Atsushi merutuk. Baru setengah jalan di dunia mimpi ada yang mengganggunya saat sedang asyik dengan khayalannya. Padahal ia sedang di puncak.

Sedikit lagi, baru ingin menaiki perahu berbentuk cangkir, mengambangi lautan penuh cairan cokelat dengan lima bungkus maiubo di tangannya. Rencananya saat ditengah-tengah nanti ia akan memakannya berbarengan dengan coklat yang sedang ia arungi. Hanya dengan memikirkannya saja sudah membuat saliva mulai menetes dari mulutnya.

Tetsu-chin, suaramu berisik sekali.

Atsushi bangkit dari posisi tidurnya. Masih setengah sadar. Guling masih dipelukannya. Ia memejamkan mata, mencoba fokus.

"Memangnya apa yang kau tahu tentang hidupku?"

"Jangan pedulikan aku!"

"Tinggalkan aku!"

Sepasang iris lavender terbuka kembali, penasaran apa yang membuat si bungsu murka tengah malam begini. Kejadian langka, tidak, ini pertama kalinya. Pasalnya, sejak dulu Tetsuya itu terkenal dengan pribadi yang kalem dan tenang. Kalau sampai ada yang membuatnya meledak, itu pasti karena hal yang serius.

Dengan ini Atsushi buru-buru berlari keluar kamarnya dengan guling masih dipelukan, ia tidak sadar. Ia berlari melewati koridor kamar Akashi bersaudara yang berderet di lorong lantai dua yang terbilang gelap, dan sempat hampir terpeleset. Kesadarannya memang belum sepenuhnya kembali.

Saat ingin menuruni tangga yang memutar, ia malah berpapasan dengan adiknya yang sedang menaiki tangga terburu-buru.

Sekilas, Atsushi dapat melihat merah di pipi bagian kanan adiknya.

Ada apa ini?

Ia berusaha mengatur nafasnya yang terengah. Berlari dengan membawa tubuh besarnya ini memang sulit. Ditambah ia jarang berolahraga. Atsushi tak terbiasa.

Ketika ia fokus pada sesuatu di depannya, Atsushi melihat merah lagi. Berbeda, kali Ini adalah merah menyala rambut milik kakak sulungnya, Seijuurou.

Ia tidak bodoh untuk tidak menyadari kalau Seijuurou sedang dalam mood yang buruk. Terlihat kesal dan kepalanya ditundukkan. Atsushi juga dapat melihat jelas kedua tangannya yang sedang mengepal kuat-sampai bergetar.

Rasanya sebentar lagi akan kiamat. Tetsuya yang murka. Seijuurou yang marah. Ada apa gerangan diantara mereka berdua? Memikirkannya membuat kepalanya pening, guling dipelukannya hampir hancur akibat cengkramannya yang menguat.

"Atsushi," Seijuurou angkat bicara, suaranya parau. Kepalanya ditegakkan, Atsushi mengamati wajah kelewat datar kakaknya saat ini. Eh? Ia yakin beberapa detik lalu Seijuurou terlihat ... tertekan?

Mengambil langkah mendekat, si sulung mengikuti jejak si bungsu. Ketika mereka bersisihan ia berbisik pelan, tanpa berhenti, "Lupakan apa yang kau lihat malam ini."

"E-eh? ... Baiklah, kalau itu mau Sei-chin."

Karena Akashi Atsushi yakin, segala tindakan yang dilakukan oleh kakaknya pasti selalu tepat.

x x x

Keesokan harinya, Atsushi tak menemui Tetsuya di meja makan saat sarapan. Sedang ngambek mungkin dengan Seijuurou.

"Maaf, Seijuurou-sama. Tetsuya-sama tidak menjawab panggilan saya sedari tadi. Mungkin ia masih tidur?" terdengar ragu diujung kalimat-pelayan perempuan dengan seragam serba hitam menunduk, menyembunyikan wajahnya.

Tidak mungkin. Tetsuya bukan kerbau seperti Daiki yang kalau sudah tidur seperti orang mati—kalau majalah dewasanya tak dijadikan jaminan, ia mungkin takkan mau bangun dari kasur empuknya. Beda dengan Ryouta yang harus diguncang berulang kali agar mau meninggalkan mimpinya yang tampak wah. Tetsuya berbeda. Suara langkah kaki saja bisa membuatnya terbangun. Terlebih Tetsuya itu bisa dibilang yang paling rajin di antara mereka berenam.

"Antarkan bagiannya kalau begitu. Mungkin ia sedang tak enak badan. Jangan lupa periksa keadaannya."

"Aku yang akan memeriksanya nanti, memangnya buat apa ada dokter di rumah ini kalau tak digunakan?" sela Shintarou yang duduk berhadapan dengan Seijuurou. Pria dengan iris emerald itu nampak rapih memakai jas berwarna putih, seragam yang selalu dipakainya setiap berangkat ke rumah sakit pagi-pagi.

"Ya, kau benar. Tolong periksa keadaanya, Shintarou. Entah mengapa aku khawatir."

"Hmph! Te-tentu saja. Tanpa kau suruh pun aku akan melakukannya-nanodayo."

Atsushi hanya diam di tempatnya, memandang keduanya bergantian. Ia bingung kenapa kakak tertuanya yang semalam habis bertengkar hebat dengan si bungsu tak menunjukan gerak-gerik yang berarti, masih tenang seperti biasa. Tidak ada penyesalan sama sekali. Tunggu, memang siapa yang salah di antara mereka? Atau, siapa yang memulainya duluan? Kenapa mereka berdua ada di ruang tamu malam itu? Dan-terlalu banyak pertanyaan di kepalanya, membuat kepala Atsushi yang kecil sakit.

Tapi, karena Seijuurou bilang ia harus melupakannya, maka Atsushi harus melakukannya.

Kemudian setelah saudara tsundere-nya memulai ritual paginya, ia ikut menyendok nasi bagiannya.

x x x x

Perasaan Atsushi tidak enak.

Adik bungsunya tak menunjukan batang hidungnya di rumah dua hari belakangan. Saat sarapan pagi atau makan malam pun, ia tak hadir (Atsushi tidak makan siang di rumah lantaran sibuk dengan bisnis toko kuenya).

Pernah ia mencoba berbicara langsung-Atsushi sudah berada di depan kamar bercat biru cerah milik si adik biru muda.

"Tetsu-chin? Kenapa? Belakangan ini jadi pendiam begini?" yang lain khawatir padamu, termasuk aku.

Kalimat terakhir tak lolos. Dibiarkan menguap begitu saja.

"..."

"Tetsu-chin?"

"..."

"Tetsu-chin? Kau di dalam, 'kan? Apa kau baik-baik saja!?"

Frustasi lantaran panggilannya tak dijawab, Atsushi hampir mendobrak pintu kayu tersebut, khawatir takut terjadi sesuatu di dalam sana, kalau suara lemah tak menyapa-

"Aku baik-baik saja, Atsushi-nii.. aku sedang ingin sendiri, jadi tolong jangan ganggu aku. Dan ... terimakasih karena sudah mengkhawatirkanku."

"Tapi.."

"Tolong hargai aku, Atsushi-nii. Kalau ada yang bertanya, katakan aku sedang sibuk menyusun skripsiku, jangan menganggu. Bisa 'kan?"

"... Baiklah kalau itu maumu."

"Terima kasih."

x x x x

Atsushi tersenyum. Keesokan harinya, tiga hari setelah kejadian 'itu', akhirnya Tetsuya muncul juga ke permukaan, tepatnya saat sarapan pagi.

Tapi ada yang membuatnya heran. Itu adalah pakaian yang dikenakan adiknya itu. Ini sedang musim panas, kenapa adiknya malah memakai baju panjang berbahan tebal, ada syal merah yang melingkar di lehernya pula. Tetsuya tidak sedang mabuk, 'kan?

Mencoba berpikir positif, ya barangkali saudara kecilnya hanya sedang tidak enak badan dan kulitnya jadi sensitif. Tetsuya memang begitu dari kecil, tubuhnya rentan. Atsushi juga menyadari wajah pucat adiknya. Ada lingkaran hitam di sekitar matanya, pipinya makin tirus, dan ... tubuh adiknya semakin kurus. Atsushi memang tak terlalu memerhatikan pertumbuhannya, tapi ia cukup peka dengan perubahan si kecil. Padahal, terakhir ia melihat keadaannya, Tetsuya masih sehat-sehat saja.

"Tetsu-chin, kau baik-baik saja?"

"Aku tidak apa-apa, Atsushi-nii. Ah, omong-omong, kemana Shintarou-nii dan Seijuurou-nii?"

"Tarou-chin belum pulang sejak kemarin, Sei-chin sudah berangkat pagi-pagi sekali, katanya ada urusan penting."

"Oh."

Atsushi memerhatikan tindak-tanduk Tetsuya. Tangannya yang meraih sendok dan garpu di sebelah piring, kemudian ketika mencoba meraup nasi dan lauk, Atsushi sadar, tangan itu gemetar.

Sebegitu buruknyakah keadaan Tetsuya? Apa Atsushi perlu menelepon Shintarou atau menggendongnya langsung ke rumah sakit? Atsushi benar-benar khawatir.

"Tetsu-chin yakin baik-baik saja?"

Sang objek menghentikan aktivitasnya untuk sesaat. Memerhatikannya dengan mata bulat sewarna biru langit yang terlihat sayu. Dua detik berikutnya, bibir pucat itu mengeluarkan tawa kecil, yang jujur saja membuat Atsushi bingung. Apa yang lucu?

"Aku baik-baik saja, Atsushi-nii. Tidak usah sekhawatir itu. Tetsuya itu kuat, tahu."

Tangan diangkat. Tetsuya memperlihatkan otot lengan kecilnya yang menyedihkan. Kalau tak tertutupi oleh baju tebal itu, besar tangannya pasti lebih kecil dari sekarang.

Gantian, Atsushi yang tertawa kecil. Tetsuya memang tak pernah berubah, ia selalu berhasil menghilangkan rasa gelisah yang ia rasakan.

"Baiklah kalau Tetsu-chin bilang begitu."

Garpu dan sendok sudah siap di kedua tangannya, berucap singkat 'Ittadakimasu' Atsushi kemudian melahap makanan bagiannya.

.

Lima menit setelahnya, Tetsuya bangkit dari posisi duduknya. "Aku selesai."

"Eh? Cepat sekali." Ia melirik pada sisa makanan di sana. Hanya berkurang sedikit, seperempatnya saja tidak ada. Atsushi bahkan sudah menghabiskan piring kedua. "Habiskan makananmu, Tetsu-chin."

"Aku sudah kenyang, Atsushi-nii. Lagipula, aku harus segera pergi ke kampus.

"Tetsuya pergi dulu, Atsushi-nii. Ittekimasu." Membungkuk sedikit di hadapan kakaknya. Kemudian tersenyum sekilas pada Atsushi, dengan ini Tetsuya meninggalkan ruang makan.

"Ya. Hati-hati, Tetsu-chin."

Satu yang Atsushi tak sadari, ada setetes air mata yang jatuh dari pipi adiknya sebelum punggung kecil itu menghilang sempurna.

Xxxx

.

.

.

Toko Atsushi sedang ramai hari ini, seperti biasa. Tapi kali ini lebih ramai lagi dari biasanya. Ia bahkan sampai angkat tangan memasak di dapur bersama para karyawannya, padahal biasanya Atsushi hanya mengawasi keadaan sekitar.

Atsushi sedang mengocok adonan kue, kemudian ponsel di saku celananya bergetar. Ada yang menghubunginya.

Ia mengabaikannya, tidak tahu apa kalau ia sedang sibuk? Tokonya sedang ramai.

Paling-paling hanya orang iseng. Tidak mungkin salah satu saudaranya yang menghubunginya. Mereka terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

Atsushi bukan pengecualian, makanya ia mengabaikannya.

Ponselnya terus bergetar sampai beberapa kali, tapi Atsushi tetap tak bergeming. Sibuk mengocok adonan, memanggang, menghias, dan lain sebagainya.

Setelah tokonya mulai sepi, barulah ia mengecek ponselnya.

Lima panggilan tak terjawab dan satu pesan belum dibaca. Semuanya dari Shintarou.

"Heh? Tumben sekali ... " Atsushi menggumam malas.

Dibukanya satu pesan yang belum dibaca dari Shintarou. Adalah sesuatu yang langka mendapatkan pesan dari saudara berkacamatanya itu. Sifatnya tsundere, pekerjaannya di rumah sakit juga sedang dalam puncaknya. Terbukti, Shintarou yang tak pulang ke rumah semalam.

Kemudian tatapan malasnya seketika lenyap, matanya membulat sempurna, tangannya yang memegang ponsel bergetar hebat membuat ponsel tersebut terjatuh.

Mendadak tidak bisa berkata apa-apa. Mulutnya hanya bisa terbuka-tertutup kemudian terbuka, begitu seterusnya.

Ada sesuatu yang mengalir dari pipinya, semakin lama semakin deras. Ia dapat merasakannya.

"ARGGGHHHHHHH..."

PRANG!

Atsushi berteriak histeris seperti orang kesetanan. Mengacak-acak apa yang ada di hadapannya. Berikutnya, piring, mangkuk, dan sejumlah peralatan dapur di sekitarnya yang terbuat dari keramik jatuh lalu pecah. Membuat sejumlah karyawan di sekitar terkejut dengan tingkah bosnya. Mereka langsung menahan tubuh besar Atsushi dan berusaha menenangkan.

Tapi Atsushi tetap mengamuk.

'Tidak mungkin ... '

'Tidak mungkin adiknya meninggal, kan?'

Baru tadi pagi Atsushi mengobrol langsung dengan adiknya. Sarapan berdua, bertegur sapa setelah sekian lama tak berinteraksi langsung.

'Jadi ini arti kata-katamu tadi pagi, Tetsu-chin?'

.

.

"—Tetsuya pergi dulu, Atsushi-nii. Ittekimasu."

"Ya, hati-hati, Tetsu-chin."