Title : The Way Into Love
Main Cast
Lee Haechan / Donghyuck
Mark Lee
Other Cast
Na Jaemin
Lee Jeno, etc
Genre
School Life
Romance
Drama
Disclaimer : Terinspirasi dari novel yang judulnya "The Way Into Love". Tapi keseluruhan cerita ini murni pemikiran aku sendiri.
Summary : Haechan tidak pernah tahu bahwa kesalahan yang dilakukannya dua tahun lalu akan membuat Mark membenci dirinya sedalam ini. Haechan kemudian berusaha untuk menebus kesalahannya pada Mark dengan kembali ke Korea, namun hasilnya tidak seperti yang Haechan harapkan. Mark malah semakin membencinya bahkan sampai menghindarinya.
THIS IS MARK X HAECHAN FANFICTION
DO NOT LIKE DO NOT READ
.
.
.
.
HAPPY READING~~
.
.
.
.
Jeno, Mark, Lucas, dan beberapa pengurus OSIS lainnya yang menjadi panitia untuk acara ulang tahun sekolah berkumpul di ruang kesiswaan, mereka akan mengadakan rapat mengenai pemilihan wakil ketua panitia yang akan diadakan besok, setelah jam pelajaran sore selesai. Jeno yang sebagai ketua OSIS membuka pembicaraan.
"Sebelumnya, aku minta maaf karena membuat kalian sulit. Tetapi memang ini yang harus kita lakukan karena Lucas akan pindah minggu depan. Aku harap acara nya bisa tetap akan berjalan dengan lancar sekalipun wakil ketuanya nanti bukan Lucas." Jeno melirik satu persatu siswa di ruangan tersebut, "Besok akan diadakan audisi bukan? Aku ingin dengar sudah sampai mana persiapannya. Mark, sebagai ketua panitia untuk acara ini aku ingin mendengar sudah sampai dimana persiapannya?"
"Semuanya sudah hampir selesai. Aku sudah menyerahkan proposal kepada kepala sekolah, Somi sudah mendata seluruh siswa yang akan melakukan audisi besok, lalu Vernon sudah menyiapkan beberapa pertanyaan, dan Samuel sudah mempersiapkan ruangannya." Mark menjelaskan secara detail mengenai acara untuk besok dan seluruh anggota OSIS mendengarkan Mark dengan seksama dari awal sampai akhir. Mereka semua selalu kagum dan hormat dengan Mark sehingga saat Mark melakukan apapun mereka semua akan mendengarkan dengan baik kemudian mengikutinya, karena mereka tahu bahwa semua yang Mark perintahkan memang akan selalu menghasilkan sesuatu yang baik.
"Somi-ya, bisa kau bacakan siapa saja murid yang akan melakukan audisi besok?" Ujar Jeno.
Somi mengangguk, dengan segera ia membuka buku catatan miliknya, "Totalnya ada lima murid yang berhasil memenuhi seluruh persyaratan. Yang pertama, Jeon Jungkook dari kelas 2-1 jurusan dance. Yang kedua, Park Sooyoung dari kelas 2-4 jurusan vokal. Yang ketiga, Park Jisung dari kelas 1-3 jurusan dance. Keempat, Kim Sungkyung kelas 1-1 jurusan akting. Dan yang kelima adalah Lee Donghyuck, dari kelas 2-2 jurusan vokal." Somi menutup buku catatannya, "Lima murid itu juga sudah memberikan kertas pendaftarannya kembali kepadaku tadi sore."
Jeno menatap Mark yang duduk disampingnya, "Mark, bagaimana pendapatmu dengan nama-nama yang sudah disebutkan oleh Somi barusan?"
Mark tidak mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Jeno karena terlalu fokus dengan nama terakhir yang disebutkan oleh Somi. Lee Donghyuck? Apa maksudnya itu Haechan? Apa anak itu mendaftar audisi ini untuk menjadi wakilnya? Tiba-tiba Mark merasa marah pada anak itu. Bukankah hal ini sudah terlalu jauh untuk Haechan lakukan?
"Mark!" Tegur Jeno.
Mark mengembalikan fokusnya pada Jeno, "Sorry, what did you say?"
"Pendapatmu tentang nama yang Somi bacakan."
"Aku tidak punya pendapat apapun. Aku hanya akan menilai mereka besok saat wawancara." Jawab Mark singkat.
Jeno mengangguk mengerti, "Baiklah, sepertinya rapat kita hari ini sudah selesai. Pastikan untuk tetap mempersiapkan acara ulang tahun sekolah ini dengan baik. Lucas, apa ada yang ingin kau sampaikan?"
"Ah, ne.." Lucas menatap satu persatu teman-temannya, "Aku hanya ingin meminta maaf karena membuat kalian sulit seperti ini, terutama untuk Mark. Aku benar-benar minta maaf. Sungguh, aku ingin sekali melakukan event ini bersama kalian semua tetapi aku tidak bisa karena aku harus pergi. Aku hanya berharap supaya kita semua bisa melakukannya dengan baik besok, agar kita bisa menemukan pengganti wakil ketua untuk acara ini. Terima kasih teman-teman. OSIS Sopa semangat!"
Seungkwan bertepuk tangan dengan kencang diikuti oleh teman-teman OSIS yang lain, "Jangan merasa bersalah, kita akan baik-baik saja Lucas Wong!" Seru Seungkwan memberi semangat.
Yeri mengangguk menyetujui, "Benar, kami akan berjuang melanjutkan acara ini agar bisa sukses."
"Lucas, sebenarnya aku sedih kau harus pindah, tapi bersemangatlah!" Eunwoo memberikan love sign menggunakan telunjuk serta ibu jarinya kepada Lucas.
Lucas tertawa mendengar ucapan teman-temannya, "Arra."
"Lucas Wong." Mark bergumam pelan membuat seluruh ruangan lagi-lagi diam dan terfokus pada apa yang akan dikatakan oleh ketua panitia mereka. Mark mengulurkan tangannya kepada Lucas, "Maafkan atas perkataanku waktu itu. Mari kita melakukan yang terbaik untuk semuanya."
Lucas tersenyum hangat, kemudian ia menyambut uluran tangan Mark, "Ya, mari kita lakukan yang terbaik."
"Tepuk tangan untuk ketua dan wakil ketua kita!" Seru Seungkwan bersemangat.
Dan seperti yang Seungkwan ucapkan, seluruh anggota OSIS yang berada disana bertepuk tangan untuk ketua panitia dan wakil ketua panitia mereka. Jeno pun ikut bertepuk tangan dan tersenyum melihat Mark yang akhirnya menyetujui kepindahan Lucas dari sini.
The Way Into Love
"Telingaku tidak salah dengar kan?" Tanya Jaemin pada Haechan yang kini tengah meminum ice chocolate miliknya.
Haechan menggeleng santai, "Serius Na Jaemin."
Jaemin mendengus sebal, "Ah! Kau pasti ingin mengerjaiku, iya kan?"
"Aku serius Na Jaemin!"
"Benarkah?" Jaemin menghela napasnya, "Aku pikir kau tidak akan tertarik untuk mengikuti audisi itu."
Haechan terkekeh, "Sejujurnya, sejak di sekolah menengah pertama aku juga sudah aktif di organisasi seperti itu. Makanya kali ini aku ingin mencoba berorganisasi di Korea."
"Apa kau yakin? Kau kan bukan anggota OSIS?" Tanya Jaemin ragu.
"Lalu kenapa? Justru aku ingin sekali bisa dekat dengan anggota OSIS di sekolah kita. Bukankah itu akan menyenangkan?"
Jaemin memakan kentang gorengnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, "Ternyata, memang jalan pikiran kita berbeda ya."
Haechan menyetujui ucapan Jaemin. Setelah mereka kenal kemarin, Haechan mengetahui bahwa banyak sekali perbedaan diantara dirinya dengan Jaemin. Tetapi dengan perbedaan itu, bukan berarti mereka tidak bisa berteman, justru mereka sangat cepat sekali menjadi teman karena perbedaan yang ada.
"Coba saja sekolah kita pulang sore setiap hari, pasti akan menyenangkan." Ujar Jaemin. Ya, hari ini memang sekolah selesai lebih awal karena banyak OSIS yang harus rapat untuk persiapan audisi serta katanya para guru juga akan melakukan rapat untuk evaluasi bulanan para siswa bulan ini.
"Kan bisa tidak usah ambil kelas malam kalau kau memang mau pulang sore."
Jaemin memutar kedua bola matanya malas, "Kau pikir aku ini peringkat berapa di kelas? Kalau aku ini peringkat satu seperti Jeno sih, sudah pasti aku akan pulang sore setiap hari. Sudah nilaiku begini dan kau bilang aku tidak usah ambil kelas malam? Wah.. itu namanya meminta eomma membunuhku."
Mendengar penjelasan panjang Jaemin membuat Haechan tidak bisa menahan tawanya. Well.. Sebenarnya ibu Haechan juga seperti itu sih, tetapi untungnya nilai Haechan tidak seburuk nilai Jaemin. Setidaknya dia masih mengerjakan semua tugas yang diberikan oleh guru mereka, tidak seperti Jaemin yang katanya kalau mengumpulkan tugas hanya sebulan sekali.
"Makanya, kalau dikasih tugas itu dikerjakan. Mana ada sih murid SMA mengerjakan tugas sebulan sekali?" Cibir Haechan.
Jaemin mengerucutkan bibirnya, "Mau bagaimana lagi, kalau mengerjakan pun aku tidak akan mengerti. Mendengarkan penjelasan guru di kelas saja tidak."
Haechan menggeleng mendengar jawaban teman barunya tersebut, kemudian dia membuka tasnya dan mengeluarkan buku catatan miliknya.
"Kalau aku pinjamkan catatanku, kau harus mengerjakan tugas Matematika mu ya?"
Jaemin menggeleng pelan, "Aku tidak tertarik."
Haechan menaruh bukunya di meja dengan keras, "Baiklah." Dia mengambil buku tugas Matematikanya dan menumpuknya diatas buku catatannya, "Aku berikan juga buku tugasnya. Kerjakan dan kembalikan padaku besok."
"Aku salin saja ya." Ucap Jaemin.
Haechan memukul kepala Jaemin, "Sampai kau salin kusumpahi kau tidak akan dapat pacar sampai umur empat puluh tahun." Sarkasnya.
Jaemin lagi-lagi mengerucutkan bibirnya sambil mengelus-ngelus kepalanya yang terasa sakit akibat pukulan Haechan, "Arraseo..."
Haechan menunjukkan senyum lebarnya pada Jaemin, "Bagus!"
The Way Into Love
Mark menekan password apartemen miliknya, kemudian ia membuka pintu dan mengganti sepatu dengan sandal rumah. Dahinya tiba-tiba mengernyit melihat lampu apartemen nya yang sudah menyala, padahal seingatnya tadi pagi dia sudah mematikannya sebelum pergi ke sekolah. Dia memasuki ruang tengah mendapati televisi di ruangan tersebut menyala, kakinya kemudian melangkah menuju ke arah dapur dan tersenyum lebar ketika mendapati punggung yang sudah amat dia kenal tengah memasak di dapur.
"Eomma." Panggil Mark sambil menghampiri wanita paruh baya tersebut.
Wanita yang dipanggil ibu oleh Mark itu pun menoleh kemudian ikut tersenyum melihat anaknya sudah pulang sekolah, "Oh, kau sudah pulang?" Wanita itu mencuci tangannya sebelum menyambut anaknya dengan sebuah pelukan hangat darinya.
"Eomma, kenapa tidak bilang mau pulang?" Tanya Mark saat melepaskan pelukan ibunya.
"Aku mau memberikan kejutan untuk anakku." Jawab ibunya.
"Appa juga pulang?"
Ibunya menggeleng, "Tidak, ayahmu masih harus mengurus perusahaan di Kanada sayang."
"Oh begitu.." Mark sebenarnya sudah menduga hal tersebut, ayahnya mana mungkin pulang ke Korea untuk menemui dirinya, ayahnya itu pasti akan lebih memilih untuk mengurusi perusahaan kesayangannya.
"Kau tidak marah kan?"
Mark menggeleng, ia menarik kursi meja makan untuk duduk disana sambil menemani ibunya memasak, "Eomma berapa lama disini?"
"Kau maunya eomma berapa lama disini?"
"Maksud eomma?"
Sang ibu tertawa pelan karena melihat anaknya bingung, "Eomma mungkin disini sampai kau naik kelas."
"Mom, are you serious?" Seru Mark bersemangat.
"Of course!" Sahut ibunya.
Mark tersenyum lebar, "Gomawo, eomma."
The Way Into Love
Haechan menghempaskan dirinya ke tempat tidur, kedua matanya menatap kearah langit-langit kamar kemudian ia meringis pelan. Membayangkan besok dia melakukan wawancara dengan Mark yang berada di sana itu cukup menegangkan. Dia tahu, bagaimanapun jawaban dia besok, sebaik apapun review yang telah dia tuliskan di kertas pendaftaran tadi, itu tidak akan mengubah apapun. Mark tidak akan memilihnya besok.
Drrtt drrtt
Haechan mengambil ponselnya kemudian mengangkat telepon dari kakaknya, Lee Baekhyun.
"Ne, hyung?"
"Bagaimana kabarmu disana?"
Haechan membenarkan posisinya menjadi duduk di atas tempat tidur, "Cukup baik.. Eomma dan appa disana juga baik-baik saja kan?"
"Tentu saja mereka tidak baik-baik saja, mereka sangat merindukanmu tetapi anaknya yang nakal ini sama sekali tidak menghubungi mereka." Sindir Baekhyun.
Haechan terkekeh, "Maaf hyung, ternyata bersekolah di Korea sama sekali tidak berubah, tugas nya jauh lebih banyak daripada saat aku di London." Keluh Haechan.
"Itu keputusanmu, dan kau harus menjalaninya sampai akhir." Tutur Baekhyun. Memang pada awalnya Baekhyun menolak dengan tegas, namun jika keputusan sudah diambil dia akan terus mendukung sampai akhir apapun keputusan tersebut.
"Aku tahu." Sahut Haechan cepat, "Hyung."
"Apa?"
"Aku akan ikut audisi besok."
"Audisi? Audisi apa yang akan kau lakukan? Bukankah kemarin kau baru saja pindah?"
"Penjelasannya panjang hyung.." Gumam Haechan, "Yang jelas, aku butuh dukunganmu untuk sekarang."
Baekhyun menghela napasnya diujung sana, "Iya, aku akan mendukung mu selama audisi yang kau lakukan itu untuk kebaikkan. Semangatlah!"
Haechan tersenyum, "Gomawo hyung.. Sampaikan pada eomma dan appa aku akan menghubungi mereka besok, sampaikan juga permintaan maaf dari anak nakal mereka ini. Aku harus tidur sekarang."
"Nanti kusampaikan, ya sudah tidurlah, selamat malam."
"Selamat malam hyung."
Haechan menaruh ponselnya di meja kecil disamping tempat tidurnya, kemudian dia turun dari tempat tidur untuk masuk ke kamar mandi, sepertinya dia butuh untuk berendam malam ini.
The Way Into Love
Haechan memasuki kelasnya dengan semangat pagi ini, kemudian dia tersenyum begitu lebar saat melihat Jaemin yang masih mengerjakan tugas Matematikanya. Dia senang karena melihat buku tugas miliknya tertutup sedangkan buku catatannya yang terbuka, melihat Jaemin sudah mengerjakan banyak soal juga membuatnya merasa lebih senang lagi.
"Selamat pagi!" Sapa Haechan.
Jaemin mengangkat kepalanya untuk menatap Haechan yang baru datang, "Pagi."
"Sudah selesai?" Tanya Haechan.
Jaemin menggeleng, "Lima nomor lagi."
Haechan mengangguk, "Baiklah, lanjutkan."
Jeno yang baru datang menunjukkan ekspresi keterkejutannya melihat Jaemin yang mengerjakan tugas Matematika, Park Songsaenim. Biasanya anak itu kan hanya mengerjakan tugas sebulan sekali itupun mengerjakannya dengan asal-asalan.
"Wah.. apa mataku tidak lihat? Na Jaemin mengerjakan tugas Matematika?" Seru Jeno, membuat seisi kelas menoleh kearah Jaemin.
Jaemin mendelik malas kearah Jeno, "Apaan sih?"
Sialan. Sekarang seluruh teman-temannya menatap aneh kearahnya, ini semua gara-gara si sialan Lee Jeno. Menyebalkan.
"Apa?" Tanya Jeno ketika mendapatkan tatapan mematikan dari Jaemin sedangkan Haechan hanya terkikik geli di kursinya.
Kringgg kringggg
Mendengar tanda masuk yang sudah berbunyi, seluruh siswa yang ada di selasar segera masuk ke dalam kelas, sedangkan yang sudah berada di kelas segera menempati tempat duduk mereka masing-masing. Mark yang melihat guru Park sudah masuk ke dalam kelas pun menyiapkan teman-temannya.
Chanyeol mengangguk kemudian memperhatikan seisi kelas dengan tatapan heran, "Tumben kalian diam saja." Ucapnya.
Samuel tiba-tiba mengangkat tangannya kemudian menunjuk Jaemin yang masih fokus mengerjakan tugas Matematika di mejanya, "Ssaem, Na Jaemin mengerjakan pekerjaan rumah yang ssaem berikan."
Jaemin lagi-lagi mendelik malas, apa sih yang salah? Dia kan hanya mau mengerjakan tugas ini, daripada harus disumpahi oleh Haechan, lebih baik dia mengerjakan tugas ini kan?
Chanyeol membulatkan matanya, lalu berjalan mendekati meja Jaemin, "Wah... kau benar-benar mengerjakannya?" Gumam Chanyeol kagum.
"Kenapa sih? Aku kan juga seorang siswa. Memang aku salah mengerjakan tugas?" Tanya Jaemin.
"Tidak salah sih, tapi kalau kau yang mengerjakannya itu terlihat aneh!" Sahut Mina.
"Aish.." Desis Jaemin kesal.
"Nah, Jaemin-ah, karena kau sudah mengerjakan tugasku untuk yang pertama kalinya maka aku dengan sangat rendah hati akan memberikanmu tambahan nilai." Ucap Chanyeol yang langsung disambut sejumlah protes dari murid lainnya, Chanyeol menaruh jari telunjuk di bibirnya mengisyaratkan semuanya untuk diam, "Sebanyak apapun aku memberikan Jaemin tambahan nilai, tetap saja nilai dia tidak akan mengalahkan nilai kalian jadi tenang saja, oke?"
"Ne!" Sahut seluruh siswa antusias.
"Baiklah, mari kita mulai pelajaran kita. Kim Sejeong, kerjakan nomor satu."
The Way Into Love
"Somi-ya."
Somi mengalihkan perhatian dari teman-temannya kepada Daehwi yang memanggilnya. Dia menghadapkan tubuhnya ke kursi belakang, "Wae?"
"Kudengar anak baru itu ikut audisi ya untuk pemilihan wakil ketua panitia?"
"Iya." Somi memincingkan matanya, "Awas ya menyebarkan gosip aneh-aneh!"
Daehwi mencebikkan bibirnya, "Kenapa kau itu selalu berpikiran negatif padaku sih?"
"Karena kan kau memang suka menyebarkan berita yang aneh-aneh." Sahut Somi.
"Yah!" Seru Daehwi tak terima, "Jika kau bukan perempuan sudah kulempar buku ini ke wajahmu." Ujar Daehwi.
Somi menantang Daehwi dengan memajukan wajahnya kedepan mendekati buku yang berada di tangan Daehwi, "Coba kalau berani."
Daehwi pun dengan kesal akhirnya mencubit pipi Somi dengan tangan lain yang tidak memegang buku, "Rasakan!" Daehwi menjulurkan lidahnya meledek sebelum akhirnya berlari keluar kelas.
"Sialan! Lee Daehwi!" Pekik Somi kencang lalu mengejar Daehwi keluar kelas.
Umji menggelengkan kepalanya melihat tingkah Somi dan Daehwi, "Mereka itu, mau saat pelajaran, jam kosong, ataupun istirahat, tetap saja ribut. Tapi aku heran mereka bisa satu kelas terus selama enam tahun berturut-turut."
"Sudah takdir mereka menjalin persahabatan aneh seperti itu." Ucap ketua kelas 2-3, Kim Chungha, "Kajja, Umji-ya.. kita harus mengambil tugas Kim seonsaengnim."
Umji dan Chungha berjalan beriringan menuju kearah ruang guru. Hari ini memang Kim Jongdae seonsaengnim tidak masuk ke kelas karena katanya sedang sakit, jadi Chungha sebagai ketua kelas dan Umji sebagai wakilnya pergi ke ruang guru untuk melihat tugas apa yang diberikan oleh Jongdae.
Chungha dan Umji membungkukkan tubuhnya ketika bertemu Joonmyeon di ruang guru, "Annyeonghaseyo." Sapa Chungha.
Joonmyeon menunjuk meja Jongdae yang tepat berada di seberang meja nya, "Guru Kim menitipkan tugas padaku, kalian bisa lihat di meja nya."
Chungha pun melihat tugas yang diberikan Jongdae kemudian membungkuk pada Joonmyeon untuk berterima kasih sebelum ia keluar dari ruang guru.
"Tugas apa?" Tanya Umji begitu mereka keluar dari ruang guru.
"Tentu saja tugas kesukaan Kim seonsaengnim, menuliskan karangan sebanyak dua lembar penuh bolak-balik."
Umji menghela napasnya, dia sudah tahu sih akan dapat tugas yang seperti ini dari Kim seonsaengnim.
"Eo!" Chungha tersentak kaget dan berbalik arah ke belakang, "Mianhae!" Chungha segera membantu murid yang buku-bukunya berserakkan di lantai, ini pasti gara-gara tadi tidak sengaja bertabrakkan dengan punggungnya.
"Tidak apa-apa. Apa punggung mu baik-baik saja? Sepertinya aku menabrakmu cukup keras."
Chungha mengangguk, "Aku memiliki tubuh yang kuat, kau tenang saja." Chungha memberikan buku terakhir di lantai kearah murid tersebut, "Sekali lagi maaf ya."
Murid itu tersenyum kemudian menunduk sekilas dan berjalan mendahului Chungha serta Umji ke lantai tiga.
"Yah!" Umji menggoyangkan lengan Chungha membuat gadis itu memberikan perhatian padanya, "Dia kan Lee Donghyuck."
"Ah.. jadi dia anak baru itu?" Tanya Chungha.
"Sepertinya." Jawab Umji cuek, "Kajja, aku tidak mau menulis karangan itu di rumah sebagai PR."
The Way Into Love
Jaemin memberikan sepotong roti serta sekotak susu ke tangan Haechan, sekarang sudah memasuki jam istirahat dan mereka memilih untuk duduk di lapangan sekolah saja daripada makan di kantin, "Bagaimana persiapanmu untuk audisi?"
Haechan mengangkat bahu, "Entahlah.. Aku tidak melakukan apapun."
"Kuberi tahu saja ya, sainganmu itu lumayan, jadi kalau kau tidak melakukan apapun siap-siap kalah." Peringat Jaemin.
Haechan menatapnya malas, "Aku kan memang hanya mencoba. Kalaupun memang tidak terpilih, aku tidak apa-apa."
"Tapi aku heran." Gumam Jaemin, "Sebenarnya, apa alasanmu untuk ikut? Kau pasti bukan cuma main-main kan?"
"Bukannya aku sudah bilang? Aku mau dekat dengan anak-anak lain."
"Ish.." Desis Jaemin tidak suka, "Jangan bohong."
"Ah, aku mulai tidak bisa membohongimu ya?" Kekeh Haechan, "Baiklah.. Aku memang mempunyai alasan lain, tetapi aku belum bisa memberitahukan kepadamu sekarang."
Jaemin mengangguk mengerti, "Tidak apa-apa, makan rotinya kalau begitu.. Memang hanya dengan di pegang saja roti itu bisa membuatmu kenyang?"
Haechan pun membuka bungkus roti itu dan mulai memakannya, "Oh ya, Jaemin."
"Apa?"
"Kau dekat dengan ketua kelas kita kan?"
Jaemin mengernyit, "Mark Lee maksudmu?"
"Iya."
"Well, kau bisa menganggapnya begitu.. Kenapa?"
Haechan menelan potongan roti di mulutnya, "Bagaimana perilaku ketua kelas kita di sekolah?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Hm.. dia terlihat pendiam saja." Jawab Haechan.
Jaemin mengangguk-ngangguk, "Sebenarnya dia tidak sependiam itu, cuma entah kenapa semenjak kau masuk ke kelas dia jadi diam begitu. Awalnya aku pikir dia mungkin hanya sedang banyak pikiran saja, tetapi gelagatnya semakin berbeda dari biasanya, jujur saja itu sedikit membuatku khawatir."
"Khawatir?"
"Iya." Jaemin meneguk susu kotak yang berada di tangannya sebelum menjawab, "Aku dengar, sewaktu Mark kelas sembilan dia pernah hampir bunuh diri."
"Apa..?" Haechan merasa telinganya salah dengar dan dia berharap memang sebaiknya dia hanya salah dengar.
Jaemin menghela napasnya, "Aku tidak tahu alasannya apa, tapi yang kudengar saat itu dia sedang stres berat." Murid bermarga Na itu kemudian melanjutkan, "Dari yang kudengar dia tinggal sendiri di Korea sejak kelas delapan, kedua orangtua nya bahkan tidak tahu dia meminum obat penenang setiap malam. Dia mungkin terlalu depresi sehingga ingin mati saja dengan meminum obat itu lebih dari yang dianjurkan, dia overdosis karena hal itu, untunglah dia masih selamat."
Mark pernah mau bunuh diri? Overdosis obat penenang? Pada saat kelas sembilan? Berarti itu dua tahun yang lalu? Astaga.. Apa yang telah ia lakukan kepada Mark sehingga bisa membuat pria itu hampir saja menyudahi hidupnya.
"Mark bukan tipe orang yang terbuka akan perasaannya." Jelas Jaemin, "Jeno mungkin salah satu yang paling dekat dengan Mark disekolah ini, tetapi dia juga kadang tidak bisa memahami perasaan Mark. Itu semua karena Mark terlalu pandai menyembunyikan perasaannya dari orang lain."
Haechan tahu itu. Dari dulu Mark bukan tipe orang yang mudah untuk dibaca. Jika ada suatu masalah, dia hanya akan diam dan menyelesaikan sendiri. Jika dia marah juga yang dia lakukan hanyalah diam dan tidak melakukan apapun.
"Haechan-ah." Panggil Jaemin.
"Ya?"
"Kau tahu tidak apa harapan terbesar Jeno dan aku untuk Mark?"
"Apa?"
"Kita ingin Mark menemukan kebahagiaannya lagi." Jaemin mengerucutkan bibirnya, "Habisnya, selama dua tahun aku kenal dengannya, dia tidak pernah tertawa dengan jujur. Memang sih, dia kadang tertawa jika ada sesuatu hal yang lucu. Tetapi, aku tahu bahwa tawa nya itu bukanlah suatu tawa yang muncul dari dalam hatinya."
Ya ampun. Sungguh, Haechan merasa benar-benar bertanggung jawab atas semua hal yang terjadi kepada Mark. Ini benar-benar diluar dugaannya. Dia tidak tahu bahwa akibat dari semua yang telah ia lakukan akan seburuk ini untuk Mark.
"Jaemin-ah."
"Hm?"
Haechan menatap Jaemin serius, "Aku harus lolos audisi itu."
"Tentu saja kau harus." Ujar Jaemin, "Semangat!"
Jaemin tersenyum tipis melihat raut wajah Haechan yang kini berubah. Tatapan Haechan memancarkan kesedihan yang mendalam, persis seperti tatapan yang selalu Haechan berikan saat melihat Mark. Dia tahu, ada sesuatu diantara Mark serta Haechan. Dia tidak buta, dia bisa melihat semua nya dengan jelas. Mark yang berubah saat Haechan datang itu benar-benar menimbulkan tanda tanya besar didalam pikirannya. Dia yakin itu bukanlah suatu kebetulan. Jaemin sangat penasaran, sesungguhnya apa yang telah terjadi diantara kedua anak ini di masa lalu.
TBC
Ceritanya mainstream kan ya?
Wkwkwk, gapapa deh ya.. klo yg review msh byk pasti ini dilanjut wkwk
Semoga ga byk typo diatas hehe, oh iyaa makasih buat yg udh review, fav, dan follow ff ini..
Aku usahain supaya ceritanya ga ngebosenin okeee~
See You!~
Special Thanks To
BooSeungkwan, moonmoominpark, Dindch22, blakcpearl,aiumax,chypertae, WillyHaechan21, Cheon yi, Minge-ni, Wiji, markeulxx, Kiddongnim, MarkeuhyuckLee, , kambing goreng, Guest, Park Rinhyun-Uchiha, SMark, YutaYuBae, Echa577, chyun, Lovebe, mtxgdvtzk
