(Antonio cinta hujannya, terlepas jadi pahlawan atau tidak.)

.

.

.

the world sees her life

Hetalia – Axis Powers © Hidekaz Himaruya. Penulis tidak mengambil keuntungan material apapun atas pembuatan karya; ditulis hanya untuk kesenangan.
Pairing: Spain/Belgium. Genre: General. Rating: K+. Other note: various short drabbles; for spabelweek 2016. spin-offs for a series in ao3.


Kau yang memegangkan payung untuk kalian, karena dia tak henti marah pada dunia lewat kepalan tangannya. Dan hujan terus berjatuhan di atas kalian, di atas orang-orang yang masih penuh harapan, dan di atas semua umat manusia yang akhirnya lupa pada keinginan penuh keputusasaan mereka pada matahari karena proyek-proyek baru itu.

Santiago memang sang hero; atas prakarsanya pada pembangunan Kubah, Segitiga dan Kubus untuk melindungi umat manusia dari bencana tak berkesudahan dan hujan yang lupa berhenti.

"Antonio," kau tahu dia sedang susah disentuh, "Kaupikir hal terbaik adalah menjadi pahlawan?"

Dan dia, andai berada di tanganmu, kecil dan sekepalan tangan, dia akan remuk, merepih bahkan untuk sentuhanmu yang paling pelan. Dia kereta kuda tanpa sais yang doyong, yang juranglah tujuan terakhirnya. Beratus tahun kalian bersama, kautahu dirinya bagaimana, dan ini yang terkacau.

Dia bergumam, suatu kejujuran yang kau tak sangka akan dia ungkapkan,

"Aku hanya tidak ingin dia mencuri tempatku di dirimu."

Kau menurunkan payung. Kau menatapnya, seolah kaulah pangeran dan dunia ini terlihat secara sebaliknya,

"Tak semua wanita ingin mencintai pahlawan."

Ia bermandikan hujan dan kau begitu mengagumi wajahnya. Kau ingin menciumnya tetapi dia bukan tuan putri yang akan luluh dengan kontak fisik. Tidak, tidak semua kisah cinta seperti itu.

Kau menyingkirkan ujung-ujung rambutnya dari keningnya yang sudah begitu sering berbenturan dengan bumi atas segala perang.

"Jika seluruh wanita adalah untuk pahlawan, terlalu sedikit kisah-kasih yang terjadi di bumi."

"Kau mengagumi Santiago, aku tahu." Tetapi ia memegang tanganmu. Mengekang tidak, tetapi ia begitu putus asanya berharap meski tanpa kata.

Kau tersenyum. "Untuk buah pemikirannya yang itu, oke. Sisanya—aku sudah bersama seorang Antonio terlalu lama untuk mencari tempat lain."

Untuk pertama sejak sekian tahun hujan ini tak berhenti; Antonio cinta hujannya.

Dan kau tahu pasti.