My Little Brother
Part 3
.
.
"Eomma."
Seungcheol memegangi tangan ibunya yang akan melangkah ke pintu. Kepalanya menggeleng dengan tatapan memelas. Wanita cantik yang menjadi ibunya tersenyum. Berjongkok di depan anaknya yang tengah memasang wajah merajuk.
"Eomma harus pergi sayang!" ucap ibunya lembut dengan membelai rambut anaknya.
"Tapi Cheol-ie ingin bermain hari ini Eomma. Kalau Cheol-ie menjaga mereka, Cheol-ie tidak bisa bermain." Seungcheol memajukan bibirnya. Ia kesal karena ibunya lagi-lagi harus pergi dan menyerahkan si kembar padanya.
"Cheol-ie bisa bermain bersama dengan Mingyu dan Wonwoo." Ibu masih mencoba membujuk.
"Tapi mereka sering melupakan Cheol-ie kalau sudah bermain berdua. Bahkan Gyu pernah meminta Doyoon untuk membawa Cheol-ie pergi karena tidak ingin Won-ie pergi," adunya dengan memasang wajah sedih.
Ibunya terkekeh dan memeluk anak sulungnya. Mengusap punggungnya dengan sayang dan masih tersenyum lebar. Seungcheol selalu mengeluh dengan sikap adik-adiknya. Ia selalu merasa terabaikan oleh kedekatan si kembar. Sang ibu tidak bisa menyalahkan. Karena sedari bayi, ikatan keduanya begitu kuat.
"Seungcheol-ie tidak boleh bersedih. Cheol-ie tahukan Gyu dan Wonwoo sayang dengan Cheol-ie? Bahkan waktu Won-ie sakit waktu itu, Won-ie pernah bilang kalau Cheol-ie adalah hyung kesayangannya. Walau Gyu hanya menganggap Wonwoo hyung kesayangannya, tapi Gyu selalu ingat Cheol-ie saat kalian sedang berjauhan. Cheol-ie ingatkan kalau Gyu selalu meminta membeli mainan untuk Cheol-ie?"
Seungcheol langsung mengangguk dan tersenyum. Ia ingat semuanya. Saat itu Wonwoo sakit, ibunya menggendong Mingyu yang terus menangis. Sedangkan ayahnya belum pulang kerja. Jadi ia yang menjaga Wonwoo dan terus menamani Wonwoo di kamar. Dan setelah Wonwoo sembuh, Wonwoo langsung memeluknya. Mengatakan kalau ia hyung terbaik dan hyung kesayangannya.
Sedangkan Mingyu, ia selalu membeli mainan apapun untuknya saat adik bungsunya itu pergi. Meski Mingyu hanya mau mengaggap Wonwoo adalah hyung kesayangannya, tapi Mingyu tidak pernah melupakannya.
"Cheol-ie ingat, Eomma." Senyuman Seungcheol membuat ibunya juga tersenyum.
"Eomma harus pergi sekarang sayang. Eomma harus membantu menyiapkan pernikahan imo kalian. Dan Eomma janji akan membawa kaset game terbaru."
"Yeeaay." Seungcheol berteriak heboh dan melompat-lompat. Akhirnya ia bisa mendapat kaset game terbaru tanpa harus meminta.
"Jadi jaga Wonwoo dan Mingyu. Dan jangan biarkan Wonwoo menangis terlalu lama Cheol-ie. Karena Wonwoo akan demam kalau terlalu lama menangis. Dan jangan biarkan mereka bermain terlalu jauh."
Seungcheol mengangguk mantap masih dengan senyumnya. Kaset game terbaru membuat semangat. Dan setelah ibunya pergi, ia langsung berlari ke kamar si kembar.
"Hemm… masih tidur," monolognya saat saat menyembulkan kepalanya ke pintu. Setelah menutup pintunya dengan hati-hati, Seungcheol berjalan ke ruangan yang dikhususkan untuk mereka bermain.
.
vj
.
Wonwoo kecil duduk di ranjang dengan mata setengah mengantuk. Perhatiannya tertuju pada Mingyu yang langsung melompat dari ranjang begitu membuka mata. Tanpa menyapanya seperti biasa, Mingyu langsung berlari keluar kamar. Dan beberapa detik kemudian, ia kembali dan menyembulkan kepalanya di pintu.
"Won-ie tidak mandi? Gyu mau mandi cekalang!"
Wonwoo tidak langsung menjawab. Ia hanya diam saja dan memperhatikan kembarannya. Karena tidak kunjung mendapat jawaban, Mingyu langsung berlari dan berteriak memanggil kakak sulungnya.
Setelah mandi, Mingyu menunggu Seungcheol mengambilkan baju untuknya. Sedangkan Wonwoo belum berganti posisi. Masih duduk dengan mata yang terus memperhatikan Mingyu. Ia masih heran dengan kelakuan Mingyu pagi ini. Biasanya Mingyu tidak akan mau mandi kalau tidak mandi bersamanya.
"Hyung temani Gyu makan dan buatkan Gyu cucu." Mingyu menarik tangan Seungcheol keluar kamar. Dan lagi-lagi Mingyu seolah tidak memperdulikannya.
Wonwoo menoleh pada bajunya yang Seungheol letakkan di ranjang. Saat mengambil baju Mingyu, Seungcheol juga mengambilkan untuknya.
Anak kecil bermata sipit itu berjalan ke kamar ibunya. Dan langsung memasang wajah sedih saat tahu lagi-lagi ibunya pergi sebelum ia bangun. Dengan langkah lesu, Wonwoo kembali ke kamarnya. Mandi tanpa bantuan Seungcheol dan juga mengenakan pakaiannya sendiri.
Saat Wonwoo menuju ke ruang makan, Mingyu sudah menyelesaikan sarapannya. Adik kembarnya melompat dari kursi yang diduduki. Dan langsung berlari ke kamar tanpa menyapanya.
Mingyu terlihat bersemangat pagi ini. Tapi Wonwoo tidak berniat bertanya. Karena ia akan tahu jawabannya nanti.
"Won-ie mau susu?"
Wonwoo menggeleng dan meninggalkan Seungcheol begitu saja. Ia duduk di depan tv menonton tayangan kartun favoritnya. Saat Seungcheol duduk di sebelahnya, Wonwoo sama sekali tidak menoleh.
Seungcheol mendesah. Meski selalu diabaikan dan didiamkan Wonwoo, tapi rasanya cukup membuatnya kesal. Wonwoo benar-benar berbeda dengan anak-anak seusianya. Bahkan jauh berbeda dibandingkan dengan kembarannya.
"Won-ie tidak ingin bermain bersama Gyu?" dan lagi-lagi Wonwoo hanya menggeleng tanpa mau melihatnya.
Dua makhluk yang tengah duduk di sofa itu sama-sama mengalihkan pandangannya. Mata mereka tertuju pada Mingyu yang berlari dan mencoba membuka pintu. Setelah bersusah payah dengan menjinjit, akhirnya pintu kokoh itu terbuka.
"Kau cudah datang? Ayo kita main di lual caja!"
Seungcheol yang penasaran dengan lawan bicara Mingyu langsung beranjak. Sedangkan Wonwoo sama sekali tidak berniat beranjak. Ia hanya diam memandangi pintu meski Mingyu sudah tidak terlihat.
"Won-ie tidak ikut bermain bersama Gyu dan temannya?" tanya Seungcheol yang sudah kembali duduk di sampingnya.
Tanpa menjawab, Wonwoo langsung turun dari sofa. Berjalan keluar rumah untuk menemui Mingyu. Belum sempat ia mencapai pintu, Mingyu sudah masuk sambil berlari-lari. Wonwoo memutar kepalanya untuk mengikuti pergerakan Mingyu.
Mingyu membawa beberapa mainan di tangannya sambil berlari. Wonwoo berniat mengikuti Mingyu. Tapi kalimat Mingyu membuat langkahnya terhenti.
"Won-ie jangan ikuti Gyu! Won-ie di dalam caja dengan Cheol-ie Hyung."
Tubuh Wonwoo mematung. Tidak biasanya Mingyu melarangnya bermain bersama. Bahkan ia belum mendekatinya. Langkahnya terhenti beberapa langkah dari pintu.
Saat Mingyu sudah menjauh, Wonwoo melangkahkan kakinya. Ingin melihat apa yang Mingyu lakukan. Bocah berkulit putih itu diam dengan pandangan sendu. Tangannya memegang daun pintu dengan mata yang terus tertuju pada Mingyu.
Di halaman rumah, Mingyu sedang bermain dengan seorang anak yang ia tahu bernama Minghao.
.
vj
.
Wonwoo memperhatikan Mingyu dari balik kaca. Adik kembarnya terlihat sangat senang bermain bersama Minghao. Mingyu sama sekali tidak mengingatnya. Bahkan tidak memperbolehkannya ikut bermain.
Wonwoo kecil memandangi keduanya dengan begitu sedih. Tidak biasanya Mingyu mengabaikannya. Mata sipitnya berkedip lemah memandangi keduanya yang asyik bermain bersama.
"Kenapa Won-ie tidak boleh ikut bermain?" tanyanya sedih. Tangan mungilnya menari di kaca jendela. Seolah ia bisa menyentuh Mingyu yang membelakanginya.
Bocah bermata sipit itu kembali berjalan ke pintu saat Mingyu dan Minghao menjauh. Mainan yang Mingyu tinggalkan menarik perhatiannya.
Wonwoo jongkok di depan balok susun yang sudah disusun seperti istana. Ia menolehkan kepalanya pada Minghao dan adiknya yang tengah bermain mobil-mobilan.
Ia penasaran dengan balok susun yang berdiri tegak. Selama ini ia hanya memainkan lego. Belum pernah mencoba bermain dengan balok susun. Tangannya terjulur karena ingin menyentuhnya.
"WON-IE JANGAN SENTUH ITU!"
Wonwoo terkejut mendengar teriakan Mingyu. Bahkan bocah berkulit putih itu langsung terduduk di tanah. Mingyu yang sedari tadi tengah bermain mobil-mobilan langsung berjalan ke arahnya.
"Kenapa Won-ie di cini? Gyu cudah bilang jangan ikuti Gyu belmain."
Hati Wonwoo sedih mendengarnya. Bukan hanya karena Mingyu melarang mendekatinya. Tapi juga teriakan dan wajah kesal yang Mingyu tunjukkan. Baru pertama kalinya Mingyu berteriak marah padanya.
"Won-ie cuma ingin melihat," ucapnya sedih.
"Tapi kalau Won-ie menyentuhnya, Won-ie bica melucak mainan Gyu."
"Mianhae," lirih Wonwoo sambil berlari masuk ke dalam rumah.
Seungcheol yang baru saja keluar dari kamar tersentak. Ia hampir saja marah karena berpikir Wonwoo berlari-lari dan menabraknya. Tapi adiknya justru memeluknya dan menyembunyikan wajahnya.
"Won-ie kenapa?" tanya Seungcheol. Tapi Wonwoo tidak menjawab. Tetap bertahan pada posisinya.
Seungcheol memilih diam dan menggendong Wonwoo. Karena ibunya berulang kali memberi tahunya kalau Wonwoo berbeda dengan Mingyu. Ia bersyukur tubuh Wonwoo tidak seperti Mingyu. Wonwoo lebih kecil dan membuatnya tidak terlalu sulit menggendong adik manisnya.
Di gendongan Seungcheol, Wonwoo tetap menyembunyikan wajahnya. Dan tanpa melihat, Seungcheol tahu adiknya tengah menangis. Kaos yang ia kenakan terasa basah.
"Won-ie kenapa menangis?" meski Seungcheol tahu tidak akan mendapat jawabannya, tapi ia tetap mencoba bertanya. Ia masih ingat pesan sang ibu untuk tidak membiarkan Wonwoo menangis terlalu lama.
Dan hal ini yang membuat si kembar tampak berbeda. Tangisan Mingyu memang sering memekakkan terlinga. Tapi Mingyu masih mau berbicara dan bisa dibujuk. Tidak seperti Wonwoo.
Adiknya yang bermata sipit itu menangis tanpa suara. Bahkan isakan kecil juga tidak terdengar. Wonwoo menangis dalam diam dan hanya akan memeluk seseorang yang di dekatnya. Biasanya, Wonwoo akan menangis dalam pelukan sang ibu. Tapi justru tangisan Wonwoo yang membuat ibunya selalu cemas.
Lelah berdiri dengan mengendong Wonwoo, Seungcheol memilih duduk di sofa. Meski bagaimanapun, ia hanya anak berusia sembilan tahun. Ia merasa lelah kalau terlalu lama menggendong Wonwoo.
"Won-ie jangan menangis lagi! Nanti Won-ie bisa demam."
Seungcheol semakin resah karena Wonwoo tidak berhenti menangis. Adik bungsunya juga tidak terlihat. Sepertinya Mingyu begitu serius bermain bersama Minghao.
Ia berniat menghubungi ibunya. Tapi sang ibu tidak mengangkat telfonnya. Ia takut Wonwoo benar-benar demam. Karena akan membuatnya bingung kalau sampai Wonwoo sakit lagi.
"Won-ie mau susu?" tanya Seungheol yang dijawab gelengan.
"Mau tidur di kamar?" yang lagi-lagi dijawab gelengan.
"Bagaimana kalau di kamar Eomma?" dan kali ini Wonwoo mengangguk.
Seungcheol membawa sang adik ke kamar orang tua mereka. Ia mendudukkan Wonwoo di ranjang. Ikut merangkak ke kasur dan merebahkan tubuhnya. Wonwoo dengan wajah berlinangan air mata merebahkan tubuhnya di samping sang kakak. Menyembunyikan wajahnya di lengan Seungcheol.
Bocah berusia sembilan tahun itu tersenyum. Di saat-saat seperti ini, Seungcheol merasa dibutuhkan. Dan hanya di saat seperti ini ia merasa menjadi seorang kakak. Karena biasanya, Wonwoo selalu menolak bantuannya. Selalu mencoba bersikap mandiri.
Wonwoo dan Mingyu kembar. Tapi keduanya benar-benar berbeda. Dari fisik dan sifat, keduanya berbanding terbalik. Kalau Mingyu menangis, Mingyu akan berceloteh dengan cadelnya di sela isak tangisnya. Tapi hal itu sama sekali berbeda dengan Wonwoo. Dan sampai saat ini, Seungcheol tidak tahu bagaimana kedua adiknya begitu berbeda.
Lelah menangis membuat Wonwoo tertidur. Membuat Seungcheol mendesah lega. Meski Wonwoo sudah tertidur, tidak membuat Seungcheol memilih pergi. Ia tetap pada posisinya. Melihat Wonwoo tertidur, membuat matanya memberat.
.
vj
.
Seungcheol membuka matanya saat Wonwoo masih tertidur. Anak sulung dari keluarga Choi itu berjalan keluar. Ia ingin melihat si bungsu. Sejak beberapa jam yang lalu, Mingyu bermain bersama Minghao. Dan saat mendengar suara di ruangan yang terletak di sebelah kamar orang tua mereka, ia tahu adiknya masih bersama Minghao.
"Cheol-ie Hyung, Gyu mau main bola di belakang lumah," ucap Mingyu sambil berlari membawa bola kaki. Diikuti Minghao di belakangnya.
Dahi Seungcheol berkerut. Sedari pagi Mingyu tidak mencari keberadaan Wonwoo. Biasanya, kalau Wonwoo tidak terlihat, Mingyu langsung mencarinya. Tapi kali ini bahkan Mingyu asyik bermain bersama Minghao.
Seungcheol kembali masuk ke kamar. Ia mendapati Wonwoo sudah membuka matanya. Duduk di ranjang dengan mata masih setengah terpejam. Ia memilih duduk di depan sang adik. Bersila memperhatikan mata Wonwoo yang masih terlihat sembab.
"Won-ie mau bercerita kenapa tadi menangis. Kata Eomma, kita tidak boleh menyimpan rahasia terlalu lama."
"Min-ie jahat Hyung-ie," adunya dengan suara pelan.
"Jahat? Kenapa Gyu jahat?"
"Won-ie tidak boleh ikut bermain. Min-ie lebih memilih bermain bersama Hao. Tadi Min-ie juga memarahi Won-ie," ucapnya sedih dengan suara bergetar.
Dan lagi-lagi Wonwoo mengeluarkan air matanya. Seungcheol tidak bertanya lagi. Karena ia tahu Wonwoo pasti sedih. Selama ini mereka seperti tidak bisa dipisahkan. Wajar Wonwoo menangis dengan sikap Mingyu yang tidak biasanya.
"Min-ie membenci Won-ie," lanjut Wonwoo lagi sambil mengusap air mata di pipi putihnya. Meski tangan mungilnya berulang kali mengusapnya, tapi pipinya tetap saja basah.
Seungcheol menggaruk kepalanya. Ia bingung harus bagaimana. Ingin bertanya pada sang ibu, tapi ia yakin ibunya sedang sibuk. Tapi ia juga takut membiarkan Wonwoo menangis lagi. Ia takut Wonwoo demam.
Ia meringsut mendekati Wonwoo. Memegang dahi adiknya yang tengah menunduk. Sebelah tangannya terangkat untuk menyentuh dahinya sendiri. Menyamakan dengan suhu tubuhnya. Dan matanya langsung membola saat menyadari suhu tubuh keduanya berbeda.
"Won-ie demam," ucapnya panik. Ia langsung melompat dari kasur. Berlari ke luar dan menghubungi ibunya melalui telepon rumah.
"Eomma… Won-ie," ucap Seungcheol langsung saat mendengar suara sang ibu.
"Ada apa sayang? Ada apa dengan Won-ie?" tanya ibunya tenang.
"Won-ie demam. Cheol-ie harus bagaimana Eomma?"
"Tenang sayang. Jangan panik seperti itu. Coba Cheol-ie buka laci nakas di kamar Eomma. Di sana ada plester penurun demam. Tempelkan di dahi Won-ie. Biarkan sampai obatnya bekerja." Seungcheol mengangguk meski ibunya tidak melihatnya.
"Maafkan Eomma sayang. Eomma belum bisa pulang sekarang. Bisakan Eomma percayakan mereka pada Cheol-ie?" tanya sang ibu dengan lembutnya dari seberang sana.
"Iya Eomma."
"Dua jam lagi Appa akan sampai di rumah. Dan Eomma akan menyusul setelahnya. Appa berjanji akan membawakan kalian oleh-oleh." Seungcheol langsung tersenyum cerah. Tidak biasanya sang ayah pulang lebih cepat.
Saat sambungan itu terputus, Seungcheol kembali berlari ke kamar. Membuka laci dan mengambil satu plester penurun demam. Karena biasa melihat sang ibu menempelkan ke dahi Wonwoo, membuatnya tidak terlalu sulit untuk menempelkannya.
Ia merebahkan tubuhnya di kasur. Biasanya, sang ibu akan menidurkan Wonwoo saat demam. Meski ia tidak bisa membacakan dongeng, atau bernyanyi sebagai penghantar tidur, Seungcheol tetap ingin melakukannya.
Seungcheol tidur tepat di sebelah Wonwoo. Bibirnya terus berceloteh tentang kartun dan game yang ia mainkan. Dan membiarkan tangannya di mainkan adiknya. Tangan mungil Wonwoo yang memegang tangannya terasa panas.
Entah karena sudah tidak mengantuk, atau karena mendengar ocehannya, Wonwoo tidak lagi memejamkan mata. Ia tetap tenang berbaring di samping sang kakak.
.
.
Seungcheol beranjak dari kamar ibunya saat mendengar teriakan sang adik. Ternyata Mingyu ingin mandi karena bajunya begitu kotor.
"Ambilkan Gyu baju Hyung-ie," ucap Mingyu sambil melompat-lompat di tempatnya. Mingyu memang begitu hiperaktif. Tidak seperti Wonwoo yang lebih banyak diam.
Setelah membantu Mingyu mandi dan memakaikan baju, Seungcheol memilih ke dapur. Ia merasa haus dan lapar. Sedangkan adik bungsunya langsung berlari ke ruang tengah.
"Di mana Won-ie?" monolognya saat tidak mendapati Wonwoo di ruang tengah. Ia berlari ke kamar yang terletak di antara kamar Seungcheol dan kamar ibunya. Namun masih sama, ia tidak menemukan Wonwoo di sana. Hanya beberapa mainan yang berserak karena ulahnya tadi.
"Mungkin Won-ie cedang di belakang lumah," pikir Mingyu sambil berlari ke halaman belakang. Dan bibirnya maju saat tidak mendapati siapapun di sana.
"Cheol-ie Hyung, Won-ie di mana? Kenapa tidak ada?" tanyanya pada sang kakak yang sudah menyelesaikan makan singkatnya.
"Di kamar Eomma."
"Gyu mau ke kamal Eomma," ucapnya semangat. Namun ia menghentikan langkahnya saat sang kakak mencekal tangannya.
"Kenapa Gyu memarahi Won-ie?" tanya Seungcheol yang membuat Mingyu mengerutkan dahinya.
"Gyu tidak malah," jawabnya polos.
"Tapi tadi Won-ie bilang, Gyu melarangnya ikut bermain. Dan Gyu juga memarahinya. Apa Gyu membenci Won-ie?"
Mingyu menundukkan kepalanya sambil menggeleng. Ia ingat saat membentak sang kakak dan melarangnya ikut bermain.
"Gyu tidak benci Won-ie," lirihnya.
"Tadi Won-ie menangis terus," ungkap Seungcheol yang membuat Mingyu langsung berlari ke kamar sang ibu.
Sesampainya di kamar, ia bisa melihat Wonwoo yang tengah berbaring. Plester yang baru saja di buka saat malam hari sudah kembali terpasang di dahi Wonwoo.
Mingyu mendekati ranjang ibunya. Memegang tangan mungil Wonwoo yang terasa panas. Matanya langsung memerah merasakan panas di telapak tangannya.
"Won-ie," ucapnya serak.
Mendengar suara Mingyu, Wonwoo membuka matanya. Namun ia langsung mengalihkan wajahnya. Enggan menatap adiknya yang memasang wajah sedih.
"Pergi bersama Hao saja! Won-ie cuma mau ditemani Cheol-ie hyung."
Bibir Mingyu langsung bergetar mendengar ucapan Wonwoo. Ia merasa begitu sedih saat Wonwoo mengusirnya. Bahkan tidak mau melihatnya.
"Won-ie hiks… jangan malah," pintanya dengan air mata yang mulai mengalir. Tapi Wonwoo masih bertahan pada posisinya.
"Gyu tidak benci Won-ie hiks. Gyu cayang Won-ie," ucapnya yang lagi-lagi tidak ditanggapi.
"Bohong," balas Wonwoo singkat.
"Gyu tidak bohong hiks… Gyu tidak mau Won-ie cakit lagi hiks… kalau ikut belmain dengan Gyu dan Hao. Won-ie balu caja cembuh. Gyu cudah hiks… janji dengan Appa untuk menjaga Won-ie." Mingyu mulai menangis sesenggukan. Semua hal yang berhubungan dengan Wonwoo selalu membuatnya mudah menangis. Padahal ia tidak menangis saat terjatuh dari ayunan.
"Tapi kenapa Won-ie tidak boleh menyentuh balok susun itu?" tanya Wonwoo datar meski kini sudah mau menatap wajah adiknya.
"Gyu hiks… Gyu tidak mau Won-ie beldalah lagi. Waktu itu tangan Won-ie berdalah di cekolah kalena kayu. Gyu tidak mau hiks… Won-ie luka lagi."
Alasan Mingyu melarang Wonwoo menyentuh mainannya, bukan karena takut rusak. Tapi ia tidak ingin Wonwoo terluka lagi seperti tempo hari. Ia hanya takut kembarannya kembali mengeluarkan darah. Ia hanya anak kecil yang tidak bisa membedakan, mana kayu yang berbahaya dan tidak. Yang ia tahu, ia ingin menjaga Wonwoo-nya.
"Gyu minta maaf hiks… kalena membuat Won-ie menangic."
Mingyu semakin sedih karena Wonwoo masih memasang wajah dinginnya. Wonwoo belum mau merespon ucapannya. Padahal ia sudah menjelaskan dan meminta maaf.
Ia tidak suka saat Wonwoo mendiamkannya. Ia tidak suka saat Wonwoo mengabaikannya. Apalagi sampai marah seperti saat ini. Dan yang lebih membuatnya sedih, Wonwoo menangis hingga sakit karena ulahnya.
"Jadi kenapa lebih memilih bersama Minghao?"
"Gyu cudah janji akan menemani Hao hali ini. Hao di lumah cendili. Jun hyung cedang tidak ada di lumah. Tidak ada yang menemani Hao belmain. Kata Eomma, kita tidak boleh ingkal janji."
Wonwoo memilih diam. Ia sangat ingat itu. Pesan ibunya untuk mereka bertiga. Mereka selalu di ajarkan banyak hal. Termasuk untuk tidak berbohong dan mengingkari janji.
"Won-ie hiks… jangan cakit lagi hiks… Won-ie jangan malah. Gyu minta maaf."
Wonwoo mencoba bangun. Ia terus memandangi Mingyu yang masih saja menangis. "Won-ie tidak marah. Jadi Gyu jangan menangis lagi," ucapnya.
Mata Mingyu membola mendengar panggilan Wonwoo untuknya. Selama ini Wonwoo tidak pernah memanggilnya Gyu. Panggilan Wonwoo untuknya berbeda dengan yang lainnya.
"Kenapa Won-ie memanggil Gyu dengan Gyu? Kenapa tidak Min-ie?" tanyanya.
"Supaya sama seperti Minghao," ucap Wonwoo enteng dengan wajah lempengnya. Sedangkan Mingyu semakin menangis.
"Tidak mau! Gyu tidak mau panggilan itu. Gyu tidak mau," racaunya.
Ia tetap ingin Wonwoo menyebutnya seperti biasa. Karena Wonwoo pernah mengatakan panggilan itu karena ia sangat menyayangi Mingyu. Min-ie itu adalah panggilan sayang dari Wonwoo untuknya.
"Sekarang Gyu pergi saja dari sini. Lebih baik Gyu main bersama Minghao lagi," balas Wonwoo masih dengan nada datarnya.
"Gyu tidak mau. Won-ie haluc memanggil Gyu cepelti biaca. Kalau Won-ie memanggil Gyu dengan Gyu belalti Won-ie tidak cayang Gyu lagi."
Mingyu mencoba menggenggam tangan Wonwoo, tapi bocah pucat itu langsung menarik tangannya. Membuat air mata Mingyu semakin mengalir deras. Karena merasa putus asa tidak mendapat maaf Wonwoo, Mingyu berjongkok. Ia menyembunyikan wajahnya dengan terus meracau maaf.
Seungcheol yang mengintip di pintu menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa Mingyu menyimpulkan sejauh itu. Kalau Wonwoo menyebutnya Gyu karena tidak sayang, lalu bagaimana denganya dan orang tuanya? Karena mereka semua memanggil si bungsu dengan Gyu.
Wonwoo masih memandagi Mingyu sampai beberapa saat. Adiknya masih terus mengoceh maaf dan memintanya untuk tidak memanggil Gyu lagi.
Bocah berkulit putih itu turun dari ranjang. Mendekati Mingyu yang masih menyembunyikan wajahnya. Tanganya terangkat untuk menepuk kepala Mingyu beberapa kali. Seketika tangisan Mingyu langsung terhenti.
Mingyu mendongakkan kepalanya. Menatap Wonwoo yang berdiri tepat di sampingnya. Ia tersenyum Karena tepukan di kepalanya.
Tepukan di kepala mereka artikan sebagai permintaan maaf yang diterima. Itu artinya Wonwoo sudah memaafkannya.
"Min-ie jangan menangis lagi," ucap Wonwoo sambil menyeka air mata yang tersisa di wajah adik kembarnya dengan tangan mungilnya. Seketika, Mingyu langsung melebarkan senyumnya.
"Won-ie sayang Gyu," lanjutnya sembari merentangkan tangannya memeluk Mingyu. Dan dengan senang hati Mingyu balas memeluk tubuh mungil kakaknya.
"Won-ie tidak boleh malah-malah lagi. Won-ie juga tidak boleh menangic lagi. Won-ie jangan cakit lagi kalena Gyu cayang Won-ie. Kalau Won-ie cakit, Gyu jadi cedih."
Wonwoo mengangguk dan tersenyum dalam pelukan Mingyu. Rasa demam dan pusing yang ia rasakan seolah terlepas dari tubuhnya. Ia merasa lebih baik dalam pelukan kembarannya.
"Ayo kita tidul! Gyu akan temani Won-ie campai Won-ie cembuh."
Wonwoo mengangguk lagi. Dan mereka berdua langsung menaikkan badan mungil mereka ke atas kasur. Tidur dengan tangan saling bertautan.
Masih mengintip di celah pintu, Seungcheol memajukan bibirnya. Baru beberapa saat yang lalu ia merasa dibutuhkan si kembar. Tapi saat ini ia sudah dilupakan lagi. Saat mereka sudah berdua, Seungcheol pasti terabaikan.
Dengan wajah sedih, Seungcheol berbalik. Ia ingin pergi ke kamarnya atau bermain game. Tapi sebuah suara menghentikan langkahnya.
"Cheol-ie Hyung temani Won-ie dan Gyu tidur," ucap Wonwoo yang sudah menggenggam tangannya. Seungcheol tidak tahu kapan Wonwoo turun dari ranjang.
"Hyung-ie di tengah caja." Mingyu menepuk kasur bagian tengah. Dan tanpa berbicara, Seungcheol langsung merebahkan tubuhnya. Diikuti Mingyu di sisi kiri danWonwoo di sisi kanan.
"Celamat tidul / selamat tidur," ucap si kembar berbarengan.
"Tapi ini masih sore."
"Kami mau tidul cole / Kami mau tidur sore."
Mau tidak mau Seungcheol tersenyum. Mereka benar-benar anak kembar. Dan ia terkejut mendapat kecupan di pipi kanan dan kirinya. Membuat hati Seungcheol menghangat.
Sepertinya memang benar kata ibunya. Di rumah bersama si kembar bukan pilihan yang buruk. Bahkan ia bisa menyaksikan interaksi keduanya yang begitu tulus dan manis. Ia mendesah lega karena Doyoon tidak benar-benar meminta salah satu dari kedaunya. Karena ia sadar, kedua adiknya begitu berharga. Dan ia merasa menjadi seorang kakak yang paling beruntung.
.
FIN
