"A-akhh..."

Ujung mata pisau bergerak lurus, melengkung, mulai menari, membentuk satu kata di atas kulit yang lembut.

"Nn...!"

Karena untuk yang pertama kalinya, ia tentu merasakan perasaan berbeda, satu rasa yang sudah lama tak dikecapnya. Berusaha menahan, tapi erangan kecil tetap lolos tatkala tangan kurus itu menyelesaikan tugasnya. Bibir pucatnya membentuk senyum bangga ketika melihat hasil pekerjaannya dari balik kaca wastafel.

Tetsuya Akashi memperhatikan kata yang tertanam di dada bagian kirinya. Ada merah yang mengalir ke bawah di tiap goresan. Tertulis sangat jelas.

'I'm Alive'

Tetsuya ingin lagi, ingin merasakan pisau itu menggores, menusuk, membelah—daging miliknya.

Karena ia akan hidup dengan rasa sakit ini, mulai sekarang.

.

.


.

Hello, My Story

Numb Feeling

KnB milik Tadatoshi Fujimaki. Saya hanya meminjam karakter miliknya

.


.

Kau berpikir kalau semuanya adalah salahmu

Kau merasa, kau harus melakukan ini, seakan kau tidak bisa berhenti

Karena ini sudah seperti adiksi untukmu

Kau menyembunyikannya, karena kau tidak ingin orang lain mengetahui

Tapi lebih dari itu, kau menyembunyikan terlalu banyak sakit, sakit yang tak terkontrol

Hei, kau tidak sendiri

Kau memiliki kesedihan, dan putus asa

Kau merasa sendiri dan tak dicintai, dan juga tidak ada orang yang akan peduli padamu

Kau tidak bisa mengendalikan emosimu, jadi kau melakukan ini

Kemudian jatuh pada lubang depresi

Kau tidak bisa berhenti, bagian dirimu tidak ingin berhenti

Karena ini sudah menjadi bagian dari dirimu

.

.

.

Tetsuya masih 13 tahun, ketika ia menemukan blog berjudul "Desperateme" (baca: desperate me : desperateme, perpaduan antara kata desperate dan teme yang bisa diartikan rasa putus asa sialan) di internet, yang berisi curahan hati si blogger tentang hidupnya. Ia yang tertarik dan merasa memiliki kasus yang sama dengan orang itu langsung mencoba mempraktikannya di rumah, tepatnya di dalam kamar mandi.

Penulis—yang tidak bisa disebutkan namanya—sendiri menuliskan kalau ia hobi melukai diri sendiri di saat-saat menyedihkan dalam hidupnya. Ia merasa sendiri walau dikelilingi banyak orang, ia merasa tersisihkan, ia merasa dijauhi, dan ia merasa tak pernah dianggap ada. Yang terburuk, ia merasa mati rasa ditubuhnya; ia hidup, ia bernafas, tapi hampa di dalam (Penulis tidak menyebutkan masalah yang dihadapinya karena itu bagian dari privasi, ia hanya menuliskan apa yang dirasakannya dan dilakukannya).

Mirip sekali denganku, pikir remaja yang baru beberapa bulan memasuki bangku sekolah menengah pertama ini.

Malamnya, ia langsung mencoba hal 'itu' di dalam kamar mandi. Itu adalah pukul sebelas malam, Atsushi-nii, Shintarou-nii, dan Seijuurou-nii sedang tidur di kamar masing-masing. Kalau Ryouta-nii memang belum pulang sejak kemarin, ada jadwal manggung di luar kota katanya. Beruntungnya, Daiki-nii yang kamarnya terletak di sebelah kamarnya sedang tidak ada di rumah, Tetsuya tidak tahu kemana tapi dengar-dengar dari pelayan di rumahnya, Daiki-nii sedang menginap di rumah teman. Kakaknya bahkan tak berpamitan dengannya, padahal Tetsuya adalah satu-satunya keluarganya yang berada di rumah saat kakaknya itu meninggalkan rumah sore tadi. Tapi sudahlah, jangan dibahas.

Karena saat ia menggoreskan pisau itu ke kulitnya, Tetsuya berteriak. Walaupun kamarnya memang kedap suara, ia masih khawatir suaranya akan terdengar ke kamar sebelah, kamar Daiki-nii.

Tetsuya menangis—bahagia—saat melakukannya, setelah sekian lama tak menangis. Omong-omong, terakhir kali ia menitikan air mata adalah ketika Shintarou-nii memarahinya saat Tetsuya memintanya datang ke pentas di sekolah dasarnya.

Tetsuya merasa beban yang ia pendam berkurang, beban itu mengalir bersama darah yang keluar dari kulitnya. Rasa sakit yang selama ini ia simpan, ditimpa oleh rasa sakit dari goresan pisau di badannya. Setidaknya, ini lebih baik, karena sakit yang ini membuatnya hidup, tidak mati rasa seperti sakit sebelumnya.

Tetsuya tidak tahu self harm yang dilakukannya memiliki efek ketergantungan yang terus berlanjut bahkan sampai beberapa tahun ke depan. Seperti narkoba yang membuat candu, ia tak bisa hidup tanpa membuat luka baru di kulitnya.

Kulitnya yang mulus dan putih seperti salju pun mulai dipenuhi bekas luka ciptaannya. Satu luka 'hampir' sembuh, Tetsuya menambah kembali goresan di atas sana. Bahkan, pernah Tetsuya membakar perutnya dengan lilin. Bekasnya belum hilang sampai sekarang.

Ia kembali merasakan hidup.

Ya, sejak saat itu, ia merasa mati rasa. Ia tak bisa merasakan apa-apa. Hidup dalam kondisi seperti ini benar-benar membuatnya frustasi. Ia tak punya tujuan hidup—satu-satunya alasan ia bertahan adalah karena kelima kakaknya. Tidak peduli mereka mengabaikan Tetsuya, tidak peduli mereka tak pernah mengobrol seperti dulu dikarenakan kesibukan masing-masing. Tetsuya menyayangi Seijuurou, Shintarou, Ryouta, Daiki dan Atsushi—kelima kakaknya, setulus hati. Ia hanya memiliki kelima orang itu yang tersisa di dunia ini.

Keluarganya adalah kekuatan sekaligus kelemahan untuknya.

Tetsuya tidak bodoh, sampai tidak mengetahui risiko yang akan didapatnya. Infeksi, bekas yang lama menghilang, anemia—karena kehabisan darah.

Ia sangat tahu sekali. Apalagi usahanya untuk menyembunyikan jejak-jejak di kulitnya tidaklah mudah. Tetsuya tidak ingin dunia tahu, kalau selama ini ia telah melakukan hal yang menyimpang, hal yang dilarang Tuhan.

Ia masih bisa merasakan, jelas, nyeri yang didapat dari goresan ujung cutter berwarna biru kesayangannya di atas kulit pucatnya. Cairan merah kental yang mengalir setelahnya. Dinginnya lantai kamar mandi, atau air di dalam bathub. Kerasnya air yang menghujam dingin—terkadang panas yang membakar kulit— dari keran yang menghujam punggungnya.

Dan sebagai penutup, biasanya ia akan meminum obat penenang—setelah semua, ia ingin mengistirahatkan tubuh dan pikirannya—dengan dosis tinggi. Ia tidak tahu, berapa butir obat yang ditelannya, ia hanya menumpahkan botol obat itu ke telapak tangan, kemudian langsung menenggak pil-pil itu sekaligus. Yang pasti lebih dari lima. Tetsuya memiliki insomnia ketika malam dan tidak akan bisa tidur sebelum meminum obat. Terlalu banyak pikiran, ditambah ia tipe orang yang susah melupakan masalah.

Dalam kasus ini, ia tidak mati karena overdosis, anehnya. Paling, Ia hanya tertidur lama sekali ... minimal dua hari dan maksimal pernah sampai empat hari. Dalam tidur panjangnya, ia akan bermimpi, mimpi yang mengikuti masa lalu. Tentang Okaa-san yang sering menyuapinya makan, tentang Otou-san yang hobi menggendongnya dan menaruhnya di lehernya, tentang Seijuurou-nii yang rajin mengajarinya membaca dan berhitung, tentang Shintarou-nii yang sering memberinya benda-benda aneh nan lucu, tentang Ryouta-nii yang gemar mengajaknya jalan-jalan—sampai pernah dikejar para fansnya, tentang Daiki-nii yang mengajarinya bermain bola basket, terakhir ingatan dirinya yang bermain air dan membuat istana pasir bersama Atsushi-nii.

Tepatnya, tentang semua hal yang terjadi saat dahulu kala, dimana Kami-sama belum memanggil kedua orangtuanya. Saat semuanya masih baik-baik saja.

Biarlah dirinya ini hidup dalam fairy tale yang dibuatnya sendiri barang untuk sesaat. Sebelum ia berhadapan kembali dengan kenyataan hidup. Setidaknya Tetsuya bisa merasakan setitik kebahagiaan walau hanya ilusi semata.

Biarpun begitu, ia tidak pernah mempunyai niatan untuk melakukan percobaan bunuh diri, kendati ia sering menyakiti diri sendiri. Ia hanya suka dengan sensasi yang ditimbulkan dari perbuatannya. Rasanya, tubuh—dan hati—nya yang sudah mati rasa kembali mendapatkan impuls. Mengingatkannya bahwa sekosong atau hampa diri Tetsuya, ia masih hidup. Rasa sakit ini menyadarkannya.

Hobi 'menyakiti diri sendiri' ini menjadi adiksi lama kelamaan. Untuk beberapa tahun ke depan, Tetsuya terus melakukan tindakan ini secara terus menerus. Sekujur tubuhnya penuh luka, Tetsuya ini gemar melukis di atas kulitnya sendiri, seni yang begitu indah—menurutnya—dan mengerikan.

Tidak ada yang menyadarinya.

Tidak kelima kakaknya, atau pun maid dan butler yang sering keluar masuk kamarnya. Ia terlalu andal dalam menyembunyikan segala sesuatu.

Guru dan orang-orang yang ada di kelasnya tidak tahu kalau di balik seragam putih yang dikenakan Akashi Tetsuya, tersembunyi banyak karya buatan tangan, terpahat di atas kulit pucatnya. Baginya, itu adalah sebuah pembuktian, kalau ia, juga manusia yang bisa merasa.

Tetsuya bangga.

Tapi … jika seandainya suatu saat nanti mereka mengetahui apa yang dilakukan Tetsuya pada dirinya sendiri … bagaimana?

Dianggap gila? Mungkin saja. Dimasukkan ke rumah sakit gila masih untung, tapi yang terburuk, jika ia dipasung—oleh kakaknya—dengan tangan yang di borgol di ruang bawah tanah rumahnya yang gelap dan pengap ... bagaimana?

(Kakaknya tentu tidak mungkin melakukan hal yang tak berperikemanusiaan seperti itu, pikiran Tetsuya memang terlalu hiperbolis)

Tidak! Tentu ia tidak mau disekap di bawah sana. Kalau tangannya terikat bagaimana ia bisa memebuat sengatan-sengatan agar dirinya tetap merasakan hidup? Ia tidak bisa tidur tanpa obat penenang, yang lainnya pasti tidak mengizinkan Tetsuya mengonsumsi zat sedatif tersebut. Pada akhirnya, Tetsuya tidak bisa melanjutkan fairy tale-nya lagi.

Tidak mau!

Kalau begitu ... ia hanya perlu menyembunyikan apa yang dilakukannya ini, ya, 'kan?

.

~0~

.

Pisau digenggam kuat, diangkat tinggi-tinggi. Sementara netra biru langit fokus pada tangan kirinya, menentukan titik mana yang akan ia tusuk kali ini.

3

2

1

"AAAHH..!"

Erangannya keluar, keras. Sial, Tetsuya harus menahannya, jangan sampai orang di luar mendengarnya.

Mulutnya terbuka dan tertutup tanpa bisa mengatakan apa-apa. Air mata mengalir lantaran rasa itu terlalu dalam, sama dengan pisau yang masih menancap disana.

Tetsuya kehilangan kendali, ia tak bisa menahannya.

Sakit ini membuatnya mengulas senyum lega. Perlahan ditariknya pisau itu ke bawah, Tetsuya bisa melihat dengan jelas daging berwarna merah muda miliknya terbelah, walaupun pandangannya sedikit kabur oleh air mata.

Sakit sekali …

Ia terus menyayat daging kenyal miliknya, berkali-kali, dengan tempo perlahan. Dalam, lebih dalam. Anehnya, senyumnya tak pernah hilang kala ia melakukan aksi itu. Keringatnya bahkan terus mengalir di wajah dan tubuhnya, beberapa masuk ke dalam mulutnya. Asin.

Tangannya gemetar hebat, pisau dapur dengan gagang berwarna gelap jatuh, terlempar menjauh beberapa senti, menimbulkan suara denting yang menggema di dalam kamar mandi. Kala itu Tetsuya sedang bersandar pada dinding keramik, matanya melirik sekilas. Tangan kanan terulur, berusaha menggapai. Terlalu jauh, ia tak sampai, padahal jarak tangannya dengan benda tajam itu hanya sekitar dua puluh senti, tapi di kedua matanya, benda itu terlihat amat jauh.

Tetsuya menyerah, membiarkan tubuhnya ambruk ke samping karena lemas. Pipinya berciuman dengan dinginnya lantai yang lembab. Penglihatannya buram, dan ia baru sadar sedang kelilingi oleh warna merah.

Merah dimana-mana.

Likuid merah yang terus mengalir keluar dari tangan kirinya.

Di saat seperti ini, melihat warna merah jadi mengingatkannya pada surai sang kakak sulung, Akashi Seijuurou.

Beda ... Itu adalah merah yang begitu ... hangat. Tidak perih seperti ini ...

Di tengah kesadarannya yang mulai memudar, pikirannya malah memutar balik, wajah kelima saudara berambut pelangi muncul di kepalanya.

Ah, sudah berapa hari ia tak bertemu dengan kelima kakaknya omong-omong?

Tiga ... Empat ... Ah, entahlah. Ia tak ingat. Ia tak mau memaksa kepalanya mengingat, sakit. Dan sekarang Tetsuya merasakan benda di sekitarnya mulai berputar-putar.

Tahu, kesadarannya mulai menghilang, Tetsuya berusaha bangkit dari posisinya sekarang. Ia harus membereskan semua kekacauan yang ia buat. Sebelum pelayannya datang dan membersihkan ruangannya, dan sebelum rahasia kecilnya ini terbongkar.

Tangan kanan berusaha menopang tubuh sendiri, baru setengah duduk, Tetsuya kembali ambruk.

"Tubuh lemah sialan!" rutuknya. Air matanya kembali mengalir, deras. Ia malu, ia kesal, ia marah, pada dirinya sendiri, pada ketidakberdayaan Akashi Tetsuya.

Sebenarnya, alasan ia begitu depresi hari ini, karena ia dipaksa pelatih basketnya untuk keluar dari klub kesayangannya. Tetsuya sempat mengikuti klub basket SMP Teiko setahun, dan selama itu pula ia ditempatkan di third string. Tentu saja hal menyedihkan ini ia sembunyikan dari keluarganya, tidak boleh ada yang tahu. Dan, memang tidak ada yang menanyakan tentangnya, juga ...

Tetsuya tidak suka dikasihani. Ketika Shirogane Eiji memanggilnya ke ruang guru, mengatakan kalau Tetsuya lebih baik keluar dari klub karena ia khawatir dengan kesehatannya yang kian memburuk. Staminanya tak mendukung untuk mengikuti menu pelatihan. Ini baru third—belum first string. Akan jadi apa dirinya bila ditempatkan di sana? Jangan mimpi. Tetsuya sering muntah bahkan sampai pingsan karena kelelahan ketika mengikuti pelatihan. Ia terlalu lambat saat bermain, bahkan kerap gagal saat ingin memasukkan bola ke ring.

Tapi ia menyukai basket. Ini adalah olahraga yang diajarkan oleh Daiki-nii sewaktu ia kecil. Tetsuya mengagumi gaya bermain kakaknya yang memiliki kulit sedikit gelap tersebut. Tidak hanya Daiki-nii, Seijuurou-nii juga tak kalah hebat. Kakak sulungnya itu pernah bilang pada Tetsuya kalau ia pernah menjabat sebagai kapten basket ketika SMP dan SMA.

Tetsuya pernah melihat kelima kakaknya bermain bersama. Ia yang masih kecil saat itu hanya bisa mengamati dari pinggir lapangan dengan mata berbinar dan penuh kekaguman. Tetsuya ingin, suatu hari, ketika ia mampu, ia ingin bermain bersama mereka.

Padahal, kakaknya, Akashi Daiki, baru saja diangkat sebagai pelatih basket timnas Jepang. Jika ia menceritakannya pada Daiki-nii, mungkin saudaranya itu akan tertawa terbahak-bahak, menepuk pundaknya kasar, mengatakan "Tetsu payah! Kemari, biar aku tunjukkan permainan basket yang sebenarnya!" dengan cengiran di wajah tampannya, dan Daiki akan membiarkan Tetsuya menonton baik-baik bagaimana lincah dan hebatnya ia bermain.

Jangan terlalu berharap, Tetsuya. Mana mungkin Daiki-nii melakukan hal seperti itu.

Yang ada, jika Tetsuya memberi tahu masalah ini, ia akan membuat malu nama kakaknya. Apa kata orang-orang nanti ... ?

'Kakaknya pemain pro yang punya julukan tak terkalahkan. Adiknya lemah, disuruh memasukkan bola ke ring saja tidak becus. Apa kau yakin mereka adalah saudara kandung?'

Ia terlalu terbawa lamunannya sendiri, sampai tidak menyadari pintu kamarnya sedang berusaha dibuka dari luar.

Indranya tumpul, bahkan suara gaduh yang ditimbulkan dari pintu yang berhasil dibuka itu tak membuatnya bergerak dari posisinya sekarang.

.

.

.

.

"Tadaima."

Suara berat dan malas khasnya terdengar, otomatis semua pekerja keluarga Akashi yang mengenali suara itu buru-buru berkumpul dan berbaris—meninggalkan tugas sesaat—menyambut kepulangan Tuan Muda mereka yang sudah seminggu tak kelihatan batang hidungnya di rumah ini.

"Selamat datang, Daiki-sama!"

Daiki memperhatikan sekilas. Ada sekitar delapan orang pelayan yang berdiri menyambutnya saat ini. Lima perempuan dan sisanya laki-laki. Ia hanya mengangguk, lanjut melangkah masuk tanpa menjawab. Kedelapan pelayan itu langsung membubarkan diri dan melanjutkan aktivitas mereka yang tertunda.

Tubuhnya pegal dan lelah, tujuh hari kemarin ia ditugaskan untuk melatih anak-anak timnas Jepang di luar kota. Ini adalah pekerjaan sampingannya. Daiki saat ini sedang kuliah, baru memasuki tahun kedua.

Ya, mungkin ini yang membuat beberapa anak didiknya melunjak padanya. Karena perbedaan usia, mereka menganggap Daiki masih terlalu muda untuk mengajar mereka yang notabennya lebih senior dari Daiki—walaupun mereka mengakui tubuh dan tinggi juniornya lebih unggul. Seharusnya, Daiki ikut berkontribusi, ikut menjadi pemain di tim. Tapi Daiki terlalu malas untuk melakukannya. Melelahkan. Hei—kalau bukan menteri olah raga yang memintanya secara langsung untuk melatih mereka, Daiki juga tidak mau!

Mungkin ia terlalu mencolok, jadinya pak tua itu menaruh ketertarikan padanya. Huh, padahal Daiki baru saja ingin berhenti bermain basket.

(Daiki dari dulu menjabat sebagai ace. Ia—dan timnya—memenangkan hampir semua turnamen basket yang diikuti sejak SMP)

"Aku bermain juga tidak ada lawan yang bisa mengimbangiku. Jadi untuk apa?"—ia bermain lagi?

Terlalu membosankan.

Tapi setidaknya ia bisa membantu orang lain agar bisa berkembang. Ya, siapa tahu diantara mereka ada bibit potensial, yang akan menjadi rivalnya di masa depan. Siapa tahu.

Sekaligus sebagai pembuktian, kepada kakek tua itu kalau dirinya ini mampu.

Daiki sedang duduk bersandar di sofa ruang tamu, meregangkan ototnya yang kaku sambil memejamkan mata, ketika ia mendengar suara orang berteriak, diiringi pintu yang diketuk berulang kali. Samar.

"Tetsuya-sama! Tetsuya-sama! Saya mohon buka pintunya, Tetsuya-sama!"

Mendengar nama adik disebut berulang kali, Alarm tanda bahaya berbunyi nyaring di kepalanya. Matanya langsung terbuka lebar, tanpa pikir panjang, Daiki bangkit dan buru-buru naik ke lantai dua.

Ada dua pelayan yang sedang berdiri di depan ruang yang letaknya memojok di lantai itu. Itu kamar Tetsuya Akashi. Sejenak Daiki memperhatikan, satu pelayan mengetuk, sedang satunya hanya diam dengan ekspresi khawatir. Keduanya menunggu respons dari si empunya kamar.

Daiki langsung berlari mendekat. "Ada apa ini?" Pelayan yang sedang mengetuk pintu buru-buru minggir. Wajahnya jelas terlihat cemas.

"Sa-saya mendengar suara sesuatu dari dalam. Ini memang waktunya saya untuk membersihkan kamar tuan muda. Biasanya ketika saya mengetuk, Tuan Muda Tetsuya akan langsung membukakan pintu, mempersilahkan saya untuk bebenah di dalam, dan ia akan keluar. Saya takut, teriakan kesakitan Tetsuya-sama keras sekali. Saya takut terjadi apa-apa di dalam," kata salah satu diantaranya (Daiki tidak tahu nama keduanya) sambil menunduk.

Teriakan kesakitan ... katanya?

"Minggir."

Penjelasan itu sudah cukup. Ada apa-apa di dalam sana, dan Daiki mulai merasa takut akan hal ini.

Daiki menubrukan tubuhnya yang besar itu pada pintu berbahan mahoni yang keras. Percobaan pertama gagal. Ia terus mencoba sampai kali ke tujuh—sembari merapal dalam hati bahwa adiknya baik-baik saja, tidak ada yang perlu ditakutkan—hingga akhirnya pintu itu terbuka. Daiki langsung masuk.

Kamarnya kosong dan rapi, tidak terlihat Tetsuya dimanapun.

Ketika sepasang navi menangkap pintu kamar mandi yang terbuka sedikit, ia buru-buru belari masuk ke dalam.

Berbagai pikiran negatif memasuki kepalanya membuat langlah kakinya semakin cepat.

Ia membeku ketika melihat merah. Merah yang mengitari sekitaran Tetsuya yang sedang terbaring miring.

"TETSU!"

Daiki tidak sadar, tahu-tahu ia sedang memangku Tetsuya yang setengah sadar di pangkuannya.

Manik bulat biru muda yang terbuka setengah melirik ke arah Daiki. Terlihat bergoyang, Tetsuya berusaha mengenali orang yang memergokinya melakukan hal memalukan ini.

"Daiki-nii...?" suaranya begitu halus dan lemah, Daiki tak mungkin mendengarnya jika ia tak menajamkan indra pendengarannya.

"SIAL! Apa yang terjadi, Tetsu!? Kenapa banyak darah seperti ini!?" Ia memeriksa sekujur tubuh adiknya yang dipenuhi cairan amis tersebut, mencoba mencari dari mana asalnya.

Ia menahan napas ketika menemukan luka di lengan kiri adiknya terbuka lebar, dalam, ia bisa melihat jelas warna merah muda dan darah yang mengalir dari luka yang menganga itu.

Sementara si objek terlihat tak memedulikan panik kakaknya.

"Okaeri, Daiki-nii. Kapan Daiki-nii pulang? Seharusnya Daiki-nii mengetuk pintu dulu sebelum masuk." suaranya sedikit mengeras, meski lemah.

"Bukan saatnya itu, Tetsu! Kau terluka—shit ! Apa yang terjadi!?"

Daiki mencoba memperhatikan sekitarnya, mencari tahu penyebab. Apa ada orang yang masuk dan melukai adiknya diam-diam? Penguntit? Atau ... Pembunuh bayaran!? Tapi apa motifnya? Apa salah Tetsuya? Setahunya adiknya adalah anak baik-baik, yang penurut dan murah hati, yang selalu menunjukkan senyum ramahnya pada siapa saja.

Apa ... salah keluarga ini?

Seingatnya pintu menuju balkon kamar Tetsuya masih tertutup rapat ketika ia masuk—jikalau si pelaku masuk dari sana. Dan di kamar mandi, tidak ada pintu yang menghubungkan ke dunia luar di sini. Apa orang itu bersembunyi? Dimana? Di bawah kasur, di dalam lemari, atau di balik tirai jendela raksasa kamar Tetsuya? Kalau sampai Daiki menemukannya, orang yang menyakiti adiknya, ia benar-benar akan membunuh orang itu. Memutilasinya, memberikan dagingnya pada anjing-anjing jalanan yang kelaparan di luar sana. Mereka pasti akan menyukainya.

Ia sibuk dengan pikiran gilanya, sampai kilatan logam memasuki penglihatannya. Menyadarkannya.

Tidak ada orang di kamar ini, selain Tetsuya. Ada pisau berlumuran darah yang tergeletak tak jauh dari adiknya berbaring.

Tunggu ...

Adiknya tidak mungkin melakukan hal itu ... 'kan?

Tangan kurus Tetsuya—yang dipenuhi darah—terangkat. Menepuk pelan pipi sang kakak, membuat perhatian Daiki yang masih fokus dengan pisau penuh darah kembali pada dirinya. Si kecil tahu apa yang dipikirkan kakaknya.

"Daiki-nii harus berjanji tidak akan memberitahu siapa-siapa, atau Tetsuya akan membenci Daiki-nii ..."

Kalau adiknya yang melukai dirinya sendiri ... Daiki harus berbuat apa?

"Maaf, Daiki-nii, tapi Tetsuya mengantuk, Tetsuya tidak bisa menemani Daiki-nii ... Oyasumi."

"Tetsu jangan coba tutup matamu! OI, TETSU! TETSU! AKASHI TETSUYA!"

Ia menggoyangkan tubuh kecil adiknya berulang, sambil meneriaki namanya. Tetap saja, raga dipangkuannya tak mau merespons. Matanya tertutup sempurna.

Untuk yang kesekian kalinya, Daiki merasakan perasaan takut—takut ditinggal—oleh sosok yang disayanginya, lagi.

.

.

.

.

Akashi Daiki tak ingat. Lagi, tiba-tiba saja ia sudah berada di sini. Berdiri di depan ruang UGD, menatap nanar lampu merah yang menyala di atas pintu di hadapannya.

(Ia tak ingat berteriak panik dan berlari seperti orang kesetanan sambil menggendong Tetsuya, memasukannya ke dalam mobil, membawa kendaraan itu layaknya pembalap, dan hampir menabrak orang)

Daiki menunduk, memperhatikan tangannya yang lengket karena dipenuhi cairan kental berwarna merah. Tak hanya tangan, kaus putihnya juga jadi berubah warna sekarang.

Mendadak ia jadi membenci warna merah.

Daiki dapat mendengar jelas bunyi detak jantungnya sendiri—yang lebih cepat tiga kali lipat dari biasanya—juga deru nafasnya yang tak terkontrol.

Ia takut, ia tidak ingin ditinggalkan lagi, cukup Okaa-san dan Otou-san-nya saja yang pergi. Kami-sama ... jangan ambil Tetsu juga dari sisiku ...

Jangan ... Daiki mohon, kasihani dirinya yang menyedihkan ini.

Tiba-tiba bahunya dicengkram dan ditarik agar berbalik ke belakang, perlahan ia melihat siapa orang yang berani-berani mengganggunya.

"—Apa yang terjadi, Daiki!? Kau berdarah, siapa yang melakukannya—"

Oh, Shintarou-aniki rupanya.

"Ini bukan milikku ..."

"Hah? Apa maksudmu!? Jelas-jelas kau terluka! Yang terpenting kau harus diobati sekarang, cepat ikuti aku—"

Lengannya ditarik paksa, Daiki kukuh tak mau bergerak dari tempatnya berdiri saat ini. Kakaknya terus memaksa, menariknya agar ikut.

Sedangkan Daiki tidak ingin jauh-jauh dari Tetsuya.

Ia yang geram, pada akhirnya menyuarakan kebenarannya, "Ini darah Tetsu, Shintarou-aniki!" teriaknya. Tangan kakaknya yang mencengkram lengannya ia tepis kasar.

"Tetsuya...?" setelah mengatakan itu, ekspresi wajah kakak keduanya jadi mengeras. Kemudian Shintarou Akashi berteriak keras di luar karakternya.

"APA YANG TERJADI PADANYA, DAIKI!?"

Cengkraman kakaknya berganti ke dua sisi bahunya. Makin kuat. Daiki merasakan kuku-kuku jari itu menusuk kulitnya. Tapi ia mengabaikannya.

"Aku baru saja pulang ... pelayan berteriak ... aku mendobrak ... darah dimana-dimana, Tetsuya ada disana ... aku ... aku ..."

"Daiki-nii harus berjanji tidak akan memberitahu siapa-siapa—

"BICARA YANG JELAS, DAIKI! APA YANG TERJADI PADA TETSUY—"

"AKU TIDAK TAHU APA-APA, ANIKI!"

"Aku tidak tahu apa-apa ... " katanya dengan suara pelan. Ia hampir menangis, tidak, Daiki sudah menangis saat ini.

Daiki tidak bohong, ia benar-benar tidak mengerti, apa yang dilakukan Tetsuya barusan?

Bunuh diri ... Daiki tidak ingin percaya kalau saudaranya melakukan hal yang hina tersebut ... tapi kalau buktinya ada di depan mata, ia juga tidak bisa membantah.

Yang ia tahu, adiknya sedang berjuang di dalam sana. Semoga saja Tetsuya tetap mau mempertahankan hidupnya. Karena kalau sampai tidak ...

Daiki tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukannya kelak.

.


-Berlanjut ke Tetsuya side selanjutnya-


.

AN:

(Padahal senin US, tapi orang ini dengan sangat bangganya muncul dan melanjutkan ini)

Hello My Story edisi panjang, dan baru inget belum buat momen Aokuro disini ... :" #Abaikan

Buat: CuyaChan, kamu nyesek ... apakabar yang ngetik? :" /gakgitu FYTY-nya dilanjut abis aku selesai UN april nanti, yaa ... ShirSira sip. Part dua yang entah kapan dipostnya. Fik ini lagi ngejar alur FYTY juga soalnya, takut gak sempet :" hanyo4 segera aku kirimin penggantinya deh, Hanyo-saaaan! /buruburukeJN*ngiriminin2dustisu Nyanko-kawaii dasar kamu maso :" /lujugathor iya ini sudah dilanjut-ssu! Silahkan dinikmati asupan maso-nya (lagi)-ssu Keita Ritsu Maafkan aku, baru kesempetan bales review-nya Ritsu-san disini _ /ngumpetdiketekPapa Ah, terimakasih Ritsu-san! Aku juga gak tega mereka diginiin, padahal awalnya mau buat yang fluff. Tapi disaat bersamaan, jiwa sadis aku berbisik buat ... memutar alur jadi seperti ini ._. (Baru kepikiran, kenapa gak dibuat Tetsuya sama Kuroko ketuker aja jiwanya, mereka saling merasakan kehidupan masing-masing, terus mengubahnya ... Masalahnya, Tetsuya matinya begitu, dan ini udah setengah jalan. ._.) ini sudah dilanjut, terus ikutin fik—tijel—ini, yaa, Ritsu-san! :'D Dewi15 chapter itu, chapter yang entah bakal sempet kepublish atau enggak ... tapi ditunggu aja! :'D Shinju Hatsune done :)) BlackCrows1001 Huwaaa /kasihtisu /ikutnangis shawoldita terimakasih-ssu! :""" Semangaaaaat UN! Dan semoga kamu bisa lulus sbmptn-nya! Amin. (aku enggak kuliah tahun ini soalnya).

Terimakasih buat kalian yang udah membaca atau mengikuti, apalagi yang sering nongol di kotak repiu! :'D /langsung kabur

Pengingat!

Jarak umur Tetsuya sama saudaranya di sini:

Tetsuya-Daiki: 4 tahun.

Tetsuya-Atsushi: 7 tahun.

Tetsuya-Ryouta: 8 tahun.

Tetsuya-Shintarou: 9 tahun.

Tetsuya-Seijuurou: 10 tahun.