Hati Momoi Satsuki baru saja di tusuk oleh panah asmara.

Mungkin alasan yang membuatnya jatuh cinta ini bisa dibilang konyol, tapi Momoi tak peduli. Yang terpenting, ia menyukainya!

"Akashi Tetsuya-kun... Tetsu-kun..." gumamnya sambil memandangi foto sang pujaan hati dengan mata berbinar penuh cinta.

Siapa sangka hanya karena stik eskrim bisa membuatnya menemukan soulmate-nya?

"Aaaahhhh kamu keren sekali, Tetsu-kun!" Dipeluknya foto yang sempat ia ambil diam-diam. Foto dengan gaya Tetsuya yang sedang menyeruput milkshake, kebetulan, menengok ke arah kamera. Wajahnya begitu flawless dan polos. Momoi bisa gila hanya karena melihat foto ini, tolong!

Masalahnya adalah tidak hanya dirinya yang menyukai Tetsuya. Hampir seluruh siswi di universitas ini naksir dengan anak baru itu! Bisa dibayangkan betapa banyak saingannya?

Tapi ia tidak akan menyerah! Ia akan meluluhkan hati Tetsuya, apapun caranya.

Pada awalnya, saat upacara pembukaan dan Ogiwara menanyakan tentang pemuda itu, benih-benih cinta ini belumlah tumbuh. Momoi Satsuki hanya memandang sosok itu sebagai siswa biasa yang memiliki banyak kelebihan. Ia memang mendengar katanya ada satu orang yang berhasil lulus ujian neraka kemarin dengan nilai sempurna. Memang dasar ia adalah perempuan yang penasaran, ia terus mencari-cari tahu. Iseng, Momoi menanyakannya pada salah satu dosen di sana.

Ketika mendengar nama "Akashi Tetsuya", Momoi tak kaget.

Ogiwara Shigehiro, sahabat sekaligus teman masa kecilnya pernah menanyakan perihal tentangnya. Duh, yaampun. Momoi sweatdrop atas kekudetan sohibnya ini. Masa iya dia tidak mengenal Akashi Tetsuya sih?

Iya. Akashi Tetsuya yang itu. Yang punya wajah tampan walau tubuhnya kecil. Punya otak jenius setara profesor, tidak heran karena ia berasal dari keluarga berada. Kaya. Kakaknya tampan dan sukses semua. Momoi hanya pernah mendengar berita tentangnya semasa SMA dulu dan belum pernah bertemu dengannya. Hanya tahu dari sekadar foto.

Susah lho ternyata mendekati pangeran es ini. Sesuai julukannya, dia yang asli memang sangat dingin. Tapi Momoi perhatikan, perlakuannya terhadap perempuan agak berbeda dibandingkan laki-laki. Lebih sopan dan berbicara dengan lembut. Tak jarang Momoi mendapatkan senyum tampan dari Tetsuya.

...tapi ada yang aneh dengan senyum itu. Kenapa... Momoi merasa janggal?

Belakangan, Ogiwara sering mengadu sambil menangis kepadanya. Mengatakan "aku ditolak Tetsuya lagi huaaaa" sambil mengelap wajahnya yang penuh dengan air mata dan ingus buatan itu di baju Momoi.

"Shige-kun no baka!" katanya setelah menonjok perut sahabatnya itu, mengirim Ogiwara terbang dan KO di tempat.

Momoi menyilangkan kedua tangannya di perut. "M-memangnya... apa yang kamu lakukan kali ini? Apa kau membuatnya kesal?" tanyanya.

"Ugh. Aku seperti biasa mengajaknya mengobrol, mengintilinya ke mana pun ia pergi. TAPI DIABAIKAN! Bayangkan Momoi-chan perjuanganku selama beberapa bulan ini tidak membuahkan hasil sama sekali! Aku rasanya ingin terjun dari universitas ini saking putus asanya."

Ogiwara bangun sambil memijit dahinya.

"J-jangan menyerah. Kau harus bisa mendekatinya. Seperti janjimu itu. Masa hanya karena hal ini kau menyerah begitu saja. Usahamu selama ini akan sia-sia."

"Haaa? Memangnya siapa yang bilang aku akan menyerah? Aku memang sempat berpikiran seperti itu sih... tapi Tetsuya mengatakan hal yang tidak kuduga. Mau tau mau tau?"

"Beritahu aku, Shige-kun!"

"Katanya, ehm 'Jadi hanya segini saja tekadmu? Aku kecewa sama kamu, Ogiwara-kun. Buktikan padaku kesungguhanmu, aku bukan laki-laki gampangan, tahu!' begitu." Ia menirukan ekspresi Tetsuya dan berbicara dengan nada monoton-yang malah bikin Momoi sakit mata dan telinga.

"Tidak cocok! Jauh! Aku sih NO! Mana mungkin Tetsu-kun bicara begitu!" Momoi tidak percaya Tetsuya yang minim ekspresi itu akan mengatakan kata-kata lebay seperti yang Ogiwara tirukan. Tidak. Itu pasti hanya akal-akalannya saja.

"Kamu tidak percaya denganku? Dengan sahabatmu ini? Jahat kamu, Momoi-chan!"

"Biarin," jawabnya sambil menjulurkan lidah.

Ah. Tapi... jika orang segigih dan seperti Ogiwara saja sulit mendekati Tetsuya, apa jadinya dirinya yang lembek ini? Momoi jadi putus harapan...

"Tapi tenang, Momoi-chan. Setelah mendengar pengakuan Tetsuya, aku tidak akan menyerah! Aku pastikan dia akan takluk padaku. Haha!"

Ambigu. Pikir Momoi dari tadi.

Eh... tunggu!

"Jangan bilang kamu juga naksir Tetsu-kun?!" Karena bisa gawat kalau saingan Momoi tambah lagi. Sahabatnya, laki-laki pula!

"MANA MUNGKIN BODOOOH. AKU INI MASIH NORMAL! Aku masih menyukai oppai besar yang mustahil dimiliki Tetsuya."

"Shige-kun!"

"Tapi... aku punya alasan sendiri kenapa aku harus mendekatinya. Aku tidak ingin menyesal lagi," katanya pelan. Lalu seakan tersadar... "Eh? Jangan bilang Momoi-chan yang naksir Tetsuya?!"

Wajah Momoi langsung memerah sepenuhnya.

Crap. Ketahuan!

.

.


.

Hello My Story

HiStory

.

KNB (c) Tadatoshi Fujimaki

HMS (c) Nameless Pierrot

.


.

.

Beberapa bulan selanjutnya, Ogiwara datang membawa kabar baik dan buruk.

Kabar baiknya, ia berhasil menaklukan hati sang tuan Putri—ehm, maksudnya Tetsuya.

Kabar buruknya, ternyata Tetsuya menyimpan suatu rahasia yang mengejutkan.

Saat itu mereka belum mengenal satu sama lain. Mendengar Ogiwara mengatakan bahwa teman barunya itu menderita depresi dan telah melakukan self-harm dalam kurun waktu yang begitu lama, lagi-lagi Momoi harus menelan kenyataan pahit.

Pemuda yang ia taksir selama ini telah menderita.

Momoi tak bisa membayangkan kulit putih Tetsuya di dalam sana yang penuh luka… Pantas saja Tetsuya selalu memakai baju tertutup!

Saat itu juga, ia langsung menyarankan untuk membawa Tetsuya ke psikiater.

Mereka sempat berkenalan sebelum berangkat ke salah satu psikiater kenalan Momoi hari itu, dan seperti gadis normal lainnya, ia malu-tidak, sangat malu-saat Tetsuya balas menjabat tangannya. Mengatakan "Senang berkenalan denganmu," dengan suara yang amat lembut tak lupa senyum manis di wajah yang sudah sangat manis itu (Momoi takut ia akan terkena diabetes jika melihatnya terlalu lama, maka ia langsung menunduk).

.

.

.

.

Dengan ini dimulailah sesi konsultasi Tetsuya. Setiap pertemuan, Ogiwara atau Momoi, atau bahkan keduanya pasti selalu menemani Tetsuya. Berharap ini semua bisa menyadarkan teman mereka. Setelah semua, keduanya hanya ingin Tetsuya sembuh. Dan menjalani hari-harinya seperti anak muda kebanyakan, terlepas dari semua kesedihan yang membebani dirinya.

Mereka tidak tahu depresi itu seperti apa. Dokter bilang, itu seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja, sekali kau menyenggol hal yang paling sensitif menurut mereka, BAM, semua berakhir.

"Ketika kau dalam mode depresi, kau tidak akan ingat dan takut apa-apa. Rasa sakit, bahkan kematian. Yang kau inginkan hanya ingin lepas dari belenggu tak kasat mata ini, apapun caranya. Itulah yang membuat depresi mengerikan," kata dokter Hirano.

.

.

.

"Dengar, Tetsuya-kun. Perasaan yang kamu rasakan itu, bahwa kamu tidak berguna dan hanya menjadi beban untuk kakak-kakakmu, kamu harus mengenyahkannya. Itu tidak benar, semua pikiran negatif yang terus membisikimu itu... Hanya membuatmu semakin jatuh dan jatuh. Kamu bukan beban untuk mereka. Terkadang, kamu juga harus mencoba mengerti posisi para oniisanmu. Aku curiga mereka juga butuh konsultasi sama sepertimu.

Kamu berharga. Semua orang menyukaimu, Momoi salah satunya, dia sangat menyukaimu." Akan pernyataan sang dokter wajah Tetsuya sempat memerah sebentar sebelum kembali ke warna aslinya. "Kau bilang kau juga memiliki teman laki-laki keras kepala yang overprotektif padamu juga kan? Si bocah Ogiwara itu. Dia anak yang baik, kau bisa percaya padanya.

Tidak baik bila kita menyalahkan semua orang hanya karena kesalahan satu orang. Semua orang berbeda, Tetsuya-kun. Kalau kau menilai semua sama, kau salah. Perasaan manusia itu sangatlah kompleks."

Setelah melewati berbagai pertemuan, Tetsuya merasa kondisinya sudah baik-baik saja, ia menyarankan untuk menyudahi konsultasi mereka. Mengatakan ia tak ingin merepotkan teman-temannya dengan menemaninya pergi berkonsultasi terus-terusan.

Setelah mengobservasi dan mempertimbangkan banyak hal, sang dokter akhirnya memutuskan untuk menyudahi sesi konsultasi mereka. Dengan catatan, jika kondisi Tetsuya kembali memburuk, dia memohon agar Tetsuya langsung menemuinya, atau setidaknya menghubungi Momoi/Ogiwara.

Self-harm yang dilakukan Tetsuya terlalu ekstrem, meski Tetsuya berkata ia tak berniat sama sekali membunuh dirinya dan self harm yg dilakukannya hanya sebagai pengalih sakit hatinya, tapi tetap saja dari cerita Tetsuya (sangat sulit memaksa pemuda ini untuk mengatakan apa saja yang telah dia lakukan pada tubuhnya sendiri), dia dapat menyimpulkan bahwa itu semua berbahaya. Orang gila macam apa yang... Meminum obat tidur sampai lebih dari sepuluh tablet...? Mungkin Tuhan terlalu menyayanginya makanya laki-laki ini masih duduk manis di hadapannya sampai saat ini. Menempelkan api lilin yang menyala pada perut sampai dadanya (memangnya tubuhnya tidak merasakan sakit?). Dan Tetsuya juga berkata dia pernah kelewatan melakukan cutting di tangannya sampai dia jatuh koma dan rahasianya hampir diketahui keluarganya.

Dokter itu bertanya kepada Tetsuya dengan suara yang amat lembut.

"Apakah tidak sakit?"

Semua yang kau lakukan pada dirimu, menyiksa dirimu, apakah tidak sakit?

Tetsuya memegang dadanya, menunduk. Ujung bibirnya tertarik ke atas. Melihat senyum sedih terpasang di wajah pucat pasiennya, rasanya seperti ada sesuatu yang menusuk-nusuk jantungnya.

"Sejujurnya... Hanya cara ini yang membuatku sadar, Sensei."

"Terkadang, aku bertanya, apakah aku masih hidup? Apakah yang kurasakan ini nyata? Terkadang rasa sakit ini membuat tubuhku mati rasa. Aku butuh sesuatu untuk mengingatkanku bahwa aku masih hidup. Aku butuh sesuatu untuk mengalihkan perasaan tak mengenakkan ini. Dan melihat darah mengalir dari tubuhku cukup membuatku lega.

Ada saat di mana aku ingin sekali... tertidur. Aku ingin lari dari kenyataan ini. Aku ingin kembali ke saat di mana Okaa-san dan Otou-san masih ada, saat semuanya masih baik-baik saja.

Lalu, saat di mana aku... Takut mati. Aku takut mati... Takut sekali, Sensei. Masih banyak hal yang belum kulakukan. Aku tidak ingin meninggalkan mereka. Aku sudah berjanji pada mereka. Daiki-nii... Aku tidak ingin melihat wajah kecewa Daiki-nii dan menangis seperti waktu itu. Tidak ingin melihat air mata mengalir di wajah Seijuurou-nii, Shintarou-nii, Ryouta-nii, dan Atsushi-nii... Aku ingin menunggu mereka kembali padaku. Tapi apakah akan sempat? Apakah aku bisa menyambut mereka dan mengatakan, "tadaima, oniisan" saat itu terjadi. Atau, mereka tidak akan pernah kembali...?" Tetsuya menggigit bibirnya yang bergetar.

Saat seperti inilah ia akan mendekati Tetsuya, membawa tubuhnya dalam dekapannya, memeluknya penuh sayang "Percayalah, mereka akan kembali padamu. Sebentar lagi... Kau harus bersabar, Tetsuya-kun."

"Jika aku sudah terpojok, tidak tahu apa yang harus kulakukan... dan pikiran 'itu' datang padaku, apakah itu salah? Jika aku mencoba melakukannya-"

"Tidak boleh, Tetsuya-kun," potong sang dokter cepat. "Jika situasi tak diinginkan terjadi, datanglah padaku. Kau juga memiliki Satsuki-chan dan Shigehiro-kun. Kami selalu ada untukmu. Jadi, jangan ragu untuk bergantung pada kami, Ne?"

"Baiklah."

Kali ini, tidak ada air mata yang mengalir dari manik sewarna langit musim panas. Itu hanya menatap tembok putih dengan pandangan menerawang.

.

.

.

"Satsuki-chan, kuserahkan Tetsuya-kun padamu ya. Tolong awasi dia, kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Untuk sekarang... Kurasa sudah baik-baik saja. Dan semoga seterusnya kondisi dia tetap membaik."

Akhir pertemuan, Hirano-sensei sengaja menahan Momoi sebentar, sementara Ogiwara sudah membawa Tetsuya ke mobil lebih dulu. Sepertinya masih ada keraguan pada diri sang dokter tentang keadaan Tetsuya. Ia takut melepasnya sendiri.

"Aku ingin sekali berbicara dengan keluarganya, tapi aku sudah berjanji pada Tetsuya kalau aku tidak akan memberitahukan ini semua pada kakak-kakaknya sebagai syarat untuk—oh. Aku terlalu banyak bicara. Pokoknya, aku mengandalkanmu, Satsuki-chan."

.

.


.

.

Mungkin tidak ada yang tahu, selain tiga orang itu, bahwa setelah Tetsuya selesai menjalani pengobatannya, dia jadi lebih baik dan mungkin sedikit bahagia.

Tetsuya mulai bisa terbuka dengan teman-teman di sekitarnya. Hatinya yang dingin mulai menghangat. Dia bisa berinteraksi seperti biasa dengan mereka, tak jarang kau menangkap senyum manis di wajah tampan itu-meski tidak ada yang tau apakah senyum yang ditampilkan Tetsuya tulus dari hatinya atau hanya kepura-puraan seperti sebelumnya.

Dan seolah kembali ke masa lalu, seolah mengulang ingatan yang buruk, lagi-lagi Tetsuya dihadapkan pada situasi yang sama, tepatnya saat dia masih duduk di bangku sekolah dasar.

Ketika teman-temannya mendekatinya seperti semut yang mengerubuti gula, hanya karena Tetsuya jadi sedikit terbuka dan lebih ramah kepada mereka.

Mulanya, Tetsuya tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Perlakuan mereka tanpa sadar telah memanggil mimpi buruk Tetsuya, mengingatkannya tentang orangtuanya yang meninggal, kakaknya yang berubah, dirinya yang sendirian, darah, dan-dan-

Beruntungnya, Ogiwara yang selalu terlihat menempel di kampus bersama Tetsuya, menyadari tatapan horor sobatnya-yang sialnya hanya dirinya yang menyadarinya, membuat Ogiwara menegang.

"Sudah jam berapa sekarang?! Tetsuya, aku lapar, ke kantin yuk!"

"O-ogiwara-kun...? Barusan kan—"

"Halah. Seperti kau tidak tau perutku saja. Dengar, aku yakin kau bisa mendengar suara perutku," Ogiwara memajukan perutnya ke depan. "Brrrrrr. Dengar? Ayo cepat ke kantin sebelum aku mulai memakan kalian!"

"Ogiwara tidak asyik ah! Kami kan masih ingin bertanya-tanya tentang Tetsuya-kun!"

"Selama ini kau selalu memonopolinya. Beri kami kesempatan untuk lebih dekat dengannya, Ogiwara!"

"Benar! Dia juga butuh teman yang lain selain kau dan Sacchan—"

"Ano..." Tetsuya bergumam. Mengambil perhatian orang-orang yang menyerbu dan mengomeli Ogiwara. "K-kurasa aku juga lapar, teman-teman."

Ketika Tetsuya mulai buka suara, tidak ada yang berani membantahnya. Mereka terdiam.

"Nah! Kalian dengar sendiri Tetsuya bilang apa kan? Ayo Tetsuya kita ke kantin. Dah, semuanya!" Memastikan pegangan pada pergelangan tangan Tetsuya sudah erat namun tak terlalu kencang, Ogiwara langsung menarik tubuh kurus Tetsuya keluar dari kerumunan tanpa memberi mereka waktu untuk menjawab. Bisa gawat kalau mereka malah mengikutinya kan.

Apakah mereka tidak sadar kalau pertanyaan mereka membuat Tetsuya tidak nyaman? Dan ekspresi horor di wajah sahabatnya itu... apakah tidak ada yang menyadarinya?

Ogiwara tak benar-benar membawanya ke kantin. Mereka hanya berjalan tanpa arah menyusuri koridor yang ramai. Beberapa bahkan sempat menyapa Ogiwara dan Tetsuya di jalan.

Hingga kaki mereka terhenti di belakang gedung. Tak ada orang di sana.

Ogiwara melirik Tetsuya yang hanya menunduk diam sedari tadi. Lagi-lagi ia bingung harus bagaimana di situasi seperti ini.

"Maaf, Tetsuya. Seharusnya aku menyadarinya dari awal. Kau pasti tidak nyaman…. Salahku—"

Kaosnya ditarik, "I-ini semua bukan salah Ogiwara-kun!" sela Tetsuya dengan suara yang tinggi.

Melihat ekspresi terkejut di wajah temannya, Tetsuya langsung menunduk. Pegangannya pada kaos Ogiwara semakin menguat, tapi ia tak lagi berani menatap temannya itu. "Aku... sudah kuduga aku tidak menyukai mereka... mereka mengerikan." Kini suaranya seperti berbisik.

Bohong kalau Ogiwara tidak kaget, ketika seorang Akashi Tetsuya meneriakinya. Meski bukan yang pertamakali, tetap saja ia terkejut. Tidak baik membuatnya sampai meledak seperti itu, terutama untuk jantungnya (karena percayalah itu membuat jantungnya berhenti berdetak untuk beberapa detik, bayangkan kalau jantungnya berhenti selamanya hanya karena dirinya diteriaki Tetsuya). Ogiwara membuat catatan untuk dirinya sendiri.

Ogiwara melingkarkan lengannya ke sekitaran tubuh Tetsuya. "Ssssh. Kalau begini kau benar-benar membuatku merasa bersalah, Tetsuya."

Bukan salah Ogiwara-kun! Ogiwara dapat mendengar Tetsuya yang bergumam di dadanya. Ia hanya mengelus bagian belakang temannya, hal yang selalu dilakukannya dalam keadaan seperti sekarang.

"Shige-kun! Tetsu-kun! Di sini kalian rupanya! Aku mencari kalian ke mana-mana dan kalian malah asyik berdua... sambil berpelukan?"

Momoi Satsuki tiba-tiba menunjukan diri. Mendapati posisi dua sahabat lelakinya yang sedang berpelukan, di tempat yang sepi pula, tiba-tiba pikirannya kosong.

"Maaf, apa aku mengganggu kalian?"

"Ya?" Kata Ogiwara dengan nada seolah bertanya.

Tetsuya ikut menengok ke arah teman perempuannya yang baru datang, Momoi Satsuki. Ketika perhatiannya Momoi jatuh padanya—

"T-tetsu-kun, kau menangis?! Shige-kun, kau apakan Tetsu-kun sampai dia menangis, ha?!"

"Aku tidak—"

Momoi menerjang, mendorong Ogiwara agar menjauh.

"Kau pasti memukulnya, ya! Mengaku kau! Dasar laki-laki kasar! Brengsek!"

"Tunggu, Momoi-chan kau tau sendiri aku tidak akan melakukan hal seperti itu kecuali jika..." omongannya tak dipedulikan. Momoi malah merebut Tetsuya dari dekapan Ogiwara dan ganti memeluknya. Tanpa sadar menempelkan dua bola berisi yang ada di dadanya ke tubuh Tetsuya, Ogiwara dapat melihat wajah temannya yang sedikit memerah. "...ada yang memulainya. Dan Tetsuya adalah orang yang tidak akan melakukan hal itu." Ogiwara tetap melanjutkan kalimatnya lalu menghela napas.

Momoi sedang menepuk-nepuk kepala Tetsuya pelan, sambil mengatakan, "Daijobu daijobu Tetsu-kun. Kau aman bersamaku."

"A-aku tidak menangis, Momoi-san."

"Ya. Ya. Tetsu-kun tidak menangis, Tetsu-kun kan sudah besar jadi tidak boleh menangis, oke. Ogiwara-kun-" Momoi meliriknya sinis, "—brengsek. Dia itu memang musuh perempuan."

Apa hubungannya coba, Satsuki-chan?!

Tetsuya itu kan laki-laki! Maksudmu apa mengatakan itu kepadanya?

Tetsuya meliriknya prihatin, Ogiwara sekali lagi menghela napas lelah sebelum menampilkan senyum penuh pengertian pada Tetsuya. Sementara Momoi masih saja sibuk mengatakan hal yang buruk tentang Ogiwara, berharap kata-katanya bisa menghibur teman berambut birunya.

Perhatian Tetsuya kembali pada teman wanitanya. Mendengarkan segala celotehan yang keluar dari bibir si gadis dengan penuh perhatian tentang sahabatnya yang lain. Ia tak bisa menahan tawanya ketika menangkap kata, "Ogiwara, Mesum, dan Buaya darat" berada dalam satu kalimat.

Ogiwara tidak peduli lagi soal namanya yang menjadi bahan ejekan. Ia tahu Tetsuya tidak akan memercayai semua omongan yang keluar dari mulut Momoi begitu saja. Tapi ketika melihat Tetsuya yang tertawa seperti tadi membuatnya turut senang, pun begitu dengan Momoi.

Tak disangka, Tetsuya kemudian memeluk Momoi Satsuki. Berbisik, "Terima kasih," pelan sekali di telinganya, hanya Momoi yang dapat mendengarnya. Dan ketika ia menangkap apa yang diucapkan Tetsuya, pipinya langsung memerah.

"Apapun untuk Tetsu-kun…" gumam Momoi pelan.

Tubuhnya dipeluk Tetsuya. Tangan Momoi sudah melingkar di belakang tubuh si pemuda, bersiap membalas. Namun membeku di udara.

Apapun asalkan aku bisa melihat senyummu, aku sudah senang, Tetsu-kun….

Ia memutuskan membalas pelukan Tetsuya. Kapan lagi ia diberi kesempatan dipeluk cowok yang ditaksirnya? Kesempatan berharga seperti ini tak akan ia lewatkan! Momoi membenamkan wajahnya pada dada Tetsuya, menghirup harum vanila yang menguar dari tubuhnya.