BoBoiBoy © Animonsta Studios

Cinderella © Disney

Warn! Cinderella!Gempa; Fairy!Taufan; Typo; AU; Enjoy while reading!


Pada zaman dahulu, hiduplah seorang pemuda malang

Tiap pagi sudah memandikan saudara-saudara jalang

Tidak lupa menyikat gigi bapak bermuka garang

Kujamin semua itu takkan lama memberang

Karena kini datang seorang peri bertampang gaya yang penyayang~~~


"K—kamu siapa?! Nyanyianmu narsis sekali," tegur Gemparella yang kini mundur perlahan dengan terduduk. "T—Taufan?"

Aku nyengir sambil memposisikan diriku dengan mengacak pinggang. Aduh melihat wajahnya yang ketakutan saja sudah menjadi hiburan bagiku.

"Pertanyaan bagus, pemuda tampan~ Ah sial aku bohong, padahal kamu lebih cocok manis dari tampan!" rewelku. Aku memposisikan diriku nyaman berdiri. "Karena kau tahu, aku punya sayap capung dan tongkat peri, maka aku jelas-jelas bukan peri gadungan! Daaaaaannnnn… kami memang hobi sekali bernyanyi~"

Aku melambungkan tongkat periku ke atas dan menangkapnya. Kembali aku melakukan hal yang sama secara terus menerus dengan masih mengoceh percaya diri.

"Tapi khusus untukku, aku punya bakat terpendam dari peri-peri lain! Ihhh! Harusnya kau beruntung karena mendapatkanku menjadi penjagamu!" aku menjerit alay. "Nih liat ya, aku bisa buat benda ini berdiri di hidungku!"

Sesuai perkataanku, aku meletakkan pangkal tongkat pada ujung hidung lalu mulai menjaga keseimbangannya. Terus menerus tongkatku berujung lancip itu meliuk kiri-kanan.

"Ahahaha…"

Aku mendengar lirihan tawanya. Kulambungkan tongkatku dengan melompat, memutari tubuhku tiga kali sebanyak 360 derajat, menaikkan tanganku untuk meraih kembali tongkatku. Gerakan final, aku mengibaskan poniku.

"Ahaha! Kau memang punya bakat murni sebagai manusia—itu, pemain sirkus!" gelak Gemparella di tempat. "Hahaha, mirip pinguin—eh enggak, monyet!"

Perempatan imajiner nyantol di dahi nonongku.

"Gemparella, kadang bicaramu yang jujur itu menyebalkan," sungutku. Aku mengarahkan tongkatku padanya, membuat tubuhnya naik dan terbang. Kini rasakan tidak ada gravitasi menarik tubuhmu ke inti bumi.

"A—apa salahku?!" Gemparella antara takut dan tidak tahu mau berekspresi apa.

"Enak ya, serasa di antariksa gitu~ Terbang kayak astronot di roket, bisa gaya berenang~" ucapku.

"Eh, g—gitu ya?"

Miris melihatnya. Manusia ini kukatakan secara jujur, sudah biasa untuk memendam perasaan. Seharusnya dia panik atau paling tidak merasa hal negatif ketika nyawanya terancam, dan aku juga beberapa kali bicara untuk menariknya marah. Tapi sungguh reaksinya membuatku iba.

Aku tidak tahu bagaimana dia semasa kecil, tapi…

"Kata mendiang Ibumu, kau adalah anak yang ceria dan sedikit tegas. Kenapa kau terlihat hambar sekali sebagai manusia?"

Aku dalam posisi telentang, sementara dia dalam posisi berlawanan denganku dengan badannya yang telungkup. Iris emas itu membelalak sejenak, lalu kembali membesar namun redup.

"… apa kau tahu Ibuku?"

"… menurutmu?"

"… Ibu, masuk surga ya? Jadi orang baik?" cercahan senyum membuat pandangan kosong itu kembali tampak hidup. "Taufan bertemu dia di surga, bukan?"

"Itu privasi, tidak boleh diketahui oleh orang dunia. Tapi kalau kau yakin, itu bisa saja terjadi."

Ia memantapkan senyumnya.


Kisah rajutanmu, tergambar pada pakaian yang kau kenakan

Kadang rapi, kadang renggang satu sama lain, membuat simpulan perajut sifat

Menyedihkannya,

Dirimu seperti apa yang kau kenakan

Menambal luka hati yang telah ada

Seperti beberapa kain terpaut pada baju dan celanamu yang telah robek

Siapakah dirimu yang dulu, sebelum menjadi cacat oleh goresan itu?

Kutahu suatu saat aku akan menyesal mempertanyakannya

Entah bagaimana firasat takut ini terundang


"… berhentilah menyanyi…."

Aku mengerjapkam mataku.

"Aku tidak mau dikasihani. Kalau kau kesini hanya untuk mengungkit penderitaanku, lebih baik kau pergi."

Oh. Sangat menarik.

Dia memalingkan irisnya. Dia enggan menatapku. Aku menurunkan tubuhnya perlahan dengan mengarahkan tongkat sihirku dalam diam, namun tak berhenti melukiskan senyuman.

"Haa~ Sayang, aku perimu. Aku tidak bisa pergi sebelum keinginanmu terwujud. Apa ya keinginanmu~ Hmm…"

Terdengar suara aneh menggema. Aku berbalik, dan yang kudapatkan adalah daun pintu yang kini terbuka secara perlahan. Aku memutar tongkat sihirku untuk menggerakkan tubuh Gempa telentang.

"Pura-pura tidur, Gemparella!"

"Enghh… Gemparella…?"

Sosok anak laki-laki dengan memakai jaket dua kali lebih besar dari tubuhnya masuk diam-diam dalam kamar. Ia mendekati Gemparella yang sudah terbaring terkulai.

"Enghh… maaf soal malam itu," anak laki-laki yang kuyakini sekali adalah Ice sedang menunduk sedih. Lalu ia kembali mendongak angkuh. "Soalnya kau memang orang menyebalkan! Rasakan bagaimana rasanya aku dulu melihatmu dengan Ibu bagaimana! Huh!"

Ah aku mengerti… ada unsur cemburu rupanya…

"Hmm, tidur yang nyenyak kakak jahat."

Ice berjalan seperti ingin keluar kamar. Mengapa kukatakan seperti? Tadi jalannya seperti bukan ingin menuju pintu walau kelihatan ingin berbalik pergi—bukannya dia sudah menyelesaikan urusan dengan Gempa, dan tidak lama kulihat dia malah berbelok menuju lipatan baju dalam keranjang punya mereka. Ice mengambil sesuatu dari dalamnya.

…tidak, dia jangan-jangan yang membuat Gemparella difitnah pagi itu—

… dan tunggu, kalau beneran difitnah… berarti Gemparella bohong? Berarti celana dalam Blaze tidak ada dipakai dan kancutnya benar-benar hilang?

T—tapi masalahnya, aku tidak tahu kenapa Ice malu dan lagian Ice juga tidak mengelak karangan Gemparellla?

"Hmm~ Kancut segitiga kumal gini apaan juga?"

Eit eit tunggu!

"Semoga Blaze suka segitiga barunya."

Bisikannya kecil sekali sampai aku harus mendekat pelan-pelan. Dia menaruh baik-baik kancut baru yang sepertinya sudah dicuci itu, disisipkan ke tempatnya seharusnya. Tubuhnya diam. Tidak lama ia berbalik spontan, membuatku kaget.

"Rasanya aku merasa diawasi, tapi siapa? Uhh biasanya kalau jam segini pasti Blaze akan mencariku!"

Ice bangkit dan keluar kamar secepatnya. Kudengar suara pintu ditutup, kemudian aku mendekati Gemparella yang masih membaringkan badannya.

"Gemparella?" tanyaku hati-hati.

"… Kenapa kau bisa terbang keliaran?"

"Aku hanya bisa dilihat dan didengar pemilikku yang mencintaiku—uff maksudku, anak yang kujaga," demi apapun aku tidak bermaksud homoan dengannya. "Giliran aku yang tanya, ya. Kenapa kau masih tiduran di lantai dingin begitu?"

"…rasanya nyaman."

"…"

Aku ingin sekali menawarkan diri untuk mendengarnya, namun kulihat ekspresinya tidak nyaman seperti ingin sendiri. Apa? Apa yang harus dilakukan seorang peri untuk membangkitkan mood orang yang ia jaga?

Dan aku hanya bisa menyilakan kedua kakiku, duduk di depannya dengan wajah prihatin.

=oOo=

Keesokan paginya, Gemparella kembali menjalani rutinitas hari-harinya sebagai pengurus rumah! Pagi-pagi sudah bangun dan mandi. Cuci piring sudah dia lakukan tadi malam bersama dengan cuci baju. Jadi paginya tinggal jemuran. Dan kenapa aku merasa seperti reporter dibanding peri?

"Nah ini makanmu, Ichi," Gemparella memberi makan kucing jalanan yang datang menghampirinya. Kucing itu tampak jinak saat bersama Gempa.

btw nih, aku boleh menyingkat namanya kan hehe.

"Meoonggg!"

Deg!

Aku merasa aneh dengan bagaimana kucing itu melihatku, padahal sudah ada makanan depannya. Dia berjalan perlahan, mendekatiku.

"Kucing manis, jangan deket-deket!"

Kucing berbulu putih dan emas masih mendekatiku sambil mengeong riang. Aku sudah terbang menjauhinya namun dia malah mempercepat langkahnya lalu mengejarku!

"Ichi, makanmu belum dimakan!" Gempa terheran-heran. Gimana gak heran kalau daritadi kami mutar-mutar di jemuran orang.

"Gemparella?"

"Ah, iya?"

Aku melihat Ice menghampiri Gempa dengan membawa ponsel di tangannya. Berwarna putih, benar-benar putih—tidak ada warna kuning atau lecet debu apapun. Seperti ponsel yang baru dibeli. Gempa juga sempat melirik pada benda komunikasi itu.

Tangannya naik dan mengayun tepat pada wajah Gempa bersama ponsel itu. Iya, pamer.

"Bagus kan? Baru kubeli tadi malam loh~"

Gempa hanya tersenyum, "Iya, bagus."

"Kau punya kartu SIM?"

"Ga punya."

"Hahh~ Zaman modern begini kenapa malah gak punya handphone? Sedihnya, ckckck. Gimana mau komunikasi?"

"… aku saja pakai fax untuk nelpon."

"Hah? Kau punya fax? Sejak kapan?"

"Sejak aku bisa mulas dan lari ke toilet."

"Gemparella."

"Ya?"

"Sudah begonya, ya?"

Gempa tertawa grogi.

"Belilah kartu sendiri di luar! Cari nomor yang sesuai dengan seleramu!"

Aku merasakan firasat aneh dengan saudara Gempa. Tahu 'kan, dia adalah orang yang tadi malam terang-terangan bilang punya akal busuk?

"Jangan terima, Gempa! Jangan!" bisikku. Aku melayang pada sebelah Gempa yang masih berdiri berhadapan dengan Ice. "Dia kemarin terang-terangan bilang mencelakaimu! Pokoknya jangan!"

"Aku tahu apa maksudmu," aku yakin Gempa bicara padaku dari melihat bagaimana wajahnya bergerak untuk menoleh padaku walau sekejap mata. "Ice, aku sudah bilang aku tidak punya ponsel. Lagian aku tidak punya uang."

"Hahh~ Miskin sih, ya~" Ice menarik tangan Gempa. "Makanya cari kerjaan di luar~ Kerjaannya malas-malasan terus sih."

Gempa! Biarkan aku bicara atau menutup tong kosongnya itu! Argh dia tidak sadar kah, kalau Gempa pontang-panting bekerja dari pagi sampai malam demi kalian?! Juga kalian enak punya orangtua yang bisa dimanja! Kalau diminta uang juga pasti dikasi! Beda dengan Gempa, bego!

Dan lagian, jauhkan tanganmu dari tangan Gempa! Jijik melihat hyena merayu seekor rusa!

"Nah, terimalah ponsel ini."

Aku melongo. Kalau bisa aku akan menjatuhkan rahang bawahku pada tanah.

Ice memberikan ponselnya pada Gempa? Ponsel baru? Yang kelihatan bermerek dan punya kamera—yang pasti bukan main-main harganya itu? Pada orang yang dibencinya? Kesambet apaan nih anak?

"Anggap saja hadiah dari ayah. Permintaan maaf karena kemarin menghardikmu ramai-ramai."

—oh, rupanya mencari muka.

"Hati-hati, kau tidak tahu akan pikirannya!" bisikku kembali.

"Iks…"

Mengejutkan sekali, karena Ice langsung memeluk Gempa saat Gempa sendiri ingin menangis. Tangannya mengelus pundak saudara tirinya.

"Maaf, aku sadar kemarin adalah salahku… aku salah karena ikut memusuhimu…"

Regapannya makin erat. Ice memejamkan matanya seakan membagi rasa hangat pada dirinya.

"Papa menderita penyakit jantung. Jadi, mohon maafkan Papa, Gemparella…"

"A—apa?!" Gempa panik. "K—kapan? Mana Ayah Halilintar?!"

"Jangan kelabakan jalan! Jangan membuat Papa syok!" pinya Ice. "Pergilah, kalau mau."

Kedua saudara berstatus tiri saling membuka peluk mereka. Gempa segera berlari masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Ice yang masih berdiri pada halaman rumah.

Mau tidak mau aku mengikuti dari belakang Gempa. Aku terus mengiringinya jalan dan sempat kutoleh Ice karena khawatir dia hanya diam.

—apakah dia tadi…tersenyum?

=oOo=

Rasanya aku ingat kalau Ice bilang Papanya sakit? Ya, dia total berbohong.

Ketika Gempa berlari ingin memasuki kamar pribadi Halilintar, ia tidak menemukan tubuh sang Ayah tiri terbaring pada kasur. Gempa mengelilingi kamar namun ia tidak menemukan kejanggalan. Jutsru saat ia ingin keluar kamar, muncul sosok yang dicari Gempa baru muncul dengan masuk ke dalam pintu kamarnya.

"Kenapa kau malah masuk kamarku? Sudah jemuran? Mandikan mereka?"

Gempa menunduk. Papa Halilintar berucap sarkasme kembali dengan mengungkit-ungkit pekerjaan rumah yang harus dikerjakan Gempa.

"… Ayah sehat, 'kan?"

"…," aku sempat melihat dia mengejang. Halilintar memalingkan irisnya. "Untuk apa bertanya hal seperti itu? Kembalilah kerja!"

"Hahaha… syukurlah…"

Tatapan wajah Halilintar menjadi hangat melihat Gempa tertawa. Tangan lebarna megusap kepala Gempa dengan lembut.

"Kembalilah bekerja."

"Siap, Ayah!"

Gempa keluar dari kamar Ayahnya dengan perasaan riang. Senyumnya mengembang dan tak luntur bahkan sampai pada halaman belakang rumah. Namun hal itu tidak melunturkan rajinnya menjemur pakaian mereka yang menggunung.

Kuanalisa, sepertinya Ayah tiri Gempa tidak terlalu jahat? Mengusap kepala gemas begitu bisa mengepak perlakuannya kemarin. Ayahnya ternyata begitu menyayangi Gempa.

Yah, jika demikian… aku juga bakal menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat.

Karena ada yang menyeka airmatanya. Tidak ada yang membuatnya sakit hati, mungkin?

Lalu Happy Ending!

"GEMPAAAAAARELLAAAAAA!"

Gempa menoleh. Suara teriakan menggelegar yang terdengar tidak santai begitu, siapa lagi kalau bukan suara—

"A—Ayah?"

Hah? Halilintar?!

"Ke sini! Cepat!" teriaknya kasar. Gempa menuruti dan meninggalkan lagi pekerjaan menjemurnya. Tak lama Gempa sampai di hadapan Halilintar.

"Ada apa Ayah—aduh!"

Astaga, tellinga Gempa ditarik? Tenaga yang dikeluarkan Halilintar sebagai seorang Ayah tidak main-main, maksudku terhadap anak harus begitukah sang Ayah memperlakukan anaknya?

"Kembalikan ponsel yang kau simpan itu!"

"I—ini ponsel pemberian—"

"Bohong!" Ice menimpali dari belakang. "Tuh 'kan, Papa! Sekarang aku dituduh! Memang aku ini terlalu baik ya, sampai ada yang tega-teganya mendzolimiku? Astaga~"

"H—hah?" Gempa melongo. "Tapi—"

"Masih banyak bicara lagi!" kini telinga Gempa diputar. "Jangan bicara bohong kalau tidak mau telingamu robek! Kembalikan ponsel itu! Darimana juga kau dapat? Aku tidak pernah memberimu uang, dan kau sudah tidak tahan sampai mencuri ke kamarku?!"

"Eh ada apa ini?" Blaze juga ikut masuk dalam keributan.

"Stt!" Ice mendiami Blaze. "Janga ribut!"

"Blaze, Ice, periksa kamarnya. Disini biar aku yang geledah.""

"S—siap Papa.."

"Gemparella, aku benar-benar kecewa denganmu."

Aku menghilang dari hadapan Gempa, berjalan kemanapun asal tidak melihatnya sekarang. Karena aku tidak diizinkan ikut campur dalam urusan apapun tanpa perintah majikanku.


Apakah kau percaya bahwa akhir bahagia datang?

Saat kau sudah lama bersabar dengan berbagai cobaan?

Yakinkan dan mantapkan dalam hati bahwa semua akan baik-baik saja

Jangan mendendam

Jangan putus asa

Karena saat kau berubah, skenario cerita hidup juga akan berubah


"Pangeran Fang, kenapa Anda mau jalan-jalan?"

Seorang pengawal berbadan gemuk dengan kulit hitam, mendampingi laki-laki berambut hitam kebiruan acak dengan masing-masing mengendarai motor Harley. Mereka berdua memakai baju resmi kerajaan. Namun yang berambut acak memakai baju lebih rapi.

—oke, mungkin baju casual atau pakaian kerja entah aku tidak mengerti.

"Aku akan adakan acara dansa kerajaan dan mencari mempelaiku. Seorang perempuan manis yang akan mewarisi keturunan dariku."

"Semoga dapat, pangeran."

"Hei, kau seakan tidak yakin denganku?"

"… bukannya pangeran suka homo? Kenapa tidak mencari kaum laki-laki? Atau mungkin, saya~?"

"Heh, makanya aku perlu kau! Bilang kalau laki-laki juga boleh ikut tapi harus menyamar jadi wanita! Modus gombal, lagi!"

"Iya iya, pangeran."

Bagaimana kalian bisa berkomunikasi terang-terangan seperti itu di jalanan umum?! Dan kenapa aku harus bertemu mereka?!


A/N: "Kancut Blaze bolong~" quotes fav dari blackcorrals lol. "Sebenarnya yang jadi naratornya itu kau kan, Taufan!? Narator -yg bila tak salah- cakap Gempa tu kudet!?" hayoloh Taufan ditanyain Asha wkwkwkwk

Anyway, thanks for love my fanfics~ Love you all readers!

Regards,

nufuruu