Hello, My Story
Untukku Sepuluh Tahun Mendatang
KnB milik Tadatoshi Fujimaki-sensei, desu. Saya hanya meminjam karakter miliknya.
.
...
Past and future is not important.
Today is the most important.
Seek your happiness without any parameter.
I wish you are still happy in the further.
...
.
Aku, Akashi Shintarou saat ini sedang mencoba untuk memahami segala situasi rumit yang sedang terjadi. Semua ini ... aku tak , karena aku yakin diriku yang sekarang belum cukup dewasa untuk bertindak sesuai sesuai kondisi.
Parahnya, hatiku masih terpaku pada masa lalu.
Hei, untuk diriku sepuluh tahun mendatang, apakah sekarang kau bahagia?
Ataukah kau sedang bersedih? Mengapa kau sedang menangis?
Memikirkan hari yang berlalu, yang bisa aku lakukan hanyalah mengikuti arus waktu.
Dan aku juga bertanya-tanya, mungkinkah hari itu akan terulang kembali?
Hei, mereka—orang yang kamu sayangi—apakah tidak berubah sampai sekarang?
Ataukah dia telah menjauh dan melangkah pada jalannya sendiri?
...
Untuk aku sepuluh tahun mendatang, jika sekarang kau sedang bahagia—
Segala sesuatu tentang diriku dulu, apa kau masih mengingatnya?
Disini ada hal yang menyakitkan, bahkan sampai membuatku menangis.
Jika kau bisa, ubahlah air mata itu dengan perlahan, menjadi kenangan yang indah.
.
.
Shintarou Akashi tidak sediam seperti apa yang orang-orang dan saudaranya pikirkan.
Ya. Jika kau bertanya tentang bagaimana perasaannya yang sebenarnya, ia tak akan pernah mau mengaku. Shintarou pasti akan menjawab berkebalikan dengan apa yang ia rasakan, kata orang-orang yang kenal dekat dengan dirinya.
Tapi percayalah, diam-diam di dalam kamarnya, ketika ia sedang fokus dengan pelajarannya—kadang pikiran tentang masa depan kerap menganggunya. Dan saat itu terjadi, Shintarou akan mengambil selembar kertas lalu menuliskan segala sesuatu yang ada dikepalanya sebagai pelampiasan.
Ia tidak punya teman sebagai teman pelepasan, karena Shintarou sendirian sekarang. Walaupun di atap yang sama tinggal lima saudaranya yang lain, tapi tetap saja ia merasa mereka seperti orang asing. Sekarang.
Ah ... Sejak kapan ada jurang yang tumbuh di keluarga ini, omong-omong? Shintarou tidak ingat. Banyak hal yang terjadi setelah setahun berlalu.
Menjadi kedua yang dewasa tidak menutup kemungkinan kalau ia mempunyai pikiran dewasa pula. Kata siapa? Shintarou hanya remaja 17 tahun, belum menginjak kepala dua. Seijuurou kakaknya pun sama, ia hanya setahun lebih tua darinya dan itu tak mengubah kenyataan bahwa mereka adalah remaja yang masih ingin menghabiskan waktu mudanya dengan hal-hal menyenangkan yang muda-mudi biasa rasakan. Berpacaran, hang-out bersama teman-teman, bahkan pergi ke bar untuk berpesta, barangkali?
Wajar ... bukan? Walaupun Shintarou sendiri dikenal sebagai anak yang pendiam dan tidak tertarik dengan hal tidak penting macam itu, setidaknya jika ada yang memaksanya ia akan ikut.
Tunggu sebentar ... Apa maksud perkataannya ini!? Abaikan-nanodayo!
Kembali ke cerita; sebagai yang tertua kedua, dan sering berada di rumah, segala tanggung jawab keempat adiknya jatuh kepadanya. Mengurus Daiki, Atsushi atau Ryouta mungkin tak terlalu sulit. Sejak umur mereka sudah cukup besar, juga sudah diajarkan untuk mandiri sejak kecil oleh mendiang kedua orang tuanya dan Seijuurou. Tidak ada masalah.
Masalahnya terletak pada si kecil Tetsuya. Shintarou mengetahui sepenuhnya bocah berumur sembilan tahun sepertinya seharusnya membutuhkan kasih sayang berlebih dari lingkungan keluarga terutama orang tua. Masalahnya Tetsuya—tidak, maksudnya mereka, sudah tak memiliki itu. Setahun yang lalu Otou-san dan Okaa-san pergi secara mendadak, meninggalkan enam putranya yang masih membutuhkan keberadaan mereka.
Shintarou masih merasa malu paska kejadian itu. Ia enggan mendekati adik kecilnya, atau sekadar mengajaknya bermain. Bahkan terhitung sejak hari itu, ia mengingat hanya beberapa kali berbicara dengan si bungsu Tetsuya.
Malu kenapa? Saat sulit seperti waktu itu, ia malah menjauh—mengisolasi diri dari yang lain. Tetsuya tak terkecuali. Padahal ia tahu benar Tetsuya yang kebingungan saat itu; Ia yang tak mengerti apa-apa. Dan Shintarou malah mendiamkannya.
Ia sedang kalut sebenarnya, dan bingung ingin menjelaskan apa pada adik kecilnya saat itu.
Ajakan bermainnya diabaikan. Saat ia meminta bantuan padanya, Shintarou tolak mentah-mentah dengan alasan ia sedang sibuk dengan urusannya—belajar. Sebentar lagi Shintarou akan lulus dari SMA dan untuk anak kelas tiga sepertinya bukannya wajar untuk menyibukannya dirinya dalam hal belajar? Kenapa tidak meminta pada yang lain—Ryouta, Daiki, atau Atsushi, barangkali?
Pernah pula, Tetsuya kecil memintanya untuk datang ke acara sekolahnya, tapi Shintarou tak punya waktu untuk menghadiri hal tidak penting macam itu. Memangnya kalau walinya absen, ada yang salah? Tidak ada, 'kan? Toh, wali mereka yang sebenarnya memang sudah tidak ada.
Tapi saat itu Tetsuya malah menangis, memaksa—sambil meraung-raung—Shintarou agar datang, ia bahkan sampai bilang wali dari siswa wajib datang. Ini penting, ada sesuatu yang ingin ditunjukannya, dan kakaknya yang lain bilang tak bisa datang karena alasan tertentu.
"O-onegai.. datang, Shintarou-nii ... hiks ... ada sesuatu ... yang ingin Tetsuya tunjukan pada Shintarou-nii ... Okaa-san atau Otou-san tak bisa datang. Seijuurou-nii sibuk dengan pekerjaannya. Ryouta-nii, Daiki-nii, atau Atsushi-nii mereka tak mau. Kalau bukan pada Shintarou-nii, Tetsuya harus meminta pada siapa ... Tetsuya sudah tak punya siapa-siapa lagi ... hiks ..."
"Dengar, Tetsuya. Kalau mereka sibuk, apalagi aku. Jika mereka tetap memaksa tak usah datang. Dan kalau mereka malah menghukummu, lebih baik kau pindah sekolah saja. Masih banyak sekolah dasar elit yang mau menerimamu. Mereka bukan apa-apa. Malah, akan menyesal jika kehilangan satu siswa berprestasi sepertimu. Paham?"
Beberapa detik setelahnya kedua iris biru muda itu melebar, ada keterkejutannya pada permata jernih itu. Tangisannya terhenti, wajahnya diam terpaku. Shintarou sempat khawatir awalnya. Tapi ketika Shintarou ingin menyadarkan adiknya dari lamunannya, Tetsuya tiba-tiba mundur—seperti menghindar, lalu menunduk dalam. Bibir yang tampak bergetar itu mengucapkan kalimat singkat, "Begitu.. oke, Tetsuya mengerti," kemudian pergi dari hadapan Shintarou secepatnya.
Setelah itu, semuanya berubah.
Semuanya berjalan salah, tak semestinya, dan mulai berbelok.
Hubungan mereka kacau. Perang dingin dimulai. Mereka seperti orang bisu yang tak pernah berbicara dan bertegur sapa. Tetsuya yang terparah. Ia malah sering mengurung diri di kamar dan enggan berkumpul bersama mereka—bila ada kesempatan.
Dan Akashi Shintarou berpikir, mungkin ini kesalahannya yang tidak pernah ambil tindakan atas segala kekeliruan pada hubungan mereka.
Saat rumit seperti inilah, Shintarou akan berdiam diri di kamar. Melakukan kebiasaan kecilnya ketika bingung dan galau.
Salah satunya, ia pernah menulis surat untuk dirinya di masa depan. Menyempilkannya pada salah satu buku agenda. Berharap dirinya di masa depan mengingatnya dan memperbaiki segala kesalahan yang ada.
.
.
.
Pagi hari, sebelum ia berangkat bekerja—Shintarou sibuk mencari buku agenda kecil miliknya. Banyak hal-hal penting di sana, dan ia harus menemukannya sekarang juga. Saat sedang membuka buku-buku lamanya sesuatu terjatuh.
Itu adalah secarik kertas yang dilipat biasa. Masih rapi karena tak pernah tersentuh.
Kata 'Untuk Shintarou' ditulis dengan rapi di bagian atasnya. Ah, dia ingat surat ini..
Ditulis sepuluh tahun yang lalu, saat usianya tujuh belas tahun. Akashi Shintarou yang sekarang—sepuluh tahun mendatang, adalah orang yang berbeda.
Aku, Akashi Shintarou saat ini sedang mencoba untuk memahami segala situasi rumit yang sedang terjadi. Semua ini.. aku tak mengerti, ya, karena aku yakin diriku yang sekarang masih belum dewasa untuk bisa bertindak sesuai kondisi.
Parahnya, hatiku masih terpaku pada masa lalu.
... Kau bodoh karena tak bisa move-on, Shintarou. Tapi aku mengerti, kau memang belum dewasa saat itu.
Untukku sepuluh tahun mendatang, apakah sekarang kau bahagia?
Ataukah kau sedang bersedih? Mengapa kau sedang menangis?
... Aku tidak tau apa yang kurasakan saat ini. Bahagia ... itu seperti apa?
Bersedih? Ya, mungkin aku sedang bersedih. Kenapa kau tahu aku menangis, Shintarou? Kau tahu, banyak hal yang telah terjadi, segala masalah yang kau sebabkan dulu menjadi rumit. Aku yang merasakannya dampaknya sekarang.
Aku menangisi kesalahanku di masa lalu.
Memikirkan hari yang berlalu, yang bisa aku lakukan hanyalah mengikuti arus waktu.
Dan aku juga bertanya-tanya, mungkinkah hari itu akan terulang kembali?
Hei, mereka—orang yang kamu sayangi—apakah tidak berubah sampai sekarang?
Ataukah dia telah menjauh dan melangkah pada jalannya sendiri?
Karena kau pengecut, Shintarou, Dan aku malu menjadi seorang pengecut sepertimu. Kau lemah, kau hanya bisa pasrah. Jika aku bisa, izinkan aku untuk membenahi segala kesalahanmu dulu.
Hari itu—hari bersamanya—tak akan pernah kembali, Baka-Shintarou.
Mereka yang kusayangi.. tentu sudah berubah. Setiap orang pasti berubah, kan? aku juga, dan dia bukan pengecualian. Hanya saja, dia yang kusayangi sudah berubah menjadi makanan para makhluk bawah tanah sana.
Dan, ya, dia menjauh. Melangkah—mengambil jalannya sendiri. Jalan yang amat menyakitkan untukku..
....
Untuk aku sepuluh tahun mendatang, jika sekarang kau sedang bahagia—
Segala sesuatu tentang diriku dulu, apa kau masih mengingatnya?
Disini ada hal yang menyakitkan, bahkan sampai membuatku menangis.
Jika kau bisa, ubahlah air mata itu dengan perlahan, menjadi kenangan yang indah.
Aku mengingatnya. Jelas.
Aku juga menangis, Shintarou.
Tentu, aku akan berusaha mengubah semuanya—yang bisa aku ubah.
Aku, Akashi Shintarou berjanji akan berhati-hati agar tidak salah mengambil langkah, seperti yang Shintarou lama lakukan.
.
.
.
.
Setelah keluar dari ruang operasi, melepas masker hijau dari mulutnya, ia langsung dikerubuti oleh keluarga pasien yang baru ditanganinya, remaja perempuan korban kecelakaan yang dimasukkan ke ruang UGD beberapa jam lalu. Shintarou beserta rekan-rekannya yang mengurusnya langsung. Dokter yang lain sedang sibuk dengan urusannya masing-masing dan Shintarou mau tak mau harus turun tangan. Hal seperti ini memang sudah biasa.
"Bagaimana keadaan anak saya, dok?"
Sang ibu bertanya dengan wajah yang terlihat lembab dan mata sembab. Di sampingnya suaminya memegangi pundak sang istri. Memegangi tubuhnya yang sepertinya masih gemetar dan lemas.
Mereka pasti terpukul jika ia memberitahu kabar tak menyenangkan ini.
"Maaf," kata dokter muda ini pelan. Berita yang ingin Shintarou sampaikan saat ini adalah kabar buruk, "Pasien tidak bisa bertahan dengan kondisinya sekarang. Sepertinya Tuhan berkehendak lain," Ia menunduk, menyembunyikan wajahnya yang penuh penyesalan.
Shintarou dengan tim medis lain sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi memang dasarnya luka yang diderita korban parah dan tak tertolong, seperti pendarahan di otak, kerusakan hati dan penyumbatan di beberapa pembuluh darah membuatnya tak berkutik untuk bertindak. Ini takdir, takdir mutlak dari yang di atas, dan Shintarou tidak bisa mencegahnya.
"Tidak mungkin ... Tidak! Aya-chan tidak mungkin pergi meninggalkanku! Aya-chan jangan meninggalkan Okaa-san!
"Dokter! Kumohon, kembalikan Aya-chan! Berapa biayanya pasti akan kubayar ... Aya-chan ... "
"Tenangkan dirimu sayang! Jangan seperti ini ..." Suaminya berusaha menenangkan istrinya yang mengamuk dan mulai histeris. Ia sendiri sedang mencoba kuat, "Aya-chan pasti akan sedih. Relakan dia. Dia sudah bahagia.."
"PEMBOHONG! AYA-CHAN TIDAK MUNGKIN BAHAGIA DISANA!
"Ya Tuhan ... anakku ... kenapa kau tega mengambilnya dariku! putriku masih memiliki masa depan yang panjang, jangan kau ambil dia seenaknya. Hei Kami-sama. Ambil nyawaku, jangan putriku. AYA-CHAN!"
"Maafkan kami.." ia membungkuk kecil. "Permisi."
Dengan ini Akashi Shintarou meninggalkan sepasang suami-istri yang sedang dalam masa kalutnya. Tidak ingin mengganggu.
Ini sudah biasa. Ia sudah sering menghadapi yang seperti ini.
Pukul satu dinihari. Shintarou melewati koridor rumah sakit yang sepi. Suara histeris keluarga pasien masih menggema jelas di lorong tersebut. Membuat hatinya merasa pilu.
Dokter muda ini tahu benar perasaan itu, kok. Ia pernah merasakannya. Kehilangan sosok keluarga yang amat di sayanginya. Terlebih dia yang masih sangat muda.
Dan penyebab kematian keluarganya sendiri karena bunuh diri.
Jika Tuhan sudah mengehendaki, kau sebagai manusia tidak punya hak untuk menolaknya.
Semuanya sudah diatur, yang manusia harus lakukan ialah menerimanya dengan lapang dada.
Sadari posisimu, karena manusia hanyalah makhluk lemah.
.
.
Tidak ada yang tau betapa hancurnya Shintarou saat itu.
Mayat adiknya—yang sudah tak berbentuk—ditutupi kain putih bersimbah darah di dorong menuju kamar jenazah DIHADAPANNYA.
.
.
Sirine ambulan berbunyi nyaring.
Akashi Shintarou buru-buru keluar saat mendapat laporan kalau baru saja ada korban bunuh diri dimasukkan ke rumah sakit miliknya. Saat mayatnya baru dikeluarkan dari ambulan, ia menengok , sekadar untuk memeriksa juga penasaran. Di zaman sekarang, orang bodoh macam apa yang masih melakukan hal tak masuk akal seperti bunuh diri? Hei, kau sudah diberi kehidupan, setidaknya hargai hidupmu itu.
Jadi ia membuka kain polos yang telah berganti warna menjadi merah di sana.
Matanya hampir keluar saat itu. Shintarou rasanya ingin teriak, tapi sesuatu menghalanginya untuk melakukan hal itu.
Saat Shintarou mengintip mayat di hadapannya, yang ditemuinya wajah familiar keluarganya sendiri.
"Korban bernama.. etto, Tetsuya A.. Tetsuya Aka.. Ah nama keluarganya terhalangi darahnya. Diiidentifikasi melakukan bunuh diri di Universitas Tokyo empat jam yang lalu. Polisi memang kesulitan saat mencari organnya yang terpencar tapi sekarang dirasa sudah terkumpul semua."
Selesai dengan laporannya, sang pemuda meminta respon dari sang Dokter muda. tapi yang diterimanya hanya diam. Ada shock pada wajah itu.
"Dokter?"
"Namanya Tetsuya Akashi. Mahasiswa Jurusan Sastra di Universias Tokyo. Umurnya sembilan belas tahun, anak yang pendiam, pintar, tak banyak tingkah-"
"E-eh, ke-kenapa dokter bisa tahu—tunggu ... Tetsuya Akashi ...? Akashi ..."
"Dia adikku."
Ketika sang dokter mengangkat wajahnya, karyawan tersebut terkejut.
Melihat wajah itu tersenyum miris dengan air mata yang mengalir deras.
.
.
.
.
Catatan Pengarang:
Tunggu—aku tau ini Angst gagal. Tapi, ya—tetep aja aku ngetiknya nyesek-nyesek juga. :"
Lagi-lagi, aku baper kalau ngetik tentang Shin-chan. Uh.. :"
Ah, Ryouta sama Daiki belum kebagian part.. oke chapter depan giliran kalian. Setelah itu Ogiwara, Momoi, dan ehm. Haizaki dan Hanamiya ehm. Akan ikut ambil andil juga. Setelah itu selesai.
En, masalalu Tetsuya akan dibahas disini! Bukan di Main Story. Mungkin dibahas sedikit di sana..
Untuk: Lisette Kizakura kyuli 99 Retnoelf review1 synstropezia Rizky307 ukkychan kimhyunsun58 MaknaEXO dan Hanna Byun14 terima kasih udah mampir! *bow maaf aku belum sempat balas review kalian.. mungkin nanti. Jangan ragu untuk mampir lagi '-')/
