D.O.P.E
Rating : Masih T, M nya di tengah kayanya u.u
Genre : Yaoi/Romance/Friendship/School Life
Length : Chaptered
Main Cast:
BangHim
Other Cast:
BAP
BTS
Got7
Super Junior
Park Sang Kyung (OOC)
Maaf kemarin ga update… sibuk USBN. Apabila ada typo maafkeun ya. Don't forget too review~ Enjoy… and don't be a silent reader :*
Yongguk menatap layar kotak di depannya dengan tatapan kosong. Perkataan Himchan waktu itu membuat dirinya berubah. Lebih tepatnya ia terlihat seperti orang bodoh. Bahkan dirinya yang sekarang jauh lebih pendiam, apalagi bila berada di kelasnya sendiri. Yang membuatnya kesal adalah Himchan seolah tak ada apa apa. Ketika perkataan itu keluar dari mulut pink-nya, Yongguk dibuat diam tak berkata-kata. Tapi Himchan? Malah meninggalkannya dengan santai. Lalu setelah itu tak ada obrolan antar keduanya. Yongguk bahkan tak pernah berani melihat Himchan selama seminggu ini.
'Drrrrttt… drrrrtt'
Smartphone nya bergetar keras, mengacaukan lamunannya sendiri. Tangannya mengambil smartphone-nya dengan malas. Melihat nama yang tertera di layar kotak membuatnya menghembuskan nafasnya dengan kasar. Lebih baik ia angkat sekarang, daripada manusia itu mengganggunya seharian.
"Ada apa?", tanyanya dingin.
"Bisakah kau menjawab dengan lebih ramah? Aku tidak ingin kita ribut lagi", ucap suara di seberang sana.
"Baiklah, ada apa Yongnam?", ia bertanya dengan datar, setidaknya tidak seketus tadi.
"Bisakah kau pulang? Appa ingin berbicara denganmu".
Yongguk hanya bisa diam mendengar ajakan kembarannya itu. Haruskah? Tapi rasanya ini tidak akan baik.
"Berhenti berpikir terlalu banyak Yongguk-ah! Apa kau tidak kasihan padaku yang harus memegang perusahaan sendirian?", keluh Yongnam kesal. Kalau buka demi obsesi adiknya ia tidak akan berakhir seperti ini sendirian. Setidaknya ada Yongguk yang menemani.
"Kalau ini soal perusahaan lagi aku tidak akan pulang", selesai berbicara Yongguk mematikan teleponnya.
Matanya mematungi layar komputer di depannya. Tidak mungkin ia meninggalkan ini semua hanya demi obsesi ayahnya. Sudah cukup dirinya menjadi boneka ayahnya selama 18 tahun. Masih teringat jelas memori akan perjuangannya untuk pergi dari lingkungan menyebalkan itu. Dan dirinya tidak akan mau kembali lagi ke sana. Tidak akan pernah.
Flashback
Yongguk menggenggam engsel pintu dengan kuat. Berusaha sebisa mungkin menahan segala emosinya. Matanya menatap tajam ayahnya yang memandanginya dengan sama tajamnya.
"I already told you son, no more music! No more!"
Ucapan appanya diiringi dengan terbantingnya laptop. Semua barang-barang Yongguk yang berkaitan dengan musik tercecer di lantai. Dan rata-rata barang-barang itu ia beli, karena ia tahu appa tak akan pernah mengizinkannya untuk menyentuh musik sedikit saja.
"Now, you get out from my house!"
Flashback end
"Oppa!", suara teriakan itu mengacaukan lamunannya. Di balik kaca terdapat Sang Kyung yang sedang melambaikan tangannya. Meminta masuk ke ruang studio. Yongguk segera berdiri dan membuka pintu.
"Ada apa Kyungie-ah?", Yongguk kembali duduk di kursinya. Membiarkan Sang Kyung duduk di sofa studionya.
"Hm? Memang biasanya aku ke sini kan? Kenapa bertanya? Oppa habis ditelepon oleh Yongnam oppa ya?", Sang Kyung mengeluarkan buku pelajaran dari tasnya. Yongguk hanya mengangguk pelan.
"Oppa, I already 17 right now. Jadi apa oppa tidak mau kembali?"
"Ini bukan hanya tentangmu. Ini tentang hidupku", Yongguk menjawab dingin dan tanpa memandang Sang Kyung.
Sang Kyung tak akan berani bertanya apabila Yongguk sudah seperti ini. Ia lebih baik diam daripada membuat pelindungnya sakit. Dirinya tahu bahwa salah satu alasan Yongguk tak kembali adalah melindungi adik yang bahkan tidak memiliki hubungan darah dengannya. Dan alasan lainnya adalah namja tampan itu tidak bisa melepaskan musiknya. Seorang Yongguk adalah seseorang yang kuat, bahkan ketika dirinya terkurung di bawah kuasa ayahnya selama 18 tahun. Ia mampu menghadapi semuanya dengan tenang dan diam. Kecuali saat sang ayah menyentuh seseorang yang dilindunginya. Demi anaknya kembali, pemilik perusahaan besar itu rela mengotori tangannya dengan mengasingkan Sang Kyung yang sayangnya gagal karena Yongguk mengetahui rencana itu. Membuat anak yang paling diharapkannya justru semakin pergi menjauh.
"Kyungie-ah",Yongguk memanggilnya dengan lembut. Sepertinya emosi namja itu mereda.
"Wae oppa?", Sang Kyung bertanya dengan pelan, mengalihkan pandangannya dari buku yang ia baca.
"Aku lapar", Yongguk menjawab sembari mengerucutkan bibirnya, merajuk.
"Dasar manja", Sang Kyung memandang kesal dan segera pergi membelikan oppa-nya makanan. Yongguk hanya tersenyum lebar menatap punggung adiknya yang menghilang di balik pintu.
-3-3-3-3-
Sang Kyung menunggu di kursi kantin studio musik itu dengan membaca buku. Mengacuhkan segala kesibukan lain yang ada di studio itu. Suasana cukup ramai karena ini hari Minggu. Banyak orang datang untuk bekerja atau segara nongkrong bertemu dengan teman-teman sekelompoknya. Ia akan datang kemari tiap minggu untuk menemani namja gusi besar itu atau kepentingan lainnya. Yongguk termasuk anggota Seoul Connection sejak dulu, membuatnya terkadang tampil di akhir minggu. Dan tentu saja Park Sang Kyung harus ada di sana menonton.
Keasyikan membaca ia tak sadar di depannya sudah duduk seorang namja yang menatapnya diam. Tak berniat mengacaukan konsentrasi yeoja yang ada di depannya. Begini saja sudah cukup. Hingga kepala yeoja itu terangkat dari bukunya dan menatap kaget namja di depannya.
"Kembali membaca", perintah namja itu dengan wajah datar.
"Siapa kau menyuruhku?", Sang Kyung menatap dengan tajam.
"Baiklah kalau kau mau berbicara denganku", senyum jahil terlihat jelas di bibir namja itu sekarang menampilkan sepasang lesung pipinya.
"Ah aku lebih suka dengan saran pertamamu. Terima kasih Kim Namjoon-ssi", ucapan sinis Sang Kyung justru membuat Namjoon tersenyum lebar.
"Sama-sama. Kau menemani guru killer itu lagi ya? Tidak membawa teman masa kecilmu sekalian?", sindir Namjoon.
"Iya dan tidak".
"Kenapa? Bukankah kalian begituuuu dekat? Sampai bergandengan tangan di sekolah. Kau tak bisa jalan sendiri ya sekarang? Baguslah", namja di depannya begitu antusias menjahili. Tapi jangan remehkan Park Sang Kyung saat seperti ini.
"Kenapa? Kau cemburu? Hm wajar saja, bahkan kau sampai harus pergi ke kamar mandi untuk menangis. Tidak apa Namjoon-ssi, itulah namanya first love. Sudah ya, aku harus kembali menemani guru killer tampan itu. Bye!", bertepatan dengan salam selamat tinggal dari Sang Kyung, Namjoon hanya bisa diam di tempat tak bisa merespon apapun. Sedang yeoja cantik itu sudah pergi menghilang dari kantin sembari membawa satu cup ramyeon.
"Rapmonster!", seseorang menepuk pundaknya dengan keras. Pandangannya langsung teralih.
"Kau kenapa? Jangan-jangan Sang Kyung tadi…"
"Hoseok-ah… euh I mean Jhope", Namjoon menggelengkan kepalanya, berusaha memfokuskan dirinya.
"Ya waegeurae?", tanya Hoseok panik.
"Aku harus mengalahkannya", perkataan Namjoon membuat Hoseok tertawa pelan.
"Okay okay, kalahkan yeoja perfect itu Namjoon-ah. Sampai nanti kau jadi tua dan beruban", Hoseok langsun tertawa sembari berlari menjauhi Namjoon. Sedangkan yang diejek hanya bisa menundukan kepalanya lesu. Merasa tak ada harapan untuk dirinya ke depan.
'Kenapa aku harus jatuh sesulit ini Tuhan…'
-3-3-3-3-
Himchan menunggu dengan tenang di depan gerbang sekolah. Menatapi tiap-tiap siswa yang datang, takut Sang Kyung terlewat dari pandangannya dan masuk ke sekolah duluan. Dari belakang, tiba-tiba seseorang menghampirinya dan menepuk pundaknya pelan. Himchan berbalik dengan cepat dan memandang orang itu dengan tatapan dingin.
"Hey hey calm down boy! Aku datang dengan ramah. Jangan menatapku dengan tatapan seperti itu", orang itu sedikit panik melihat tatapan namja cantik di depannya.
"Kau siapa?", tanya Himchan dingin.
"Ah kau benar-benar ice prince ya? Aku Suga, teman sekelasmu sendiri. Hmm… mungkin kau tak mengenaliku karena ya… kau memang tidak peduli juga", jelas namja bernama Suga itu dengan senyum canggung.
"Ada apa?", kembali suara dingin itu serasa menyergapnya.
"A… ah aku juga menunggu Kyungie. J-jangan salah paham! Aku teman baiknya Kyungie, sungguh", Suga menatap Himchan dengan gugup.
"Kau dekat dengannya karena?"
"Karena aku tahu siapa yang dia sukai", jawab Suga cepat. Himchan langsung menaikan sebelah alisnya dengan curiga.
"Hhmm… baiklah. Di kelas nanti kau tukar duduk dengan manusia di sebelahku", perintah Himchan.
Suga menatap Himchan dengan kaget. Kenapa urusannya jadi sepanjang ini…
-3-3-3-3-
Himchan menatap Suga dengan diam. Wajah namja semanis gula itu hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Rasanya ia salah telah memberitahu Himchan tentang orang yang disukai Park Sang Kyung. Salah ya?
"Jadi benar namja itu? Kupikir tebakanku salah. Bisa kau bercerita tentang orang bernama Namjoon itu?", pinta Himchan.
Suga hanya bisa menggaruk kepalanya semakin keras. Apa ia harus memberitahu namja menyeramkan di depannya ini ya? Kalau Sang Kyung marah padanya bagaimana?
"Tenang, Kyungie tidak akan marah padamu. Ia tahu aku seperti apa kalau sudah meminta", Himchan mengerti keadaan Suga saat ini, karena dirinya pun tidak suka dengan seseorang yang mengumbar rahasianya. Sehingga Sang Kyung pun begitu. Hanya saja karena Sang Kyung juga pasti tahu Himchan seperti apa, ia akan memaafkannya.
"Namanya Kim Namjoon, dia itu anak paling jahil di kelas. Berteman baik dengan Jackson, siswa dari Hongkong. Kau tahu kelas kita tidak bodoh, bahkan banyak anak pintar di sana, hanya saja memang anak kelas kita yang paling nakal. Namjoon itu sangat pintar dan tidak banyak ulah dulu makanya ditempatkan di kelas A, hanya saja karena suatu masalah ia terpaksa pindah ke kelas ini", cerita Suga sembari terkadang memeriksa sekelilingnya, kali saja tiba-tiba Namjoon datang.
"Masalah apa?", tanya Himchan.
"Masalah dengan sahabat kecilmu, Park Sang Kyung".
-3-3-3-3-
"Namjoon-ah!", Jackson memukul punggung sahabat baiknya itu dengan cukup keras.
"Ya! Kau mau mati? Berhenti memukulku Jackson. Jangan menggangguku", omel Namjoon sinis.
"Ohhhhh… sepertinya uri Namjoonie sedang kesal karena kemarin bertengkar dengan Princess itu ya kan? Sudah kubilang, berhenti mengejarnya. Aku mulai kesal denganmu yang begitu bodoh", Jackson menatap Namjoon dengan kesal.
"I'm not stupid, you idiot! Mari kita lihat ke depannya siapa yang akan kalah", Namjoon begitu yakin sembari memukul kepala belakang Jackson.
"Baiklah, mari kita lihat nanti Namjoonie".
Bukan Jackson yang menjawab perkatannya. Melainkan suara yeoja yang begitu lembut namun menusuk. Segera ia membalikan badannya dan melihat dengan tajam wanita yang ada di depannya.
"Hey Jackson, tolong bersiap untuk menenangkan temanmu yang akan patah hati itu ya", Sang Kyung tersenyum manis lalu melangkah pergi tak peduli.
"Y-ya! Neo jinjja!"
-3-3-3-3-
"Iya, Namjoon memang menyukainya. Tapi sepertinya dia bodoh soal itu, bukannya mendekati dengan perlahan dan lembut, ia malah sering mengajak ribut Sang Kyung. Sampai suatu hari dirinya keterlaluan, membuat Sang Kyung marah. Saat itulah Bang songsaenim masuk dan membuat Namjoon pindah kelas", jelas Suga.
"Apa ahjussi itu tahu adiknya menyukai Namjoon?", tanya Himchan yang entah sejak kapan mukanya semakin dekat dengan Suga.
"Hmm… sepertinya tidak. Bang songsaenim hanya menganggap Namjoon sebagai pengganggu. Namjoon pun tidak tahu Sang Kyung menyukainya, karena memang Sang Kyung tidak mau terlihat kalah di depan Namjoon. Sehingga ia menunggu sampai Namjoon putus asa dan menyatakan perasaannya".
'BRAAAK!'
Pintu terbanting dengan sangat keras. Terlihat Namjoon memasuki kelas dengan muka merah padam, Jackson mengikuti di belakang. Rasanya hal buruk telah terjadi. Namjoon langsung duduk di kursinya. Suga yang melihat itu mengambil smartphone-nya dan mengetik pesan singkat.
"Kau mengirim pesan pada siapa?", tanya Himchan lagi, mendekati wajah Suga, berusaha melihat pesan yang diketiknya.
"Pada Sang Kyung, aku biasa melaporkan ini. Kalau Namjoon melakukan kejahilan dan sebagainya. Tapi sepertinya hari ini mereka habis bertengkar, jadi Bang songsaenim aman hari ini", jawab Suga tidak mempedulikan Himchan yang saat ini begitu dekat dengan wajahnya.
Himchan begitu fokus dengan pesan yang Suga kirim. Sedangkan Suga malah fokus dengan smartphone-nya. Membuat mereka berdua tidak sadar seseorang telah memasuki kelas dengan mata tajam menatap keduanya. Orang itu mendekati keduanya dengan langkah kaki yang begitu berat, namun tetap saja tidak ada yang sadar. Tangan panjangnya meraih rambut dari Himchan dan Suga lalu menarik rambut itu agar keduanya menjauh, yang lantas membuat keduanya berteriak kesakitan.
"Apa yang sedang kalian lakukan?", suara berat itu membuat mereka berhenti berteriak dan terdiam.
"A-aa… Bang songsaenim sudah datang. Ka-kami sedang…", Suga tak mampu menjawab karena gugup.
"Kami sedang membicarakanmu ahjussi!", Himchan menjawab dengan nada sedikit naik karena kesakitan. Yongguk yang mendengar itu lantas melepaskan rambut keduanya. Begitu dilepaskan keduanya langsung meringis dan mengelus kepala mereka yang kesakitan.
"Dan apa yang kalian bicarakan?", tanya Yongguk lagi sembari menatap Suga dengan pandangan tajam. Himchan menyadari hal itu, Suga akan dalam bahaya kalau begini.
"Sebenarnya aku yang berbicara tentangmu", perkataan Himchan mengalihkan pandangan Yongguk ke arahnya.
Yongguk terdiam seketika. Apa yang Himchan bicarakan tentangnya? Apa jangan-jangan-
"Aku membicarakan kenapa ahjussi terlihat tampan hari ini".
1… 2… 3…
"Whooooo! Bang songsaenim dapat pacar!"
Serentak satu kelas berteriak heboh. Perkataan Himchan yang begitu datar namun diiringi dengan tatapan polos pada mata Yongguk membuat semuanya tahu ice prince kelas mereka begitu hebat dalam berbicara. Himchan masih menatap Yongguk dengan tatapan yang sama, namun ditambahi senyum manis. Yongguk tak bergerak sedikit pun. Matanya tak dapat teralih dari seorang Kim Himchan di hadapannya.
Deg…deg…deg
Tunggu, kenapa suara detak jantungnnya terdengar di telinganya begitu keras?
"Ahjussi apa kau sebegitu terpesonanya?", pertanyaan namja cantik itu menyadarkannya. Yongguk langsung berdiri tegak dan mengalihkan pandangannya ke seisi kelas dengan tatapan tajam, membuat para siswa yang begitu berisik terdiam seketika.
"Kim Himchan haksaeng, pulang sekolah ini ke ruanganku. Kau membuat masalah besar anak muda".
-3-3-3-3-
Yongguk menatap diam wajah di depannya. Rasanya ia salah memberi namja cantik itu hukuman, karena saat ini rasanya ia yang mendapat hukuman. Dirinya entah kenapa sulit berpikir apa yang ingin dibicarakannya pada ice prince baru itu. Sedangkan Himchan masih menatapnya dengan tatapan polos tak berdosa.
"Aku berbohong, kami hanya berbicara sedikit tentang ahjussi. Aku dan Suga berbicara tentang Kyungie", Himchan akhirnya memilih memulai pembicaraan di antara mereka. Ayolah sudah 10 menit berlalu tanpa ada yang berbicara sama sekali, ia lebih memilih untuk mengalah saat ini.
"Me-memangnya ada apa dengan Kyungie?", tanya Yongguk curiga.
"Ia menyukai seseorang", jawab Himchan dengan datar.
"M-mworago?! Siapa yang disukai Kyungie?", Yongguk langsung mendekati wajah Himchan sembari menggoyangkan pundak namja cantik itu.
"Sepertinya ahjussi tidak peka sama sekali, aku tidak akan memberitahu ahjussi", jawab Himchan tegas.
"Y-ya! Jangan begitu Himchannie", Yongguk memasang wajah memelas.
"T-tadi kau memanggilku apa?".
"Him-Himchannie. Kenapa? Kau kan teman adikku", Yongguk menjawab dengan tatapan bingung.
Betapa bodohnya seorang Bang Yongguk. Apa ia tidak sadar pipi namja cantik di depannya bersemu merah saat ini? Dan jangan lupakan sikap Himchan yang berubah menjadi gugup seperti ini.
"Beritahu aku, ayolah Channie", Yongguk menggoyangkan pundak Himchan, memelas.
Bukannya menjawab, Himchan menundukan wajahnya. Telinganya ikut memerah saat ini. Tapi namja di depannya masih saja tidak sadar. Atau memang lebih baik ia tidak tahu ya? Himchan tak berani menatap namja di hadapannya itu. Ia harus bagaimana?
"Kau sakit ya? Telingamu memerah, badanmu juga panas. Apa kau baik-baik saja Himchan-ah?", Yongguk semakin menghilangkan bahasa formalnya, sembari menempelkan tangannya pada dahi Himchan, memeriksa namja itu. Bolehkah Himchan berlari kabur dari namja tampan di hadapannya sekarang?
"S-stop ahjussi", tangan Himchan meraih tangan Yongguk yang menempel pada dahinya. Menjauhkan tangan besar itu dari wajahnya. Yongguk sadar tangan Himchan begitu bergetar saat memegang tangannya.
"Kau benar-benar sakit ya?", Yongguk langsung menangkup pipi Himchan. Pipi Himchan yang putih kini semakin merah. Sungguh Himchan harus mengakhiri ini.
Himchan dengan cepat menarik tangan Yongguk, lalu mendekati wajah tampan Yongguk. Dan-
Cup~
Mengecup pipi namja tampan itu dengan cepat. Membuat Yongguk terdiam tak berkata apapun. Bahkan namja tampan itu tak bergeser sedikit pun dari tempatnya. Tangannya menggantung begitu saja di samping pinggang Himchan.
"K-kau memang tidak peka ahjussi".
"T-ta… tadi itu… tadi itu untuk apa Himchan haksaeng?", Yongguk tak mampu membendung kekagetan dan juga kecanggungannya. Apa yang tadi Himchan lakukan itu benar-benar di luar dugaan dan juga pengharapannya.
"Untuk membuatmu sadar".
Cup~
Kembali Himchan mengecup pipi Yongguk.
"Bahwa aku menyukaimu".
RnR yow…
