All Alone with You—chapter 2 (End)
2 bulan berlalu. Pusat Rehabilitasi.
"Ini huruf apa Petra?" tanya suster Rico.
"D"
"Bukan, itu adalah huruf A, ulangi sekali lagi ya, A B C D" suster Rico mengajari Petra dengan ramah.
"A D C B" Petra mengeja.
"Petra kau sering latihan lagi ya? Ah ayahmu datang Petra, kau tetap disini ya?"
"A-ayah? Ayahku?" Petra melihat tuan Ral mendekatinya. "Memangnya dia ayahku?"
"Tentu saja, dia ayahmu, bersikap ramahlah padanya" kemudian suster Rico pergi.
Tuan Ral menyapa Petra. "Petra bagaimana kabarmu?"
"Aku... baik-baik saja..." Petra berbicara dengan tatapan kosong.
"Kalau begitu siapa nama lengkapmu?" tanya tuan Ral tidak mau menunjukan kesedihannya.
"Aku tidak tahu... orang-orang selalu memanggilku dengan nama Petra, mugkin itu namaku. Aku tidak tahu nama belakangku..." jawab Petra datar. Dada tuan Ral sakit ketika berbicara pada putrinya tapi di anggap orang lain.
Tuan Ral hanya tersenyum. "Ngomong-ngomong, kau kedatangan tamu"
"Tamu?..."
"Iya, tamu itu adalah orang yang berada di foto yang selalu kau bawa." Kemudian tuan Ral menyuruh tamu itu untuk menemui Petra di teras kamar tempat rehabilitasi. Kemudian tuan Ral pergi untuk memberi waktu untuk mereka saling bicara.
Petra berdiri, bersamaan dengan itu sebuah foto terjatuh. Kemudian tamu itu menunduk untuk mengambil foto yang terjatuh dan mengembalikan kepada Petra.
Petra mengambil foto itu lalu membungkuk. "Terima kasih..."
Tamu itu memandang Petra tanpa kedip. Perlu beberapa detik untuk tamu itu membuka suara kembali. "Apa kau... tidak mengenaliku?"
Petra hanya menatap tamu laki-laki itu tanpa ekspresi. "Apa saya kenal anda?... Anda siapa?..."
Dengan perasaan campur aduk tamu itu mengenalkan diri. "Aku Levi Ackerman, senang berkenalan denganmu." Petra hanya menunduk kecil menghormati Levi.
Levi bertanya pada suster Rico yang tidak jauh dengannya. "Apa Petra diperbolehkan jalan-jalan?" suster Rico mengangguk.
Petra dibawa menuju pemberhentian terakhir halte bus sekolah Trost. Didampingi dengan suster Rico. Petra berdiri menghadap jalan, kemudian sebuah bis melintas dan berhenti. Levi turun dari bis lalu menyapanya. "Selamat siang, Petra"
Petra hanya diam, dia hanya merasa aneh dengan orang yang menyapanya itu. Kemudian Levi menggandeng tangan Petra menuju sekolah Trost yang sudah sepi. Sedangkan suster Rico hanya mengikutinya dari belakang.
Seorang satpam tersenyum sambil membuka gerbang sekolah. Ia adalah tuan Ral, ia menyamar sebagai satpam sekolah untuk mengembalikan ingatan Petra.
Kemudian Levi mengajaknya menuju kelas. Dan mengeluarkan sebuah bekal dengan kotak bekal berwarna pink. "Kau belum makan siang, kan?"
Petra menggeleng. "Mari makan bersama denganku" kata Levi. Ada tiga orang yang masuk kelas, ia adalah Erd, Auruo, dan Gunther yang masih mengenakan seragam sekolah, tak terkecuali Levi sendiri. Mereka duduk dibangku lain, berpura-pura dengan kesibukkannya masing-masing. Aurou tidak bisa lagi menahan tangisnya, karena Petra benar-benar tidak mengenalinya dan teman yang lain.
Petra memakan pelan bekal yang dibawa oleh Levi. Matanya beralih menuju keliling kelas karena Levi terus saja menatap Petra tanpa kedip. Kemudian Petra bergumam sendiri sebelum suster Rico memberinya minum. "Tempat ini... sepertinya tidak asing... didalam kenanganku... mimpi... aku tidak ingat..."
Ditengah berpikirnya, Petra melihat mata Levi mengembun. "Mengapa anda menangis?"
Levi menunduk dan menggertakan giginya untuk tidak terus terlarut suasana yang menyedihkan ini. Petra berdiri menuju jendela, melewati Erd, Gunther dan Auruo. Matanya memandangi lapangan sekolah diluar sana tanpa ekspresi. Tiba-tiba Petra jatuh pingsan. Dan Petra dibawa ke rumah sakit.
0o0
Tahun Ketiga SMA.
"Yeay! Akhirnya kita naik kelas 3, rasanya aku ingin cepat-cepat lulus dari sekolah ini" sahut Hanji riang.
"Aku juga ingin cepat lulus, aku malas melihat manusia sampah sepertimu" kata Levi ketus.
"Huh kau tak berubah Levi" Hanji mendengus.
Sementara itu.
"Bagaimana dokter apa Petra mengalami kemajuan dari komanya?" tanya tuan Ral pada dr. Ness, sedangkan orang yang ditanya menggeleng. "Ia sudah seminggu terbaring koma, tapi tidak ada perubahan sama sekali." tuan Ral hanya memandang nanar putrinya yang terbaring lemah diranjang rumah sakit. Mata Petra terpejam, terlihat tenang. Seolah-olah sedang tertidur.
Petra POV
Aku membuka pelupuk mataku, melihat langit biru membentang luas di atas sana. Kemudian aku terduduk untuk menelusuri apa yang ada dihadapanku. Seperti taman luas berwarna hijau yang entah dimana pembatasnya.
Kemudian aku melihat seorang wanita cantik bersurai sama sepertiku, ia duduk di bangku memakai gaun putih bersih tanpa noda. Aku mendekatinya dan ia melihatku. "Ibu" wanita itu ibuku, aku buru-buru memeluknya karena sangat merindukannya. Aku bahkan sampai lupa kapan terakhir kali aku memeluknya.
Aku duduk disamping ibu. "Ibu, kau sedang apa disini? dan ini tempat apa?" tanyaku.
"Ini hanya sebagian kecil dari surga, ibu kesini mau menjemputmu" ibuku tersenyum sangat cantik.
"Apakah surga adalah tempat yang sangat damai, dan tidak ada kesedihan?"
"Tentu saja, di surga hanya ada kebahagiaan. Apa kau mau ikut ibu masuk gerbang surga itu?"
"Aku mau tapi... aku ingin pamit dulu dengan ayah dan teman-temanku"
"Baiklah, ibu akan menunggu putri ibu yang sangat cantik ini" ibu mencubit pipiku.
.
.
.
Petra bersusah payah membuka mata yang seakan di lem super kuat. Tangannya yang dipenuhi oleh jarum infus berusaha membuka masker oksigen.
Tuan Ral yang menyadarinya segera menyapanya. "Ah Petra! kau sudah bangun nak?" ujar tuan Ral antusias.
"A-ayah" Petra menangis.
"Petra, kau mengenal ayahmu nak" tuan Ral tak bisa menahan rasa harunya.
"Uhm, aku sangat rindu ayah" Petra menyeka matanya yang di penuhi air mata.
"Ayah... aku ingin jalan-jalan bersama ayah, sepertinya sudah lama sekali tidak pergi bersama ayah" pinta Petra.
"Baiklah, ayo kita jalan-jalan sekitar sini." ucap tuan Ral setelah mendudukan Petra di kursi roda.
"Ayah, sebenarnya tadi aku bermimpi bertemu ibu..." sahut Petra di sela-sela jalan bersama ayahnya, tuan Ral punya firasat buruk .
"Benarkah? Apa dia masih cantik?"
"Uhm tentu saja, dan dia menitipkan salam untuk ayah, terima kasih sudah menjagaku katanya"
"Souka..." tuan Ral masih mendorong Petra di kursi rodanya.
Petra menoleh ke belakang. "Ayah, apa kau membawa ponselku? Apa aku boleh meminta ponselku"
"Ya tentu saja ini" tuan Ral memberinya ponsel.
Petra mengeceknya. "Masa aktifnya masih lama, apa ayah selalu mengisinya?"
"Tentu saja takut sewaktu-waktu kau membutuhkannya"
"Arigato, ayah." Petra sibuk mengecek ponselnya, ia agak terharu ketika ponselnya di penuhi dengan email oleh teman-temannya, yang sangat mengkhawatirkannya saat tiba-tiba ia mengundurkan diri dari sekolah, bahkan Levi yang cuek mengemailnya.
Petra kau kemana saja? Sebenarnya aku rindu saat-saat kau perhatian padaku, membuatkan bento untukku, mengajakku pulang bersama, menungguku di halte bus, dan hal lainnya. Aku ingin kau melakukannya lagi saat tahun ke tiga. Sebenarnya dadaku sesak saat terakhir kita study tour ke museum titan, kau menghilang dan kau tak mengenaliku dengan emoticon sedih di akhirnya.
Petra menyeka air matanya. "Ayah... boleh minta tolong..."
"Apapun itu sayang"
"Tolong ketikkan pesan untuk teman-temanku, aku sudah tidak kuat untuk mengetiknya yah..."
"Baiklah."
Sementara itu di sekolah. Aurou mendapat email dari Petra dan membuka pesannya.
Pip!
"Auruo, berhentilah meniru orang lain, aku sangat menghargai jika kau menjadi dirimu sendiri. Maafkan aku yang selalu bicara 'seharusnya kau mati saja dengan lidah terpotong'. Sekali lagi, aku minta maaf."
"Hee aku dapat email dari Petra! Tumben sekali dia tidak kasar padaku, dan apa dia sudah mengingat?" sahut Auruo pada rekannya.
Pip!
"Eh, aku juga dapat!" ujar Erd.
"Erd, kau jangan terlalu banyak main games. Cobalah bermain games yang bisa mengasah otakmu."
Pip!
"Aku juga! Aku juga!" Gunther antusias.
"Gunther, kalau baca komik jangan lupa waktu dan juga luangkan waktu untuk belajar."
Pip!
"Erwin, menurutku kau cocok jadi pemimpin. Aku titip teman-temanku padamu ya?"
Pip!
"Sasha, sebaiknya kau makan pelan-pelan agar lambungmu tidak kaget."
Pip!
"Hanji, kau cocok menjadi seorang ilmuwan, semangat ya!"
Pip!
"Jean, kau bisa mengurangi pertengkaranmu dengan Eren. Berbaikanlah dengannya."
"Hei aku dapat email dari Petra" kata seseorang dikelas.
"Iya aku juga"
"Dia berpesan menasehati"
Levi melirik teman-temannya yang dapat email dari Petra. Hampir satu kelas Petra mengemail, Levi mencoba membuka ponselnya namun kosong, tidak ada pesan, Levi sedikit kecewa.
"Kau dapat pesan apa dari Petra? Bukannya kau sangat merindukannya?" tanya Erwin tiba-tiba.
"Tidak penting, pirang." Kata Levi nista.
Kemudian ponsel Levi bergetar. Ia segera membuka email yang bertengger pesan dari Petra Ral.
"Levi, jangan lupa selalu membawa payung saat musim hujan agar aku tidak kerepotan membawa dua payung... aku senang membaca pesanmu, terima kasih. Levi... jika kau tidak keberatan, aku ingin menyimpan rasa sayang ini tetap disisiku walaupun suatu saat kita berbeda dimensi."
"Berbeda dimensi? Maksudnya apa?" Levi bingung.
Sementara itu.
Petra sudah lelah. Berkali-kali ia memejamkan mata. "Ayah, aku mengantuk... aku ingin kembali berbaring..."
"Ini baru jam 10 pagi, dan kau baru saja bangun sayang..."
"Tapi badanku lemas yah... seperti kapal yang karam."
"Baiklah" tuan Ral mambawa Petra dan membaringkannya di ranjang.
"Ayah... jika suatu nanti benar-benar ada reinkarnasi, aku ingin jadi anakmu lagi. Bermain bersama, mendongengi dan menyanyikan lagu twinkle twinkle little star sebelum aku tidur, menemaniku menghitung domba saat aku tak bisa tertidur, dan berangkat sekolah bersama ayah. Aku selalu ingin melakukan kegiatan bersama-sama dengan ayah." tuan Ral hanya mendengarkan putrinya yang mengoceh sambil mengelus kepalanya.
"Ayah, aku ingin ayah bernyanyi twinkle twinkle little star lagi sebelum aku tidur... jika ayah sudah selesai bernyanyi ulangi lagi dua kali, lalu bangunkan aku ya dalam hitungan tiga, jika aku tetap tidak bangun... aku sudah terlelap dengan tenang. Ayo bernyanyi yah, aku siap mendengarkan dan maafkan aku menjadi putrimu yang tidak berguna. Ayah bernyanyilah... aku sudah sangat mengantuk..." Petra mulai memejamkan matanya dan mendengarkan.
Mulut tuan Ral terasa berat untuk bernyanyi. "Baik," singkat tuan Ral sedih. "Dengarkan ayah bernyanyi untukmu." Petra mengangguk dengan matanya yang terpejam. Tuan ral bernyanyi sambil memegang tangan putrinya.
Twinkle, twinkle, little star,
How I wonder what you are.
Up above the world so high,
Like a diamond in the sky.
Twinkle, twinkle, little star,
How I wonder what you are!
Petra terbangun di taman luas dan ibunya mengulurkan tangan ke arahnya. "Petra raih tangan ibu"
"Iya ibu..." aku meraih tangan ibu sangat erat kemudian menghilang menjadi asap.
Petra POV END
When the blazing sun is gone...
When there's nothing he shines upon,
Then you show your little light,
Twinkle, twinkle, through the night...
Twinkle, twinkle, little star,
How I wonder what you are!
Tuan Ral merasa tangan putrinya perlahan lepas. Ia melanjutkan bernyanyi lagu ketiga. Lalu tiba-tiba nyanyian itu berubah menjadi isak tangis dan air mata. Tuan Ral tidak bisa berbuat apa-apa. Butuh keberanian besar untuk membangunkan Petra. Tuan Ral kemudian menguasai dirinya.
"Petra, ayah selesai bernyanyi bangunlah"
Tuan Ral menggerak-gerakkan bahu Petra untuk kedua kali. "Bangun Petra."
"Petra, buka matamu" sama sekali tidak ada respon dari Petra.
Tuan Ral diam, mengharapkan jawaban yang ia tahu tidak akan diterimanya setelah bersusah payah melihat monitor menampilkan garis lurus. "Kau sudah pergi tiga menit yang lalu. Sekarang kau sudah tidur dengan tenang..." kemudian tuan Ral mengecup kening putrinya.
0o0
"Mohon perhatian semuanya" sahut Keith sensei mengintruksi di depan kelas. "Rekan kita yang sudah lama kita kenal bernama Petra Ral, meninggal hari ini."
"A-apa..." semua terkejut tak percaya, ada yang langsung menangis dan menyalahkan diri.
Tangan Levi tiba-tiba bergetar, ia tidak mau percaya setelah mendengar kata-kata senseinya barusan. Langkahnya terasa berat ketika ia ingin pergi ke toilet sambil memasukan tangannya pada saku untuk menyembunyikan tangannya yang bergetar hebat.
Ia mengunci pintu toilet. Badannya kebas nyaris ambruk. Ia mengumpulkan energi untuk menuju westafel, kemudian membasuh wajahnya dan menatap bayangan wajahnya di cermin. Matanya merah dan berair, ia menundukkan kepala dengan kedua tangan bertumpu pada pinggiran westafel. Levi berbisik kecil. "Petra katakan padaku bahwa semua ini bohong... aku bahkan belum meminta maaf padamu sekalipun.."
.
.
.
Gadis bersurai coklat karamel bernama Petra Ral berbadan mungil itu terbaring kaku di dalam peti mati. Seluruh tubuhnya berkulit pucat dengan tangan yang bertumpu di bawah dadanya. Bibirnya terlihat biru. Matanya yang terpejam dan di balut dengan gaun putih yang sangat indah, tidak ada yang menyangka jikalau tubuh itu sudah kehilangan nyawanya.
Seluruh keluarga serta teman-teman berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir untuknya, membuktikan bahwa ia pernah berjuang untuk hidup. Mereka menanti prosesi penutupan peti sebelum diratakan oleh tanah. Lelaki tanpa ekspresi hanya menatap kosong gadis yang terbaring mati itu, ia menatapnya tanpa berkedip bahwa ia tak percaya jika gadis dihadapannya ini yang pernah memberikan perhatian lebih padanya kini sudah mati.
Rasa bersalah kini melandanya. Tidak sempat untuk minta maaf, tidak sempat bilang bahwa dirinya mulai kehilangan dan menyukainya, Tidak sempat menerima dan menikmati bento buatan tangannya, Tidak sempat pulang bersama dengannya, Tersenyum saat ia menunggunya, Belum sempat berterima kasih dan mengembalikan payungnya.
Semuanya… semua hal kecil yang gadis itu lakukan belum sempat ia membalasnya. Belum sempat mengembalikan senyumnya saat ia mematahkan semangat hidupnya. Sekarang ia tidak bisa meminta untuk menunggunya lagi. Bahkan ucapannya selalu kasar padanya, terlebih di atap sekolah.
Levi melepaskan cengkeraman tangannya pada Petra. "Kau bersekutu kan dengan Keith sensei?!" wajah Levi memerah dan matanya membulat.
"Apa maksudmu Levi? Aku tidak mengerti."
"Kesabaranku sudah habis Petra. Jangan pura-pura bodoh! Kau sengaja mengatakan kepada Keith sensei agar aku mengutamakan untuk menjagamu saat study tour nanti, kan?" ucap Levi memarahi.
"A-aku tidak tahu. Aku bahkan baru tahu jika ada study tour... aku mohon Lev, percaya padaku" Petra memeluk tangannya sendiri yang gemetaran.
"Tapi sayangnya, aku tidak bisa percaya dengan-mu!" kata Levi sambil menunjuk Petra. Petra menunduk dan tidak berani menatap matanya yang tajam.
"Mumpung kau disini. Aku tidak akan mengulangi kata-kataku.Jadi dengarkan baik-baik.Berhenti menungguku!Berhenti membawakan bento untukku!Urusi saja dirimu sendiri!Kau tidak tahu betapa aku sangat membencinya!" pekik Levi dengan nada tinggi.
Petra baru saja akan bicara,namun Levi memotong kata-katanya tanpa sedikitpun memberinya cela. "Kau tahu tidak? Karena-mu, aku jadi malas sekolah karena setiap pagi aku harus selalu melihat wajahmu, dan aku juga membenci melihat kotak bekal pink-mu itu!" kata Levi menusuk.
Petra tersentak dan sebutir air mata jatuh bergulir dipipinya. "T-tapi…" suaranya habis.
"Dan satu hal lagi, aku ingin kau tidak pernah muncul lagi dihadapanku." Levi muak.
"M-maksudmu... kau ingin aku benar-benar menghilang? Tapi aku harus bagaimana..." katanya lemah.
"Terserahlah kau mau pergi kemana saja. Mau pindah kelas atau sekolah, aku tak peduli. Hadirnya dirimu hanya mengacaukan hidupku. Anggap saja kita tidak pernah saling kenal, dan jangan bicara lagi padaku." Desis Levi murka, kemudian meninggalkan Petra sendirian di atap sekolah.
Levi tak sanggup lagi, matanya mulai mengembun dan nyaris menangis saat peti itu mulai diratakan dengan tanah. "Maaf." hanya itu yang bisa ia ucapkan, walaupun ia sudah tahu orang yang seharusnya mendengarnya tidak akan pernah mendengar lagi.
Erwin menepuk bahu Levi. "Ayo kita pulang..."
"Tidak, kau duluan saja. Aku masih ingin disini menemaninya" kata Levi serak sambil menunduk muram. Tangan rampingnya masih erat memegangi bunga buket.
"Souka, kalau begitu aku pergi dulu" Erwin pergi dengan teman yang lain. Semua kerabat dan teman dekat Petra sudah pulang dan merelakannya. Sedangkan Levi masih mematung sendiri di depan pusara gadis itu.
Awan mulai menghitam. Yang bisa Levi lakukan hanyalah bertekuk lutut di tanah menghadap pemakaman Petra. "Maaf! Aku benar-benar minta maaf! Walau begitu ku tahu, aku tidak bisa lakukan apa-apa untukmu. Tapi setidaknya hari ini aku akan mengaku... aku cinta padamu, Petra."
Kalimat terakhir membuat dada Levi sesak sambil menyentuh nisan Petra. Ia sangat ingin mengaku langsung padanya. Tapi penyesalan selalu datang di akhir. Menuntut untuk Tuhan mengembalikan Petra pun tidak mungkin. Rasanya seperti kemarin, dan kini mereka telah berbeda dimensi.
Levi berdiri kembali dan meletakan sebuket bunga diantara banyaknya bunga. Gadis baik hati seperti dirinya pasti banyak yang menyayanginya. Tak terkecuali dirinya pun dibuat luluh karena usahanya. Gadis pekerja keras. Dengan terpaksa Levi harus meninggalkan Petra sendirian di pemakaman.
0o0
5 tahun kemudian.
Levi membuka matanya yang terasa berat, lalu ia mengangkat tangan untuk menutupi mata, karena sinar matahari yang menembus jendela kamar tidur yang menyilaukan matanya. Kemudian ia memaksa diri berjalan ke meja tulis untuk mematikan lampu tidur yang masih menyala.
Levi duduk diam di pinggir ranjang setelahnya. Matanya terpaku pada lemari buku miliknya. Ada sebuah buku yang tidak begitu besar berwarna pink ikut berderet di antara buku-buku desain tentang seni, hanya buku itulah yang tak pernah ia jamah. Jujur saja Levi belum berani untuk mencoba membacanya. Buku merah muda itu adalah buku diary gadis lima tahun lalu, ia bisa memilikinya karena ayah dari gadis itu memberinya sebelum pergi untuk pindah rumah beberapa bulan setelah kematian putrinya.
Levi pergi menuju kamar mandi. Setelah mandi dan kembali berpakaian –kemeja putih dan celana bahan panjang hitam. Ia melihat bayangannya di cermin sambil menyimpul dasi hitam di kerah kemejanya lalu memakai jas. kemudian ia menarik napas dalam-dalam. Ia menarik sebuah buku merah muda yang terselip diantara buku-buku.
Ia membawa buku itu ke meja tulis dan duduk diam sambil menggenggam diary. Levi baru akan membuka buku itu namun ponselnya yang tergeletak di meja berbunyi. Ia meraih benda itu dan menjawabnya.
"Aku hanya ingin mengingatkan, jangan sampai terlambat di acara penting ini" kata orang diseberang sana.
"Aku akan datang setelah mengunjungi-nya" gumam Levi, kemudian mengakhiri percakapan.
Setelah meletakkan ponselnya kembali, Levi mulai membuka buku. Mengambil posisi nyaman lalu membacanya.
Dear Diary,
'Hari ini aku mimisan lagi karena aku terlalu bekerja keras untuk belajar demi memasuki sekolah yang sama dengan Levi. Aku sudah lama menyukainya. Saat aku tahu dia ingin masuk SMA Trost, aku juga ingin masuk kesana... Walaupun kemungkinan besar aku tidak lolos masuk ke sekolah tempat orang-orang pintar sepertinya.
Sampai-sampai ayah menyuruhku pergi untuk hiburan karena aku terlalu mengurung diri hanya untuk belajar dan belajar. Tidak apa-apa, semua ini aku lakukan karena ku selalu ingin melihatnya bahkan setelah kelulusan SMP dan seterusnya, selalu...'
Dear Diary,
'Akhirnya aku dapat masuk sekolah yang sama dengan Levi, dia selalu menjadi peserta terbaik, aku tahu itu. Aku tidak pernah bosan melihatnya berpidato di podium. Setiap aku melihatnya seperti ada cahaya di belakangnya. Kau tahu Diary? Aku senang sekali ternyata aku berada di kelas yang sama dengannya! Aku menjadi malu sekaligus senang. Malu karena aku tidak percaya diri karena banyak sekali gadis cantik dan pintar yang bisa mengambil hatinya. Dan senang karena aku bisa selalu melihatnya.'
Dear Diary,
'Hari ini jariku terluka,karena terkena goresan pisau untuk membuat bekal Levi.Tapi rasa sakit itu hilang jika untuk Levi. Aku akan berusaha keras! Sampai dia mau melihatku, waluaupun aku tahu, Levi selalu mengabaikan-ku tapi, aku akan terus berjuang sampai titik darah penghabisan.'
Dear Diary,
'Entah kenapa dadaku sakit.Saat aku bersusah payah membuatkan bekal untuk-nya, bentoku di buang di tempat sampah. Kalau di pikir-pikir Levi sudah membuang bekal yang ku buat 50 kali, 30kali diberikan kepada orang lain, dan 10 kali aku terpaksa memakannya, jika ia tidak menerimanya.Tapi itu berefek negatif buatku, karena makanan kesukaan Levi sangat berbeda denganku.Makanan kesukaannya adalah alergi buat-ku, tapi tak apa semua demi Levi.'
Dear Diary,
'Aku senang, setidaknya payung yang sengaja aku tinggalkan di pojok loker berguna untuknya.Walaupun terkadang aku lupa membawa payung untuk diriku sendiri, dan akhirnya aku menerobos hujan dan sakit, tapi jika untuk Levi aku tidak apa-apa.'
Dear Diary,
'Aku sangat khawatir saat Levi pergi ke ruang guru. Aku takut terjadi masalah dengannya, terlebih bel istirahat akan habis. Ku pikir ia belum makan sama sekali, jadi aku berniat mencarinya. Tidak lama aku melihatnya menuruni anak tangga. Aku mau menyapanya tapi dengan tergesa ia menarik lenganku menuju atap dengan wajah penuh amarah.
Aku hampir terjungkal ketika ia melepaskan cengkeramannya yang seolah-olah membuangku. Aku... Apa aku harus melanjutkan menulis? Aku takut sewaktu-waktu aku membaca ulang diary-ku aku akan mengingatnya, kemudian aku bersedih lagi. Aku tidak ingin mengingatnya, walaupun pikiranku masih terngiang-ngiang bahwa dia membenci-ku dan ingin aku menghilang.'
Dear Diary,
'Akhir-akhir ini aku sering lupa, tapi jangan lupa Levi...'
Dear Diary,
'Aku sedih sekali karena ayah menyuruhku untuk berhenti sekolah dan menjalani pengobatan dan kemoterapi. Itu artinya aku tidak bisa melihat Levi dan bermain bersama dengan teman-teman. Setiap aku bertanya 'aku sakit apa' ayah selalu mengalihkan pembicaraan. Sebenarnya apa yang di sembunyikan ayah? Aku sebal ketika ayah memaksa-ku meminum obat tanpa tahu alasannya.'
Dear Diary,
'Kenapa denganku…aku susah mengingat dan itu menyiksaku...Hari ini aku terapi lagi, aku akan memberanikan diri bertanya langsung dengan dokter yang menangani-ku. Dan ternyata aku mempunyai penyakit Alzheimer... Suatu penyakit yang membuat penderitanya akan mengalami kelumpuhan mental sebelum kelumpuhan fisik. Aku sedih sekali... Karena itu artinya aku akan melupakan Levi untuk selamanya...'
Dear Diary,
'Di sisa hidupku ini, sebelum aku tidak bisa memegang pena lagi untuk menulis. Aku akan mencoret buku ini seperti ku mencoret hatiku. Diary?... Perhatian yang aku panjatkan seakan tak pernah cukup untuk menembus bekunya batas benteng Levi. Aku menyerah dan aku akan berhenti mencintainya, seiring penyakit ini menggerogotiku.
Aku akan menutup mata dari semua pandanganku untuk-nya. Seandainya ku bisa lebih kuat... Tapi ku tahu... Aku tidak punya banyak waktu lagi untuk terus berusaha mengejar cinta-nya.
Aku tahu aku perlahan akan mati. Tapi, aku bersumpah kehadirannya membuatku seakan bisa hidup lebih lama. Namun, itu sangat tidak mungkin ketika aku sudah terlanjur memiliki radang otak.
Kenapa... kenapa aku menangis... maafkan aku telah membasahi-mu Diary... Aku sudah berusaha menggerus hatiku, untuk berhenti mencintai-nya. Tapi tanpa sadar, aku akan berhenti menyukai-nya, dan otak-ku akan berhenti memikirkan-nya tanpa ku minta.
Teruntukmu, Levi. Maafkan jika aku mengacaukan hidupmu. Terima kasih, kau sudah pernah mengisi ingatan yang tak kekal ini... Mungkin cinta ini tidak akan berkurang seiring dengan berkurangnya ingatanku padamu. Selamat tinggal, aku akan pergi ke suatu tempat yang kau tidak bisa melihatku.'
Lembaran terakhir membuat Levi mendadak sesak. Dadanya terasa berat, ia butuh udara untuk bernapas. Seluruh tubuhnya mati rasa dengan perasaan campur aduk. Ia menyadari ternyata ia sudah menangis ketika air matanya menetes ke buku diary yang dipegangnya. Kemudian ia menutup matanya dengan buku agar tidak ada yang melihatnya bahwa ia sedang menangis.
Kali ini Levi membiarkan dirinya menangis. Menangisi dirinya, menangisi Petra, menangisi takdir, menangisi kenyataan. Namun, air matanya terus mengalir dibalik buku Diary milik Petra.
.
.
.
"Selamat datang Tuan Ackerman" kata seseorang menyambut kedatangan Levi. Kemudian tiga orang datang menghampiri. "Levi! Selamat!" kata Hanji riang sambil memberikan sebuket bunga dan di ikuti oleh Erwin dan Mike.
"Aku tahu pameran yang kau adakan selalu sukses besar" kata Erwin memuji.
"Terima kasih, pirang"
Mike mendekati Levi dan mengendus. "Kau bau bunga, apa kau sudah mengunjunginya?"
"Iya, sebelum kemari, aku mengunjungi Petra. Dan memberi ucapan selamat."
Ketiga temannya menunjukkan wajah prihatin kepada Levi. Kemudian Hanji merangkul Erwin dan meninggalkan Levi dan Mike. "Ne... ayo kita melihat-lihat karya si Tuan Ackerman."
Mike menepuk bahu Levi. "Ya, sekali lagi selamat Levi. Aku tahu kau melakukannya untuk donasi penyakit Alzheimer."
"Terima kasih, Mike." Mike mengangguk kemudian pergi untuk melihat-lihat.
Levi menaruh bunga pemberian teman-temannya. Kemudian berjalan menyusuri hasil karya-karyanya. Sampai ia menemukan karya seni bergambar Petra. Ia merogoh saku dan menempelkan sebuah nama 'Petra Ral' pada gambar gadis dihadapannya.
Levi tersenyum. "Selamat ulang tahun, Petra. Kau kan selalu ku ingat didalam ingatanku."
Karena aku sangat mencintaimu, aku bahagia. Dan karena aku juga bisa hidup didalam ingatanmu. Sekali lagi... Aku bahagia...
Pertama kali aku melihatmu, aku tidak mengingat apapun. Apa langit membutakan atau betapa indahnya matahari terbenam. Karena aku hanya menatapmu—Petra.
END
Semoga hasil Revisi ini, makin bagus. aminnn... :)
Jangan lupa review ya :)
