tangannya yang gemetar, Suho mengusap tanda matenya yang ada di tengkuknya. Merasakan kesedihan yang luar biasa, saat menyadari bahkan tanda inipun sepertinya tidak bisa menyatukan dirinya dengan Chanyeol sepenuhnya. Suho tahu Chanyeol memang mencintainya, karena itulah Sehun terlahir ke dunia. Tapi sepertinya cinta Chanyeol kepadanya tak sebesar cinta namja itu pada Kyungsoo.
Secara perlahan Suho berbalik dan segera melangkah pergi dari tempat itu tanpa berniat mendengarkan lebih jauh percakapan antara suaminya dan mantan kekasih suaminya tersebut.
"Aku tak ingin, istriku salah paham dan akhirnya membuat kami bertengkar. Sudah cukup aku membantumu sejauh ini Kyungie, aku tak bisa lebih jauh lagi."
"Kenapa? Apa kau takut pada Suho. Kau peri penyembuh Channie... hanya kau yang bisa ku andalkan."
"Kenapa harus aku? Bukankah suamimu juga peri penyembuh? Apa kau bertengkar dengannya?"
"Itu..."
"Kyung, suamimu berhak untuk tahu bagaimana keadaan anak kalian. Apalagi saat dia sakit seperti ini. Kita juga sudah punya keluarga masing masing, sudah cukup aku mengabaikan istriku beberapa hari ini."
"Kau pasti sangat mencintai istrimu ya."
"Tentu saja, dia napas kehidupanku... beberapa hari ini aku pasti telah membuatnya sedih karena jarang pulang."
"Maaf..."
"Huh..."
"Karena aku telah merepotkanmu."
"Tak masalah kau seorang pangeran dan sudah seharusnya seorang rakyat membantu pemimpinnya saat kesulitan."
"Terima kasih, kau pulanglah. Suho pasti mencemaskanmu. Aku akan menghubungi suamiku dan memintanya pulang."
"Dia masih tugas di luar negeri?"
"Ya, karena itulah aku meminta bantuan darimu."
Chanyeol mengangguk tanda mengerti, dan setelah memeriksa keadaan anak Kyungsoo sekali lagi, ia pun bergegas pulang ke rumah. Sungguh ia sangat tak sabar untuk bertemu dengan tambatan jiwanya. Suho. Bahkan hanya mengingat nama itu saja, Chanyeol sudah merasakan rasa rindu yang teramat sangat.
Namun, saat ia tiba di rumah, hanya kesepian yang ia dapatkan. Istrinya tidak ada di rumah. Chanyeol mencoba menelponnya, namun ternyata handphone istrinya ketinggalan di rumah.
"Shit..." Chanyeol mengumpat sebelum melempar jasnya sembarangan dan kemudian bergegas kembali ke luar rumah untuk mencari keberadaan istrinya. "Sayang, kamu di mana?"
Chanyeol berusaha mengingat-ingat dimana tempat yang biasanya di datangi oleh istrinya. Dan saat ia mengingat satu tempat yang sering di datangi oleh Suho, segera saja ia berlari ke tempat itu.
Benar saja, saat Chanyeol tiba di taman yang biasa istrinya datangi, Suho ada di sana. Tengah duduk sendirian di sebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu. Chanyeol mendekat dalam diam, dengan hati hati ia berjongkok tepat di hadapan Suho yang masih menunduk. Hati Chanyeol terasa sakit saat ia melihat pipi istrinya yang basah oleh air mata, apa ia telah menyakiti hati istrinya begitu dalam? Sepertinya ya, mengingat beberapa hari ini ia selalu mengabaikan istrinya.
"Maaf..." ucapnya lirih.
Suho hanya diam.
"Maaf, karena telah mengabaikanmu akhir akhir ini. Sungguh aku tak bermaksud seperti itu sayang..." jari jari Chanyeol mengusap dengan lembut air mata di pipi Suho.
"Kenapa kau ke sini?' tanya Suho lirih.
Dahi Chanyeol berkerut. "Tentu saja aku mencarimu sayang, kau tak ada di rumah dan aku khawatir."
Suho tersenyum lemah. "Kenapa? Kenapa kau harus khawatir padaku, bukankah beberapa hari ini kau mengabaikanku."
"Itulah kesalahan terbesarku, mengabaikanmu demi seorang pasien... maaf..."
"Apa pasien itu begitu spesial bagimu?" Suho mengingat wajah Kyungsoo. "Ah, tentu saja special karena dia mantan kekasih yang sangat suamiku cintai."
"Mantan...?"
"Kyungie... kau biasanya memanggilnya begitu bukan. Aku melihatnya dan..." rasanya Suho tak sanggup lagi meneruskan ucapannya. Ia kembali menangis.
"Sayang..." Chanyeol merengkuh tubuh Suho dan membawanya untuk duduk dipangkuannya. Ia mencium kening Suho dengan lembut, menyadari kalau istrinya telah salah paham padanya. Demi Tuhan, Chanyeol bahkan tidak memiliki rasa apapun lagi pada Kyungsoo, dihatinya telah dipenuhi oleh Suho dan juga buah hatinya Sehun.
"Kau salah paham sayang... kita sudah hidup bersama bukan hanya satu tahun atau dua tahun, kau jelas tahu siapa pemilik hatiku selama ini." Chanyeol mengecup bibir Suho sekilas.
"Tapi..."
"Dengarkan penjelasan aku dulu." Sela Chanyeol. Dan ia pun menceritakan semuanya tentang anak Kyungsoo yang sakit dan dirinya yang harus merawat anak itu. "Bagaimanapun dia anak penguasa di dunia peri dan aku tak bisa menolaknya saat ia meminta pertolongan."
"Tapi kenapa kau tidak bilang dulu padaku, aku kan jadi berpikiran yang tidak tidak tentangmu." Suho cemberut.
Chanyeol meringis, merasa bersalah. "Maaf sayang, aku hanya takut kau marah padaku."
"Tapi kalau kau tidak bilang kita malah jadi salah paham, Park Chanyeol." Suho jadi kesal pada suaminya.
"Maaf, lain kali tidak akan aku ulangi lagi."
"Kau harus janji."
"Janji. Seumur hidupku aku tidak akan menyembunyikan satu rahasia apapun lagi pada istriku. I promise."
"Kau harus menepatinya." Suho mengalungkan tangannya di leher suaminya.
"Pasti... jadi bisa berikan aku kecupan sekarang."
Suho tersenyum manis. "Tentu saja suamiku..."
.
.
.
.
.
.
( NOMIN SIDE )
Jaemin itu galak dan suka bertingkah bar-bar, Jeno juga mengakui itu. kalau sebagian orang lebih menghindari untuk mempunyai pasangan yang galak dan suka bertingkah anarkis, Jeno justru mensyukurinya. Baginya mempunyai pasangan yang selalu menuruti apa kemauannya bukanlah pasanagn yang baik untuknya. Dengan melihat Jaemin yang selalu marah-marah setiap Jeno memintanya melakukan sesuatu selalu menjadi hiburan tersendiri bagi Jeno, intinya ia bahagia bisa berpasangan dengan namja manis nan galak itu.
Wajah Jaemin yang sedang dalam mode galak justru terlihat begitu cute di mata Jeno, seperti sekarang ini. Jaemin yang baru bangun dari tidurnya, langsung marah-marah karena tidak menemukan Jeno di sampingnya. Hanya dengan memakai kemeja putih milik Jeno tanpa dilapisi apapun lagi, ia berjalan keluar kamar dan langsung memukul kepala Jeno yang asyik duduk di sofa sambil meminum secangkir coklat hangat.
"Auuu... sayang, ini masih pagi dan kau sudah memukulku," erang Jeno, sebelum meletakkan gelasnya di atas meja. Ia mendongak untuk menatap pada Jaemin yang berdiri di hadapannya dengan wajah cemberut.
"Kau tidak menepati janjimu lagi, Lee Jeno."
"Janji ap..." Jeno terdiam sesaat setelah ia mengingat janjinya untuk selalu menemani Jaemin sampai namja cantik itu terbangun dari tidurnya. "Maaf sayang, aku lupa," sesalnya.
Jaemin makin cemberut. "Kau bilang lupa?" jeritnya. "Sekarang saja lupa, bagaimana nantinya, berpuluh-pulih tahun ke depan, kau mungkin juga akan melupakan aku."
"Sayang, bukan seperti itu, aku..."
"Apa kau benar-benar akan melupakan aku nanti? Kenapa tidak sekarang saja, mumpung aku masih muda dan bisa mencari pasangan yang lebih tampan darimu." Telunjuk Jaemin mengarah pada hidung mancung Jeno.
"Bagaimana mungkin aku bisa melupakan kekasih hatiku sendiri, kau pasanganku, belahan jiwaku, selamanya akan begitu, tidak akan ada yang lain." Tegas Jeno.
"Kau cemburu?" Jaemin memicingkan matanya.
"Tentu saja," Jawab Jeno cepat, ia menarik tangan Jaemin, menempatkan kekasihnya itu dipangkuannya. Tangannya melingkar di pinggang ramping Jaemin. "Kau milikku dan tidak akan ada yang boleh mengambilmu dariku selama aku masih bernapas."
"Bilangnya sekarang begitu, kalau nanti aku tua dan jelek kau juga pasti akan pergi."
"Siapa bilang. Sekarang atau nanti itu sama saja, sayang."
Mata Jaemin kembali memicing, ia tampak kesal mendengar jawaban dari multu Jeno. "Kau mau bilang kalau aku kelihatan tua dan jelek?"
"Kau yang bilang, bukan aku." Jeno mengelus paha Jaemin yang terpampang dengan jelas di matanya.
Dengan kasar Jaemin menepis tangan Jeno. "Pergi saja sana, kau tidak mau kan punya pacar yang jelek dan tua." Jeritnya.
Jeno menghela napas panjang, kekasihnya ini kenapa sensi sekali sih pagi ini. "Sayang, dengarkan aku."
"Aku tidak mau dengar," Jaemin melipat kedua tangan di dada dan memajukan bibirnya.
"Pertama, aku tidak mengatakan kau tua dan jelek, kau ini selalu salah menyimpulkan ucapanku. Yang aku maksud adalah, sekarang ataupun nanti, rasa cintaku padamu tidak akan berubah. Mau kau cantik atau jelek, muda atau tua, kau tetaplah Nanaku, pasangan hidupku. Forever."
Jaemin menundukkan wajahnya, "Maaf..."
"Kenapa minta maaf sayang, kamu tidak melakukan kesalahan apapun." Tangan Jeno meraih dagu Jaemin memaksa mereka untuk melakukan kontak mata kembali.
"Aku selalu salah dalam menyimpulkan apa yang kamu ucapkan."
Jeno tersenyum, "Tidak apa, aku menyukainya, ah... aku memang selalu menyukai apapun yang ada pada dirimu, termasuk ini." Dengan santai Jeno mengecup dada Jaemin yang masih tertutup piyama.
"Pervert," Jaemin memukul pundak Jeno, wajahnya memerah. "Kita sudah melakuaknnay tadi malam," tambahnya lagi dengan suara pelan.
"Tapi aku belum puas dan mungkin tak akan pernah puas dengan dirimu." Jeno menarik Jaemin untuk lebih merapat di pangkuannya. Jaemin yang mengerti, langsung melingkarkan kakinya di pinggang Jeno, sementara tangannya berada di pundak kiri dan kanan Jeno.
"You are so pretty..." Jeno berbisik dengan lembut, ia menempelkan wajahnya di leher Jaemin, dan mulai mencium leher dan tengkuknya.
Jaemin mendongak, menikmati ciuman ciuman Jeno di lehernya dan rabaan tangan Jeno di dadanya yang entah sejak kapan kancing kemejanya sudah terbuka.
"Eunghh..." Jaemin melenguh pelan saat tangan Jeno meremas remas kedua dadanya.
Jeno menarik wajanya dari leher Jaemin, menatap wajah memerah kekasihnya sejenka, sebelum menempelkan bibirnya di bibir Jaemin. Jaemin dengan semangat langsung menyambut ciuman Jeno. Masih dengan saling menghisap bibir, tangan terampil Jeno melepaskan kemeja yang di pakai Jaemin dan membuangnya ke lantai.
Jeno melepaskan ciumannya, ia mengecup kening Jaemin dengan lembut, sebelum mengangkat tubuh Jaemin dan membaringkannya di atas sofa dan menindihnya dengan tubuhnya sendiri.
"Aaahhhh..." Jaemin kembali mendesah saat mulut terampil Jeno menghisap puncak dadanya, menggigitnya dengan cukup kuat lalu menghisapnya dengan keras. Jeno melakukan hal yang sama pada puncak dada Jaemin yang lain. Tangan Jaemin meremas dengan kuat rambut tebal Jeno. "Ahhh... Jenoooo..." Jaemin makin membusungkan dadanya, saat Jeno dengan semangat membuat banyak kissmark di dadanya, menambah jumlah kissmark yang sudah ia buat tadi malam.
Jeno menggeser tubuhnya hingga berada di pinggir sofa, ia menunduk untuk menciumi kedua kaki mulus Jaemin. Mulai dari ujung jari kakinya lalu terus naik hingga paha, tak lupa Jeno membubuhkan banyak kissmark di sepanjang ciumannya.
Jaemin terus melenguh dan menggelincang pelan saat Jeno tidak berhenti mencium, menghisap dan menjilat area betis dan pahanya. Ia membuka lebar kakinya untuk memudahkan Jeno memberi tanda.
"Uuuuhhh..." Jaemin meremas rambut Jeno dengan kuat, saat Jeno menjilati pangkal pahanya tanpa menyentuh kejantanannya sama sekali.
Jaemin dapat merasakan precum mulai keluar dari kejantanannya dan mengalir membasahi holenya. "Aaaahhh... Jenooo..."
Jeno tetap diam, ia terus memainkan lidahnya di sekitar pangkal pahanya dan sibuk memberikan tanda di sana.
"Ooohhh... Jenooo... Pleaseeee..." Jaemin menjerit, ia melepaskan tangannya dari rambut Jeno dan beralih meremas bantalan sofa.
Jeno tersenyum sebelum mengulum kejantanan Jaemin dan menggerakkan kepalanya naik turun. Dua jarinya menyusup masuk ke dalam hole Jaemin yang basah karena terkena cairan precum. Dapat Jeno rasakan becek di dalam, bekas sisa cairan cinta dirinya tadi subuh masih ada di dalam hole Jaemin.
"Euungghhh..." Jaemin menggeliat. "Pleaseeee..."
Jeno melepaskan kulumannya dan menyodorkan kejantanannya ke hadapan Jaemin. Jaemin yang mengerti langsung memegang kejantanan Jeno dengan kedua tangannya. Ia mengusapkan lidahnya secara merata di kejantanan Jeno, sebelum memaksa mulutnya untuk membuka dengan lebih lebar untuk menampung kejantanan besar milik Jeno. Jamein terdiam sejenak, merasakan sesak dimulutnya, setelah mencoba menyesuaikan ukuran kejantanan Jeno dengan mulutnya, ia mulai menghisap dan mengeluar masukkan kejantanan Jeno di dalam mulutnya.
Jeno mengerang pelan, merasa puas dengan apa yang dilakukan kekasihnya pada kejantanannya. Setelah merasa kejantanannya sudah cukup basah, Jeno mengeluarkan kejantanannya dari mulut Jaemin. Ia menelentangkan lagi tubuh Jaemin dengan sebelah kaki Jaemin yang menjuntia ke lantai. Jeno menatap sesaat pada kaki Jaemin yang terbuka lebar sebelum ia meletakkan ujung kejantanannya tepat di depan hole Jaemin. Tubuh Jeno menunduk dan ia meraih kepala Jaemin, sedikit mengangkatnya dan kembali mengajaknya berciuman. Kemudian setelah merasa yakin Jaemin nyaman dengan ciumannya, ia melesakkan kejantanannya ke dalam hole kekasihnya itu.
Bleshhhh
"Oooeeeggghhhtttthhhhffff..." Jeritan Jaemin tertahan di dalam ciuman Jeno. Tangan Jaemin mencengkeram pundak Jeno dengan kuat, merasakan holenya yang penuh sesak dengan kejantanan Jeno.
Ini bahkan baru dua jam setelah terakhir kali mereka bercinta dan hole Jaemin kembali merapat dengan cepat, butuh sedikit waktu baginya untuk menghilangkan rasa sakit di holenya, dengan menggunakan kekuatan penyembuhnya, sebelum kemudian ia kembali rileks dan bisa menyesuaikan holenya dengan kejantanan besar milik Jeno.
Jeno yang tahu kekasihnya sudah tidak kesakitan lagi, langsung melepaskan ciumannya dan beralih menyusu di dada Jaemin sembari menggerakkan kejantanannya keluar masuk dengan cepat.
"Aaahhh... Aaahhh... Jenooo..." Jaemin merintih saat Jeno makin menekannya lebih dalam lagi.
Jeno yang mendengar desahan kekasihnya semakin bersemangat menggerakkan tubuhnya naik turun.
Rasa nikmat menyebar dengan cepat di tubuh Jaemin saat kejantann Jeno terus menerus menumbuk titik sensitivenya dengan kuat. Ia melingkarkan kedua kakinya di pinggang Jeno dan meremas pundak namja tampan itu dengan kuat saat merasakan ketegangan mulai menjalari kejantanannya. Ia hampir mencapai puncaknya.
"Aaaaaaggghhhhttt..." Jaemin menjerit saat akhirnya ia mencapai orgasmenya, cairannya menyembur membasahi perutnya dan juga perut Jeno.
Tak memberi kesempatan pada kekasihnya untuk menikmati kenikmatannya lebih lama, Jeno menarik tubuh Jaemin untuk bertukar posisi tanpa melepaskan kejantanannya dari dalam hole ketat itu.
Jaemin mengangkang di atas Jeno, tangannya bergerak untuk berpegangan pada sofa sebelum menggoyangkan pinggulnya maju mundur, holenya memijat kejantanan Jeno dengan kuat, membuat namja tampan itu mengerang penuh kepuasan.
Dengan kedua tangannya, Jeno menarik tubuh Jaemin untuk lebih mendekat, hingga ia bisa dengan leluasa menjamah dada Jaemin yang terlihat begitu menggiurkan untuk ia abaikan. Mulutnya dengan lihai melumat dan menghisap nipple Jaemin.
"Aaahhh..." Jaemin mendongakkan kepalanya, merasakan kenikmatan yang datang bertubi tubi ditubuhnya, goyangan pinggulnya semakin tidak menentu.
Jeno yang menyadari kekasihnya mulai kelelahan segera membantu dengan meletakkan kedua tangannya di pinggul Jaemin dan menggerakkan tubuh kekasihnya naik turun dengan cepat.
"Aaaagghhhhttt..." erangan keduanya terdengar bersamaan saat akhirnya keduanya mencapai puncaknya secara bersamaan.
Dengan sisa tenaganya Jaemin melepaskan kejantanan Jeno dari dalam holenya, cairan kental milik Jeno perlahan keluar dari dalam hole Jaemin yang memerah. Jaemin memutar tubuhnya di atas tubuh Jeno, posisi 69, posisi yang belum pernah ia dan Jeno lakukan. Dengan perlahan ia menggenggam kejantanan Jeno dan mengerakkan tangannya naik turun, mulutnya sendiri dengan lihai menghisap ujung kejantanan Jeno, membersihkan dari sisa cairan cinta milik kekasihnya itu. sesekali ia melenguh pelan saat Jeno menjilati holenya dan meremas kejantanannya.
"Sayang... kalau kau terus seperti ini, aku yakin kita tidak akan bisa ke tempat Jongin dan Sehun hari ini." Suara Jeno terdengar serak, penuh nafsu.
"Aku memang tidak berniat kemana mana." Gumam Jaemin. Ia melepas kulumannya dan kembali membalikkan tubuhnya kembali berhadapan dengan Jeno.
"Kau yakin, aku akan membuatmu tak bisa berjalan hari ini kalau kita terus berada di rumah."
"Umm... lagi pula katanya sering bercinta itu bisa membuat kita awet muda."
Jeno tertawa, "Kau takut menjadi tua?"
"Tentu saja, kalau aku tua, aku khawatir kau akan meninggalkanku."
Jeno mengangkat sedikit pinggul Jaemin dan kembali menusukkan kejantanannya ke dalam hole Jaemin. "Itu tidak akan pernah terjadi. Aku terlalu sangat mencintaimu." Jeno mencium dengan lembut tanda mate milik Jaemin.
"Dan aku terlalu bodoh kalau pergi darimu. Kau tau aku sangat bergantung padamu." Jaemin menggigit bibir Jeno dengan lembut.
"Tentu saja, karena kau pasanganku. Jadi..." tangan Jeno mengelus pantat Jaemin dengan sensual. "Bisa kau bergerak sekarang tuan putri?" godanya.
Jaemin tersenyum lebar, "Tentu saja pangeranku..."
.
.
.
.
.
.
( KAIHUN SIDE )
Sehun hanya bisa terlihat seperti orang linglung saat ia berjalan masuk ke dalam villa yang akan ia dan Jongin tempati selama liburan sekolah ini. Tadinya ia mengira saat Jongin mengajaknya liburan, ia akan di bawa ke tempat yang ramai seperti taman hiburan atau pantai. Namun Jongin malah membawanya pergi ke dalam hutan, Sehun sudah hampir ngambek sebelum kemudian ia meliat sebuah villa mewah nan cantik di tengah hutan.
"I... ini bagus sekali," Sehun terpekik kagum. Ia berlari mengitari area villa itu sebelum masuk ke dalam satu satunya kamar tidur yang ada di sana.
"Apa ini tidak sesuai keinginanmu?" tanya Jongin.
"Huh, Hunnie suka kok." Jawab Sehun polos.
"Jangan bohong sayang, aku tahu kalau kau ingin pergi ke pantai."
Sehun tersenyum manis, "Tadinya Hunnie pikir Nini memang akan membawa Hunnie ke sana. Tapi di sini Hunnie juga suka kok. Tapi disini sepi..."
"Maaf... aku tak bisa membawamu ke tempat yang ramai untuk saat ini." Sesal Jongin.
Sehun menatap lembut tepat ke kedua bola mata Jongin yang berbeda warna. "Tak apa, Nini jangan sedih."
Jongin tersenyum, ia meraih kedua tangan Sehun dan menciumnya, "Kalau boleh jujur sebenarnya aku lebih suka berada di sini juga, karena itu artinya hanya ada aku dan Hunnie. Aku ingin punya banyak waktu bersama dengan Hunnie."
Senyum Sehun terlihat begitu lebar, "Hunnie juga... Hunnie kangen Nini... Mommy jahat sekali seminggu lebih tidak membolehkan Hunnie bertemu Nini..." Sehun mempoutkan bibirnya, teringat mommy cantiknya yang melarangnya untuk bertemu dengan kekasih tampannya selama ia belajar untuk ujian kenaikan kelasnya.
Jongin membimbing Sehun untuk duduk di tepi ranjang dan tangannya mengelus lembut pipi mulus kekasihnya itu. "Jangan marah lagi pada mommy, mommy melakukan itukan untuk kebaikan Hunnie juga."
"Ish, tapi Hunnie kan jadi kangen Nini..." rengek Sehun manja.
"Sekarang kan kita sudah bersama lagi sayang, jangan cemberut terus, nanti cantiknya hilang loh. Ayo senyum yang manis" Jongin mencubit lembut pipi Sehun.
"Hufff..." Sehun menggembungkan pipinya, " Seperti ini...?" Sehun memamerkan senyum lebarnya hingga mata cantiknya hanya tinggal segaris.
"Cantiknya kekasihku..." Jongin yang gemas langsung menciumi seluruh area wajah Sehun, hingga namja cantik itu terkikik pelan, merasa geli dengan bakal janggut yang mulai tumbuh di area dagu kekasihnya. "Nini... geli..."
Namun Jongin tidak menghiraukan ucapan Sehun, ia masih meneruskan kegiatannya mengecup seluruh area wajah Sehun.
"Hahaha... Nini... stop... please..." Sehun terus menggeliat hingga akhirnya ia hilang keseimbangan dan akhirnya jatuh terbaring di atas ranjang dengan posisi Jongin di atas tubuhnya.
Keduanya saling pandang, dan Sehun yang pertama kali memalingkan wajahnya, merasa malu di tatap begitu intens oleh kekasihnya.
"Hunnie..."
"Hmmm..." Sehun menggumam pelan, kembali menatap netra berbeda warna itu.
Jongin tidak mengucapkan sepatah katapun lagi, ia semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Sehun, dan Sehun hanya bisa memejamkan matanya sembari mengalungkan tangannya ke leher Jongin saat namja tampan itu mencium bibirnya. Jongin merengkuh tubuh Sehun untuk makin merapat dengan tubuhnya. Bibir Jongin bergerak dengan pelan, mengecup dan kemudian melumat bibir kemerahan milik Sehun. lidahnya mendesak di sela bibir Sehun, memintanya untuk membuka dan sehun dengan senang hati membuka mulutnya, membiarkan lidah Jongin menerobos masuk, membelit lidahnya dan menggodanya untuk membalasnya.
Hembusan angin malam yang cukup kencang menerobos masuk lewat jendela kamar yang terbuka dan Sehun makin merapatkan tubuhnya pada tubuh Jongin, mencari kehangatan.
Jongin melepaskan bibir Sehun sesaat, membiarkan kekasihnya meraup napas lebih banyak sebelum kembali meraih bibir itu dan mengulumnya lebih dalam dan lebih menuntut.
"Ahhh... Nini..." Sehun mendesah pelan saat Jongin melepaskan ciumannya dan membuka pakaiannya dengan gerakan lambat. Sehun hanya diam memperhatikan Jongin yang melepas seluruh pakaiannya hingga ia terbaring telanjang. Ketika giliran Jongin melepas pakaiannya sendiri, Sehun langsung memalingkan wajahnya, merasa malu melihat ketelanjangan Jongin, dan benda di antara kedua pangkal pahanya itu sungguh membuat Sehun merinding bila ingat ukurannya yang big size. Ia ingat benda itulah yang membuat holenya sobek dan terluka cukup parah saat pertama kali mereka melakukannya.
Seakan mengerti dengan perasaan Sehun, Jongin mengecup kening Sehun dengan lembut. "Aku akan melakukannya dengan lembut di penyatuan kedua kita ini." Bisiknya.
"Hunnie percaya Nini..." balas Sehun pelan. Bibirnya tersenyum manis, menyambut kecupan lembut yang dilayangkan Jongin di lehernya.
Jongin terus mengecupi leher Sehun, seseklai memberikan tanda kepemilikannya di kulit putih mulus itu sebelum kembali lidahnay menjelajah hingga tulang selangka Sehun dan terus turun hingga bertemu puncak dadanya yang mengeras antara kedinginan dan juga terangsang.
"Aahhh..." Sehun mendesah lembut, seraya melengkungkan punggungnya ketika bibir Jongin menghisap nipple kanannya dengan kuat disertai remasan di dada kirinya.
Setelah puas bermain di dada Sehun, bibir Jongin turun menyusuri perut mulutnya, bermain sejenak di pusarnya, membasahinya dengan lidah basahnya dan kemudian terus bergerak turun hingga tiba di kejantanannya yang sudah mengeras. Dengan tangan yang masih meremas dada Sehun, Jongin memasukkan kejantanan Sehun ke dalam mulutnya dan kemudian mengerakkan kepalanya naik turun, bergerak dengan intens memanjakan kejantanan mungil itu.
Tangan Jongin bergerak turun, menangkup bongkahan padat pantat Sehun, meremasnya dengan intens, sebelum kemudian jarinya menyibak bongkahan padat itu dan mengusap permukaan hole Sehun.
"Eunghhhh..." Sehun berusaha merapatkan kedua kakinya, namun Sehun menahan kedua paha Sehun untuk terus terbuka lebar dengan tubuhnya.
"Aahhh..." Sehun melentingkan tubuhnya saat lidah Jongin memutari ujung kejantanannya dan kemudian menghisapnya dengan kuat.
"Aaahhh... Niniiiii..." jemari lentik Sehun menjambak rambut Jongin dan meremasnya dengan kuat. Ini terlalu nikmat dan Sehun serasa mau meledak sekarang. "Niniiiii..." Sehun memekik dan melengkungkan punggungnya ketika orgasmenya datang, ia menghempaskan lagi tubuhnya ke atas kasur dan terengah engah.
Setelah menelan seluruh cairan cinta Sehun dan menjilati kejantanan mungil itu hingga bersih, kedua tangan Jongin mengangkat pinggul Sehun ke atas, hingga hole mungilnya terlihat jelas di mata Jongin, ia menjilat permukaan hole itu sebelum menghisapnya, membuat Sehun kembali menjerit penuh kenikmatan.
Jemari Sehun meremas seprai dengan kuat saat Jongin merangkak naik kembali, tak lupa masih dengan bibirnya yang menciumi area yang ia lewati hingga wajahnya kembali bertemu dengan dada Sehun dan segera saja Jongin mengulum puncak kemerahan itu dengan semangat. Sebelah tangannya menarik tangan Sehun dan mengarahkannya pada kejantanannya yang menegang.
Sehun terpekik pelan, merasakan ukurannya yang jauh lebih besar lagi dari yang ia lihat tadi. "Nini... ini terlalu besar..." rengek Sehun.
"Sentuh saja sayang, itu milikmu..." Jongin menggigit nipple Sehun dengan lembut.
Dengan jemarinya yang sedikit bergetar, Sehun mengusap kejantanan Jongin, sebelum mengocoknya dengan kedua tangannya.
"Ahh.., ya begitu sayang..." Jongin menghisap kuat nipple Sehun, hingga Sehun menjerit karena merasa ngilu di dadanya.
Dengan nalurinya, Sehun mendekatkan kejantanan Jongin dengan kejantanan miliknya dan kemudian menggesekkannya dengan lembut.
"Aaahhhh... Nini..." Sehun mengerang, merasakan kenikmatan itu lagi.
"Aku tak tahan lagi..." Jongin melepaskan genggaman tangan Sehun di kejantanannya, ia menatap Sehun sejenak. "Aku akan masukkan sekarang..."
Sehun memegang seprai dengan erat dan kakinya melingkari pinggang Jongin, melilitnya dengan kuat. "Nini... pelan-pelan..."
"Akan ku coba..." gumam Jongin, ia mulai menghujamkan kejantanannya ke dalam hole Sehun, dan Sehun memekik pelan, merasakan sakit itu mulai datang saat ujung kejantanan Jongin mulai memasuki holenya, cengkeramnnya pada seprai semakin kuat dan ia memejamkan matanya, holenya kembali robek ketika Jongin menekan pinggulnya kuat kuat hingga miliknya masuk seluruhnya ke dalam hole Sehun.
"Aaarrgghttt... saaaakkiiiitt... Niniiii..." Sehun menjerit. Jemari Sehun beralih mencakar punggung Jongin. Melampiaskan rasa nyeri yang menusuk di holenya.
Jongin mencium bibir Sehun, menenggelamkan jeritannya dalam lumatan yang lembut. Tak lupa ia menyalurkan kekuatannya untuk menyembukkan kekasihnya itu. hingga tak lama kemudian ia merasakan Sehun yang membalas ciumannya dan Jonginpun mulai bergerak menarik dan mendorong kejantanannya, berulang ulang.
Desahan Sehun kembali terdengar dan gerakan Jongin makin dan semkin cepat, membuat tubuh Sehun tersentak sentak di bawahnya. "Aaaahhhh..." Sehun melepaskan ciumannya dan kembali mendesah sekuat yang ia bisa.
"Niniiiii..." Sehun melengkungkan tubuhnya dan Jongin menyambutnya dengan pelukan erat, saat akhirnya keduanya mencapai orgasme mereka. sehun mendesah lagi saat merasakan kejantanan Jongin berkedut di dalam holenya dan kemudian mengalirkan sesuatu yang hangat di dalam sana.
Jongin masih menindih tubuh Sehun, dan miliknya masih berada di dalam hole Sehun. kepalanya bersandar di dada Sehun mendengarkan detak jantung Sehun yang perlahan mulai kembali stabil.
Sehun memejamkan matanya, sedikit menggeliat untuk menyamankan posisinya dan malah tak sengaja mengeratkan holenya, menjepit kejantanan Jongin di dalam sana.
Jongin mengerang pelan, "kau membangunkannya lagi, princess..."
Sehun melotot saat kembali merasakan milik Jongin yang menyesak dan memenuhi ruang sempit di dalam holenya.
"Nini... Hunnie lelah..." rengeknya.
"Satu kali lagi sayang, aku menginginkanmu..." Jongin mengecup lembut bibir Sehun sebelum kembali menggerakkan pinggulnya.
"Apa..." Sehun terpekik pelan. "Nini..." rengeknya. "Hunnie lelaaaahhh..."
"Yang kau perlukan hanyalah..." Jongin terus menggerakkan pinggulnya. "terus mendesah untukku, sayang..."
Dan tak ada hal yang bisa Sehun lakukan selain kembali mendesah untuk kekasih hatinya.
Suara nyanyian dari burung hutan membuat Sehun terbangun dari tidur lelapnya. Ia meggerakkan tubuhnya dan kemudian mengerang, merasakan tubuhnya yang pegal.
"Pagi, baby..." sapaan lembut itu membuat Sehun yang baru saja duduk langsung menoleh dan ia menemukan Jongin yang tadinya masih berbaring kini ikut duduk disampingnya. Wajah Sehun memerah ketika menyadari kalau ia dan Jongin masih sama sama telanjang.
"Niniiii..." rengek Sehun malu dan ia langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Jongin terkekeh pelan, "Uwow... baby Hunnie ku ternyata malu ya..." dengan gemas ia mengacak rambut Sehun.
"Niniii... jangan acak rambut Hunnie nanti Hunnie makin jelek." Sehun mengerucutkan bibirnya, membuat Jongin tak tahan untuk tdak menciumnya.
Setelah mengecup lembut bibir itu, ia segera membawa tubuh Sehun ke dalam dekapan hangatnya.
"Niniii..."
"Hmmm..."
"Hunnie lapar..."
"Kalau begitu ayo kita buat sarapan." Jongin melepaskan pelukannya dan Sehun menggelengkan kepalanya.
"Biar Hunnie saja, Nini mandi saja sana."
"Yakin?" tanay Jongin ragu.
"Huum..."
"Baiklah kalau begitu." Setelah sekali lagi mengecup bibir Sehun, Jongin beranjak dari atas ranjang, tak peduli dengan ketelanjangannya, ia berjalan dengan santai masuk ke dalam kamar, setelah lebih dulu memperingatkan Sehun berhati hati saat memegang pisau.
Setelah Jongin masuk ke dalam kamar mandi, Sehun segera beranjak ke lemari pakaian, ia mengambil sebuah kaos putih longgar dan celana pendek ketat dan segera memakainya, setelah yakin dengan pakaiannya, Sehun segera beranjak ke dapur.
"Uhh, Hunnie harus masak apa untuk Nini?" ucapnya bingung. "Mungkin roti panggang atau nasi goreng?"
Ketika Sehun sibuk di dapur memikirkan menunya, sepasang tangan kekar memeluk pinggangnya dari belakang. Sehun terdiam ketika tubuh itu makin merapat ke tubuh bagian belakangnya.
"Nini..."
"Sedang memikirkan apa sayang?" Bibir Jongin menelusuri leher Sehun dan memberikan kecupan kecupan kecil di sana.
"Nini... Hmmmm... Hunnie baru mau membuatkan susu coklat untuk Nini..." Sehun menggeliat pelan.
"Susu coklat? Bagaimana kalau yang ini saja?" dengan gerakan cepat, Jongin menurunkan kaos longgar yang dipakai Sehun dari pundak kirinya. Langsung saja ia meremas dada kiri Sehun dan memainkan nipplenya.
"Aaaahhh... Niniiii..." Sehun mendesah saat Jongin terus menciumi lehernya dan sebelah tangannya meremas remas dadanya.
"Aaaahhh... Niniii nakalllll..." Sehun merengek dan ia segera membalikkan tubuhnya menghadap Jongin, dan Jongin langsung mengangkat tubuh Sehun dan mendudukkannya di atas meja.
"Niniii..." Sehun meremas lembut rambut Jongin saat tangan Jongin kembali aktif meremas dada kanannya dan mulutnya dengan semangat menjilati dan kemudian menghisap nipple kirinya.
Merasa kaos itu mulai mengganggunya, Jongin melepas kulumannya dan melepaskan kaos yang dipakai Sehun dan melemparnya sembarangan. Ia pun juga melepaskan kaos yang dipakainya dan kini mereka sama sama topless.
"I love You..." Jongin mendekap tubuh Sehun dengan erat hingga nippe mereka bersentuhan dan Sehun langsung mendesah, Jongin tak menyia nyiakan kesempatan itu untuk langsung melumat bibir Sehun.
"Ahhh... Niniii..."
Jongin melepaskan ciumannya dan ia menatap wajah cantik Sehun dengan tatapan penuh cinta. "Sebenarnya aku masih tak percaya, aku masih punya kesempatan untuk memilikimu lagi sayang."
Sehun membuka matanya dan balas menatap Jongin. "Dan Hunnie sangat senang kembali bersama Nini..."
"Apa yang akan kau lakukan kalau aku bukan lagi matemu sayang?" Jemari Jongin sibuk membuka kancing celana Sehun dan kemudian menarik lepas celana itu hingga Sehun kembali telanjang.
"Mungkin mengikat Nini di kamar Hunnie, biar Nini tidak bisa pergi lagi." Jawabnya polos.
Jongin tertawa pelan, ia melepaskan boksernya juga dan kemudian mengarahkan kejantanannya yang menegang ke hole Sehun. "Ya, sayang, ikat saja aku dengan cintamu. Dan pastikan aku tak akan bisa pergi darimu." Jongin menekan pinggulnya hingga kejantanannya masuk ke dalam hole kekasihnya itu.
Sehun meringis menahan sakit. "Ya, Hunnie akan mengikat Nini untuk selalu bersama Hunnie selamanya..." bisiknya sembari semakin merapatkan tubuhnya pada Jongin.
"Forever?" Jongin mulai bergerak dengan lembut.
"Huum, forever, selamanya Hunnie jadi milik Nini dan Nini jadi milik Hunnie..." Sehun ikut menggerakkan pinggulnya dengan lembut, menyambut kejantanan Jongin di dalam holenya.
"Selamanya... aku akan mencintaimu dan bersamamu..." Jongin menggigit bibir bawah Sehun hingga terluka dan mulai menghisap darahnya.
"Aaahhh... yaaa... Hunnie juga mencintai Nini..." Sehun menggeliat karena milik Jongin tka berhenti menyiksa holenya dengan kenikmatan.
Jongin menggeram pelan merasakan betapa ketatnya hole kekasihnya menjepit kejantanannya. "Biarkan waktu yang akan membuktikan semuanya... sayang..."
"Aaahhh..." Sehun menjerit saat akhirnya ia mencapai puncaknya. "Ya.. Nini..." ucapnya dengan napas tersengal.
"Biarkan waktu yang akan membuktikan kalau cinta kita tidak akan pernah goyah. Selamanya... setiap harinya... aku akan membuktikan betapa cintaku akan terus makin bertambah padamu... forever..."
Dan dengan berakhirnya ucapan Jongin, ia pun tiba di puncaknya. Di dekapnya tubuh basah keringat Sehun dengan erat. "I love you angelku yang cantik..."
"I love you too, my half blood vampire demonku yang tampan."
.
.
.
.
.
.
REAL END
Apa ini memuaskan? Hahaha... maaf aku ga edit.
Terima kasih untuk semua yang udah baca n ninggalin jejak di ff ini. Salam sayang dari Syakila.
Salam Damai KaiHun And NoMin HardShipper.
Syakila8894
