"—Jadi, Tetsuya, mulai sekarang kau harus banyak makan daging, kacang-kacangan dan sayuran. Hasil pemeriksaan menunjukan kalau kau mengalami anemia. Kau juga harus makan yang banyak. Lihat tubuh menyedihkanmu itu, aku bisa dikutuk Otousan dan Okaasan di surga sana jika terus membiarkan tubuhmu kurus kering seperti sekarang—"

"Aku mengerti Shintarou-nii."

Omongannya disela, Shintarou menaikkan bingkai kacamatanya yang tak turun sama sekali, "Aku belum selesai! Nah, selanjutnya—Apa? Kau bisa tunggu sebentar tidak, ha!? Tidak lihat aku sedang berbicara dengan adikku!?"

Interupsi untuk yang kedua kali membuat perempatan siku-siku muncul di kepalanya. Shintarou menengok pada perawat yang sedang menemaninya sekarang, yang dipandang menunduk sambil memeluk clipboard di dadanya. Shintarou menghela nafas, mencoba menenangkan emosinya. Pikirannya memang sedang tak karuan sejak beberapa hari ini. Dan memang ia sedang dalam mood yang buruk pagi ini.

Setelah dua hari adiknya tak sadarkan diri, akhirnya siang ini Tetsuya terbangun dari tidur panjangnya. Dan di saat bersamaan pasien di rumah sakitnya ini sedang membludak, membuat semua petugas kewalahan, termasuk Shintarou sendiri. Alhasil, Shintarou yang tugasnya biasanya hanya mengawasi, harus turun tangan.

Padahal ia ingin berbicara banyak pada adiknya.

"Tapi, Akashi-san, pasien di ruang—"

Kenapa orang-orang yang sakit bertambah belakangan ini? Dan kenapa pula mereka berobat ke rumah sakit ini? Memang tidak ada rumah sakit lain, apa …

Bukannya Shintarou tak suka—atau tidak mensyukuri rejekinya, tapi kalau keadaan seperti ini, Shintarou benar-benar butuh waktu untuk keluarganya. Kondisi Tetsuya tidak bisa diabaikan. Apa kata orang tuanya jika melihat kondisi si kecil yang sekarang?

Lihat saja betapa kurus tubuh adiknya, kulitnya yang bertambah pucat—hampir mendekati transparan, tatapannya yang kosong dan sayu. Tetsuya seperti anak telantar, tak terurus. Padahal jelas, jika ditilik dari berbagai aspek, Tetsuya ini bisa dibilang anak orang kaya. Dilihat dari nama keluarga yang disandangnya saja sudah ketahuan.

Apa kata orang jika melihat kondisi adiknya yang bisa Shintarou bilang … mengenaskan ini?

Mungkin Shintarou harus menyewa babysitter secara khusus untuk mengawasi adik kecilnya, karena Shintarou sadar, ia dan saudaranya yang lain tak memiliki waktu untuk menaruh perhatian lebih—tidak, bahkan untuk sekadar mengecek keadaan saja tak sempat. Ia sering pulang malam, lelah membuatnya malas untuk bergerak ke kamar Tetsuya dan mengecek keadaannya, atau sekadar menanyakan kabarnya.

Jadi, untuk kali ini, Shintarou mohon berikan ia waktu untuk menjalankan tugasnya sebagai anggota keluarga—dan juga kakak—pada Tetsuya. Masalahnya ini sudah terlalu serius.

Daiki bilang, Tetsuya dikerjai teman sekolahnya.

Dikerjai apanya sampai keterlaluan begini? Ini namanya penyiksaan. Kalau orang lain korbannya, Shintarou tak terlalu peduli. Tapi ini keluarganya. K-E-L-U-A-R-G-A-N-Y-A.

Sampai membuat adiknya celaka dan hampir meregang nyawa … mereka semua minta dibunuh, ya? Kalau perlu, akan Shintarou jebloskan orang-orang tidak bertanggung jawab itu ke penjara karena sudah melukai adiknya. Dan Shintarou pastikan mereka akan mendapatkan ganjaran yang setimpal—kalau bisa berkali-kali lipat lebih dari ini.

Sayangnya, baik saksi—Daiki—ataupun korban—Tetsuya—tidak mengetahui siapa tepatnya pelaku pembully-an ini.

Shintarou bisa menyebutnya seperti ini, 'kan? Pembully-an adalah sesuatu yang biasa di negara ini, seolah sudah mendarah daging. Pembully-an terjadi di berbagai tempat. Dan kebanyakan memang terjadi di sekolah.

Shintarou hanya tak menyangka keluarganya masuk dalam list korbannya. Memangnya Tetsuya salah apa sampai menjadi sasaran mereka? Adiknya ini anak baik, sopan, penurut, dan pintar. Penampilan Tetsuya juga tidak culun-culun amat, kok. Dia tidak memakai kacamata—karena matanya masih sehat, rambut Tetsuya tidak panjang, adiknya juga tidak memakai baju kebesaran saat berangkat sekolah. Ryouta malah sering membelikan saudara kecilnya itu pakaian model terbaru dan termodis setiap dua minggu sekali. 'Biar Tetsuyacchi tidak ketinggalan zaman—ssu !' katanya.

Apa karena Tetsuya ini penyendiri? Bisa jadi …

Daiki bilang, ketika dia sampai di lokasi kejadian, Tetsuya sudah dalam kondisi seperti itu. Ia menemukan Tetsuya di gang sempit, sepi, dan gelap saat ia sedang berjalan-jalan.

Bagaimana bisa orang-orang sekitar sana tak menyadari kalau adiknya sedang disiksa di sana, di gang sempit itu? Shintarou sadar hawa keberadaan adiknya memang tipis, tapi sebegitu parahnyakah sampai tak ada yang melihat?

Dasar manusia buta.

Sementara saat Shintarou menanyai siapa tersangka atas tindakan yang menyebabkan diri Tetsuya sampai seperti ini—pada korbannya langsung, Tetsuya berkata ia tidak ingat. Bahkan ciri-ciri fisiknya, tak melekat sedikit pun di memorinya. Ah, tidak sepenuhnya. Tetsuya bilang orang itu memiliki perawakan mungil sepertinya, dan kelihatan seumuran dengannya. Petunjuk ini tidak membantu sama sekali.

Apa kepalanya terbentur, dan Tetsuya jadi kehilangan ingatan terakhirnya? Tapi menurut pemeriksaan, tidak ada yang salah dengan kepalanya, kecuali—

Tangannya.

Luka lebar di tangan kiri Tetsuya, yang panjangnya meliputi dari lengan atas sampai hampir mencapai pergelangan tangan itu sungguh mengerikan. Belum lagi darah yang dikeluarkan. Adiknya sempat menerima tranfusi tiga kantong darah karena kehilangan banyak cairan merah tersebut. Juga, guna menutup luka itu … total ada tiga puluh jahitan di tangan kiri Tetsuya.

Dan, berakhir koma. Tiga hari.

Itulah yang menyebabkan pikiran Shintarou runyam, sampai detik ini.

"Aku mengerti. Makanya biarkan aku menyelesaikan pembicaraanku dengan adikku dulu. Sampai mana kita tadi? Ah, ya. Batasi kesibukanmu di sekolah, Tetsuya. Tinggalkan semua kegiatan yang membuatmu kelelahan, apalagi jika sudah berhubungan dengan olahraga. Aku sangat tidak mengizinkannya. Lalu—"

"Shintarou-nii, pasienmu menunggu."

Bahkan dalam keadaan seperti sekarang, Tetsuya masih sempat-sempatnya mengusirnya dan menyuruhnya pergi.

Hei, Tetsuya. Kakakmu ini sedang memberi perhatian lebih padamu, kau tidak peka apa?

"Sudah kubilang jangan menyela jika aku sedang berbicara, Tetsuya. Kau juga pasienku disini." Sebisanya, dokter muda ini mempertahankan nada bicaranya sehalus mungkin. Adiknya baru saja sadar, tidak baik berbicara keras dan kasar pada Tetsuya dalam kondisi sekarang.

Sama halnya dengan Seijuurou, Shintarou juga benci jika omongannya dipotong, apalagi dibantah.

"Tetsuya mengerti. Tetsuya akan mengikuti semua yang Shintarou-nii katakan. Makanya Shintarou-nii harus mengurus pasien Shintarou-nii yang lain dulu, mereka lebih membutuhkan Shintarou-nii daripada aku."

... Tapi faktanya kau lebih penting dari mereka, adikku sayang.

"Kau baru sadar setelah dua hari koma, kau dengar? Ko-ma. Ini bukan main-main, kau tidak tahu betapa gilanya aku memikirkan keadaanmu itu—"

"Jadi itu alasan Shintarou-nii berwajah lelah seperti itu. Kalau begitu, maaf karena sudah membuat khawatir Shintarou-nii …"

Mengetahui perubahan perasaan yang kelewat drastis membuat alisnya berkerut. Muka Tetsuya menjadi murung seketika, dan sekarang malah menunduk.

Tidak … ini tidak baik. Tetsuya yang dalam masa pemulihan tidak boleh memikirkan hal yang akan membuatnya down. Tetsuya sendiri tidak ingin menceritakan masalahnya tentang pembully-an itu dan menolak menjawab pertanyaan Shintarou perihal kejadian yang menimpanya—karena Shintarou sadar tak mungkin Tetsuya melupakan semua kejadian itu. Jadi, Shintarou tidak boleh memaksanya jika Tetsuya tetap bersikeras tutup mulut.

Mungkin saja kasus pembully-an itu membuatnya trauma?

Jika itu benar, bertambahlah rasa khawatir Shintarou. Tentang keadaannya yang belum stabil saja membuatnya tidak tenang, apalagi jika Tetsuya benar-benar mengalami trauma …

Ya Tuhan … Shintarou pusing.

Untuk kali ini, Shintarou akan diam. Sampai Tetsuya siap bicara. Yang pasti, kalau sesuatu yang lebih buruk dari ini terjadi di masa depan, dan berakibat fatal, apalagi membahayakan nyawa adiknya—lagi. Shintarou tidak akan memaafkan orang-orang itu. Ia akan mengejarnya,

S-A-M-P-A-I M-A-T-I.

Tangan berbalut perban mendarat di atas kepala biru muda. Shintarou mengacak-acak rambut halus Tetsuya. "Berjanjilah padaku mulai sekarang kau harus berhati-hati, baru aku akan memaafkanmu."

Wajah yang tadinya tertunduk mulai terangkat perlahan. Sepasang azure menatap langsung emerald milik Shintarou. "Baik!" kemudian adiknya tersenyum manis padanya.

Melihat senyum terukir di wajah malaikat Tetsuya membuat Shintarou sedikit tenang. Mau tak mau bibirnya ikut membentuk senyum tipis.

Ia suka melihat senyum polos milik Tetsuya. Kalau setiap hari ia disuguhkan senyum bidadari sang adik, Shintarou yakin ia tak mungkin stress memikirkan pekerjaannya—seperti sekarang.

"Sebelum aku pergi, pastikan kau menghabiskan makananmu di atas meja. Jangan lupa obatnya, kau bisa memakannya sendiri, 'kan? Apa perlu aku menyuruh salah satu suster untuk menyuapimu?"

"Tetsuya bukan anak kecil."

"Bagus kalau kau tahu."

"A-akashi-sa—"

"Aku mengerti! Dimana pasien yang sedang membutuhkanku itu! Bawa aku kesana sekarang! Ehm. Tunggu sebentar, Tetsuya. Aku akan segera kembali setelah menangani masalah ini."

Sebelum Shintarou pergi, ia sempat mengecup dahi Tetsuya sekilas dan mengacak rambutnya sekali lagi. Setelah itu, ia berjalan menuju pintu keluar dengan suster yang masih setia mengikuti di belakang.

Saat ia membuka pintu, Shintarou mendapati Daiki yang berdiri di depannya. Kelihatannya adiknya yang satu itu baru ingin masuk.

"Kebetulan sekali. Tetsuya baru saja sadar. Aku sedang ada urusan. Tolong kau awasi dia, Daiki. Pastikan dia makan dan meminum obatnya dengan tuntas."

"Te-tetsu sudah sadar!?" sepasang kelereng safir sempat mengintip ke dalam, dan terlihat berkilau ketika mendapati pemuda mungil yang sedang melihat ke arahnya juga, sambil tersenyum lemah di atas ranjang. "Ba-baiklah, Aniki. Aku akan mengurusnya!" kata Daiki semangat dan langsung masuk ke dalam. Ia mengambil kursi terdekat dan duduk di sisi kanannya.

"Huh. Sekarang aku bisa tenang," gumam Shintarou sembari memerhatikan kedua adiknya sebentar, kemudian menutup rapat pintu ruang rawat VVIP tersebut.

.

.


.

Hello, My Story

Alasan

Disclaimer:

Kuroko no Basket © Tadatoshi Fujimaki-sensei

Hello, My Story © Neemuresu Piero

.


.

"Aku sudah kenyang, Daiki-nii."

Tetsuya menghalangi mulutnya dengan tangannya, menyebabkan sendok berisi bubur putih yang sudah berada di dekat mulutnya tak bisa melanjutkan tugasnya untuk menghantarkan itu ke mulut adiknya.

"Ayolah, Tetsu! Kau baru makan tiga sendok dan bilang kenyang? Bagaimana tinggimu mau bertambah? Bagaimana dirimu bisa tumbuh besar, kalau menghabiskan secuil bubur ini saja kau tidak mampu!"

"Daiki-nii dan Shintarou-nii sama saja. Sama-sama cerewet."

Tetsuya cemberut, Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, malas menatap Daiki. Pemandangan di luar jendela lebih menarik perhatiannya. "Aku ingin ke luar," gumamnya tanpa sadar.

"Ada apa, Tetsu?"

"Eh? Ah ... ya, Shintarou-nii menyuruhku ini, melarangku itu. Seperti bukan Shintarou-nii saja … Padahal biasanya tidak pernah seperti ini, 'kan?"

"Aniki adalah kakakmu, Tetsu. Tentu dia peduli padamu. Aku pun sebagai kakakmu juga peduli denganmu," balas Daiki seadanya.

Ada kilatan di kedua bola sewarna langit musim panas. Seolah baru menyadari sesuatu, Tetsuya mencoba mengulas senyum di bibirnya. "Daiki-nii benar, tentu saja … Shintarou-nii adalah keluargaku … " Walaupun hasilnya senyumnya itu terlihat dipaksakan dan setengah hati.

Tetsuya hanya sedang mencoba kuat. Omong-omong, ia tidak menyesal memotong tangannya di hari itu. Sebagai balasannya, ia mendapatkan atensi para kakaknya sekarang.

Mungkin kalau aku melakukan hal semacam ini secara terus-menerus, Oniisan yang lain akan berbalik dan kembali memerhatikanku lagi? –Kembali menemani Tetsuya seperti dulu.

Ide bagus. Tetsuya tidak keberatan sama sekali jika harus melakukan tindakan menyakitkan itu lagi.

Ia akan mencoba menyayat tubuhnya, dari dada, perut, kemudian turun ke kaki. Ah, apa wajahnya ini juga perlu ia sayat?

Kemudian membuat alasan logis lainnya. Mengatakan ia dibully lagi oleh orang yang sama. Tapi orang itu kali ini memakai topeng gorilla untuk menyembunyikan identitasnya.

Mungkin cara—gila—ini akan berhasil—jika Daiki-nii belum mengetahui rahasia gelapnya.

Kakaknya itu memergokinya melakukan hal menyedihkan itu di kamarnya, ini pasti karena suara teriakannya terlalu besar sampai membuat orang luar curiga.

Tetsuya masih belum tahu apa yang dipikirkan Daiki-nii. Takutnya ia berpikir kalau Tetsuya ini mencoba membunuh dirinya. Padahal tidak sama sekali. Hal itu hanya sebagai pengalih rasa sakitnya saja, agar Tetsuya tidak merasakan rasa sakit lainnya yang tak diinginkannya. Rasa sakit yang lebih menyakitkan dari melukai dirinya sendiri. Rasa sakit di hatinya yang hampa ini.

Omong-omong, Daiki-nii belum menyinggung soal kejadian dua hari yang lalu sejak tadi. Ia yakin kakaknya ini pasti penasaran,

Tetsuya berterimakasih juga padanya, Daiki-nii mau membantunya menutupi rahasia kecilnya ini, walaupun dengan ancaman ia akan membencinya jika kakaknya itu membocorkannya pada yang lain.

Shintarou sempat menanyakannya tadi, dan Tetsuya jawab saja ia tidak ingat. Tapi Tetsuya tahu, kakaknya itu pasti tidak percaya dengan jawabannya, jadi Tetsuya tambahi saja sedikit ciri-ciri di jawabannya. Tubuh kecil, pendek, dan seumuran dengannya.

Tepat, pelakunya adalah Akashi Tetsuya sendiri. Ia tidak berbohong, 'kan?

Tentu saja, Tetsuya tidak akan pernah membenci para kakaknya. Sejahat apa pun mereka, atau jika mereka melakukan hal yang tak termaafkan sekali pun. Hatinya akan selalu meluruh jika itu bersangkutan dengan keluarganya.

Karena Tetsuya hanya memiliki mereka di dunia ini. Mereka adalah satu-satunya harta berharganya yang membuat jantungnya masih berdetak sampai detik ini.

"Apa yang membuatmu berpikiran seperti itu?"

"Hm? Tetsuya hanya heran saja, karena Shintarou-nii tiba-tiba meninggalkan sifat tsundere-nya, dan … Tetsuya juga sudah lupa bagaimana rasanya diperhatikan, oleh kalian."

"Maksudmu?"

Syukurnya, kakaknya yang satu ini, tak menyadari maksud perkataannya ini. ia tersenyum getir. "Tidak usah dipikirkan, Daiki-nii. Tetsuya hanya melantur."

"Huh? Terserah apa katamu. Yang terpenting sekarang, habiskan makananmu, Tetsu! Aku sudah berjanji pada Shintarou-aniki!"

.

.

Hampir sejam lamanya Daiki memaksa Tetsuya agar menghabiskan semangkuk bubur yang sudah disediakan rumah sakit. Setelah tiga hari tertidur dan perutnya tak terisi apa-apa, bukannya seharusnya adiknya ini merasa lapar?

Tapi berkebalikan, Tetsuya masih kukuh. Menutupi mulutnya. Menggeleng. Mengatakan. "Aku sudah kenyang!" atau "Rasanya tidak enak. Tetsuya mau makan ayam goreng." Dan alasan tidak logis lainnya.

.

.

Setelah membantu meminumkan beberapa pil yang dipesankan kakaknya, dan meletakkan gelas yang sudah kosong di nakas, Daiki kembali duduk di tempat semula.

Tapi sebelum ia menempelkan bokongnya pada kursi, Tetsuya berkata mendadak, "Bawa Tetsuya ke taman, Daiki-nii. Aku ingin menghirup udara segar. Bau di sini benar-benar tidak enak."

Huh? Ini rumah sakit, tentu bau obat-obat bukan hal yang aneh lagi, Tetsu!

Ia tak jadi duduk dan malah berdiri tegak. Memperhatikan Tetsuya di bawah sana. Tanpa berucap apa pun.

"Tolong ambilkan kursi roda di sebelah sana, kakak. Tetsuya belum kuat untuk berdiri apalagi berjalan." lanjut si kecil kembali. Telunjuk kecilnya itu menunjuk kursi roda yang menganggur di pojok ruangan.

Mengabaikan permintaan adiknya, Daiki malah memilih mengangkat tubuh Tetsuya, menggendongnya layaknya seorang pengantin wanita, hati-hati.

"Waaaa~! Daiki-nii—E-eeh!? – Tu-turunkan aku, Daiki-nii!"

Tangan kurus adiknya melingkar di leher. Sepertinya Tetsuya takut kalau Daiki tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya ini lantaran tak kuat mengangkatnya.

Jangan bercanda, Daiki ini kuat. Ia atlet. Tubuhnya dipenuhi otot yang berbentuk, walaupun sekarang Daiki jarang berolahraga atau berlatih. Jangankan Tetsu, ia yakin ia bisa mengangkat dua karung beras di saat bersamaan.

Hanya perasaannya saja, atau tubuh Tetsuya benar-benar ringan?

"Tubuhmu enteng sekali, Tetsu. Kau harus banyak makan seperti kata Aniki. Setelah kau sembuh, aku akan menraktirmu makan apa pun yang kau mau,"

Adiknya jadi tenang setelah Daiki mengatakan itu. Kepalanya mendongak, menatap Daiki langsung dengan mata berbinar, "Vanilla milkshake?"

Sudah kuduga.

"Permintaan ditolak. Minuman itu tidak akan membuatmu tumbuh dan berkembang Tetsu." katanya sambil membawanya ke luar ruangan.

"Tapi aku menyukainya, Daiki-nii~!"

"Baik. Satu vanilla ukuran jumbo menunggu. Makanya Tetsu harus cepat sembuh."

Keduanya pergi menuju taman sesuai permintaan Tetsuya.

.

.

.

Di luar, sang surya bersinar dengan teriknya. Sepasang safir sedikit menyipit ketika melakukan kontak langsung dengan matahari.

Di taman memang selalu ramai. Banyak pasien yang bersantai di sekitar sana. Anak kecil bukan pengecualian, banyak dari mereka berlarian ke sana-kemari, tertawa, dan berteriak. Kebanyakan dari orang-orang yang berada di sini adalah pasien lama rumah sakit ini yang sedang mencari suasana baru karena bosan berada di ruangan yang penuh dengan bau tidak menyenangkan, bau obat-obatan.

Daiki mencari bangku yang kosong. Ketika menemukannya ia langsung mendudukkan tubuh mungil Tetsuya hati-hati. Kemudian Daiki menyusul di sebelahnya.

"Kau harus cepat sembuh, Tetsu. Teman-teman di sekolahmu pasti sudah menantimu!" katanya bersemangat.

" … Ah, benar. Tetsuya harus cepat sembuh… mereka menantiku ... "

Niat hati memberi dorongan, tapi sepertinya omongannya malah membuat adiknya bertambah murung.

"Apa-apaan dengan nada bicaramu? Dan—ehm. Tetsu, soal kejadian di rumah—"

"Ah, aku lupa. Terimakasih karena Daiki-nii sudah mau mengarangkan cerita dan meyakinkan Shintarou-nii—juga yang lain—tentang kejadian itu."

Daiki juga tidak percaya cerita bohongnya itu diterima tanpa protesan oleh Shintarou aniki dan kakaknya yang lain. Mungkin karena ia mengatakannya sambil menangis—Daiki sudah menangis saat Tetsuya tak sadarkan diri di rumah—jadi mereka percaya saja. Karena tidak mungkin, ia yang sampai menangis seperti itu mengatakan hal dusta, 'kan … ?

"Apa maksud tindakanmu itu, Tetsu?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutnya. Walaupun Shintarou sudah melarangnya untuk tidak membahas sesuatu yang berat, apalagi yang bisa membuat Tetsuya sedih, tapi tetap saja rasa penasaran Daiki memberontak minta dipuaskan.

Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, hari itu aku hanya sedang iseng saja. Dan … apakah Daiki-nii akan percaya jika Tetsuya bilang Tetsuya sempat bermimpi bertemu Okaasan dan Otousan?—"

Entah karena sudah kehabisan alasan, atau buntu. Daiki merasa omongan adiknya jadi makin ngaur saja lama-kelamaan. Dan ia tak bisa menahan kemarahannya kali ini, Tetsuya seolah-olah menyepelekan nyawanya sendiri.

"Iseng katamu!? Melakukan hal yang berbahaya begitu iseng—"

"—Mereka mengajakku, Daiki-nii," lanjutnya. Jelas, kata-kata adiknya ini membuat fokus pembicaraan mereka berbelok.

"A-apa!? La-lalu apa jawabanmu?"

"Sudah jelas, aku menolaknya. Kalau aku menerima ajakan mereka, mungkin aku tidak akan berbicara dengan Daiki-nii sekarang ini. Ah… tidak menolaknya sih. Aku bilang ke Okaasan kalau aku mau tanya kakak dulu, apakah mereka mengizinkan Tetsuya jika Tetsuya ikut bersama Kaasan."

Daiki meletakkan tangannya di kepala Tetsuya, membuat adiknya-yang sedang menatap rerumputan di bawah-agar menatapnya kemudian memotong jarak di antara mereka. Ia menempelkan dahinya dengan milik Tetsuya.

"Tatap aku. Jangan pernah memiliki pikiran seperti itu Tetsu. Aku … tidak akan memaafkanmu." Saat mengatakan itu, Daiki sebenarnya sedang mencoba menahan air mata yang memaksa keluar.

Kata-kata Tetsuya hanya membuatnya hatinya semakin pedih. Sebegitu tidak bergunanyakah diri Daiki, sampai adiknya mengatakan sesuatu yang hanya dikatakan oleh orang putus asa?

Ia ingin sekali menemani adiknya itu. Daiki tahu, Tetsuya pasti kesepian, sejak kecil adiknya itu sudah ditinggalkan di rumah sendirian. Kakaknya yang lain juga sibuk. Seijuurou aniki saja yang paling suka mengajak si kecil bermain dulu jadi lupa. Pekerjaan kakak sulungnya itu paling berat, menurutnya.

Meski Daiki kecil waktu itu tidak begitu mengerti perkataan kakeknya yang menyuruh Seijuurou anikinya memimpin perusahaan, sekaligus keluarga ini. Tapi sekarang ia mengerti. Pekerjaan itu … adalah yang terberat dari kakeknya yang dibebankan kepada lima Akashi bersaudara. Tetsuya tidak termasuk karena Seijuurou sempat membuat kesepakatan dengan si tua bangka itu.

Akashi Seishirou, menyuruh mereka agar mengembangkan bakat mereka dan menekuninya.

Daiki menyukai olahraga, jadi ia fokus pada bidang ini.

Atsushi aniki menyukai memasak, jadi selepas itu dia berencana mengambil jurusan Culinary Arts di Le Cordon Breu, universitas ternama di Perancis.

Ryouta memang dari awal sudah menekuni dunia entertaimen, menjadi artis serba bisa di usia muda. Dia hanya perlu melanjutkannya.

Shintarou aniki tertarik dengan dunia kedokteran dari kecil. Keinginan itu lahir ketika ia melihat Tetsuya kecil yang sempat terkena tipus, tersiksa di tempat tidurnya. Dan Shintarou yang saat itu masih kecil hanya bisa memandangi adik kecilnya.

Seijuurou aniki ... Daiki tidak pernah tahu kalau kakak sulungnya itu menyukai bisnis. Dia tidak pernah bilang, omong-omong. Yang Daiki tahu, Seijuurou aniki itu hobi dan pintar bermain shogi. Waktu di tahun pertama SMA, dia sempat memenangkan pertandingan shogi tingkat nasional dan meraih medali emas. Seijuurou aniki pernah bilang pada Daiki—dan adik-adiknya yang lain saat mereka bermain bersama dulu—kalau ia ingin menjadi pemain shogi tingkat internasional, dan mengalahkan lawan yang kuat yang ada di dunia ini.

Daiki yakin, kakaknya itu bisa membuktikan kata-katanya kelak. Kalau saja Kamisama tidak membelokkan takdir mereka. dan malah menetapkan takdir Akashi Seijuurou sebagai direktur termuda saat itu.

"Daiki-nii? Jika Tetsuya menerima ajakan mereka dan benar-benar pergi, apa Daiki-nii akan sedih?" Mata bulat itu berkedip beberapa kali. Sepertinya Tetsuya tidak memedulikan perkataannya, dia malah balik bertanya dengan wajah polos tanpa dosa.

"Tentu saja!"

"Nii-san yang lain?"

Tetsuya tidak tahu saja kalau mereka semua sedang berusaha melindunginya. Melindungi diri Tetsuya yang terlihat rapuh dari kekejaman dunia. Dari kewajiban, dari keterikatan nama Akashi, dan dari hal buruk lainnya.

Daiki hanya ingin adiknya itu menjalani kehidupan normal—begitupun saudaranya yang lain—tanpa harus memikirkan beban berarti. Belajar, bergaul dengan teman sebayanya, memiliki pacar, apalagi Tetsuya yang berusaha meraih cita-cita yang diimpikannya-walaupun dengan cara menyembunyikan apa yang sudah terjadi sebenarnya.

Daiki hanya ingin melihat adiknya terus tersenyum. Senyum manis nan suci yang bisa memberi semangat kehidupan untuknya.

Kedua matanya terpejam. Saat itu pula, air mata mengalir dari matanya. Belakangan ini Daiki jadi sering menangis hanya karena memikirkan adiknya. "Tentu saja, idiot! Semua akan sedih! Tetsu ini senang melihat penderitaan kami, ya? Senang mendengar tangisanku, Atsushi aniki, dan Ryouta? Kuat melihat Shintarou aniki mogok makan, atau Seijuurou aniki yang depresi? Serius, Tetsu. Jangan menambah beban kami lagi, aku bisa mati, tahu …"

Kepergian mendadak orangtuanya saja sudah membuatnya hampir depresi, apalagi kalau adik satu-satunya ini ikut menyusul. Mungkin Daiki akan benar-benar gila.

Memalukan. Menangis seperti ini di depan Tetsuya, Daiki hanya akan menurunkan martabatnya sebagai kakak di mata adiknya itu. Inginnya menahan air matanya agar berhenti keluar, tapi tetap saja cairan itu mengalir. Daiki mendadak malu bertatapan langsung dengan Tetsuya, jadi ia akan menutup matanya sampai air matanya berhenti keluar.

Tangan hangat Tetsuya itu menggeser kepala Daiki agar bersandar di bahu kecil miliknya. Tak lama, ia merasakan rambutnya dibelai pelan, dan sesuatu yang melingkar dan mulai mengerat di bagian belakangnya. "Maafkan aku, Daiki-nii. Aku tidak ingin membuat kalian sedih. Tetsuya berjanji tidak akan pergi."

Daiki diam menikmati perlakuan itu sembari menikmati aroma manis yang menguar dari tubuh sang adik.

.


.

"Dan maaf karena Tetsuya sudah menjadi beban kalian, Daiki-nii …."

.


.

Memastikan cairan bening tidak akan mengalir lagi di matanya, Daiki melepas pelukan itu perlahan. Kemudian berbalik membelakangi Tetsuya. Ia sibuk mengeringkan wajahnya dengan kerah kausnya, malu juga kalau sampai ketahuan kakaknya Daiki habis menangis. Tetsuya tak berkomentar apa-apa.

"Disini rupanya kau, Tetsu-chin."

Dari arah koridor, datang dua orang yang dikenalnya. Atsushi dan Seijuurou kakaknya. Tetsuya melihat ada bungkusan yang lumayan besar di tangan saudara raksasanya. Ada Seijuurou yang mengikuti di belakang, kakak sulungnya itu masih memakai seragam kantornya-jas cokelat dengan kemeja berwarna merah marun sebagai dalamannya.

Dua Akashi bersaudara ini langsung datang ketika dikabari Shintarou kalau si bungsu sudah sadar.

"Atsushi-nii?"

"Aku dan Sei-chin panik mencarimu, kukira kau diculik orang jahat. Rupanya Dai-chin yang menculikmu."

"O-oi! Aku tidak menculiknya, Tetsu yang meminta!"

"Ha'i-ha'i."

"Tetsuya?"

Seijuurou mendekat dan berlutut di hadapan Tetsuya. Memerhatikannya dari bawah sini. Tangannya mengusap pipi, leher kemudian turun ke tangan kirinya yang dibungkus perban. Seijuurou hampir menyentuhnya, kalau saja Tetsuya tak memanggil namanya,

"Seijuurou-nii?"

Ia akan melukai tangan adiknya.

"Bagaimana keadaanmu?"

Pertanyaan bodoh. Tentu saja adiknya tidak baik-baik saja. Apalagi setelah melewati kejadian mengerikan kemarin.

"Tetsuya … baik-baik saja."

Dahinya berkerut, "Kenapa ada jeda di jawabanmu?" kedua tangannya kini berpindah pada dua bahu kecil milik Tetsuya, tanpa sadar Seijuurou malah mencengkeramnya. "Dengar, kau bisa membohongi semuanya, tapi tidak denganku. Sekarang katakan masalahmu pada Seijuurou-nii."

Enggan menatap Seijuurou, Tetsuya lebih memilih mengalihkan pandangannya ke arah Daiki di sebelahnya, meminta tolong secara tidak langsung. " … sungguh, tidak ada apa-apa, kakak…" katanya pelan.

Masih ingin menyembunyikannya, eh?

"Apa teman-teman di sekolahmu benar-benar membully-mu? Atau mereka mengerjaimu sampai keterlaluan? Apa perlu Seijuurou-nii datangi mereka dan beri pelajaran langsung pada bajingan itu? Atau Tetsuya ingin Seijuurou-nii menuntut mereka? Atau pilihan lain, Tetsuya ingin—"

"Seijuurou aniki …" Daiki menahan bahu kakaknya.

"Seijuurou-nii tidak perlu melakukan apa-apa. Tetsuya sudah memaafkan mereka."

"Yang seperti ini tidak bisa dibiarkan, Tetsuya. Mereka hampir membunuhmu, membunuh adik kecilku. Kau pikir aku akan diam saja? Kalau mereka mencoba melakukan hal itu lagi padamu, siapa yang tahu apa yang akan terjadi nantinya. Kalau nyawamu—"

"Ne, Sei-chin. Kukira Sei-chin sudah keterlaluan. Lebih baik kita bicarakan ini nanti, Tetsu-chin baru saja sadar." Atsushi yang merasa risih dengan kondisi ini meletakkan bungkusan besar yang ia bawa di samping Tetsuya, kemudian menarik bahu Seijuurou agar berdiri dan menyingkir.

Ketika Atsushi turun tangan, barulah Seijuurou sadar dengan apa yang barusaja dilakukannya. "Ya Tuhan ... Kau benar. Aku terlalu terbawa emosi. Maafkan aku, Tetsuya."

"Tidak apa-apa, Seijuurou-nii ... " Mungkin Seijuurou tidak sadar, tapi jika pertanyaan itu datang dari mulut Seijuurou, apalagi ditatap dengan tatapan seintens tadi, itu cukup menekan Tetsuya sampai titik di mana ia tidak bisa berbohong. Ia merasa Seijuurou-niinya sedang melihat ke dalam, melihat kebenaran yang terselubung dalam dirinya.

Kini Atsushi mengeluarkan isi dari kantong yang ia bawa. Isinya kue bolu rasa vanilla yang sudah ia potong kecil-kecil. Kelihatannya baru matang, masih terlihat uap dari kue itu di tempatnya. "Aku membawakanmu cake vanilla. Masih hangat, aku yang membuatnya sendiri khusus untuk Tetsu-chin, lho~ Kau harus mencicipnya, Tetsu-chin. Katakan Aaaa~"

Atsushi berniat menyuapi Tetsuya. Ia menyendok sebagian kecil kue buatannya itu lalu mengarahkannya pada mulut Tetsuya. Tapi, bukannya kue itu mendarat tepat di mulut Tetsuya, ada yang melahapnya sebelum sampai tujuan.

"Dai-chin, aku benar-benar akan menghancurkanmu kalau kau melakukan itu lagi. Ini kue khusus untuk Tetsu-chin, aku membuatkannya untuk Tetsu-chin, jika orang selain Tetsu-chin memakannya dia akan sakit perut." Atsushi melirik ke Daiki yang sedang mengunyah makanan di mulutnya, mengancam dengan tatapan mata siap membunuh. Ada aura tak mengenakkan yang menguar di sekitarnya.

Daiki mundur dua langkah.

"Woaaa, Atsushi aniki jangan pelit begitu, dong! Aku kan juga mau merasakannya!"

"Atsushi-nii terlalu berlebihan. Tetsuya mana bisa menghabiskan semuanya. Semuanya harus makan termasuk Atsushi-nii, nah sekarang Aaaa~ em."

Tetsuya merebut sendok yang ada di genggaman kakaknya, menyendokkan bolu kemudian langsung memasukannya ke mulut Atsushi-niinya yang terbuka sedikit.

"Cecchucyn…?"

"Nah, sekarang Seijuurou-nii. Aaaa~" si kecil kembali mengulang aksi yang sama, mengambil satu sendok kue bolu untuk selanjutnya disuapkan pada Seijuurou. Si sulung tersenyum tipis sebelum melahap sesendok kue yang sudah disodorkan ke mulurnya.

"Buatku mana?"

"Daiki-nii sudah mengambil bagianku, tidak ada bagian untuk Daiki-nii," Tetsuya membalikkan tubuhnya ke arah berlawanan, kemudian mulai memakan kue pemberian kakak raksasanya itu sendirian.

"Heeee!? Jahatnya!"

"Bagaimana rasanya, Tetsu-chin? Kurang manis, atau terlalu…?"

Tidak terasa Tetsuya sudah menghabiskan seperempat dari kue vanilla itu. "Enak, kok, Atsushi-nii! Rasanya pas. Kapan-kapan buatkan Tetsuya yang seperti ini lagi, ya!" serunya bersemangat.

"Tentu saja."

"Ah, coba aku lihat," Seijuurou mengangkat dagu sang adik agar mendongak ke arahnya. "Makanmu berantakan sekali, Tetsuya. Ya ampun, adikku ini seperti anak kecil saja."

Diambilnya sapu tangan dari saku celananya, kemudian diusap perlahan ke sekitaran mulut Tetsuya untuk membersihkan remah-remah yang ada di sana. Seijuurou melakukannya dengan hati-hati, seakan tak ingin melukai bibir mungil adiknya.

Sementara Tetsuya hanya bisa diam terpaku memperhatikan wajah lelah Seijuurou dari dekat. Bibir pucat kakak sulungnya itu tersenyum tipis selagi membersihkan wajahnya dengan fabrik berbahan lembut di tangannya.

"Disini rupanya kau, Tetsuya!"

Empat pasang mata menoleh ke sumber suara yang terasa familiar. Tak jauh dari mereka, berdiri Shintarou dengan tangan berkacak pinggang. Kemudian sosok tinggi itu mendekat terburu-buru. Yang lain bisa melihat betapa kacaunya wajah si dokter tampan ini.

"Aku panik mencarimu ke mana-mana! Aku bertanya pada sekuriti dan mereka bilang mereka melihat orang mencurigakan bertubuh besar membawamu pergi."

"Itu aku, Aniki!" Daiki menyahut.

Shintarou menghela nafas sebelum menjawab. "Maaf, Daiki. Tapi aku lupa kalau aku menitipkan Tetsuya padamu sebelumnya."

"Kau terlalu berlebihan, Shintarou." Seijuurou mengantungi kembali sapu tangannya sebelum menepuk dua kali bahu adiknya itu.

"Ha? Tentu saja aku khawatir! Bagaimana kalau orang-orang yang melukai Tetsuya itu yang menculiknya? Dan mereka melakukan hal yang lebih dari ini?"

"Itu tidak mungkin terjadi, Shintarou. Selama ada aku di dekat Tetsuya, sebelum bajingan itu mendekat, aku akan menghunuskan senjata rahasiaku pada mereka dan melumpuhkan mereka."

"Senjata rahasia … maksudmu gunting yang pernah menjadi lucky item-ku itu? Aku tidak akan meminjamkan benda berbahaya itu padamu lagi, Seijuurou!"

"Eh? Tidak perlu kau pinjamkan. Di kantorku juga ada banyak."

"Tarou-chin perlu istirahat, kau terlalu banyak bekerja. Sei-chin juga sama saja. Kalian berdua jadi melantur dan berlebihan."

"Aku juga lelah."

"Tidak ada yang bertanya pada Dai-chin."

"Oi!"

"Hm … Kukira kita semua butuh bersantai. Bagaimana kalau minggu nanti kita semua mengambil cuti dan berlibur bersama? Tempat seperti apa yang cocok, ya? Bagaimana menurut Tetsu-chin?"

"Tetsuya?" "Tetsu?"

"Tetsuy—kau menangis…? Astaga, ada apa Tetsuya? Apa ada yang sakit? Maaf kami mengabaikanmu. Katakan pada Seijuurou-nii yang mana yang sakit?"

Sebelum tangan kakaknya itu menyentuh wajahnya, Tetsuya menahannya. Ia mengusap wajahnya yang basah dengan kausnya, sambil menggeleng pelan. Setelah yakin wajahnya sudah kering, Tetsuya kembali mendongak, "Tetsuya, hanya terlalu senang saja …" mengatakan dengan senyum manisnya.

Sebelum Seijuurou sempat bertanya apa maksud perkataan adiknya, Tetsuya sudah berbicara lebih dulu pada Atsushi.

"Kalau Atsushi-nii mau dengar pendapat Tetsuya, Tetsuya ingin sekali pergi ke Capyper Land bersama-sama."

"Baiklah kalau itu keinginan Tetsuyacchi! Ryouta-nii akan membawa Tetsuyacchi terbang ke sana-ssu!"

Merasakan pelukan tiba-tiba dari sisi belakangnya, Tetsuya menengok perlahan. Hanya untuk mendapati wajah ceria kakak pirangnya yang tampan dari dekat.

"Ryouta … nii?"

"Halo, Tetsuyacchi! Lama tak berjumpa. Tetsuyacchi tahu? Ryouta-nii rinduuuuu sekali dengan adik kecilku yang manis dan imut ini-ssu~!" pipinya digesekkan dengan pipi milik Tetsuya.

Memang sudah hampir dua bulan mereka tak bertemu. Ryouta terlalu sibuk dengan sekolah penerbangannya, dan pulang jika ada waktu saja.

Eh? Tapi kenapa sekarang dia berada di sini?

"Kapan kau datang Ryouta/Ryou-chin!?" tanya Daiki dan Atsushi bergantian. Agaknya sedikit terkejut.

"Eh? Beberapa menit yang lalu—"

"Sejak kapan kau memiliki hawa keberadaan setipis ini!? Membawa Tetsu terbang? Jangan mimpi! Kau bahkan belum mengantungi surat izin untuk terbang—" teriak Daiki sambil menunjuk-nunjuk wajah saudara pirangnya.

"Sebentar lagi aku akan mendapatkannya! Awas saja kau ya, aku tidak sudi membawamu—"

"Ha? Dan siapa pula yang sudi naik pesawat yang kau bawa. Aku masih sayang nyawa!"

Masih dipelukkan kakaknya, Tetsuya diam-diam tertawa kecil. Mengamati tiap wajah saudaranya. Seijuurou-nii yang diam-diam tersenyum, Shintarou-nii yang mengalihkan pandangannya sambil membenarkan letak kacamatanya, Atsushi-nii di sisinya yang sepertinya sibuk menyiapkan kue lainnya yang ia bawa, dan melihat pertengkaran kecil Daiki-nii dan Ryouta-nii-

Ini semua hanya membuatnya rindu dengan masa kecilnya dahulu. Saat mereka masih diberi kesempatan berkumpul dan bermain bersama.

.

.


.

.

Ini hanya permulaan.

Walaupun ia sudah berjanji, di tahun-tahun berikutnya, Tetsuya tetap melakukan aksi self-harm itu, diam-diam. Tidak terlalu sering juga, sih.

Kebiasaan ini terhenti ketika ia memasuki Tokyo Daigokku—universitas barunya.

Jadi, jika dihitung-hitung ia sudah melakukan aksi self injury ini sekitar enam tahun, ya? Tidak terasa. Entah bagaimana bentuk dan rupa tubuhnya sekarang, Tetsuya enggan untuk memastikan.

Walaupun Tetsuya sudah memasuki universitas, tidak ada yang berubah. Lingkungannya, temannya, dan sikapnya.

Tapi di masa ini, mungkin akan ada yang berubah.

Nantinya, akan ada orang-orang yang berusaha menerobos tembok pertahanan miliknya.

Nantinya, Tetsuya akan keluar dari lubang kesendirian.

Nantinya, ia tidak akan merasa—terlalu—kesepian lagi.

Nantinya juga, Tetsuya akan merasakan jatuh cinta untuk yang pertama kali—dan terakhir—dalam hidupnya, dengan seseorang yang akan mengubah hidupnya, kelak.

.


.

Bagian Tujuh: Selesai

.


.

*) untuk yang gak suka drama picisan, harap berhenti mengikuti ff ini …

.

Ini dramanya terlalu, ya…? ._.

Tapi terungkap 'kan alasan Shintarou yang bersikukuh menguak kehidupan Tetsuya, karena ini :')

Padahal tadinya mau nyelipin Daiki's reaction di akhir … /karenacumadiayangbelumketauankanyaaa? Tapi berhubung pas ngetik ini tumben-tumbenan akunya baper—sambil dengerin Heart Rate instrumental versi violinnya, sih—jadinya itu diskip lagi aja, lah. Nggak bagus buat jantungku lagian :"

Ini kepanjangan… padahal niat awal SS-nya mau dibuat 1-2k wrds aja/ chapter :"

Terima kasih kepada : Dewi15 Guest Lisette3517 zichaloveanime Nyanko Kawaii hanyo4 GIRLSHEWOMAN Shinju Hatsune VT Lian izuki-fai Lucky as My Name Guest (2) shawoldita tuyul BlackCrows1001 deagitap Jooxxy Pia fraukreuz67 Akashi764 hunhandeep dan synstropezia yang udah sempet ngisi kotak review ff ini chapter sebelumnya. Mohon maaf belum bisa ngasih feedback-nya :') *oranginisedangpusing*

Salam, dan sampai jumpa di lain kesempatan :'D