Title : The Way Into Love
Main Cast
Lee Haechan / Donghyuck
Mark Lee
Other Cast
Na Jaemin
Lee Jeno, etc
Genre
School Life
Romance
Drama
Disclaimer : Terinspirasi dari novel yang judulnya "The Way Into Love". Tapi keseluruhan cerita ini murni pemikiran aku sendiri.
Summary : Haechan tidak pernah tahu bahwa kesalahan yang dilakukannya dua tahun lalu akan membuat Mark membenci dirinya sedalam ini. Haechan kemudian berusaha untuk menebus kesalahannya pada Mark dengan kembali ke Korea, namun hasilnya tidak seperti yang Haechan harapkan. Mark malah semakin membencinya bahkan sampai menghindarinya.
Note : Italic = Flashback
THIS IS MARK X HAECHAN FANFICTION
DO NOT LIKE DO NOT READ
.
.
.
.
HAPPY READING~~
.
.
.
.
Mark menghembuskan napas kesal, ini sudah hampir setengah jam dia menunggu panas-panasan di lapangan basket outdoor komplek perumahannya, dan sampai detik ini tidak ada tanda-tanda kemunculan dari orang yang telah ditunggunya selama tiga puluh menit yang lalu.
"Ah!" Mark berseru kaget saat kedua matanya ditutup secara tiba-tiba dari arah belakang, kedua tangannya refleks terangkat untuk mengenali tangan yang kini menutupi kedua matanya, dan dia langsung mendesah kesal saat mengetahui bahwa itu adalah perbuatan orang yang telah membuatnya menunggu selama ini, "Lee Donghyuck, lepaskan!"
Haechan melepaskan kedua tangannya dari mata Mark disertai kekehan imut dari bibirnya, ia mengambil tempat duduk disamping Mark dan memberikan sebotol air putih dingin kepada pria itu, "Sudah tahu musim panas, malah main di lapangan outdoor."
"Cuaca nya kan bagus, kalau aku main di indoor aku tidak bisa melihat langit yang cerah ini." Sahut Mark setelah menghabiskan setengah isi botol pemberian Haechan, "Kenapa lama sekali?" Protesnya.
"Maaf." Haechan tersenyum, "Aku ada urusan tadi."
Mark mengernyit, "Urusan apa? Kenapa kau berpakaian rapi seperti ini? Seperti ingin pas foto saja."
"Kenapa? Aku tidak boleh ya pakai kemeja seperti ini? Menyebalkan."
"Bukan tidak boleh, hanya aneh saja." Gumam Mark pelan.
"Kupikir tadi kau sudah pulang."
Mark mengacak rambut Haechan, "Mana mungkin aku pulang saat belum menemuimu."
"Apa kau tengah bersikap romantis padaku sekarang?" Tanya Haechan.
"Tidak boleh bersikap romantis pada kekasih sendiri?" Tanya Mark balik.
Haechan menempatkan kepalanya di bahu kanan Mark, "Tentu saja boleh." Ia tersenyum ketika mendapatkan sebuah kecupan di puncak kepalanya, "Mark Lee."
"Hm?"
"Kau tahu kan kalau aku ini akan selalu berada bersamamu?"
"Tentu saja." Jawab Mark cepat, "Itu kan kewajibanmu."
"Benar, itu kewajibanku." Ulang Haechan menyetujui, "Ngomong-ngomong, kau jadi masuk tim kota Seoul untuk kategori menengah pertama?" Haechan bertanya kepada Mark mengenai kabar yang kekasihnya itu bilang kemarin malam, katanya dia akan diikutsertakan ke dalam tim tingkat kota untuk kategori menengah pertama untuk turnamen basket antar kota nanti.
"Iya, tadi pelatih Kim sudah menghubungiku."
"Benarkah?" Mata Haechan berbinar mendengar jawaban Mark, dia benar-benar merasa bahagia sekaligus bangga karena perlahan demi perlahan Mark semakin dekat untuk menggapai mimpinya menjadi anggota tim nasional Korea untuk kategori bola basket.
"Iya, kau tidak mau memberiku hadiah?"
"Arraseo.. aku akan memberikannya, jadi tutup matamu."
"Kenapa harus tutup mata?" Mark lagi-lagi melayangkan protesnya pada Haechan.
Haechan memutar bola matanya malas, "Kau hari ini banyak bicara ya Mark Lee!"
Akhirnya Mark menuruti permintaan Haechan, dia menutup kedua matanya sambil berpikir kira-kira hadiah apa yang akan diberikan Haechan kepalanya sampai akhirnya dia merasakan sesuatu yang basah namun lembut menempel diatas bibirnya. Mark membuka kedua matanya untuk mencari tahu, dan betapa kagetnya dia ketika melihat wajah Haechan yang amat dekat dengannya, dan benda yang menempel di atas bibirnya adalah bibir milik Haechan. Mark masih terdiam di tempatnya, dia bahkan sama sekali tidak menggerakkan bibirnya saat Haechan telah membuka kedua matanya juga, jadi Haechan memutuskan untuk menjauhkan bibirnya dari bibir Mark saja.
"Kenapa menciumku?" Tanya Mark.
"Sebagai hadiah?" Jawab Haechan ragu, "Apa kau tidak suka?"
"Aku suka.." Mark menarik Haechan untuk masuk ke dalam pelukannya, dia menghela napas panjang, "Itu kan ciuman pertamamu, bukankah seharusnya kau berhati-hati untuk memilih orang yang mendapatkan ciuman pertamamu?"
"Tidak apa-apa." Haechan melingkarkan kedua lengannya di pinggang Mark, "Aku bahagia karena kau yang mendapatkannya."
Mark mengeratkan pelukannya, "Begitukah? Baiklah, terima kasih."
Haechan menggangguk kecil, dia menaruh dagunya di bahu kiri Mark, "Pertandingan basket untuk kejuaraan tingkat kota nanti, kau harus menang ya."
"Aku akan menang.." Mark mengecup pelipis Haechan, "Kau harus datang sehingga aku bisa langsung memberikan medalinya kepadamu."
Haechan merasa kedua matanya terasa panas ingin mengeluarkan air mata karena mendengar ucapan Mark. Haechan menarik napas kemudian menghembuskannya perlahan, "Ya. Aku akan datang dan kau harus mengalungkan medalinya secara langsung padaku."
"MARK! MARK LEE!"
Mark tersentak dari lamunannya, dia mengedipkan matanya beberapa kali untuk mendapatkan kembali fokusnya. Dia mengangkat kepalanya dan menemukan wajah Jeno yang terlihat khawatir.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Jeno khawatir. Bagaimana tidak khawatir? Jeno sudah berkali-kali menghubungi ponsel Mark namun tidak ada jawaban sama sekali dan ketika dia menemukan Mark berada di gedung olahraga pun, pandangan Mark terlihat kosong sehingga membuat Jeno semakin panik.
Mark mengangguk pelan, "Uhm."
"Audisinya akan dimulai lima menit lagi, kita semua mencarimu dan kita sudah berusaha menghubungi ponselmu, namun kau tidak menjawab panggilan telepon dari kami sama sekali."
"Ah, maaf." Mark mengeluarkan ponsel nya dari dalam saku celana, "Sepertinya baterai ponselku habis."
Jeno menepuk kedua pundak Mark, "Ya sudah, kita harus ke ruang kesiswaan sekarang. Audisinya akan segera dimulai."
Mark berdiri dari tempat duduknya kemudian mengikuti Jeno yang berjalan duluan beberapa langkah didepannya.
The Way Into Love
Haechan memainkan jari-jarinya gugup, ini sudah memasuki giliran Sungkyung dan setelahnya adalah gilirannya sendiri. Dia tidak bisa menenangkan jantungnya yang berdebar lebih cepat dari biasanya, kedua telapak tangannya pun berkeringat saking gugupnya, bahkan Haechan sudah dua kali pergi ke toilet hanya untuk menenangkan dirinya.
"YAH!"
Haechan tersentak kaget dan menatap tajam pelaku yang sudah mengagetkannya barusan, siapa lagi kalau bukan Na Jaemin?
Jaemin memberikan satu kaleng cola yang ia beli untuk Haechan, "Jangan tegang begitu, ini kan hanya wawancara saja."
Haechan mengangguk mengerti, "Arra." Haechan ingin membuka cola yang diberikan oleh Jaemin barusan, tetapi mungkin karena dia tengah gugup tenaga nya sama sekali tidak ada untuk membuka tutup cola tersebut.
Jaemin berdencih kemudian merebut kaleng tersebut dari tangan Haechan, "Sudah kubilang kan ini hanya wawancara!" Omel Jaemin.
"Iya, iya.." Haechan menerima kaleng cola yang sudah dibuka oleh Jaemin, "Gomawo."
"Paling juga yang ada di dalam Jeno, Lucas, Mark, dan Park seonsaengnim.." Gumam Jaemin dengan santai seolah orang-orang tersebut tidaklah begitu berarti, "Aku kenal mereka dan aku yakin mereka tidak akan bertanya aneh-aneh. Kau pasti bisa menjawabnya dengan baik."
"Aku harap juga begitu." Sahut Haechan, "Kau tidak membawa tas-"
"Donghyuck-ah, kau bisa masuk sekarang." Somi tiba-tiba keluar dari ruang kesiswaan bersama dengan Sungkyung lalu memanggil Haechan untuk masuk.
"Ah, ne." Haechan menatap Jaemin sebentar kemudian ikut masuk bersama Somi ke dalam ruangan.
Jaemin menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi. Jaemin memutuskan untuk menunggu Haechan sampai selesai wawancara saja disini, kemudian mereka bisa pulang bersama lagi.
"Pulang sana."
Jaemin mengangkat kepalanya, ia mendesis saat Somi yang keluar dari dalam sana, "Aku mau menunggu Haechan."
"Haechan?" Tanya Somi.
"Donghyuck." Jaemin menjelaskan, "Aku akan menunggu Lee Donghyuck sampai dia selesai."
Somi duduk di tempat Haechan sebelumnya, "Sepertinya dia akan lama didalam."
"Kenapa?"
"Entahlah, firasat saja. Aku bahkan disuruh keluar oleh Mark tadi."
"Disuruh keluar.." Jaemin mengernyit, "Oleh Mark?"
Somi mengangguk, "Uhm, dia bilang aku boleh beristirahat didepan.. Aku tahu maksudnya itu adalah menyuruhku keluar dengan kata-kata yang lebih halus saja." Somi tersenyum manis, "Donghyuck orang yang terlihat spesial."
"Kenapa?"
"Tidak tahu, tetapi ketika aku pertama kali melihatnya, aku bisa merasakan bahwa Donghyuck adalah seseorang yang spesial, seperti.. anak yang banyak orang ingin lindungi?" Somi terkekeh sendiri dengan perkataannya.
"Kau ingin melindunginya?" Cibir Jaemin, "Memang kau siapanya? Ibunya?"
Somi mengerucutkan bibirnya, "Dia kan menggemaskan, ah sayang sekali kita berada di tingkat yang sama."
"Kalau dia adik kelas, kau mau dekati ya?" Tebak Jaemin.
Somi memukul lengan Jaemin, "Apaan sih!" Somi menjulurkan lidahnya ketika mendapatkan tatapan tajam dari Jaemin, "Apa?"
Jaemin mendesis kesal sambil mengelusi lengannya yang terasa sakit.
"Aku berharap Donghyuck yang akan terpilih nanti." Somi berdiri dari tempat duduknya, "Aku mau beli minum dulu. Kau pulang saja, teman mu itu pasti akan lama.. Lagipula pengumumannya kan besok."
"Kau kan OSIS inti, pasti tahu hasilnya hari ini kan?"
Somi menggeleng, "Semua keputusan kan berada di tangan Mark, Lucas, Jeno, dan Park seonsaengnim, itu berarti hanya mereka yang akan tahu keputusannya sampai hari esok. Anggota OSIS tidak akan ada yang diberi tahu, sekalipun dia OSIS inti."
Jaemin mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban Somi, tetapi dia memutuskan untuk tetap menunggu Haechan saja disini. Toh, hari ini kegiatan klub menarinya juga libur karena ada audisi ini. Jaemin mengeluarkan ponsel dari saku blazernya dan memainkan game yang berada di ponselnya untuk menghabiskan waktunya.
"Astaga, kupikir kau sudah pulang." Somi geleng-geleng kepala melihat Jaemin yang masih saja keras kepala duduk didepan ruang kesiswaan menunggu sahabatnya itu.
"Tidak akan, aku akan menunggu Haechan disini."
Somi memutar bola matanya malas, memang percuma berbicara dengan orang yang keras kepala seperti Na Jaemin.
The Way Into Love
"Sebenarnya apa yang mereka tanyakan pada mu sih?" Kesal Jaemin karena semenjak Haechan keluar dari ruang kesiswaan itu wajahnya lesu sekali.
"Aku pasti tidak akan terpilih Jaemin-ah." Gumam Haechan.
Jaemin menepuk dahinya frustasi, sebenarnya apa sih yang ditanyakan oleh Jeno, Lucas, Mark, dan Park seonsaengnim? Kenapa Haechan jadi pesimis begini?
"Sudahlah, lupakan saja." Jaemin menunjuk kearah bus Haechan yang hampir tiba di halte, "Itu bus mu, kau harus pulang."
Haechan mengangguk lemas, dia berdiri dari posisi duduknya dan melambaikan tangannya pada Jaemin sebelum pintu bus terbuka. Jaemin melambaikan tangannya juga pada Haechan, dia tidak melepaskan pandangan dari Haechan sampai anak itu benar-benar duduk di busnya.
Jaemin menghela napasnya saat bus itu mulai melaju pergi, dia mengeluarkan ponselnya lalu mengirimi sebuah pesan kepada Ketua OSIS di sekolahnya. Setelah pesan tersebut terkirim, Jaemin berdiri dari tempat duduknya untuk menuju ke stasiun bawah tanah.
The Way Into Love
Mark menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur, dia melonggarkan dasi yang mencekik lehernya sambil menatap ke langit-langit kamarnya. Otaknya kembali mengulang kejadian beberapa saat lalu di ruang kesiswaan, tepatnya saat Haechan masuk ke dalam ruangan untuk melakukan audisi.
"Baiklah, terima kasih Sungkyung-ah!" Ucap Chanyeol begitu wawancara dengan Sungkyung telah selesai.
Somi berdiri dari kursinya kemudian mengantarkan Sungkyung untuk keluar dan memanggil peserta terakhir yang akan melakukan wawancara.
"Siapa lagi?" Tanya Chanyeol.
"Lee Donghyuck, ssem." Jawab Jeno.
Chanyeol mengernyit, "Murid baru itu?"
"Iya, aku sudah lihat review nya saat menjadi pengurus OSIS di salah satu sekolah di London, pekerjaannya cukup bagus, dia juga pernah menjadi ketua panitia untuk beberapa event penting di sekolahnya." Jelas Lucas.
Chanyeol hanya mengangguk-ngangguk mengerti mendengar penjelasan Lucas, sedangkan Mark terlihat tidak tertarik untuk mendengarkan penjelasan Lucas sama sekali. Dia bahkan hanya menatap datar kearah Haechan yang telah masuk ke dalam ruang kesiswaan bersama dengan Somi.
"Somi-ya, kau istirahat saja." Ucap Mark dengan nada datar membuat Jeno, Lucas, serta Chanyeol sedikit melirik kearahnya. Mereka bertiga menyadari ada sesuatu yang tidak benar disini. Somi punya hak untuk tetap diam di ruangan ini, kenapa Mark malah menyuruhnya untuk istirahat? Tetapi Somi sepertinya lebih memilih untuk mengikuti ucapan Mark, dia membungkuk kepada Chanyeol sebelum akhirnya keluar dari ruang kesiswaan.
Jeno berdeham untuk mencairkan suasana, "Silakan duduk."
Haechan dengan gugup duduk di kursi yang telah disediakan di tengah ruangan.
Lucas yang membaca sekali lagi review milik Haechan lalu bertanya, "Kau mantan trainee di salah satu agensi di London dan hampir debut disana?" Tanya nya.
Haechan membenarkan, "Ya."
"Tetapi kau tiba-tiba mundur dan memilih untuk kembali ke Korea?" Lucas menatap Haechan penuh tanda tanya, "Apa mimpimu berubah?"
Jeno mendengus mendengar pertanyaan yang terlontar oleh Lucas, dari sekian banyak pertanyaan yang bisa ia pertanyakan kenapa Lucas malah lebih tertarik dengan masalah tersebut sih?
"Mimpiku, tidak akan berubah." Jawab Haechan, "Aku tetap ingin menjadi penyanyi sampai saat ini, tetapi aku sadar.. untuk apa aku menjadi penyanyi kalau masih ada orang yang tidak mau mendengarkan suaraku? Jangankan mendengar suaraku, melihat nama ku di televisi pun belum tentu orang itu mau."
"Maksudmu? Apa ada orang yang membenci-"
"Lucas Wong." Tegur Chanyeol, "Bisakah kau fokus?"
Lucas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Maaf ssem, aku kan hanya tertarik."
"Donghyuck, disini dituliskan kau pernah beberapa kali menjadi ketua panitia untuk event penting di sekolahmu saat di London. Apa dulu kau juga salah satu anggota OSIS disana?" Kini Chanyeol yang bertanya.
"Bisa dibilang begitu." Haechan terlihat mengingat-ngingat, "Aku cukup aktif saat berada di organisasi."
"Kelihatannya memang begitu." Sahut Jeno sambil memberikan eye smile miliknya, "Mark, kau bisa mengajukan pertanyaan."
Mark tersenyum miring kearah Haechan kemudian ia membuka mulutnya yang sedari tadi diam, "Bagaimana jika kau terpilih, tetapi masih ada seseorang yang sangat membenci kehadiranmu disini?"
"Mark." Lucas menyenggol lengannya memperingatkan, namun Mark tidak peduli dia tetap menatap mata Haechan lurus seakan ingin mengulitinya hidup-hidup disana.
"Aku.." Haechan memainkan jari-jarinya gugup, memikirkan jawaban yang tepat untuk Mark tetapi otaknya benar-benar tidak mengeluarkan ide apapun.
"Kalau kau tidak bisa menjawabnya, kau bisa menyerah." Ucap Mark menambahi.
"Aku tidak akan menyerah." Haechan akhirnya menyuarkan apa yang ingin dia ucapkan, "Sekalipun.. Sekalipun ada yang membenciku, aku tidak akan menyerah. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk benar-benar membuat orang itu tidak membenciku. Tentu aku juga akan bekerja keras untuk menjalankan tugasku sebaik-baiknya jika aku terpilih nanti agar tidak mengecewakan anggota OSIS yang lain."
"Itu..." Lucas melirik Mark serta Chanyeol yang hanya diam mendengar jawaban dari Haechan, "Itu jawaban yang bagus." Ujarnya mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa sangat kaku.
"Terimakasih." Gumam Haechan, ia terlihat menghela napas kemudian menundukkan kepalanya.
"Kau anak baru bukan? Apakah jika kau terpilih nanti kau yakin bisa bekerja sama dengan Mark?"
"Uhm.." Haechan tidak berani menatap Mark yang ia yakini saat ini sedang menatapnya dengan tajam, jadi dia lebih memilih untuk menatap ke lantai saja, "Aku akan berusaha ssem."
"Arra." Chanyeol menutup review Haechan yang berada ditangannya kemudian tersenyum, "Kau bisa keluar. Terima kasih."
Haechan berdiri kemudian membungkuk dengan sopan sebelum keluar dari ruangan tersebut.
Mark mengusap wajahnya kasar, dia tidak mengerti bagaimana bisa Haechan kembali masuk kedalam kehidupannya.
The Way Into Love
Keesokkan harinya, ketika Haechan sampai di sekolah dia mendapati banyak siswa maupun siswi yang berbisik-bisik ketika ia lewat didepan mereka. Haechan mengernyitkan dahinya pelan ketika mendapati perlakuan seperti itu, memang ada yang salah ya? Apa.. Dia salah seragam? Tapi tidak, dia memakai seragam dengan benar bukan? Apa rambutnya berantakkan? Sepertinya tidak juga, dia sudah menyisir rambutnya sebelum berangkat ke sekolah tadi.
"HAECHAN-AH!"
Haechan menatap Jaemin yang merangkulnya dengan senyum lebar terpatri diwajahnya, "Kenapa sih? Kenapa hari ini aku seperti diperhatikan sekali?"
"Jelas saja kau diperhatikan." Ucap Jaemin dengan senyum misteriusnya.
"Huh? Kenapa?"
"Ikut aku." Jaemin membawa Haechan ke depan papan pengumuman yang mengumumkan pemenang dari audisi pemilihan wakil ketua panitia kemarin. Haechan membaca pengumuman tersebut dan membulatkan kedua matanya tidak percaya, kemudian menoleh kearah Jaemin yang sudah merentangkan tangannya siap untuk memeluk Haechan, "Selamat!" Serunya bahagia sembari memeluk sahabatnya itu.
Haechan masih tidak bisa mempercayai nya, ia menatap papan pengumuman sekali lagi untuk memastikan dan ternyata memang benar, namanya lah yang tertulis sebagai pengganti Lucas untuk wakil ketua panitia acara ulang tahun sekolah.
"Jaemin-ah." Panggil Haechan.
"Apa?"
Haechan menoleh kearah Jaemin, "Serius aku yang terpilih?"
The Way Into Love
"LEE DONGHYUCK! SELAMAT DATANG!" Seru Somi bahagia ketika Haechan memasuki ruang kesiswaan diikuti suara tepuk tangan serta seruan dari pengurus OSIS lainnya.
Haechan hanya tersenyum dan ikut bertepuk tangan, dia tidak tahu harus bereaksi seperti apalagi karena disini Mark juga tengah menatapnya dengan tatapan tajam miliknya sehingga membuat Haechan tidak merasa nyaman sama sekali.
"Jujur aku senang kau yang terpilih!" Ujar Somi.
Haechan mengangguk, "Terima kasih."
"Oh iya, perkenalkan dirimu dulu disini."
Haechan tersenyum kepada pengurus OSIS lainnya, "Aku Lee Donghyuck, kalian bisa memanggilku Haechan. Mulai hari ini aku akan masuk menjadi anggota panitia untuk acara ulang tahun sekolah, mohon bantuannya." Haechan membungkuk sopan.
Lucas yang berdiri disampingnya menepuk punggungnya, "Aku akan membantumu."
"Iya." Jawab Haechan semangat.
"Baiklah, karena perkenalan kalian dengan Haechan sudah selesai, kalian bisa kembali ke kelas kalian masing-masing." Ujar Jeno.
"Apa?" Seungkwan mengernyit, "Kupikir semua anggota OSIS akan dapat dispen sampai pulang sekolah nanti."
"Jangan mengarang!" Sahut Jeno, "Kalian juga harus mempersiapkan diri untuk penilaian bulanan nanti dan aku yakin beberapa dari kalian pasti sedang giat mengumpulkan banyak poin dari daftar hadir untuk membantu kalian mendaftar ke universitas nanti bukan?"
Seungkwan menggeleng polos, "Aku tidak."
"Mungkin kau memang tidak niat mendaftar ke universitas!" Cibir Vernon.
"Yah! Vernon Chwe perhatikan ucapanmu ya!" Peringat Seungkwan.
"Sudah, kembali ke kelas kalian." Satu kalimat yang keluar dari mulut Mark malah lebih ampuh untuk membuat semua anggota OSIS keluar dari dalam sana.
Haechan juga akan kembali ke kelas kalau Jeno tidak menahan lengannya, "Kau dapat dispen."
"Apa?" Haechan menatap Lucas serta Mark yang kini tampak bingung juga dengan penuturan Jeno, "Bukankah tadi dikatakan tidak ada dispen?"
"Kau anggota baru, aku akan menjelaskan segala hal mengenai OSIS di sekolah kita. Untuk masalah acara ulang tahun sekolah, mungkin Mark atau Lucas nanti yang akan menjelaskan."
"Kau tidak pernah mengatakan itu padaku." Mark tampak tidak setuju dengan keputusan Jeno.
"Tapi aku sudah dapat ijin dari Park seonsaengnim." Balas Jeno.
"Baiklah, kita akan kembali ke kelas sedangkan kau bisa segera menjelaskan segala sesuatunya pada Donghyuck." Lucas menarik paksa Mark keluar dari ruang kesiswaan.
"Apa tidak apa-apa?" Tanya Haechan ragu.
Jeno tersenyum, "Tentu saja.. Kau juga tidak keberatan bukan kehilangan satu jam mata pelajaran ?"
"Aku.. Tidak keberatan."
"Bagus." Jeno berjalan kearah meja khusus ketua OSIS diikuti Haechan dibelakangnya, ia duduk di kursi ketua OSIS dan memberikan Haechan satu buku yang cukup tebal.
"Apa ini?"
"Profile anggota OSIS yang sekarang, serta berbagai macam kegiatan yang sudah direncanakan.. Kau bisa melihatnya sambil duduk di kursi."
Haechan mengikuti saran Jeno, ia duduk berhadapan dengan sang Ketua OSIS SOPA tersebut, "Tapi aku bukan anggota inti OSIS, aku hanya masuk kepanitiaan inti untuk satu event."
"Siapa bilang kau bukan anggota OSIS inti? Lucas merupakan sekretaris umum OSIS bersama Somi."
Haechan merasa pendengarannya salah dengar, "Sekretaris umum?"
"Iya, posisi utama nya adalah sekretaris umum."
"Tapi kalian tidak pernah bilang bahwa aku akan menggantikan posisi itu juga." Protes Haechan.
"Memang pada awalnya aku juga tidak berniat begitu." Jeno mengangkat bahu, "Tapi entahlah.. Park Seonsaengnim yang mengatakan padaku agar kau juga sekalian saja menggantikan posisi Lucas di bagian itu."
Haechan menghela napas berat, sebenarnya selama aktif di orgasasi dulu dia belum pernah masuk kedalam OSIS inti, dia hanya terpilih untuk menjadi ketua di beberapa event. Rasanya menjadi OSIS inti akan jadi lebih berat, apalagi dengan posisi sekretaris umum. Itukan posisi yang mengharuskan ia sering berkomunikasi dengan Ketua maupun Wakil ketua OSIS, kalau dengan Jeno sih dia oke saja, tapi kalau dengan Mark? Bisa-bisa sebelum ia mengucapkan apapun Mark sudah tidak sudi mendengarnya duluan.
"Bisa aku menjelaskan padamu tentang divisi yang kita miliki?" Suara Jeno berhasil mengembalikan kefokusan Haechan.
Haechan mengangguk, "Ya."
"Untuk program kerja OSIS angkatanku, aku memiliki beberapa divisi agar mempermudahkan kita membagi jabatan di setiap event. Setiap divisi memiliki satu ketua dan empat anggota tetap. Divisi yang ada didalam program kerjaku sejauh ini ada tujuh divisi utama."
Haechan bergumam mengerti sembari memperhatikan buku dihadapannya, Jeno melanjutkan, "Divisi yang pertama adalah divisi pencari dana. Divisi ini merupakan yang terpenting karena tanpa mereka kita tidak akan mendapatkan sponsor yang besar. Ketua nya adalah Kim Sejeong untuk anggotanya bisa kau lihat sendiri disana."
"Divisi kedua adalah divisi kebangsaan, divisi ini biasanya mengambil tugas di masa orientasi siswa baru, pemilihan ketua OSIS baru, dan upacara kelulusan. Ketua nya adalah Vernon Chwe."
"Divisi ketiga, divisi olahraga, divisi ini salah satu divisi yang berperan penting jika ada lomba persahabatan seperti di ulang tahun sekolah kita nanti. Ketuanya adalah Kim Mingyu."
"Divisi keempat, divisi kesenian. Divisi ini mengambil peran untuk pentas seni ataupun kegiatan seni lainnya seperti pameran, teater, pokoknya hal-hal yang berbau seni mereka yang mengurusnya. Ketua untuk divisi kesenian adalah Lee Seokmin atau yang lebih dikenal dengan Dokyeom."
"Apa ada pertanyaan sampai disini?" Tanya Jeno sebelum ia melanjutkan ke divisi lain, "Oh iya, divisi kesenian juga bertanggung jawab untuk melakukan dekor panggung jika ada event disini."
"Katamu setiap divisi memiliki empat anggota tetap, kenapa di divisi olahraga mereka memiliki lima anggota?"
"Ah." Jeno mengusap tengkuknya, "Itu permintaan Mingyu, dia bilang event untuk divisi olahraga kan biasanya mengundang sekolah lain jadi dia butuh lebih banyak anggota inti dan aku menyetujui permintaannya. Mingyu juga menjadi koordinator acara untuk ulang tahun kepala sekolah nanti dan setiap anggota divisinya menjadi koordinator setiap perlombaan yang ada."
"Kalau aku jadi Mingyu aku akan minta tambahan sampai tujuh anggota saja.." Ujar Haechan membuat Jeno sedikit terkekeh geli.
"Aku lanjutkan ya?" Haechan tersenyum dan mengangguki pertanyaan Jeno.
"Divisi kelima, divisi perlengkapan dan keamanan. Kau pasti sudah tahu apa fungsi divisi ini karena aku yakin di setiap sekolah pasti memiliki bagian penting ini. Ketuanya Kim Samuel."
"Divisi keenam, divisi kesehatan. Biasanya divisi ini akan berperan sebagai P3K disetiap event. Ketuanya Kim Yeri."
"Divisi ketujuh, divisi yang terakhir ini adalah divisi dokumentasi. Divisi ini diisi oleh anggota OSIS yang memiliki kemampuan memotret yang bagus. Ketuanya, Bambam."
"Bambam?"
"Dia orang Thailand."
"Woah... Ada orang Thailand yang bersekolah disini?" Pekik Haechan kagum.
"Tentu saja, dia yang mempunyai rambut pink."
"Aku mengerti, terima kasih atas penjelasanmu."
"Sama-sama, mengenai anggota tiap divisi apa kau memiliki pertanyaan?"
"Disini..." Haechan menunjuk salah satu foto siswi yang menjadi anggota divisi kesehatan, "Aku tidak pernah melihat dia, apa tadi dia juga berada disini?"
Jeno melihat foto siapa yang ditunjuk oleh Haechan kemudian ia menggeleng pelan, "Itu Ko Eunji, dia sedang mengikuti lomba bernyanyi di Busan, dia akan kembali nanti."
"Ah begitu."
"Apa ada lagi?"
"Sebenarnya ada yang ingin kuketahui lagi." Haechan menatap Jeno ragu, "Bagaimana caranya aku bisa terpilih menggantikan Lucas? Aku hanya ingin tahu, tidak apa-apa kalau memang kau tidak-"
"Aku, Lucas, Mark, dan Park seonsaengnim melakukan voting." Sela Jeno.
"Apa.. Kalian semua memilihku?"
Jeno tersenyum, "Aku, Lucas, dan Park seonsaengnim memilihmu. Tetapi Mark, dia lebih memilih Jisung."
Haechan menganggukkan kepalanya. Dia sudah tahu bahwa tidak mungkin Mark akan memilihnya, walaupun didalam hati kecilnya ia sedikit berharap bahwa Mark juga akan memilihnya. Tetapi sepertinya hal itu mustahil bukan? Mark saja tidak mau memaafkan dirinya apalagi memilihnya untuk menjadi wakil acara ini.
TBC
Maaf, maaf, maaf
Maaf karena aku baru update ff ini sekarang huhu.. Jln ceritanya mulai ngebosenin kah? Makin ga jelas kah? Makin kesel sama Mark kah?
Jangan kesel ya sama Mark atau Haechan di ff ini, karena semua yang terjadi di ff ini pasti ada sebab dan akibatnya. Terus, di atas jg udh ada flashback nya dikit tentang hubungan Mark sm Haechan dua tahun lalu, nanti di chapter-chapter selanjutnya juga pasti bakalan ada kok flashback mereka jdi tungguin ya hehe
Kalau ada yg udh bosen sm ff ini kasih tau aku please! Biar aku bisa mikir gmn caranya supaya cerita ini ga ngebosenin, karena kalau misalnya yg review dikit jg mungkin ga akan aku lanjut lagi :(
Makasih buat yg udh review di chapter kmrn (maaf gabisa bales satu"), buat yg udh follow sama favorite juga makasih banyak! Jangan sungkan buat kasih saran karena aku tau ff aku itu msh banyak banget kekurangannya :)) Aku tunggu review nya buat chapter ini, okay?
See You!~
Special Thanks To
BooSeungkwan, mtxgdvtzk, Echa577, WillyHaechan21, Shimamariam21, bomceri, markchan97, Minge-ni, Guest, SMark, Dindch22, MarkeuhyuckLee, aiumax, Lusianaevy, Wiji, Markkkleeee, Park RinHyun-Uchiha, lovebe, sffnnaaa07, chypertae, fjshfz, Guest, markhyuckass, jungXlee
