Ia menghela napas.

Satu tangan menopang pipinya yang gembul, dapat dilihat lemak yang ada di sana tertarik ke atas. Iris aquamarine menatap bosan mangkuk kosong di depannya, kemudian berpindah ke lelaki dewasa yang duduk tak jauh darinya. Ia tidak bisa melihat jelas figurnya karena wajahnya tertutupi koran yang dibentang bebas olehnya.

Lalu, kepalanya menengok ke belakang, pada pintu yang menghubungkan ruangan ini dengan dapur. Ia dapat melihat wanita yang tengah mengaduk sesuatu di atas kompor, sendok sayur dicolekkan ke telapak tangannya, kemudian dia mencicipnya. Wajah cantiknya tak hentinya menebar senyum manis, sementara bibirnya terus mengalunkan senandung merdu selagi dia berpindah ke kegiatan lainnya. Tangannya lihai saat memotong berbagai macam sayuran.

Ia bosan. Kembali memerhatikan mangkuk kosong di hadapannya. Bibirnya cemberut.

"Kaa-chin~ hari ini kita makan apa? Aku lapar~!"

Ah, mereka datang!

.

.


.

Hello, My Story

Prequel; Kazoku

KnB © Tadatoshi Fujimaki

HMS © Neemuresu Piero

.


.

.

Seketika keping aquamarine yang awalnya gelap kembali mendapatkan sinarnya. Tubuhnya ditegakkan. Manik bulatnya melirik di mana sumber suara tersebut datang—dari arah pintu ruang tamu. Sosok yang ditunggunya sedari tadi muncul. Wajahnya lelah dan kusut. Dia menyeret kursi di meja seberang dan langsung duduk manis.

Sepasang violet berbinar kala menemukan banyak makanan yang sudah tersaji di atas meja makan. Uap-uap dari makanan tersebut menguar ke udara, dan tak sengaja memasuki indera penciumannya. Ada air liur di sudut bibirnya yang mengalir sedikit.

Tetsuya berpikir, Atsushi-niinya ini pasti sangat kelaparan.

Ia sudah duduk diam seperti yang Tousan bilang. Sabar menunggu mereka selesai bermain di lapangan dekat rumah. Ia tidak diperbolehkan ikut, walau segala protesan—dalam bahasa yang hanya ia mengerti, bahasa Tetsuya—telah dilancarkannya. Tetsuya sempat menggunakan jurus terakhirnya, menangis. Tapi Kaasan pasti selalu punya cara untuk membuatnya kembali tenang.

Seperti kasus pagi ini, kala Oniisan-nya berpamitan dengannya dan Tetsuya ingin ikut, tapi tidak diperbolehkan. Padahal ia sudah meronta dan memegang erat kaos Ryouta-nii. Ia tahu benar kakaknya itu tidak akan tega meninggalkannya. Ryouta-nii sudah meminta izin agar Tetsuya boleh ikut. Tapi, baik Okaasan atau Otousan tetap melarangnya. Kata Kaasan, "Siapa yang akan menjaga Tecchan saat kalian bermain nanti?" dan Tousan menambahkan, "Kalau Cuya terkena bola bagaimana!? Cuya tega sekali membuat Tou-chan sedih!"

Duh, mereka ini. Orang dewasa memang merepotkan. Tetsuya juga ingin bermain bersama lima kakaknya, tidakkah mereka mengerti? Apalagi bola berwarna oranye yang dipeluk Seijuurou-nii membuatnya penasaran. Itu pasti bukan bola biasa yang mainnya hanya digelinding, seperti bola karet mainannya.

Kalaupun ia tak diperbolehkan ikut bermain, Tetsuya akan duduk diam menonton kelima kakaknya bermain. Ia ingin tahu cara bermain bola yang baru dilihatnya itu.

Tak lama, gerombolan anak yang lain mulai datang beramai-ramai. Wajah-wajah familiar itu hitam, mungkin berdebu. Kemudian mereka mulai memperebutkan kursi di meja makan. Memang rusuh, tapi ia suka melihatnya.

"Tetsuyacchi~!" Satu di antara mereka mendekatinya. Wajah beserta bajunya sama kotor dengan Atsushi-nii.

"Hayo hayo. Habis darimana kalian? Pulang dengan keadaan kotor seperti itu. Duh, Ryou-chan! Jauh-jauh dari Tecchan, bersihkan dirimu dulu sana!" Dilihatnya ibunya datang dari arah dapur. Sendok sayur di tangannya di arahkan ke Ryouta, dikibaskan agar menyuruhnya menjauh. Niatnya si pirang ingin langsung memeluk adik gembulnya, tapi berakhir ia yang mundur tiga langkah. Ah, padahal Tetsuya sudah merentangkan tangannya tadi.

"Seicchi mengajari kami bermain basket-ssu!" kata Ryouta kemudian, bersemangat.

Sang ibu berjongkok, berusaha menyamai tinggi anak-anaknya. Daiki otomatis langsung mendekatinya. "Hun! Daiki tidak tau kalau Sei-nii pintal belmain basket! Kaachan halus liat kalena Sei-nii hebat sekali saat memantulkan bola itu!" Daiki kecil menambahkan. Terlihat lucu dengan aksen yang cadel dan wajah yang kotor. "Daiki mau jadi pemain basket yang kuat jika sudah besal nanti!" katanya lagi. Dua iris safirnya berkilat, Yuzuki yang melihat keseriusan pada mata anaknya hanya bisa tersenyum bangga, kemudian tangannya bergerak mengacak-acak surai pendek anaknya.

"Bahkan tadi Tarou-chin dijatuhkan Sei-chin. Sei-chin hebat!"

"Tapi Shintaroucchi juga hebat-ssu! Shintaroucchi bisa menembak bola dari jarak jauh. Ne, Aku juga ingin bisa melakukannya~!"

"Nanti Daiki yang akan melakukannya! Daiki akan mengalahkan meleka beldua, kemudian menjadi nomor satu di Jepang!"

"Ide bagus! Kalau begitu, Dai-chan harus berlatih mulai dari sekarang, agar besar nanti bisa mewakili Jepang di kejuaraan basket internasional. Keren kan?"

"Daiki akan berusaha!"

3 putra kecilnya mengelilinginya, silih berganti menceritakan betapa hebat dan lincah Seijuurou dan Shintarou dalam bermain basket, juga keinginan mereka yang ingin mengalahkan Seijuurou dan Shintarou di masa depan. Daiki yang paling bersemangat. Sepertinya Daiki jatuh cinta pada pandangan pertama pada permainan basket.

Yuzuki tidak heran, dua putranya itu memang jenius. Kadang Yuzuki menyempatkan diri untuk melihat Seijuurou dan Shintarou saat bertanding di sekolahan. Permainan mereka berdua bila dipadukan akan menjadi kombinasi yang luar biasa, ia sudah membuktikannya dengan mata kepalanya sendiri. Agaknya, dua anaknya itu juga membuatnya bangga. Dan antusiasme 3 putranya ini membuat ia tidak bisa menahan senyum senang.

Sedang Tetsuya yang masih duduk diam di kursi bayinya tanpa sadar mengerutkan dahinya. Ia tidak suka diacuhkan seperti ini, biasanya si kecil akan mengoceh—dengan bahasa yang hanya ia mengerti—agar mereka tidak mengabaikannya. Tapi tunggu … Basket, katanya? Apa itu? Apa bola yang mereka bawa pagi tadi? Sepertinya menyenangkan. Terlihat dari wajah berseri Daiki-nii, Ryouta-nii, sampai Atsushi-nii. Sayang, Tetsuya tidak bisa ikut bermain bersama. Tanpa sadar bibirnya dimajukan beberapa mili.

Masaomi melipat koran yang sedari tadi ia baca. Manik cokelatnya memerhatikan kegaduhan kecil yang dibuat oleh tiga putranya. Ia tersenyum kala mendapati istri tercintanya sedang mendengarkan ocehan tiga buah hatinya dengan muka yang senang. Sepertinya mereka sedang membicarakan dua saudaranya yang belum hadir di sini—

Ah, baru dibicarakan. Sesaat setelah itu Seijuurou dan Shintarou memasuki ruang makan. Mereka sama kacaunya dengan yang lain, Masaomi dapat melihat keringat yang mengalir di wajah, juga lengan kurus mereka—anaknya memakai kaus tanpa lengan saat pergi bermain pagi tadi.

Menyadari bola basket yang ada di pelukan putra keduanya, Masaomi berdehem pelan, "Shintarou, singkirkan benda kotor itu dari sini," katanya sambil melepas kacamata minus, dan meletakannya di atas meja—bersebelahan dengan peralatan makan yang sudah disusun rapi namun masih kosong.

"Hai, Otousan." Yang dipanggil Shintarou mengangguk paham. Menuruti perintah ayahandanya untuk meletakkan bola di tangan pada tempatnya. Shintarou meninggalkan ruang makan.

Yang berambut merah, kakaknya yang paling tua, mendekati Tetsuya. "Maaf telah meninggalkan Tetsuya sendirian di rumah. Bagaimana harimu? Tetsuya tidak kesepian kan ditinggal Seijuurou-nii?" tanyanya. Bibirnya mengukir senyum tipis. Ada keringat yang mengalir di beberapa sisi wajah kakaknya yang terlihat penat.

Ya ... mengajak bermain sekaligus menjaga saudaranya yang lain pasti melelahkan. Tapi tetap saja Tetsuya masih kesal karena tidak diajak. Seijuurou-niinya tidak tahu saja, selepas ditinggal lima kakaknya bermain, Tetsuya menangis hebat, sampai matanya terasa bengkak dan dadanya sesak.

Ia mengalihkan pandangannya, mengabaikan omongan kakaknya. Tangan disilangkan di depan perutnya, si kecil bergaya 'pura-pura ngambek'.

'Sei-nii jahat, Sei-nii jahat. Tetsuya tidak mau bermain dengan Sei-nii lagi.'

Dagunya ditarik, dipaksa supaya menghadap wajah tampan kakak pertamanya. Tetsuya masih kukuh, kembali ia memalingkan wajahnya, kali ini bibirnya dimajukan beberapa senti.

Si sulung menghela napas.

"Oh, ayolah, Tetsuya. Jangan jahat begitu sama Seijuurou-nii. Kakak janji setelah ini akan menemani Tetsuya bermain, sampai malam bila perlu. Tetsuya jangan ngambek lagi, ya?"

Ekor matanya sempat mengintip sekilas, mendapati wajah memelas kakaknya yang sedang memohon ampun padanya. Penawaran kakaknya boleh juga, mungkin Tetsuya harus mempertimbangkannya. Setelah setengah hari bermain dengan ayahnya, ia juga ingin bermain dengan kakak-kakaknya yang lain. Apalagi tadi Seijuurou-nii bilang sampai 'malam', ia akan membuat kakaknya menepati omongannya!

Perlahan ia berbalik, berhadapan dengan Seijuurou-nii lagi. Tetsuya memasang wajah seserius mungkin yang ia bisa—yang malah terlihat lucu untuk anak kecil seukurannya. Ia menjulurkan kelingking mungilnya pada Seijuurou. Tetsuya pernah lihat di televisi, ketika ingin mengikat janji, mereka saling melingkarkan kelingking mereka. Bila salah satu mengingkarinya akan terjadi sesuatu yang buruk padanya—sepemahamannya. Bukannya Tetsuya ingin kakaknya dalam bahaya, tapi kan Seijuurou-nii sudah berjanji dan janji harus ditepati. Tetsuya tahu kakaknya lelah, tapi ia tetap ingin bermain ...

Kakaknya sekarang memandangnya dengan ekspresi bingung, selang beberapa detik, Seijuurou tertawa kecil.

"Baiklah, Seijuurou-nii berjanji. Tetsuya nggak boleh ngambek lagi sama Seijuurou-nii, ya!" Si sulung melingkarkan kelingkingnya pada milik si bungsu yang mungil, pelan-pelan.

Tetsuya kecil mengangguk mengerti. Kembali ia memasang senyum secerah mataharinya, Seijuurou dibuat silau dan terpana, hampir ia ingin memeluk si kecil kalau suara ibunya tak menginterupsi.

"Sei-chan, ajak Ryou-chan, Dai-chan, dan At-chan untuk cuci tangan dulu. Jangan lupa beritahu Shin-chan juga. Hari ini Kaa-chan juga membuat Sup Tofu, lho~ Cepatlah kalau tidak ingin kehabisan."

Setelah kembali lagi ke dapur, Ibunya datang membawa panci besar, meletakannya di tengah-tengah meja makan. Kemudian membuka tutupnya. Asap mengepul beserta aroma sedap yang mulai menguar—mengundang hidung-hidung nakal yang kelaparan untuk mendekat.

"Sup Tofu ..." Seijuurou bergumam, dengan perhatian yang terfokus pada makanan menggoda, kedua rubinya berkilau. Dua detik berikutnya, setelah ia tersadar, kedua tangan adik terdekat ditarik. Ryouta dan Daiki diseret paksa tapi halus menuju wastafel sesuai perintah Ibunda.

Yang memiliki surai violet mengikuti dari belakang.

Mereka berpapasan dengan Shintarou di pintu masuk, dia sudah meletakan benda bulat ke tempatnya yang seharusnya, sepertinya.

"Shintarou, lekas ikut aku," titah si sulung tanpa menengok. Shintarou mengekor bersama Murasakibara di belakangnya.

Ia tahu benar tabiat kakaknya itu. Jika sudah berurusan dengan makanan kesukaannya, Seijuurou-nii akan memprioritaskan itu diatas segala-galanya.

Diam-diam ia tertawa kecil.

"Kenapa Cuya tertawa seperti itu? Ada yang lucu?"

Melirik karena namanya dipanggil, azure menatap dengan wajah polos pada Otousannya yang sedang memandangnya penasaran. "Ada sesuatu yang menarik perhatian jagoan kecil Otouchan?"

Bangkit dari kursinya, Masaomi mendekati putra mungilnya. Mengangkatnya dari kursi bayinya, Ia meletakan tubuh berisi anaknya pada lehernya, mendudukannya di sana. Sontak, sang anak langsung mencengkram surai cokelat kuat—reflek takut jatuh.

"Nah, karena Cuya sudah makan tadi, sekarang bagaimana kalau kita bermain di luar?"

Sengaja, Yuzuki menyuapi Tetsuya lebih dulu, sembari menunggu sup tofu yang dimasaknya matang—selagi kelima anaknya yang lain bermain. Suaminya juga ikut makan duluan, bersama Tetsuya.

Tugas Masaomi setelah ini adalah menemani si kecil—membawanya menjauh dari ruang makan. Mengajaknya berjalan-jalan atau bermain, barangkali?

Karena ia sudah tahu benar, kebiasaan si bungsu. Ketika sedang makan bersama nanti, ia pasti akan mengoceh tak jelas. Dan itu cukup menganggu. Tetsuya terlalu aktif dan berisik. Entah apa yang ingin diutarakannya, tidak ada yang mengerti bahasa alien yang keluar dari bibir anak berumur satu tahun ini.

Mungkin saudaranya yang lain tidak keberatan meladeninya. Tapi tak jarang mereka tersedak akibat mendengar ocehan aneh sang adik, mana ketika berbicara disertai banyak ludah lagi. Hanya kata seperti "Nii!" "Kaa!" Too!" "Cecyua" "Dao nii! (Daho; menunjuk Daiki)" "Yoo nii!" "A nii!" "Se nii" "Shyin..ni!" yang mereka mengerti.

Masaomi mengerti, putranya dalam tahap belajar bicara. Ia jadi ingin cepat-cepat melihat si kecil tumbuh besar, agar bisa melihatnya bergabung dengan keluarga Akashi yang lain, juga interaksi mereka. Apakah putra kecilnya akan tetap bawel ketika lancar berbicara nantinya?

Di antara keenam putra berambut pelanginya, Masaomi paling dekat dengan Tetsuya, selain Seijuurou. Bukannya ia tidak dekat dengan Ryouta, Atsushi, atau Daiki. Mereka dekat—jelas, Masaomi sebisa mungkin membuat ikatan dengan keenam anaknya, tak terkecuali. Memberi mereka waktu, kasih sayang, atau apapun itu yang ia bisa beri. Memastikan darah dagingnya merasakan cinta kasih dari orangtua—yang tak sempat Masaomi cicipi saat ia kecil dulu. Ayahnya terlalu tegas. Ibunya tak mempunyai waktu untuknya. Saat itu, ia berjanji tidak akan membiarkan keluarganya merasakan apa yang ia rasakan, atau kerasnya dunia. Selama jantungnya masih berdetak.

Masaomi merasa waktunya sedikit lebih banyak dihabiskan oleh si sulung dan bungsu.

Seijuurou sering datang kepadanya untuk menanyakan beberapa tugas dari sekolah, Masaomi akan menjelaskan secara singkat tapi jelas materi yang tidak Seijuurou mengerti. Terkadang mereka bermain shogi, yang berakhir kemenangan mutlak di pihaknya. Masaomi memang keras kepala, tidak mau mengalah meski itu dengan putra kecilnya sekalipun.

Kalau Tetsuya, ketika sedang liburan di rumah, ia kebagian tugas menjagai Tetsuya. Yuzuki yang memintanya langsung, sementara istrinya itu mengurusi urusan yang lain. Bukannya di rumah ini tidak ada pembantu, Masaomi sudah memperkerjakan banyak tukang kebun, sopir, dan tukang bersih-bersih rumah—karena tidak mungkin rumah seluas ini Yuzuki yang mengurusnya. Kecuali untuk bagian mengurus anak dan tukang masak, untuk dua urusan ini adalah teritori milik istrinya, tidak boleh diganggu gugat.

Ya, Masaomi bersyukur telah menikahi sosok istri sepertinya, tidak hanya wajahnya yang bagai bidadari, tapi sifat keibuan dan kasih sayang yang diberikan padanya juga enam buah hatinya merupakan anugerah yang luar biasa.

Tidak pernah sekalipun ia merasa dicintai, disayang, diperhatikan seperti ini. Dan, merasa senang melihat keluarganya bahagia seperti sekarang.

Saat itu, untuk sesaat, Masaomi merasa menjadi laki-laki paling bahagia di dunia ini.

.


End of chapter


.

Author Note: Lagi pengen nyicil, setelah beberapa kali, ralat, berkali-kali gagal publish /yha sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit kan ya? Dan akhirnya bisa buat dengan words yang nggak terlalu banyak ini :')

Sekarang, lagi berusaha nyelesain fyty chapter kilas balik, doakan saya semoga chapter itu cepat selesai, ya! (sebenernya chapter itu dibuat mendadak sekaligus buat permintaan maafku)

Oh ya, terima kasih banyak buat yang udah ngikutin dan nyumbang review di ff ini

Aku lagi ada di kampung sekarang dan sinyalnya jelek—banget, ada beberapa reviewer yang belum sempat kubalas, jadi balasnya di sini aja yaa :))

KareshiKanojo Halo, salam kenal KareshiKanojo-san. Biasanya sih dipanggil Piero, tapi untuk panggilan kuserahkan padamu :')) terima kasih udah sempetin mampir. Iya, haha. Shintarounya lagi riweut ditambah panik pas nggak nemu adiknya di kamarnya. Jadi begitu u,u haha iya xD Duh, memang fanfiksi ini terlalu drama yaa? Ya, seenggaknya nggak sinetron2 amat kan ya? :')) Ohoho, terima kasih semangatnya, yawww! ٩(๑o๑)۶ Janely430 Kenapa yaaaa? Sabar, ya. Nanti juga bakal terungkap kok :')) done, yaaa! Blukang Blarak Ah ya, nggak usah dipaksain kalo nggak inget. Ini pasti gara2 ngaret updetnya :')) yep, benar. Kurang lebih seperti itu :'D Amiiiiinnn... Terima kasih doanya yaaa! ^_^ izuki-fai aku juga kangen adegan lovey-dovey mereka _ Kalo inget aokuro bawaannya angst mulu, jadinya gini deh :')) terima kasih semangatnya syg :'D Mitsuki Izumi Fyty/side story-nya gak fokus ke cinta kok, walau letak awal masalahnya di sini :')) aku nggak bisa buat romens lagian (apalagi pair straight :(( ) ChintyaRosita done syg :'D Shinju Hatsune Iya. SS ini memang telalu drama ya :')) Guest Kenapa yaaa? Duh, pertanyaan kamu ini bakalan terjawab di Momoi Satsuki side (sekarang aku lagi buat yang Ogiwara side). Fyty lanjutnya kalau udah jadi, sekarang baru 50%, lagi nunggu mood :')) kalau berkenan mohon ditunggu sedikit-lebih-lama-lagi :'D

Terima kasih sudah membaca~!