Aku tidak pernah tahu kalau aku benar-benar kecanduan, sampai aku mencoba berhenti
Setelah Daiki-nii mengetahui rahasianya, ia berjanji tidak akan membuat Daiki-nii beserta empat kakaknya yang lain sedih. Yaitu dengan cara Tetsuya menghentikan aksi self-harm yang telah ditekuninya selama beberapa tahun belakangan.
Tetsuya sudah mencoba. Malam itu saat depresinya kambuh, ia tidak mencoba menyileti tangannya (tangan kirinya sudah dipenuhi jahitan akibat aksinya kemarin, kalau ditambah bisa bahaya), ia tidak mencoba membakar tubuhnya dengan lilin, ia tidak meminum obat penenang yang biasanya wajib ia telan sebelum tidur. Ia mencoba menghentikan semua kegiatan buruknya—yang berpotensi membuat saudaranya sedih.
Nyatanya, tindakan itu hanya membuatnya gelisah. Tangannya gatal ingin melukis di kulitnya, ia tidak bisa tidur karena tidak meminum obat penenangnya. Tetsu4ya meringkuk di kasurnya, keringat dingin memenuhi sekujur tubuhnya. Suasana kamarnya yang gelap nan suram hanya membuatnya cemas. Berbagai pikiran negatif memenuhi kepalanya. Malam pertama saat Tetsuya mencoba, ia terjaga sepanjang malam.
Tetsuya sudah benar-benar kecanduan.
Paginya, ia memutuskan untuk melanjutkan aksinya. Mencoba perlahan mengurangi sayatan dikulitnya, mencoba mengurangi dosis obat tidurnya, membuang puluhan pack lilin yang sudah dibelinya.
Karena hanya tindakan ini yang menemani kesendiriannya. Hanya ini yang menjadi pelariannya. Hanya dengan melukai dirinya sendiri, Tetsuya bisa melupakan segala rasa sakit yang diberikan—tanpa sadar—oleh orang di sekitarnya.
Tetsuya sempat senang saat lima kakaknya kembali memerhatikannya. Daiki-nii rutin mengantar-jemput Tetsuya sekolah. Shintarou-nii setiap malam selalu memeriksa keadaannya. Atsushi-nii memasakkan makanan kesukaan Tetsuya saat sarapan dan makan malam. Seijuurou-nii dan Ryouta-nii bergantian mengajaknya mengobrol kala ada waktu, tapi karena Ryouta-nii jarang berada di rumah jadi kakak sulungnya yang banyak menemaninya.
Seijuurou-nii menanyakan tentang kehidupan sekolahnya. Bagaimana pelajaran di sekolah, apakah Tetsuya bisa mengikutinya, apa ada bagian yang Tetsuya tidak mengerti, karena kakaknya itu dengan senang hati akan mengajarinya lagi. Tetsuya tidak punya masalah dengan itu, ia mengerti karena Tetsuya selalu memerhatikan penjelasan guru di kelas dan jika memang ada yang tidak dimengerti olehnya ia akan langsung menanyakannya. Tapi, Tetsuya lagi-lagi berbohong. Ia mengambil buku matematikanya dan menanyakan materi yang jelas-jelas sudah ia kuasai.
Lalu ketika Seijuurou-nii bertanya tentang teman-temannya, Tetsuya sempat terdiam untuk beberapa saat.
Tetsuya menjawab semuanya baik-baik saja (ia berbohong untuk yang kedua kalinya). Mengatakan teman-temannya sangat baik padanya, di kelas ia memiliki geng yang beranggotakan lima orang. Mereka semua sangat lucu dan peduli padanya. Tetsuya mulai menceritakan satu persatu anggotanyayang ia karang. Semuanya terdengar sangat meyakinkan, Tetsuya berbakat menjadi aktor sekaligus pengarang cerita.
Seijuurou-nii diam mendengarkan, matanya awas memerhatikan tiap pergerakan Tetsuya. Si bungsu Akashi tahu, kakaknya pasti mengetahui kebohongannya. Setelah semua, dialah yang paling tahu tentang kebiasaan saudara-saudaranya. Tetsuya tak terkecuali.
Saat Tetsuya takut kebohongannya diketahui, dan menunggu respons kakaknyayang ia duga omelan, yang diterimanya hanya belaian di kepalanya juga wajah kakaknya yang tersenyum manis padanya sambil berkata, "Oh, begitu. Pasti sangat sulit menghadapi mereka, ya?"
Tetsuya langsung mengangguk, ada air mata yang mengalir di pipinya kemudian, ia langsung memeluk kakaknya, mencengkeram erat-erat kemeja kakaknya, menenggelamkan wajahnya di dada bidang Seijuurou-nii.
...Ya, sulit sekali sampai rasanya aku tidak kuat menghadapi mereka.
Tapi air matanya lebih ditujukan untuk kakaknya, karena Tetsuya sudah terlalu banyak berbohong pada mereka.
"Tidak apa-apa. Tetsuya tidak perlu memaksakan diri." suara lembut kakaknya kembali terdengar, mencoba menenangkannya. Tubuhnya dibawa semakin dekat, kakaknya memeluknya erat.
Tetsuya ketahuan.
Tangisannya semakin menjadi. Malam itu, ia menangis sampai tertidur di pelukan kakak sulungnya.
Sayangnya, Itu hanya berlangsung paling lama sebulan. Setelah itu, semuanya kembali ke rutinitas sebelumnya.
Tapi Tetsuya masih berusaha menghentikan kebiasaan buruknya.
Karena ia sudah bilang akan melakukannya pada Daiki-nii, sebab Tetsuya tidak ingin membuat keluarganya sedih. Meski Tetsuya mulai ragu, apakah mereka benar-benar peduli dengannya?
Usia 18 tahun, Tetsuya Akashi lulus dari SMA Teiko sebagai lulusan terbaik tahun itu. Tidak ada yang heran atau curiga, mereka sudah menduga sebelumnya.
Untuk pendidikan selanjutnya Tetsuya tertarik untuk mengambil Jurusan Sastra Jepang di Universitas Tokyo. Ia lulus tes masuk, dengan nilai ujian tertinggi—tidak, sempurna malah.
Dan seperti sebelumnya, putra bungsu keluarga Akashi ini menolak untuk berbaur dengan lingkungan barunya. Menolak untuk membuat teman sebanyak-banyaknya seperti yang anak baru biasa lakukan.
Sampai anak itu dan teman perempuannya mendekatinya.
.
Hello, My Story
My Dear Friend
.
Kuroko no Basuke was owned by Fujimaki Tadatoshi
Hello My Story belongs to Nameless Pierrot
.
.
If you lose the way forward
Just remember that even after tears
There'll still be a rainbow high up in the sky
And I'm just right beside you
So even if the rain pour ceaselessly
You can always smile
.
Awalnya, Ogiwara Shigehiro hanya iseng-iseng saja.
Hari ini adalah hari pertama ia memasuki universitas barunya. Selayaknya yang anak baru biasa lakukan, Ogiwara berencana membuat teman sebanyak-banyaknya. Apalagi ketika sampai di Universitas Tokyo ia melihat banyak anak yang sudah bergerombol, mengobrol, dan tertawa bersama di lapangan.
Ogiwara tak mau ketinggalan. Ia juga ingin seperti yang lainnya, tapi... tidak ada ada yang dikenalnya di sini. Sahabatnya bilang dia terlambat dan akan sampai sebentar lagi. Jadi sambil menunggu kenapa ia tidak mencari teman baru?
Memperhatikan sekeliling, iris cokelat itu akhirnya menemukan sang target. Pemuda pendek yang sedang fokus dengan buku di tangannya sambil berjalan pelan. Dia terlihat sendirian, apa dia sama seperti Ogiwara, belum memiliki teman? Kalau begitu baguslah! Ini kesempatannya.
"Halo, kau murid baru di sini?" sapanya dengan gaya sok-kenal-sok-dekat andalannya. "Bagaimana perasaanmu diterima di universitas ini? Oh! Omong-omong kau dari jurusan apa? Kalau aku manajemen. Huh, kau tahu? saat tes kemarin aku hampir putus asa karena merasa tidak percaya diri. Sial sekali banyak soal yang belum kupelajari, ujungnya aku menggunakan kancing bajuku untuk menebak jawaban. Ah! Dan insting seorang pria—"
Ogiwara sudah berbicara panjang lebar, tapi orang ini hanya meliriknya sekilas tanpa menjawab kemudian melanjutkan langkahnya.
Baru kali ini seorang Ogiwara Shigehiro diabaikan.
Hei, jangan mengabaikannya! Ia bukan orang gila yang berbicara pada dirinya sendiri!
"Hei—aku berbicara denganmu!" pundak yang kecil dicengkeram, dipaksa agar menghadap padanya.
Sosok itu melirik tanpa minat sedikitpun. "Maaf, apa kita saling mengenal?"
Dan pada saat itu Ogiwara Shigehiro membeku.
Karena tatapan dari sepasang aquamarine yang begitu dingin menusuk, sampai rasanya tulangnya ngilu hanya dengan bertatapan dengan pemuda mungil ini. Tangannya perlahan menyingkir.
"Apa yang kau inginkan?"
Itu pertanyaan yang mudah. 'Aku hanya ingin kau mendengarkanku, Bodoh!'—inginnya Ogiwara menjawab seperti itu.
Tapi mendadak lidahnya kelu. Suaranya itu membuat bulu kuduknya berdiri.
Dingin sekali.
Belum pernah Ogiwara bertemu dengan orang sedingin ini, untuk menjawab pertanyaan sesimpel itu saja ia tak mampu.
"Errr…"
Ogiwara sedang mengumpulkan keberaniannya, ketika suara nyaring yang memanggil namanya menganggu.
Berbalik, dari jauh, ia dapat melihat sesosok gadis yang berlari menghampirinya.
"Shige-kun~" Tangan dilambaikan, Ogiwara dapat melihat jelas dua buah bola yang bergoyang-goyang di dadanya. Pipinya otomatis memanas. Lain kali Ogiwara harus memberi tahu sahabatnya agar tak berlari di tengah keramaian seperti ini. Tuhkan, dia jadi pusat perhatian! Ogiwara tidak suka, apalagi ketika melihat laki-laki lain memerhatikannya dengan wajah mesum.
"Oh, halo, Momoi-chan." Ia menyapa ketika sang gadis sudah berada di hadapannya, membungkuk sambil bernapas terengah-engah.
"Shige-kun, aku mencarimu kemana-mana. Ayo cepat! Kita harus segera berkumpul, upacara pembukaannya sebentar lagi kan dimulai."
"Oke. Tunggu sebentar—" Ia berbalik, berniat berpamitan dengan seseorang yang ia ajak mengobrol tadi.
"Eh? Menghilang!? Kemana anak itu!?" katanya ketika tak mendapati siapapun di sebelahnya.
"Siapa, Shige-kun?"
"T-tadi ada orang disini!"
"Tapi aku tak melihat siapapun dari tadi."
"Eh? Lalu siapa yang aku ajak ngobrol tadi? Hantu!? Maji de, ada hantu di universitas ini!?
.
.
Hantu. Awalnya Ogiwara juga berpikir begitu. Mana ada manusia yang memiliki tatapan sedingin es. Mana ada manusia yang memiliki suara seseram itu, dan mana ada manusia yang bisa lenyap dalam hitungan detik. Ia seperti dihadapkan oleh malaikat pencabut nyawa!
Tapi ketika upacara pembukaan dimulai, Ogiwara yakin kalau pemuda yang ditemuinya di luar bukan hantu. Karena pemuda itu sekarang sedang berdiri di podium, membacakan pidato penyambutan perwakilan anak baru.
Itu dia, si Shinigami itu!
Ups.
"Momoi-chan, apa kau tahu siapa anak yang berdiri di sana?" tanyanya pada gadis di sebelahnya, Momoi Satsuki.
Sahabatnya ini serba tahu—dan pintar, tak heran Ogiwara sering menanyakan apapun yang tidak ia ketahui pada Momoi. Mau itu pelajaran atau informasi seseorang, atau gosip-gosip terhangat yang tengah beredar. Momoi Satsuki sudah seperti makelar informasi.
"Kau serius tidak mengenalnya, Shige-kun?"
Ogiwara menggeleng polos.
"Duh ... Dasar kudet." Momoi sweatdrop. "Namanya Akashi Tetsuya, 18 tahun. Dia itu lulusan terbaik Teiko tahun ini. Akashi Tetsuya adalah satu-satunya orang yang memegang nilai sempurna saat tes kemarin."
"Eh? EEEEEHHHHHH!?"
"Sst!"
Ogiwara menutup mulutnya, ia yang penasaran akhirnya mendekat ke Momoi dan berbicara lebih pelan. "Serius, manusia seperti itu ada, Momoi-chan?"
Ogiwara tidak bisa percaya.
"Ya. Dia yang berdiri mewakilkan kita adalah buktinya, Shige-kun."
Tes kemarin, kalau Ogiwara bisa bilang itu benar-benar seperti neraka. Ia yang sudah berjuang keras dan belajar mati-matian sebelum tes saja setengah sekarat setelah keluar dari ruang ujian. Momoi juga bilang tes tahun ini lebih sulit dari tahun sebelumnya. Ogiwara mungkin akan gantung diri kalau sampai tak diterima di sini jika mengingat pengorbanannya. Untungnya dia lulus.
Tapi pemuda itu ... dia melewati tes ini dengan mulus dan mendapatkan nilai sempurna. Ogiwara masih tak percaya, tapi benar kata Momoi, dia yang berdiri di podium mewakilkan kita saja sudah membuktikan kalau dialah pemegang skor tertinggi. Ia harus mengeceknya setelah ini.
Dilihat dari penampilan, sosok yang disebut-sebut bernama Akashi Tetsuya ini memang memancarkan aura yang beda dari yang lain.
Aura yang dingin mematikan, yang membuat orang-orang segan mendekat. Menunjukkan kalau ia benar-benar susah atau tidak ingin didekati. Binar pada kedua manik aquamarine itu begitu kosong dan tajam.
Ada yang salah dengan Akashi Tetsuya. Dia semacam mengingatkan Ogiwara dengan masa lalunya.
Membuat Ogiwara gatal ingin mendekatinya, jika sedang beruntung mungkin ia bisa menjadi salah seorang teman dari makhluk sempurna ini.
Faktanya, Ogiwara memang sedang tidak beruntung.
Selesai upacara, ia mencoba mendekati sosok itu. Memperkenalkan dirinya, berbasa-basi.
Dan apa jawaban yang diterimanya?
"Kau orang aneh yang tadi, apa yang kau inginkan dariku?" tanyanya dengan muka sedatar papan tripleks.
Ia bahkan tak menyebutkan namanya walau Ogiwara sudah memperkenalkan dirinya! Di samping itu, anak ini malah menyebutnya 'orang aneh'.
Kau yang aneh! Bukan akuuuu! dalam hati ia berteriak frustrasi.
Untungnya, Ogiwara memiliki tingkat kesabaran di atas rata-rata.
Apa yang kau inginkan dariku ... katanya?
Ogiwara melanjutkan omongannya. Ia memasang wajah ramah—seramah-ramahnya—yang ia bisa. "Aku ingin menjadi temanmu, Akashi-san," katanya sambil mengulurkan tangannya.
Akashi Tetsuya memperhatikan wajahnya—masih dengan air muka yang tidak berubah, kemudian melirik tangan yang Ogiwara ulurkan.
"Maaf, tapi aku tidak butuh teman. Permisi."
Sosok itu berjalan melewati Ogiwara begitu saja. Meninggalkan dirinya yang syok akibat perkataan pemuda mungil itu.
Tidak butuh teman, katanya ...
"JANGAN BERCANDA!" teriak Ogiwara. Suara kerasnya membuat murid baru yang masih berada di dalam auditorium terkejut. Ogiwara buru-buru menutup mulutnya dan pergi ke luar dengan pandangan orang-orang yang memperhatikannya.
"Lihat saja, aku akan menjadi temanmu, Akashi Tetsuya."
Ogiwara sudah membulatkan tekadnya. Ia ingin menyelamatkan orang itu.
Mendapatkan kepercayaan dari sosok paling dingin di dunia—menurut Ogiwara, memang tidak mudah.
Apalagi hawa keberadaannya yang seperti makhluk halus, Ogiwara harus menajamkan indranya jika ingin menemukannya.
Berkali-kali ia mendekati, yang berakhir diabaikan. Mencari topik untuk dibicarakan yang berakhir ditinggalkan.
Apa-apaan bocah ini, dipikirnya dirinya angin apa. Notice me, Akashiiiiii~ Ogiwara berteriak frustrasi.
Ogiwara terus mengikutinya, walau keberadaannya tidak dianggap. Berusaha mengajaknya mengobrol meski tidak mendapat balasan. Belum. Ogiwara tidak akan menyerah, ia harus melelehkan hati Tetsuya yang sekeras batu ini! Ia hanya ingin satu hal, mendapatkan pengakuan 'teman' darinya.
Tapi rasanya sulit sekali, lebih sulit dari menaklukan hati seorang gadis.
Tetsuya berbeda, dan ini yang membuat Ogiwara bersemangat.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Sudah dua bulan tepatnya sejak Ogiwara Shigehiro berusaha meluluhkan hati Akashi Tetsuya.
Sampai mulutnya berbusa, Ogiwara masih belum mendapatkan hasil.
Ia hampir menyerah. Tapi saat Tetsuya untuk pertama kalinya berbicara padanya dan mengatakan. "Jadi, hanya segini nyalimu? Baguslah kalau kau menyerah, aku akan bebas."
Kalimat itu memiliki arti yang berbeda di pemahamannya. Malah terdengar seperti "Jangan menyerah."
Yang dibalas oleh Ogiwara, "HAAA!? Tentu saja aku tidak akan menyerah semudah itu. Kau pikir aku ini siapa?"
Untuk yang pertama kalinya, Ogiwara melihat seorang Akashi Tetsuya tersenyum. Walau samar, tapi senyum itu terlihat begitu mempesona, lebih cocok jika dibandingkan dengan ekspresi dingin yang biasa ditampilkannya.
Kenapa Tetsuya tidak mencoba sering-sering tersenyum seperti itu. Bukan yang dipaksakan ketika dia sedang berhadapan dengan guru atau gadis-gadis yang menaksirnya. Tapi senyum tulus dari hatinya terdalam, seperti yang ia tunjukkan pada Ogiwara barusan.
Dan itu yang telah menyulut semangat Ogiwara untuk tidak menyerah.
.
.
Ogiwara bisa menghitung berapa kali Tetsuya berbicara padanya. Ia memang sangat sangat pendiam.
Hari ini Ogiwara berhasil mengajak Tetsuya kenc—ralat, jalan dengannya. Wow. Ini pertama kalinya, rasanya ia sedikit nervous.
Padahal Ogiwara mengira Tetsuya tidak akan menerima ajakannya. Ia hanya berkata 'Bagaimana kalau pulang nanti kita nongkrong dulu? Aku tahu tempat yang bagus. Itu juga terkenal dengan vanilla milkshake-nya yang enak, lho!'
'B-benarkah? ...Aku ikut.'
Dia tidak tahu kalau mengajak Tetsuya akan semudah ini. Ia juga baru tahu sih minuman kesukaan pemuda ini adalah vanilla milkshake, makanya ia menggunakan bait itu agar Tetsuya mau ikut dengannya.
Dan berhasil.
Mungkin ini hari keberuntungan Ogiwara. Semoga saja.
Ogiwara, entah karena kehabisan obrolan atau karena malas berbicara hanya diam tanpa membuka obrolan. Toh Tetsuya yang sedang sibuk dengan buku di tangannya tak akan mendengarkannya jika ia berbicara. Seperti biasa. Jadi kali ini mereka berdua hanya berjalan dalam diam.
Keduanya berjalan hampir mendekati zebra cross, handphone Ogiwara yang tiba-tiba berdering membuatnya terhenti untuk mengangkat panggilannya. Tetsuya masih fokus, terus melangkah. Lampu penyebrangan masih menunjukan warna merah, banyak kendaraan yang masih berseliweran di jalan, tak jarang ngebut.
Tetsuya tidak sadar, ia tetap melangkah tanpa memedulikan sekekelingnya. Ogiwara yang baru selesai menelepon dan menyadarinya mencoba memanggil namanya, kelihatannya dia tak lagi membaca tapi melamun dengan tatapan mata yang lurus ke buku di tangannya. Astaga anak itu... apa yang sedang dipikirkannya sih!? Bahaya tahu! Ogiwara berada jauh di belakang, mendapati firasat buruk, ia langsung berlari untuk menarik Tetsuya.
"Tetsuya!"
Mau diteriaki sekencang apapun, tetap saja si subjek terus berjalan. Ogiwara berhasil menarik perhatian orang sekitar, tapi tidak Tetsuya.
Ia pikir ia akan terlambat, jaraknya masih sekitar tiga meter dari Tetsuya, sementara pemuda itu sudah berjalan dua langkah ke tengah jalan.
Suara klakson mobil berbunyi nyaring, memperingati pejalan yang belum seharusnya menyebrang.
Barulah Tetsuya tersadar dari lamunannya, kedua iris aquamarine melebar ketika mendapati di mana dirinya berada. Dia tahu dia dalam bahaya, tapi kakinya tak bisa digerakkan, terlalu syok barangkali.
Di sisi lain Ogiwara mengumpulkan segala kekuatannya yang tersisa. Truknya sudah dekat, ia mengambil resiko melompat, membawa tubuh mungil dalam dekapannya. Berikutnya, tubuh keduanya berguling di aspal jalanan sampai akhirnya tubuh Ogiwara terhenti karena membentur trotoar. Untungnya tidak ada kendaraan yang lewat saat mereka berguling (ada, tapi masih jauh).
Ia membuka matanya, memeriksa keadaan pemuda di pelukannya. Beruntungnya, Ogiwara melindungi bagian kepala Tetsuya, jadi temannya itu mungkin tak mendapat luka serius, ya paling hanya lecet-lecet kecil.
Masalahnya adalah bagian belakangnya ini. Ogiwara melenguh pelan kala merasakan nyeri di bahu kanannya. Sosok di pelukannya melepas diri dan buru-buru bangkit, Ogiwara ingin mengikuti, tapi runtuh lagi lantaran sengatan rasa sakit di bahunya itu.
"Ogiwara-kun!"
"Kau baik-baik saja kan?" sambil memegangi bahunya dan menahan nyeri yang berkedut, ia berusaha buka suara, Ogiwara tidak suka melihat wajah rumit Tetsuya itu.
Ini sama sekali tidak keren.
"Ogiwara-kun... kenapa ... menyelamatkanku ...?"
Baru kali ini Ogiwara melihat Tetsuya dengan wajah sekhawatir itu, matanya berkaca-kaca, hampir menangis. Tangannya gemetaran saat memeganginya. Ogiwara tahu temannya ini sedang panik, ah, bukan, ia belum diakui sebagai teman oleh Tetsuya. Biar ia ralat, kenalannya.
"Salah ya bila aku menyelamatkanmu?"
"T-tapi, kalau sedetik saja Ogiwara-kun terlambat, bisa-bisa nyawa Ogiwara-kun…"
–Melayang.
Tentu Ogiwara tahu. Tapi kalau ia tetap diam nyawa Tetsuya yang akan melayang, Ogiwara tidak mau kehilangan sosok yang akan menjadi temannya kelak di masa depan.
"Shh. Tenang, aku baik-baik saja. Jangan khawatir." Kepala biru muda ditarik agar bersandar pada dadanya. Sepasang aquamarine melebar akan perlakuannya.
Sementara Ogiwara Shigehiro mengusap bagian belakang temannya.
"Kenapa Ogiwara-kun melakukan semua ini?"
Ia bisa merasakan kausnya basah oleh sesuatu yang ia duga air mata Tetsuya.
Alasannya simpel.
"Karena Tetsuya teman berhargaku. Bukankah aku sudah pernah bilang kalau aku akan menjadi teman yang baik untukmu?"
Tetsuya yang sekarang seperti bayi, yang rapuh, yang polos dan tidak sepenuhnya mengerti dunia. Tetsuya harus tahu, tidak semua orang jahat. Tetsuya tidak boleh membenci semua orang. Menyalahkan mereka karena kesalahan satu atau beberapa individu.
Masih ada Ogiwara di sini yang tidak akan mengkhianati ataupun menyakitinya. Ia akan berusaha menjadi teman yang baik juga pantas untuk malaikat lugu seperti Tetsuya.
"Terima kasih karena Ogiwara-kun mau menjadi temanku."
Hampir ia menangis. Bukan karena rasa sakit di bahunya, sakitnya memang begitu luar biasa. Tapi karena ia akhirnya mendapatkan pengakuan sebagai teman dari seorang Akashi Tetsuya, sakit itu seakan lenyap begitu saja.
Meski dengan taruhan nyawa sekalipun, ia tidak menyesal sama sekali.
Mungkin Ogiwara terlalu baik atau apa, ia hanya tidak bisa membiarkan Tetsuya dalam keadaan menyedihkan itu terus-menerus. Ia ingin berada di sisinya, menemaninya, mendukungnya, melihat senyumnya, membuatnya bahagia.
Agar ia bisa menebus rasa bersalahnya di masa lalu.
.
.
Tak terasa sudah seminggu sejak Ogiwara diakui oleh Tetsuya sebagai teman. Selama itu pula, ia sekuat tenaga memotong jarak di antara mereka, mendekati seperti dulu, Bedanya, kali ini Tetsuya tak lagi mengabaikannya. Dia meladeni apapun yang Ogiwara katakan meski hanya dengan sepotong dua potong kata, deheman, atau anggukan. Masih terlihat agak canggung memang, tapi bagaimanapun, Ogiwara harus membuat Tetsuya lebih lebih percaya padanya!
Dan... ada yang membuatnya penasaran tiga hari belakangan.
Saat ini mereka sedang berada di atap universitas untuk makan siang. Tadinya ini adalah tempat langganan Tetsuya untuk menyendiri dari keramaian, tapi berhubung Ogiwara sudah menjadi temannya, dan lelaki berambut cokelat ini selalu membuntutinya kemana pun, maka Tetsuya akhirnya membiarkan Ogiwara untuk ikut menyendiri juga dengannya.
...ya, sebenarnya Tetsuya merasa tidak enak dikarenakan Ogiwara adalah tipe orang yang suka bergaul. Ia sempat khawatir karena membiarkan Ogiwara "berteman" dengannya. Karena... bagaimana ya? Memangnya berteman dengan seorang penyendiri sepertinya tidak membuat dampak buruk? Untuk orang semacam Ogiwara... Tetsuya takut dirinya akan membuat teman satu-satunya itu dijauhi teman-teman yang lain.
(Yang padahal itu tidak seperti yang Tetsuya bayangkan. Malah banyak yang ingin berteman dan dekat dengannya—terutama para perempuan. Tetsuya hanya tidak bisa melihat itu saja)
"Hei."
Merasa dipanggil, karena hanya mereka berdua yang ada di tempat ini, Tetsuya menoleh. Sumpit tertahan di mulutnya, ia baru saja menyendok lauk dari kotak bekalnya.
Sekilas Ogiwara memperhatikan wajah putih Tetsuya, yang kini pipinya dihiasi warna merah muda.
"Uhm. Tumben kau membawa bekal, Tetsuya. Dan... dilihat dari wajahmu itu... sepertinya itu sangat enak?" Ogiwara batal menanyakan hal tersebut. Dan malah belok ke topik lain.
...tapi wajah imut Tetsuya itu benar-benar tidak bisa diabaikan. Kalau saja Ogiwara sempat memfoto, lalu menjual foto itu di universitas ini, sekalipun dengan harga selangit, ia yakin banyak yang mau membayarnya. Ugh. Sayangnya Ogiwara bukan orang seperti itu. Bisa-bisa ia kehilangan kepercayaan yang telah susah payah didapatkannya ini!
Tetsuya mengunyah makanan di mulutnya, lalu menelannya. "Enak sekali. Hari ini Atsushi-nii membuatkan bekal untukku. Dan segala buatan Atsushi-nii... itu sangat enak!"
"...Atsushi-nii?"
"Ah. Dia kakakku. Akashi Atsushi."
"Oh ya, aku baru ingat! Kakakmu yang pandai membuat kue itu ya? Uh. Aku pernah membeli kue di salah satu toko miliknya dekat stasiun Shinjuku. Rasanya... sumpah enak sekali, coklatnya begitu terasa dan melumer saat kugigit. Ah, sialnya itu mahal sekali. Dompetku tidak mampu untuk membelinya lagi. Sedihnya..."
"Iya, kan? Atsushi-nii itu pintar sekali memasak apapun. Kalau ada waktu ia membuatkan kami sarapan atau makan malam, dan membuatkan kami bekal. Ah aku jadi ingat tadi pagi ia sempat membuat 5 kotak bekal untuk kami... tapi kakakku yang lain sudah berangkat kerja pagi-pagi sekali tanpa sepengetahuannya. Aku sempat melihat wajah kecewa Atsushi-nii... jadi aku memutuskan untuk membawa tiga kotak bekal itu ke kampus. Eh? Ah... maaf Ogiwara-kun, aku terlalu cerewet ya? Uh. Tidak seperti biasanya..."
"T-tidak apa-apa! Aku penasaran dengan keluarga Tetsuya juga, kok. Kau bisa menceritakan mereka,"—jika itu bisa membuatmu senang.
Karena Ogiwara sempat menangkap emosi yang jarang—atau bahkan tak pernah—ditunjukan pemuda mungil ini. Ada binar tak biasa pada mata sewarna langit musim panas saat Tetsuya membicarakan kakaknya. Binar yang membuat permata itu terasa lebih... hidup.
"Ah, benarkah? Mereka itu adalah orang yang hebat. Seijuurou-nii, Shintarou-nii, Ryouta-nii, Atsushi-nii, bahkan Daiki-nii. Sejak aku kecil mereka berusaha keras untuk menggapai impian mereka. Aku tahu begitu besarnya perjuangan mereka sampai mereka bisa sukses seperti sekarang. Tapi walaupun begitu..." Tetsuya terlihat enggan untuk melanjutkan.
"Walaupun begitu?"
Melihat Tetsuya berbicara banyak memang tidak biasa, karena biasanya anak ini sangat irit sekali dengan kata-katanya.
"Aku merindukan mereka..." katanya pelan sekali. Ogiwara menyadari pegangan sumpit di tangannya semakin mengerat. "Duh. Haha, aku bicara apa sih? Maaf Ogiwara-kun. Lupakan saja apa yang kau dengar barusan. Tidak penting juga untukmu."
"Tunggu. Apa karena alasan ini kau melakukan hal 'itu'?"
"Hah?"
"Coba kulihat tanganmu." Ogiwara tanpa aba-aba langsung meraih tangan kiri Tetsuya. Tetsuya yang kaget menjatuhkan sumpitnya, baru sadar apa yang dilakukan temannya.
Ogiwara menggulung sweater panjang yang dikenakannya. Dan betapa kagetnya ia saat menemukan jahitan memanjang—yang sepertinya masih berlanjut sampai ke lengan atas. "Apa ini...?"
Ia meraih paksa tangan kanan Tetsuya dan menggulung secepat yang ia bisa. Dan... di sini, di sini... ia menemukan perban yang membungkus pergelangan tangan Tetsuya sampai ke dalam.
...yang lebih membuat Ogiwara syok adalah warna merah terang yang masih menghiasi perban itu.
"OGIWARA-KUN!"
Tangannya ditepis kasar, Ogiwara yang masih dalam kondisi syok langsung mendapatkan kesadarannya kembali. Tetsuya—yang menggenggam kotak bekalnya dengan gemetar—mundur menjauh.
"Apa yang kau lakukan... Ogiwara-kun..."
A-apa aku menakutinya?
"Tetsuya—"
"JANGAN MENDEKAT!"
Dan Ogiwara langsung mematung di tempat.
"Aku... kenapa kau bisa tahu... padahal aku sudah menutupinya... kenapa, Ogiwara-kun!?"
Ogiwara pernah tak sengaja melihat bekas siletan di tangan Tetsuya tiga hari yang lalu. Itulah mengapa ia menanyakannya sekarang. Ogiwara hanya mengira Tetsuya melakukan aksi self-harm.
Tapi ia tidak tahu kalau perbuatan Tetsuya sudah sampai sejauh ini. Ogiwara sampai dibuat merinding kala melihat merah di tangan kurus milik Tetsuya, dan jangan lupa jahitan yang memanjang itu...
"Dengar dulu, Tetsuya—"
"Diam! Aku tidak bermaksud mengingkari janjiku dengan Daiki-nii. Aku anak baik. Aku... aku hanya tidak bisa... jangan beritahu Daiki-nii, Seijuurou-nii, Shintarou-nii—aku berjanji tidak akan melakukannya lagi. Ampuni aku—"
Ada yang salah dengan Tetsuya. Kenapa dia gemetar dan berkeringat begitu...? Kotak bekal terlepas dari genggaman, dan kedua tangan Tetsuya menutupi telinganya. Dia meringkuk—
Tetsuya terkena serangan panik, Bodoh!
Buru-buru Ogiwara mendekat, mendekap tubuh ringkihnya. Tetsuya masih saja merapal "maafkan aku, maafkan aku" berulang kali sementara Ogiwara berusaha menenangkan. Ya Tuhan... tubuhnya dingin sekali!
"...Ssshhhh. Semuanya akan baik-baik saja, Tetsuya. Tenang." Melepas pelukan mereka, kedua tangan Ogiwara menelungkup kedua pipi Tetsuya agar mendongak ke arahnya. Wajah Tetsuya yang diliputi teror dan ketakutan sempat membuat Ogiwara meringis. "Tarik napas... embuskan. Coba ulangi?" katanya lembut.
Sambil memejamkan mata, Tetsuya mengulangi perintah Ogiwara. Meski terlihat kesulitan, Ogiwara terus menggegam tangannya, dan mengatakan 'tidak apa-apa' sampai temannya itu tenang.
Setelah beberapa menit, barulah Tetsuya bisa tenang. Seketika dia meledak. Meluapkan segala emosinya dengan menangis. Dan Ogiwara dengan sigap meminjamkan pundaknya untuk Tetsuya bersandar.
Sisi lain Tetsuya yang ini... yang belum pernah dilihat siapapun. Ini adalah diri Tetsuya yang asli. Yang rapuh, dan begitu lemah. Yang cengeng juga begitu hancur. Ogiwara beruntung karena Tetsuya membiarkannya melihatnya.
Ia mengusap pundak Tetsuya, berusaha menenangkannya. Melihat kondisi temannya yang menyedihkan seperti ini membuat dadanya sakit. Benaknya terus bertanya kenapa, situasi macam apa yang membuat Tetsuya sampai sebegini frustrasinya...? Hanya memikirkannya membuat matanya perih. Tidak tidak. Ogiwara tidak boleh menangis! Ia harus terlihat kuat dan ceria untuk Tetsuya.
Mungkin karena sudah puas menangis, Tetsuya melepas pelukannya. Menjauh tanpa melirik Ogiwara sedikitpun.
"Uh. Apa-apaan ini. Menangis di pundak Ogiwara sungguh tidak keren," katanya sambil mengusap sudut matanya. "Tapi terima kasih sudah meminjamkannya, Ogiwara-kun. Aku hanya... terkejut. Ini kali pertama seseorang mengetahui rahasiaku."
Tetsuya masih menunduk, tak berani menatap Ogiwara. Tangan kiri mencengkeram yang satunya kuat. Itu kan tangan yang terluka! Baru Ogiwara ingin mendekat dan melepasnya, Tetsuya langsung menjauh. Ah... mungkin dia masih syok. Ogiwara memaklumi. Kali ini memang Ogiwara yang kurang ajar.
Canggung. Ogiwara menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal. Ia melihat ke direksi lain.
"Ah..." dan Tetsuya yang memecah atmosfer berat itu.
"Yah... bekal berhargaku. Bekal buatan Atsushi-nii terbuang sia-sia gara-gara aku." Tetsuya memunguti satu persatu sayuran serta daging yang tergeletak di lantai. "...apa masih bisa dimakan, ya? Belum lima menit kan?" gumamnya tanpa sadar.
"Hei, setelah melihat aku yang sebenarnya... apa Ogiwara-kun masih mau berteman denganku?" tanyanya tiba-tiba.
Ogiwara kembali memerhatikan Tetsuya, yang telah selesai memunguti bekalnya.
"T-tentu saja! Justru alasan aku mendekatimu karena kelemahanmu itu, Tetsuya." jawab Ogiwara mantap. Akhirnya Tetsuya menatapnya. Iris aquamarine yang terlihat berkaca-kaca itu menatapnya tak percaya. "Aku sudah tahu dari awal." Ogiwara tersenyum. "Tidak ada yang sempurna di dunia ini, sudah kuduga! Bahkan kau, kau yang dijuluki makhluk sempurna oleh seluruh anak-anak di universitas ini memiliki celah! Beruntunglah aku yang mengetahuinya, hehe. Tenang, Tetsuya. Aku akan menjaga semua rahasiamu, tapi dengan satu syarat!"
"S-siapa bilang aku sempurna. Aku tidak pernah merasa demikian!" bantah Tetsuya langsung. Pipinya yang pucat bersemu sedikit. "Dan, uhm, apa... syaratnya?"
"Akan kuberitahu. Tapi sebelumnya, ikut aku ke uks. Kita harus memerban ulang tanganmu itu. Huh. Ternyata Tetsuya ini payah dalam hal beginian. Satu lagi kelemahan Tetsuya ada di tanganku. Haha!"
"E-eh?"
"Sudah jangan banyak omong. Aku gini-gini pernah ikut pmr waktu SMA. Jangan remehkan aku, ya!"
Ogiwara membantu Tetsuya berdiri. Ia kemudian mengambil tas miliknya beserta milik temannya. Ditariknya tangan kanan Tetsuya pelan. Tetsuya diam menuruti tanpa protes. Mereka berdua menuju ruang uks seperti yang Ogiwara perintahkan.
"Oh ya, Ogiwara-kun. Hari ini aku kan membawa tiga kotak bekal. Bagaimana kalau kita makan bersama nanti? Masih ada sisa dua kotak lagi sih..." kata Tetsuya saat mereka menuruni tangga.
"S-serius, Tetsuya!? Akhirnyaaaaa aku bisa merasakan lagi makanan enak buatan langsung kakakmu itu. Duh. Mimpi apa aku semalam?"
Tetsuya tertawa kecil, yang memancing senyum tipis di wajah Ogiwara.
"Oh ya, Tetsuya. Kalau kau merasa ingin melukai dirimu lagi, lebih baik kau lakukan itu di tanganku—"
Berhenti. "Apa!? Mana mungkin aku melakukannya? Aku tidak ingin melukaimu."
Ogiwara berjalan ke hadapan Tetsuya. Kedua tangannya menggenggam dua tangan mungil Tetsuya.
"Tapi melihatmu melakukan itu pada dirimu sendiri justru membuatku tambah sakit. Sama saja kan jadinya? Aku mau kau berbagi semua lukamu itu denganku. Aku tahu kau pasti masih belum sepenuhnya percaya denganku. Hanya satu yang bisa aku janjikan. Aku, Ogiwara Shigehiro bersumpah tidak akan mengkhianatimu. Dan bila aku melakukannya, aku..." Jeda. Ogiwara menarik napas. "AKUTIDAKAKANMENDAPATKANPACARSAMPAIUMURKUEMPATPULUHTAHUN!" kalimat terakhir diucapkan begitu cepat dan kencang. Tetsuya dibuat speechless untuk beberapa saat, sebelum tawanya benar-benar pecah.
"Haha. Tidak segitunya juga, Ogiwara-kun! Bagaimana kalau itu sungguhan terjadi? Haha!"
Ogiwara dibuat mematung oleh pemandangan Tetsuya yang sedang tertawa. Ya Tuhan. Pertama kalinya ia diberi kesempatan melihat bidadari seindah Tetsuya tertawa. Wajahnya begitu lugu dan polos, pipinya memerah, manis... Ogiwara bisa kena diabetes instan kalau disuguhi pemandangan seperti ini terus menerus.
"Y-ya. Asalkan aku tidak mengingkari janjiku aku akan baik-baik saja. Benar, kan?"
Tetsuya menghentikan tawanya. "Fyuh... Kau benar. Aku hanya kaget orang seperti Ogiwara sampai bersumpah sebegitunya. Tanpa kau berjanji seperti itu, aku... percaya dengan Ogiwara-kun, kok." Kalimat terakhir terdengar setengah berbisik, tapi Ogiwara bisa menangkapnya. Senyumnya langsung mengembang, melihat itu pipi Tetsuya kembali bersemu dan ia langsung menarik tangan Ogiwara untuk pergi. "A-ayo, kita harus cepat-cepat. Aku ada kelas satu jam lagi."
Ogiwara hanya menurut sementara tangannya ditarik paksa agar mengikuti langkah cepat si pemuda yang sedang menuruni tangga. "Duh. Pelan-pelan dong, Tetsuya. Nanti kita bisa jatuh."
Akhirnya mereka memelan. Ogiwara menyamakan langkah mereka. Ia jadi penasaran ekspresi apa yang tengah dipasang Tetsuya. Ia melirik wajah Tetsuya, sayangnya setengah mukanya itu tertutupi poni panjangnya
"Ngomong-ngomong... kau ini sangat menyayangi Atsushi-nii mu itu, ya, Tetsuya?"
Ogiwara tidak menyangka pertanyaannya membuat langkah mereka kembali terhenti. Tetsuya mendongak ke atas, menatap langsung wajahnya. Angin seakan berhembus, menerbangkan helai demi helai surai biru lembut milik Tetsuya. Bibir merah muda itu bergerak. "Aku sangat menyayanginya. Tidak hanya Atsushi-nii... Semua kakakku. Aku menghormati mereka. Mereka adalah kebanggaanku, mereka adalah harta berharga yang kumiliki di dunia ini." Dan selanjutnya senyum menawan terbentuk—senyum yang selalu membuat dunia Ogiwara seakan berhenti berputar.
Betapa Ogiwara ingin menjaga makhluk ini, membuatnya agar terus bahagia. Agar bisa melihat senyum di wajah polos itu. Tapi... apakah ia bisa?
Ah. Satu lagi fakta yang Ogiwara tahu, temannya itu...
...benar-benar menyayangi keluarganya lebih dari apapun.
Hari itu, saat insiden itu terjadi, Ogiwara sedang libur kuliah. Sudah sekitar enam hari ia absen, ia sedang berada di luar kota. Kakaknya akan menikah sebentar lagi, dan ia harus membantu mempersiapkannya.
Pukul empat sore, selesai membantu mendekor ruangan, ia istirahat sebentar sambil menonton tv di ruang keluarga. Di tangannya tergenggam segelas es lemon
BREAKING NEWS!"Kami, Not TV, melaporkan langsung dari tempat kejadian, bahwa baru saha terjadi aksi bunuh diri di Universitas Tokyo—"
"Hah ada-ada saja—E-eh, tunggu! Itukan kampusku!" Ia menyadari nama Universitas Tokyo yang ditulis cetak menghiasi layar, Ogiwara yang mulai penasaran meninggikan volume suara televisinya. Menyimak baik-baik.
"Saat ini, pelaku sudah dikirim ke rumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut. Diketahui, ia bernama Tetsuya, mahasiswa dari jurusan Sastra Jepang. Masih belum diketahui motif di balik aksi ini. Menurut pengakuan salah satu mahasiswa sini, pelaku dikenal sebagai pribadi yang tertutup dan misterius—"
Gelas di tangan terlepas dari genggaman, suara kaca yang hancur membuat beberapa pekerja juga saudaranya melihat ke arahnya. Ogiwara terdiam menatap layar televisi dengan ekpresi syok.
Wajah Tetsuya terpampang di sana. Mata itu, rambutnya, ekspresi itu... tidak salah lagi, itu sahabatnya!
"Tidak mungkin..."
"Kenapa, Shigehiro?"
Ogiwara menepis langsung tangan yang baru saja mendarat di pundaknya. Ia buru-buru berlari meninggalkan ruangan menuju kamarnya di lantai dua.
Kenapa, Tetsuya...?
Pertanyaan itu terus terngiang di kepalanya selagi Ogiwara dengan buru-buru memasukan pakaian dan barang-barang seadanya ke dalam ransel secara sembarang. Kemudian ia menarik jaket yang digantung di pintu dan memakainya.
Selesai, ia berlari ke luar. Teguran saudara dan teman-temannya tak diindahkan. Ogiwara terus berjalan sampai di pinggir jalan, menyetop taksi. Mengatakan tujuannya.
Kenapa... Tetsuya? Apa karena mereka menyakitimu?
Ia gagal menyelematkan nyawa sahabatnya lagi kali ini. Meski Ogiwara sudah berjanji atas nama Tuhan tidak akan membiarkan orang-orang terdekatnya melakukan hal itu kembali.
Sejujurnya ia sudah trauma. Dan kejadian ini hanya membuatnya bertambah putus asa. Ia merasa tidak berguna.
Untuk apa ia berjuang mendekati Tetsuya, sampai mengorbankan nyawanya. Membuatnya sebisa mungkin tidak merasa sendiri.
Karena dari awal Ogiwara sudah tahu, tepatnya dari kali pertama pandangan mereka dipertemukan. Ia ingin mencoba menghentikan aksi ini jika suatu saat di masa depan Tetsuya melakukannya.
"SIALAAAAAAAN!" Teriaknya dalam taksi, membuat si supir sempat terlonjak karena kaget.
"T-tuan kau tidak apa-apa...?" tanyanya ragu, mengintip dari kaca di atas kepalanya. Terlihat Ogiwara yang sedang menunduk.
Yang sebenarnya ia sedang menangis sejadi-jadinya, tanpa suara. Air mata membasahi seluruh bagian wajahnya. Ia meremas wajahnya. Matanya melotot juga memerah.
Oh ya... Bagaimana kabar sahabatnya yang satu lagi, Momoi Satsuki? Dia kan menaruh perasaan terhadap Tetsuya. Bagaimana keadaannya saat ini—
Dan Ogiwara buru-buru mencari keberadaan si telepon genggam dalam ranselnya. Menemukannya, ia langsung menekan tombol 2 dan mulai memanggil.
Ia ingin bertanya bagaimana keadaan di sana, kenapa bisa sampai seperti ini, apa Momoi mengetahui sesuatu? Karena terakhir kali Ogiwara melihat Tetsuya tidak ada yang aneh dengan sifatnya. Ia terlihat biasa saja. Tetsuya sudah berhenti melakukan aksi self harm karena terapi yang disarankkan Ogiwara. Tetsuya juga belakangan terlihat sedikit... bahagia. Entah karena apa, Ogiwara belum sempat menanyakannya.
'LALU KARENA APA!? ATAS DASAR DAN ALASAN APA TETSUYA MELAKUKAN PERBUATAN SIALAN INI...?'
Diangkat. Tapi Ogiwara tidak mendengar jawaban apapun selain suara isak tangis
"...M-momoi-chan...?"
"... S-Shige-kun... T-tetsu-kun, hiks ... T-tetsu-kun..."
Mendengar suara sahabatnya yang bergetar, membuat air mata Ogiwara yang sempat terhenti kembali mengalir deras.
Aku... sudah tidak tahu lagi...
Ogiwara Shigehiro's side Selesai
.
Pojok Curhatan Author:
HALOOO. Long time no see Ada ya... setengah tahun? Ehehe /KNPKTW tapi chapter yang ini lumayan panjang... paling panjang mungkin di hms? /GPNTNG
Seperti biasa, ini sabun bgt. Sebenarnya banyak yang mau kumasukin di chapter ini tapi udah kepanjangan, jadi kurang2nya biar aku masukin di Momoi side aja nanti :'))
Informasi tambahan: Ogiwara itu trauma. Waktu kelas satu SMA dia pernah kehilangan sahabatnya juga. Dan kejadiannya percis kayak Tetsuya ini. Depresi, bunuh diri.
Balasan Review:
Iftiyan Herliani253 Maaaaaaaf lama ya update-nya? :'( :'( ih udah kayak bang toyib aja fanfiknya x'D Errr... rencananya kalo aku udah 'baikan'mau kelarin tahun ini. Doakan sajaaa :'( :'( terimakasih masih setia nungguin jadi terharu :'* Upah E-eh? Keaduk gimanaaa? . ChintyaRosita Maaf aku blm bisa updet kilat :'( :'( Joxxy Terima kasih! Sabar ya, kayaknya aku harus nyelesain momoi part dulu biar ms-nya bisa lanjut :') Oto Ichiiyan Hoho. Aku seneng kalo ada yang ngikut maso juga, maso sendirian ga enak ih :'( :'( Iya akunya ga konsisten hehe, tapi kayaknya bakal netep sm nama ini deh :') Oke, terserah Ichii-san. Ugh. Aku pengennya begitu... harusnya aku bagi porsi protektif mereka sama rata. Tapi kayaknya aku kebanyakan buat momen akakuronya ya? lain kali mau banyakin midokuro/murakuro ah :'( E-eh? Lagunya tentang apa kok aku jadi penasaran... /brbsrchng/ Shinju Hatsune Yup deagitap Kalo kamu bisa rasain apa yang daiki rasain itu... sakit banget. Ya... haha aku juga pernah ada di posisi dia soalnya :')) sabar yaaa :')) Hanyo4 Mari bangkitkan jiwa maso para masoer /ditendang/ insyaAllah masih lanjut kak :')) chuyachups Nah. NAH. Aku malah bayangin wajah angsty daiki yg abis nolak kuroko pas lagi ujan di smp itu :'( :'( Uuuu makasih udah setia nungguin :'* hunhandeep /kasihtisu/ memang udah pergi, tapi Tetsuya selalu ada di hati mereka kok :'))
Terima kasih buat yang udah setia nungguin fanfik ini ya :')) Aku belum tau kapan mau lanjutin ini lagi dikarenakan kondisi aku yang... kian memburuk. Aku yakin Tetsuya di sini ngutuk aku karena udah buat dia menderita terus. Huh. Oke, aku memang pantas mendapatkannya... semoga kisahku gak berakhir kayak si Tetsuya di sini aja, seenggaknya sedikit lebih baik lah! :'( :'( Lalu aku juga punya masalah sama wb... entah udah lama bgt aku g nulis... '-')
Oke, kebanyakan curhat situ thor. Sampai ketemu di lain kesempatan, ya!
