Liebestraum, die Niederlande
Chapter 2
Crap!
.
.
.
.
.
.
Anneliese Edelstein
(Nyo!Austria)
Willem Van Oranje
(Netherlands)
Emma
(Belgium)
.
.
.
Alternate Universe
Hetalia
Hidekaz Himaruya
.
.
[ Bahasa Indonesia ]
.
.
.
.
Emma nyaris menjatuhkan keranjang rotan yang sedang dia pegang dan menghamburkan isinya ke lantai kalau saja dirinya tidak segera mampu menguasai diri. Apa yang sukses membuatnya terlonjak kaget adalah sebuah pemandangan super asing dan langka yang dia temukan di dalam kediaman sang kakak, Willem.
Pagi itu, Emma memutuskan untuk mengunjungi sang kakak, sekedar membawakan kudapan sederhana sebagai menu sarapan untuk si pria berambut light brown spiky—sandwich keju dan salmon, juga waffles dengan madu dan selai maple yang dia buat sendiri, dan saat itulah dia melihatnya.
Seorang wanita muda bertubuh ramping dengan rambut coklat mahoni panjang yang tengah memegang sapu. Dua bola mata milik keduanya sama-sama melebar tanpa bisa dicegah saat mereka melihat satu sama lain—kaget bukan kepalang.
Emma baru saja hendak bersuara saat figur tinggi tegap sang kakak muncul. Emma hanya bisa mengerjapkan mata, tatapannya beralih dari figur sang kakak kembali ke si wanita asing lalu dia kembalikan lagi ke figur Willem. "... Onii-san?" Sebelah tangannya terangkat dan tertuju pada sosok si wanita asing. Kedua bola mata hijau miliknya menyiratkan tanda tanya besar.
"Hm?" Willem sekilas mengalihkan tatapannya dari figur sang adik ke sosok wanita muda yang lain, "Kau, pergi ke basement sekarang dan mulailah menggarami ikan." Titahnya tanpa mempedulikan tatapan bertanya yang dilayangkan sang adik.
Saat itu, Emma dapat melihat raut enggan muncul pada wajah si wanita asing. Kedua bola mata violetnya berkilat, menatap lurus ke figur tinggi sang kakak. Ada sinar jengkel, benci dan marah yang tersirat pada kedua mata si wanita asing. Emma hanya bisa tercenung.
Siapa wanita ini?
Kedua bola mata hijau milik Emma hanya bisa mengikuti gerakan wanita itu—berjalan berderap menuju tangga basement dan turun ke dalam sana. Emma lalu kembali menatap sang kakak, "Aku—"
"Duduklah." Sela Willem menitah sebelum Emma sempat menyudahi kalimatnya. Dia sendiri lalu berjalan menuju meja makan, menarik salah satu kursi kayu lalu duduk.
Mengikuti sang kakak, gadis itu segera mengambil posisi duduk tepat di hadapan Willem. Kedua belah bibirnya terbuka—banyak sekali kalimat yang berputar di dalam kepalanya yang memaksa diri untuk terbebas melalui kerongkongan namun Emma menemukan dirinya begitu kesulitan untuk kembali bersuara. Beruntung, Willem berinisiatif untuk terlebih dahulu membuka pembicaraan. Cerutu sang kakak juga mulai melakukan tugas pertamanya di pagi itu—mendistribusikan zat nikotin ke dalam relung si pria berambut spiky.
.
.
.
1 jam lalu.
Hal pertama yang dia rasakan saat itu adalah pening yang luar biasa menyakitkan. Separuh mengerang, dia mencoba memfungsikan setiap sendi pada tubuhnya untuk bergerak—meyakinkan diri bahwa dia masih hidup. Sebelah tangannya terangkat untuk menyentuh dahi. Ada benda asing terdapat di sana dan saat dia tekan benda itu untuk merasakan teksturnya, hanya kesakitan yang dia terima.
Plaster?
Apa aku terluka?
Dengan memaksakan kedua kelopak mata miliknya untuk terbuka, dia perlahan bangkit dari atas pembaringan dengan bantuan sebelah tangan untuk menyangga bobot tubuhnya—yang sebenarnya sangat ringan. Penglihatannya berangsur membaik. Kini dia bisa melihat apa yang ada di sekitarnya dengan jelas walau cahaya yang terdapat di sana sangatlah minim.
Banyak sekali kardus-kardus bertumpuk di setiap sisi ruangan dan—ruangan ini asing baginya. Jelas saja bahwa dirinya saat itu sedang tidak berada di dalam ruang musik ataupun kamar tidurnya. Dia mendongakkan kepala, menatap bola lampu yang mati lalu beralih menatap dua lubang di dinding yang hanya sebesar batu bata dan ruangan ini sama sekali tidak memiliki jendela.
Astaga, dia bisa mati kehabisan napas di dalam sini!—dan lagi, apa yang sebenarnya sudah terjadi? Tubuhnya sangat kotor dan begitu pula gaun tidurnya. Yang dia rasa hanyalah rasa sakit, pedih dan nyeri pada setiap inci tubuhnya. Luka-luka lecet bahkan dapat dengan mudah dia temui di sekujur kaki dan tangan.
Kapal besar itu karam di tengah lautan.
Dia mengerjapkan mata dengan cepat saat selintas bayangan muncul di dalam benaknya yang masih berkabut akibat rasa pusing. Kedua bola mata violetnya melebar dengan berbagai macam ekspresi tertampil di sana; shock, cemas, takut dan paranoid. Kini dia dapat mengingatnya dengan jelas.
Saat itu dirinya sedang berada di dalam perjalanan jalur laut. Ombak lautan sangat tenang di sore hari namun tidak saat malam. Ombak-ombak itu datang bergulung-gulung diikuti dengan semilir angin yang berubah menjadi topan. Langit kelabu menjadi semakin gelap saja dengan awan bergumpal-gumpal siap menumpahkan muatan—air hujan.
Malam itu adalah malam dimana sebuah badai besar datang tanpa bisa diduga tepat di saat semua penumpang tertidur pulas setelah menikmati suguhan penampilan yang apik dari sebuah band orkestra. Kapal mereka terombang-ambing di atas gelegak amarah sang lautan. Nahkoda dan para awak kapal sibuk mengendalikan roda kemudi dan layar kapal, sedang keributan mulai terdengar dari dalam. Para penumpang berteriak histeris saat mendengar bahwa lambung kapal mulai dibanjiri air laut. Semua orang berhambur keluar memenuhi dek dan buritan kapal, berebut untuk menurunkan skoci dari gantungan. Anak buah kapal bahkan tidak bisa berbuat banyak untuk menenangkan kecemasan dan tremor yang mulai melanda mental penumpangnya, dan saat itu dirinya tengah sibuk mengemasi semua barang di dalam kamar. Tak lupa biola kesayangannya dia simpan kembali ke dalam case lalu dengan langkah cepat—secepat yang dia bisa, dia berlari menyelamatkan diri dan setelahnya, dia temukan dirinya sudah berada di dalam ruangan pengab ini.
Dimana pun dirinya berada sekarang, dia yakin bahwa ruangan ini berdiri di atas tanah—bukan lagi sebuah ruangan di dalam kapal yang kadang bergoyang saat ombak menghantam.
Sekuat tenaga, dia fungsikan kembali kedua kakinya untuk berdiri, sebelah tangannya dengan cepat beralih ke tumpukan kardus untuk membantunya menyangga tubuh. Sekali lagi dia amati sekitarnya. Hanya ada dirinya seorang diri di dalam ruangan ini. Tangannya lalu berpindah untuk mengusap rambut coklat mahoni panjang miliknya dan saat itulah dia sadar bahwa dia tidak menemukan bros rambutnya. Dirinya sampai harus mengacak rambutnya sendiri namun benda itu tidak ditemukan dimana pun juga.
Terjatuh dimana?
Dengan langkah diseret, dia mencoba meraih handle pintu—berniat untuk membukanya namun setelah beberapa kali dia coba untuk menarik juga mendorong, pintu itu sama sekali tidak bergeming. Kedua bola mata violetnya kembali melebar.
Terkunci?
Sekali lagi dia coba—menarik dan mendorong pintu itu namun hasilnya nihil. Pintu ini terkunci dan benda metal yang biasanya digunakan untuk mengunci dan membuka pintu juga tidak dia temukan di dalam ruangan ini. Oh, demi Tuhan...
"Tolong buka pintunya! Siapapun! Tolong buka pintu ini!"
Dia berseru sekuat yang dia mampu—mengabaikan kerongkongannya yang kering dan sakit. Dengan tubuhnya yang ramping, dia coba untuk mendobrak pintu itu dengan cara menghantamkan sisi tubuh dan lengannya ke permukaan keras pintu kayu—dan lagi, hanya kesakitan yang dia terima dan pintu itu masih dalam keadaan semula; terkunci.
"Halo, ada orang?! Bisa kau buka pintunya?! Haloo!" Dia kembali berseru, kini diikuti dengan kedua tangannya yang memukul-mukul permukaan pintu. "Tolong buka pintunya! Buka pin—"
Creak.
Huh?
Suara yang familiar tiba-tiba terdengar dan spontan membuat aktivitasnya terhenti. Dia mundur satu langkah dengan kedua bola mata violetnya yang melebar, menatap lurus ke lubang kunci. Handle pintu pun bergerak, diikuti dengan melebarnya celah daun pintu dari frame. Seberkas cahaya dengan cepat menyusup masuk ke dalam ruangan gelap itu hingga daun pintu terbuka dengan sempurna dan menampilkan siluet gelap yang dia kenali sebagai bayangan dari figur seorang pria.
Tinggi dan tegap.
Mungkin kedua bola mata violetnya bisa melompat keluar saking kagetnya saat dia dapati pemandangan mengerikan itu tertampil di ambang pintu. Refleks, dia mundur selangkah lagi dengan kedua tangan terkepal di depan dada. Tak sedetik pun dia lepaskan pandangan dari siluet itu—waspada.
"... Siapa kau?" Dan pertanyaannya lalu dijawab oleh gerakan tangan pria tinggi itu ke sisi frame pintu. Sebuah suara yang familiar kembali terdengar disusul dengan lampu di langit-langit yang tiba-tiba menyala. Dia tersentak kaget, sebelah tangannya terangkat untuk membayangi mata—belum terbiasa mendapat pencahayaan yang tiba-tiba.
Ternyata pria tinggi itu baru saja menjentik saklar lampu dan—kini dia bisa melihat rupa dari siluet gelap tadi dengan jelas.
Di sana berdiri seorang pria berwajah minim ekspresi dengan kedua alis bertaut samar—menegaskan tatapan seriusnya melalui kedua bola mata sewarna amber. Rambut blonde kecoklatannya dipotong pendek dan diangkat ke atas. Sebuah pipa cerutu terselip di antara kedua belah bibirnya dengan sebuah syal strip biru-putih melingkar di sekitar pundak, sebuah bekat luka pada dahi pria itu pun tak luput dari tatapan memindainya.
Entah bagaimana bisa tapi rupa pria ini mengingatkannya pada seorang pria Jerman yang dia kenal—mungkin hanya ada sedikit kemiripan dan dirinya kembali mengerjap kaget saat pria itu menggerakkan kepalanya sekilas.
"Keluar."
Suara pria itu terdengar tegas dan datar.
"Ap—"
"Berjalanlah keluar." Sela pria asing itu lagi lalu dia menggeser figur tinggi tegapnya sedikit ke sisi pintu, bermaksud untuk memberikan spasi bagi si wanita sebagai akses keluar ruangan.
Dia mendengus pendek—benci akan nada otoriter yang terdapat pada titah pria itu namun dia lakukan juga. Kedua kakinya lalu kembali menapak permukaan lantai marmer yang dingin dan berjalan keluar dari ruangan pengab menuju sebuah ruangan yang lebih luas dan terang.
Menilik dari perabotan yang ada, ini adalah sebuah dapur merangkap ruang makan yang cukup luas dan tertata. Sesaat dirinya dibuat terkesima. Dapur ini bahkan terlihat lebih mengkilap bila dibandingkan dengan dapur miliknya di kediaman Edelstein ataupun dapur milik Ludwig, padahal dapur di rumahnya berukuran lebih luas dari dapur ini.
"Jangan sentuh apapun."
Dia terperanjat—lagi, saat mendengar suara berat pria itu. Kali ini terdengar lebih tegas dengan intonasi ditekan.
Dia mengalihkan tatapan dari perabotan mengkilap di hadapannya kembali ke figur si pria asing. Pria itu kini berjalan menuju sisi lemari dan meraih sebuah sapu.
"Mulailah menyapu dapur. Hanya. Menyapu. Dapur. Kau cukup menyentuh lantainya dengan ijuk sapu ini." Pria itu kembali menitah sambil menyodorkan sapu tadi ke arahnya.
Kontan saja hal itu membuat kedua alisnya bertaut tanpa bisa dicegah. Ekspresi bingung dan tidak percaya tertampil jelas pada wajahnya. Kedua belah bibirnya terbuka, hendak berbicara namun rasa tidak percaya seolah mencekat kerongkongan miliknya.
".. P-pardon?" Sahutnya—mulai merasa jengkel.
Kedua bola mata amber pria itu kini tertuju lurus pada sepasang mata violet di hadapannya. "Sapu lantai dapur ini." Ulangnya masih dengan nada datar yang tegas.
"Aku tahu! Tapi kenapa? Kau siapa? Tempat ini dimana? Kenapa aku bisa berada di sini?"
Mendapat serangan brutal berupa rentetan pertanyaan dari si wanita asing, Willem diam sejenak. Kedua ambernya hanya menatap wajah jengkel dan kesal wanita itu yang masih berada di luar pedulinya. "Hm, namamu?"
Bisa dia rasakan wajahnya kini memerah karena dongkol. Satu pertanyaan sepertinya terlewat; Bagaimana bisa dia berakhir berada di dalam ruangan yang sama dengan seorang pria otoriter semacam ini?
"Anne." Jawabnya singkat.
"Baiklah, Anne, Mulailah menyapu lantai—"
"Tunggu sebentar!" Bentak Anne tanpa bisa menahan gelegak kekesalan di dalam dirinya, dengan sengit dia balas tatapan datar pria itu dengan miliknya yang menajam. "Kau belum menjawab semua pertanyaanku barusan dan aku ingin kau memberikannya sekarang!" Tandas Anne dengan nada suara yang tak kalah otoriter—dan wajah pria itu masih tampak minim ekspresi.
Bentakan dan titah Anne tidak berdampak apa-apa pada diri Willem. Tanpa peduli, dia angsurkan sapu tadi ke arah wanita itu—Anne nampak tidak percaya saat menerima uluran sapu itu kepadanya, lalu Willem kembali menarik pipa cerutunya menjauh dari bibir. "Setelah ini akan ku ajarkan kau cara menggarami ikan." Dan setelah kalimatnya selesai, dia membalikkan figur tinggi tegapnya dan berjalan meninggalkan dapur—meninggalkan Anne yang ternganga seorang diri di sana. Bagaimana pun juga, rencananya akan tetap dijalankan; menjual Anne ke rumah bordil.
Sebuah suara gaduh yang keras menggema di dalam dapur saat Anne hempaskan sapu itu ke atas lantai marmer. Sebelah tangannya terangkat untuk meremas rambut coklat mahoninya. Frustasi.
Bagaimana bisa aku berakhir di tempat seperti ini?
Ditengah kekalutan yang tengah melanda, sebuah ide melintas di dalam benaknya. Dia harus kabur dari tempat ini! Dengan cepat dia mengedarkan pandangan mencari jalan untuk keluar. Sebuah pintu di sisi bak cuci piring nampaknya bisa dia gunakan. Tanpa membuang banyak waktu, Anne melangkah berderap menuju pintu itu. Kedua tangannya kini sibuk memutar kenop bulat berwarna keemasan namun tidak ada perubahan di sana. Pintu itu terkunci. Kedua bola mata violetnya bergulir menyisir setiap inci ruangan dapur untuk mencari kunci.
Ada jendela.
Tidak ada waktu untuk mencari kunci, dia bisa menggunakan jendela!—yang sialnya juga terkunci, tapi bukankah dia bisa memecahkan kacanya?
Anne lalu berjalan ke tengah dapur untuk mengambil sapu yang tadi dia hempaskan dan saat dirinya baru saja hendak kembali berjalan ke arah jendela, pintu di sisi lain ruangan terbuka. Menampilkan figur seorang wanita muda berpostur cukup tinggi dengan rambut blonde pendek sebahu.
Kedua bola mata violetnya melebar kala tatapannya bertemu dengan tatapan milik wanita muda itu yang sama-sama menyiratkan keterkejutan. Belum sempat keduanya bersuara, sosok pria otoriter yang tadi menghilang kini muncul kembali.
Anne mengerjap—sesaat bingung dan terlalu kaget dengan keadaan yang berbalik tiba-tiba.
Hanya satu hal yang mampu dia sadari saat itu; rencananya untuk kabur gagal.
.
.
.
Emma nyaris tidak mempercayai indera pendengarannya sendiri setelah mendengar cerita yang disampaikan oleh sang kakak. Bukan di bagian dimana pria itu bisa berakhir membawa pulang si wanita asing, melainkan rencananya yang akan menjual wanita itu ke rumah bordil.
"O-Onii-san! Apakah kau benar-benar harus berlaku sekejam itu padanya?"
"Aku tidak berniat untuk menampungnya." Sahut Willem dengan ketidak peduliannya yang sekokoh batu karang. Di matanya, Anne hanyalah sebuah benda yang bisa ditukar dengan uang. Tidak lebih, tidak kurang.
"Tapi—" Emma tergagap, terlalu sulit untuk menyusun kata di dalam kondisi seperti ini. Apakah kakaknya itu akan benar-benar melakukannya hanya demi uang? Dia menggeleng tidak percaya. "Onii-san, aku yakin dia mempunyai keluarga di luar sana."
"Aku hanya ingin uangku kembali."
"Aku bisa mengembalikan uangmu—" Dan kalimat Emma terputus begitu saja saat Willem menyambarnya dengan tatapan tajam menusuk melalui kedua amber milik pria itu. Dirinya terhenyak dan seketika dibuat bungkam.
Membicarakan harta masing-masing jelas adalah sebuah hal tabu dan dirinya sadar betul bahwa tidak seharusnya dia mengangkat topik semacam itu ke permukaan saat tengah berbicara dengan sang kakak.
Emma hanya bisa menurunkan tatapannya ke permukaan meja yang mengkilap dengan kedua tangan terkepal di atas pangkuan. Pasti ada yang bisa dia lakukan.
Kepulan asap putih kembali mengudara saat Willem menghembuskannya, kedua amber miliknya lalu kembali menatap sang adik. "Kalau urusanmu sudah selesai di sini, sebaiknya kau pulang. Aku harus pergi menjual ikan setelah ini dan rumah akan ku kunci." Titah Willem pada si gadis berambut blonde pendek.
Mendengar itu, Emma hanya bisa menghela napas pendek lalu dengan segera dia mengemasi keranjang rotannya dan bersiap untuk beranjak dari atas kursi untuk meninggalkan meja saat suara berat sang kakak kembali terdengar.
"Apa kau memiliki beberapa pakaian bekas?"
Emma menoleh kembali menatap pria itu, dirinya lalu mengangguk. "Ya, ku rasa aku masih punya beberapa di dalam lemari. Ada apa bertanya?"
Willem lalu bangkit dari duduknya sambil masih melakukan aktivitasnya—menghisap zat nikotin dari cerutu. "Aku ingin kau membawanya kemari. Aku membutuhkannya."
Mendengar itu, Emma hanya bisa mengerjapkan mata. Jujur saja dirinya bingung namun dia putuskan untuk tidak bertanya. "Baiklah. Nanti sore akan ku antarkan ke sini." Katanya menyanggupi, "Kalau begitu, aku pulang dulu." Dan sosoknya lalu hilang di balik pintu.
Tatapan Willem lalu beralih ke tangga menuju basement—teringat bahwa dia memerintahkan wanita itu untuk turun ke bawah sana tadi. Waktunya mengecek pekerjaan yang dilakukan Anne. Dengan langkah tenang tanpa suara, Willem berjalan menuruni tangga dan semakin dirinya dibawa turun ke dalam sana, aroma amis ikan tercium semakin menyengat. Wajah Willem nampak tidak menunjukkan indikasi bahwa dirinya terganggu akan aroma tidak sedap semacam itu. Wajahnya masih nampak minim ekspresi dengan kedua amber yang menatap lurus ke depan.
Apa yang ditemukannya setelah tiba di dalam basement adalah Anne yang tengah terduduk di lantai tanah basement dengan sebelah tangan melingkar di sekitar perut dan sebelah tangannya yang lain tengah menutupi mulut.
Lagi, Anne tersedak dan kembali memuntahkan angin dari dalam perutnya yang kosong. Sebelumnya dia sempat merasa lapar namun ketika dia tiba di dalam ruangan gelap di bawah tanah ini, seketika rasa laparnya berganti menjadi rasa mual yang menyeruak begitu saja. Aroma amis ikan begitu kuat menusuk indera penciumannya, membuatnya beberapa kali memuntahkan angin dari dalam lambungnya yang tidak berisi apa-apa. Anne benar-benar dibuat tidak habis pikir. Bagaimana pria otoriter itu bisa hidup di tempat seperti ini?
Melihat semua drum-drum itu masih tertutup—ada satu yang terbuka dan itu pun hanya tutupnya yang digeser separuh, Willem yakin bahwa Anne belum mengerjakan apa yang dia titahkan. Bahkan ikatan pada karung garam di pojok basement belum dibuka, membuatnya semakin yakin dan kini wanita itu tengah muntah-muntah di lantai tanah basement. Wajah Anne sebenarnya memucat namun dikarenakan pencahayaan di dalam basement yang hanya dibantu oleh sinar dari api obor, membuat Willem tidak bisa melihat hal itu.
Willem menghela napas pendek bersamaan dengan kepulan asap putih cerutunya. Tanpa peringatan, kembali dia angkut tubuh ringan Anne dan membawanya keluar dari dalam basement. Gerakan meronta yang dilakukan wanita itu jelas dia abaikan. Bahkan gerakan itu tidak mampu membuah sebelah lengannya yang melingkar di pinggang ramping Anne melonggar dan tidak membutuhkan waktu lama, wanita itu kehabisan tenaga.
Berhenti meronta, kini Anne hanya bisa memukul-mukul lengan kokoh Willem yang nampaknya sama sekali tidak mampu menyakiti pria tinggi itu. Anne nyaris menangis akibat amarah yang tak terbendung saat keduanya tiba di luar rumah. Seketika angin segar menyapa setiap inci tubuhnya dan bau amis yang tadi sempat menyesakkan dada kini berganti dengan udara yang kaya akan oksigen. Sedetik, Anne merasa hidup kembali namun tak lama kemudian, dirinya dibuat limbung dan ambruk ke tanah sesaat Willem tiba-tiba melepaskan lengannya dari pinggang ramping Anne.
Anne meringis tertahan saat permukaan keras tanah itu menghantam tubuhnya. Dia menoleh cepat—melayangkan tatapan dongkol dan marah ke figur tinggi Willem yang kini bergerak menuju sisi lain bangunan. Anne hanya bisa dibuat terperangah—bahkan untuk mengumpat saja dia terlalu takjub akan perlakuan kasar pria itu.
Dia lalu putuskan untuk mengamati sekitarnya. Nampaknya tempat ini adalah halaman belakang rumah pria itu. Tanaman pagar setinggi dua meter mengelilinginya dan yang membuat Anne kembali takjub adalah ketika dia menemukan sebuah taman di sampingnya. Antara yakin atau tidak, itu adalah taman tulip yang tidak terlalu luas. Mungkin hanya sekitar 5x5 meter saja namun tampak begitu rapi dan bersih. Sebuah bangunan mirip menara dengan kincir angin raksasa juga membuatnya kembali terkesima. Bangunan itu nampak begitu familiar—seperti menjadi sebuah ciri khas sebuah negara.
Belanda?
Anne mengerjapkan mata.
Tulip dan kincir angin—jelas bahwa itu semua adalah maskot dari negara seribu dam, Belanda! Entah bagaimana bisa ombak laut malam itu bisa membawanya terdampar di negara ini.
Belum pulih dari ketersimaannya akan fakta yang dia temukan, tiba-tiba sebuah benda bertekstur keras, berpermukaan agak kasar dan dingin menyentuh kulit lehernya—dan di detik berikutnya, Anne mendapati sebuah cincin besi besar dan tebal sudah melingkar kokoh di sekitar lehernya. Kedua bola mata violetnya melebar dan dengan cepat dia menoleh untuk menghadapi pelaku atas perlakuan paling tidak manusiawi satu ini, dan di sana dia menemukan pria otoriter itu lagi—tengah memegang sebuah rantai panjang dari baja yang terhubung dengan cincin besi pada lehernya.
"Kau pikir ap—!" Leher Anne seketika tercekat dan memutus paksa kalimatnya saat Willem menarik rantai baja itu dan memaksa dirinya untuk melangkah mendekat ke arah si pria otoriter nan sadis—terhuyung, dia nyaris menubruk figur tinggi tegap Willem kalau saja dia tidak berhasil mengerem langkah kakinya sendiri. Permukaan cincin besi yang berkarat nampaknya menimbulkan luka gores baru pada permukaannya lehernya yang mulai terasa pedih dan nyeri.
"Kalau kau tidak bisa menggarami ikan, kau bisa mengurus taman." Kata Willem dengan nada tegas dan datarnya yang khas. Dia lalu mengunci rantai itu pada tiang besi di dinding dengan sebuah kunci gembok yang besar. Tatapannya kembali bertemu dengan tatapan penuh amarah dan kebencian milik Anne, dan dirinya masih tidak terpengaruh akan hal itu. "Pastikan tidak ada rumput yang merebut nutrisi tanah untuk tulip-tulipku." Titahnya lagi sebelum dia melangkah pergi menjauhi taman dan Anne yang dirantai di sana.
Anne mengerjap—terhenyak akan kepergian pria kejam itu. "Tunggu! Lepaskan aku! Hei, tunggu—Ugh!" Kalimatnya terputus kembali saat dia coba mengejar Willem namun rantai di lehernya membuatnya kembali tertarik ke belakang. Apa yang dia rasakan saat itu hanya kesakitan yang luar biasa—seolah mampu mematahkan lehernya.
Tak kuat lagi berdiri, tubuh Anne akhirnya terjatuh dan luruh ke atas tanah yang separuh becek dengan kedua lutut yang masih kuat menyangga tubuh. Bulir-bulir air asin yang tadinya berkumpul di pelupuk mata, kini tumpah ruah seperti air laut yang tidak mampu dibendung oleh dinding bendungan.
Anne menangis sejadi-jadinya—yang dirasakannya hanyalah amarah dan kebencian mendalam terhadap pria otoriter yang membuat dirinya sekarang terikat oleh rantai seperti binatang.
Harga dirinya terluka.
.
.
.
To be continued...
A/N
Special big thanks for demonnicfox, itadakimajapahit, Bernessa Edrys, Constantia Thorn yang udah menjejakkan reviews di chapter pertama, thank you so much once again! Reviews-nya membangun sekali, bikin saya makin semangat buat nuntasin cerita ini *sob* Dan ga lupa saya ucapin terimakasih juga buat yang udah baca, do'akan saya tetep fokus dan selalu in the mood untuk terus update cerita, come to think saya orangnya moody parah lol segitu aja dulu yang mau saya sampaikan, see you in the next chapters and happy reading~
