Hello, My Story
Tetsuya to Daiki
Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
HMS © Nameless Pierrot
'If this world still spins, allowing you to search for a reason to continue to live
Then, it's too early to say goodbye, right?'
[Itou Kashitarou - HEAVEN]
.
.
.
Isak tangis mewarnai pemakaman Akashi Tetsuya sore ini.
Ketika peti mati yang berisi jasad Tetsuya perlahan mulai ditimbun tanah, Ryouta menangis seperti orang gila. Dia sampai meraung-raung layaknya orang kesetanan sambil memanggil nama adiknya itu.
"JANGAN! LEPASKAN SHINTAROUCCHI, ATSUSHICCHI! TETSUYACCHI BISA MATI KETAKUTAN DI DALAM SANA! TETSUYACCHIIII!"
Atsushi dan Shintarou memegangi saudara pirangnya yang terus-terusan memberontak. Mereka berdua sama saja, Daiki yang jarang atau tidak pernah melihat mereka menangis (sekali Daiki melihat Atsushi menangis saat orangtuanya meninggal, sementara ia tidak pernah melihat kakak keduanya mengeluarkan air mata seperti sekarang) kali ini diberi kesempatan itu.
Seijuurou berdiri, menunduk. Ia tidak bisa melihat wajah kakak sulungnya dengan jelas lantaran tertutupi poni panjangnya. Tapi Daiki yakin kakaknya itu sedang menahan semua emosi itu. Terlihat dari dia yang sedang menggigit kuat bibirnya. Daiki rasa, Seijuurou juga ingin menangis seperti Shintarou dan Atsushi, dia juga ingin berteriak seperti Ryouta. Setelah semua, Seijuuroulah yang paling dekat dan protektif terhadap si bungsu. Jadi wajar jika seharusnya Seijuurou mempunyai reaksi yang paling parah di antara mereka berlima.
Tapi dia bergeming. Tangannya mencengkram kuat jas hitam yang dikenakannya. Bibirnya diam tak mengeluarkan suara protesan atau isak tangis sekali pun. Seijuurou terlalu diam, sampai Daiki takut kalau kakaknya itu kelewat syok.
Tapi bukan itu yang seharusnya Daiki pikirkan. Dirinya sendiri juga berantakan. Ia bahkan sampai bingung mendefinisikan perasaan apa yang tengah dirasakannya. Saking bingungnya, ia tidak tahu reaksi apa yang harus ia pasang sekarang ini. Harus mengamuk seperti Ryouta? Menangis seperti Shintarou dan Atsushi? Atau diam dengan ekspresi wajah tertekan seperti Seijuurou?
Daiki belum menangis sama sekali. Bahkah saat melihat adiknya yang terbujur kaku di dalam peti mati kaca, yang dilakukannya hanya memandanginya dengan ekspresi wajah bodoh. Ia sempat mengamuk saat pertama kali datang, berteriak, memukul peti mati itu sambil menyuruh adiknya untuk bangun. Ini tidak lucu.
Ia tetap tidak menangis, karena Daiki masih tidak—belum—percaya.
Tapi kemudian, kerah bajunya ditarik tiba-tiba, sedetik setelah itu tamparan keras menyinggahi pipi kirinya. Seijuurou menamparnya dengan sekuat tenaga.
"Buka matamu, Daiki! Mau sekeras apapun kau menolak kenyataan, Tetsuya sudah mati! Kau dengar!? MATI!" Kalimatnya penuh penekanan, kakaknya berteriak keras tepat di depan wajahnya. Suaranya bisa didengar oleh seluruh pelayat seisi ruangan, dan itu membuat Daiki langsung tersadar.
Seijuurou menangis setelah mengatakan itu, menggumam "Tetsuya mati… dia sudah mati… adikku mati…" tapi tidak dengan Daiki. Hatinya ini sekeras apa sih?
Ini. mimpi. Ini hanya mimpi, mimpi buruk, pikirnya. Ya. Sebentar lagi ia akan terbangun. Hal seperti ini mana mungkin terjadi.
Dua minggu sebelum ia pergi ke luar kota untuk melatih, ia bertemu dengan Tetsuya. Tidak biasanya adiknya datang ke kamarnya untuk menanyakan sesuatu. Tetsuya bertanya tentang detail-detail permainan basket karena ia diberi tugas untuk membuat makalah dengan tema "Mengenal Lebih Dekat Olahraga Populer Saat Ini". Tak heran, basket memang salah satu olahraga yang sedang ngetren setelah voli dan renang sekarang ini.
Daiki menjawab segala pertanyaan yang diajukan Tetsuya. Adiknya itu menanyainya tentang suka dukanya bermain, pelanggaran-pelanggaran yang sering lolos dari pengawasan wasit, bagaimana untuk melatih pemain agar menjadi hebat dan tak terkalahkan—seperti Daiki dan anak didiknya, juga segala sesuatu yang tidak tercantum dalam materi permainan basket.
Selesai dengan tugasnya, mereka sempat mengobrol tentang rutinitas masing-masing. Hari itu, Tetsu berbasa-basi dengan menanyakan bagaimana perkembangan anak-anak yang dilatihnya. Tetsu juga sempat menanyakan apakah dirinya sudah memiliki kekasih atau belum. Akan pertanyaan polos adiknya ini, Daiki hanya bisa tertawa renyah. "Pacar? Tentu saja kakakmu yang tampan dan gagah ini sudah memilikinya, Tetsu!" katanya, setengah berbohong.
Akashi Daiki, 23 tahun. Status single. Meski menyukai wanita berdada besar, tapi sampai detik ini belum ada satu pun perempuan yang mampu menggaet hatinya dan benar-benar menarik perhatiannya.
Si kecil balas bertanya, "Er, kalau begitu, boleh aku tahu alasan Daiki-nii bisa jatuh cinta dengannya?"
Eh? Tak disangka Tetsu malah menanyakan lebih lanjut. Dirinya kan hanya bercanda.
Tawanya mereda, Daiki berdehem cukup keras. "Mencintai seseorang itu tidak selalu harus ada alasannya, Tetsu." Daiki dalam mode bijak. "Memang benar mereka semua pasti memiliki satu dua hal yang disukai dari pasangannya. Entah itu wajahnya yang cantik, atau tubuh yang sexy. Tapi pasti ada hal mendasar yang membuat mereka mencintai orang itu. Entah karena orang itu bisa membuatmu merasa nyaman didekatnya, atau alasan yang tak terjelaskan lainnya. Ah … suatu saat kau akan tahu. Kau tidak akan mengerti kalau belum merasakannya. Dan satu lagi, aku hanya bercanda. Kakakmu ini masih belum memiliki pacar, Tetsu. Ada apa kau menanyakannya?"
Daiki dapat melihat pipi adiknya yang mulai bersemu merah muda. Oh, ia tahu. Adiknya sudah besar rupanya ...
"Apa jangan-jangan … Tetsu sedang jatuh cinta? Perempuan hebat seperti apa yang mampu menarik perhatian adikku ini, ha? Beritahu kakakmu ini. Aku pasti akan membantumu mendapatkan dia!"
Wajah adiknya seketika memerah sampai ke kuping-kuping. "Bu-bukan begitu, Daiki-nii!"
Itulah percakapan terakhir Daiki dengan Tetsuya. Sampai akhir pun ia tidak diberitahu siapa gadis beruntung yang sempat menarik perhatian adiknya.
Liang lahat itu sudah setengah tertimbun tanah. Ryouta semakin histeris, isakan Shintarou dan Atsushi semakin mengeras, diikuti milik Seijuurou di sebelahnya. Daiki berdiri, masih dengan wajah tololnya.
Hei. Setelah semuanya tertutupi, kau tidak akan bisa bertemu dengannya lagi, Daiki.
Ia tidak akan bisa melihat wajah datar adiknya di ruang makan, tidak akan bisa mendengar sapaan "Ohayou Daiki-nii," atau sambutan "Selamat datang, Daiki-nii," dari bibir si kecil lagi.
Dengan kata lain, semuanya berakhir. Kiamat, pikir Daiki.
Berpikir tentang beberapa tahun belakangan, ia memang jarang menghabiskan waktunya dengan si bungsu. Itu karena ia terlalu fokus dengan pekerjaannya.
Padahal sesungguhnya, pekerjaannya tidak lain diperuntukkan untuk Tetsu. Untuk menepati janjinya dengan si kakek tua. Untuk... untuk kebebasannya. Ini semua dilakukannya demi Tetsu-nya tersayang. Agar ia tidak perlu memenuhi kewajiban keluarga ini. Tidak terikat, dan tertekan dengan segala macam tuntutan yang disebutkan oleh kakeknya. Cukup Daiki dan empat kakaknya yang lain yang merasakan neraka ini.
Bagaimana bisa ia melupakan tujuan awalnya setelah setengah perjalanan?
Sekarang, Daiki menyesal setengah mampus.
Saat saudaranya mulai menaburkan bunga-bunga di atas gundukan tanah tempat Akashi Tetsuya disemayamkan, hanya Daiki yang diam di tempatnya. Dari awal ia tidak bergerak, hanya memandangi itu dari posisinya berdiri.
Di atas sana, langit berangsur menggelap. Suara petir terdengar bersahutan. Pelayat mulai berhambur pulang, tersisa lima Akashi bersaudara yang masih tetap berada di area pemakaman.
Ryouta memeluk nisan bertuliskan nama adik tersayang, tangis yang sempat mereda kini mulai menjadi. Dia tidak menahan diri sama sekali. Shintarou menunduk sambil menahan isakannya. Atsushi menangis sesenggukan. Seijuurou menutupi setengah wajahnya dengan lengannya.
Dengkul Daiki melemas, ia jatuh bertekuk lutut.
Satu-satunya orang yang ingin ia—mereka lindungi sudah tidak ada. Satu-satunya alasan ia—mereka bekerja keras sudah lenyap. Satu-satunya alasan ia—mereka bertahan sudah hilang.
Lalu, hidup Daiki selanjutnya untuk apa? Untuk siapa? Daiki sudah tidak tahu lagi, ia muak.
Daiki berteriak, air matanya mulai mengucur deras. Ia memeluk makam adiknya sambil meremas tanah yang menimbun rapat jasad Tetsu. Kenangan bersama sang adik terputar seperti kaset rusak di kepalanya, memperlihatkan beberapa ingatan yang cukup membekas di hatinya. Kala Daiki yang berebut Tetsu dengan Ryouta, saat Daiki pertama kali diberi izin untuk menggendong Tetsu dan hampir terjatuh lantaran tubuh gembul baby-Tetsuya, ketika Daiki memamerkan adik manisnya pada teman-temannya yang sukses membuat mereka iri, saat Tetsuya kecil mencoba melerai perkelahian Daiki dan Ryouta, ketika Tetsu kecil menangis di pelukannya lantaran ulah Ryouta yang kelewat iseng dengan sang adik, dan saat Daiki mengajari Tetsu-nya bermain bola basket (ia menggendong tubuh kecilnya agar adiknya itu bisa memasukan bola ke ring yang lumayan tinggi). Terlalu banyak kenangan manis yang mereka habiskan. Daiki tak kuasa untuk mengingatnya lagi.
Manusia itu tempatnya khilaf. Tidak hanya kenangan manis bersama si kecil, Daiki juga sering membuat kesalahan sampai mungkin membuat Tetsuya sakit hati … —dan ia yakin ia belum sempat meminta maaf.
Daiki pernah menolak permintaan bermain bersama si kecil, ia malah mengusirnya dan mengatakan kalau Tetsu itu penganggu (setelah itu adiknya tidak pernah mengajaknya bermain lagi), dia juga pernah menolak undangan dari sekolah Tetsu, meski adiknya sudah memohon dengan sangat, Daiki malah mengabaikannya. Setelah kepergian orangtuanya, Daiki menjauhi si kecil. Padahal awalnya mereka terbilang cukup dekat (dirinya kakak yang dekat dengan Tetsu setelah Seijuurou. Daiki juga sempat memergoki Tetsu yang hampir membunuh dirinya dan menjaga rahasia itu dari yang lain).
Melakukan itu sambil mengingat dosa-dosanya terhadap Tetsu-nya hanya membuat air matanya semakin berderai. Ia tidak bisa melihat apa-apa, penglihatannya buram, dadanya sakit.
Seharusnya Daiki tahu ada yang salah dengan adiknya, apalagi saat Tetsu mencoba melakukan suicide-attempt di kamarnya. Seharusnya ia melaporkan ini pada Seijuurou, mengatakan yang sebenarnya pada Shintarou, meski risikonya ia yang dibenci adiknya. Setidaknya, kalau mereka tahu dan memperbaiki Tetsu yang terlihat rusak saat itu, kejadian seperti ini tidak mungkin terjadi. Aksi bunuh diri adiknya kali ini—dan untuk yang kedua kalinya—tidak akan berhasil. Mungkin sekarang mereka sedang makan malam di rumah, tidaktidak—Daiki seharusnya sekarang masih bertugas di luar kota. Mungkin Tetsu sedang asyik membaca buku di sudut ruangan seperti biasanya, atau di perpustakaan. Kalau masih ada Nigou, mungkin Tetsu sedang bermain di halaman dengan Nigou. Ah, anjing itu selalu bisa membuat Tetsu-nya tertawa dengan segala tingkah lakunya. Melihat Nigou akan mengingatkan Daiki dengan si pemilik sendiri (mata mereka dan cara keduanya memandang sangatlah mirip), itulah mengapa anjing yang Tetsuya temukan di jalan itu sepakat diberi nama Tetsuya Nigou olehnya dan saudaranya yang lain.
Dulu, saat orangtuanya meninggal, Daiki tak sampai berteriak di makam orangtuanya, tak menangis sampai sesak napas seperti sekarang. Kenapa? Apa karena ia terlalu sayang sehingga membuatnya enggan menerima kematian sang adik? Atau dosa-dosanya yang membuatnya belum siap kehilangan—lagi—dikarenakan Daiki belum sempat meminta maaf atas kesalahannya selama ini.
Mungkin keduanya.
Yang Daiki sangat sesalkan, ia tidak melakukan itu ketika ia masih memiliki kesempatan. Penyesalan memang menyebalkan.
Daiki terlalu bodoh, ia mungkin adalah manusia paling bodoh di bumi ini.
Sekali lagi Daiki berteriak, bersamaan dengan suara petir yang menggelegar dan hujan yang langsung turun dengan derasnya.
.
End of chapter
.
Author Note: Daiki reaction dibuat mendadak (karena awalnya memang belum mau dimasukin dan kepikiran), based on my true feeling. Aku sendiri baru ngalamin yang kayak gini tujuh hari lalu, daripada stress sendiri mending dituangin ke sini aja lah ya… :")) Mungkin kebanyakan yang Daiki rasain sama dengan perasaanku waktu itu ... /ehm
Padahal awalnya mau ngepost Ogiwara side, fyty chapter 16,5 dan republish-an chapter 16 sekaligus, tapi yaa karena ini duluan yang jadi dan chapter di atas belum selesai, publish yang ada dulu deh ya ….
Untuk Shinju Hatsune hehe. Iya nyicil, walau dikit-dikit lama-lama juga bakal selesai kan ya .-. Iftiyan Herliani Yap sayang sekali mereka harus begini, tapi ada hikmahnya kan dari kematian Tetsuya ini. Terima kasih semangatnya! :") hunhandeep Iya, aku yang bayangin betapa harmonisnya mereka dahulu pengen nangis karena hal itu udah nggak bakal mungkin terulang lagi sekarang. Terima kasih! :'D Dewi15 done :")) Oto Ichiiyan Halooooo, Ichii-san! Wah iya aku baru sadar, mereka kayak HaruRen gitu. Dan… kenapa… KENAPA KAMU BISA LANGSUNG SADAAAAAR!? Hebat kamu ah, padahal aku aja baru kepikiran ini beberapa bulan lalu dan mau kujelasin hubungan mereka di fyty chapter reuni Tetsuya sama Miyuki… .-. Iya nggak apa-apa. Akunku juga suka error pas bales pm dari orang u,u Hoho, tepat sekali. All hail for midokuro! /yeah!
.
Oh ya, terima kasih sudah membaca!
.
Salam.
Nameless Pierrot (Ganti nama ke pelafalan bahasa inggris aja biar enggak bingung manggilnya) ^_^
