Lampu yang tiba-tiba menyala membuat matanya otomatis menyipit, ini dikarenakan fokus cahaya tersebut tertuju langsung pada wajahnya—juga seluruh tubuhnya.
Ryouta yang berdiri di atas panggung dapat melihat kerumunan orang dibawah sana. Kerumunan fansnya yang didominasi oleh remaja putri meneriaki namanya sambil mengangkat tinggi-tinggi poster bergambar dirinya yang sedang berpose tampan.
Hari ini, delapan belas Juni—bertepatan langsung dengan ulang tahunnya yang ke-14, adalah jadwal Akashi Ryouta a.k.a Kise Ryouta, untuk memenuhi job khusus dari para fansnya.
Meet and Greet bersama Kise Ryouta di hari spesialnya.
.
.
.
Hello My Story
Yubikiri Genma
KnB (c) Tadatoshi Fujimaki. Hello My Story (c) saya.
Walau terus menangis, tetap saja aku tak bisa menggapaimu. Daripada air mataku terbuang sia-sia, lebih baik aku tersenyum seperti yang kau inginkan.
.
.
.
Akashi Ryouta memulai karirnya di dunia entertaiment pada saat dirinya memasuki bangku sekolah menengah pertama. Saat itu umurnya baru tiga belas tahun. Ryouta ditawari pekerjaan untuk menjadi model busana dengan merk Vesvim, adalah pakaian yang sangat memperhatikan estetika dan kualitas dalam setiap produknya. ini brand yang sedang naik daun saat itu.
Namanya langsung melambung tinggi, kesuksesannya berawal dari sini.
Setelah itu tak hanya model, tawaran menjadi bintang iklan, aktor, dan penyanyi juga datang padanya. Akashi Ryouta menjadi artis serba bisa di usia muda.
Dengan ini ia sudah memenuhi tugasnya dari si tua bangka Akashi Seishirou—kakeknya sendiri. Cih. Ia bahkan tak sudi mengakui bahwa dia adalah keluarganya. Sepemahamannya, ia hanya harus mengharumkan nama keluarga ini, kan?
Semuanya berawal dari permintaan seenaknya ayah dari Otou-san-nya. Dalam suasana yang berkabung, Ryouta ingat jelas dia datang dengan dikawal empat pengawal berbadan besar dan berpakaian rapi lengkap dengan kacamata hitam- orang-orang itu seperti anggota yakuza. Dikiranya, kakeknya datang untuk berbela sungkawa atas kematian orang tuanya. Tak tahunya, ia malah memberi kewajiban yang sangat tidak berperikemanusiaan.
Ryouta bingung, hatinya itu terbuat dari apa sih? Tidak mengertikah kalau keluarganya sedang dalam keadaan berduka? Dengan melihat dirinya, Daiki, dan Atsushi dengan mata sembab dan wajah yang basah saja sudah bisa ditebak. Tidak bisakah ia menunggu? Menunggu sampai setidaknya kabut duka yang sedang menghantui keluarganya ini sirna? Dan juga, jangan seenaknya membebankan sesuatu yang tidak mungkin ke pundak kakaknya, Seijuurou! Ryouta dan kakaknya hanya berbeda dua tahun, mereka masih remaja seperti anak-anak yang lainnya, masih ingin bebas. Secerdas atau sehebat apa pun kakaknya, ia juga manusia. Seijuurou bahkan belum lulus SMA saat Seishirou memaksanya menggantikan posisi ayahnya saat itu.
Gila.
Untuk pertama kalinya, Ryouta mengutuk kakeknya agar terkena serangan jantung dan mati saat itu juga. Doanya memang belum terkabul saat Ryouta memintanya, tapi Kami-sama mengabulkan permintaannya beberapa tahun setelahnya. Akashi Seishirou meninggal di usia enam puluh sembilan tahun karena komplikasi stroke dan jantung.
Terbukti, Kami-sama memang selalu mengabulkan doa hambanya yang teraniaya.
.
.
.
.
"Halooooo, minnacchi!" Suara nyaringnya menggema dalam gedung megah, sapaannya langsung dibalas teriakan histeris para fangirl yang hadir saat itu. Ryouta makin melebarkan senyumnya.
"Bagaimana kabar kalian? Baik, kah? Terimakasih karena sudah datang di acara Meet and Greet bersamaku-ssu. Apalagi ... Ya, kalian tau hari ini adalah hari spesialku. Coba tebak apa itu? Kalau ada yang bisa menjawab, akan kuberi kissu~"
Suasana kembali gaduh dan ricuh. Fansnya mulai berteriak-teriak. Suara mereka saling bertindihan, tapi Ryouta tahu inti dari apa yang mereka teriaki, 'Kise-kun Otanjoubi !'
"Yap! Kalian benar! Karena jawaban kalian semua benar, sesuai janji, maka—"
Ryouta memberi kiss bye dengan kedipan manja. Membuat para fangirl yang hadir semakin histeris. Ryouta tidak pernah merasa terganggu dengan suara mereka. Karena Ryouta bisa ada, berdiri disini, karena dukungan mereka.
"Oke, cukup! Kita langsung mulai saja acaranya-ssu! Sharara ... goes on!"
Backsound langsung berbunyi kencang. Lampu panggung dimatikan, satu disisakan untuk menyorot Ryouta. Mikrofon sudah berada didekat bibir, Ryouta siap menyanyikan lagu di salah satu Album terbarunya yang baru rilis seminggu lalu. Ia dapat melihat para fansnya yang mengacungkan light-stick berwarna kuning tinggi-tinggi.
Mari kita selesaikan urusannya disini secepatnya. Hari ini adalah hari kelahirannya, ia ingin cepat pulang dan merayakan bersama keluarganya. Ia yakin pasti Okaa-san atau Otou-san sudah menyiapkan juga pesta kejutan di rumah, untuknya.
Acara berjalan meriah setelahnya. Meet and Greet kali ini diisi oleh game, tanya-jawab seputar kehidupannya dan isu-isu yang menyebar di kalangan publik, seperti Ryouta yang memiliki hubungan dengan gadis bintang porno. Oh, akan hal ini tentu saja ia menolak tegas, Ryouta sedang tidak dalam hubungan/ikatan dengan siapa pun. Ia bebas, sebebas-bebasnya. Lagipula, ia yang sekarang ini masih kecil, mana berani Ryouta menjalin hubungan di tengah pamornya yang sedang melejit sekarang ini, dengan artis bintang sur pula. Ia masih punya akal, Ryouta masih ingin melanjutkan karirnya.
Di penghujung acara, para fansnya ternyata menyiapkan kejutan kecil untuknya.
"Te-tetsuyacchi!?"
"Doumo, Lyouta-nii-san."
Adik kecilnya datang membawa kue tart dengan tangan mungilnya. Ia berjalan mendekat ke arah Ryouta dengan dikawal oleh dua panitia acara di sisi kiri dan kanan. Ia kecil, Tetsuya lima tahun, yang sedang membawa kue ulang tahun dengan ukuran seperempat tubuhnya memang harus diawasi.
Setelah berjalan hati-hati dan sampai di hadapannya, Ryouta berjongkok agar menyamai tinggi adiknya.
"Otanjoubi Omedettou, Lyouta-nii!" Jantungnya hampir berhenti berdetak kala melihat senyum cerah dan tulus sang adik. Ryouta ingin segera memeluk tubuh mungil adiknya, mencuminya, mengatakan terima kasih sebanyak-banyaknya karena sudah mau repot-repot datang ke sini. Ya, ini semua pasti sudah direncanakan.
"Buat pelmintaan, dan tiup lilinnya, Lyouta-nii!" katanya lagi.
Ryouta mengangguk. Masih belum bisa berkata apa-apa, memilih melakukan seperti yang adik kecilnya katakan. Matanya dipejamkan, dalam hati ia berbisik—
Kami-sama ... terima kasih sudah mengizinkan aku hidup sampai detik ini. Terima kasih sudah memberi segala kebahagiaan padaku. Aku ingin, segala sesuatunya tetap seperti sekarang. Lindungi mereka yang aku sayangi, Kami-sama ...
Kelopak matanya terbuka kembali, Ryouta melihat wajah lugu adiknya yang sedang tersenyum sekilas, sebelum fokusnya kembali pada kue ulang tahun dan—
Api diatas lilin yang berjejer di atas kue mati, ia meniupnya dengan cepat.
"Selamat ulang tahun, kakakku telsayang. Aku beldoa semoga Lyouta-nii semakin tampan, sukses, sehat, panjang umul, selalu dilindungi Kami-sama, hidupnya penuh dengan kebahagiaan, pokoknya, Cuya mendoakan yang telbaik buat Lyouta-nii!"
Amin..
Setelah itu, Ryouta merasakan sesuatu yang lembut menekan pipinya. Adiknya baru saja menciumnya. Ryouta speechless.
"Cuya sayang Lyouta-nii ..."
Masih bungkam, Ryouta hanya memandangi wajah polos adiknya yang sedang tersenyum manis padanya.
"Aku ... aku juga menyayangimu, Tetsuyacchi!"
Akashi Ryouta menangis karena kado terindah yang diberikan Tuhan padanya.
Terima kasih sudah mengirimkan salah satu malaikat kecilmu padaku, Kami-sama..
Terima kasih, sekali lagi terima kasih.
.
.
.
-Present-
Sekarang tepat pukul 12:45, lima belas menit sebelum pesawat Sky Air lepas landas.
Ryouta memandangi handphone-nya sebelum itu. Walpaper disana menunjukan potret dirinya dengan adik bungsunya, Tetsuya.
Ini diambil beberapa tahun—kira-kira tiga belas tahun lalu. Saat Ryouta berulang tahun ke-empat belas, ia sempat meminta berfoto berdua dengannya sebagai ganti kado ulang tahunnya, karena saat itu si kecil tak punya apa-apa untuk diberikan.
"Tapi, Cuya belum beli kado untuk Lyouta-nii ..." katanya dengan wajah murung ketika Ryouta menanyakan di mana kado darinya. "Maafkan Cuya, Lyouta-nii ... Cuya beljanji setelah ini akan membelikan kado yang cocok buat Lyouta-nii. Katakan apa ada sesuatu yang diinginkan Lyouta-nii? Cuya akan menabung, mungkin akan lama, tapi Cuya pasti akan membelikan sesuatu itu pada Lyouta-nii, secepatnya!" katanya. Ryouta dapat melihat jelas permata biru muda itu yang berair, hampir menangis. Ryouta tahu, adik kecilnya tidak ingin mengecewakannya. Ia juga tidak memaksa kok, jika Tetsuya tidak memiliki sesuatu untuk diberikan untuknya—walau sedikit kecewa—ia akan menerimanya. Anggap saja kehadirannya disini yang merayakan ulang tahun dirinya bersama menjadi kado untuknya.
"Tetsuyacchi tidak perlu repot-repot membelikan Ryouta-nii kado, oke? Kalau Tetsuyacchi ingin menabung Nii-chan tidak akan melarangnya. Tapi, uang tabungannya buat Tetsuyacchi saja. Untuk membeli mainan yang Tetsuyacchi inginkan. Begitu lebih berguna bukan?"
"Tapiiii, nanti Lyouta-nii malah sama Cuya. Cuya tidak mau dibenci Lyouta-nii!"
"Hei-hei, Tetsuyacchi bicara apa sih? Tentu saja Ryouta-niimu yang tampan tidak akan pernah membenci Tetsuyacchi yang manis ini. Jika mau, Ryouta-nii bisa membeli apapun yang Ryouta-nii inginkan, dan tidak akan memeras Tetsuyacchi! Kehadiran Tetsuyacchi disini saja sudah menjadi kado terindah untuk nii-chan. Terimakasih, sayang.."
"Um ... Janji? Lyouta-nii tidak malah dengan Cuya?
"Kalau begitu ... maukah Lyota-nii berjanji satu hal lagi pada Cuya?"
"Ya? Apa yang adik nii-chan ini inginkan memangnya?"
"Saat melihat Lyouta-nii telsenyum seperti tadi, entah kenapa dada Cuya beldebal-debal. Hei, nii-chan, senyummu itu membuat hati Cuya lega. Cuya ingin selalu melihatnya, dan ... jangan pelit untuk menunjukan senyum itu pada olang-olang! Cuya ingin semua olang tau kalau kakak Cuya yang tampan ini mempunyai senyum yang memesonaaa~"
"He? Hanya itu? Baiklah. Pegang kata-kata kakakmu ini, Ryouta-nii berjanji akan melakukan apa yang Tetsuyacchi minta!"
"Janji! Janji jari kelingking, kalau kamu berbohong, aku akan membuatmu menelan seribu jarum!"
.
.
Dan ini dia. Foto itu dijadikannya walpaper ponselnya. Ia juga mencetaknya menjadi dua. Yang satu ditaruh dikamarnya, sedang satunya lagi di dompetnya.
"Tetsuyacchi.."
Ibu jarinya mengusap layar-tepat di wajah bocah biru muda yang sedang mencium pipinya. Ryouta tersenyum lebar sambil menunjukan dua jarinya. Satu tangannya yang menganggur merangkul—memaksa tubuh mungil si bungsu agar lebih dekat, padahal keduanya sudah menempel.
Ia mengecup layar ponselnya, kenangan bersama sang adik yang mengalir membuat matanya menjadi perih. Hampir, ia menangis lagi, kalau—
Bugh.
Kalau bosnya tidak datang dan menendang bokongnya, seperti biasa.
Kepalanya dipukul kasar. Ryouta mengusap bekasnya sebelum berbalik melihat siapa orang yang berani-beraninya menghancurkan momennya.
"Matikan handphonemu, bodoh! Sebentar lagi kita akan lepas landas. Kau ingin mati ya!?"
"Uh ... biasa saja, dong Kasamatsucchi! Aku tahu, kok!"
Hari ini adalah jadwal Akashi Ryouta sebagai Co-Pilot dan Kasamatsu Yukio sebagai Pilot Pesawat Sky Air tujuan New York.
"Kalau sudah tau simpan handphonemu! Panaskan mesinnya. Mengenang masa lalu tak ada gunanya. Pikirkan dirimu sekarang."
"Ha-hai', Captain!"
Hari ini Ryouta siap terbang, menembus langit biru cerah, berharap—barangkali—suatu hari nanti pesawatnya bisa menembus, atau sampai ke tempat sang adik berada.
Ia merasa dekat dengan Tetsuya ketika ia sedang terbang diantara langit biru.
.
.
.
Ryouta selalu mengingat janji sederhananya dengan Tetsuya.
'Beljanjilah satu hal pada Cuya kalau Lyouta-nii akan selalu telsenyum. Tidak peduli apa yang terjadi, ada Cuya ataupun tidak ada. Lyouta-nii halus tetap telsenyum, itu akan membuat ketampanan Lyouta-nii bertambah! Benalkan, Onee-chan tachi?'
Janji yang terus dipegangnya sampai sekarang.
Bahkan saat mendengar kabar si bungsu yang meninggal dunia, Ryouta tetap tersenyum seperti janjinya.
' –tidak peduli apa yang terjadi, telsenyumlah!'
Walaupun senyumnya dibarengi oleh air mata yang mengalir deras.
.
.
Kapan kita menyadari kalau kita tak bisa hidup seorang diri?
.
Jika kita tersesat. Aku akan menerangi jalan kita.
Tak apa jika kau ingin istirahat. Tapi aku tak akan berhenti.
.
end of chapter
.
*) Yubikiri Genman; Janji jari kelingking. Liat google untuk penjelasan lebih rincinya :" /oranginisedangmalasmenjelaskan.
.
Sengaja ga diceritain tentang perlakuan Ryouta yang berubah—karena sejujurnya aku engga sanggup, udah diujung batas. Mungkin aku bakal buat KiKuro part 2 nanti ... /oranginiKikuroshipperjuga /lebihtepatnyapenganutMiragenKuro
Yumi Ishikawa buat ngemaso? Kamu tsuyoi :'D Ah, pengennya aku juga begitu, mereka sama-sama lagi. Tapi mau gimana ... semuanya udah terlanjur :" hanyo4 ini ditambahin asupan masonya. Selamat menikmati :'D BlackCrows1001 /pelukBlackCrows/ Mereka bilang begitu karena mereka ga tau apa-apa. sok tau, iya ... I know dat feel, too :" VT-Lian Nah nah, terimakasih Lian-san buat semuanya. Ini bagian Kikuro-nya silahkan dicicip dan komentari bagaimana rasanya /hush :" Dewi15 Done :'D rizkyanne terimakasih, ini udah dilanjut dan salam kenaaaal! Shinju Hatsune /kasihtisu :" shawoldita IYAAAA MAKASIH SEMANGATNYA, SAYANGKUUUUH~ /lebay /dilemparinguntingAkashi Caesar704 Self Harm; Self Abuse; Self Injury itu ... semacem tindakan melukai diri sendiri, salah satunya cutting. Mereka melukai diri sendiri dengan tujuan membuat goresan atau luka di seluruh bagian tubuh dengan benda tajam—cukup untuk menembus kulit dan membuatnya berdarah. Yah, aku rasa ini ga sebatas cutting aja, sih. semua kegiatan yang menyiksa diri sendiri (?) Ahahah, Tetsuya maso juga ternyata XD
Terimakasih, semua~
Sekian, Jaa.
*Hibernasi dimulai*
