D.O.P.E

Rating : M masih jauh

Genre : Yaoi/Romance/Friendship/School Life

Length : Chaptered

Main Cast:

BangHim

Other Cast and Couple:

BAP

BTS

Got7

Super Junior

Park Sang Kyung (OOC)

Di chapter ini BangHime fokus Himchan dulu ya~ Happy Reading!

Sang Kyung menatap kakanya dengan khawatir. Sedari tadi Yongguk mengacak rambutnya frustasi. Belum lagi berjalan mondar-mandir di hadapannya dengan cepat.

"Oppa! Stop! Kau terlihat seperti orang depresi. Dan aku yang melihatnya jadi lebih depresi", omel Sang Kyung.

Yongguk yang diomeli langsung menatap Sang Kyung dengan tatapan bingung. Ia tidak mungkin menjelaskan apa yang terjadi pada Sang Kyung tadi sore. Tidak, tidak mungkin dan tidak akan pernah. Selama ini yang adiknya tahu, seorang Bang Yongguk tidak pernah menyukai siapa pun. Yongguk hanya memuja tiga wanita di hidupnya. Ibunya, Ryeowook, seseorang yang sudah ia anggap ibunya sendiri, dan Park Sang Kyung. Tidak pernah ada yang ia cintai selain mereka bertiga, oh kecuali musiknya. Tapi saat ini, ia menyukai seseorang, dan yang membuat hal ini bermasalah adalah orang itu adalah Kim Himchan. Sahabat dari adiknya sendiri, dan juga seorang namja! Kenapa harus Kim Himchan?!

"Ya! Berhenti berpikir oppa! Kau mulai memperlihatkan sifat menyebalkan itu lagi", Sang Kyung menjitak kepala Yongguk, lalu menarik tangan Yongguk ke sofa panti asuhan itu.

"Kalau kau punya masalah ceritakan padaku. Oppa tidak pernah menceritakannya padaku, selalu berkata baik-baik saja. Itu menyebalkan kau tahu!", kembali Sang Kyung mengomel. Yongguk terdiam sesaat. Tunggu, adiknya juga belum menceritakannya soal lelaki yang disukainya.

"Beritahu aku dulu siapa yang kau sukai", Yongguk langsung menatap Sang Kyung dengan tajam, mengintimidasi.

"M-mwo?! A-aku menyukai seseorang? Aihhh… i-itu tidak mungkin oppa. Aku kan… hanya menyukai oppa di dunia ini", Sang Kyung menatap Yongguk sembari tersenyum manis, berusaha meyakinkan Yongguk, yang sayangnya gagal.

"Jangan berbohong. Aku sudah tahu. Siapa orang itu?", Yongguk kembali bertanya dengan nada yang lebih tegas.

Sang Kyung mengalihkan pandangannya dari Yongguk. Tangannya mengetuk-ngetuk meja ruang tamu dengan pelan. Akan jadi kacau kalau oppa-nya itu tahu. Pasti berantakan. Apalagi dulu Namjoon membuat masalah dengannya, dan membuat Yongguk memillih untuk mengambil pekerjaan sebagai guru untuk dapat terus mengawasinya.

"O-orang itu… tinggi. Eung… tampan juga. Pintar dan jago musik", Sang Kyung menatap Yongguk sekilas.

"Kenapa kau malah membicarakanku eoh? Beritahu yang benar".

"Aniya! Memang orangnya seperti itu!", Sang Kyung ingin sekali mencubit oppanya yang terlanjur geer itu.

"Mwo? Jadi siapa?", Yongguk memandangi Sang Kyung dengan tatapan bingung.

"K-kim… Nam… Joon".

1… 2… 3…

"Ah Kim Namjoon. Kupikir siapa. Wait… Kim Namjoon? Namjoon yang itu?! Ya! Kau menyukai manusia buluk sepertinya?! Apa kau gila sekarang! Park Sang Kyung!".

-3-3-3-3-

Himchan menatap langit malam dengan tenang. Tak mempedulikan angin malam yang menerpanya. Rambut hitam legamnya begitu berantakan. Dingin memasuki sela-sela tubuhnya. Salahnya malah menggunakan kaos putih oblong dan celana pendek hitam. Tapi tetap saja tak akan ada yang protes akan hal itu, karena tidak akan ada yang peduli.

"Tuan? Apa kau di dalam?", suara seseorang mengagetkannya. Tapi tetap saja pandangannya tak beralih, karena ia tahu siapa yang memanggilnya.

"Masuklah Daehyun. Aku ada di balkon", jawab Himchan dingin.

Namja bernama Daehyun itu berjalan memasuki kamar Himchan. Mengambil selimut yang berada di kasur Tuannya itu. Lalu menuju balkon. Tangannya dengan perlahan membuka pintu putih di hadapannya.

"Tuan, kau bisa sakit apabila berdiam di sini terlalu lama", Daehyun menyodorkan selimut putih itu.

"Terima kasih Daehyun-ssi", Himchan meraih selimut dan menutupi kakinya.

Daehyun hanya bisa mengangguk pelan. Ia tahu setelah ini Himchan hanya akan menyuruhnya pergi. Tuannya itu memang tipe orang yang sangat dingin. Bahkan sejak Daehyun bekerja 2 tahun yang lalu, dirinya tidak pernah disambut ramah. Oh bahkan tidak ada sambutan sama sekali. Tapi Daehyun juga mengerti kenapa Himchan seperti itu. Sudah bukan rahasia lagi di lingkungan pekerja perusahaan ayahnya Himchan bahwa direktur kaya itu tak peduli dengan anaknya. Lebih tepatnya, pebisnis itu tak mau melihat Himchan. Mengingatkannya akan istrinya yang pergi. Jangan salahkan kecantikan Himchan yang diturunkan dari ibunya. Memang direktur Kim corp itu telah menghindari anaknya sejak lama, bahkan sejak Himchan masih kecil. Sekaligus menghindari istri barunya. Bahkan sampai sang istri keduanya meninggal pun, ia tidak di sana bersama Himchan. Karena itu seorang Kim Himchan selalu sendiri, atau bahkan namja cantik itu akan selalu berusaha sendiri.

"Daehyun-ssi", panggil Himchan pelan.

"A-ah ne?", Daehyun menundukkan kepalanya berusaha lebih dekat dengan Himchan.

"Bisa bantu aku mencari data seseorang? Kudengar kau cukup ahli dalam hal ini. Tiap aku kabur, kau selalu tahu aku dimana. Ya kan?", permintaan Himchan membuat Daehyun tersentak. Ini sangat jarang Himchan lakukan. Namja cantik itu tidak pernah meminta apapun.

"Ba-baiklah. Siapa… orang itu?", tanya Daehyun.

"Namanya Bang Yongguk".

-3-3-3-3-

'BRAAK!'

Yongguk menutup pintu mobilnya dengan cukup keras. Membuat beberapa murid yang berada di parkiran menatapnya dengan waswas.

'BRAAK!'

Sang Kyung menyusul kelakuan kakanya. Beberapa siswa yang ada di sana langsung pergi menjauh. Sisanya membicarakan mereka berdua dalam hati. Sepertinya ada suatu hal terjadi pada kakak adik itu.

"Hari ini, kau akan pulang denganku. Ingat itu", suruh Yongguk dingin.

"Tidak akan, karena oppa belum menceritakan apapun padaku", jawab Sang Kyung sama dinginnya.

Yongguk menghembuskan nafasnya keras. Tingkah yang paling menyebalkan dari adiknya adalah ketika yeoja cantik itu membalas perlakuan orang lain padanya, dengan cara mengikuti apa yang dilakukan oleh orang itu.

"Kau akan pulang dengan-".

"Kyungie ah!", perkataan Yongguk terpotong oleh suara husky yang dikenalnya. Tunggu, itu suara…

"Chanchan!", Sang Kyung melambaikan tangannya pada Himchan. Membuat namja itu berlari ke arahnya.

Yongguk terdiam seketika, kenangan kemarin sore masih tersimpan jelas di memorinya. Ungkapan perasaan dari Kim Himchan yang membuatnya tak bisa tidur, tak bisa diam, bahkan tak bisa bernapas dengan tenang.

"Eo-eoh annyeonhaseyo ahjussi", sapa Himchan dengan canggung, membuat Yongguk semakin tak mampu berkata apa-apa.

Flashback

Cup~

Yongguk terdiam. Untuk kesekian kalinya, di hadapan orang yang sama, ia tak mampu berkata apa-apa. Bahkan protes karena telah disentuh dengan seenaknya pun tak mampu. Badannya diam tak bergeming. Matanya tak berkedip, terlalu terkejut dengan apa yang terjadi.

"A-ahjussi? Are you okay?", Himchan bertanya sembari melambai-lambaikan tangannya di hadapan wajah Yongguk.

Mana ada orang yang akan baik-baik saja apabila secara tak terduga seseorang mengecup pipinya? Mana ada yang akan baik-baik saja kalau tiba-tiba mendapat ungkapan perasaan dari manusia sesempurna Himchan? Mana ada?!

"A-ah aku… aku rasa", lidahnya terasa kelu saat ini.

"Ah… arraseo. Gwaenchana", senyum tipis Himchan terpatri di bibir M-shape nya.

"Bu-bukan begitu… maksudku…"

"Eo-eoh? Maafkan aku ahjussi, sepertinya aku harus pulang sekarang. Annyeong!", Himchan berlari setelah mengucapkan selamat tinggal pada Yongguk. Meninggalkan namja tampan itu dengan diam yang masih menemaninya.

"Aishh… maksudku aku rasa aku juga menyukaimu bodoh!".

Flashback off

"Apa yang terjadi pada kalian?", tanya Sang Kyung canggung.

"Tidak ada", jawab Himchan singkat. Sang Kyung menatap keduanya dengan curiga.

"Yakin?".

"A-ah… kami… kami hanya pernah… berbicara sedikit tentangmu. Tidak ada apa-apa. I-iya begitu. Himchan haksaeng, tolong panggil aku songsaenim apabila di sekolah", Yongguk mengalihkan pandangannya ke arah lain. Terlalu malu untuk melihat Himchan.

"Aku pergi dulu. Kalian juga segera ke kelas", lanjut Yongguk sembari langsung melenggang pergi dengan canggung.

"Oppa makin aneh. Memang apa yang kalian bicarakan tentangku?", tanya Sang Kyung.

"Tentang kau menyukai seseorang", Himchan menjawab dengan nada datar.

"J-jadi… orang yang memberitahunya adalah… kau? Ya! Neo! Kim Himchan!".

-3-3-3-3-

Youngjae membuka halaman buku dengan asal. Menatapnya namun tidak membaca dengan benar. Siang ini ia malas pergi ke kantin untuk sekedar makan. Bahkan mengangkat pantatnya dari kursi adalah hal yang menyebalkan saat ini.

"Jae-ah!"

Pandangannya teralih seketika. Bibirnya yang tadi merengut, berkembang menjadi senyum manis. Bagaimana tidak senang kalau orang yang disukainya datang dengan membawa makanan yang sebenarnya sedang ia butuhkan.

"Jaebum-ah... aku lapar", keluh Youngjae sembari mengerecutkan bibirnya lucu.

"Arra… makanya aku ke sini membawakanmu makanan. Dasar pemalas, berjalan ke kantin saja tidak mau", Jaebum langsung mendudukan dirinya di sebelah Youngjae. Tangannya menyodorkan sandwich pada Youngjae.

"Makanlah chubby cheeks", Jaebum tersenyum jahil menunjukan eye smile-nya.

Youngjae terdiam sesaat lalu mengambil sandwich itu dengan cepat. Pandangannya sengaja ia alihkan ke arah lain. Bagi seorang Yoo Youngjae, eye smile Im Jaebum adalah hal yang paling menarik. Apalagi tambahan senyum manis dari namja tampan itu.

"Youngjae, kau tahu Kim Himchan?", tanya Jaebum tiba-tiba.

"Hmm... tentu saja. Dia kan yang membuat masalah di hari pertamanya. Wae?", Youngjae menatap Jaebum dengan sedikit curiga.

"Ah… aniya. Dia cantik, ya kan?", pertanyaan Jaebum seolah berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Youngjae hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar.

"Jaebum-ah, selesaikan dulu perasaanmu itu pada Jinyoung. Baru boleh menyukai orang lain. Arra?", Youngjae menatap Jaebum dengan tajam.

"Arraseo… hanya saja sulit. Tidak ada yang bisa seperti Jinyoung", keluh Jaebum. Youngjae hanya menatap diam.

'Yang aku lakukan padamu memang tidak seperti Jinyoung. Tapi lebih dari itu.'

-3-3-3-3-

Matanya tertutup dengan damai. Tangannya sesekali mengetuk dahan pohon. Ia mengacuhkan semua hal di sekelilingnya, kecuali musik di telinganya. Ini yang Namjoon sukai apabila berhasil kabur dari kelas. Pelajaran bahasa Inggris Kim songsaenim menurutnya sangat membosankan. Tapi di tempat ini, ketenangan menyelimuti hati dan pikirannya. Setidaknya sebelum-

'BRAAK!'

Ia terjatuh dari dahannya karena dorongan seseorang.

"O-oh… maafkan aku. Kupikir tak akan sekeras itu", sebuah tangan terulur di hadapannya.

"K-Kim Himchan? Ap-apa yang kau lakukan?", Namjoon malah terdiam menatap namja di hadapannya. Ini pertama kalinya ia diajak berbicara oleh ice prince itu.

"Ada yang ingin kubicarakan. Tapi sebaiknya kau bangun terlebih dahulu", kembali tangan putih Himchan terulur padanya. Namjoon menerima uluran itu dan berusaha berdiri dengan bantuan Himchan.

Setelah Namjoon berdiri namja cantik itu berusaha menaiki dahan pohon, lalu duduk di dahan tersebut. Melihat Himchan duduk di dahannya, Namjoon langsung mengikuti dan duduk di samping Himchan.

"Ada apa?", tanya Namjoon langsung.

"Kau menyukai Park Sang Kyung kan?".

Pertanyaan Himchan memukul telak Namjoon. Mengapa tiba-tiba manusia ini bertanya seperti itu? Apa Himchan mau meminta Namjoon menjauhi Sang Kyung karena ice prince itu menyukai Sang Kyung? Atau justru namja cantik ini marah padanya karena hal itu. Entah kenapa suasananya menjadi menyeramkan begini.

"Me… memangnya kenapa? K-kau menyukainya juga?", Namjoon bertanya dengan takut.

"Hmm iya…"

Kan… benar-

"Sebagai sahabat".

Boleh Namjoon salto sekarang? Rasanya ia telah selamat dari tembakan tentara German saat ini.

"Aku mau kau melakukan sesuatu", ujar Himchan.

"Apa?"

"Jadi begini..."

-3-3-3-3-

Yeoja cantik itu menyusuri jalan belakang sekolah dengan waswas. Pokoknya ia harus kabur dari kakaknya saat ini. Dengan begitu, Yongguk pasti akan menceritakan masalahnya. Langkahnya terhenti di depan sebuah pohon besar. Matanya memandang sekeliling dengan cemas. Himchan tidak ada dimana pun. Padahal namja itu bilang pulang ini ia akan ditemani.

"Hei beauty!".

"Waaa!"

Sang Kyung terjatuh ke belakang karena terkejut dengan apa yang hadir di depannya. Saat ini, entah darimana, mungkin dari atas pohon, Namjoon sudah berdiri di hadapannya sembari tersenyum manis. Menampilkan sepasang lesung pipit di kedua pipinya.

"Kenapa… kenapa kau bisa ada di sini?", tanya Sang Kyung panik.

"Kau lupa? Pulang hari ini kau akan ditemani kan? Ayo kutemani", Namjoon mengulurkan tangannya.

'Baiklah, pulang nanti kau ditemani'

Benar, Himchan bilang pulang nanti ia akan ditemani. Tapi namja itu tidak bilang bahwa dirinya yang akan menemani Sang Kyung. Aaihhh… Kim Himchan memang sangat menyebalkan! Dan kenapa harus Namjoon?!

"Y-yaa!"

Dengan tiba-tiba Namjoon sudah memegang tangannya dan menariknya untuk berdiri. Karena tarikannya, jarak mereka sangat dekat. Bahkan dari sini Sang Kyung dapat menatap lekat-lekat lesung pipi yang selalu membuat Sang Kyung gemas dengan namja di hadapannya.

"Kalau kau sudah puas melihatku kabari ya", godaan Namjoon menyadarkannya. Membuat Sang Kyung langsung mendorong Namjoon menjauhinya.

"Aku… aku tidak sedang melihatmu", kata Sang Kyung tajam.

"Ah benarkah? Kalau begitu jangan gugup Kyungie-ah…", Namjoon tersenyum semakin lebar.

"Jangan menggangguku. Kenapa kau ada di sini Namjoon-ssi?", tanya Sang Kyung kesal.

"Sahabat kecilmu memintaku menemanimu. Jadi ayo kita pulang bersama", Namjoon berbalik dan menggenggam tangan Sang Kyung lalu berjalan pergi.

"Wait! Apa maksudnya ini Namjoon-ssi?", Sang Kyung menahan Namjoon dan menunjuk tangannya yang langsung Namjoon lepaskan.

"Sahabat kecilmu berkata, 'Tolong jaga dia. Kalau perlu pegang saja tangannya, ia suka berjalan seenaknya'. So here I am, try to make you safe. Also he said that 'kalau ia protes dan membuatmu susah katakan saja padanya bahwa aku akan membongkar rahasianya.' Eotte? Masih mau protes?", penjelasan Namjoon membuat Sang Kyung terdiam.

"Let's go home Kyungie-ah!", ajak Namjoon sembari mengulurkan tangannya. Memaksa Sang Kyung yang menggenggam tangannya lebih dahulu. Yeoja cantik itu menghembuskan nafasnya kasar. Menatap Namjoon yang menunggu genggaman tangannya. Tangan lentiknya akhirnya menyambut tangan Namjoon dengan cepat lalu berjalan terlebih dahulu karena malu. Sedangkan Namjoon? Tentu saja sedang menjadi manusia paling bahagia di dunia ini.

Terima kasih Kim Himchan dan aku sangat ingin membunuhmu.

-3-3-3-3-

Yongguk menatap smartphone-nya dengan kesal. Kemana perginya anak itu? Padahal ia sudah bilang berapa kali bahwa hari ini anak kecil itu harus pulang dengannya. Ia sangat membenci Sang Kyung yang membangkang, karena kalau keadaannya seperti ini tandanya yeoja itu sedang kesal padanya. Dan keinginannya harus dikabulkan. Tapi kali ini, keinginan Sang Kyung adalah hal tersulit yang harus dikabulkan Yongguk. Bagaimana mungkin ia menceritakan kejadian itu pada adiknya. Bisa-bisa ia malah dibunuh oleh adiknya karena mendekati sahabat kecilnya.

"Chogiyo, ahjussi", teguran seseorang membuatnya berbalik badan.

Tepat di hadapannya Kim Himchan berdiri.

"Sang Kyung sudah pulang lebih dulu", lanjut Himchan.

Dan seperti biasa memberi pernyataan tiba-tiba dengan nada datar.

"Sudah kuduga", Yongguk mengacak rambutnya frustasi.

Himchan mengangguk ringan. Lalu berjalan pergi meninggalkan Yongguk. Ia hanya tidak tahu harus bagaimana. Lagipula tidak ada lagi yang dibicarakan.

"Himchannie, kau yang pulang… denganku".

Badannya berbalik perlahan. Menatap Yongguk sebentar, lalu mengalihkan pandangannya ke arah sebelumnya. Sepertinya Daehyun sudah menjemputnya di depan. Kalau ia kabur, Daehyun bisa kena masalah. Belum lagi kalau pengawalnya itu tahu bahwa Yongguk yang membawanya, bisa-bisa Yongguk terkena masalah juga.

"Mian ahjussi, aku tidak bisa pulang denganmu", jawab Himchan lesu. Ah betapa ia ingin pulang bersama dengan seorang Bang Yongguk.

"Memangnya kenapa?", tanya Yongguk.

"Karena aku tidak ingin ada masalah".

-3-3-3-3-

"Sampai kapan oppa akan diam menatap seperti ini? Berhenti berpikir!", bentak Sang Kyung kesal.

Memang kebiasaan Yongguk berpikir sembari menatap ke satu arah. Hal ini biasa saja sebenarnya, kecuali arah yang ia tuju adalah wajah orang lain.

"Okay! Aku akan memberitahumu. Tapi sebelumnya, ceritakan aku soal Himchan", Yongguk menatap Sang Kyung dengan tatapan pasrah.

"Hmmm… setuju. Rasanya kau juga harus mengenalnya karena ia keponakan Heechul oppa. Jadi seperti ini".

Flashback

"Chanchan… aku sudah menceritakanmu soal Yongguk oppa. Sekarang kau yang bercerita", Kyungie menatap Himchan penuh minat. Mereka sudah bersahabat selama setengah tahun, tapi Sang Kyung tak tahu apa-apa soal namja dengan gigi kelinci itu.

"Kyungie-ah, kalau seseorang bertanya tentangku kau boleh menceritakannya. Asal orang yang kau ceritakan adalah orang yang paling kau percaya. Sesuai janji kita. Okay?", Himchan menyodorkan kelingking kecilnya.

"Sesuai janji kita", Sang Kyung menautkan kelingkingnya.

"Appaku adalah direktur Kim Corp. Ia menikah dengan eomma saat masih sangat muda. Eomma adalah orang yang sangat sederhana. Dan keluarga appa tidak setuju dengan mereka. Jadi halmeoni menyuruh appa meninggalkan eomma. Appa tidak mau, tidak akan pernah mau. Namun, halmeoni memaksa eomma pergi. Ketika eomma pergi, appa menikah lagi dengan wanita lain. Semenjak itu pula appa tak pernah pulang, ia lebih mengalihkan perhatiannya pada pekerjaan. Aku tinggal bersama ahjumma yang menikah dengan appa. Hanya saja ahjumma itu juga jarang berada di rumah, jadi aku selalu sendiri", Himchan menjelaskan dengan senyum sedih.

"Apa… apa kau pernah mengunjungi appamu?", tanya Sang Kyung pelan.

"Pernah, tapi begitu melihatku ia marah. Kata Heechul samcheon wajahku mengingatkannya pada eomma. Sepertinya appa sangat merindukan eomma. Aku pun begitu, tapi tidak tahu harus bagaimana", kepala Himchan menengadah menatap langit. Seperti mengharapkan sesuatu yang tidak akan pernah terjadi.

"Chanchan-ah, kau tidak sendiri. Aku kan di sini denganmu. Park Sang Kyung janji tidak akan meninggalkan Kim Himchan", hibur Sang Kyung.

"Kalau aku yang pergi?", Himchan menatap Sang Kyung khawatir.

"Aku akan menunggu Himchan kembali".

Flashback off

"Appanya begitu terobsesi pada eommanya Himchan. Sampai saat ini ia masih mencari istrinya, tapi nihil. Hal itu membuat Himchan semakin terasing. Ia pernah beberapa kali kabur dari rumahnya. Tapi ia akan selalu kembali dan tak melawan ketika ada yang menjemputnya. Himchan pikir cukup eommanya yang pergi".

Yongguk terdiam. Rasanya dikurung oleh appanya jauh lebih baik dibanding dengan apa yang Himchan alami. Ia tak tahan dengan belenggu appanya, dan memilih melawan lalu pergi. Sedang Himchan? Begitu kuat tak protes sedikitpun. Bahkan kembali sesaat setelah memilih pergi. Atau justru kekuatan Himchan adalah kelemahannya sendiri?

"Sang Kyung ah", panggil Yongguk lesu.

"Wae oppa?".

"Aku menyukai sahabat kecilmu itu".

-3-3-3-3-

Himchan memasuki gerbang sekolah dengan tenang seperti biasa. Tapi tetap saja banyak mata yang akan menatapnya dengan takjub dan penuh rasa ingin tahu. Kim Himchan begitu menarik perhatian dengan hanya berjalan melewati kerumunan. Jangan salahkan mata para siswa yang hanya ingin menikmati sedikit keindahan di pagi hari.

"Kim Himchan-ssi", seorang namja dengan pipi yang agak chubby mendekatinya sembari tersenyum kecil. Himchan terhenti dan hanya menatapnya tajam.

"Aku Yoo Youngjae, teman sekelas Sang Kyung. Ia menunggumu di ruang musik. Katanya ada yang ingin dibicarakan", jelas Youngjae. Himchan hanya membalasnya dengan anggukan.

"Kalau begitu aku per-"

"Youngjae-ssi antarkan aku ke sana. Aku tidak tahu ruang musik dimana", pinta Himchan. Youngjae yang mendengar permintaan Himchan itu langsung tersenyum lebar.

"Mari kuantar".

-3-3-3-3-

Himchan menghampiri yeoja itu dengan langkah ringan. Entah apa yang ada di pikiran yeoja itu saat ini, tangan lentiknya menopang wajah cantik itu. Sepertinya sahabat kecilnya sedang banyak berpikir. Tangan Himchan terulur lalu menggasak pelan rambut panjang Sang Kyung.

"Eoh? Chanchan! Kau sudah datang?", Sang Kyung sedikit terkejut dengan kedatangan Himchan.

"Hmm… ada apa Kyungie? Sepertinya kau sedang banyak pikiran", Himchan mendudukan dirinya di samping Sang Kyung.

"Kita bolos saja ya sampai istirahat... ada yang ingin kubicarakan", pinta Sang Kyung.

"Aku sih tidak apa. Tapi kau?", Himchan tersenyum jahil melihat sahabatnya yang sedikit merajuk.

"Gwaenchana. Dua jam ini adalah pelajaran Yongguk oppa. Paling aku hanya ditegurnya sedikit", jawab Sang Kyung sembari menatap Himchan.

"Ah ya sudah. Jadi ada apa? Kau marah ya soal kemarin? Mian, aku hanya ingin membantu", kembali senyuman jahil itu muncul di wajah Himchan. Sang Kyung langsung menatap kesal Himchan.

"Benar, seharusnya aku marah padamu soal itu. Tapi untuk saat ini aku tidak akan membahasnya. Aku akan berbicara tentangmu dengan…", Sang Kyung menatap Himchan. Meminta namja itu melanjutkan ucapannya.

"Dengan siapa?", tanya Himchan polos.

"Dengan oppaku, Bang Yongguk".

Flashback

"Aku menyukai sahabat kecilmu itu"

1… 2… 3…

"Aku sudah menduganya kkk", Sang Kyung tertawa kecil. Yongguk menatapnya dengan curiga. Darimana yeoja ini tahu? Apa jangan-jangan adiknya itu melihatnya saat sedang bersama Himchan kemarin?

"Aku tau tentang kalian berdua oppa. Jangan bodoh. Oppa tidak pernah terlihat segugup itu di hadapan siapa pun, bahkan saat Bang ahjussi membentakmu di depan banyak orang. Kau selalu terlihat dingin dan menyeramkan. Semenjak Himchan datang kau terlihat… bodoh?".

"Y-ya! Aku tidak bodoh", Yongguk mencubit sekilas adiknya.

"Kkk aku juga tahu Himchan. Kami agak mirip dari cara menunjukan hal itu. Seolah tidak ada apa-apa yang terjadi. Himchan dan aku ahli dalam menyembunyikan. Seolah-olah orang itu menyukai kami lebih. Padahal belum tentu. Tapi oppa tidak bagus dalam hal itu. Sehingga aku tahu begitu saja. Bedanya aku benar-benar tidak akan memberitahu orang itu. Sedangkan Himchan lebih memilih berkata yang sejujurnya. Dia memang polos oppa, selalu jujur dan datar dalam mengatakan apapun", ujar Sang Kyung.

'Iya termasuk saat menyatakan perasaannya padaku Kyungie-ah'.

Flashback off

"Tentu saja kau tahu Kyungie-ah", Himchan tersenyum kecil.

"Aku merestui kalian kok", Sang Kyung menjawab dengan balik tersenyum.

"Tapi aku tidak".

"W-waeyo chanchan?"

"Karena suatu saat nanti aku akan pergi lagi".

TBC

Thank you for reading… I'll be more grateful if you review my story.

Gomawo!