" Huh... haruskah aku melakukan ini?"
Sesosok pemuda berambut pirang tengah menatap ragu sebuah gerbang dengan tulisan
" Hanyoung High School" yang terpampang megah dihadapanya. Ia malas sungguh, tapi bagaimanapun juga jika ayahnya sudah bicara maka itu mutlak. Tidak bisa ditolak bahkan saat dirinya yang hanya anak satu- satunya itu mengancam akan bunuh diri sekalipun.
Karena dengan entengnya, sang ayah yang sok keren tapi malah terlihat absurd itu justru mengatakan " Silahkan, aku bisa mencari Taehyung yang baru" atau " Kurasa kami masih mampu, membuat Taehyung yang baru." Dan si Taehyung yang mengaku tampan ini masih butuh uang Ayahnya untuk memenuhi semua kebutuhanya. Dan lagi, buat apa mati jika itu justru membuat ayahnya justru akan bertepuk tangan bahagia. Hell, ia masih waras dan masih tak ingin mengalah dengan ayahnya yang aneh tapi baik hati itu.
Maka dengan terpaksa dan berat hati,disinilah Kim Taehyung sekarang berada. Berdiri didepan gerbang yang akan menjadi sekolahnya untuknya 1,5 tahun kedepan.
" Hell, Kim Yesung itu benar- benar sudah gila, dulu dia menyuruhku sekolah di Inggris dan sekarang dengan entengnya mengatakan, " Tae pulang, pindah ke Seoul saja sekolahnya. Buat apa jauh- jauh sekolah di Inggris jika bahasa Inggrismu itu hanya pas- pasan." Taehyung mencibir, menirukan ucapan ayahnya kemarin saat ditelepon dengan wajah malas.
" Dia bahkan tidak bisa bahasa Inggris sama sekali, setidaknya aku mampu hidup dengan baik selama setahun ini." Ia mencibir lagi, berjalan menyusuri lorong yang bisa dibilang sepi. Maklum, ini memang telah waktunya pelajaran dimulai, dan Taehyung sengaja datang terlambat karena tidak mau mengikuti upacara di hari senin.
Dan setelah umpatan dan segala cibiran itu berhenti dari bibirnya tepat setelah dirinya berdiri didepan sebuah pintu bertuliskan ruang kepala sekolah dengan tulisan tinta hitam yang cukup besar tepat berada diatas pintu.
" Selamat datang Kim Taehyung."
Waow...
Ia bahkan belum sempat mengetuk pintu, tetapi sosok didalamnya telah menyambutnya. Padahal pintunya tertutup rapat dan dia tidak bisa melihat sosok didalam itu wajahnya seperti apa. Wah, dia jadi horor sendiri, jangan- jangan sosok didalam itu...
" Cepat masuk, dan jangan berfikir aku seorang cenayang atau hantu."
Daebak... Taehyung hanya sanggup melongo mendengarnya, namun tangannya tetap membuka pintu dan melangkah masuk kedalam ruangan yang bisa dibilang cukup mewah itu.
" Duduklah..." sesosok lelaki paruh baya dengan garis wajah yang bisa dibilang masih sempurna itu mengalihkan wajahnya dari deretan televisi yang berjajar rapi ditembok, benda yang saat ini tengah menampilkan suasana disemua sudut Sekolah. 'Pantas, dia tahu aku datang. Orang dia melihat
'CCTV' batinya jengah.
" Seperti yang kau pikirkan, aku melihat CCTV." Jawabnya tenang dan Taehyung hanya menanggapinya dengan sebuahsenyuman.
" Ayahmu sudah menghubungiku soal kepindahanmu dan jujur aku heran, kenapa kau harus pindah, bukankah Inggris jauh lebih baik daripada disini?"
"Saya juga heran tentang ini." Taehyung menjawab pelan.
" Tapi aku tidak heran, Ayahmu memang aneh sejak dulu." sosok itu mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.
'Nah itu kau tahu, kenapa mesti bertanyasih? Batin Taehyung kesal, namun ia tetap tersenyum demi sebuah harga diri.
" Baiklah, Kim Taehyung. Kau bisa langsung ke kelas, guru Nam akan mengantarkanmu. "
Taehyung menoleh keluar lebih tepatnya kearah pintu dan menemukan seseorang disana dengan tampilan rapi telah menunggunya. Maka dengan segera ia membungkuk dan pamit meninggalkan Kepala sekolah yang menurutnya 11- 12 dengan Ayahnya itu.
" Namaku Ki Taehyung, aku pindahan dari Inggris. Tapi jangan khawatir, aku bisa bahasa Korea dengan lancar dan pandai menulis hangul."
Ia mengenalkan dirinya dengan senyum ceria ala Kim Taehyung yang langsung ditanggapi tepuk tangan meriah dari seluruh siswa seperti perkenalan saat ia masuk Taman kanak-kanak dulu.
" Baiklah, Kim Taehyung kau bisa duduk ditempat kosong disana." Sang Guru berucap ramah dan mempersilahkannya untuk memilih diantara 2 bangku kosong yang ada disana.
Taehyung melangkah pelan, berjalan kearah bangku kosong yang ada didekat jendela nomor 3 paling kanan. Karena meja kosong didepanya ada sebuah tas berwarna biru yang tergeletak indah disana, menandakan jika tempat itu sudah ada penghuninya. Dan ia bukan tipe orang yang suka merebut tempat duduk orang.
Pelajaran berlangsung dengan khidmat, tenang dan damai. Bersyukur Taehyung mampu mengikuti semuanya dengan baik,walau jelas kurikulumnya jauh berbeda dengan di sekolahnya yang semula.
Berterimakasihlah pada otaknya yang cukup jenius, sehingga ia mampu mengingat apa yang telah diajarkan saat Junior High school dulu atau dia harus bersyukur karena baru pindah ke Inggris setahun lalu sehingga tak mengubah otaknya sama sekali.
Dua jam berlangsung dengan damai, dan bell tanda istirahat baru saja berbunyi 2 menit yang lalu. Walau begitu, kelas sudah sangat sepi menyisakan dirinya dan seorang lelaki pendek yang tidak ia kenal sama sekali.
" Hai, aku Park Jimin." Sosok itu mendekat kearahnya, mengulurkan tangannya dengan senyum malu- malu. Namun nampak lucu bagi Taehyung karena matanya menyipit dan meninggalkan garis lurus yang nampak menggemaskan.
" Taehyung..." ia menjawab singkat, membalas uluran tangan itu agar terlihat sopan.
" Apa kau lapar?" Dia menggaruk tengkuknya " Maksudku, kau anak baru dan aku yakin kau belum tahu kantinya jadi aku..."
"Aku lapar, ayo pergi!" Taehyung menarik tangannya, menyeretnya keluar saat anak itu bahkan belum menyelesaikan ucapanya.
" Tae, kantinya kesana, bukan disana."
Dan Taehyung hanya mampu menggaruk tengkuknya dan nyengir karena malu.
Semangkuk bulgogi dan sekotak susu pisang telah berada diatas meja Taehyung dan Jimin saat ini. Mereka makan dengan tenang, sesekali Taehyung mengamati suasana disekelilingnya yang nampak ramai.
" Kenapa kau pindah? Maksudku walau sekolah ini termasuk sekolah bagus tapi tetap saja Inggris lebih hebatkan?" Jimin bertanya disela- sela mengunyah bulgoginya.
Taehyung mengangguk, menelan bulgoginya dan mengendikkan bahunya.
" Entahlah, Ayahku menelpon dan dengan datar mengatakan ' pulang dan pindah' itu saja.
" Waow... Ayahmu pasti sosok yang..."
" Galak? Sayangnya tidak Jim, hanya sedikit ya... kau tau Kim yesung?" Taehyung berbisik pelan didepan mulut Jimin, membuat anak itu langsung membulatkan matanya kaget.
" Kim Yesung? Penyanyi ballad itu? Yang kemarin baru main film dijepang? Manusia yang agak aneh itu?"
Taehyung mengangguk.
" Tapi apa hubunganmu denganya?" Jimin bertanya dengan tampang bodohnya, membuat Taehyung tertawa jika tidak ingat ia tengah berbicara serius saat ini.
" Dia Ayahku." Taehyung berbisik lagi, membuat Jimin hampir berteriak jika tidak melihat tanda dari Taehyung untuk diam. Dan sebagai fans dari Kim Yesung maka dia menurut.
" Waow... aku terkejut, tapi..." Jimin tersenyum manis, " bisakah aku bertemu denganya, kau tahu aku sangat ngefans dengan ayahmu dan..."
" Kau bisa datang kerumahku kapan saja, anggap saja uang tutup mulut."
" Deal..." dan mereka bertaut kelingking laksana anak TK.
Ish...
Taehyung tiba- tiba meringis dan itu membuat Jimin heran melihatnya, " Kau kenapa Tae?" Ia bertanya khawatir.
" Kebelet pipis..." Taehyung tersenyum gaje.
Jimin mencebikkan bibirnya tanda kesal, " lurus terus lalu belok kiri."
Dan Taehyung langsung berlari, begitu Jimin menyelesaikan ucapanya. Membuat sosok sipit itu hanya mampu menggelengkan kepalanya heran.
Taehyung berlari tergesa, sesuatu dibawah sana sudah tidak tahan minta dikelurkan. Dan beruntung ia menemukan toilet ini dengan mudah. Jadi ia bisa segera menuntaskan hasratnya yang sudah tertahankan.
Ia mendesah lega begitu urusanya selesai, melangkah keluar dari bilik, namun matanya mengernyit saat matanya tak sengaja menangakap sebuah kaki yang menyembul dari bilik perempuan yang terbuka.
'Astaga bocah itu kenapa? Bagaimana jika terjadi sesuatu, dilihat dari gaya kakinya yang tak lazim. Seolah- seolah bocah itu pingsan.'
Maka dengan langakah pelan dan mantab, ia berjalan kebilik yang hanya berjarak sekitar 3 meter darinya.
Taehyung mengeryit begitu ia sampai ditempat, dilihat sesosok mahkluk yang seperti berujud lelaki tengah duduk berselonjor ditoilet duduk yang ditutup dengan mata tertutup dan mulut menganga.
" Dia pingsan atau tidur? Karena kalau mati itu mustahil dilihat dari dadanya yang naik turun tanda ia masih bernafas."
Taehyung bermonolog, telunjuknya berada dibibir dengan kepala manggut-manggut tanda ia tengah berfikir.
" Haha... " Ia tertawa pelan, seumur- seumur baru menemui sosok seperti ini dihidupnya. " Bisa- bisanya dia tidur disini, apa dia gelandangan yang tak punya rumah, hingga menumpang tidur ditoilet sekolah."
" Tapi mana ada gelandangan bisa sekolah ditempat ini, itu jelas mustahil. Bahkan wajahnya tak menunjukkan tanda kemiskinan sedikitpun." Taehyung merogoh ponsel dari saku celananya, menggeser layar dan membuka aplikasi camera dan mengarahnya pada sosok didepanya dan menekan tombolnya dengan cepat dengan iringan lampu flash yang menyala terang tanda ia tengah memotret.
Dia imut juga, Taehyung tersenyum, Memasukkan kembali ponselnya ke kantomg celananya kembali.
" Buset, dia tidur atau mati sih?" Taehyung menggeleng aneh, ini sudah 15 menit dia disini. Menatap bocah tidur yang nampak polos didepanya ini. Bahkan bell telah berbunyi nyaring, memekakkan telinganya sejak 5 menit lalu namun kenapa bocah ini tidak bangun juga.
" Jangan- jangan dia pingsan?" Ia mulai berfikir aneh, perlahan ia membukkan badanya berniat membangunkanya atau setidaknya ia mengeceknya jika bocah ini benar- benar pingsan. Namun baru saja, ia akan mengulurkan tangannya, mata itu terbuka diiringi suara teriakan nyaring yang hampir membuatnya terjengakang karena kaget.
" Sialan, siapa kau berani-beraninya memperkosaku!"
Astaga bocah ini sadis juga ternyata.
Tbc...
( Tae Pov ) cerita baru dimulai chap 3
