Akashi Tetsuya sudah terbiasa menerima perlakuan ini.

Diabaikan.

Satu kata keramat yang sudah menemani kesehariannya beberapa tahun belakangan.

Jika ia mengalaminya sekarang, Tetsuya sudah tak kaget lagi. Berterimakasih kepada kakaknya yang sudah memberinya kesempatan untuk merasakan perasaan menyedihkan itu.

Dear Nii-san tachi.. Arigatou gozaimasu, berkat kalian Tetsuya sudah tumbuh menjadi anak yang kuat—

Dan tak memiliki hati.

.

.


Hello, My Story

Heartless

KnB belong to Tadatoshi Fujimaki


.

.

Masih teringat jelas, ketika umurnya sembilan tahun, awal semua bermula. Adalah ketika Tetsuya membentuk tekad bulatnya.

Ketika ia merasa tersisihkan dan dihianati oleh lingkungan sekitar, Tetsuya mencoba menghapus hawa keberadaannya sendiri. Berusaha untuk tak dinotis orang-orang, berusaha untuk bersembunyi dari perhatian mereka, mencoba membangun tembok besar yang akan memisahkan dirinya dengan mereka. Tetsuya benar-benar muak dengan semuanya.

Dan cara ini berhasil, entah bagaimana hawa keberadaannya menjadi semakin tipis, seiring ia bertumbuh.

Tak hanya dengan kelima kakaknya. Teman-temannya bahkan ikut mempermainkannya. Tetsuya belum tahu kalau teman yang dulunya sangat dihargainya adalah sekumpulan orang-orang berengsek. Mungkin mereka tak menyadari, tapi Tetsuya sadar. Begini-begini ia mempunyai tingkat kepekaan di atas rata-rata.

Sudah cukup, rasa sakit yang ia terima akibat tak dipedulikan oleh para onii-san-nya di rumah saja sudah membuat dadanya sesak. Jangan ditambah lagi dengan sandiwara murahan yang dilakukan teman-teman di sekolahnya. Bisa-bisa paru-parunya benar-benar rusak, atau bahkan hancur.

Umur delapan tahun Tetsuya memulai masa sekolahnya di Teiko Elementary School. Setelah setahun ia mengikuti home-schooling di rumahnya sendiri. Orang tuanya melarangnya pergi ke luar rumah. Tetsuya kecil dulu memang lemah dan sakit-sakitan. Okaa-san dan Otou-san nya terlalu khawatir ia tak bisa beradaptasi dengan lingkungan luar nantinya, makanya mereka mengurungnya. Jadi, ia hanya melanjutkan sekolah privat (ini setara dengan TK) yang lama.

Sampai saat ketika mereka meninggal dunia. Tak lama setelah kematian kedua orang tuanya, ia membujuk Seijuurou-nii untuk memasukannya ke salah satu sekolah dasar dekat sini. Awalnya Seijuurou menolak, si sulung tau benar kalau fisik adiknya ini tak memungkinkan untuk berbaur dengan anak-anak seusianya di luar. Tetsuya juga mempunyai alergi dengan dingin, bisa-bisa kulit pucat adiknya gatal dan memerah ketika bersentuhan dengan angin musim semi nanti.

"Tetsuya akan hati-hati, kok. Onii-san! Tetsuya berjanji tidak akan menyusahkan kalian. Tetsuya akan jaga kesehatan Tetsuya sendiri ... dan, jika Tetsuya melakukan kesalahan silahkan tarik Tetsuya kembali dan kurung Tetsuya di rumah selama yang Seijurou-nii mau."

Ia bisa melihat keraguan pada wajah tampan kakak sulungnya. Sepertinya Tetsuya belum bisa meyakinkan Seijuurou-nii. Apa lagi yang kurang? Ia harus memberi jaminan apa agar kakaknya ini mengizinkannya pergi ke luar? Tetsuya ingin berbaur dengan anak-anak sebayanya. Bermain petak umpat, bermain kejar-kejaran, belajar bersama, dan melakukan hal-hal menyenangkan lainnya dengan orang-orang yang disebut 'teman'. Biarkan orang-orang menyebutnya naif. Toh, ini memang sesuatu yang sudah diimpikannya sedari dulu.

"Tetsuya janji?"

Hari itu, kelima onii-sannya masih sama—masih memiliki kepedulian untuknya. Tetsuya bahkan masih bisa melihat senyum hangat Seijuurou-nii saat ia melingkarkan kelingking mungilnya dengan milik kakaknya, saat mereka mengikat janji.

"Tetsuyacchi harus belajar yang benar, ya! Ryouta-nii akan membantu Tetsuyacchi mengerjakan semua tugas dan pr nanti-ssu!"

"Jangan ragu untuk bertanya padaku, Tetsu! Kau bisa mengandalkanku!"

"Hee? Kalian berdua sama saja kok. Naaa~ mungkin aku tidak bisa membantu banyak, tapi jika ada sesuatu yang Tetsu-chin tidak mengerti, tanyakan saja pada Atsushi-nii, ne?"

"Jika aku sedang tidak sibuk, kau bisa bertanya padaku. Bukan karena aku benar-benar peduli pada sekolah Tetsuya. Aku hanya tidak ingin melihat nilai-nilaimu yang anjlok nantinya, itu akan merusak citra keluarga ini ... nanodayo."

"Nah, karena Tetsuya akan memasuki dunia luar, satu pesanku, berhati-hatilah. Cari teman yang menurut Tetsuya baik, Nii-san yakin Tetsuya sudah bisa membedakannya. Ah, tapi Nii-san yakin sekali Tetsuya pasti akan langsung dapat banyak teman di sekolah nanti. Jangan berkelahi, berbicaralah yang sopan dengan guru dan teman-teman di sana. Jangan nakal, jangan bolos, harus rajin belajar dan mengerjakan pr, kalau ada yang Tetsuya tidak tau silakan tanyakan pada Nii-san. Jelas?"

"Sudah selesai ceramahnya, Seijuurou-nii? Tetsuya tahu, kok. Tetsuya akan berusaha!"

Tetsuya delapan tahun sangat antusias, karena untuk yang pertama kalinya ia akan pergi ke luar, untuk bersekolah.

Tetsuya juga berusaha menepati janjinya. Sebisa mungkin menjaga kesehatannya sendiri. Ia makan sedikit lebih banyak dari porsi biasanya, ia bahkan meminum berbagai vitamin penambah daya tahan tubuh. Tapi mau sekeras apa pun usahanya, tetap saja penyakit itu datang kepadanya, seolah sudah melekat dan tak mau lepas. Kalau sudah begini, terpaksa ia menyuruh maid yang mengetahui keadaan dirinya yang sebenarnya untuk tutup mulut, dan merawatnya secara diam-diam, tanpa sepengetahuan kelima kakaknya.

Keberadaan dirinya ditengah-tengah tahun ajaran yang sedang berlangsung disambut hangat. Itu adalah Juni. Ia dimasukkan ke kelas 2-A.

"Na-namaku Akashi Tetsuya. Salam kenal, dan ... Mo-mohon bimbingannya, semua!"

Perkenalan singkat, dan sedikit malu-malu dari Tetsuya itu sukses memancing rasa penasaran dari anak-anak satu kelas. Terbukti, ketika bel istirahat berdentang, mereka langsung mengerubunginya dan menanyai banyak pertanyaan.

"Jadi, kamu dari keluaga Akashi yang itu ya, Akashi-san?"

"Ya? Me-memangnya keluarga Akashi di Jepang ada berapa?"

"Eh? Jadi Tetsuya-kun adiknya Kise Ryouta-san!? Model yang itu, kan!? Uwaaaahhhh tidak pernah terpikirkan aku akan satu kelas dengan adiknya idolakuuuu!"

"Terimakasih sudah mengangumi kakakku, err.. Reina-san. Tolong dukung Ryouta-nii terus, ya."

"Tetsuya kenapa wajahmu begitu imut dan lucu. Pipinya bulat sekali aku jadi ingin memakan Tetsuyaaaa!" salah satu perempuan mencubit pipinya gemas.

"Terimakasih, tapi aku bukan makanan, Ai-san."

"Maukan Tetsuya berteman sama kami? Mau, ya? Yayayaya!?"

"Dengan senang hati."

Tetsuya tersenyum lebar, dan itu terlihat begitu menyilaukan ... Anak-anak yang mengelilinginya bahkan sampai menahan nafas.

.

.

Akashi Tetsuya tidak butuh orang-orang yang hanya ada saat membutuhkannya, kemudian membuangnya ketika tak dibutuhkan. Ia butuh mereka yang setia disisinya, tak peduli apa yang terjadi, mau senang ataupun sedih.

"Tetsuya sudah mengerjakan pr matematika? Aku lihat dong! Kalau sensei tau, aku bisa dihukum membersihkan toilet nanti!"

"Aku tidak bawa uang, Tetsuya mau kan menraktir kami lagi? Lagian kalau dibandingin sama uang jajanku, punya Tetsuya lebih banyak, 'kan? ayolah jangan pelit, kita kan teman!"

"Tetsuya-kun, sebenarnya aku ... menyukaimu. Maukah Tetsuya menjadi pacarku?"

"Lihat, aku berhasil berpacaran dengan Tetsuya-kun, dong! Haha!"

"Wah, hebat banget kamu, Chii-chan! Tetsuya itu 'kan udah kaya, pintar, tampan dan manis lagi. Gimana bisa kamu ambil hatinya?"

"Iya dong! Hee? Aku pura-pura nangis, dan bilang kalau aku sangat-sangat menyukainya. Kalau Tetsuya-kun gak nerima aku, aku bilang aku bakal bunuh diri. Ini buat gertakan aja sih, Haha! Dan Tetsuya langsung nerima aku gitu aja."

"Eh, seriusan? Berani banget kamu!"

"Tetsuyanya juga polos banget, sih. Mana mungkin aku bakal ngelakuin hal bodoh macam itu demi dia. Aku Cuma ingat adegan sin*tr*n yang pernah aku tonton, rasanya lucu aja kalau aku tambahin hal itu, ya, kan?"

Cih. Mereka benar-benar sampah, Tetsuya jadi jijik sendiri mengingat satu persatu mantan teman bermainnya dulu. Jangan kira dirinya ini tidak tau apa yang dilakukan mereka.

Senyum palsu, sifat baik yang direkayasa, kata-kata manis tak berbobot, semuanya membuat Tetsuya muak.

.

.

.

.

Melihat teman-temannya saat pulang sekolah dijemput oleh ayah, ibu, atau kakak mereka ... Pemandangan itu jujur membuatnya iri setengah mati.

Mereka akan berlari dengan senyum gembira, memeluk keluarga mereka. Menceritakan apa yang terjadi di sekolah dengan semangat yang menggebu-gebu.

"Okaa-chan tau tidak? Tadi Okamura-sensei memujiku dan bilang kalau gambarku yang ini bagus. Lihat-lihat! Ini adalah aku, Okaa-chan, Otou-chan, dan—"

Sedang dirinya—

"Tetsuya-sama! Disini!"

—dijemput sopir menggunakan limusin hitam. Mungkin teman berceritanya hanya jok di bangku penumpang tempatnya bersandar, udara dingin di dalam mobil, atau apa pun properti yang ada di dalam sana.

"Tetsuya enak, ya. Pulang-pergi di jemput mobil mewah! Aku mah apa ... hanya bisa jalan kaki diantar aniki."

Apa yang kau sesalkan? Bukankah lebih enak berjalan bersama keluargamu, ketimbang naik mobil semewah apa pun itu, sendirian ...

"Apapun yang Tetsuya mau pasti langsung dibelikan. Enaknya."

Berhenti ...

"Untuk membeli pesawat mainan ini saja aku harus menabung selama dua bulan! Kalau Tetsuya, tinggal bilang sama aniki-nya mungkin pesawat sungguhan pun akan dibelikan!"

Andai kalian tau, kehidupan seperti apa yang selama ini dijalaninya ...

"Tetsuya pintar, Tetsuya berbakat, semua guru-guru sayang sama Tetsuya."

Kalian pasti akan menyesal, karena sudah terlahirkan di dunia ini.

"Kesempurnaan yang sungguh mengerikan ... Tetsuya, kamu adalah anak yang paling beruntung di dunia ini!"

Di keluarga ini..

"Tetsu-kun bahkan ditaksir sama Akechi-senpai! Itu lho, anak kelas 6-A yang pintar menyanyi, yang punya wajah cantik, dan ramah."

"Wah, yang benar!? Jangan disia-siakan kesempatan emas seperti ini. Kau harus cepat menembaknya, Tetsuya!"

Dalam lingkungan seperti ini ...

"Aku iriiiii!"

Ah ... Aku berharap tak pernah dilahirkan jika akan seperti ini akhirnya. Kalian semua terlalu berisik. Diam.

... Kalian hanya tau namaku, tidak kisahku.

Usia tiga belas tahun, beberapa bulan setelah memasuki SMP, untuk yang pertama kalinya Akashi Tetsuya mencoba yang namanya 'Self Harm'

.

.

.


Berlanjut ke Tetsuya side bagian 2; Numb Feeling.


.

Ehem. Halo. Udah lama enggak ngelanjut bagian ini..

Padahal rencana awalnya chapter ini bagian Ryouta, eh tapi minggu ini rencananya chapter Kikuro bakal meluncur, kok. *udahlamangedekemdidraftsebenernyaituSS*

Mungkin cerita ini bakal didominasi sama ceritanya Tetsuya, rencananya.. Kisah lamanya.. Dan sejak aku sendiri adalah Kuroko-centric.

Thank's to : Hanna Byun614 BlackCrows1001 Guest VT-Lian Caesar704 synstropezia shawoldita Mika Tetsuya hanyo4 MaknaEXO Erucchin gateauch Dewi15 yang udah mampir di kotak review chapter sebelumnya fanfik tijel ini. Atau kalian yang baca dan ikutin. Terimakasih semuaaa~ lagi, kali ini aku gak bisa balas review kalian karena keterbatasan waktu (?)

*)fanfik ini (sejujurnya) dibuat untuk kebutuhan maso penulis.