Ketika kakinya tak lagi menapak pijakan atap universitas, Tetsuya sudah benar-benar dinyatakan mati.
Mata birunya yang sudah lama kehilangan cahayanya itu hanya bisa menatap langit cerah di atas. Sama sekali tak tersilaukan oleh terik sinar mentari. Membiarkan tubuhnya yang kurus itu ditarik gravitasi bumi, siapa sangka dalam beberapa detik ia akan menemui malaikat maut.
Sepuluh
—Bertemu dengan kaasan dan tousan.
Sembilan
—terlepas dari semua penderitaan ini.
Delapan
Tak lagi merasakan sakit ketika orang-orang yang amat dirindukannya tak lagi menatap dirinya.
Tujuh
…bertemu ketenangan, kedamaian, ketentraman…
Enam
"Maafkan aku Momoi-san, Ogiwara-kun…"
Maaf karena aku harus pergi duluan.
Lima
"Niisan… maafkan Tetsuya. Tetsuya tidak akan menyusahkan kalian lagi jadi… sayo—"
Empat
—Tetsuya harus kuat, tak peduli cobaan apa yang menghadang di masa depan, janji ya…
Tetsuya… walaupun aku seperti ini… jika terjadi sesuatu jangan ragu untuk datang padaku.
Tetsuyacchi, Niichan akan menjadi apapun yang Tetsuyacchi butuhkan! Bila ada orang yang menganggumu Niichan akan menjadi polisi dan menghukum mereka! Jika Tetsuyacchi sakit niichan akan jadi dokter dan menyembuhkanmu! Jika Tetsuyacchi butuh hiburan Niichan sendiri yang akan menghiburmu! Oh! Tetsuyacchi menyukai langit biru kan? Suatu hari nanti Ryouta-niichan akan membawamu terbang ke atas sana, jadi ingat baik-baik dan tunggu ya. Tetsuyacchi tidak boleh ke mana-mana sampai kita bisa terbang berdua!
Tidak sakit, tidak sakit, Tetsu-chin. *Cup* hora, pergi sana rasa sakit jangan ganggu Tetsu-chin lagi hush hush! Jangan menangis lagi, kay? Adik niichan tidak boleh menangis, nanti kalau manisnya hilang bagaimana?
Wah tak kusangka kau begitu kuat, Tetsu! Ah… benar, tidak boleh melihat seseorang dari penampilan ya. Hahaha—Aduh! Iya aku ingat, Tetsu tidak perlu dipukul sakit tahu! Aku yakin kau akan menjadi anak yang kuat di masa depan. Stay strong dan jangan menyerah!
Lima
"Nii-san?" kabut yang beberapa hari menyelimuti pikirannya mulai menghilang. Sedikit demi sedikit suara kakaknya itulah yang membantu mengusir keraguan yang berada di hatinya.
.
"J-jika ada masalah, atau sesuatu yang mengganjal hatimu... kau tau... kau bisa berbicara padaku—a-atau dengan yang lainnya. Meski aku seperti ini... jangan ragu untuk datang kepadaku. Aku akan mendengarkanmu."
.
Empat
"Kami…. Apa yang tlah kulakukan…? Tolong—" tangan kanan mencoba meraih langit. Mencari pegangan, sesuatu, apapun itu untuk menghentikan gravitasi yang menariknya ini. "Berhenti…!"
Terlambat
Tiga
"Aku takut… hiks…" bulir-bulir air matanya ikut terjatuh bersamanya. "Tetsuya takut, Niisan…" Wajah-wajah para niisannya yang muncul mulai memburam oleh air mata.
Beberapa detik sebelum bertemu kematian, rasa takut yang selama ini mecegahnya untuk melakukan hal ini menyadarkannya.
Dua
Untuk orang yang tulus menyayangimu, mereka tidak akan berpikir bahwa kau adalah masalah, apalagi beban.
Kau tau sendiri... kau yang paling tau, Sangat menyakitkan untuk melihat orang yang kau cintai menderita. Begitupun mereka...
Kau terlahir untuk dicintai. Kau selalu dicintai meski mereka seperti itu, Tetsuya.
Mereka yang mencintaimu akan terus bertarung, bukan untukmu, tapi bersamamu, tak peduli kesempatan untuk menang sangatlah tipis.
Jadi tetaplah bertahan. Meski otakmu mengatakan padamu percuma, tidak ada lagi alasan untukmu untuk tetap bangun, dan yang kau butuhkan hanya istirahat selamanya.
Mereka selalu ada untukmu dan mereka mengerti. Kau hanya perlu jujur tentang perasaanmu; itulah jawaban dari semua kebingunganmu selama ini.
Mereka tidak bisa membaca pikiranmu, tentu saja mereka tidak akan tau jika kau tak mengatakannya. Mereka hanyalah manusia biasa, Tetsuya. Wajar untuk seorang manusia melakukan kesalahan, bila kau merasa perbuatan mereka salah terhadapmu, kau cukup katakan itu. Kau tidak senang mereka mengabaikanmu? Kau ingin kalian menghabiskan waktu bersama seperti dulu? Kau ingin tau alasan mengapa mereka berubah? KATAKAN!
Jika kau hanya diam dan lari, maka akhir seperti inilah yang pantas kau dapatkan. Jadi jangan menyesal...
Terlambat... kau tidak bisa kembali...
Mulutnya terbuka lebar, Tetsuya baru ingin meneriakan sesuatu ketika—
Satu—
!
Tubuhnya akhirnya berbenturan dengan permukaan tanah.
"Aaaarrrgggghhhh…."
Keras sekali, Tetsuya bisa mendengar seluruh tulangnya berbunyi karena patah. Yang dilihatnya terakhir kali adalah tangannya yang berusaha menggapai langit sebelum kegelapan mengambil alih.
Sakit… tubuhnya mengejang karena sakit yang tak tertahankan. Itulah mengapa Tetsuya takut…
sakit… gelap… niisan… takut…
"Ssssh… Daijobu, Tousan di sini, sayang…"
"Tetchan….? Kemari sayang… "
Kaachan? Touchan?
"Ya, ya, ke sini. Ya ampun jagoan Touchan masih saja cengeng. Jangan menangis Tetsuya."
"Tet-chan, kenapa kamu ada di sini?"
Aku… kenapa aku tidak bisa melihat kalian?! Kalian berbicara dengan siapa?!
"Tou-chan… Kaa-chan… Aku pulang!"
Suara siapa itu…?
.
.
.
—Kembali ia terjatuh
Lagi dan lagi…
Niatan tuk coba bangkit kembali tlah pupus
Pada akhirnya, ia yang tlah dibuat hancur oleh mereka, benar-benar hancur dan tak bisa kembali
Teringat sesuatu. Senyum yang mereka berikan padanya ketika ia benar-benar sudah menyerah.
Saat itu ia baru tersadar…
Namun semuanya telah terlambat
.
.
Hello My Story
FALL
.
KNB © Tadatoshi Fujimaki
HMS © Nameless Pierrot
.
.
Mengabaikan panggilan Atsushi-nii-nya, Tetsuya langsung berlari menuju kamarnya tak peduli tubuhnya sangat lemah saat ini. Wajah ditundukan, berharap kakaknya yang bertubuh bongsor itu tak melihat air mata—yang berusaha Tetsuya tahan sedari tadi tapi turun juga ketika Seijuurou menamparnya, oleh kakaknya yang terkenal lembut. Kakak pertamanya yang selalu menenangkan Tetsuya saat ia menangis di waktu kecil, yang selalu mengajarinya dan mengajaknya bermain... Tetsuya tak habis pikir, sebegitu nakalnya kah ia sampai membuat Sei-nii geram?
Bodoh. Kalau sudah begini apa yang harus ia lakukan?
Kalau Tetsuya tahu kakaknya sedang menunggunya di rumah, ia tidak akan pulang malam ini. Lebih baik Tetsuya tetap di guda—tidak, tidak, menginap di hotel. Haizaki tak perlu capek-capek menggendongnya sampai rumah.
Pikirannya kacau. Entah setan apa yang merasukinya sampai ia berbicara dengan nada tinggi kepada kakaknya, terlebih ia beberkan semua uneg-uneg yang ada di hatinya selama ini. Rahasia yang seharusnya ia simpan rapat-rapat dan kalau bisa ia bawa sampai mati.
Teringat akan kekecewaan yang tergambar jelas di wajah lelah Seijuurou-nii, Tetsuya menutup mulutnya yang mencoba mengeluarkan isak tangis.
Maafkan aku, Seijuurou-nii... maaf... Tetsuya anak nakal... Tetsuya tidak tahu terima kasih...
Jika kakak-kakaknya tahu apa yang sudah Tetsuya perbuat selama ini... mungkin ia tak hanya menerima tamparan dari Seijuurou.
Tidak... aku tidak ingin melihatnya lagi... wajah kecewa Niisan...
Apa mereka masih akan menerima Tetsuya jika mengetahui kenyataannya?
Jangan benci aku...
Bayangan akan para kakaknya yang benar-benar meninggalkannya, wajah kecewa dan marah mereka, punggung yang berbalik, kegelapan, sendirian...
Tidak...jangan... jangan tinggalkan aku...!
Tangan Tetsuya yang satunya menggapai ke depan, seolah keenam kakak berambut pelanginya benar-benar ada di sana. Padahal tidak ada apa-apa di hadapannya, hanya pemandandangan kamarnya yang tertata rapi.
"Aku menyesal... niisan…"
.
"Aku tidak habis pikir... Tetsuya, kau..." ekspresi serius di wajah Ogiwara benar-benar menyeramkan. Ia tak tahu kalau Ogiwara akan seperti ini jika marah... Ogiwara yang selalu bersamanya adalah Ogiwara yang selalu menebar senyum ceria, Ogiwara yang cerewet tapi peduli.
"Ayo, Momoi-chan." Ia menarik Momoi agar pergi menyusul kakak-kakaknya yang sudah jauh. Momoi hanya melihatnya sekilas dengan mata berair, menggumam "Tetsu-kun..." dengan suaranya yang begetar dan berjalan mengikuti sahabatnya.
Jantungnya berdetak keras sekali. Keringat dingin mengaliri wajahnya. Rasa panik yang luar biasa membuat dadanya sesak, ia kesulitan bernapas.
"Ogiwara-kun... Momoi-san... maaf... maafkan aku!"
Kali ini tak hanya tangannya yang meraih-raih. Tetsuya merangkak ke depan, mencoba menggapai keluarga dan teman-temannya. Namun tangannya yang lemas itu tak kuat menopang tubuhnya sendiri hingga akhirnya ambruk ke lantai. Isakan keras lolos, Tangan kirinya tak lagi menutupi mulutnya, tangan kanannya tak lagi menggapai—sesuatu yang tak ada. Kedua tangannya kini menggenggam dadanya. Sakit. Sakit sekali...
Buat ini berhenti, siapapun... sakit...
.
.
.
.
"Tetsuya?" Ketukan pintu. "Ini aku. Bisa kau bukakan pintunya, Seijuurou bilang kau tidak enak badan. Aku ingin memeriksa keadaanmu."
Samar-samar terdengar ketukan pintu. Tetsuya membuka matanya sedikit. Pandangannya berbayang, sulit untuk melebarkan matanya karena sepertinya matanya bengkak. Kepalanya pusing.
Ia hanya ingin tidur lagi….
"Tetsuya? Apa kau baik-baik saja?"
Tapi suara kakaknya tak boleh diabaikan. Bisa gawat kalau Shintarou-niisan mengetahuinya.
"Hei? Tetsuya?"
Matanya terbuka setengah. ia mencoba bangkit. Baru sadar kalau semalam ia menangis sampai ketiduran di lantai. Tetsuya menyesuaikan penglihatannya yang tak fokus sebentar, sebelum menjawab dengan suara serak.
"...iya, Shintarou-nii."
"Kau... terdengar tidak baik. Ada apa, Tetsuya? Bisa kau bukakan pintunya dulu? Atau aku harus memakai kunci cadangan... Seijuurou bilang hanya tidak enak badan tapi—" terdengar suara gerutuan pelan khas ala Shintarou di luar sana. Tetsuya hanya dapat mendengar beberapa. "Tunggu, Tetsuya, aku akan membukanya dari luar."
Mata Tetsuya langsung melebar seketika. "Jangan, Niisan!"
Tetsuya langsung bangkit dari posisi tidurnya, refleks. Rasa sakit langsung menusuk kepalanya. sekujur tubuhnya sakit, mungkin karena ia tertidur dengan posisi yang salah di lantai. Ia memang tertidur dengan posisi meringkuk.
Shintarou-niisan jelas tidak boleh melihat kondisi menyedihkannya ini!
Menelan ludah, sambil beberapa kali menghela napas, Tetsuya mencoba berusaha menenangkan dirinya. Bersikap senormal mungkin, Tetsuya.
"Tetsuya baik-baik saja kak. Tidak perlu repot-repot memeriksaku."
Ia menyeret tubuhnya mendekati pintu. Menyandarkan tubuhnya lalu menutup matanya. Denyutan di kepalanya belum juga berhenti. Rasanya kepalanya ingin pecah.
"Lalu bisa kau bukakan dulu pintunya agar aku bisa melihatnya dengan mata kepalaku? Kau jelas-jelas terdengar tidak baik, Tetsuya."
"Ah... suaraku di pagi hari memang agak serak kak—" bohong. "Tetsuya malas membuka pintunya... masih ngantuk..."
"Kalau begitu biar aku minta kunci cadangan dulu. Aku tidak akan tenang kalau belum memastikannya—ah? Siapa lagi meneleponku pagi-pagi begini. Aku baru saja pulang, tak bisakah mereka memberiku waktu istirahat, Kami..."
"Ya, halo? Kenapa, Takao?"
"Belum ada 1 jam aku berada di rumah ini... kau sudah memanggilku kembali bekerja...? Coba, di mana letak akal sehatmu, Takao!"
"Yaampun kepalaku hampir meledak karena semalaman harus mengurusi pasien A, sekarang pasien B juga... siapa yang mengizinkannya mengambil cuti saat orang yang menjadi tanggung jawabnya sedang dalam kondisi rentan? Kalau begini aku yang repot! Cepat kau cari dokter spesialis penggantinya! ... berisik. Tidak bisa kau urus dulu apa?"
"Kakak…" Ia menginterupsi. "seseorang membutuhkanmu. Kau harus segera ke sana. Tetsuya... jika dibandingkan dia, aku baik-baik saja." Pembohong.
Jeda. Lalu terdengar helaan napas yang besar. "Baiklah. Tunggu aku, Takao."
"Maafkan aku Tetsuya. Kalau sempat siang nanti kau datang saja ke rumah sakit biar kuperiksa langsung di sana ya."
"...hm"
"Jangan lupa sarapan. Dan..." jeda beberapa detik. Tetsuya menunggu. "j-jika ada masalah, atau sesuatu yang mengganjal hatimu... kau tau... kau bisa berbicara padaku—a-atau dengan yang lainnya. Meski aku seperti ini... jangan ragu untuk datang kepadaku. Aku akan mendengarkanmu."
Bibirnya tersenyum otomatis. "Hm. Aku mengerti. Terima kasih, Shintarou-nii."
"Ittarashai, Tetsuya."
"Hati-hati di jalan, Shintarou-nii."
Matanya kembali terbuka. Kosong. Sakit di kepalanya sudah tak segila tadi, sudah bisa ditolerir. Berpegangan pada tembok, ia memaksa tubuhnya yang lemas untuk bangun. Awalnya kakinya gemetar. Tetsuya diam sampai tremor di kakinya berhenti.
Kalau sudah begini ia benar-benar butuh obat 'itu'.
Tidak, tidak boleh. Ia menggelengkan kepalanya, memaksa pikirannya agar tak . Tetsuya sudah berjanji tak akan mengonsumsi barang haram tersebut.
Tapi tubuhnya sungguh tak enak. Seperti ada yang kurang…. Menggigil tapi keringat tetap mengaliri wajahnya.
Pertama, Tetsuya berjalan pelan ke arah meja di samping tempat tidur, mengambil remot untuk mematikan ac di kamarnya. Ia kemudian duduk di tepi kasur. Memeluk tubuhnya sendiri. Ia belum berganti pakaian sejak empat hari belakangan. Ah… Mungkin itu yang membuatnya kedinginan sekarang?
Tetsuya memaksa tubuhnya agar berjalan ke kamar mandi. Kakinya sudah seperti jelli, wajar, empat hari perutnya tak diisi. Wanita itu hanya mencekoki Tetsuya cairan haram tersebut selama dia mengurungnya. Haizaki memang sempat menawarinya makanan, tapi Tetsuya menolaknya. Ia tidak lapar.
Haizaki Shougou. Satu angkatan di atas Tetsuya. Ia tak mengerti laki-laki itu. Padahal Haizaki yang mengenalkan Tetsuya dengan mimpi buruknya, jika Tetsuya tak pernah bertemu wanita itu, mungkin hidupnya tak akan serumit ini.
Dia menghancurkannya. Wanita itu yang pertamakali mengajarkannya apa arti cinta, pun dia yang menghancurkan hidupnya.
Cinta pertamanya, Hanamiya Makoto.
Diingatkan oleh wanita itu, konsentrasinya langsung buyar. Ia yang sedang bersusah payah ke kamar mandi dengan menyeret kakinya, tepat di depan pintu kamar mandi, seperti ada tali yang tiba-tiba mengikat kakinya membuat Tetsuya terjatuh dengan suara bedebam yang cukup keras—padahal ia tersandung kakinya sendiri.
Ia diam. Tak ada reaksi apapun, bahkan Tetsuya sama sekali tak mengeluarkan suara kesakitan.
Tapi jika kau melihat wajahnya, itu penuh teror, seperti sedang melihat hantu yang amat mengerikan...
Faktanya, Tetsuya benar-benar melihat sumber ketakutannya itu di hadapannya, sedang berjongkok, tersenyum sadis padanya.
"TetsuyA-cHan~"
.
.
Note:
Mencari jalan pintas. Mau mati tapi takut... maybe belum siap karena dia tau dia belum puas. Masih banyak hal yang pingin dia wujudin. Di lain sisi, dia ga kuat sama tekanan hidup ini. Bila untuk mencapai ending yang indah, dia harus ngelewatin semua ini sendirian, dia ragu dia bisa kuat.
Dia hampir hancur. Dia ketakutan. Dia sendirian. Dia bingung. Dan dia ga tau mau lari ke mana lagi. Orang dengan gampangnya bilang, "kalau punya masalah itu cerita daripada dipendam aja dan buat stress." Tapi kalaupun kita cerita, nggak tentu juga orang itu ngerti apa yang kita rasain dan udah kita laluin. Bahkan gak jarang pula mereka malah ngejek dan bikin perasaan kita jadi tambah buruk. Ada juga yang ngeremehin… Itu yang buat seseorang takut buat cerita masalahnya.
Walau ga semuanya begitu, tapi yang namanya takut… jadi lebih baik diam aja :)
Hadooh kenapa malah bermonolog ya sayanya xD Nggak, tapi serius deh, berada di keadaan antara hidup atau mati itu memang nyeremin. Sesaat kamu pingin mati, kemudian kamu inget hal-hal yang akan kamu tinggalin—tapi kamu udah ga bisa kembali, rasanya itu… :''(
Sedepresi apapun kamu, masalah hidup mati itu ga gampang. sebelum ngelakuinnya, orang itu udah mempertimbangkan banyak hal. Kurasa ini udah masuk penyakit mematikan sih. Ga keliatan, tiba2 bisa ngerenggut nyawa orang gitu aja :")
Oke stop. Anggap aja aku lagi ngomong sama tembok ya x"D
Catatan: hanamiya di sini gila ya. I mean, bener2 ga waras :) pernah masuk rsj, cuma dikeluarin sama 'seseorang' dan dia yg berani nebus dan jamin cewek ini. Sekilas dia keliatan sehat. Faktanya nggak. Jiwanya masih sakit... bahkan makin sakit.
Dan dia perempuan ok. Sejujurnya ini menyimpang dr plot awal. Dulunya mau kubuat gender dia tetep dan ini ada bl-nya sedikit, tapi... ga jadi deh. Karena pernah kubilang kalau ini ff normal x"D
Kasih tau ini kalau misal kulanjut ini nanti dan g sempet jelasin si hanamiya. Atau sebaliknya…
FYTY Bagian Kimi no Shiranai Monogatari sebenernya udah kelar, cuma postnya nanti aja deh. Isinya Akashi-kyoudai kok :"))
Reminder: jangan terlalu nungguin ff ini ya, takut kecewa :)
Thank you!
