Liebestraum, die Niederlande

Chapter 3

A necklace you won't love to wear

.

.

.

Anneliese Edelstein

(Nyo!Austria)

Willem Van Oranje

(Netherlands)

Emma

(Belgium)

Antonio Hernández Carriedo

(Spain)

Lovino Vargas

(South Italy a.k.a Romano)

.

.

Alternate Universe

Hetalia

Hidekaz Himaruya

.

.

[ Bahasa Indonesia ]

.

.

.

Sebuah papan neon bertuliskan Red Philia terpasang tepat di atas sebuah pintu besar berdaun dua dai sebuah bangunan tiga tingkat dalam keadaan padam. Papan neon itu hanya menyala saat malam hari sebagai tanda rumah bordil terbesar di kawasan tersebut telah dibuka bagi pengunjung yang tengah memiliki 'kebutuhan' atau hanya untuk sekedar membunuh rasa bosan dengan sedikit menghambur uang.

Tak ingin menyiakan banyak waktu, Willem segera meninggalkan gerobak kayu kosongnya di samping bangunan itu lalu segera melangkah menaiki beberapa tingkat anak tangga untuk mencapai pintu. Keadaan di dalam bangunan itu sepi dan cukup remang. Semua bangku kayu—kecuali sofa, masih diletakkan di atas meja. Lampu-lampu pada lemari minuman keras di belakang meja panjang bartender juga belum dinyalakan. Tidak ada seorang pun di dalam bar di lantai pertama selain dirinya seorang diri. Langkah cepat Willem membawa dirinya berjalan menaiki tangga yang cukup lebar yang terdapat pada sudut bar. Yang dia cari sepertinya sedang berada di ruangan kerja dan ruangan yang ingin dia tuju berada di lantai tiga.

Keadaan yang sama juga terlihat pada lantai-lantai berikutnya. Willem berjalan menyusuri koridor yang sepi menuju sebuah ruangan yang terletak sedikit di ujung lorong. Sebuah ketukan ringan dia berikan pada permukaan pintu kayu bercat coklat tua—bermaksud memberi tanda kepada si pemilik rumah bordil bahwa dirinya kedatangan seorang tamu.

Yang menyambut Willem di balik pintu itu adalah pemandangan seorang wanita asia berkulit cerah kemerahan dengan rambut bergelombang sebahu—menatap Willem dengan kedua bola mata gelap yang melebar. Sebelah tangan wanita asia itu tengah menahan sebuah selimut tipis yang membungkus tubuh telanjangnya sedang sebelah tangan yang lain tengah menahan pintu.

"T-Tuan Willem—", si wanita asia tergagap namun raut wajah serius dan stoic Willem tidak menunjukkan adanya indikasi perubahan air muka.

Willem belum sempat membuka suara saat seorang pria berambut ikal dan blonde muncul dari balik tubuh wanita itu—dan pria itu benar-benar telanjang tanpa sehelai kain pun yang menutupi tubuhnya. Wajah Willem masih berekspresi minim seperti biasa.

"Aku akan kembali sore nanti. Silahkan kau selesaikan dulu pekerjaanmu." Kata Willem dengan nada datar dan saat dia hendak berbalik pergi, si pria blonde ikal tersebut buru-buru menyahut untuk mencegah kepergian si teman baik.

"No, Will! Wait! Aku sudah selesai, bisa kau tunggu aku di bawah? Beri aku lima menit dan aku akan segera menyusulmu." Kata pria blonde itu dengan cepat.

Menanggapi kalimat si pria blonde, Willem hanya mengangguk sekilas. "Cepat kalau begitu." Katanya sambil melanjutkan langkah menyusuri koridor sepi menuju tangga lalu berjalan turun.

Setidaknya dia tidak sendiri di dalam bar ini. Seorang pegawai laki-laki milik si pria blonde ikal tadi sedang sibuk mengelap gelas-gelas di balik meja bartender. Willem menarik sebuah stool lalu duduk di atasnya. Sebelah tangannya terlipat di atas meja sedang yang lain tengah sibuk menaik-turunkan cerutunya.

"Ingin minum sesuatu, Tuan Willem?" Tanya si pegawai dengan nada ramah dan tampak sudah akrab dengan si pria berambut spiky.

Willem terlebih dahulu menghela keluar asap cerutunya sebelum menjawab dengan singkat, "Tidak. Masih terlalu pagi untuk mabuk." Jawab Willem yang direspon dengan anggukan ringan dan senyum tipis dari si pegawai. Sepasang amber miliknya lalu menangkap sosok si pria blonde ikal yang tadi dia temui di lantai atas—di tengah 'kesibukan'nya.

"Pagi, Will. Apa yang membawamu kemari errr—di pagi hari? Kau tahu benar bahwa jam-jam seperti ini adalah jadwal kerjaku di atas tempat tidur." Kata si pria blonde ikal dengan nada ringan, dia lalu mengambil posisi duduk tepat di samping pria pecandu nikotin itu. Sebelah tangannya terangkat—memberi kode pada pegawainya untuk menyiapkan minuman kesukaannya.

Kepulan asap putih dengan ringan kembali Willem hembuskan lalu menjawab pertanyaan si pria blonde, "Aku ingin menawarkan bisnis dan bisnis satu ini hanya cocok bila dilakukan bersamamu, Russel." Katanya sambil meraih sebuah gelas berukuran sedang berisi air putih dan beberapa cube es batu yang baru saja disajikan oleh si pegawai.

"Bisnis huh? Apa lagi yang ingin kau bawa kemari?" Sebuah seringai muncul pada wajah pria yang dipanggil Russel itu. Sebelah tangannya lalu meraih cawan anggurnya dan menyesap sedikit dari isi cawannya. 'Lagi' karena dirinya sudah sering melakukan kegiatan bisnis dengan Willem, teman baiknya sejak remaja.

"Kali ini seorang wanita." Sahut Willem dengan arah tatapan masih tertuju pada permukaan air dingin di dalam gelas dan seketika bar yang sepi itu terasa lebih sepilagi. Hening mengisi jarak di antara keduanya selama beberapa detik.

"...Wow." Suara Russel terdengar mengambang. Dengan cepat dia meraih cawan anggurnya lagi dan menenggak habis isinya. Kedua bola mata abu-abu miliknya melebar—menatap lurus ke arah figur tinggi tegap Willem dengan air muka tidak percaya.

Wanita?

Seorang Willem?

Oh, baiklah. Willem memang pedagang cerdik dan gesit tapi—wanita?

Apakah hasil dari penjualan ikan, bahan-bahan logistik, senjata dan minum keras yang setiap hari dia pasok masih kurang?

Lalu siapa wanita yang akan dia 'bisniskan' di sini?

Jangan bilang adiknya sendiri—yeah, Emma memang terkenal sangat manis dan menjanjikan bila dipertaruhkan ke dalam bisnis hiburan malam. Wanita muda Belgia itu bahkan masuk ke dalam kriteria wanita kesukaannya walaupun milik gadis itu tidak sesombong milik para wanita Ukraina dan Venezula yang rata-rata besar menonjol seperti hendak menodong. Tapi—astaga!

"Maaannnnn—!" Kedua mata Russel membulat seperti hendak ingin meloncat keluar dari sangkarnya. "Kau yang salah bicara atau hanya pendengaranku yang memang sudah rusak?" Tanya Russel cepat—tak bisa membendung rasa tidak percaya sekaligus penasaran.

"Tidak ada yang salah. Baik bicaraku ataupun pendengaranmu, Russel." Willem mengalihkan tatapannya untuk menatap kedua bola mata abu-abu si pria blonde, "Aku memiliki seorang wanita yang ingin ku jual padamu." Tambahnya seolah sedang menawarkan panci untuk memasak sup kentang.

Russel nampaknya tidak bisa menemukan kalimat yang pas untuk merespon tawaran Willem—bahkan terlalu sulit untuk kembali memfungsikan lidahnya. Dia hanya mengangkat sebelah tangan, meminta Willem untuk meneruskan.

"Aku mendapatkannya kemarin. Seseorang yang berhutang padaku memberikannya sebagai uang muka dari bunga hutangnya." Ujar Willem masih dengan pembawaan tenangnya yang tidak terbaca.

"Bunga hutang?" Russel membeo dengan ekspresi bodoh. Baiklah, dunia bisnis memang kejam. "Lalu, bisa kau jelaskan apa yang akan kau jual darinya kepadaku?"

"Aku tidak akan menjualnya secara penuh padamu, aku akan menyewakannya kepada pelanggan-pelangganmu dan profitnya bisa kita bagi dua." Kata Willem lagi.

Russel mengerjap lalu mengangguk. Perhatiannya kini tertuju kembali pada cawan anggurnya, kekehan ringan lolos dari kedua belah bibirnya sebelum dia tanggapi kalimat Willem, "Kau tahu, aku paling senang berbisnis denganmu." Kata Russel dengan pembuka yang manis namun apa yang menjadi akhir jawabannya rasanya tidak akan membuat Willem senang, "Tapi hal yang seperti itu sedang tidak bisa ku lakukan sekarang. Aku sudah memiliki cukup wanita di rumah ini dan aku tidak berencana untuk menanggung kelebihan kuota." Russel lalu kembali menatap si pria berambut spiky dengan senyum tipis pada bibirnya. Kedua bola mata abu-abunya menyiratkan permohonan maaf yang tidak terucap.

Hening kembali mengisi jeda sebelum Willem bersuara setelah berdiam diri selama beberapa detik. Dia sendiri sudah berniat untuk bertanya kenapa namun kalimat Russel barusan cukup menjelaskan semuanya. Willem menghela napas pendek sebelum kembali menghisap cerutunya. Kedua amber miliknya masih tertuju pada figur teman baikknya itu, "Kau tahu, aku tidak ada rencana untuk menampungnya."

Mendengar itu, Russel tertawa pendek sambil menganggukkan kepala beberapa kali. Sudah dia duga bahwa Willem benar-benar menganggap wanita—yang entah siapa itu, hanya sebagai sebuah benda yang bisa ditukar dengan uang. Dia lalu kembali meminta pegawainya untuk mengisi cawan anggur miliknya yang sudah kosong. "Sebenarnya ada jalan lain untukmu tapi sebelumnya, aku ingin tahu apakah wanita ini yahhh, bernilai." Russel memainkan telunjuk dan jari tengahnya, membentuk tanda kutip yang tak kasat mata.

Willem mengangguk sekilas, "Dia masih sangat muda dengan tubuh yang ramping dan sangat ringan, berkulit mulus walau sedikit pucat, berambut coklat dan panjang, ada sebuah tahi lalat di sisi kanan dagunya dan berbibir tipis, kedua matanya berwarna violet dengan hidung bangir yang mungil dan wajahnya nampak angkuh."—dan penjelasan panjang nan detail dari si pria spiky hanya dibalas dengan tatapan terkesima dari Russel.

Tawa geli Russel menyembur. Sebelah tangannya mengibas udara di sekitar mereka dan Willem hanya menatap respon aneh dari si pria blonde dengan alis bertaut samar.

"Aku sedang tidak menceritakan sebuah lawakan." Kata Willem yang segera ditimpali Russel.

"Maaf, maaf. Aku hanya kagum dengan penglihatan super tajammu bila sudah berhadapan dengan barang dagangan." Russel lalu menghela napas dan kembali bicara, "Kau memang tidak bisa menjualnya di sini tapi ku rasa kau bisa melakukannya di rumah pelelangan."

"Pelelangan?"

Russel mengangguk singkat, "Ya, tempat dimana semua orang bisa memperjual-belikan manusia untuk dijadikan budak ataupun pet."

Kedua alis Willem kembali bertaut samar. Ada raut bingung yang muncul pada wajah minim ekspresi miliknya, "Pet?"

"Sejenis budak tapi untuk level yang lebih tinggi. Kau tahu, yang berpenampilan menarik biasanya hanya untuk dipekerjakan di atas ranjang. Para pengusaha kaya raya atau petinggi negara yang memiliki kekuasaan kuat yang biasa membeli pet di pelelangan." Russel mengangkat bahu dengan seringai ringan tertampil pada wajahnya, "Dan mendengar deskripsimu barusan mengenai wanita ini, ku rasa akan ada banyak orang kaya yang akan menawarnya dengan harga tinggi. Kau bisa mendapatkan uang yang lebih banyak bila dibandingkan dengan menaruhnya di rumah bordilku, Willem, bagaimana menurutmu?"

Willem diam sejenak, "Aku belum pernah datang ke tempat semacam itu."

Seringai di wajah Russel melebar, "Tenang saja, Will, aku akan menemanimu datang ke sana. Kebetulah aku mulai bosan dengan yang tadi kau temui di atas, rasanya aku butuh wajah baru." Dia lalu kembali menyesap anggurnya.

Mendengar itu, Willem tidak memberi komentar apa-apa selain melayangkan pertanyaan lainnya, "Kapan kau akan membawaku ke sana?"

"Dua minggu lagi—"

"Dua minggu?" Willem langsung menyahut. Dahinya berkerut—cukup terhenyak.

Russel mengangguk lagi sambil meneguk cairan asam dari cawannya, "Tempat seperti itu hanya buka satu bulan sekali dan pelelangan selanjutnya akan digelar dua minggu lagi." Dia menoleh menatap Willem sambil menarik ujung bibirnya sedikit ke atas, "Ayolah, itu tidak akan lama. Kau bisa bermain sebentar dengannya walaupun yahhh, yang masih bersegel jelas berharga lebih mahal."

Willem menghisap cerutunya dalam-dalam. Dirinya diam sejenak memikirkan tawaran Russel. "Akan aku ingat itu." Katanya lalu beralih untuk meneguk sedikit air dingin yang sudah disajikan untuknya. Dia lalu bergerak turun dari stool dan bersiap untuk meninggalkan tempat itu.

"Ah, Will. Aku juga ingin kau memiliki benda semacam ini." Sebelah tangan Russel merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah cincin berdiameter cukup besar dan berwarna keperakan dengan sebuah bandul permata di tengahnya.

"Apa itu?' Tanya Willem sambil menatap benda mirip kalung di tangan Russel.

"Ini disebut collar dan ini adalah kalung yang biasa dikenakan kepada seorang pet. Di bagian belakang bandulnya tertera informasi pemilik dari pet yang dipakaian kalung ini. Untuk berjaga-jaga supaya wanita itu tidak bisa kabur ataupun dirampas darimu. Ku rasa kau harus membuat satu untuk wanita itu sebelum kau membawanya ke pelalangan" Jelas Russel panjang.

Willem melayangkan tatapan bertanya pada si pria berambut blonde, "Dimana aku bisa mendapatkannya?"

Russel mengibaskan tangannya sambil terkekeh ringan, "Tidak perlu khawatir, salah satu kenalanku adalah pengrajin collar. Akan ku pesankan satu untukmu dan ku pastikan kau tidak akan mengeluarkan satu sen pun untuk mendapatkan benda ini."

.

.

.

To be continued...

A/N

It took seven months to release the 3rd chapter out, pardon my tardiness! *deep bow* ada beberapa urusan real life yang ga bisa saya tunda juga bumbu-bumbu webe yang membayangi bikin saya rada mager buat nge-post chapter selanjunya, padahal chapter ini udah selesai di awal tahun 2016. Sekali lagi, sorry for making you guys wait too long! *bow bow* saya lagi coba tehnik(?) pemetaan alur cerita dan sepertinya saya bakal post chapter ke-empat dalam waktu dekat, mungkin minggu depan, dan ya... happy reading~ semoga followers cerita ini ga berkurang fufufufu ;;;